do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Sabtu, 16 Januari 2016

PEMBAGIAN TUGAS GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR



PEMERINTAH KABUPATEN MUNA
UPTD PENDIDIKAN KECAMATAN KATOBU
SEKOLAH DASAR NEGERI 13 KATOBU
 


KEPUTUSAN
KEPALA SEKOLAH DASAR NEGERI  13 KATOBU
Nomor  : 422 /             /  

TENTANG
PEMBAGIAN TUGAS GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR
SEMESTER II (DUA)  TAHUN PELAJARAN 2015/2016

KEPALA  SEKOLAH DASAR NEGERI 13 KATOBU

Menimbang
:
Bahwa dalam rangka memperlancar pelaksanaan Proses Belajar mengajar pada SD Negeri 13 Katobu semester II Tahun Pelajaran 2015/2016, perlu menetapkan Pembagian Tugas Mengajar Guru;

Mengingat
:
1.    Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang  Sistem Pendidikan Nasional;


2.    Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84/1993 Tanggal 24 Desember 1993;


3.    Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala BAKN Nomor 0433/P/1993, Nomor 25 Tahun 1993 Tanggal 24 Desember 1993


4.    Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan;


5.    Peraturan Mendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi;


6.    Peraturan Mendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi;


7.    Peraturan Mendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan PermendiknasNomor 22 dan 23.
Mengingat Pula

1.    Keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara Nomor…………………………..tentang kalender Pendidikan Tahun Pelajaran 2015/2016


2.    Keputusan Rapat Dewan Guru dan Staf Tata Usaha SD Negeri 13 Katobu tanggal 15 Juni 2015;

MEMUTUSKAN

Menetapkan
:

Pertama
:
Pembagian tugas guru dalam kegiatan proses belajar mengajar pada semester II (DUA) tahun Pelajaran 2015/2016 sebagaimana tersebut pada lampiran I Keputusan Ini.
Kedua
:
Menugaskan guru untuk melaksanakan tugas bimbingan seperti tersebut pada lampiran II keputusan ini.
Ketiga
:
Masing-masing guru melaporkan secara tertulis dan berkala kepada kepala sekolah.
Keempat
:
Segala biaya yang timbul akibat pelaksanaan keputusan ini dibebankan pada anggaran yang sesuai.
Kelima
:
Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di   : Raha
Pada Tanggal   :   
Kepala  SD Negeri 13 Katobu 




LA ODE ABDUL KAHAR, SE
NIP.  19691231 199203 1 008

Tembusan :
1.    Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Muna di Raha;
2.    Kepala UPTD Pendidikan Kec. Katobu di Raha;
3.    masing-masing yang bersangkutan untuk diketahui dan pelaksanaan sebagaimana mestinya;
4.    Arsip.


Lampiran  1 : Keputusan Kepala SD Negeri 13 Katobu

Nomor                                     : 422/
Tanggal                        :  15 Juni  2015

PEMBAGIAN TUGAS GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR
SEMESTER I SATU) TAHUN PELAJARAN 2015/2016

NO
NAMA / NIP
Gol. Ruang Gaji
Jabatan Guru
Jenis Guru
Tugas Mengajar
Kelas
Jumlah
Jam
Pel.
Ket
1
LA ODE ABDUL KAHAR, SE
19691231 199203 1 008
IV/a
Guru Pembina
GMP
Kepsek
PKN
IV, V, VI
6

2
WA ODE  SUTIA, S.Pd.SD
IV/a
Guru Pembina
Guru
Kelas
-
VI
24

3
SAMRI, S.Pd.SD
19660216 198803 2 020
IV/a
Guru Pembina
Guru
Kelas
-
V
24

4
ABE SATRIAWI, S.Pd.SD
19770804 200312 2 007
III/a
Guru Madya
Guru
Kelas
-
IV
24

5
KADRYA ASHAF, S.Pd
19660402 199212 2 001
IV/a
Guru Pembina
Guru
Kelas
-
II
24

6
WA ODE FIRAMI, S.Pd
19721231 200312 2 014
III/b
Guru Penata Muda Tk. I
Guru
Kelas
-
III
24

7
WA HASNA U, S.Pd.I
19611231 198201 2 010
IV/b
Guru Pembina Tk. I
Guru bidang studi
Pendais 
I-VI
24

8
ZAINAL HAFID, A.Ma.Pd.Or
19711231 200012 1 002
III/a
Guru Muda
Guru bidang studi
Penjaskes
I-VI
20

9
WA ODE HALIDJA, BA
19621231 198310 2 032
III/b
Guru
Madya
Guru bidang studi
Peng. Diri
I
24

10
WA MUNDAYA UDIN, A.Ma
-
Guru
Honorer
-
-



11
SURIANA
-
Guru
Honorer
-
-



12
LA ODE HAMJARUL AKBAR, S.Pd. I
-
Guru
Honorer
-
-



13
RAHMAWATI MANTEA, S.Pd.SD
-
Guru
Honorer
-
-





Kepala  SD Negeri 13 Katobu 




LA ODE ABDUL KAHAR, SE
NIP.  19691231 199203 1 008







Lampiran  II  : Keputusan Kepala SD Negeri 13 Katobu

Nomor                                     : 422/
Tanggal                        : 30  Desember  2015

PEMBAGIAN TUGAS GURU DALAM  MEMBIMBING SISWA
DALAM KEGIATAN EKSTRA KURIKULER
SEMESTER II (DUA) TAHUN PELAJARAN 2015/2016

NO
NAMA / NIP
PENUGASAN DALAM MEMBIMBING
SASARAN BIMBINGAN
1
LA ODE ABDUL KAHAR, SE
19691231 199203 1 008
Membimbing siswa dalam kegiatan kesenian (Vokal Group)
Kelas V, VI
2
WA ODE  SUTIA, S.Pd.SD
Membimbing siswa dalam kegiatan kesenian (Vokal Group)
Kelas, III, VI
3
SAMRI, S.Pd.SD
19660216 198803 2 020
Membimbing siswa dalam kegiatan kesenian (seni rupa)
Kelas I-VI
4
ABE SATRIAWI, S.Pd.SD
19770804 200312 2 007
Membimbing siswa dalam kegiatan Pramuka
Kelas I-VI
5
KADRYA ASHAF, S.Pd
19660402 199212 2 001
Membimbing siswa dalam kegiatan olahraga (gerak jalan indah)
Kelas I-VI
6
WA ODE FIRAMI, S.Pd
19721231 200312 2 014
Membimbing siswa dalam kegiatan olahraga (gerak jalan cepat)
Kelas I-VI
7
WA HASNA U, S.Pd.I
19611231 198201 2 010
Membimbing siswa dalam kegiatan kegemaran
Kelas I-VI
8
ZAINAL HAFID, A.Ma.Pd.Or
19711231 200012 1 002
Membimbing siswa dalam kegiatan olahraga  (sepak bola, tenis meja, takrow)
Kelas I-VI
9
WA ODE HALIDJA, BA
19621231 198310 2 032
Membimbing siswa dalam kegiatan kesenian (seni lukis)
Kelas I-VI
10
WA MUNDAYA UDIN, A.Ma
Membimbing siswa dalam kegiatan UKS
Kelas IV-VI
11
SURIANA
-
-
12
LA ODE HAMJARUL AKBAR, S.Pd. I
-
-
13
RAHMAWATI MANTEA, S.Pd.SD
-
-

Kepala  SD Negeri 13 Katobu 




LA ODE ABDUL KAHAR, SE
NIP.  19691231 199203 1 008

TANDA BAHAYA PADA IBU NIFAS



SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
TANDA BAHAYA PADA IBU NIFAS
 
 
A.        Latar Belakang
Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil, bersalin dan nifas adalah masalah besar di negara berkembang. Di negara miskin sekitar 25-30% kematian wanita usia subur disebabkan oleh kehamilan persalinan dan nifas. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita muda pada masa puncak produktivitasnya. Tahun 1996 WHO memperkirakan lebih dari 585.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil bersalin dan nifas. Di Asia Selatan wanita kemungkinan 1 : 18 meninggal akibat kehamilan, persalinan dan nifas. Di negara Afrika 1 : 14, sedangkan di Amerika Utara hanya 1 : 6.366. Lebih dari 50% kematian di negara berkembang sebenarnya dapat dicegah dengan teknologi yang ada serta biaya relatif rendah (Prawirohardjo, 2002).
Pada wanita atau ibu nifas penjelasan mengenai tanda-tanda bahaya masa nifas sangat penting dan perlu, oleh karena masih banyak ibu atau wanita yang sedang hamil atau pada masa nifas belum mengetahui tentang tanda-tanda bahaya masa nifas, baik yang diakibatkan masuknya kuman kedalam alat kandungan seperti eksogen (kuman datang dari luar), autogen (kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh) dan endogen (dari jalan lahir sendiri) (Rustam Mochtar, 1998).
Hingga saat ini penyebab infeksi nifas diantaranya adalah persalinan berlangsung lama sampai terjadi persalinan terlantar, tindakan operasi persalinan, tertinggalnya plasenta, selaput ketuban dan bekuan darah, ketuban pecah dini atau pada pembukaan masih kecil melebihi 6 jam, keadaan yang dapat menurunkan keadaan umum yaitu perdarahan antepartum dan post partum, anemia pada sat kehamilan, malnutrisi, kelelahan, dan ibu hamil dengan penyakit infeksi (Manuaba, 1998).

B.        Tujuan
1.         Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan selama 20 menit, Ibu-Ibu mampu mengetahui tentang tanda-tanda bahaya pada masa nifas di Desa Tande.
2.         Tujuan Intruksional Khusus
ibu nifas agar lebih meningkatkan kesadaran terhadap perlunya pengetahuan tentang tanda-tanda bahaya masa nifas sehingga mereka dapat mengetahui dan mengenali apa yang termasuk dalam tanda-tanda bahaya nifas dengan demikian diharapkan gangguan/komplikasi dalam masa nifas dapat dideteksi secara dini.

C.        METODE
Ceramah
Tanya jawab

D.        MEDIA
Slide power point
Brosur

E.         MATERI
1.         Defenisi Masa Nifas
2.         Infeksi Masa Nifas
3.         Faktor Predisposisi Infeksi Masa Nifas
4.         Terjadinya Infeksi Masa Nifas
5.         Tanda Bahaya Kala Nifas

F.         RENCANA DAN KRITERIA EVALUASI PENYULUHAN
1.         Evaluasi Struktur
a)         Klien bersedia diberi penyuluhan (100%)
b)         Persiapan materi yang disampaikan
c)         Persiapan media yang akan disampaikan
d)         Persiapan klien yang akan diberi penyuluhan
e)         Kontrak waktu dengan klien sebelumnya
2.         Evaluasi Proses
a)         klien antusias terhadap materi yang diberikan
b)         klien tidak meninggalkan tempat penyuluhan sebelum acara selesai.
c)         klien bertanya dan menjawab pertanyaan dengan benar
d)         klien dapat menerapkan materi yang telah didapatkan
3.         Evaluasi hasil
a)         klien dapat menjelaskan defenisi dari Masa Nifas
b)         klien dapat memahami bagaimana Infeksi Masa Nifas
c)         klien dapat menyebutkan Faktor Predisposisi Infeksi Masa Nifas
d)         klien dapat memahami Terjadinya Infeksi Masa Nifas
e)         klien dapat memahami Tanda Bahaya Kala Nifas



MATERI
TANDA BAHAYA PADA IBU NIFAS

A.        Defenisi Masa Nifas
Masa nifas adalah pulih kembali, mulai dari partus selesai sampai alat-alat kandungan kembali sebelum hamil, lamanya 6-8 minggu masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil dan berlangsung kira-kira 6 minggu.
Sebagian besar kematian ibu terjadi selama masa post partum oleh karena itu sangatlah penting untuk membimbing para ibu dan keluarganya mengenai tanda-tanda bahaya yang menandakan bahwa ia perlu segera mencari bantuan medis, ibu juga perlu mengetahui kemana ia mencari bantuan tersebut.
Beritahulah ibu jika mengetahui adanya masalah-masalah berikut, maka ia perlu segera menemui bidan:
a)         Perdarahan vagina yang luar biasa atau tiba-tiba bertambah banyak (lebih dari perdarahan haid biasa atau bila memerlukan penggantian pembalut dua kali dalam setengah jam).
b)         Pengeluaran vagina yang baunya menusuk.
c)         Rasa sakit dibagian bawah abdomen atau punggung.
d)         Sakit kepala yang terus-menerus, nyeri ulu hati atau masalah penglihatan.
e)         Pembengkakkan diwajah atau di tangan.
f)         Demam, muntah, rasa sakit pada waktu buang air kecil atau jika merasa tidak enak badan.
g)         Payudara yang berubah menjadi merah, panas dan atau terasa sakit.
h)         Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama.
i)          Rasa sakit, merah, lunak dan/atau pembengkakkan dikaki.
j)          Merasa sangat sedih atau tidak mampu mengasuh sendiri bayinya atau diri sendiri.

B.        Infeksi Masa Nifas
Setelah persalinan terjadi beberapa perubahan penting diantaranya makin meningkatnya pembentukkan urin untuk mengurangi hemodilusi darah, terjadi penyerapan beberapa bahan tertentu melalui pembuluh darah vena sehingga terjadi peningkatan suhu badan sekitar 0,5 oC yang bukan merupakan keadaan patologis atau menyimpang pada hari pertama. Perlukaan karena persalinan merupakan tempat masuknya kuman kedalam tubuh, sehingga menimbulkan infeksi pada kala nifas. Infeksi kala nifas adalah infeksi peradangan pada semua alat genitalia pada masa nifas oleh sebab apapun dengan ketentuan meningkatnya suhu badan melebihi 38 oC tanpa menghitung hari pertama dan berturut-turut selama dua hari.
Gambaran Klinis Infeksi Umum dapat dalam bentuk :
1.         Infeksi Lokal
1.         Pembengkakan luka episiotomi.
2.         Perubahan warna lokal.
3.         Pengeluaran lochia bercampur nanah.
4.         Mobilisasi terbatas karena rasa nyeri.
5.         Temperatur badan dapat meningkat.
2.         Infeksi General
1.         Tampak Sakit dan Lemah
2.         Temperatur meningkat diatas 39 oC.
3.         Tekanan darah dapat menurun dan nadi meningkat.
4.         Pernapasan dapat meningkat dan napas terasa sesak.
5.         Kesadaran gelisah sampai menurun dan koma.
6.         Terjadi gangguan involusi uterus.
7.         Lochia : berbau, bernanah serta kotor.
C.        Faktor Predisposisi Infeksi Masa Nifas
a.         Persalinan berlangsung lama sampai terjadi Persalinan Terlantar
b.         Tindakan Operasi Persalinan
c.         Tertinggalnya plasenta selaput ketuban dan bekuan darah.
d.         Ketuban pecah dini atau pada pembukaan masih kecil melebihi enam jam.
e.         Keadaan yang dapat menurunkan keadaan umum, yaitu perdarahan antepartum dan post partum, anemia pada saat kehamilan, malnutrisi, kelelahan dan ibu hamil dengan penyakit infeksi.

D.        Terjadinya Infeksi Masa Nifas
a.         Manipulasi penolong: terlalu sering melakukan pemeriksaan dalam, alat yang dipakai kurang steril
b.         Infeksi yang didapat di rumah sakit (nosokomial).
c.         Hubungan seks menjelang persalinan.
d.         Sudah terdapat infeksi intrapartum: persalinan lama terlantar, ketuban pecah lebih dari enam jam,terdapat pusat infeksi dalam tubuh (lokal infeksi).

E.         Keadaan abnormal pada rahim
Beberapa keadaan abnormal pada rahim adalah :
1.         Sub involusi uteri
Proses involusi rahim tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga proses pengecilan rahim terhambat. Penyebab terjadinya sub involusi uteri adalah terjadinya infeksi pada endometrium, terdapat sisa plasenta dan selaputnya, terdapat bekuan darah, atau mioma uteri.
2.         Pendarahan masa nifas sekunder
Adalah pendarahan yang terjadi pada 24 jam pertama. Penyebabnya adalah terjadinya infeksi pada endometrium dan terdapat sisa plasenta dan selaputnya.
3.         Flegmansia alba dolens
Merupakan salah satu bentuk infeksi puerpuralis yang mengenai pembuluh darah vena femoralis. Gejala kliniknya adalah :
a.         Terjadi pembengkakan pada tungkai.
b.         Berwarna putih.
c.         Terasa sangat nyeri.
d.         Tampak bendungan pembuluh darah.
e.         Temperatur badan dapat meningkat

F.         Keadaan abnormal pada payudara
Beberapa keadaan abnormal yang mungkin terjadi adalah :
a.         Bendungan ASI
Disebabkan oleh penyumbatan pada saluran ASI. Keluhan mamae bengkak, keras, dan terasa panas sampai suhu badan meningkat.
b.         Mastitis dan Abses Mamae
Infeksi ini menimbulkan demam, nyeri lokal pada mamae, pemadatan mamae dan terjadi perubahan warna kulit mamae.

G.        Keadaan abnormal pada psikologis
a.         Psikologi Pada Masa Nifas
Perubahan emosi selama masa nifas memiliki berbagai bentuk dan variasi. Kondisi ini akan berangsur-angsur normal sampai pada minggu ke 12 setelah melahirkan. Pada 0 – 3 hari setelah melahirkan, ibu nifas berada pada puncak kegelisahan setelah melahirkan karena rasa sakit pada saat melahirkan sangat terasa yang berakibat ibu sulit beristirahat, sehingga ibu mengalami kekurangan istirahat pada siang hari dan sulit tidur dimalam hari.
Pada 3 -10 hari setelah melahirkan, Postnatal blues biasanya muncul biasanya disebut dengan 3th day blues. Tapi pada kenyataanya berdasarkan riset yang dilakukan paling banyak muncul pada hari ke lima. Postnatal blues adalah suatu kondisi dimana ibu memiliki perasaan khawatir yang berlebihan terhadap kondisinya dan kondisi bayinya sehingga ibu mudah panik dengan sedikit saja perubahan pada kondisi dirinya atau bayinya.
Pada 1 – 12 minggu setelah melahirkan, kondisi ibu mulai membaik dan  menuju pada tahap normal. Pengembalian kondisi ibu ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya, misalnya perhatian dari anggota keluarga terdekat. Semakin baik perhatian yang diberikan maka semakin cepat emosi ibu kembali pada keadaan normal.
b.         Depresi Pada Masa Nifas
Riset menunjukan 10% ibu mengalami depresi setelah melahirkan dan 10%-nya saja yang tidak mengalami perubahan emosi. Keadaan ini berlangsung antara 3-6 bulan bahkan pada beberapa kasus terjadi selama 1 tahun pertama kehidupan bayi. Penyebab depresi terjadi karena reaksi terhadap rasa sakit yang muncul saat melahirkan dan karena sebab-sebab yang kompleks lainnya. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan menunjukan faktor-faktor penyebab depresi adalah terhambatnya karir ibu karena harus melahirkan, kurangnya perhatian orang orang terdekat terutama suami dan perubahan struktur keluarga karena hadirnya bayi, terutama pada ibu primipara.


H.        Tanda Bahaya Kala Nifas
Selama kala nifas, bidan harus memberitahu ibu dan keluarga tentang tanda bahaya :
1.         Demam
2.         Perdarahan aktif
3.         Bekuan darah banyak
4.         Bau busuk dari vagina
5.         Pusing
6.         Lemas luar biasa
7.         Kesulitan dalam menyusui
8.         Nyeri panggul atau abdomen yang lebih dari kram uterus biasa.

KLIMATERIK DAN NON KLIMATERIK



Tugas Individu :

 TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN



 








DISUSUN OLEH :

NAMA        : MULIASTI
NIM            : 913 04 039
JURUSAN : AGROTEKNOLOGI




SEKOLAH TINGGI ILMU  PERTANIAN WUNA
( STIP WUNA )
2016






KLIMATERIK DAN NON KLIMATERIK

           Buah-buahan dapat dikelompokkan berdasarkan laju pernapasan mereka di saat pertumbuhan sampai fase senescene menjadi kelompok buah-buahan klimakterik dan kelompok buah-buahan non klimakterik (Biale dan Young, 1981), seperti terlihat dalam Tabel 5.
Buah-buahan klimakterik yang sudah mature, selepas dipanen, secara normal memperlihatkan suatu laju penurunan pernafasan sampai tingkat minimal, yang diikuti oleh hentakan laju pernafasan yang cepat sampai ke tingkat maksimal, yang disebut puncak pernafasan klimakterik.

  Buah-buahan tropis klimakterik dan non klimakterik
NAMA UMUM
NAMA ILMIAH
KLIMAKTERIK
Advokad
Pisang
Nangka
Jambu
R Mangga
Pepaya
Markisa (passion fruit)
NON KLIMAKTERIK
Buah Mete
Jeruk Bali / Grafe fruit
Lemon
Lychee
Orange
Nenas

Persea americana
Musa sepientum
Artocarpus altilis
Psidium guajava
Mangivera indica
Carica papaya
Passi flora edulis

Anacardium occidentale
Citrus paradisi
Citrus lemonia
Litchi chinenses
Citrus cinensis
Ananas comosus

Bila buah-buahan klimakterik berada pada tingkat maturitas “kemrampo” yang tepat, dikspos selama beberapa saat dengan konsentrasi ethylene yang lebih tinggi dari threshold minimal, maka terjadilah rangsangan pematangan yang tidak dapat kembali lagi (irreversiable ripening).
Pada buah-buahan non klimakterik terjadi hal yang berbeda artinya tidak memperlihatkan terjadinya hentakan pernafasan klimakterik. Meskipun buah-buahan tersebut diekspose dengan kadar ethylene kecil saja, laju pernafasan, kira-kira sama dengan kadar bila terekspose ethylene ruangan, kalau ada tingkatan laju pernafasan hanya kecil saja. Tetapi segera setelah itu laju pernafasan kembali lagi pada laju kondisi istirahat normal, bila kemudian ethylene nya ditiadakan. Dengan ekspos ethylene terjadilah suatu respon yang kira-kira mirip dapat diamati. Dalam suatu buah yang telah mature (tetapi belum matang) terjadilah perubahan parameter yang dialami buah seperti mislnya degreening atau hilangnya warna hijau.
Meskipun secara ilmiah dan physiologis dapat ditunjukkan adanya perubahan-perubahan yang terjadi yang memungkinkan untuk melakukan klasifikasi sifat dan tabiat buah-buahan lepas panen, tetapi parameter yang sangat mudah dan lebih bermanfaat dan bermakna bagi konsumen adalah parameter perubahan lain yang lebih praktis sifatnya yang terjadi selama proses pematangan.
Parameter-parameter yang dimaksud adalah : terjadinya pelunakan sera terjadinya sintesa karotinoid. Demikian juga halnya dengan terjadinya perubahan warna eksternal seperti terjadinya pemecahan (breakdown), khlorophyl, sehingga membuka tabir lapisan karotenoid dalam kulit pisang, terjadinya perubahan dari warna hijau menjadi kuning (Marriot,980).
Demikian halnya dengan terjadinya perubahan-perubahan internal dalam buah terhadap komposisi yang dikandungnya. Seperti misalnya pemecahan pati menjadi sukrosa dan gula pereduksi serta turunnya kandungan dalam buah mangga (Bhatnagar dan Subramangan, 1973).
Dan khususnya dalam pengembangan timbulnya sifat karakteristik flavor buah-buahan. Perubahan mana juga terjadi bila buah-buahan klimakterik tua (mature) dieksposa dengan gas ethylene. Sesungguhnya penting untuk diamati bahwa pengeluaran gas ethylene juga terjadi sewaktu buah menjadi matang. Pengeluaran ethylene dari dalam buah merupakan salah satu karakteristik dari proses pematangan buah.
Berikut disajikan dalam Tabel 6 rekapitulasi perubahan-perubahan selama proses pematangan buah yang terjadi secara komersial.
Perubahan utama selama proses pematangan buah

Kerusakan khloroplast
atau khlorophyl
Kehilangan asam organik
Pengeluaran ethylene
Peningkatan laju pernafasan

Hydrolysis pati
Pelunakan pektin, peningkatan daya larut
pektin
Pembentukan karotenoid dan anthocyanin
Syntesa senyawa flavor



Salah satu kesulitan yang dialami secara komersial dalam menghadapi pematangan buah adalah bagaimana caranya mengendalikan proses tersebut secara teliti. Berdasarkan pengaruh lingkungan, para pengamat cenderung untuk bergantung terhadap beberapa parameter seperti perubahan yang kasat mata saja seperti terjadinya atau tumbuhnya warna merah pada kulit buah, atau parameter perubahan kimia yang mudah diukur. Seperti misalnya peningkatan kadar gula pereduksi dan penurunan derajat keasaman.
Perubahan tingkat kekerasan (firmness) atau tekstur buah, meskipun secara jelas dapat digunakansebagai parameter penting bagi konsumen, ternyata kurang gampang dihayati dan dimengerti, dan akibatnya lebih sulit dilakukan kuantifikasi, sebaiknya perubahan flavor (citarasa) yang merupakan kepedulian utama konsumen dianggap lebih penting diasumsikan sebagai cerminan dari perubahan-perubahan fisikokimia.
Karena itu telah menjadi kepedulian yang sangat besar bagi industri buah-buahan agar secar penuh manusia dapat mempengaruhi perubahan laju pematangan dengan cara melakukan manipulasi suhu, atau konsentrasi ethylene, yaitu pada saat sebelum dan sewaktu proses pematangan buah (ripening) terhadap setiap kultural atau spesies buah-buahan.
Proses penuaan buah (maturity) sangat penting dikuasai mekanismenya. Salah satu aspek dari maturitas adalah pengembangan kapasitas buah untuk mampu menjadi matang.
Dalam suatu spesies buah atau kultivar tertentu respon terhadap ethylene sangat dipengaruhi bukan saja oleh derajat maturity buah tetapi juga oleh konsentrasi relatif dari plant growth regulator lainnya, seperti misalnya asam giberilat, serta terhadap kadar mineral yang ada di dalam buah.
Suatu contoh, perlakuan pemberian larutan kalsium khlorida terhadap buah advokad, ternyata mampu menghambat respirasi, dan sekaligus memperlambat terjadinya klimakterik dan menekan puncak produksi ethylene (Ingwa and Young, 1984). Pengaruh mana tidak terjadi terhadap buah pisang (Will et al., 1982).
Dalam pustaka yang telah diketahui pengaruh ethylene terhadap proses pematangan buah (ripening) ternyata masih sangat terbatas kurang informasi yang diperlukan terhadap senyawa-senyawa lain yang harus dilibatkan dalam mengatur proses metabolisme termasuk proses pematangan buah.
Di samping itu harus dipahami mengenai faktor lain sebelum menangani buah-buahan tropis khususnya betapa pentingnya faktor sifat kepekaan terhadap chilling enjuries. Ekspose buah-buahan tropis pada suhu lebih rendah dari nilai threshold kritis, akan berakibat gagalnya buah mencapai tingkat kematangan yang normal.








Perbedaan Buah Klimaterik dan Non Klimaterik
Biale dalam Nurlaela (1996) mengklasifikasikan buah dalam dua kategori, berdasarkan laju respirasi sebelum pemasakan, yaitu klimaterik dan nonklimaterik.
  • Buah klimaterik mempunyai peningkatan atau kenaikan laju respirasi sebelum pemasakan, sedangkan buah non klimaterik tidak menunjukan adanya kenaikan laju respirasi.  Contohnya  meliputi   pisang, mangga, pepaya, advokad, tomat, sawo, apel ,dan sebagainya.  
  • Buah non-klimaterik menghasilkan sedikit etilen dan tidak memberikan respon terhadap etilen kecuali dalam hal degreening (penurunan kadar klorofil) pada jeruk dan nanas.  Contohnya semangka, jeruk, nenas, anggur, ketimun, dan sebagainya. 
Buah klimaterik menghasilkan lebih banyak etilen pada saat matang dan mempercepat serta lebih seragam tingkat kematangannya pada saat pemberian etilen (Febrianto, 2009). 

Untuk membedakan buah klimaterik dari buah non-klimaterik adalah responnya terhadap pemberian etilen yang merupakan gas hidrokarbon yang secara alami dikeluarkan oleh buah-buahan dan mempunyai pengaruh dalam peningkatan respirasi. Buah non-klimaterik akan bereaksi terhadap pemberian etilen pada tingkat manapun baik pada tingkat pra-panen maupun pasca panen. Sedangkan buah klimakterik hanya akan mengadakan reaksi respirasi bila etilen diberikan dalam tingkat pra klimakterik dan tidak peka lagi terhadap etilen setelah kenaikan respirasi dimulai. (Pantastico, 1993).

Buah klimaterik ditandai dengan peningkatan CO2 secara mendadak, yang dihasilkan selama pematangan. Klimaterik adalah suatu periode mendadak yang khas pada buah-buahan tertentu, dimana selama proses tersebut terjadi serangkaian perubahan biologis yang diawali dengan proses pembentukan etilen, hal tersebut ditandai dengan terjadinya proses pematangan. (Syarief dan Irawati, 1988).

Awal respirasi klimaterik diawali pada fase pematangan bersamaan dengan pertumbuhan buah sampai konstan. Biasanya laju kerusakan komoditi pasca panen berbanding langsung dengan laju respirasinya, walaupun tidak selalu terdapat hubungan konstan antara kapasitas etilen yang dihasilkannya dengan kemampuan rusaknya suatu komoditi.