do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Kamis, 20 Februari 2014

MAKALAH BENTENG TIWORO KABUPATEN MUNA



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
          Sejarah merupakan ilmu yang mempelajari berbagai kejadian yang terjadi di massa lampau, dan merupakan ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penelitian beberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan.
          Dengan sejarah kita bisa mengetahui bagaimana proses perjalanan suatu bangsa, mengetahui kehidupan orang-orang terdahulu, dan mengetahui peninggalan-peninggalan sejarah suatu daerah. Begitupun dengan Kabupaten Muna yang memiliki proses sejarah tersendiri dalam kehidupannya, yang menyisakan banyak peninggalan bersejarah salah satunya adalah Benteng Tiworo, dan Mesjid Sangia Barakati Tiworo.

B. Rumusan Masalah
     Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:      
     Bagaimana Perkembangan Benteng Tiworo ?
     Apa Saja Fungsi Benteng Tiworo ?
     Bagaimana Kehidupan Masyarakat Sekitar Benteng Tiworo ?
     Apa Usaha yang Dilakukan Pemerintah dan Masyarakat dalam  Melestarikan
         Benteng Tiworo?

C. Tujuan
     Tujuan diadakannya penelitian ini antara lain:
     Untuk mengetahui proses perkembangan benteng tiworo.
     Untuk mengetahui fungsi dari benteng tiworo.
     Untuk mengetahui bagaimana kehidupan masyarakat sekitar benteng tiworo.
     Untuk mengetahui usaha yang dilakukan pemerintah dan masyarakat dalam melestarikan benteng tiworo.

D. Manfaat
     Dapat mengenal salah satu peninggalan bersejarah Kabupaten Muna yaitu Benteng Tiworo.
Dapat menambah pengetahuan.
Dapat menjadi sarana refreshing bagi para siswa


















BAB II
METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian
          Adapaun meode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode wawancara dan studi pustaka.

B. Waktu Penelitian
          Penelitian ini dilaksanakan pada hari Minggu, 13 Februari 2012, tepatnya di desa Tiworo, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara.

C. Subjek Penelitian
          Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian kali ini yaitu Benteng Tiworo dan Mesjid Sangia Barakati Tiworo.















BAB III
PEMBAHASAN

A. Perkembangan Benteng Tiworo
          Bentgeng tiworo adalah salah satu benteng peninggalan sejarah yang terletak di desa Tiworo kabupaten Muna. Menurut sejarah, benteng tiworo dibangun pada abad XVI oleh Raja Muna, yaitu La Ode Asmana. Pembuatan benteng ini dari bahan batu yang diangkat masyarakat dengan cara berjejer sepanjang 150 kilometer. Batu-batu yang digunakan untuk membuat Benteng Tiworo didatangkan dari Lokawoghe yang terletak di bagian Desa Tongkuno lama. Konon katanya benteng ini dibuat hanya dalam waktu satu malam, oleh para pekerja yang belum mengenal rasa berat dan ringan. Untuk mengangkat batu yang akan digunakan membangun benteng, para pekerja melapisi tangan mereka menggunakan kain sutera.
          Pada saat pembangunan Benteng Tiworo, pemerintahan telah berjalan. Namun, belum terbentuk Kino melainkan kestabilan, baru setelah itu ada penunjukkan pimpinan. Selain Benteng Tiworo, di Tiworo juga terdapat benteng lain yang letaknya masih berada dalam kompleks Benteng Tiworo, yakni Benteng Waobu. Selain kedua mesjid tersebut, di Tiworo juga terdapat sebuah mesjid yang bernama Mesjid Sangia Barakati Tiworo. Mesjid tersebut dibangun oleh sepasang suami istri yang kemudian wafat dan dikuburkan di samping kanan mimbar mesjid tersebut. Kuburan suami istri tersebut ditumbuhi bunga melati dan menurut warga sekitar batu nisannya bertambah 1 cm setiap tahunnya.

B. Fungsi Dari Benteng Tiworo
          Pada zaman dahulu, Benteng Tiworo, digunakan sebagai tempat pemerintahan dan pertahanan. Pusat pertahanan di benteng ini terletak di bagian Timur. Pada saat terjadi peperangan di daerah Tiworo,myang berperang tersebut adalah sesama orang Muna dan bukan orang Muna dengan orang Belanda. Kerajaan dari benteng Tiworo sendiri tidak pernah di serang oleh tentara Sekutu, kecuali kerajaan Ereke.
          Dalam hal pemnerian mas kawin, Tiworo berbeda dengan Muna. Tiworo menggunakan hitungan Real sedangkan Muna menggunakan hitungan Boka. Benteng Tiworo ini juga berperan sebagai tempat pelantikan Raja, karena di dalam benteng ini, tepatnya di bagian belakang benteng ini terdapat tempat pelantikan Raja. Raja yang terakhir dilantik di benteng ini adalah La Ode Sampaga.
          Pada saat ini fungsi benteng ini adalah sebagai situs sejarah sekaligus sebagai tempat wisata “Benteng Tiworo” dengan nama Tiworo. Tiworo adalah simbol dalam pemerintahan yang memilki makna untuk menghimbau masyarakatnya agar satu arah.
C. Kehidupan Masyarakat Sekitar Benteng Tiworo.
          Dari zaman dahulu sampai sekarang, masyarakat sekitar Benteng Tiworo hidup dengan berkecukupan. Ini disebabkan karena hasil alam atau hasil perkebunan masyarakat, berhasil diolah dengan baik oleh masyarakan Tiworo.
D. Upaya Pelestarian Benteng Tiworo
          Upaya yang dilakukan masyarakat dalam menjaga kelestarian Benteng Tiworo sudah cukup baik, terutama buat masyarakat yang mengelola Benteng Tiworo. Masyarakat juga sudah mengusulkan kepada pemerintah setempat untuk lebih memperhatikan kelestarian Benteng Tiworo dan menyediakan fasilitas yang nyaman untuk masyarakat yang datang berkunjung dan agar bisa menarik minat para wisatawan untuk berkunjung. Jika semua itu terjadi, tetntu benteng ini bisa menjadi sebagai sumber devisa daerah. Namun sayang, semua itu hanya bisa menjadi harapan masyarakat Tiworo sampai sekarang, karena pada kenyataannya pemerintah masih kurang memperhatikan kelestarian peninggala-peninggalan sejarah, termasuk Benteng Tiworo.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
          Adapun kesimpulan dari hasil penelitian ini yaitu:
1.   Benteng Tiworo adalah benteng yang di bangun pada abad XVI oleh Raja Muna yaitu La Ode Asmana. Benteng ini dibangun hanya dalamwaktu satu malam, oleh para pekerja yang tangannya dilapisi oleh kain sutera
2.   Benteng Tiworo memiliki fungsi diantaranya sebagai benteng pertahanan dan keamanan, dan sebagai tempat pelantikan raja pada zaman dulu.
3.   Masyarakat di sekitar Benteng Tiworo hidup berkecukupan sejak zaman dulu hingga sekarang, karena keberhasilan mereka dalam mengelola hasil alam.
4.   Upaya yang dilakukan masyarakat dalam memelihara kelestarian Benteng Tiworo sudah cukup baik, namun pemerintah masih kurang peduli terhadap kelestarian Bneteng Tiworo tersebut















B. Saran
          Sebaiknya pemerintah harus lebih memperhatikan kelestarian dari peninggalan-peninggalan sejarah daerahnya sendiri, karena itu merupakan identitas dari suatu daerah, yang juga bisa mendatangkan keuntungan tersendiri bagi daerahnya.

         






















DOKUMENTASI



Pintu Gerbang Benteng Tiworo




Mesjid Sangia Barakati Tiworo

             


Beduk/Gendang Tua di Tiworo

Situs Batu Pelantikan Raja Tiworo



DAFTAR PUSTAKA

Studi Pustaka (Situs Web) : http://kerajaantiworo.blogspot.com/


Poskan Komentar