Kamis, 17 November 2011

Sifat Rendah Hati dan Rendah Diri


Kata Rendah Hati Merupakan Kata Penting dalam Kitab Suci


Tuhan Allah terus-menerus meminta kita agar rendah hati. Kerendahan hati bukanlah suatu kata yang populer dalam terang pergulatan yang kita semua hadapi untuk bergerak maju dalam dunia kita. Orang harus lebih unggul dan lebih baik dan memastikan bahwa orang-orang lain tahu bahwa ia lebih baik dan lebih hebat.


Namun demikian, kerendahan hati adalah baik. Yang saya maksud bukanlah bermulut manis, yang adalah kerendahan hati palsu. Kerendahan hati yang demikian sungguh merupakan suatu pelarian dari melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan. Tetapi, yang saya maksud adalah kerendahan hati yang memungkinkan kita menghadapi secara jujur siapa diri kita dan lalu melangkah maju. Apabila saya menghadapi siapa saya secara jujur, maka saya dapat menggunakan bakat talenta saya dan membantu dalam mewartakan Kerajaan Allah. Tanpa kerendahan hati, saya hidup di “negeri antah-berantah” dan tak banyak berguna bagi siapapun, termasuk diri saya sendiri.


Dalam terang pentingnya Allah menempatkan kerendahan hati, saya berhenti untuk memikirkan cara-cara bagaimana saya dapat memelihara kerendahan hati dalam hidup saya. Berikut beberapa pemikiran mengenai bagaimana kita dapat tinggal rendah hati:


1.   Menghadapi resiko menggunakan bakat dan talenta. Ketika kita mulai menggunakan talenta kita, dapat dibayangkan orang mungkin menertawakan kita. Seringkali, daripada menghadapi ejekan, kita lebih suka mengubur talenta kita. Betapa suatu kerugian bagi dunia bahwa kita tidak mempergunakan bakat-bakat kita. Dan kita juga kehilangan kesempatan untuk menjadi rendah hati.      


2.   Mengakui dosa. Ah, ini berat. Saya tidak tahu bagaimana dengan kalian, tetapi saya berharap orang-orang berpikir bahwa saya adalah St Michael dari Riverside. Dan karenanya, saya sering mengenakan banyak topeng demi menanamkan kesan pada orang. Apabila saya jujur dengan diri saya sendiri dan dengan yang lain, saya memiliki dasar kebenaran dan dasar kerendahan hati. Bagi kita umat Katolik, itulah pentingnya Sakramen Rekonsiliasi. Kita cukup rendah hati untuk mengakui keberdosaan kita dan lalu bergerak menuju hidup dan sukacita pengampunan. Kita perlu menjadi rendah hati untuk mengakui keberdosaan kita.


3.   Belajar. Sulitnya dengan sekolah dan belajar adalah bahwa kita harus mengaku kepada diri sendiri dan kepada yang lain bahwa kita tidak tahu semuanya. Kita tidak tahu. Sekarang, hal itu seolah menampar kita. Tetapi, ah, memiliki kerendahan hati untuk berusaha belajar entah melalui pelajaran, buku, tayangan televisi dan kaset, ah, itulah kunci untuk menjadi rendah hati dan bertumbuh.


4.   Memiliki keberanian untuk memuji Allah. Seringkali kita merasa sulit untuk memuji orang-orang terdekat kita. Terkadang suami dan isteri saling sulit untuk memuji satu sama lain. Saya pikir kita takut bahwa kita akan kehilangan sesuatu jika kita memuji yang lain. Di Gereja kita terus-menerus didorong untuk memuji dan mengucap syukur kepada Allah. Tetapi sebagaimana dengan kebanyakan hal yang kita lakukan secara rutin, kita dapat lupa mengapa kita melakukannya. Baiklah, memuji dan mengucap syukur kepada Allah merupakan suatu cara terbaik untuk tetap rendah hati. Kita mengakui bahwa Allah yang berkuasa dan kita tidak. Itu sungguh berarti banyak.   


Berdosakah Merasa Rendah Diri?


Merasa rendah diri tidak berdosa. Perasaan-perasaan tidak salah, baik perasaan baik maupun buruk. Kepedulian kita seharusnya lebih pada apa yang kita lakukan dengan perasaan kita. Adakah perasaan menghantar kita pada perbuatan-perbuatan baik atau buruk? Merasa rendah diri adalah salah jika kita menggunakan perasaan itu untuk membebaskan diri dari mengembangkan bakat yang Allah anugerahkan kepada kita. Selama kita mengatakan, “Aku tak dapat melakukannya sebab aku merasa rendah diri” atau “Aku takut ke sana sebab aku merasa rendah diri,” maka kita tidak bertumbuh dalam kepenuhan dengan mana Allah telah memanggil kita, yakni hidup dalam segala kelimpahan.


Kita perlu mengakui bakat talenta yang telah Allah anugerahkan kepada kita, kemudian mempergunakan bakat talenta itu untuk memuliakan-Nya. Pergulatan saya sendiri dengan perasaan rendah diri kerapkali berhubungan dengan perbandingan-perbandingan yang saya buat antara diri saya sendiri dengan orang-orang lain. Apabila saya berusaha menulis sebuah buku, saya selalu dapat menemukan orang lain yang dapat melakukannya dengan terlebih baik. Apabila saya mengambil bola tenis atau memainkan piano atau berusaha memulai suatu usaha atau belajar suatu bahasa baru - daftarnya tak akan habis-habisnya - saya selalu dapat menemukan orang lain yang dapat melakukannya dengan terlebih baik. Tertanam dalam, di benak kita gagasan untuk menjadi yang nomer satu hingga kita tak hendak beresiko memulainya sebab kita takut kita tak akan pernah menjadi yang terbaik.


Allah telah menciptakan kita masing-masing secara unik. Apapun yang kita lakukan akan merupakan sesuatu yang istimewa. Kita dapat mempergunakan perbandingan-perbandingan untuk menyempurnakan diri kita sendiri, tetapi tidak untuk menghalangi kita menggunakan bakat talenta kita. Salah satu cara paling praktis untuk mengatasi rasa rendah diri adalah menjangkau dan membangun mereka yang memiliki perasaan-perasaan negatif serupa. Apabila kita melakukan ini, hal-hal mengagumkan akan terjadi guna menyempurnakan gambaran-diri kita.     

Poskan Komentar