do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Sabtu, 21 Mei 2011

Etos Kerja

Selalu Komitmen dalam Pekerjaan, Memiliki Etos Kerja

dan Tanggung Jawab
Seorang wirausaha harus memiliki jiwa komitmen dalam usahanya dan tekad yang bulat didalam mencurahkan semua perhatianya pada usaha yang akan digelutinya, didalam menjalankan usaha tersebut seorang wirausaha yang sukses terus memiliki tekad yang mengebu-gebu dan menyala-nyala (semangat tinggi) dalam mengembangkan usahanya,
ia tidak setengah-setengah dalam berusaha, berani menanggung resiko, bekerja keras, dan tidak takut menghadapi peluang-peluang yang ada dipasar. 


Tanpa usaha yang sungguh-sunguh terhadap pekerjaan yang digelutinya maka wirausaha sehebat apapun pasti menemui jalan kegagalan dalam usahanya. Oleh karena itu penting sekali bagi seorang

wirausaha untuk komit terhadap usaha dan pekerjaannya. Salah satu sumber bala yang menimbulkan bencana nasional akhir-akhir ini adalah karena tidak dimilikinya etos kerja yang memadai bagi bangsa kita. Belajar dari negara lain, Jerman dan Jepang yang luluh
lantak di PD II. Tetapi kini, lima puluh tahun kemudian, mereka menjadi bangsa termaju di Eropa dan Asia. Mengapa? Karena etos kerja mereka tidak ikut hancur. Yang hancur hanya gedung-gedung, jalan, dan infrastruktur fisik.



Max Weber menyatakan intisari etos kerja orang Jerman adalah : rasional, disiplin tinggi, kerja keras, berorientasi pada kesuksesan material, hemat dan bersahaja, tidak mengumbar kesenangan, menabung dan investasi. Di Timur, orang Jepang menghayati “bushido”(etos para samurai) perpaduan Shintoisme dan Zen Budhism. Inilah yang
disebut oleh Jansen H. Sinamo (1999) sebagai “karakter dasar budaya kerja bangsa Jepang”.
Ada 7 prinsip dalam bushido, ialah :
(1) Gi : keputusan benar diambil dengan sikap benar berdasarkan kebenaran, jika harus mati demi keputusan itu, matilah dengan gagah, terhormat,
(2) Yu : berani, ksatria,
(3) Jin : murah hati, mencintai dan bersikap baik terhadap sesama,
(4) Re : bersikap santun, bertindak benar,
(5) Makoto : tulus setulus-tulusnya, sungguh-sesungguh-sungguhnya,
tanpa pamrih,
(6) Melyo : menjaga kehormatan martabat, kemuliaan,
(7) Chugo : mengabdi, loyal. Jelas bahwa kemajuan Jepang karena mereka komit dalam penerapan bushido, konsisten, inten dan berkualitas.


Indonesia mempunyai falsafah Pancasila, tetapi gagal menjadi etos kerja bangsa kita karena masyarakat tidak komit, tidak inten, dan tidak bersungguh-sungguh dalam menerapkan prinsip-prinsip Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Maaf cakap “Ketuhanan Yang Maha Esa” misalnya, sering ditampilkan sebagai “Keuangan yang maha kuasa”. Kemanusiaan yang adil dan beradab, diterapkan menjadi “Kekuasaan

menentukan apa yang adil dan siapa yang beradab”, “Persatuan Indonesia” prakteknya menjadi “persatuan pejabat dan konglemerat” dsb. Inilah bukti dari ramalan Ronggowarsito dan inilah zaman edan. Dampak kondisi ini etos kerja yang berkembang adalah etos kerja asal-asalan. Beberapa pernyataan berikut adalah gambaran ungkapan
yang sering muncul ke permukaan yang menggambarkan etos kerja asalasalan,
atau istilah Sinamo (1999) sebagai “etos kerja edan”, ialah :


 (1) bekerjalah sesuai keinginan penguasa, (2) bekerja sebisanya saja, (3) bekerja jangan sok suci, kerja adalah demi uang, (4) bekerja seadanya saja nggak usah ngoyo, tak lari gunung dikejar, (5) bekerja harus pinterpinter, yang penting aman, (6) bekerja santai saja mengapa harus

ngotot, (7) bekerja asal-asalan saja, wajar-wajar saja, kan gajinya kecil, (8) bekerja semau gue, kan di sini saya yang berkuasa. Ungkapan seperti tersebut di atas menggambarkan tidak adanya etos kerja yang pantas untuk dikembangkan apalagi menghadapi persaingan global. Maka dari itu wajarlah jika bangsa ini harus menerima pil pahit bencana nasional krisis yang erkepanjangan yang tak kunjung usai. Untuk mencapai kualifikasi Wirausaha Unggul maka SDM Perusahaan harus memiliki Etos Kerja Unggul.

Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1941922-etos-kerja/#ixzz1vOqvHk5a

Jumat, 20 Mei 2011

Melakukan Penelitian Pasar


Melakukan Penelitian Pasar

Dalam kegiatan rutin sehari-hari, sadar atau tidak mungkin Anda sering atau pernah terlibat dalam penelitian pasar. Misalnya, sebelum Anda membeli suatu barang, Anda keliling ke toko/pasar swalayan untuk membandingkan barang yang akan Anda beli dengan harga yang paling murah, kualitas yang paling baik dan model yang bagus. Sebagai seorang wirausaha, Anda mungkin akan memeriksa barang yang dikembalikan, untuk mengetahui alasannya mengapa barang dikembalikan pelanggan. Anda mungkin menanyakan kepada pelanggan lama, mengapa mereka berhenti membeli dari toko Anda. Anda mungkin mempelajari iklan dari koran, majalah atau televisi, untuk mengetahui bagaimana mereka menjual produk.
Dari kegiatan-kegiatan tersebut di atas, sebenarnya Anda telah melakukan peneiitian. Penelitian pasar hanya membuat proses kegiatan tersebut menjadi lebih sistematis. Melalui penelitian pasar, Anda dapat membuat suatu kerangka yang memungkinkan Anda menilai arti informasi tentang pasar secara obyektif. Langkah-langkah dalam melakukan penelitian pasar adalah sebagai berikut :
Ø Merumuskan masalah
Ø Melakukan penelitian pendahuluan
Ø Merencanakan peneliti
Ø Menggunakan sumber daya Anda sendiri atau dari luar
Ø Mengolah dan menafsirkan data
Ø Membuat kesimpulan atau keputusan
Ø Menerapkan keputusan dan mengkaji ulang keputusan Anda.

Sumber:http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1944000-melakukan-penelitian-pasar/#ixzz1vOrJfsNw

Kamis, 19 Mei 2011

Etika Bisnis Dalam Kerja Sama




Seorang wirausaha dengan segala kelebihan dan kekurangannya memerlukan kerja sama dengan pihak lain, yang pada gilirannya tercapai Win-win Solution. Kerja sama yang baik akan tercipta, bila kerjasama tersebut dilandasi nilai-nilai kerja sama yang disepakati bersama. Salah satu yang harus diperhatikan dalam masalah kerja sama usaha ini adalah
“Etika Bisnis dalam Bekerja sama”.
John L. Mariotti (1993) mengungkapkan ada 6 dasar etika bisnis
yang harus diperhatikan, yaitu:
a) Karakter, integritas, dan kejujuran
Setiap orang pada hakekatnya memiliki karakter yang berbeda antara yang satu dengan yang lain, sehingga karakter menunjukkan personality atau kepribadian seseorang yang menunjukkan kualitas yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok komunitas tertentu.
Seorang yang memiliki karakter yang baik, biasanya memiliki integritas diri yang tinggi. Jadi, yang dimaksud dengan integritas adalah sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh, sehingga dapat memancarkan kewibawaan. Oleh karena itu, seseorang yang berintegritas tinggi biasanya memiliki kejujuran lebih dari mereka
yang integritas dirinya kurang. Dengan demikian, kejujuran menunjukkan ketulusan hati dan sikap dasar yang dimiliki setiap manusia.
Sudah seharusnya seorang wirausaha memilih mitra kerja yang selain jujur juga potensial. Ia juga memiliki karakter dan integritas yang tinggi. Karakter, integritas, dan kejujuran merupakan tiga hal yang saling terkait atau merupakan satu kesatuan yang membentuk “pribadi tangguh”. Wachyu Suparyanto (2004) dalam bukunya yang
berjudul “Petunjuk Untuk Memulai Berwirausaha” mengatakan “Mitra kerja yang sempurna adalah yang mempunyai kemampuan dalam berbagai hal melebihi kemampuan kita serta jujur karena jika kemampuannya sangat tinggi, tapi tidak jujur dia akan membohongi kita atau dengan kata lain pagar makan tanaman. Di sisi lain jika mitra
kita jujur tetapi kemampuannya rendah, dia akan membuat kita lelah.”

b) Kepercayaan.
Kepercayaan adalah keyakinan atau anggapan bahwa sesuatu yang dipercaya itu benar atau nyata. Kepercayaan merupakan modal dalam berbisnis yang tidak muncul begitu saja atau dadakan, kepercayaan lahir dan dibangun dari pengalaman. Oleh karena itu, kepercayaan dimunculkan dari proses yang mungkin dalam waktu singkat, bahkan
bisa pula dalam waktu yang lama.
Seorang wirausaha yang akan berkerja sama dengan pihak atau orang lain akan memilih mitra yang ia percaya, yang telah melalui proses uji kelayakan sebagai mitra. Proses pengujian ini dapat dilakukan baik melalui pengamatan maupun membaca track record
calon mitra, baik secara langsung maupun melalui pihak lain yang dipercaya. Sudah selayaknya mitra yang diajak berkerja sama adalah orang atau pihak yang benar-benar dapat dipercaya, karena sekali salah memilih mitra maka akan sulit membangun kembali
kepercayaan. 

c) Komunikasi yang terbuka.
Dikarenakan kerja sama didasarkan atas kepentingan kedua pihak, maka dalam kerja sama usaha harus ada komunikasi yang terbuka antara keduanya. Komunikasi kedua pihak penting, mengingat dalam usaha atau bisnis memerlukan banyak informasi untuk menunjang kepentingan usaha. Pertukaran informasi dan diskusi kedua pihak mengenai usaha bersama yang dijalankan tidak mungkin terjadi jika salah satu pihak menutup diri atau kurang terbuka. Oleh karena itu, komunikasi yang terbuka merupakan salah satu dasar bermitra yang harus dibangun.

Untuk memahami masalah komunikasi ini, coba Anda ingat dan buka kembali modul 2 tentang Kiat mengembangkan Kemampuan Berkomunikasi.


d) A d i l
Telah diungkapkan pada uraian terdahulu bahwa maksud dan tujuan dari kerja sama adalah “Win-win Solution”, yang bermakna bahwa dalam kerja sama harus ada keadilan di antara kedua pihak.
Artinya bahwa bila usaha yang dijalankan mengalami kerugian, maka bukan hanya salah satu pihak saja yang harus menanggung kerugian tersebut, melainkan harus ditanggung bersama. Begitu pula sebaliknya, bila mendapatkan keuntungan, keduanya pun memperoleh keuntungan. Besarnya kerugian dan keuntungan bagian masingmasing
ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama pada awal kontrak kerja sama ditandatangani, yang biasanya didasarkan pada sumbangan masing-masing pihak dalam kerja sama tersebut. Dengan demikian, adil menunjukkan sikap tidak berat sebelah atau
menguntungkan/merugikan pihak lain. Adil memang mudah untuk diucapkan, namun berat untuk dilaksanakan oleh manusia karena hanya Allah yang maha adil.

e)Keinginan pribadi dari pihak yang bermitra.
Seorang wirausaha yang melakukan kerjasama usaha dengan pihak lain memiliki motivasi tertentu, yang dibentuk oleh keinginan-keinginan tertentu yang akan diraihnya dari kerja sama tersebut. Dapat dikatakan bahwa hampir tidak ada kerja sama yang tidak didasari keinginan-keinginan tertentu dari pihak yang bermitra tersebut.
Keinginan-keinginan dari kedua pihak dapat keinginan yang bersifat ekonomi, seperti keinginan untuk lebih maju dan berkembang, keinginan memperluas pasar dan sebagainya, maupun keinginan nonekonomi, seperti peningkatkan kemampuan dan pengalaman serta pergaulan usaha yang lebih luas. Keinginan-keinginan tersebut akan
menjadi penggerak atau motivator uantuk menjalankan kerja sama secara harmonis. 

f)Keseimbangan antara insentif dan resiko.
Sebagaimana dalam aspek “adil’ yang diuraikan sebelumnya, aspek keseimbangan antara insentif dan resiko dapat pula bermakna adil. Artinya, dalam berbisnis, pasti akan ada resiko yang harus dipikul masing-masing pihak dan ada insentif yang diterima masing-masing sebagai hasil atau dampak dari resiko yang ditanggung tersebut.
Keseimbangan antara insentif dan resiko senantiasa ada selama kerja sama usaha tersebut ada dan kedua pihak sepakat untuk tetap mempertahankannya. Bila salah satu pihak sudah tidak sanggup untuk menjalankan resiko, maka otomatis insentif berupa keuntungan pun tidak akan diraihnya dan tentu saja ini akan menganggu kontinuitas
kerja sama usaha.

Sumberhttp://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1943519-etika-bisnis-dalam-kerja-sama/#ixzz1vOrggq3Z

Rabu, 18 Mei 2011

Rahasia memulai USAHA dengan MOL (modal orang lain) Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/business-ideas-and-opportunities/1990612-rahasia-memulai-usaha-dengan-mol/#ixzz1vOsLLZrI


Buku ini didasarkan atas pengalaman pribadi penulisnya dalam mencoba usaha yang hampir tanpa modal dan akhirnya berhasil dan malah berkembang menjadi lima perusahaan yang memberikan nilai keuntungan lebih bagi penulis. Melalui buku ini penulis mencoba berbagi dengan para pembacanya dengan membongkar Rahasia memulai Usaha dengan Modal Orang Lain. Buku ini baik menjadi refensi bagi mereka yang ingin dan mengembangkan bisnis tapi modal kurang, atau mereka punya tempat dan uang tapi tidak punya ide bisnis, dan bahasa yang mudah diikuti penulis memaparkan pengalamamnya dengan menunjukan:


·         Kenapa harus wirausaha
·         Bagaimana menumbuhkan mental wirausaha, dan selalu memotivasi diri
·         Success is My Right. disisi lain penulis mengajak pembacanya untuk
·    Mengenali mindset orang suksesdan berdasarkan atas pengalamannya penulis berbagiBagaimana memulai usaha dan bagaimana mendapatkan modal dari orang lain dan menggunakannya, dengan tak lupa selalu mencoba memahami karakter dari para investor guna memudahkan dalam berkomunikasi. Diakhir bukunya penulis memberikan tip-tip untuk membuat proposal bisnis, menyusun perencanaan bisnis, cashflow projection, dan perencanaan pemasaran.


Sumber:http://id.shvoong.com/business-management/business-ideas-and-opportunities/1990612-rahasia-memulai-usaha-dengan-mol/#ixzz1vOs3u3Bf

Selasa, 17 Mei 2011

Memulai Bisnis? kalau mau dengan ATM bukan TTM Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/business-ideas-and-opportunities/2156520-memulai-bisnis-kalau-mau-dengan/#ixzz1vOsc3Wy3


Perkembangan UKM belakangan ini sangat luar biasa. Dimana-mana orang bicara tentang kewirausahaan skala kecil. Membuka usaha memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun juga tidak sesulit yang dibayangkan sehingga harus ditakuti. Apalagi ada metode ATM yang sering sekali dikumandangkan motivator pada peserta seminar atau pelatihan kewirausahaan.


ATM ini jelas bukan kependekkan Anjungan Tunai Mandiri, melainkan AMATI, TIRU, MODIFIKASI. Artinya menciptakan sebuah produk atau membangun sebuah usaha tidak harus dimulai dari suatu konsep baru yang original, tapui dapat dikembangkan dengan cara mengamati, meniru dan memodifikasi dari bisnis yang sudah ada.



Meskipun kelihatan mudah, memulai bisnis dengan ATM ada susahnya juga. Proses mengamati mudah, tapi modifikasinya itu yang susah. Padahal justru di poin modifikasi inilah, seorang pebisnis dapat mengeksploitasi ide-ide dan keunikan yang dimiliki menjadi keunggulan usaha sekaligus poin diferensiasi (pembeda) dibanding pemain lainya. Jika dikaitkan dengan falsafah Wings Group tadi, kekuatanya adalah poin nambahi yang berarti menciptakan nilai tambah.



Tanpa adanya proses modifikasi, bukanya metode ATM yang dijalankan, para pelaku usaha baru justru akan terjebak menggunakan metode TTM (Tiru Tanpa Modifikasi). 



Bisnis TTM alias latah begini biasanya sangat tergantung trend sesaat saja ketika permintaan konsumen meningkat karena keingintahuan untuk mencoba produk. Seiring dengan berlalunya tren tersebut, pengusaha yang hanya ikut-ikutan meniru akan rontok satu persatu. Sdangkan mereka yang memeng mempunyai kompetensi di bidang tersebut akan terus berinovasi memodifikasi produj atau model bisnisnya sehingga tetap hidup di pasar yang menyempit atau bahkan menciptakan pasar baru.


Untungnya masih banyak pengusaha pemula yang kreatif melakukan modifikasi dalam memulai usahamya. Contohnya adalah Imucu, usaha bantal imut-lucu yang didirikan oleh seorang mantan profesional di sebuah perusahaan consumer goods besar. Tidak mau terjebak latah membuat sandal biasa, Imucu melakukan modifikasi dengan membuat aneka model sandal yang lucu-lucu sehingga menarik pembeli dan pemakai sandal. Dengan modifikasi ini, perkembangan usaha tersebaut terbilang sukses dalam jangka waktu tidak trlau lama dari sejak perdananya.
Selamat berbisnis dengan ATM
Sumber:http://id.shvoong.com/business-management/business-ideas-and-opportunities/2156520-memulai-bisnis-kalau-mau-dengan/#ixzz1vOsQ66XA

Senin, 16 Mei 2011

Manfaat sumber-sumber informasi usaha


Manfaat sumber-sumber informasi usaha

Pemanfaatan teknologi informasi, akan mengarahkan perusahaan pada cara kerja perusahaan, perluasan kompetisi, pemasaran, penjualan, distribusi, promosi, dan lain-lainnya. Adanya teknologi informasi akan menyebabkan orang-orang dengan cepat mengetahui berita dan dengan cepat pula dapat mengirim berita. Pemakaian teknologi informasi banyak menimbulkan perubahan pada berbagai segi kegiatan dalam perusahaan. Oleh karena itu, dalam rangka memajukan dan membesarkan usaha atau
bisnis, peran teknologi informasi harus dioptimalkan penggunaannya.
? Informasi semakin sedikit yang relevan. Orang-orang politik bilang
“informasi adalah kekuasaan”. Sementara orang-orang bisnis bilang
“untuk mengetahui masa depan bisnis. Untuk itu kuasailah dan cari
sebanyak-banyaknya informasi.

? Keberhasilan wirausaha dalam mengelola informasi, bukan terletak pada banyaknya informasi yang ia miliki, melainkan pada relevansinya. Dengan adanya sumber-sumber informasi, maka para Wirausaha akan mengetahui bahwa informasi itu sangat penting untuk bahan masukan bagi pengambilan suatu keputusan dalam bisnis. Zaman
sekarang dikenal abad informasi, yang mana kemampuan untuk mendapatkan dan menggunakan sumber informasi merupakan aktiva yang terbesar. Orang-orang politik bilang: “Siapa yang memiliki informasi paling banyak, dialah yang paling berkuasa”. Sementara orang-orang bisnis mengatakan:”Untuk dapat mengelola bisnis dengan baik, pasarkan sesuatu untuk masa depan; untuk mengetahui masa depan, kuasailah

sebanyak-banyaknya informasi”


Dengan memanfaatkan sumber-sumber informasi, para Wirausaha
akan melaksanakan perubahan atau perbaikan hal-hal berikut.
a. Perluasan kompetisi bisnis.
b. Pembuatan produk
c. Pemasaran dan penjualan produk.
d. Ketenagakerjaan.
e. Cara mengelola bisnis.
f. Memilih produk.

Dari penjelasan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa dengan adanya sumber-sumber informasi, maka para Wirausaha akan dapat:
a. Memilih dan membuat produk dengan lebih cepat dan lebih murah.
b. Memilih dan membuat produk yang bermutu laku dijual, dan harga bersaing.
c. Memilih dan menentukan wilayah pemasaran yang menguntungkan.
d. Memilih dan membuat desain baru atau kombinasi.
e. Memilih dan membuat produk yang lebih baik dengan harga relative murah.



Sumber:http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1943999-manfaat-sumber-sumber-informasi-usaha/#ixzz1vOshBGw1

Minggu, 15 Mei 2011

Promosi




Agar barang yang kita produksi cepat dikenal, diketahui, dibutuhkan dan diminta oleh konsumen, maka seorang pengusaha harus segera melakukan usaha-usaha sebagai berikut. 
(1) Informasikan barang dan jasa yang dihasilkan itu kepada konsumen.
(2) Bujuk konsumen agar mau membeli barang dan jasa yang dihasilkan.
(3) Pengaruhi konsumen agar membeli barang dan jasa yang kita hasilkan.
Kegiatan-kegiatan di atas dapat dilakukan dengan periklanan dan promosi. Dengan demikian, promosi merupakan cara mengkomunikasikan barang dan jasa yang akan ditawarkan supaya konsumen mengenal dan membeli. Adapun fungsi promosi adalah:
(1) Menginformasikan;
(2) Membujuk;
(3) Mengingatkan; dan
(4) Mempengaruhi.
Melalui promosi, barang dan jasa mudah dikenal oleh konsumen.



Ada beberapa jenis promosi:
(1) Iklan, bisanya dilakukan melalui media cetak (surat kabar, majalah, buletin) dan media elektronika seperti TV, Radio, Internet dan lain sebagainya.
(2) Promosi penjualan, biasanya dilakukan melalui pameran dagang, kuis berhadiah, hiburan, dan kegiatan atau even lainya. 
(3) Wiraniaga, yaitu dengan mempromosikan langsung barang ke konsumen sasaran dengan membawa produk contoh.

(4) Pemasaran langsung, yaitu dengan langsung menghubungi konsumen.

(5) Humas, yaitu mempublikasikan barang-barang dan jasa melalui bilboard, pamlet, dan lain sebagainya. 



Barang dan jasa yang telah diperkenalkan dengan promosi tersebut perlu dipertahankan agar konsumen tetap membutuhkan. Oleh sebab itu, tugas wiraniaga adalah:
a. Mempertahankan pangsa pasar dan volume penjualan
b. Mengembangkan pangsa pasar dan volume penjualan.


Untuk mempertahankan dan mengembangkan pangsa pasar volume penjualan tentu saja seorang wirausaha perlu:

(a) Menghargai dan memperhatikan keinginan dan kebutuhan konsumen.
(b) Menganalisis kelebihan dan kekurangan kemampuan pemasaran yang kita miliki maupun yang dimiliki pesaing.
(c) Mencari strategi lain untuk memasuki dan menguasai pangsa pasar.



Wirausaha dapat memilih alat promosi yang tersedia, tergantung pada kemapuan dana
dan jenis produk yang ditawarkan.



Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1947336-promosi/#ixzz1vOtAQkq3