do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Kamis, 14 April 2011

Mengapa Kita Kekurangan Entrepreneur?

Negeri ini masih sangat kekurangan entrepreneur. Dibalik beragam liputan tentang seribu satu sosok enterpreneur, negeri ini ternyata masih sangat sedikit memiliki kaum wirausaha. Data terkini menunjukkan angka populasi entreprenuer di negeri ini hanya 0,18 % dari total penduduk, atau hanya sekitar 400,000 orang. Sebuah jumlah yang terlalu sedikit untuk sebuah negara dengan penduduk lebih dari 200 juta jiwa.

Padahal, kisah kemonceran sebuah bangsa selalu dilentikkan oleh kisah heroisme para entrepreneurnya. Mereka membangun bisnis dari nol, mendedahkan cerita legendaris, dan kemudian menancapkan jejak yang amat kokoh dalam sejarah ekonomi dunia. Amerika akan selalu dikenang karena mereka memiliki Henry Ford, Bill Gates, ataupun Lary Page & Sergei Brin (pendiri Google). Jepang menjadi legenda lantaran kisah Akio Morita (pendiri Sony), Soichiro Honda dan Konosuke Matshushita (Panasonic).

Lalu bagaimana solusinya? Apa yang mesti dilakukan negeri ini sehingga kelak akan lahir Bill Gates dari Bandung, Akio Morita dari Pemantang Siantar, ataupun Sergei Brin dari tanah Maluku? Solusi ini akan coba kita bentangkan dengan terlebih dulu menulusuri dua faktor utama kenapa negeri ini masih sangat kekurangan sosok entrepreneur yang tangguh.

Jawaban yang pertama mudah : kita sangat kekurangan jumlah entrepreneur karena sistem pendidikan kita memang mendidik kita untuk menjadi pegawai dan bukan entrepreneur; mengarahkan kita untuk menjadi kuli, bukan kreator. Sungguh mengherankan, sepanjang kita sekolah selama puluhan tahun, kita nyaris tidak pernah mendapatkan pelajaran mengenai entrepreneurship. Juga nyaris tak pernah mendapatkan pelajaran tentang keberanian mengambil resiko, tentang ketajaman mencium peluang bisnis, ataupun pelajaran tentang life skills – sebuah pelajaran penting yang akan membikin kita menjadi manusia-manusia mandiri nan digdaya.

Tidak. Kita tak pernah mendapatkan itu semua. Selama bertahun-tahun kita hanya dijejali dengan aneka teori dan konsep, seolah-olah kelak kita akan menjadi “kuli” atau pegawai di sebuah pabrik. Lalu begitulah, setiap penghujung tahun ajaran, setiap kampus ataupun sekolah bisnis beramai-ramai mengadakan Job Fair, memberikan pembekalan (sic! ) tentang cara menyusun CV yang bagus dan trik bagaimana menghadapi wawancara kerja. Semua dilakukan sebab seolah-seolah bekerja menjadi “kuli berdasi” di perusahaan besar (kalau bisa multi national companies) merupakan “jalur emas” yang wajib ditempuh oleh setiap lulusan sarjana.

Kenyataan seperti diatas mestinya harus segera dikurangi. Sebab situasi semacam itu hanya akan membuat spirit entrepreneurship kita pelan-pelan redup. Sebaliknya, kita sungguh berharap pendidikan dan pelajaran entrepreneurship diberikan secara masif dan sejak usia dini, setidaknya sejak di bangku sekolah SLTP I). Sebab dengan demikian, negeri ini mungkin bisa bermimpi melahirkan deretan entrepreneur muda nan tangguh pada rentang usia 17 tahun-an.

Pada sisi lain, acara semacam job fair mestinya disertai dengan acara yang tak kalah meriahnya, yakni semacam “Entrepreneurship Campus Festival”. Kita membayangkan dalam ajang ini, ribuan mahasiswa muda datang dengan beragam gagasan bisnis yang segar, dan kemudian dipertemukan dengan barisan investor yang siap mendanai ide bisnis mereka (investor ini sering juga disebut sebagai “angel investor” atau “venture capital”). Melalui ajang inilah bisa dilahirkan ribuan entrepreneur muda baru dari setiap kampus yang ada di pelosok tanah air. Dan sungguh, dengan itu mereka tak lagi harus antri berebut fomulir lamaran kerja, ditengah terik panas matahari, dengan peluh di sekujur tubuh, dengan muka yang kian sayu…….(duh, biyung, malang nian nasibmu…).

Faktor kedua yang membuat kita sangat kekurangan entrepreneur, dan juga harus segera diatasi adalah ini : mindset orang tua kita yang cenderung lebih menginginkan anaknya menjadi pegawai/karyawan. Sebab, orang tua mana sih yang tidak bangga jika anaknya bisa menjadi ekskutif di Citibank atau manajer di Astra International? Mindset semacam ini menjadi kelaziman sebab bagi kebanyakan orang tua kita, mengabdi dan bekerja di sebuah perusahaan besar setelah lulus kuliah adalah jalur yang harus dilalui untuk merajut kesuksesan. Sebuah jalur “paling stabil” dan “paling aman” untuk dapat melihat anaknya mampu membangun rumah dan memiliki sebuah mobil sedan.

Sebaliknya, orang tua kita acap ragu dan gamang ketika melihat anaknya memutuskan untuk membangun usaha secara mandiri. Mereka khawatir jangan-jangan hal ini akan membuat anak cucu mereka kelaparan Mindset semacam ini pelan-pelan harus diubah. Cara yang paling efektif adalah dengan menyodorkan semakin banyak contoh keberhasilan yang bisa diraih para entrepreneur muda. Dengan kisah-kisah keberhasilan ini, diharapkan orang tua kita menjadi kian sadar bahwa pilihan menjadi entreprenuer dan membuka usaha sendiri merupakan jalur yang juga bisa membawa kesuksesan yang melimpah.

Ya, orang tua kita mungkin perlu disadarkan, bahwa pilihan menjadi juragan ayam ternak di kampung halaman tak kalah hebat dibanding menjadi manajer di Citibank yang berkantor megah di Sudirman. Bahwa pilihan menjadi juragan batik grosir tak kalah mak nyus dibanding menjadi ekeskutif di sebuah perusahaan multi nasional

Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/management/1953771-mengapa-kita-kekurangan-entrepreneur/#ixzz1vAA3DzAE

Rabu, 13 April 2011

Langkah awal berwirausaha

Dalam berwirausaha, yang paling penting adalah gagasan. Gagasan usaha sungguhan (real bussines) bukan gagasan usaha khayalan (illusionary bussiness), bukan usaha spekulasi (speculative bussiness), maupun bukan "dakonan" (money games). Kedua hal tersebut sangat mudah untuk membedakannya, yaitu dengan memakai ukuran apakah usahanya merupakan jalan pintas untuk kaya raya dalam waktu singkat? Apabila jawabannya ya, maka dapat diindikasikan bahwa usaha tersebut bukan usaha sungguhan. Dalam bahasa yang populer, dikenal dengan sbutan pelanggaran etika bisnis. walaupun kemungkinan ujungnya sama, yaitu kaya raya, usaha sungguhan akan melalui jalan yang realistis dan memakan waktu yang cukup lama.

Gagasan usaha sebaiknya disesuaikan dengan kepribadian kita, yang kita sukai, sesuai dengan panggilan jiwa kita. Ada dua petunjuk praktis untuk memunculkan gagasan usaha, yang pertama menghadiri berbagai pameran, seminar, workshop/lokakarya dan lain-lain serta mencoba untuk mengambil pelajaran dari semua itu. Yang kedua, apa yang dikenal dengan ATM (Amati, Tiru gagasannya, dan Modifikasi produknya) atau dalam ungkapan Jawa niteni, nirokake, nambahake). Oleh karena pada umumya wirausaha yang berhasil memulai usahanya dari usaha mikro/kecil, maka mulailah laksanakan gagasan melalui usaha skala kecil, untuk mencari pengalaman terlebih dahulu. Apabila sudah ada pengalaman, maka akan mudah dalam melangkah ke usaha yang lebih besar.

Dalam melangkah ke bisnis yang lebih besar, naik ke kelas yang lebih tinggi, biasanya diperlukan modal yang cukup besar, baik untuk modal investasi maupun modal kerja. Apabila modal sendiri sudah mencukupi, tidak perlu lagi repot-repot mencari modal tambahan dari luar. Namun demikian, hal tersebut jarang terjadi karena modal luar biasanya diperlukan untuk pengembangan usaha yang lebih besar. Bahkan di dunia bisnis dikenal adanya daya ungkit (leverage) dana dari pihak luar.

Sebetulnya banyak sumber-sumber pendanaan bagi wirausaha, terutama dari perbankan, baik Bank Syariah maupun konvensional. Untuk mendapatkan pembiayaan dari perbankan,biasanya sangat ketat persyaratannya. Mereka yang telah memenuhi persyaratan perbankan disebut perusahaan/bisnisnya sudah bankable. Disamping memenuhi kriteria 5C (Character,Capacity,Capital,Condition, dan Collateral) mereka juga harus membuktikan diri, yang tertuang dalam laporan keuangan, paling sedikit dua tahun berturut-turut usahanya menguntungkan:
1.Character, adalah data/informasi tentang kepribadian calon nasabah seperti sifat-sifat pribadi,kebiasaan-kebiasaannya, cara hidup, keadaan dan latar belakang keluarga maupun hobinya. Character ini untuk mengetahui apakah nantinya calon nasabah ini jujur dalam berusaha dan dalam pengembalian pinjamannya.

2.Capacity, adalah kemampuan calon nasabah dalam mengelola usahanya yang dapat dilihat dari pendidikannya, pengalaman mengelola usaha, sejarah perusahaan yang pernah dikelola, dan bagaimana mengatasi kesulitan.

3.Capital adalah kondisi kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan yang dikelolanya. Hal ini bisa dilihat dari neraca, laporan rugi-laba, struktur permodalan,ratio-ratio keuntungan yang diperoleh. Dari kondisi di atas bisa dinilai apakah layak calon nasabah diberi pinjaman.

4.Condition, yaitu kondisi ekonomi yang dikaitkan dengan prospek usaha calon nasabah.

5.Collateral, adalah jaminan yang mungkin bisa disita apabila ternyata calon pelanggan tidak dapat memenuhi kewajibannya.

Disamping pembiayaan komersial perbankan, ada juga pembiayaan yang telah disubsidi dan dijamin oleh pemerintah. Skema pembiayaan tersebut sekarang ini populer dengan sebutan Kredit Usha Rakyat (KUR) yang juga disalurkan melalui perbankan. Walaupun persyaratannya lebih ringan, wirausahawan yang akan menjadi nasabah KUR juga harus membuktikan dirinya telah berpengalaman, paling tidak 6 bulan berturut-turut terbukti menguntungkan. seperti dana perbankan, KUR juga ada yang mengikuti pola syariah maupun konvensional.

Yang menjadi pertanyaan kita adalah bagaimana dengan wirausaha pemula yang masih baru memasuki dunia usaha dengan pengalaman nol tahun. Apabila mengandalkan pembiayaan dari perbankan jelas sangat sulit. Biasanya dari dana sendiri, keluarga,maupun dari Lembaga Keuangan Mikro (LKM) baik syariah maupun konvensional. Kiranya dapat diperkirakan bahwa penyediaan modal dengan cara ini tentunya sangat terbatas.

Sumber:http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/2213936-langkah-awal-berwirausaha/#ixzz1vAJHgJbH

Selasa, 12 April 2011

Kenali Jenis Penghasilan Anda!

Semakin canggih kecerdasan finansial Anda, maka hampir bisa dipastikan kekayaan Anda akan semakin meningkat. Berikut adalah jenis-jenis penghasilan yang mungkin selama ini telah Anda dapatkan dan ingin mengetahui jenis penghasilan yang seperti apa yang mampu mempercepat kebebasan finansial seseorang.

Menurut penulis buku dari Inggris, Peter F Clothier, jenis-jenis penghasilan dibagi dalam 3 kategori, yaitu:
1. Penghasilan Linier
2. Penghasilan Residual
3. Penghasilan Multiplikasi

PENGHASILAN LINEAR
Penghasilan Linier adalah penghasilan yang berbanding lurus dengan kerja yang kita berikan.
Contoh: Anda bekerja sebagai karyawan di sebuah kantor. Di akhir bulan, Anda mendapat gaji Rp 1.000.000,- sebagai hasil pekerjaan Anda di bulan yang baru lalu. Bulan depan Anda bekerja lagi di kantor yang sama dan mendapat gaji yang sama di akhir bulan. Anda bekerja dulu, lalu dibayar. Begitu seterusnya.
Penghasilan jenis linier inilah yang banyak dikerjakan oleh sebagian besar warga masyarakat. Namun perhatikanlah: bahwa gaji pegawai swasta atau pegawai negeri memang tidak dirancang agar pegawai tersebut bisa hidup makmur (kaya). Paling tidak, hanya cukup untuk sekedar hidup.
Penghasilan seperti ini tidaklah aman (insecure), terutama bagi putra-putri Anda. Apalagi bila Anda tidak memiliki tunjangan pensiun. Apa yang terjadi kelak bila Anda dan pasangan Anda tiba-tiba dipanggil Tuhan (moga-moga kita semua diberikan umur panjang oleh-Nya)? Apa yang harus menjadi sandaran hidup bagi putra-putri Anda? Bila Anda dapat menjawab pertanyaan terakhir ini, maka penghasilan Anda sudah termasuk kategori aman. Namun bila tidak, sebaiknya Anda membaca terus artikel ini hingga tuntas.

PENGHASILAN RESIDUAL
Penghasilan Residual adalah semacam royalti yang diberikan atas usaha atau jerih payah yang kita lakukan di masa lampau. Bila Anda adalah penulis lagu, atau penulis buku, maka Anda mendapatkan income dari penghasilan jenis residual ini. Anak-anak dari seorang penulis lagu, bisa mendapatkan royalti atas karya ayahnya. Demikian juga anak-anak dari ilmuwan yang karyaciptanya dihakpatenkan. Honor dari penulisan buku yang masuk kategori best seller juga bisa dijadikan penghasilan terus-menerus bagi anak-cucu. Jenis penghasilan residual ini lebih aman dibandingkan penghasilan linier.
Penghasilan residual lebih menjanjikan kemakmuran dan keamanan (secure), namun Anda harus memiliki kelebihan seperti pencipta lagu, penulis buku, penemu, atau bidang yang menghasilkan royalti lainnya. Anda harus menggali ke dalam diri Anda sendiri, apakah yang bisa Anda hasilkan hingga Anda pantas mendapatkan penghasilan jenis ini?

PENGHASILAN MULTIPLIKASI
Penghasilan Multiplikasi saat ini hanya terdapat pada bisnis Penjualan Langsung (Direct Selling/Network Marketing/Multilevel Marketing ). penghasilan ini diberikan atas usaha / jerih payah Anda di masa lampau, namun terus berkembang atas usaha pelipatgandaan yang dilakukan oleh downline distributor di bawah Anda. Jadi Anda bukan saja mendapat royalti (penghasilan dari usaha masa lampau), namun akan terjadi multiplikasi dari penghasilan itu sendiri. Disini Anda tidak bekerja sendiri, namun merupakan kerja team. Sesuatu kaidah yang penting dari penghasilan Multiplikasi adalah: Penghasilan Multiplikasi tidak mungkin di dapat dari bisnis money game di internet (yang "hit and run", atau "gasak dan kabur"), juga tidak mungkin di dapat dari sistem binari dan sistem piramid yang bermotivasi penipuan. Namun penghasilan multiplikasi yang sah dan halal adalah dengan penjualan barang dan pemesanan ulang (repeat order). Adanya pasar, repeat order dan team pemasar yang kita bina inilah yang akan menghasilkan penghasilan terus-menerus. Sehingga walau kita dan pasangan telah tiada, maka putra-putri kita akan mendapatkan royalti dan multiplikasi penghasilan dari team pemasar dan repeat order yang telah dibangun oleh orangtua-nya.
Pada mulanya, penghasilan multiplikasi tidaklah langsung dapat dijadikan sandaran hidup. Beberapa distributor yang memulai membangun pasar dan team pemasar langsung biasanya akan mendapat komisi sangat kecil, misalnya Rp 8.000,- di bulan pertama. Lalu menanjak sedikit-demi sedikit menjadi Rp 15.000,- di bulan kedua, dan seterusnya. Setelah satu atau dua tahun biasanya penghasilan multiplikasi-nya telah melebih gaji di kantornya (jutaan rupiah), hingga banyak distributor yang beralih menjadi full time dalam menekuni bisnisnya. Beberapa networker sukses telah mencapai penghasilan puluhan hingga ratusan juta rupiah setelah berjuang 3 hingga 5 tahun. Komisi dan bonus hasil penjualan yang didapat adalah motor, mobil, mobil mewah dan rumah. Juga biasanya ada liburan ke luar negeri dan asuransi. Apakah Anda bisa mendapatkan gaji puluhan juta setelah 3 tahun kerja Anda sekarang?

Kenapa penghasilan multiplikasi dikatakan aman? Katakanlah saat ini Anda memiliki 500 team pemasar di group Anda yang menghasilkan income lebih dari 20 juta rupiah perbulan. Di titik ini Anda bisa pensiun dan meluangkan waktu untuk liburan bersama keluarga, otomatis Anda sudah bisa menikmati pensiun muda dengan nilai sangat besar. Sementara jaringan Anda akan tetap berkembang melipatgandakan diri, yang mengakibatkan income bulan depan akan lebih besar dari bulan ini. Seandainya Anda dan pasangan harus menghadap Yang Kuasa, maka penghasilan multiplikasi ini akan dapat dinikmati oleh putra-putri untuk kuliah di luar negeri dan melanjutkan hidup dengan tingkat kemakmuran yang tinggi.

Apakah saat ini Anda sudah tertarik untuk mendapatkan pengasilan multiplikasi seperti gambaran di atas? Mungkin gaji Anda sudah cukup untuk hidup sebulan di saat ini. Tapi apakah yang terjadi bertahun-tahun nanti bila putra-putri Anda sudah besar dan biaya kuliah sudah mulai mencekik leher? Investasikanlah beberapa tahun dalam hidup Anda (biasanya 3 tahun) untuk membangun team pemasar langsung hingga Anda mencapai jenjang puncak. Bebaskanlah keluarga Anda dari masalah finansial dengan Wirausaha Mandiri

Senin, 11 April 2011

Memiliki Kreatifitas Tinggi


Menurut Teodore Levit, kreativitas adalah kemampuan untuk berfikir yang baru dan berbeda. Menurut Levit, kreativitas adalah berfikir sesuatu yang baru (thinking new thing), oleh karena itu menurutnya kewirausahaan adalah berfikir dan bertindak sesuatu yang baru atau berfikir sesuatu yang lama dengan cara-cara baru. Menurut Zimmerer
dalam buku yang ditulis Suryana (2003 : 24) dengan judul buku “Entrepreneurship And The New Venture Formation”, mengungkapkan bahwa ide-ide kreativitas sering muncul ketika wirausaha melihat sesuatu yang lama dan berfikir sesuatu yang baru dan berbeda. Oleh karena itu kreativitas adalah menciptakan sesuatu dari yang asalnya tidak ada
(generating something from nothing). Inovasi adalah kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan persolan-persolan dan peluang untuk meningkatkan dan memperkaya kehidupan (inovation is the ability to apply creative solutions to those problems ang opportunities to enhance or to enrich people’s live).
“Sometimes creativity involves generating something from nothing. However, creativity is more likely to result in colaborating on the present, in putting old things together in the new ways, or in taking something away to create something simpler or better”.
Dari definisi diatas, kreativitas mengandung pengertian, yaitu:
1. Kreativitas adalah menciptakan sesuatu yang asalnya tidak ada.
2. Hasil kerjasama masa kini untuk memperbaiki masa lalu dengan
cara baru.
3. menggantikan sesuatu dengan sesuatu yang lebih sederhana dan
lebih baik.

Menurut Zimmerer(1996:7), “creativity ideas often arise when entrepreuneurs look at something old and think something new or different”. Ide-ide kreativitas sering muncul ketika wirausaha melihat sesuatu yang lama dan berpikir sesuatu baru dan berbeda. Oleh karena itu kreativitas adalah nenciptakan sesuatu dari yang asalnya tidak ada (generating something from nothing). Rahasia kewirausahaan adalah dalam menciptakan nilai tambah barang dan jasa terletak pada penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan meraih peluang yang dihadapi tiap hari (applying creativity and inovation to solve the problems and to exploit opportunities that people face every day).
Berinisiatif ialah mengerjakan sesuatu tanpa menunggu perintah. Kebiasaan berinisiatif akan melahirkan kreativitas (daya cipta) setelah itu melahirkan inovasi.
Menurut Zimmerer ada tujuh langkah proses berpikir kreatif dalam
kewirausahaan, yaitu:
Tahap 1: Persiapan (Preparation)
Tahap 2: Penyelidikan (Investigation)
Tahap 3: Transformasi (Transpormation)
Tahap 4: Penetasan (Incubation)
Tahap 5: Penerangan (Illumination)
Tahap 6: Pengujian (Verification)
Tahap 7: Implementasi (Implementation)

Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1941924-memiliki-kreatifitas-tinggi/#ixzz1vAOA0PAv

Minggu, 10 April 2011

Tips Sukses

Modal Adapun yang menjadi modal utama untuk meraih kesuksesan diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Pola berpikir yang mengarah kepada sikap dan kemauan untuk sukses
2. Kepribadian yang kuat untuk sukses
3. Kecakapan di dalam bekerja atau mengelola usaha
4. Menerapkan manajemen yang baik
5. Berani memikul segala resiko dalam bisnis
Langkah-langkah yang mantap dalam pengelolaan usaha adalah sebagai berikut :
1. Seorang pengusaha/calon pengusaha harus mempunyai gambaran tentang pemasaran hasil produksi
2. Menciptakan penyaluran distribusi agar hasil produksi perusahaan cepat sampai ke tangann para konsumen / para pembeli.
3. Cara memproduksi
4. Cara pengawasan / pengendalian produksi
5. Cara memperoleh bahan-bahan baku
6. cara memelihara peralatan
6. cara memelihara peralatan

Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/human-resources/2039955-tips-sukses/#ixzz1vAOhcNSQ

Sabtu, 09 April 2011

Kisah Sukses Levi Strauss si Penemu Jeans

Saat demam emas melanda Amerika pada tahun 1848 tersebutlah seorang pemuda usia 20 tahun yang berasal dari New York bernama Levi Strauss.

Di tempat asalnya ia adalah seorang penjual pakaian, Dengan bermodal nekat, Strauss berangkat ke California dengan berbekalkan beberapa potong tekstil untuk dijual selama perjalanan ke barat.

Sesampai di California semua barangnya laku terjual dan yang tersisa hanyalah segulung kanvas... iya segulung kain kanvas, siapa yang mau memakai pakaian yang terbuat dari kain kanvas yang keras.

Di California, Strauss memperhatikan bahwa para pekerja tambang memiliki celana yang cepat rusak/sobek. Untuk itu ia mencoba untuk membuat celana dari bahan kanvas yang ia miliki, kemudian menjualnya kepada para penambang. Ternyata celana kanvas-nya laku keras, karena disukai oleh para penambang. Kemudian karena tidak terlalu suka dengan bahan kanvas kemudia Strauss membuat celana dari bahan lain yang ia pesan dari Genoa, Italia. Para pemintal menyebutnya bahan tersebut "Genes" dan Strauss mengubah namanya menjadi "Jeans" dan mulailah ia memproduksi celana Jeans pertamanya yang diberi merk "Levi's"

Hanya dalam waktu singkat celana Jeans menjadi "pakaian resmi" para penambang dan koboi, dan sampai sekarang dipakai oleh puluhan juta orang diseluruh dunia.

Inilah kisah sukses seorang pemuda yang bermodal nekat dan kemauan yang keras yang dengan cerdas menangkap peluang yang ada dihadapannya dan menjadikan peluang tersebut sebagai langkah awal kesuksesannya di dalam bisnis pakaian, yang sampai kini masih menjadi mode dan trend yang digunakan baik oleh pria maupun wanita dalam berbagai jenis usia di seluruh dunia.

Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/business-ideas-and-opportunities/2216054-kisah-sukses-levi-strauss-si/#ixzz1vAP4kcpe

Jumat, 08 April 2011

Rahasia Sukses Pengusaha Muda

KISAH usaha yang dimulai dari nol, lalu menuai sukses, mungkin bukan hal baru. Berwirausaha dari nol bukanlah sebuah perkara mudah.
Di tengah jalan, selalu saja muncul berbagai rintangan. Tetapi kisah perjalanan bisnis mereka yang merintis usaha dari nol kemudian mencapai sukses tetap menarik untuk disimak. Terlebih jika kisah tersebut dilakoni mereka yang berusia muda. Lantas, apa rahasia sukses para pengusaha muda?
Meminjam istilah Jennie S Bev, penulis juga pengajar asal Indonesia yang bermukim di California, Amerika Serikat (AS) dalam pengantar buku Kumpulan Kisah Para Pengusaha Muda yang Sukses Berbisnis dari Nol, Rahasia Jadi Entrepreneur Muda (DAR! Mizan, 2008) karya Faif Yusuf, untuk berwirausaha sebenarnya sangat mudah, yaitu dengan meningkatkan mindset dan mulai membuka bisnis sendiri.
Dalam pandangan Jennie, setiap orang adalah personifikasi sukses itu sendiri. Sebab, success is a mindset, it is not a journey or destination (sukses adalah cara berpikir atau bersikap, bukan perjalanan maupun tujuan). Tetapi anggapan di masyarakat masih lazim ditemukan bahwa berwirausaha identik dengan para pengusaha besar dan mapan. Tidak jarang pula yang beranggapan bahwa wirausaha semata-mata hanya untuk mengejar kekayaan.

Itu sebabnya, jika berbicara tentang sosok pengusaha sukses, yang selalu dijadikan barometer adalah bagaimana para pengusaha itu menciptakan kekayaan melimpah melalui bisnis yang dibangun. Padahal tidak selalu demikian. Menurut pengusaha muda ternama, Sandiaga Salahudin Uno, keberanian dan optimisme merupakan modal awal yang harus dimiliki seseorang untuk menekuni wirausaha.
Setelah itu, kata pria yang kerap disapa Sandi ini, memilih usaha sesuai minat dan bakat dengan melihat peluang di pasar. Dengan minat yang besar, akan timbul gairah dan semangat menjalani, memelihara, dan membesarkannya.
“Terakhir, just do it now. Jangan terlalu berhitung, putuskan, mulai, dan kerjakan sekarang juga!” ungkap mantan Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) periode 2005-2008 ini. Optimisme yang diungkapkan Sandi tampaknya menjadi modal utama sejumlah pengusaha muda sukses. Sebut saja Henry Indraguna, pemilik The Auto Bridal Indonesia, tempat cuci mobil “busa salju”.
Sebelum mendirikan tempat cuci mobil yang kini beromzet Rp7,5 miliar per bulan,pria kelahiran Bandung,28 Agustus 1973 ,ini jatuh bangun dalam berusaha. Berbagai bentuk usaha dijalaninya, tetapi berkali-kali juga dia bangkrut dan kembali ke titik nol. Pria lulusan Universitas Maranatha Bandung yang semasa kuliah pernah berjualan ayam goreng ini pernah menjadi salesman berbagai produk elektronik hingga mainan.
Dia pernah menjadi salesman besar produk mainan asal China yang menyuplai ke beberapa toko mainan di Bandung. Bahkan, seusai lulus kuliah Henry pernah dipercaya mendistribusikan kartu chip Telkom senilai Rp20 miliar. Tetapi hasil kerja kerasnya lindap dalam sekejap akibat kebiasaannya berfoya-foya. Kebiasaan buruk itu pun sirna setelah dia menikahi Fangky Christina pada 2003.
Berkat ide membuka usaha cuci mobil dari mertuanya dengan bermodalkan Rp150 juta, dia mulai membuka usaha cuci mobil pada akhir 2003. “Jumlah ini sebenarnya cukup kecil untuk membuka usaha,” ujar Henry. Dari modal sebesar itu, Rp35 juta dia gunakan untuk menyewa tempat seharga Rp75 juta. Sisanya dibayar setelah tiga bulan usahanya berjalan.
Sisa dari modal untuk peralatan. Tetapi Henry terpaksa berutang untuk menutupi kekurangan biaya peralatan. Pada awalnya usaha Henry kurang diminati masyarakat. Tetapi bagi Henry hal itu adalah part of game yang harus dilaluinya. Keinginannya untuk mengubah citra tempat cuci mobil, yang kotor menjadi bersih dan nyaman, diwujudkan dengan inovasi cuci salju lewat The Auto Bridal.

Henry pun terus melakukan inovasi dalam bisnisnya mulai cuci mobil es krim, salon mobil, motor bridal. Setiap bulan, The Auto Bridal Indonesia minimal melayani 120.000 mobil dengan ongkos cuci Rp35 ribu per mobil.
“Biasanya keuntungan yang didapat 100 persen dari modal,” papar Henry. Henry meraih penghargaan Outstanding Entrepreneurship Award Asia Pacific Entrepreneurship Award (AFEA) 2008. The Auto Bridal Indonesia saat ini sudah mempunyai 84 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Henry kini sedang berupaya melebarkan sayap bisnisnya ke negeri jiran Malaysia.
Kisah sukses lainnya ditunjukkan Yesaya Surya Widjaya, pemilik PT Raja Baksomas Mandiri yang kini sudah memiliki 14 restoran dan 40 mitra. Yesaya, pria peraih master lulusan Hawaii Pacific University bidang komputer, mengembangkan bakso dan makanan beku (frozen food) dengan aneka rasa seafood. Yesaya awalnya hanya menjalankan bisnis orangtuanya yang dibangun pada 1982.
Karena sering membantu melayani pelanggan sejak kecil, pria kelahiran Jakarta, 31 Januari 1971, ini sangat akrab dengan dunia kuliner. Setelah menamatkan pendidikan S-2 pada 1998, Yesaya mulai mempelajari manajemen kerja restoran. Dari situlah dia mengamati kegemaran masyarakat terhadap selera makan yang akhirnya menginspirasi mengembangkan usaha bakso dengan aneka rasa.
Pada 2002 dia mulai membuka gerai baksonya secara serius dengan bendera PT Raja Baksomas Mandiri. Awalnya dia membuka lima gerai di kawasan Dunia Fantasi, Ancol, Jakarta Utara, dan satu gerai di Kemayoran. Untuk membuka gerai di Kemayoran, Yesaya dibantu modal dari orangtuanya sebesar Rp55 juta.Yesaya juga berinovasi dengan membuat makanan beku.
Kini, lewat usahanya,Yesaya bisa meraih omzet Rp200 juta per bulan. Kisah-kisah sukses yang ditunjukkan Henry dan Yesaya seperti juga diungkapkan Faif dalam bukunya. Keberhasilan berwirausaha tidaklah semata-mata dinilai dari seberapa berhasil seseorang mengumpulkan kekayaan, tapi lebih bagaimana seseorang bisa membentuk, mendirikan, dan menjalankan usaha dari sesuatu yang tidak ada sebelumnya atau belum berjalan.

Sumber:http://id.shvoong.com/business-management/business-ideas-and-opportunities/2284527-rahasia-sukses-pengusaha-muda/#ixzz1vAPR8g9s