do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Selasa, 17 Mei 2011

Memulai Bisnis? kalau mau dengan ATM bukan TTM Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/business-ideas-and-opportunities/2156520-memulai-bisnis-kalau-mau-dengan/#ixzz1vOsc3Wy3


Perkembangan UKM belakangan ini sangat luar biasa. Dimana-mana orang bicara tentang kewirausahaan skala kecil. Membuka usaha memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun juga tidak sesulit yang dibayangkan sehingga harus ditakuti. Apalagi ada metode ATM yang sering sekali dikumandangkan motivator pada peserta seminar atau pelatihan kewirausahaan.


ATM ini jelas bukan kependekkan Anjungan Tunai Mandiri, melainkan AMATI, TIRU, MODIFIKASI. Artinya menciptakan sebuah produk atau membangun sebuah usaha tidak harus dimulai dari suatu konsep baru yang original, tapui dapat dikembangkan dengan cara mengamati, meniru dan memodifikasi dari bisnis yang sudah ada.



Meskipun kelihatan mudah, memulai bisnis dengan ATM ada susahnya juga. Proses mengamati mudah, tapi modifikasinya itu yang susah. Padahal justru di poin modifikasi inilah, seorang pebisnis dapat mengeksploitasi ide-ide dan keunikan yang dimiliki menjadi keunggulan usaha sekaligus poin diferensiasi (pembeda) dibanding pemain lainya. Jika dikaitkan dengan falsafah Wings Group tadi, kekuatanya adalah poin nambahi yang berarti menciptakan nilai tambah.



Tanpa adanya proses modifikasi, bukanya metode ATM yang dijalankan, para pelaku usaha baru justru akan terjebak menggunakan metode TTM (Tiru Tanpa Modifikasi). 



Bisnis TTM alias latah begini biasanya sangat tergantung trend sesaat saja ketika permintaan konsumen meningkat karena keingintahuan untuk mencoba produk. Seiring dengan berlalunya tren tersebut, pengusaha yang hanya ikut-ikutan meniru akan rontok satu persatu. Sdangkan mereka yang memeng mempunyai kompetensi di bidang tersebut akan terus berinovasi memodifikasi produj atau model bisnisnya sehingga tetap hidup di pasar yang menyempit atau bahkan menciptakan pasar baru.


Untungnya masih banyak pengusaha pemula yang kreatif melakukan modifikasi dalam memulai usahamya. Contohnya adalah Imucu, usaha bantal imut-lucu yang didirikan oleh seorang mantan profesional di sebuah perusahaan consumer goods besar. Tidak mau terjebak latah membuat sandal biasa, Imucu melakukan modifikasi dengan membuat aneka model sandal yang lucu-lucu sehingga menarik pembeli dan pemakai sandal. Dengan modifikasi ini, perkembangan usaha tersebaut terbilang sukses dalam jangka waktu tidak trlau lama dari sejak perdananya.
Selamat berbisnis dengan ATM
Sumber:http://id.shvoong.com/business-management/business-ideas-and-opportunities/2156520-memulai-bisnis-kalau-mau-dengan/#ixzz1vOsQ66XA

Senin, 16 Mei 2011

Manfaat sumber-sumber informasi usaha


Manfaat sumber-sumber informasi usaha

Pemanfaatan teknologi informasi, akan mengarahkan perusahaan pada cara kerja perusahaan, perluasan kompetisi, pemasaran, penjualan, distribusi, promosi, dan lain-lainnya. Adanya teknologi informasi akan menyebabkan orang-orang dengan cepat mengetahui berita dan dengan cepat pula dapat mengirim berita. Pemakaian teknologi informasi banyak menimbulkan perubahan pada berbagai segi kegiatan dalam perusahaan. Oleh karena itu, dalam rangka memajukan dan membesarkan usaha atau
bisnis, peran teknologi informasi harus dioptimalkan penggunaannya.
? Informasi semakin sedikit yang relevan. Orang-orang politik bilang
“informasi adalah kekuasaan”. Sementara orang-orang bisnis bilang
“untuk mengetahui masa depan bisnis. Untuk itu kuasailah dan cari
sebanyak-banyaknya informasi.

? Keberhasilan wirausaha dalam mengelola informasi, bukan terletak pada banyaknya informasi yang ia miliki, melainkan pada relevansinya. Dengan adanya sumber-sumber informasi, maka para Wirausaha akan mengetahui bahwa informasi itu sangat penting untuk bahan masukan bagi pengambilan suatu keputusan dalam bisnis. Zaman
sekarang dikenal abad informasi, yang mana kemampuan untuk mendapatkan dan menggunakan sumber informasi merupakan aktiva yang terbesar. Orang-orang politik bilang: “Siapa yang memiliki informasi paling banyak, dialah yang paling berkuasa”. Sementara orang-orang bisnis mengatakan:”Untuk dapat mengelola bisnis dengan baik, pasarkan sesuatu untuk masa depan; untuk mengetahui masa depan, kuasailah

sebanyak-banyaknya informasi”


Dengan memanfaatkan sumber-sumber informasi, para Wirausaha
akan melaksanakan perubahan atau perbaikan hal-hal berikut.
a. Perluasan kompetisi bisnis.
b. Pembuatan produk
c. Pemasaran dan penjualan produk.
d. Ketenagakerjaan.
e. Cara mengelola bisnis.
f. Memilih produk.

Dari penjelasan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa dengan adanya sumber-sumber informasi, maka para Wirausaha akan dapat:
a. Memilih dan membuat produk dengan lebih cepat dan lebih murah.
b. Memilih dan membuat produk yang bermutu laku dijual, dan harga bersaing.
c. Memilih dan menentukan wilayah pemasaran yang menguntungkan.
d. Memilih dan membuat desain baru atau kombinasi.
e. Memilih dan membuat produk yang lebih baik dengan harga relative murah.



Sumber:http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1943999-manfaat-sumber-sumber-informasi-usaha/#ixzz1vOshBGw1

Minggu, 15 Mei 2011

Promosi




Agar barang yang kita produksi cepat dikenal, diketahui, dibutuhkan dan diminta oleh konsumen, maka seorang pengusaha harus segera melakukan usaha-usaha sebagai berikut. 
(1) Informasikan barang dan jasa yang dihasilkan itu kepada konsumen.
(2) Bujuk konsumen agar mau membeli barang dan jasa yang dihasilkan.
(3) Pengaruhi konsumen agar membeli barang dan jasa yang kita hasilkan.
Kegiatan-kegiatan di atas dapat dilakukan dengan periklanan dan promosi. Dengan demikian, promosi merupakan cara mengkomunikasikan barang dan jasa yang akan ditawarkan supaya konsumen mengenal dan membeli. Adapun fungsi promosi adalah:
(1) Menginformasikan;
(2) Membujuk;
(3) Mengingatkan; dan
(4) Mempengaruhi.
Melalui promosi, barang dan jasa mudah dikenal oleh konsumen.



Ada beberapa jenis promosi:
(1) Iklan, bisanya dilakukan melalui media cetak (surat kabar, majalah, buletin) dan media elektronika seperti TV, Radio, Internet dan lain sebagainya.
(2) Promosi penjualan, biasanya dilakukan melalui pameran dagang, kuis berhadiah, hiburan, dan kegiatan atau even lainya. 
(3) Wiraniaga, yaitu dengan mempromosikan langsung barang ke konsumen sasaran dengan membawa produk contoh.

(4) Pemasaran langsung, yaitu dengan langsung menghubungi konsumen.

(5) Humas, yaitu mempublikasikan barang-barang dan jasa melalui bilboard, pamlet, dan lain sebagainya. 



Barang dan jasa yang telah diperkenalkan dengan promosi tersebut perlu dipertahankan agar konsumen tetap membutuhkan. Oleh sebab itu, tugas wiraniaga adalah:
a. Mempertahankan pangsa pasar dan volume penjualan
b. Mengembangkan pangsa pasar dan volume penjualan.


Untuk mempertahankan dan mengembangkan pangsa pasar volume penjualan tentu saja seorang wirausaha perlu:

(a) Menghargai dan memperhatikan keinginan dan kebutuhan konsumen.
(b) Menganalisis kelebihan dan kekurangan kemampuan pemasaran yang kita miliki maupun yang dimiliki pesaing.
(c) Mencari strategi lain untuk memasuki dan menguasai pangsa pasar.



Wirausaha dapat memilih alat promosi yang tersedia, tergantung pada kemapuan dana
dan jenis produk yang ditawarkan.



Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1947336-promosi/#ixzz1vOtAQkq3

Sabtu, 14 Mei 2011

Kerja sama yang Efektif dan Efisien


Pedoman Kerja sama yang Efektif dan Efisien

Uraian di atas diketahui bahwa tujuan kerjasama secara mikro, adalah untuk:
 a) Meningkatkan pendapatan dan skala usaha pihak yang berkerja sama dan 
b) meningkatkan perolehan nilai tambah bagi pihak yang berkerja sama. Tujuan ini tidak akan tercapai, bila kerja sama yang terjalin tidak berjalan secara efektif dan efisien. Oleh karena itu diperlukan pedoman bagi setiap wirausaha atau siapa pun yang akan melakukan kerja sama.
H. Kusnadi (2003) dalam bukunya “Masalah, Kerja sama, Konflik, dan Kinerja” menguraikan bahwa dalam membangun kerja sama yang efektif dan efisien terdapat beberapa pedoman yang harus dipatuhi, yaitu: 
a) Kesadaran diri. Kedua pihak yang bermitra harus menyadari bahwa kerja sama yang dibangun tidak akan mencapai tujuan bila hanya dijalankan oleh seseorang, melainkan harus disadari bahwa kerja sama tersebut merupakan tanggung jawab bersama untuk mencapai tujuan bersama.
1) Memahami konsep persamaan dan perbedaan manusia.
Harus disadari bahwa setiap manusia memiliki perbedaan yang ditandai dari kekurangan, kelebihan, dan potensi masing-masing. Perbedaan inilah yang justru menjadi pendorong untuk melakukan kerja sama.

2) Adanya tujuan dan target yang jelas.
Hal ini penting dan ditetapkan secara jelas serta disepakati secara bersama, sehingga akan mempermudah untuk mencapainya.

3) Adanya ilmu dan teknologi yang relevan
Ilmu dan teknologi merupakan faktor yang membantu proses kerja sama berjalan secara baik dan berhasil. Oleh karena itu tanpa kedua aspek tersebut kerja sama usaha belum tentu akan mendatangkan kesuksesan. Hal ini mengingat kemajuan zaman yang ditandai dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang demikian cepat, sehingga menuntut para wirausaha yang untuk memilki dan menyesuaikan diri dengan ilmu dan teknologi yang
relevan dengan usahanya.

4) Serius, santai, dan tidak tegang.
Ketiga hal ini akan menjadikan kerja sama yang dibina menjadi sesuatu yang menyenangkan. Dengan kondisi demikian, maka kerjasama diharapkan dapat dijalankan dengan baik dan berhasil karena dapat melahirkan cara berpikir yang jernih dan rasional.
5) Komunikasi yang baik.
Hal ini telah diuraikan pada salah satu point dari etika bisnis dalam kerjasama. Yang pada intinya, komunikasi yang baik akan menciptakan kondisi kerja yang kondusif untuk tercapainya tujuan atau target kerjasama.

6) Dukungan yang menyeluruh.
Seorang Wirausaha tidak berdiri sendiri, ia dibantu oleh pihak lain khususnya yang secara struktural memiliki ikatan dalam organisasi usaha yang dipimpinnya. Oleh karena itu, kerja sama usaha yang dijalan harus melibatkan pula seluruh pihak yang ada

atau dengan perkataan lain kerja sama tersebut harus mendapat dukungan secara menyeluruh. Dengan dukungan tersebut, maka target yang ingin dicapai dari kerjasama dapat dengan mudah diraih.


7) Adanya perhatian.
Perhatian di sini dalam konteks yang luas, yaitu baik dari sesama kalangan usaha, pihak keluarga maupun pemerintah dan pihak terkait. Kerja sama akan tercipta dengan baik bila ada perhatian dari semua pihak.

8) Adanya kewajaran.
Kerja sama tidak dapat dipaksakan dan menyeluruh karena tidak semua hal memerlukan kerja sama. Dalam kerja sama usaha,
masing-masing pihak memberi kontribusi yang wajar sesuai dengan
potensi dan kapasitas masing-masing pihak.

9) Adanya keterbukaan.
Hal ini hampir mirip dengan masalah komunikasi yang baik.
Keterbukaan merupakan kunci dari komunikasi yang baik, karena
tanpa keterbukaan komunikasi menjadi terhambat. Oleh karena itu,
agar kerja sama dapat berjalan dengan baik diperlukan
keterbukaan dari semua pihak.

10) Dapat meramalkan masa depan.
Kerja sama bukan hanya untuk kepentingan saat ini dan sesaat, melainkan untuk jangka waktu panjang dan jauh ke depan. Kerja sama yang baik diperlukan agar dapat meramalkan kondisi usaha yang akan dihadapi pada masa depan, seperti dapat mengetahui keadaan pesaing, kondisi ekonomi, serta kemungkinan perluasan pasar. 
11) Adanya kompetensi.

Kerja sama selalu diarahkan untuk mencapai sasaran tertentu. Kerja sama tidak dilaksanakan tanpa arah, karena tanpa arah, atau kompetensi tertentu, maka kerja sama akan menjadi sia-sia. 

12) Adanya keeratan semua pihak yang terlibat dalam kerja sama.
Semua pihak yang terlibat dalam ikatan kerja sama usaha merupakan satu tim kerja (team work) yang harus berkerja secara sinergi atau saling menunjang dan melengkapi sebagai satu kesatuan. Hal ini perlu karena tidak mungkin kerja sama hanya dijalankan oleh salah satu pihak atau seorang diri.



Sumber:http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1943511-kerja-sama-yang-efektif-dan/#ixzz1vOtW4mWP

Jumat, 13 Mei 2011

Membuat keputusan (decision making)




Membuat keputusan (decion making) adalah suatu proses memilih alternatif tertentu dari beberapa alternatif yang ada. Jadi, membuat keputusan adalah suatu proses memilih antara berbagai macam cara untuk melaksanakan pekerjaan. Semakin berpengalaman dalam pengambilan keputusan, semakin besar pula kepercayaan diri yang akan
semakin berorientasi pula pada suatu tindakan. Jika seorang Wirausaha mampu mengambil suatu keputusan dalam batas-batas waktu yang masuk akal, mungkin ia mampu mengambil suatu keputusan yang menguntungkan sehingga sewaktu-waktu muncul peluang-peluang bisnis. Di sini seorang Wirausaha harus cepat mengambil suatu keputusan agar dapat menggunakan kesempatan sebaik-baiknya. 

Wirausaha yang ingin maju dalam bisnisnya, harus dapat memutar akal dengan mengandalkan intuisi, ide-ide yang penuh kreatif dan inovatif. Mereka juga harus memandang persoalan dalam konteks yang lebih luas, sambil mengingat bahwa keputusan-keputusan utama akan mempunyai akibat-akibat jangka panjang atas operasi bisnisnya. Seorang wirausaha
diharapkan lebih aktif dalam dan lebih kreatif, karena ia harus membuat keputusan (decision making) tanpa bantuan data-data kuantitatif (data berbentuk angka-angka) atau dukungan staf yang berpengalaman. 
Keberhasilan seorang Wirausaha di dalam bisnis, tergantung pada kemampuan membuat keputusan yang meningkatkan kemampulabaan bisnisnya pada masa yang akan datang. Kemampuan membuat keputusan dapat diperoleh dari pengalamannya selama bertahun-tahun. Akan tetapi, dalam prakteknya pasti ada saja kesalahan-kesalahan, yang harus cepat disadari dan diambil tindakan pembetulannya.

Dalam perusahaan besar, biasanya pembuatan dan pengambilan keputusan itu didasarkan atas dasar data-data dan dokumentasi perusahaan yang terdapat dalam survei, laporan usaha, dan sebagainya.
Informasi ini biasanya telah dihimpun dengan cara yang sudah ditentukan, sesuai dengan teknik-teknik pemecahan masalah. Adapun pedoman untuk membuat keputusan, kuncinya adalah sebagai berikut. 

a. Terlebih dahulu, tentukan fakta-fakta dari persoalan yang sudah
dikenal.
b. Identifikasi, bidang manakah dari persoalan-persoalan yang tidak berdasarkan fakta-fakta. Di bidang yang dikenal inilah, seorang Wirausaha harus menggunakan logika, penalaran, dan institusinya untuk membuat keputusan.

c. Keberanian dan antusiasme sangat diperlukan dalam menerapkan sebuah keputusan

d. Bersedia untuk mengambil tindakan agresif dalam menerapkan sebuah keputusan.
e. Ambillah risiko yang sedang-sedang saja jika terdapat ketidakpastian yang besar
f. Dalam keadaan tertentu, mungkin lebih baik untuk meneruskan sesuatu yang telah berhasil pada masa lampau.
g. Jauhilah keputusan-keputusan yang akan mengubah secara drastic susunan organisasi yang sekarang
h. Keputusan perlu diuji cobakan dahulu.

Seorang Wirausaha harus memulai menerapkan keputusan, semua keragu-raguan dan ketidakpastian haruslah dibuang jauh-jauh. Jika Anda dihadapkan pada alternatif harus memilih, maka buatlah pertimbanganpertimbangan yang matang. Kumpulkan berbagai informasi dan boleh meminta pendapat orang lain. Setelah itu, ambil keputusan dan jangan ragu-ragu. Dengan berbagai alternatif yang ada dalam pikiran, para Wirausaha akan dapat mengambil keputusan yang terbaik. Banyak factor yang dapat mempengaruhi pembuatan keputusan (decision making), diantaranya motivasi, persepsi, dan proses belajar. Dalam proses pembuatan keputusan, kenyatannya ada Wirausaha yang mampu mengambil keputusan berdasarkan pengalaman, dan ada pula Wirausaha yang berperilaku membuat keputusan secara otomatis. 

Jika keputusan diambil berdasarkan pada pengalaman masa lalu, hendaknnya tergantung juga pada tempat, waktu, pendidikan Wirausaha, dan sebagainya.
Ø Seorang Wirausaha yang kreatif adalah yang pandai mengambil keputusan-keputusan yang tepat dalam bisnisnya.  
Ø Seorang Wirausaha suksesnya tergantung pada kemampuan mengambil keputusan yang meningkatkan kemampulabaan bisnis pada masa mendatang.
Ø Seorang wirausaha yang ingin maju sangat tergantung pada
Ø ekspentasi masa depan dan keberlanjutan bisnisnya



Sumber:http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1944001-membuat-keputusan-decision-making/#ixzz1vOu72yd1

Kamis, 12 Mei 2011

Berani Menghadapi Risiko




Richard Cantillon, orang pertama yang menggunakan istilah entrepreneur di awal abad ke-18, mengatakan bahwa wirausaha adalah seseorang yang menanggung risiko. Wirausaha dalam mengambil tindakan hendaknya tidak didasari oleh spekulasi, melainkan perhitungan yang matang. Ia berani mengambil risiko terhadap pekerjaannya karena sudah diperhitungkan. Oleh sebab itu, wirausaha selalu berani mengambil risiko yang moderat, artinya risiko yang diambil tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Keberanian menghadapi risiko yang didukung komitmen yang kuat, mendorong wirausaha untuk terus berjuang mencari peluang sampai memperoleh hasil. Hasil-hasil itu harus nyata/jelas dan objektif, dan merupakan umpan balik (feedback) bagi kelancaran  kegiatannya (Suryana, 2003 : 14-15).

Kemauan dan kemampuan untuk mengambil risiko merupakan salah satu nilai utama dalam kewirausahaan. Wirausaha yang tidak mau mengambil risiko akan sukar memulai atau berinisiatif. Menurut Angelita S. Bajaro, “seorang wirausaha yang berani menanggung risiko adalah orang yang selalu ingin jadi pemenang dan memenangkan dengan cara yang baik” (Yuyun Wirasasmita, dalam Suryana, 2003 : 21). Wirausaha adalah orang yang lebih menyukai usaha-usaha yang lebih menantang untuk lebih mencapai kesuksesan atau kegagalan daripada usaha yang kurang menantang. Oleh sebab itu, wirausaha kurang menyukai risiko yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Keberanian untuk menanggung risiko yang menjadi nilai kewirausahaan adalah pengambilan risiko yang penuh dengan perhitungan dan realistis. Kepuasan yang besar diperoleh apabila


berhasil dalam melaksanakan tugas-tugasnya secara realistis. Wirausaha menghindari situasi risiko yang rendah karena tidak ada tantangan, dan menjauhi situasi risiko yang tinggi karena ingin berhasil. Pilihan terhadap risiko ini sangat tergantung pada :

1.daya tarik setiap alternatif
2. kesediaan untuk rugi
3. kemungkinan relatif untuk sukses atau gagal



Untuk bisa memilih, sangat ditentukan oleh kemampuan wirausaha
untuk mengambil risiko antara lain :
1. keyakinan pada diri sendiri
2. kesediaan untuk menggunakan kemampuan dalam mencari peluang dan kemungkinan memperoleh keuntungan.
3. kemampuan untuk menilai situasi risiko secara realistis.

Pengambilan risiko berkaitan dengan berkaitan dengan kepercayaan diri sendiri. Artinya, semakin besar keyakinan seseorang pada kemampuan sendiri, maka semakin besar keyakinan orang tersebut akan kesanggupan mempengaruhi hasil dan keputusan, dan semakin besar pula kesediaan seseorang untuk mencoba apa yang menurut orang
lain sebagai risiko. Oleh karena itu, pengambil risiko ditemukan pada orang-orang yang inovatif dan kreatif yang merupakan bagian terpenting dari perilaku kewirausahaan (Suryana, 2003 : 22)



Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1941915-berani-menghadapi-resiko/#ixzz1vOuVrqpY

Rabu, 11 Mei 2011

Faktor dan pertimbangan membuat keputusan




Dalam mengelola bisnisnya, para worausaha harus membuat keputusan akhir dengan memperhatikan faktor-faktor dan pertimbangan berikut.
a. Ukuran dan kompleksitas bisnis.
b. Harapan mengenai pertumbuhan dan perkembangan bisnis
c. Fasilitas jasa yang tersedia di daerah untuk berbagai instalasi sistem.
d. Kualitas dan kuantitas dari staf yang tersedia untuk pelbagai jenis sistem dan fasilitas latihan yang tersedia
e. Jumlah transaksi yang harus diproses
f. Faktor-faktor keuangan.

Proses manajemen bisnis seorang Wirausaha, akan meliputi pengembangan ide dan strategi, pengelolaan orang, serta pengelolaan sistem untuk menjamin pertumbuhan usaha atau bisnis. Sukses usaha atau bisnis, tergantung pada pemanfaatan sumber daya uang, pelanggan, harta fisik, sumber daya manusia, dan waktu yang dipergunakan.
Selanjutnya, kepribadian dan sikap seorang Wirausaha dalam melaksanakan keputusan dapat mempengaruhi hasil akhirnya. Sekali sebuah keputusan telah diambil, hendaknya jangan ragu-ragu didalam menerapkannya.
Para karyawan perusahaan akan menghormati seorang Wirausaha jika dia menerapkan orientasi kepada tindakan, dan mereka akan membela keputusan yang diambil. Seorang Wirausaha di dalam kegiatan bisnisnya, harus mengetahui bagaimana informasi keuangan dan non keuangan dilaporkan kepada pembuat keputusan. Seorang Wirausaha akan mempunyai pengendalian atas adanya keputusan orang lain jika ia percaya pada prinsip bahwa : “kebanyakan keputusan dapat diubah”. 


Jika yang terkena pengaruh keputusan itu para karyawan, maka seorang Wirausaha haruslah arif bijaksana dan memberitahukan bahwa keputusan itu dapat diubah sekiranya hasil-hasil bisnisnya tidak dapat dicapai. Dengan membuat keputusan dan melaksanakannya, seorang Wirausaha harus dapat memonitornya. Memonitor secara efektif dan efisien mengenai penerapan sebuah keputusan, akan mengungkapkan

kelemahan-kelemahan di dalam bisnisnya.



Sumber:http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1943992-faktor-dan-pertimbangan-membuat-keputusan/#ixzz1vOvKEI7p