do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Senin, 18 April 2011

Mengembangkan Jiwa Wira Usaha

Sistem Pemerintahan yang berbentuk Monarki Kerajaan sejak berabad-abad yang lalu, mengakibatkan bentuk budaya penghambaan diri dan pengkultusan terhadap individu pemimpin. Adanya strata sosial dalam masyarakat yang memisahkan golongan priyayi dan rakyat jelata serta minoritas kaum abangan sulit dihapuskan dalam pranata sosial, meskipun jaman telah berubah ratusan tahun. Hanya masyarakat pesisiran yang cenderung reaktif terhadap aturan-aturan yang bersifat hirarkhis, karena secara geografis tempat tinggal mereka jauh dari pusat pemerintahan dan juga karena faktor hubungan yang lebih luas dengan dunia luar sehingga mereka umumnya lebih memiliki keberanian untuk bertindak daripada masyarakat pedalaman yang cenderung pasrah pada keadaan.

Rakyat biasa yang mendominasi jumlah penduduk Indonesia telah memposisikan diri sebagai wong cilik yang merasa terlahir dari "sononya" hidup serba kekurangan. Sikap pasif yang mengakar ini berdampak pada sikap pesimisme dan penumpulan kreativitas yang bermuara pada kepasrahan sebelum bertindak. Gampang menyimpulkan suatu keadaan yang tidak enak sebagai takdir, tanpa melakukan usaha-usaha sebelumnya. Takut berwiraswasta sebab takut bangkrut dan enggan membuka usaha sebab apa yang ada sekarang saja sudah cukup. Banyak langkah takut dianggap serakah dan takut dinilai orang sebagai kurang narima ing pandum (kurang menerima atas pemberian).
Kalau saja sikap-sikap sebagaimana diatas bisa dikikis, dan para penganggur memiliki jiwa wirausaha yang kuat, masalah ini sedikit dapat diatasi. Sebab dengan wirausaha dapat menyerap tenaga kerja, sekaligus menggiatkan sektor riil dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Namun sering dijumpai orang yang mengeluh ; "Mau usaha apa ?", "Modalnya dari mana ?", atau "Kapan saya bisa memulai ?", "Siapa yang mau beli ?", dan sebagainya. Untuk memnjalankan usaha sebenarnya tidaklah sulit, asalkan mau berusaha dengan niat yang kuat dan secara terus menerus, serta pantang menyerah. Wira usaha dapat dilakukan di hampir semua sektor ekonomi.
Mulailah dari usaha kecil-kecilan dirumah. Pilihlah jenis usaha yang paling disukai agar bisa dilakukan secara senang hati. Bila perlu libatkan semua anggota keluarga sebagai tenaga kerja, dan tanamkan pengertian bahwa apa yang dikerjakannya dengan memerah keringat dan air mata adalah untuk menambah penghasilan keluarga sehingga penggunannya dapat lebih hemat.

Usahakan pilihan jenis usaha yang dilakukan dibutuhkan oleh masyarakat/konsumen. Akan lebih baik lagi apabila usahanya itu membuat konsumen selalu ingin menikmati secara terus menerus, (sustainable) sehingga dengan demikian masyarakat/konsumen akan menjadi pelanggan tetap yang merupakan modal kehidupan usaha tersebut.
Jangan buru-buru mengharap keuntungan yang besar, yang penting usahanya jalan dulu. Tidak ada usaha yang dilakukan dengan mudah dan hasilnya melimpah, tanpa melalui proses/tahapan yang sulit sebelumnya. Pengusaha-pengusaha yang sukses tentu merangkak dari bawah dengan melewati masa-masa sulit penuh resiko. Namun orang biasanya hanya memandang dari sisi keberhasilannya saja tanpa mengetahui masa-masa kritisnya.
Jadi kapan memulai usaha ? Sekarang Juga !! Usaha tidak akan berhasil sepanjang belum dimulai. Jangan menunggu-nunggu waktu lagi karena kesempatan datangnya cuma sekali. Selamat berwirausaha.

Sumber:http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1953660-mengembangkan-jiwa-wira-usaha/#ixzz1vA7lOfNJ
Poskan Komentar