do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Selasa, 24 Mei 2011

Kenapa Harus Profesional

Pelaku bisnis, wirausaha dan berbagai bidang pekerjaan merupakan satu profesi. Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai nafkah hidup dengan mengandalkan keterampilan dan keahlian tinggi dan dengan melibatkan komitmen pribadi (moral) yang mendalam. Profesional juga mengandung makna seseorang yang melakukan sebuah pekerjaan purna waktu dan hidup dari pekerjaan itu. Seorang profesional akan melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh guna melampiaskan dan merefleksikan semangat/idealisme demi kebanggaan profesi yang dimilikinya.
Disebut profesional, apabila seseorang memiliki profesi tertentu yang diperoleh melalui sebuah pendidikan maupun pelatihan khusus (baik formal maupun non formal) dan disamping itu ada unsur semangat pengabdian (panggilan profesi atau semangatprofesionalisme) di dalam melaksanakan pekerjaannya.

Seorang yang sudah disebut profesional juga harus memperhatikan tiga hal yang harus jadi pegangan. Pertama, mempunyai itikad untuk merealisasikan kewajiban demi tegaknya kehormatan profesi yang digeluti dan tidak terlalu mementingkan atau mengharapkan imbalan upah materi. Kedua, pekerjaan yang dikerjakan harus dilandasi kemahiran teknis yang berkualitas tinggi yang dicapai melalui proses pendidikan dan atau pelatihan yang panjang dan berat. Ketiga, hasil kerja harus dapat diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral dan harus menundukkan diri pada sebuah mekanisme control berupa kode etik profesi yang dikembangkan dan disepakati bersama di dalam sebuah organisasi profesi.
Etika, Etos Kerja dan Sikap Profesional, merupakan satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain dalam melaksanakan kegiatan diberbagai bidang, termasuk didalamnya usaha jasa konstruksi. Bagaimana hasil kerja penyedia jasa konstruksi akan bisa diharapkan tepat waktu, tepat mutu, tepat biaya dan tahan lama, akan bisa terlaksana apabila para pelaku bisnis melupakan ke empat hal tersebut.

Apapun pekerjaan yang kita terima, termasuk pula bagi para penyedia jasa yang menerima pekerjaan, merupakan amanah. Penyedia jasa menerima amanah dari pengguna jasa guna mengerjakan bangunan dan juga pekerja – pekerja lainnya, Amanah yang diterima hendaknya bisa dikerjakan dengan sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela, misalnya korupsi dalam berbagai bentuknya dan sebagainya. Alangkah indahnya, kalau para penyedia jasa dalam melaksanakan amanah yang diterimanya, dapat dilaksanakan dengan baik dan tanpa cela, sehingga tidak akan terdengar lagi ada penyedia jasa, pengawas konsultan, masuk bui, karena kelalaiannya dalam melaksana kan pekerjaan dengan melakukan korupsi.



Senin, 23 Mei 2011

Kembangkan Ide untuk Sukses Berbisnis


Banyak orang ingin membuka bisnis, menjadi entrepreneur. Namun pertanyaan pertama yang biasanya terlintas di benak mereka adalah mau berbisnis di bidang apa. Jadi, bagaimanakah cara yang paling tepat untuk menentukan bidang usaha?


Menurut logika, sebuah usaha yang berpeluang untuk berjalan dengan lancar adalah usaha yang tingkat persaingannya kecil, tetapi tingkat kebutuhan pada konsumennya tinggi. Untuk bisa menekan tingkat persaingan sampai sekecil mungkin, maka seyogyanya produk yang akan dijual merupakan produk orisinil, belum pernah dibuat orang lain, atau memberikan nilai tambah yang tidak dimiliki oleh produk pesaing.



Banyak orang yang membuka usaha berdasarkan trend yang ada. Misalnya, di suatu daerah banyak didatangi turis, maka beramai-ramailah membuka tempat penginapan. Pola berpikir seperti ini terlalu menggampangkan, seakan-akan menyamakan trend bisnis dengan trend mode.



Di bidang mode, kalau saat ini sedang digemari kaos model V-Neck misalnya, tidak ada masalah bagi siapa saja untuk meniru. Akan tetapi, kalau kita meniru bidang usaha yang sudah begitu banyak orang lain menjalankannya, berarti kita terjun ke dalam suatu lahan yang sudah penuh sesak dengan persaingan. Sulit untuk kita bisa berkembang dalam situasi yang demikian, apalagi bila kita pendatang baru yang belum terlalu berpengalaman.



Di bidang finansial misalnya, banyak orang baik pebisnis maupun orang biasa untuk terjun bermain valas (valuta asing), bursa saham, bursa komoditi, dan instrumen investasi lainnya. Tidak sedikit mereka yang pengetahuannya terbatas tentang bidang tersebut, karena tergiur margin yang selangit, ikut-ikutan bermain, akhirnya harta yang ditanam ludes tak bersisa. Kejadian seperti ini terlalu mengerikan untuk dialami oleh setiap calon wiraswastawan yang punya idealisme.



Alex S. Nitisemito, seorang konsultan manajemen dalam bukunya memberikan contoh yang bagus tentang seorang pemilik kebun apel yang pada suatu hari menemukan buah apel yang jatuh ke tanah bekas dimakan burung. Karena buah apel tersebut ternyata berbau anggur, maka timbullah gagasannya untuk mendirikan usaha minuman sari buah apel. Hal itu merupakan ide orisinil. Di saat orang di sekitarnya hanya bisa menjual buah apel, sang pemilik kebun tersebut berhasil mengambangkan produk turunan apel.


Henry Ford memulai usaha dengan gagasan untuk membuat mobil yang baik bagi masyarakat banyak dengan harga terjangkau, dan usahanya sukses. Begitu juga Bill Gates yang berangan-angan untuk “mengkomputerkan” seluruh dunia, ternyata melesat begitu cepatnya menjadi raja komputer sejagat.


Ide atau gagasan tidak selalu datang begitu saja tanpa disangka-sangka, sehingga orang tidak akan bisa mengetahui kapan ide itu akan datang. Jangan menunggu datangnya ilham, atau mengharapkan bisikan gaib melalui mimpi saat tidur. Ide harus dikejar, dipikirkan dan dicari, kuncinya adalah peka terhadap apa yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari.



Ini suatu bukti yang menguatkan bahwa kewiraswastaan adalah “kerja otak” bukan “kerja otot”. Gagasan bisa datang dan terjadi kapan saja, maka kita harus selalu waspada. Seperti contoh di atas, pemilik kebun apel ada dalam keadaan waspada sehingga ia bisa mencetuskan sebuah ide besar berdasarkan sebuah kejadian kecil. Kalau tidak, ribuan buah apel bekas dimakan burung yang berjatuhan keatas tanah, tetap tinggal membusuk tanpa arti apa-apa bagi siapa pun.



Sumber:http://id.shvoong.com/business-management/business-ideas-and-opportunities/2263421-kembangkan-ide-untuk-sukses-berbisnis/#ixzz1vOpr9otN

Minggu, 22 Mei 2011

PENGAMBILAN KEPUTUSAN USAHA




Semakin wirausaha berpengalaman dalam pengambilan keputusan maka akan semakin besar kepercayaan diri dan semakin berorientasi pada tindakan-tindakan. Untuk itu, perlu memahami taksiran-taksiran atau hasil pengamatan kemampuan wirausaha dalam mengambil keputusan, sebagai berikut.
1. Bagaimana wirausaha dapat menjaga kepercayaan diri dalam mengambil keputusan penting ?
2. Tunjukkan contoh-contoh yang menggambarkan kemampuan wirausaha mengambil keputusan yang realisitk
3. Apakah kekuatan dan kelemahan wirausaha mengambil keputusan ?
4. Bagaimana cara mengambil keputusan kreativitas atau intuisi dalam mengambil keputusan ?
5. Apakah hikmah dari kesalahan mengambil keputusan ?
6. Bagaimana wirausaha menangguhkan pengambilan keputusan ?
7. Bagaimana penyesuaian dalam perubahan-perubahan di lingkungan wirausaha setelah keputusan ditetapkan ?
8. Apakah biasa dipaksakan membuat keputusan ?
9. Apakah tindakan yang biasa diambil setelah keputusan ditetapkan ?
10. Bagaimana cara menggunakan dan memanfaatkan sumber-sumber daya di lingkungan sekitar dalam mengambil keputusan ?
11. Bagaimana cara memimpin agar mencapai hasil yang diinginkan ?
12. Bagaimana cara menggunakan dan memanfaatkan kontak professional dan pribadi wirausaha untuk memperoleh informasi yang dapat membantu penetapan keputusan ?
Dengan kondisi-kondisi tersebut dapat digunakan sebagai acuan dalam memecahkan kendala-kendala yang berhubungan dengan pengambilan keputusan yang tidak efektif dan efisien. Oleh karena itu wirausaha harus mampu melihat penetapan pengambilan keputusan dengan melihat setiap aspek dari persoalan dan memahami secara keseluruhannya. Pengalaman masa lampau dan intuisi mampu sebagai kajian penting dalam pengambilan keputusan yang tidak dapat diabaikan begitu saja



Sumber:http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1944005-pengambilan-keputusan-usaha/#ixzz1vOqDuC6h

Sabtu, 21 Mei 2011

Etos Kerja

Selalu Komitmen dalam Pekerjaan, Memiliki Etos Kerja

dan Tanggung Jawab
Seorang wirausaha harus memiliki jiwa komitmen dalam usahanya dan tekad yang bulat didalam mencurahkan semua perhatianya pada usaha yang akan digelutinya, didalam menjalankan usaha tersebut seorang wirausaha yang sukses terus memiliki tekad yang mengebu-gebu dan menyala-nyala (semangat tinggi) dalam mengembangkan usahanya,
ia tidak setengah-setengah dalam berusaha, berani menanggung resiko, bekerja keras, dan tidak takut menghadapi peluang-peluang yang ada dipasar. 


Tanpa usaha yang sungguh-sunguh terhadap pekerjaan yang digelutinya maka wirausaha sehebat apapun pasti menemui jalan kegagalan dalam usahanya. Oleh karena itu penting sekali bagi seorang

wirausaha untuk komit terhadap usaha dan pekerjaannya. Salah satu sumber bala yang menimbulkan bencana nasional akhir-akhir ini adalah karena tidak dimilikinya etos kerja yang memadai bagi bangsa kita. Belajar dari negara lain, Jerman dan Jepang yang luluh
lantak di PD II. Tetapi kini, lima puluh tahun kemudian, mereka menjadi bangsa termaju di Eropa dan Asia. Mengapa? Karena etos kerja mereka tidak ikut hancur. Yang hancur hanya gedung-gedung, jalan, dan infrastruktur fisik.



Max Weber menyatakan intisari etos kerja orang Jerman adalah : rasional, disiplin tinggi, kerja keras, berorientasi pada kesuksesan material, hemat dan bersahaja, tidak mengumbar kesenangan, menabung dan investasi. Di Timur, orang Jepang menghayati “bushido”(etos para samurai) perpaduan Shintoisme dan Zen Budhism. Inilah yang
disebut oleh Jansen H. Sinamo (1999) sebagai “karakter dasar budaya kerja bangsa Jepang”.
Ada 7 prinsip dalam bushido, ialah :
(1) Gi : keputusan benar diambil dengan sikap benar berdasarkan kebenaran, jika harus mati demi keputusan itu, matilah dengan gagah, terhormat,
(2) Yu : berani, ksatria,
(3) Jin : murah hati, mencintai dan bersikap baik terhadap sesama,
(4) Re : bersikap santun, bertindak benar,
(5) Makoto : tulus setulus-tulusnya, sungguh-sesungguh-sungguhnya,
tanpa pamrih,
(6) Melyo : menjaga kehormatan martabat, kemuliaan,
(7) Chugo : mengabdi, loyal. Jelas bahwa kemajuan Jepang karena mereka komit dalam penerapan bushido, konsisten, inten dan berkualitas.


Indonesia mempunyai falsafah Pancasila, tetapi gagal menjadi etos kerja bangsa kita karena masyarakat tidak komit, tidak inten, dan tidak bersungguh-sungguh dalam menerapkan prinsip-prinsip Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Maaf cakap “Ketuhanan Yang Maha Esa” misalnya, sering ditampilkan sebagai “Keuangan yang maha kuasa”. Kemanusiaan yang adil dan beradab, diterapkan menjadi “Kekuasaan

menentukan apa yang adil dan siapa yang beradab”, “Persatuan Indonesia” prakteknya menjadi “persatuan pejabat dan konglemerat” dsb. Inilah bukti dari ramalan Ronggowarsito dan inilah zaman edan. Dampak kondisi ini etos kerja yang berkembang adalah etos kerja asal-asalan. Beberapa pernyataan berikut adalah gambaran ungkapan
yang sering muncul ke permukaan yang menggambarkan etos kerja asalasalan,
atau istilah Sinamo (1999) sebagai “etos kerja edan”, ialah :


 (1) bekerjalah sesuai keinginan penguasa, (2) bekerja sebisanya saja, (3) bekerja jangan sok suci, kerja adalah demi uang, (4) bekerja seadanya saja nggak usah ngoyo, tak lari gunung dikejar, (5) bekerja harus pinterpinter, yang penting aman, (6) bekerja santai saja mengapa harus

ngotot, (7) bekerja asal-asalan saja, wajar-wajar saja, kan gajinya kecil, (8) bekerja semau gue, kan di sini saya yang berkuasa. Ungkapan seperti tersebut di atas menggambarkan tidak adanya etos kerja yang pantas untuk dikembangkan apalagi menghadapi persaingan global. Maka dari itu wajarlah jika bangsa ini harus menerima pil pahit bencana nasional krisis yang erkepanjangan yang tak kunjung usai. Untuk mencapai kualifikasi Wirausaha Unggul maka SDM Perusahaan harus memiliki Etos Kerja Unggul.

Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1941922-etos-kerja/#ixzz1vOqvHk5a

Jumat, 20 Mei 2011

Melakukan Penelitian Pasar


Melakukan Penelitian Pasar

Dalam kegiatan rutin sehari-hari, sadar atau tidak mungkin Anda sering atau pernah terlibat dalam penelitian pasar. Misalnya, sebelum Anda membeli suatu barang, Anda keliling ke toko/pasar swalayan untuk membandingkan barang yang akan Anda beli dengan harga yang paling murah, kualitas yang paling baik dan model yang bagus. Sebagai seorang wirausaha, Anda mungkin akan memeriksa barang yang dikembalikan, untuk mengetahui alasannya mengapa barang dikembalikan pelanggan. Anda mungkin menanyakan kepada pelanggan lama, mengapa mereka berhenti membeli dari toko Anda. Anda mungkin mempelajari iklan dari koran, majalah atau televisi, untuk mengetahui bagaimana mereka menjual produk.
Dari kegiatan-kegiatan tersebut di atas, sebenarnya Anda telah melakukan peneiitian. Penelitian pasar hanya membuat proses kegiatan tersebut menjadi lebih sistematis. Melalui penelitian pasar, Anda dapat membuat suatu kerangka yang memungkinkan Anda menilai arti informasi tentang pasar secara obyektif. Langkah-langkah dalam melakukan penelitian pasar adalah sebagai berikut :
Ø Merumuskan masalah
Ø Melakukan penelitian pendahuluan
Ø Merencanakan peneliti
Ø Menggunakan sumber daya Anda sendiri atau dari luar
Ø Mengolah dan menafsirkan data
Ø Membuat kesimpulan atau keputusan
Ø Menerapkan keputusan dan mengkaji ulang keputusan Anda.

Sumber:http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1944000-melakukan-penelitian-pasar/#ixzz1vOrJfsNw

Kamis, 19 Mei 2011

Etika Bisnis Dalam Kerja Sama




Seorang wirausaha dengan segala kelebihan dan kekurangannya memerlukan kerja sama dengan pihak lain, yang pada gilirannya tercapai Win-win Solution. Kerja sama yang baik akan tercipta, bila kerjasama tersebut dilandasi nilai-nilai kerja sama yang disepakati bersama. Salah satu yang harus diperhatikan dalam masalah kerja sama usaha ini adalah
“Etika Bisnis dalam Bekerja sama”.
John L. Mariotti (1993) mengungkapkan ada 6 dasar etika bisnis
yang harus diperhatikan, yaitu:
a) Karakter, integritas, dan kejujuran
Setiap orang pada hakekatnya memiliki karakter yang berbeda antara yang satu dengan yang lain, sehingga karakter menunjukkan personality atau kepribadian seseorang yang menunjukkan kualitas yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok komunitas tertentu.
Seorang yang memiliki karakter yang baik, biasanya memiliki integritas diri yang tinggi. Jadi, yang dimaksud dengan integritas adalah sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh, sehingga dapat memancarkan kewibawaan. Oleh karena itu, seseorang yang berintegritas tinggi biasanya memiliki kejujuran lebih dari mereka
yang integritas dirinya kurang. Dengan demikian, kejujuran menunjukkan ketulusan hati dan sikap dasar yang dimiliki setiap manusia.
Sudah seharusnya seorang wirausaha memilih mitra kerja yang selain jujur juga potensial. Ia juga memiliki karakter dan integritas yang tinggi. Karakter, integritas, dan kejujuran merupakan tiga hal yang saling terkait atau merupakan satu kesatuan yang membentuk “pribadi tangguh”. Wachyu Suparyanto (2004) dalam bukunya yang
berjudul “Petunjuk Untuk Memulai Berwirausaha” mengatakan “Mitra kerja yang sempurna adalah yang mempunyai kemampuan dalam berbagai hal melebihi kemampuan kita serta jujur karena jika kemampuannya sangat tinggi, tapi tidak jujur dia akan membohongi kita atau dengan kata lain pagar makan tanaman. Di sisi lain jika mitra
kita jujur tetapi kemampuannya rendah, dia akan membuat kita lelah.”

b) Kepercayaan.
Kepercayaan adalah keyakinan atau anggapan bahwa sesuatu yang dipercaya itu benar atau nyata. Kepercayaan merupakan modal dalam berbisnis yang tidak muncul begitu saja atau dadakan, kepercayaan lahir dan dibangun dari pengalaman. Oleh karena itu, kepercayaan dimunculkan dari proses yang mungkin dalam waktu singkat, bahkan
bisa pula dalam waktu yang lama.
Seorang wirausaha yang akan berkerja sama dengan pihak atau orang lain akan memilih mitra yang ia percaya, yang telah melalui proses uji kelayakan sebagai mitra. Proses pengujian ini dapat dilakukan baik melalui pengamatan maupun membaca track record
calon mitra, baik secara langsung maupun melalui pihak lain yang dipercaya. Sudah selayaknya mitra yang diajak berkerja sama adalah orang atau pihak yang benar-benar dapat dipercaya, karena sekali salah memilih mitra maka akan sulit membangun kembali
kepercayaan. 

c) Komunikasi yang terbuka.
Dikarenakan kerja sama didasarkan atas kepentingan kedua pihak, maka dalam kerja sama usaha harus ada komunikasi yang terbuka antara keduanya. Komunikasi kedua pihak penting, mengingat dalam usaha atau bisnis memerlukan banyak informasi untuk menunjang kepentingan usaha. Pertukaran informasi dan diskusi kedua pihak mengenai usaha bersama yang dijalankan tidak mungkin terjadi jika salah satu pihak menutup diri atau kurang terbuka. Oleh karena itu, komunikasi yang terbuka merupakan salah satu dasar bermitra yang harus dibangun.

Untuk memahami masalah komunikasi ini, coba Anda ingat dan buka kembali modul 2 tentang Kiat mengembangkan Kemampuan Berkomunikasi.


d) A d i l
Telah diungkapkan pada uraian terdahulu bahwa maksud dan tujuan dari kerja sama adalah “Win-win Solution”, yang bermakna bahwa dalam kerja sama harus ada keadilan di antara kedua pihak.
Artinya bahwa bila usaha yang dijalankan mengalami kerugian, maka bukan hanya salah satu pihak saja yang harus menanggung kerugian tersebut, melainkan harus ditanggung bersama. Begitu pula sebaliknya, bila mendapatkan keuntungan, keduanya pun memperoleh keuntungan. Besarnya kerugian dan keuntungan bagian masingmasing
ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama pada awal kontrak kerja sama ditandatangani, yang biasanya didasarkan pada sumbangan masing-masing pihak dalam kerja sama tersebut. Dengan demikian, adil menunjukkan sikap tidak berat sebelah atau
menguntungkan/merugikan pihak lain. Adil memang mudah untuk diucapkan, namun berat untuk dilaksanakan oleh manusia karena hanya Allah yang maha adil.

e)Keinginan pribadi dari pihak yang bermitra.
Seorang wirausaha yang melakukan kerjasama usaha dengan pihak lain memiliki motivasi tertentu, yang dibentuk oleh keinginan-keinginan tertentu yang akan diraihnya dari kerja sama tersebut. Dapat dikatakan bahwa hampir tidak ada kerja sama yang tidak didasari keinginan-keinginan tertentu dari pihak yang bermitra tersebut.
Keinginan-keinginan dari kedua pihak dapat keinginan yang bersifat ekonomi, seperti keinginan untuk lebih maju dan berkembang, keinginan memperluas pasar dan sebagainya, maupun keinginan nonekonomi, seperti peningkatkan kemampuan dan pengalaman serta pergaulan usaha yang lebih luas. Keinginan-keinginan tersebut akan
menjadi penggerak atau motivator uantuk menjalankan kerja sama secara harmonis. 

f)Keseimbangan antara insentif dan resiko.
Sebagaimana dalam aspek “adil’ yang diuraikan sebelumnya, aspek keseimbangan antara insentif dan resiko dapat pula bermakna adil. Artinya, dalam berbisnis, pasti akan ada resiko yang harus dipikul masing-masing pihak dan ada insentif yang diterima masing-masing sebagai hasil atau dampak dari resiko yang ditanggung tersebut.
Keseimbangan antara insentif dan resiko senantiasa ada selama kerja sama usaha tersebut ada dan kedua pihak sepakat untuk tetap mempertahankannya. Bila salah satu pihak sudah tidak sanggup untuk menjalankan resiko, maka otomatis insentif berupa keuntungan pun tidak akan diraihnya dan tentu saja ini akan menganggu kontinuitas
kerja sama usaha.

Sumberhttp://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1943519-etika-bisnis-dalam-kerja-sama/#ixzz1vOrggq3Z

Rabu, 18 Mei 2011

Rahasia memulai USAHA dengan MOL (modal orang lain) Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/business-ideas-and-opportunities/1990612-rahasia-memulai-usaha-dengan-mol/#ixzz1vOsLLZrI


Buku ini didasarkan atas pengalaman pribadi penulisnya dalam mencoba usaha yang hampir tanpa modal dan akhirnya berhasil dan malah berkembang menjadi lima perusahaan yang memberikan nilai keuntungan lebih bagi penulis. Melalui buku ini penulis mencoba berbagi dengan para pembacanya dengan membongkar Rahasia memulai Usaha dengan Modal Orang Lain. Buku ini baik menjadi refensi bagi mereka yang ingin dan mengembangkan bisnis tapi modal kurang, atau mereka punya tempat dan uang tapi tidak punya ide bisnis, dan bahasa yang mudah diikuti penulis memaparkan pengalamamnya dengan menunjukan:


·         Kenapa harus wirausaha
·         Bagaimana menumbuhkan mental wirausaha, dan selalu memotivasi diri
·         Success is My Right. disisi lain penulis mengajak pembacanya untuk
·    Mengenali mindset orang suksesdan berdasarkan atas pengalamannya penulis berbagiBagaimana memulai usaha dan bagaimana mendapatkan modal dari orang lain dan menggunakannya, dengan tak lupa selalu mencoba memahami karakter dari para investor guna memudahkan dalam berkomunikasi. Diakhir bukunya penulis memberikan tip-tip untuk membuat proposal bisnis, menyusun perencanaan bisnis, cashflow projection, dan perencanaan pemasaran.


Sumber:http://id.shvoong.com/business-management/business-ideas-and-opportunities/1990612-rahasia-memulai-usaha-dengan-mol/#ixzz1vOs3u3Bf