Kamis, 15 Desember 2011

KEADILAN DAN KEJUJURAN SEORANG PEMIMPIN


Dalam kehidupan manusia, setiap orang dipandang sebagai pemimpin, setidak-tidaknya untuk dirinya sendiri. Selanjutnya, setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Sehingga, dua posisi sekaligus yang disandang oleh setiap manusia, yaitu sebagai hamba Allah dan juga sebagai khalifah. 
Dalam hal penghambaan, manusia hanya dibolehkan terhadap Allah, selainnya tidak. Menghamba selain kepada Allah tidak dibenarkan. Terhadap sesama, hubungan antar manusia hanya sebatas sebagai pemimpin dan pengikut. Pihak-pihak yang memiliki kelebihan melakukan peran sebagai pemimpin, sedangkan lainnya sebagai pengikut. 
Dalam kelompok apapun, agar kehidupan menjadi teratur harus ada sebagian yang berperan sebagai pemimpin dan sebagian lainnya menjadi pengikut. Sekelompok orang yang menempati wilayah tertentu, atau bidang-bidang tertentu, maka harus ada yang ditunjuk sebagai pemimpinnya. Mereka ini bertugas mengatur, melindungi, dan bahkan juga memberi ketauladanan. Dalam hal melakukan peran itu, pemimpin dituntut setidak-tidaknya dua sifat yaitu adil dan jujur. 
Kelompok masyarakat manapun biasanya akan meraih ketenangan jika peran-peran kepemimpinan dijalankan semestinya, yakni berhasil menegakkan keadilan dan kejujuran. Jika dua hal tersebut berhasil ditegakkan, maka para pengikut, dengan sendirinya akan mengikuti atau loyal teradap kepemimpinan itu. Sebaliknya, jika dilanggar, maka loyalitas itu tidak akan terjadi. Orang kemudian menjadi saling berebut dan saling menjatuhkan. 
Menegakkan kejujuran dan keadilan ternyata bukan perkara mudah. Apalagi, dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia ini. Jika kita perhatikan secara saksama, berbagai persoalan yang selalu muncul, sebenarnya bersumber dari dua hal itu, yakni kejujuran dan keadilan yang belum berhasil ditegakkan. Tidak terkecuali persoalan yang berkepanjangan akhir-akhir ini, hingga membuat banyak pihak merasa jenuh, seperti persoalan konflik antara KPK, Kepolisian dan kejaksaan, hinga persoalan Bank Century sebenarnya bersumber dari dua hal tersebut. 
Membaca kenyataan itu, ternyata mencari pemimpin yang jujur dan adil bukan main sulitnya. Cerdas atau pintar, ternyata belum cukup dijadikan bekal sebagai seorang pemimpin. Sekalipun cerdas dan pintar itu perlu dan penting tetapi jika tidak disempurnakan dengan sifat jujur dan adil, maka kecerdasan itu akan menjadi sumber persoalan. Celakanya akhir-akhir ini, orang memilih pemimpin bukan dari ukuran kejujuran dan keadilannya, tetapi dari siapa yang berani membayar. Inilah sesungguhnya sumber kecelakaan yang selama ini terjadi di negeri ini. 
Masyarakat sesungguhnya banyak tergantung dari para pemimpinnya. Bahkan banyak orang menyebut, bahwa keadaan masyarakat di mana dan kapan pun, sesungguhnya merupakan cermin dari kualitas siapa yang memimpin. Sedemikian strategis posisi pemimpin, namun sayangnya tatkala orang memilih pemimpin, seringkali orang hanya memilih berdasar pada ukuran ukuran sederhana, misalnya hanya memilih orang yang menguntungkan diri dan sekelompoknya. Sifat adil dan jujur yang sedemikian strategis sering kali terlupakan. Akibatnya, para pemimpin yang dipilih itu, akan justru menjadi sumber persoalan.
Poskan Komentar