do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Kamis, 20 Februari 2014

KESINONIMAN KATA DALAM BAHASA MUNA DIALEK GULAMAS



KESINONIMAN KATA DALAM BAHASA MUNA DIALEK GULAMAS #


NAMA                           : ARIFIN BAGEA
NOMOR STAMBUK    :A1D1 07 018
PROGRAM STUDI       :PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN  DAERAH
JUDUL PENELITIAN   :KESINONIMAN KATA DALAM BAHASA MUNA DIALEK GULAMAS
DOSEN PEMBIMBING:Drs. La Yani Konisi, M.Hum.
                                         Dr. H. Hilaluddin Hanafi, M.Pd.
Tahun skripsi                   :2011
ABSTRAK
    Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah bentuk kesinoniman kata dalam bahasa Muna dialek Gulamas. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk kesinoniman kata dalam bahasa Muna dialek Gulamas. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan penguasaan bahasa Muna dialek Gulamas, sehingga pengguna bahsa Mawasangka lebih terampil dalam berbahasa seperti diksi yang tepat diantara kata-kata yang bersinonim. Sebagai bahan informasi bagi masyarakat Muna khususnya yang berbahasa ibu bahasa Muna dialek Gulamas, sebagai sumbangan pemikiran dalam pembinaan dan pengembangan bahsa Muna dialek gulamas. Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah kesinoniman antara kata yang berkategori verba, kesinoniman kata yang berkategori nomina, dan kesinoniman yang berkategorikanadjektiva.
    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriktif kualitatif. Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah jenis penelitian lapangan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data lisan yang berupa tuturan kata atau frasa yang bersumber dari informan yang berkaitan dengan masalah peneltian. Sumber data dalam penelitian ini adalah informan penutur asli bahasa Muna dialek gulamas yang berdomidili di Kecamatan Mawasangka Tengah Kabupaten Buton. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik rekam dan teknik catat. Setelah data terkumpul melalui pengumpulan data, maka data tersebut dianalisis dengan menggunakan pendekatan semantik.
    Hasil penel;itian menujjukan hal-hal sebagai berikut. Kesinoniman Verba yang menyatakan makna ‘tanam’ adalah ladu, tano,hoo ‘kencing’ totolea, ooha, ‘makan’ fomaa, febaku, poantoki, kantolo ‘pergi’ lao, kala ‘naik’ ende, foni, kamponea ‘tarik’ hinta, tonda ‘belah’ kela, weta, solo ‘pukul’ bebe, hambi, wandu, wangku ‘cuci’ fewaniu, tofa ‘beli’ oli, balanda, ‘memasak’ metoofi, mefounda, medada, ‘bicara’ pogau, bisaha, ‘pikul’ suu, tongku, ‘tutup’ onto, songko, dapo, ‘potong’ keba, tumpo, dodo, ‘ikat’ boke, tapu, ‘buka’ lengka, wula, ‘tiup’ buso, utu, punto. Kesinoniman nomina yang menyatakan makna ‘wanita/perempuan’ hobine, kalambe, kabua-bua, ‘korek api’ colo, katikia, ‘rumah’ lambu, mbohu, ‘kalung’ kalo, hante, ‘ dayung’ bose, dao, ‘buah labu’ labu, wule. Kesinoniman adjektiva yang menyatakan makna ‘malu’ noambano, kailili, ‘panas’ nosodo, nopana ‘lambat’ noluntu, nemau, ‘pendek’ nepanda, neubu, ‘pandai’ nopande, nomakida, ‘longgar’ luo, loba, ‘cepat’ magala, nehimba, ‘marah’ amaha, pamuhu.















1.    PENDAHULUAN
1.1    latar belakang
Dalam kedudukanya sebagai bahasa daerah,bahasa Muna dialek gulamas merupakan salah satu bahasa daerah yang terdapatdi Sulawesi Tenggara yang tetap hidup dan dipelihara secara turun temurun oleh masyarakat pendukungnya.
Bahasa Muna dialek Gulamas adalah salah satu bahasa daerah yang terdapat di Kecamatan Mawasangka Tengah Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi Tenggara.Jumlah penuturnya tersebar di 9desa.
Dalam penelitian ini, dititik beratkan pada bahsa Muna dialek Gulamas oleh penuturnya masih sangat kuat dan berperan dalam berbagai perwujudan berbagai bentuk kebudayaan daerah, seperti upacara adat maupun kesenian. Dukungan terhadap bahasa Muna dialek Gulamas oleh penuturnya sampai sekarang masih sangat kuat dan tetap berperan dalam komunikasi social kemasyarakatan. Pada pengajaran tingkat SD, khususnya pada kelas pemula dialek gulamas bahasa Muna dialek Gulamas bahasa Muna digunakan sebagai bahasa pengantar agar murid-murid yang memiliki bahasa Muna dialek gulamas memahami kegiatan yang harus dilakukan.
Penelittian keseninoniman kata dalam bahasa Muna dialek Gulamas perlu dilakukan dengan maksud untuk meningkatkan untuk meninggkatkan pengetahuan dan penguasaan kosa kata bahasa Muna, sehingga mereka lebih terampil berbahasa Muna, dengan diksi yang tepatdiantara kata-kata yang bersinonim.
Masalah sinonim termasuk didalam bidang kajian semantic yang yang sendirinya juga merupakan lapangan yang juga merupakan lapangan yang masih terbuka bagi penelitian kebahasaan. Disamping itu, khusus untuk bahasa muna dialek Gulamas sepanjang pengetahuan penulis,penelitian dibidang semantik khususnya kesinoniman dalam bahasa Muna dialek Gulamas belum banyak dilakukan. Penelitian tentang kesisnoniman kata yang sudah dilakukan oleh peneliti sebelumnya yakni harus dilakukan oleh peneliti sebelumnya yakni dilakukan oleh Nertin (1996) yang membahas “Kesinoniman Kata dalam Bahasa Tolaki dialek Konawe”, Seham (1999) yang membahas “Kesinoniman Kata dalam Bahasa Kepulauan Tukang Besi dialek Wanci”, dan Haryawati (2002) yang membahas “Kesinoniman Kata dalam Bahasa Kulisusu”.
Penelitian terhadap bahasa Muna dialek Gulamas pernah dilakukan antara lain ”Struktur Bahasa Gu Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara” oleh lagoasi,etal (1983), “Sistem Morfologi dan Sintaksis Bahasa Muna dialek Gu, oleh Sailan (1990) dengan judul “Morfologi dan Sintaksis Bahasa Mawasangka”, serta Mursalin, et al. (1992) dengan judul “Struktur Bahasa Mawasangka”.
Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik ingin mengkaji kesinoniman kata dalam bahasa Muna dialek Gulamas, karena setiap bahasa khususnya bahasa daerah yang ada di Sulawesi Tenggara memilioki kesinoniman yang berbeda-beda. Demikian halnya dengan bahasa Muna dialek Gulamas dapat digunakan dengan pilihan kata yang sesuai dengan konteks kalimat.


2.    KAJIAN PUSTAKA
semantik adalah ilmu makna, membicarakan makna, bagaimana mula adanya makna sesuatu (misalnya, sejarah kata, dalam arti bagaimana arti kata itu muncul), bagaimana perkembanganya dan mengapa terjadi perubahan makna dalam sejarah bahasa.
Semantik adalah telaah makna. Semantik menelaah lambing lambang atau tanda tanda yang menyatakan makna hubungan makna yang satu dengan makna yang lain, dan pengaruhnya terhadap manusia dan masyarakat. Oleh karena itu, semantic mencakup makna-makna kata, perkembangan dan perubahanya.
Dalam setiap bahasa, termasuk bahasa Indonesia, seringkali kita temui adanya hubungan kemaknaan atau realsi semantik antara sebuah kata atau suatu bahasa lainya dengan kata atau satuan bahasa lainya. Hubungan atau relasi makna ini menyangkut hal kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna (antonim), kegandaan makna (polisemi dan ambiguitas), ketercakupan makna (hiponimi), kelebihan makna (redudansi), dan sebagainya. Namun dalam penelitian ini hanya akan membahas tentang kesamaan makna atau sinonim.
Pateda (2001) menyatakan bahwa untuk mendefinisikan sinonim, ada tiga batasan yang dapat dikemukakan yaitu: (1) kata-kata dengan acuan ekstra linguistik yang sama, misalnya kata mati dan mampus ; (2) kata yang mengandung makna yang sama misalnya kata memberitahukan dan kata menyampaikan; dan (3) kata-kata yang disubtitusikan dalam konteks yang sama, misalnya “kami berusaha agar pembagunan jalan terus”, “kami berupaya agar pembagunan berjalan terus”. Kata berupaya bersinonim dengan berusaha.
Berdasarkan contoh-contoh kata tersebut, apabila direalisasikan dalam bahasa Muna dialek Gulamas yaitu (1) kata-kata dengan acuan ekstra linguistik yang sama, misalnya kata mate ‘mati’ dan tatasi ‘mampus’; (2) kata yang mengandung makna yang sama, misalnya kata  fomaa ‘makan’dan kata febaku ‘makan’; dan (3) kata-kata yang dapat di distribusikan dalam konteks yang sama, misalnya lao ‘pergi’ dan kata kala ‘pergi’.
Secara semantik, Verhar (1986 :32) mengatakan bahwa sinonim adalah ungkapan (biasanya berupa sebuah kata tetapi dapat pula frasa atau malah kalimat) yang kurang lebih sama maknaya dengan suatu ungkapan lain. Contoh: (1) dapat dan bisa, (2) ibu bapak dan orang tua (3) Ege melihat Ego dan Ego dilihat Ege.
Dari beberapa teori diatas, peneliti lebih terpengaruh pada teorinya Verhar yang menyatakan bahwa kesinoniman merupakan sebuah ungkapan (biasa berupa kata, frase, atau kalimat) yang kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain.
Berhubungan dengan pernyataaan di atas, adanya penekanan tentang sinonim dikatakan “kurang lebih” sama maknaya. Pengertian ini sangat beralasan karena kesamaan makna tidak beerlaku secara sempurna. Artinya meskipun maknaya sama, tetapi memperlihatkan perbedaan-perbedaan, apalagi jika berhubungan dengan pemakaian-pemakaian kata-kata tersebut.
Hal yang perlu dijelaskan dari defenisi diatas ialah pernyataan bahwa kesinoniman dapat terjadi pada kata, frasa , klausa, atau bahkan pada kalimat. Penelitian ini mengkaji kesinoniman kata secara leksikal menurut makna leksikalnya, dan tidak membicarakan kesinoniman  pada frasa, klausa atau kalimat secara gramatikal.
Dengan pengertian tersebut, pasangan-pasangan sinonim dalam bahasa Muna dialek Gulamas dikumpulkan seebagai data penelitian. Misalnya pada kata “fuma” dan “kantolo” artinya ‘makan’ tidak bisa menggantikan. Ini merupakan bukti yang jelas bahwa kata-kata bersinonim itu sebagian besar tidak memiliki makna yang persis sama.
Namun perlu diingat bahwa menurut Pateda (2001 : 84)menyatakan bahwa memang sulit memerikan batasan tentang makna. Tiap linguis memberikan batasan makna sesuai dengan bidang ilmu yang merupakan keahlianya. Itu tidak mengherankan jika kata dan kalimat yang mengandung makna ialah milik pemakai bahasa. Oleh karena itu, dikatakan selanjutnya bahwa pemakai bahasa bersifat dinamis yang kadang-kadang memperluas makna suatu kata ketika ia berkomunikasi sehingga makna kata dapat saja berubah.
Kesulitan memberi batasan seperti yang dinyatakan diatas, tidak menutup kemungkinan bahwa suatu analisis yang diharapkan dalam sustu data dengan hasil yang memuaskan tetap dilaksanakan. Masalah peneliti yang menjadi garapan dalam penelitian adalah masalah makna kata. Komponen makna dalam setiap pasangansinonim dikembangkan secara terbuka. Artinya komponen makna itu dapat diperluas menurut kebutuhan analisis sehingga relasi kesinoniman antara tiap anggota pasangan sinonim semakin jelas. Penjelasan dalam bentuk lainya misalnya penjelasan dalam pemakaian kata tersebut dapat ditambah apabila diperlukan.

3.    METODE PENELITIAN
3.1 Metode dan Jenis Penelitian
3.1.1 Metode penelitian
Merujuk pada tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini, maka metode yang akan digunakan dalam metode ini adalah metode deskriktif kualitatif. Metode ini merupakan penggambaran atau penyajian data berdasarkan kenyataan-kenyataan secara obyektif, sistematis dan akurat mengenai data sifat-sifat serta hubunganya dengan masalah penelitian.
3.1.2 Jenis Penelitian
Penelitian ini tergolong penelitian lapangan, yakni menyajikan data dan fenomena-fenomena berdasarkan fakta yang ditemukan oleh peneliti di lapangan sesuai dengan masalah penelitian.
3.2 Data dan Sumber Data
3.2.1 Data Penelitian
Data penelitian ini adalah data lisan yang berupa tuturan kata atau frasa yang bersumber dari informan yang berkaitan dengan masalah penelitian. Data diperoleh berupa tuturan-tuturan kata-kata para penutur asli bahasa Muna dialek Gulamas.
3.2.2 Sumber Data Penelitian
Sumber data penelitian ini berasal dari informan asli bahasa Muna dialek Gulamas di Kecamatan Mawasangka Tengah, Kabupaten Buton.
3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini tergolong penelitian lapangan, sehingga dalam mengumpulkan data peneliti langsung ke lokasi penelitian. Adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode cakap dan metode simak.
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik libat, cakap, teknik rekam, serta teknik catat.
3.4 Metode dan Teknik Analisis Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan referensi. Metode padan referensi adalah metode padan dengan alat penentunya adalah kenyataan yang ditunjukan bahasa atau referensi bahasa.
Setelah data terkumpul,selanjutnya data tersebut akan dianalisis. Dalam menganalisis data penelitian ini,peneliti menggunakan pendekatan semantik. Pendekatan ini sesuai dengan objek penelitian yaitu kesinoniman kata dalam bahasa Muna dialek Gulamas yang dapat dikaji berdasarkan aspek makna.

4.    HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
4.1    Kesinoniman Verba
4.1.1    Verba yang Menyatakan Makna Makan
Verba tersebut dalam bahasa Muna dialek Gulamas ada 4 macam, yaitu kata fuma, febaku, poantoki, dan  kantolo ‘makan’ meskipun pada kata-kata tersebut mempunyaibeberapa perbedaan pada komponen tingkat tutur, nilai rasa, dan pelaku, tetapi keempat kata tersebut bersinonim.
4.1.2    Verba yang Menyatakan Makna Tarik
Kesinoniman verba yang menyatakan makna tarik dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata tonda dan hinta ‘tarik’, tetapi kedu kata tersebut cara melakukanya yang berbeda. Verba hinta ‘tarik’ digunakan untuk menarik sesuatu yang arahnya bisa dari depan, samping, atas, bawah, dan juga saling beerlawanan. Verba tonda ‘tarik’ digunakan untuk menarik benda yang ada di bagian belakang dan searah.
4.1.3    Verba yang Menyatakan Makna Beli
Kesinoniman verba yang menyatakan makna beli dalam bahasa Muna dialek Gulamas adalah oli dan balanda ‘beli’. Kedua kata tersebut memiliki makna yang sama yaitu melakukan suatu kegiatan menukarkan barang dengan menggunakan nilai uang atau yang disebut dengan beli, baik dalam jumlah yang banyak maupun dalam jumlahh yang sedikit.
4.1.4    Verba yang Menyatakan Makna Cuci
Kesinoniman verba yang menyatakan makna cuci dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata fewainu dan tofa ‘cuci’. Kedua kata tersebutmemiliki arti yang sama yaitu membersihkan suatu benda dengan menggunakan air, tetapi memiliki kolokasi yang berbeda.
4.1.5    Verba yang Menyatakan Makna Memasak
Kesinoniman verba yang menyatakan makna memasak dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata dada, founda, dan toofi, ‘memasak’. Kata-kata tersebut bersinonim namun memiliki komponen makna yang berbeda-beda.
4.1.6    Verba yang Menyatakan Makna Pikul
Verba yang menyatakan makna pikul dalam bahsa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata suu dan tongku ‘pikul’ serta mempunyai komponen makna dasar yang sama yaitu meletakkan suatu beban di bahu.
4.1.7    Verba yang Menyatakan Makna Tanam
Verba yang menyatakan makna tanam dalam bahsa Muna dialek Gulamas adalah hoo, ladu, dan tano ‘tanam’. Ketiga kata tersebut mempunyai makna dasar yang sama, yaitu menyimpan atau menanam suatu didalam tanah, tetapi lokasinya berbeda.
4.1.8    Verba yang Menyatakan Makna Kencing
Kesinoniman verba yang menyatakan makna kencing dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata totolea dan ooha ‘kencing’. Kedua kata tersebut memiliki makna dasar yang sama yaitu kencing tetapi lokasinya berbeda.
4.1.9    Verba yang Menyatakan Makna Pulang
Kesinoniman verba yang menyatakan makna pulang dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata suli dan awo ‘pulang’. Tetapi kedua kata tersebut memiliki makna yang sama dan bisa saling menggantikan dalam satu kalimat tanpa mengubah makna kalimat tersebut.
4.1.10    Verba yang Menyatakan Makna Tutup
Kesinoniman verba yang menyatakan makna tutup dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata onto, songko, dan dapo ‘tutup’. Ketiga kata tersebut memiliki makna yang sama, tetapi tidak bisa saling menggantikan dalam penggunaan sebuah kalimat.
4.1.11    Verba yang Menyatakan Makna Potong
Verba yang menyatakan memisahkan suatu benda dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata keba, tumpo, dan dodo ‘potong’. Kata-kata tersebut memiliki makna yang sama yaitu memisahkan atau membagi suatu benda menjadi dua bagian.
4.1.12    Verba yang Menyatakan Makna Ikat
Kesinoniman verba yang menyatakan makna ikat dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata boke dan tapu ‘ikat’. Kedua kata tersebut bersinonim, tetapi memiliki komponen makna yang berbeda-beda.
4.1.13    Verba yang Menyatakan Makna Tiup
Verba yang menyatakan makna tiup dalam bahasa Muna dialek Gulamas dapat dinyatakan dengan menggunakan kata-kata antara lain buso, utu, dan punto ‘tiup’. Ketiga kata tersebut bersinonim namun memiliki komponen makna yang berbeda-beda.
4.1.14    Verba yang Menyatakan Makna Buka
Verba yang menyatakan makna buka dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata lengka dan wula ‘buka’. Kedua kata tersebut memiliki makna yang sama yaitu membuka sesuatu dari tertutup menjadi Nampak terbuka.
4.1.15    Verba yang Menyatakan Makna Pergi
Verba yang menyatakan makna pergi dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata lao dan kala ‘pergi’. Kata lao dan kala bisa saling bersubtitusi dalam penggunaanya.
4.1.16    Verba yang Menyatakan Makna Naik
Kesinoniman verba yang menyatakan makna naik dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata ende, foni, dan kamponea ‘naik’. Kata-kata tersebut memiliki makna dasar naik atau dari bagian bawah menuju keatas dan dari bagian lebih rendah menjadi lebih tinggi.
4.1.17    Verba yang Menyatakan Makna Belah
Kesinoniman verba yang menyatakan makna belah dalam bahasa Muna dialek Gulamas adalah kelah, wengka, dan solo ‘belah’. Ketiga kata tersebut mempunyai makna dasar yaitu membelah sesuatu menurut panjangnya benda yang dibagi menjadi dua bagian.
4.1.18    Verba yang Menyatakan Makna Pukul
Verba yang menyatakan makna pukul dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata bebe, hambi, wandu, dan wangku ‘pukul’. Kata-kata tersebut dapat memilki makna yang sama dan dapat bersubtitusi dalam penggunaanya.
4.1.19    Verba yang Menyatakan Makna Bicara
Kesinoniman verba yang menyatakan makna bicara dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata pogau dan bisaha ‘bicara’. Namun kedua kata tersebut bisa saling bersubtitusi dalam sebuah kalimat.

4.2    Kesinoniman Nomina
4.2.1 Nomina yang Menyatakan Makna korek Api
Kesinoniman nomina yang menyatakan makna korek api dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim mengunakan kata colo dan katikia ‘korek api’. Kedua kata tersebut bersinonim namun rujukan bendanya berbeda. Nomina colo ‘korek api’ bentuk bendanya adalah berupa kayu yang diperoduksi sedemikian rupa, seperti potongan lidi atau terbuat dari potongan-potongan kayu yang diperkecil serta ujungnya mengandung bahan bakar. Cara menyalakan apinya yaitu dengan cara mengorek. Kata ini memiliki nilai rasa yang netral. Nomina katikia ‘korek api’ bendanya berbentuk utuh atau permanen, dan biasanya memiliki roda atau istilah yang digunakan sekarang adalah korek gas.
4.2.2 Nomina yang Menyatakan Makna Wanita/Perempuan
Nomina yang mengandung makna orang yang berjenis kelamin perempuan dalam bahasa Muna dialek Gulamas ada beberapa macam, antara lain hobine, kalambe dan kabua-bua.
4.2.3 Nomina yang Menyatakan Makna Rumah
Nomina yang menyatakan makna rumah dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata lambu dan kambohu-mbohu ‘rumah’. Kedua kata tersebut memiliki makna dasar yang sama yaitu tempat tinggal manusia yang berbentuk rumah baik di dalamnya memiliki fasilitas yang lengkap maupun tidak lengkap.
4.2.4 Nomina yang Menyatakan Makna Dayung
Nomina yang menyatakan makna dayung dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata bose dan dao ‘dayung’. Kedua kata dasar tersebut memiliki makna dasar yang sama yaitu alat untuk menggerakkan perahu dengan cara mendayung.
4.2.5 Nomina yang Menyatakan Makna Kalung
Nomina yang menyatakan makna kalung dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata hante dan kalo ‘kalung’. Kedua kata tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menghiasi leher, tetapi memiliki jenis benda yang berbeda.
4.2.6 Nomina yang Menyatakan Makna  Buah Labu
Nomina yang menyatakan makna buah labu dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata labu dan wule ‘labu’. Kedua kata tersebut bersinonim, tetapi memiliki komponen makna yang berbeda.

4.3    Kesinoniman Adjektiva
4.3.1    kesinoniman Adjektiva yang Menyatakan Makna Pendek
Adjektiva yang menyatakan makna pendek dalam bahasa Muna dialek Gulamas adalah panda dan ubu ‘pendek’.kedua kata tersebut bersinonim, tetapi memiliki lokasi yang berbeda.
4.3.2    kesinoniman Adjektiva yang Menyatakan Makna lambat
Kesinoniman adjektiva yang menyatakan makna lambat dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan luntu dan mau ‘lambat’. Kedua kata tersebut bersinonim, tetapi memiliki kolokasi yang berbeda sehingga tidak dapat saling menggantikan dalam konteks kalimat.
4.3.3    kesinoniman Adjektiva yang Menyatakan Makna Panas
Kesinoniman adjektiva yang menyatakan makna Panas  dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata sodo dan pana ‘panas’. Kedua kata tersebut bersinonim tetapi memilkii kolokasi yang berbeda.
4.3.4    kesinoniman Adjektiva yang Menyatakan Makna Malu
Kesinoniman adjektiva yang menyatakan makna malu dalam bahasa Muna dialek Gulamas menggunakan kata kaili dan noambano ‘malu’. Kedua kata tersebut memiliki kesamaan makna, tetapi memiliki kolokasi yang berbeda-beda.
4.3.5    kesinoniman Adjektiva yang Menyatakan Makna Longgar
Kesinoniman adjektiva yang menyatakan makna longgar dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata luo dan luba ‘longgar’. Kedua kata tersebut memiliki persamaan makna, tetapi tidak saling menggantikan dalam satu konteks kalimat.
4.3.6    kesinoniman Adjektiva yang Menyatakan Makna Pandai
Adjektiva yang menyatakan makna pandai atau mampu melaksanakan sesuatu dengan menggunakan akal atau pikiran dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata pande dan makida ‘pintar’. Kedua kata tersebut memiliki kesamaan makna, tetapi memilki kolokasi y7ang berbeda-beda.
4.3.7    kesinoniman Adjektiva yang Menyatakan Makna Cepat
Kesinoniman adjektiva yang menyatakan makna cepatt dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata magala dan himba ‘cepat’. Kedua kata tersebut memiliki makna dasar yang sama yaitu dapat menempuh suatu jarak dengan waktu yang singkat tetapi kolokasinya berbeda.
4.3.8    kesinoniman Adjektiva yang Menyatakan Makna Marah
Adjektiva yang menyatakan makna marah dalam bahasa Muna dialek Gulamas lazim menggunakan kata amaha dan pamuhu ‘marah’. Kata amaha memiliki nilai rasa yang netral sedangkan kata pamuhu memilki nilai rasa yang kasar.




DAFTAR PUSTAKA


Aminuddin. 1998. Semantik : Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung : CV Sinar Baru.
Berg, Rene Van Den. 1989. A Grammar of Muna Languange. Dordechi Holland : Foris Publication.
Chaer, Abdul. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
Djajasudarma, Fatimah. 1999. Semantik I (Pengantar ke Arah Ilmu Makna). Bandung : PT. Refika Aditama.

Poskan Komentar