do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Kamis, 27 Agustus 2015

CERPEN SESOBEK KERTAS DI SEPATU KIRI



CERPEN SESOBEK KERTAS DI SEPATU KIRI

Sesobek kertas di sepatu kiri? Ah, mungkin itu hanyalah serpihan kertas yang telah disobek-sobek oleh orang, beterbangan ditiup angin dan mendarat di sepatu kiri kita. Namun, siapa sangka, sesobek kertas di sepatu kiri berguna layaknya sebuah software chating yang meniscayakan komunikasi dua orang tanpa tatap muka dan suara. Itulah kiranya sekilas tentang cerpen berjudul Sesobek Kertas di Sepatu Kiri yang menjadi judul buku kumpulan cerpen Shofa Muhammad, penulis muda kelahiran Kota Batik Pekalongan.
Sebagai seorang penulis, melakukan eksplorasi imajinasi dalam melahirkan sebuah karya mutlak dilakukan. Eksplorasi imaginasi yang diramu dengan penggalan pengalaman dan kenangan akan melahirkan sebuah karya yang hidup dan berhasil. Karya-karya tersebut akan terasa dekat dengan keseharian para pembacanya. Hal inilah yang dapat ditangkap dari membaca cerita-cerita yang terkumpul dalam Sesobek Kertas di Sepatu Kiri.

Cerpen-cerpen Shofa sangat dekat dengan keseharian kita. Ia menangkap realitas dan problematika sosial yang kerap terjadi di masyarakat, seperti misalnya kehidupan seorang penjual buah dengan seorang anak gadisnya. Himpitan permasalahan hidup membuat sang gadis terpaksa menjual
buah-nya setelah menggantikan ibunya menjual buah karena ibunya tengah sakit tak berdaya (Buah Mbok Yah). Atau seorang gadis yang akhirnya gantung diri karena tidak sanggup menahan aib hamil di luar nikah setelah berhasil mengikuti final lomba gadis cantik di tv (Gadis Yang Berbadan Dua). Juga, seorang suami yang di mata mertuanya tak lebih seperti penculik perawan yang tidak bertanggung jawab hanya karena satu alasan : rumah (Panggung Sandiwara). Dan cerpen-cerpen lainnya pun memiliki benang merah yang sama : realitas dan problematika sosial masyarakat yang dituturkannya dengan lugas tanpa banyak menggunakan metafora.
Ide, yang menjadi amunisi bagi penulis dalam melahirkan karya-karyanya, di tangan penulis buku ini dengan jeli dieksplorasi menjadi sebuah cerita yang menarik. Senada dengan Langit Kresna Hariadi dalam pengantar buku ini, betapa Shofa mempunyai pisau eksplorasi yang tajam. Sebuah koma, yang kita kenal hanya sebagai tanda baca, menjadi inspirasi dalam cerpen-cerpennya. Demikian juga getaran vibrator HP, seorang perempuan cantik di dalam angkot, iring-iringan keranda jenazah, payudara, dan hal-hal kecil lainnya yang kerap dijumpai di sekitar kita. Semuanya tetap mengalir dalam bingkai realitas yang dekat dengan persoalan hidup keseharian masyarakat. Beberapa cerpen, diakui sendiri oleh penulis, memang terinspirasi dari karya penulis lain yaitu cerpen Panggung Sandiwara terinspirasi dari Rumah Bambu karya YB. Mangunwijaya dan cerpen Peribahasa terinspirasi dari karya Hamsad Rangkuti, Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?.
Seperti halnya sesobek kertas yang bisa dimanfaatkan menjadi apa saja tergantung kepintaran dan kekreatifan si pemegangnya, ide cerita pun bisa dieksplorasi sedemikian rupa dan semenarik mungkin tergantung kemahiran dan kekreatifan penulisnya.
Kultur budaya jawa, dimana penulis lahir dan dibesarkan, berpengaruh besar terhadap proses kreatif dan karyanya. Hampir di setiap cerpen, akan ditemui istilah-istilah jawa yang mungkin tidak dimengerti oleh pembaca yang tidak mengerti adat dan budaya jawa. Istilah-istilah tersebut seperti Sang Sangkan Paran (untuk menyebut Tuhan), dicablek, kemrungsung, nrimo, titiyoni, gandayoni, puspatajem, wuwung dan lain-lain. Hal ini sah-sah saja, namun yang sangat disayangkan, penulis tidak memberikan keterangan tambahan atau sekedar catatan kaki akan arti istilah-istilah tersebut, yang mungkin bisa sangat mengganggu pembacaan bagi para pembaca yang tidak memahami istilah-istilah jawa.
Meski ide dan alur cerpen-cerpen yang dikisahkan menarik, namun dalam hemat saya sebagai pembaca, dalam beberapa cerpen, penulis kurang berani dalam menggulirkan cerita dan kurang dalam mengeksplorasi pikiran dan perasaan tokoh-tokohnya. Seorang gadis yang merelakan buah-nya demi mendapatkan uang untuk operasi penyakit ibunya sangat lumrah dan sering dijumpai dalam cerita-cerita; pada suatu pagi sang gadis pulang dengan perasaan tidak karuan, antara sedih dan bangga, hanya selesai sampai di situ. Akan lebih menarik dan mengejutkan jika ditambah satu saja paragraf akhir yang menulis bahwa sesampainya di rumahnya, bukan hanya ibunya yang terbaring sakit yang dijumpainya, tetapi kerumunan tetangga yang tengah menangisi kepergian ibunya. Ibunya telah meninggal.
Dalam cerpen Sang Penggetar Paha, ending yang disuguhkan terasa hambar. Bagaimana mungkin perasaan seorang kakak yang setelah malam pertamanya mengetahui bahwa gadis yang dinikahinya adalah adiknya sendiri yang telah menghilang beberapa tahun, hanya dituliskan : Ternyata benar, tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Pergulatan batin sang tokoh tidak dieksplorasi lebih dalam.
Terlepas dari kekurangan dan kelemahan, Sesobek Kertas di Sepatu Kiri sangat layak untuk diapresiasi. Pesan moral dan kritik sosial dalam cerpen-cerpennya layak untuk menjadi bahan renungan bersama. Sang Pencipta maha tahu yang terbaik untuk ciptaan-Nya, itulah setidaknya pesan yang saya tangkap dari cerpen Roda Kehidupan yang mengisahkan perjuangan seorang lelaki pengemis dalam menghindari kejaran petugas trantib. Pesan-pesan moral dan kritik sosial yang lain terselip dalam cerpen-cerpennya yang lain. Subyektif memang, tergantung sejauh mana pembaca menemukan cerminan kisah, pengalaman atau pemahaman yang sama terhadap apa yang telah dituliskan.
Kehadiran Shofa Muhammad dengan kumpulan cerpen pertamanya ini akan menambah daftar penulis muda Jawa Tengah khususnya dan negeri ini umumnya. Masa depan sastra kita terletak pada kreatifitas penulis-penulis muda dalam bereksplorasi dan berkarya seperti Shofa. Selamat membaca.
Posting Komentar