do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Rabu, 04 Juli 2012

Pengusaha itu Fokus pada Value, Bukan Kekayaan


Dalam perjalanan bisnis saya, sedikitnya ada dua hal yang harus “diciptakan” oleh pengusaha. Pertama: laba. Ya, tidak ada gunanya berbisnis jika tidak menghasilkan laba. Kedua, value atau nilai tambah. Sederhananya: pengusaha itu harus bisa mengubah sampah menjadi sesuatu yang lebih bernilai, misalnya menjadi pupuk. Syukur bisa menjadi emas.
Banyak cara menciptakan value. Dari yang terukur seperti mengubah kain menjadi pakaian atau memperlancar distribusi barang, hingga yang tak terukur seperti memperpintar, membahagiakan orang lain, itu juga menciptakan value.
Nyaris tidak ada batas menciptakan value. Bisa saja mengubah singkong menjadi gethuk hingga menciptakan peranti lunak atau jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Menciptakan value itu batasnya langit. Maka, ruang gerak pengusaha itu amat luas. Luaaaassss.
Dengan dua hal tadi, menjadi pengusaha bukanlah tujuan jangka pendek. Ini perlu saya sampaikan karena tak sedikit yang ingin menjadi pengusaha karena ingin cepat kaya. Memang betul, menjadi pengusaha bisa saja cepat kaya. Tapi kalau tujuannya hanya cepat kaya, banyak jalannya: korupsi, jual narkoba, berjudi, merampok, atau mencuri. Tapi semua itu tidak menciptakan value. Sebaliknya, malah merusak.
Atau, kalau mau cepat kaya, jadilah rentenir. Ada value yang diciptakan oleh rentenir, yakni memberi kemudahan mendapatan pinjaman. Bahkan tanpa syarat apapun. Tapi, fokus rentenir bukan pada value, melainkan pada laba. Rentenir mematok bunga pinjaman yang sangat mencekik, dan bisa saja mematikan peminjamnya.
Bisa dibilang, ingin cepat kaya itu cara pandang jangka pendek. Sebaliknya, menjadi pengusaha itu memerlukan cara pandang jangka panjang karena menciptakan value. Kalau mau jadi pengusaha, hindari buku-buku dan seminar-seminar yang menjanjikan cepat kaya. Mungkin saja bisa. Tapi itu menjebak kita untuk terbiasa berpikir jangka pendek. Padahal cara pandang pengusaha itu jangka panjang.

Menciptakan value itu butuh proses. Proses butuh waktu, kesabaran, modal, tim, manajemen dan lain sebaiknya. Jangka panjang. Tidak ada yang instan. Bahkan mau makan mie instan saja kita harus merebusnya terlebih dulu.

Fokuslah pada menciptakan value. Ubahlah sampah jadi pupuk. Singkong jadi gethuk. Syukur-syukur, sekali lagi, bisa jadi emas. Syukur-syukur lagi jika bisa menciptakan sesuatu yang sama sekali baru.
Poskan Komentar