do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Kamis, 27 Agustus 2015

ASKEB HIV



BAB I
PENDAHULUAN

1.        LATAR BELAKANG
Berdasarkan data statistik, peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS diindonesia begitu cepat. Ternyata dasar penularan awal epidemi ini disebabkan oleh jarum suntik. Diperkirakan saat ini terdapatlebih dari 1,3 juta penderita HIV/AIDS akibat jarum suntik. Jika terus berlanjut makan diperkirakan tahun 2020 jumlah itu akan meningkat menjadi 2,3 juta orang.
Dan sebagai mahasiswa keperawatan perlu memiliki pengetahuan tentang HIV/AIDS dan penatalaksanaaannya secara komprehensif.
Adapun yang melatarbelakangi penulisan makalah ini selain tugas kelompok dan juga merupakan materi bahasa mata kuliah KMB . dimana mahasiswa dari setiap kelompok  akan membahas materi, sesuai judul masing-masing yang telah ditugaskan kepada masing-masing kelompok. Dalam makalah ini akan dibahas tentang Asuhan keperawatan pada pasien HIV/AIDS yang merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebln tubuh manusia, yang dapat memudahkan atau membuat rentan si penderita terhadap penyakit dari luar maupun dari dalam tubuh. AIDS merupakan penyakit yang disebabkan oleh Human Immuno deficiency virus HIV.

2.        TUJUAN
1.        Agar bisa mengerti dan memahami konsep dasar HIV/AIDS
2.        Agar bisa mengerti dan memahami Asuhan Keperawatan Pada Pasien HIV/AIDS.
3.        Agar dapat melaksanakan Asuhan Keperawatan Pada Pasien HIV/AIDS
















BAB II
TINJAUAN TEORI


  1. PENGERTIAN HIV/AIDS
    1. HIV adalah singkatan dari human Immunodeficiency Virus merupakan virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus ini menyerang manusia dan menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi Yang menyebabkan defisiensi (kekurangan) sistem imun.
    2. Aids adalah singkatan dari Acquired imune deficiency syndrome yaitu menurunnya daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit karena adanya infeksi virus HIV (human Immunodeficiency virus). Antibodi HIV positif tidak diidentik dengan AIDS, karena AIDS harus menunjukan adanya satu atau lebih gejala penyakit skibat defisiensi sistem imun selular.
    3. AIDS merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV (Human Immunodeficiency Virus). (Aziz Alimul Hidayat, 2006)
    4. AIDS adalah infeksi oportunistik yang menyerang seseorang dimana mengalami penurunan sistem imun yang mendasar ( sel T berjumlah 200 atau kurang ) dan memiliki antibodi positif terhadap HIV. (Doenges, 1999)
    5. AIDS adalah suatu penyakit retrovirus yang ditandai oleh imunosupresi berat yang menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik, neoplasma sekunder dan kelainan imunolegik. (Price, 2000 : 241)

  1. ETIOLOGI
Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap sebagai virus kurang pathogen dibandingkan dengan HIV Maka untuk memudahkan keduanya disebut HIV. Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :
  1. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada gejala.
  2. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes illness.
  3. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada.
  4. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malam hari, B menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi mulut.
  5. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai system tubuh, dan manifestasi neurologist.
AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi, pria maupun wanita. Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah :
  • Lelaki homoseksual atau biseks. 5. Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.
  • Orang yang ketagian obat intravena
  • Partner seks dari penderita AIDS
  • Penerima darah atau produk darah (transfusi).

  1. PATOFISIOLOGI
HIV masuk ke dalam tubuh manusia
Menginfeksi sel yang mempunyai molekul CO4
(Limfosit T4, Monosit, Sel dendrit, Sel Langerhans)
Mengikat molekul CO4
Memiliki sel target dan memproduksi virus
Sel limfosit T4 hancur
Imunitas tubuh menurun
Infeksi opurtinistik

  1. TANDA dan GEJALA
Tanda dan gejala infeksi HIV sangat luat spektrumnya, karena itu ada beberapa macam klasifikasi. Yang paling umuum dipakai adalah klasifikasi yang dibuat oleh CDC,USA, sbb :
Klasifikasi infeksi HIV (CDC,USA, 1987)
GRUP I :Infeksi akut
GRUP II : Infeksi kronik asimtomatik
GRUP III : persistant generalized lymphadenopaty
GRUP IV : penyakit lain

  1. MASA INKUBASI
Masa ini adalah waktu dari terjadnya infeksi pertama sampai munculnya gejala yang pertaa pada pasien. Pada infeksi HIV hal ini sulit diktahui. Dari penelitian pada sebagian besar kasus dikatakan masa inkubasi rata-rata 5-10 tahun , dan bervariasi sangat lebar, yaitu antara 6 bulan sampai lebih dari 10 tahun. Walaupun belum ada gejala tapi yang bersangkuan telah dapat menjadi sumber penularan.
  1. Infeksi Akut
Sekitar 30-50% dari mereka yang terinfeksi HIV akan memberikan gejala infeksi mononukleosis, yaitu demam, sakit tenggorokan , letargi, batuk, mialgia, keringat alam dan keluhan GIT berupa nyeri menelan, mual, dan muntah dan diare. Mungkin bisa didpat adanya pembesaran kelenjar limfe leher, faringitis, macular rash, dan aseptik meningitis yang akan sembuh dala waktu 6 bulan.
  1. Infeksi kronik asimtomatik
Fase akut akan diikuti fase kronik asimsomatik yang lamanya bisa bertahun-tahun. Walaupun tidak ada gejala, tapi teteap dapat mengisolasi virus dari darh pasien dan ini berarti bahwa selama fase ini pasien juga infeksius. Tidak dketahui secara pasti apa yg terjadi pada fase ini. Mungkin terjadi repikasi lampat pada selsel tertentu dan laten pada sel lainnya. Tapi pada fase ini dikuti dengan penurunan fungsi sistem imun dari waktu kewaktu.
  1. PGL (pembengkakan kelenjar limfe)
Pada kebaykan kasus gejala pertama yang muncul adalah PGL. Ini menunjukan adanya hipersensitivitas sel limfosit B dalam kelenjar limfe, dapat persisten selama bertahun-tahun, dan pasien tetap merasa sehat.terjadi progresi bertahap dari adanya hiperplasia folikel dalam kelenjar limfe sampai timaul involunsi dengan adanya sel limfosit T8. Ini merupakan reaksi tubuh yang menghancurkan sel dendrit folike yang terinfeksi HIV.
  1. Dengan menurunnya sel limfosit T4, makin jelas nampak gejala klinis yang dapat dibedakan menjadi beberapa keadaan. Gejala ini dapat dibag atas :
1)        Gejala atau keluhan yang tidak langsung berhubungan dengan HIV : diare, demam, keringat malam, rasa lelah berlebihan , batuk kronik lebih dari 1 bulan dan penurunan berat badan 10% atau lebih.
2)        Gejala yang langsung akibat HIV, misalnya : mielopati, neuropati perifer dan penyakit susunan saraf otak.hampir 30% pasien dalam stadium akhir akan menderita AIDS dementia kompleks, yaitu menurunnya sampai hilang daya ngat, gangguan fungsi motorik dan kognitif, sehingga pasien suli berkomunikasi dan tdk bisa jalan.

  1. KOMPLIKASI
  1. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia     oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan,    keletihan dan cacat.
  1. Neurologik
Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan,      disfasia, dan isolasi sosial.
Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.
Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis. Neuropati karena  imflamasi dieleminasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV)
  1. Gastrointestinal
Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia, demam, malabsorbsi, dan dehidrasi.
Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
Penyakit anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare.
  1. Respirasi
Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek, batuk, nyeri, hipoksia, keletihan, gagal nafas.
  1. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies / tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis.
  1. Sensorik
Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan. Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri.

  1. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
  1. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium untuk HIV/AIDS dibagi atas tiga kelompok :
1)        Pembuktian adanya antibodi (Ab) atau antigen (Ag) HIV.
HIV terdiri dari selubung , kapsid dan inti.Masing- masing terdiri dari protein yang bersifat sebagai antigen dan menimbulkan pembentukan antibodi dalam tubuh yang terinfeksi. Jenis antibody yang penting untuk diagnostik diantaranya adalah antibody gp41, gp140, dan p24.
Teknik pemeriksaan adalah sebagai berikut.
a)      Tes untuk menguji Ab HIV. terdapat berbagai macam cara yaitu ELISA, Western Blot, RIPA dan IFA
b)      Tes untuk menguji antigen HIV dapat dengan cara pembiakan virus, antigen P24 dan PCR
2)        Pemeriksaan status imunitas
Pada pasien AIDS dapat ditemui anemia leukopenia/limfopenia, trombositopenia dan displasia sumsum tulang normo atau hiperselular. Test kulit DHT (Delayed Type Hypersensitiviti) untuk tuberkulin dan kandida yang hasilnya negatif atau energi menunjukan kegagalan imunitas selular. Dapat terjadi poliklonal hypergamma globulinemiayang menunjukan adanya rangsangan nonspesifik terhadap sel B untuk membentuk imunitas humoral.
3)        Pemeriksaan terhadap infeksi oportunistik dan keganasan
Infeksi oportunistik atau kanker sekunder yang ada pada pasien AIDS diperiksa sesuai dengan metoda diagnostik penyakitnya masing-masing. Misalnya pemeriksaan makroskopik untuk kandidiasis, PCP,TBC Paru dll. Adapun pemeriksaan peunjang lain seperti aboraturium rutin, serologis, radiologis, USG, CTScan, bronkoskopi, pembiakan, histopatologis dll.

  1. PENATALAKSANAAN HIV/AIDS
Penatalaksanaan HIV/AIDS terdiri dari pengobatan, perawatan / rehabilitasi dan edukasi.
  1. Pengobatan
Pengobatan pada pengidapan HIV/AIDS ditujukan terhadap :
–       Virus HIV
–       Infeksi oportunistik
–       Kanker sekunder
–       Status kekebalan tubuh
–       Simtomatis dan suportif
  1. Obat Retrovirus
Yang biasa dipakai secara luas adalah :
1)        Zidovudine (AZT) berfungsi sebagai terapi pertama anti retrovirus. Pemakaian obat ini dapat menguntungkan diantaranya yaitu Dapat memperpanjang masa hidup (1-2 tahun), mengurangi frekuensi dan berat infeksi oportunistik, menunda progresivitas penyakit, memperbaiki kualitas hidup pasien, mengurangi resiko penularan perinatal, mengurangi kadar Ag p24 dalam serum dan cairan spinal. Efek samping zidovudine adalah: sakit kepala, nausea, anemia, neutropenia, malaise, fatique, agitasi, insomnia, muntah dan rasa tidak enak diperut. Setelah pemakaian jangka panjang dapat timbul miopati. Dosis yang sekarang dipakai 200mg po tid, dan dosis diturunkan menjadi 100mg po tid bila ada tanda-tanda toksik.
2)        Didanosine ( ddl ), Videx.
Merupakan terapi kedua untuk yang terapi intoleransi terhadap AZT, atau bisa sebagai kombinasi dengan AZT bila ternyata ada kemungkinan respon terhadap AZT menurun. Untuk menunda infeksi oportunistik respon terhadap AZT menurun. Untuk menunda infeksi oportunistik pada ARC dan asimtomatik hasilnya lebih baik daripada AZT. Efek samping: neuropati perifer, pankreatitis (7%), nausea, diare.
Dosis: 200mg po bid ( untuk BB >60kg), 125mg po bid (untuk BB < 60kg) Mulanya hanya dipakai untuk kombinasi denganAZT. Secara invitro merupakan obat yang paling kuat, tapi efek samping terjadinya neuropati ( 17-31%) dan pankreatitis. Dosis : 0,75mg po tid.
  1. Obat-obat untuk infeksi oportunistik
–          Pemberian profiklaktik untuk PCP dimulai bila cCD4 , 250 mm/mm3. Dengan kotrimokzasol dua kali/minggu. Dosis 2 tablet, atau dengan aerosol pentamidine 300mg, dan dapsone atau fansidar.
–          Prokfilaksis untuk TBC dimulai bila PDD>=5mm, dan pasien anergik. Dipakai INH 300mg po qd dengan vit.b6, atau rifampisin 600mg po qd bila intolerans INH.
–          Profilaksis untuk MAI (mycobacterium avium intracelulare), bila CD4 , 200/mm3, dengan frukanazol po q minggu, bila pernah menderita oral kandidiasis, sebelumnya.
–          Belum direkomendasikan untuk profilaksis kandidiasis, karena cepat timbul resistensi obat disamping biaya juga mahal.
  1. Obat untuk kanker sekunder
Pada dasarnya sama dengan penanganan pada pasien non HIV. Untuk Sakorma Kaposi, KS soliter:radiasi, dan untuk KS multipel:kemoterapi. Untuk limfoma maligna: sesuai dengan penanganan limfoma paa pasien non HIV.
  1. Immune restoring agents
Obat-obat ini diharapkan dapat memperbaiki fungsi sel limfosit, menambah jumlah limfosit, sehingga dapat memperbaiki status kekebalan pasien. Bisa dengan memakai:
a)         – Interferon alpha                     -ekstrak kelenjar thymus
–  Interferron gamma                -loprinosin
–  Interleukin 2                          -Levamisol
b)        Mengganti sel limfosit dengan cara: transfusi limfosit, transplantasi timus dan transplantasi sumsum tulang.
  1. Pengobatan simtomatik supportif
Obat-obatan simtomatis dan terapi suportif sring harus diberikan pada seseorang yang telah menderita ADIS, antara lain yang sering yaitu: analgetik, tranquiller minor, vitamin, dan transfusi darah.

  1. Rehabilitasi
Rehabilitas ditujukan pada pengidap atau pasien AIDS dan keluarga atau orang terdekat, dengan melakukan konseling yang bertujuan untuk :
  1. Memberikan dukungan mental-psikologis
  2. Membantu merekab untuk bisa mengubah perilaku yang tidak berisiko tinggi menjadi perilaku yang tidak berisiko atau kurang berisiko.
  3. Mengingatkan kembali tentang cara hidup sehat, sehingga bisa mempertahankan kondisi tubuh yang baik.
  4. Membantu mereka untuk menemukan solusi permasalahan yang berkaitan dengan penyakitnya, antara lain bagaimana mengutarakan masalah-masalah pribadi dan sensitif kepada keluarga dan orang terdekat.

BAB III
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


PADA PASIEN HIV/AIDS
  1. PENGKAJIAN DATA DASAR
  2. Riwayat atau adanya perilaku risiko tinggi
  • Pasangan seksual multiple ( berganti-ganti pasangan )
  • Laki-laki dengan homoseksual atau biseksual
  • Penyalahgunaan obat terlarang
  • Hemophilia ( penerima factor pembekuan sebelum 1985 )
  1. Pemeriksaan fisik dasar pada survey umum (Apendiks F) dan pemeriksaan laboratorium dapat menunjukan :
    1. ARC ( ditandai tig agejala di bawah ini )
  • Limpadenopati
  • Candidiasis mulut
  • Jumlah sel CD, 500/mm3 ataukurang
  • Demam intermiten dengan banyak keringat pada malam  hari ( sering merupakan gejala awal  )
  • Diare menetap ( terus menerus )
  • Anoreksia ( tidak nafsu makan )
  • Kelelahan terusmenerus
  • Mudah memar dan berdarah ( indikasi idiopatik trombositopenia purpura )
  • Penurunan berat badan
  • Ruam pada kulit
  • AIDS disebabkan tumor, misal penyakit Hodgkin’s atau kanker pada mulut
  • Komplikasi  neurologis seperti psikosa( hilang ingatan, pelupa, dimensia, kejang, lumpuh sebagian , nyeri perifer pada neuropati dan kehilangan koordinasi.
  1. AIDS
  • Infeksi oportunistik seperti tuberculosis , pneumocytiscarinii pneumonia (PCP ) yang di tunjukan oleh batuk terus-menerus, demam dan sesak nafas
  • Sarcoma Kaposi’s ( jenis kanker kulit ) yang ditujukan oleh banyaknya bisul-bisul keungu-unguan dan benjolan pada kulit
  • Jumlah sel c, 200/mm 3 atau kurang
  1. Tes diagnostic
  • Infeksi HIV diperkuat oleh tesserologi positif :
  • Tes ELISA ( Enzim – linked immunosorbent assay )
  • Western blot dianggap tes yang lebih spesifik untuk infeksi HIV , dilakukan sama pada specimen darah jika tes ELISA positif ( 2 kali  )
  1. Kaji pengertian  kondisi dan respon emosi terhadap diagnose dan rencana pengobatan.

DIAGNOSA
    1. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan faktor :Penurunan responimun , kerusakan kulit.
    2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan. Berhubungan dengan faktor : Tidak adekuatnya pemasukan  nutrisi sebagai faktor sekunder AIDS pada sistem pembuangan (GI), nyeri lesi dimulut.
    3. Risiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah berhubungan dengan faktor : kurang pengetahuan tentang kondisi serta langkah-langkah untuk mengontrol penyebaran infeksi, kurangnya biaya, tidak ada pendukung yang cukup, untuk memberikan bantuan yang diberikan .

INTERVENSI KEPERAWATAN
DIAGNOSA          : risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan faktor :Penurunan respon imun , kerusakan kulit.
BATASAN KARAKTERISTIK   : western blot positif , terlihat gejala-gejala ARC atau  AIDS, ada riwayat dirawat untuk pengobatan infeksi, pernah menerima obat-obat untuk pengobatan infeksi HIV.
HASIL PASIEN ( kolaboratif ) : mendemonstrasikan resolu sipadainfeksisaa tini (sekarang ) .
KRITERIA EVALUASI :  temperature dan SDP kembalikebatas normal, keringat malam  berkurang dan  tidak ada batuk, meningkatnya masukan  makanan , tercapai penyembuhan luka atau lesi pada waktunya.
INTERVENSI
  1. Pantau :
–       Hasil JDL dan CD4
–       Temperatur setiap 4 jam
–       Status umum ( apendiks F ) setiap 8 jam
  1. Berikan obat antibiotik dan evaluasi ke efektifannya . jamin pemasukan cairan paling sedikit 2-3 liter sehari.
  2. Rujuk keahli diet untuk membantu  memilih dan merencanakan  makanan  untuk kebutuhan nutrisi. Ikuti prinsip-prinsip kewaspadaan umum terhadap darah dan cairan tubuh. Gunakan pencegahan dasar yang sesuai untuk mencegah kontaminasi terhadap kulit dan mukosa membran, bila kontak dengan darah atau cairan tubuh:
  • Pakai sarung tangan bila kontak dengan darah atau cairan tubuh adalah mungkin terjadi.
  • Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien , termasuk sebelum dan sesudah memakai sarung tangan.
  • Pasang  label  katagori spesifik isolasi pada pintu kamar pasien. Jika ada TB paru,  pakai  masker dan nasehatkan semua anggota keluarga pasien untuk skrining  TB,  jelaskan TB adalah menular.
  • Masker  tidak diperlukan untuk  PCP sebab kemungkinan infeksi disebabkan oleh jamur  yang  ada pada tubuhnya sendiri.
  • Pakai  skort dan kacamata untuk menghindarkan bila ada percikan cairan  tubuh yang mungkin terjadi.
  • Hindarkan penggunaan jarum yang telah dipakai. Tempatkan semua benda tajam kedalam kontainer pembuangan.
  • Bersihkan  tumpahan  darah  dengan  1:10 cairan pemutih (natrium hipoklorida)
  • Tidak untuk dianjurkan utnuk sembarang orang untuk memberikan perawatan pada pasien yang mempunyai luka atau lesi berek sudat dan dermatitis yang luas atau lesi sembuh.
  1. Pelihara kenyamanan suhu kamar. Jaga kebersihan dan keringnya kulit.
  2. DIAGNOSA KEPERAWATAN: perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan faktor :Tidak adekuatnya pemasukan nutrisi sebagai faktor sekunder AIDS pada sistem pembuangan (GI), nyeri lesi dimulut.
BATASAN KARAKTERISTIK: Manifestasi Aids Syndrom, kehilangan berat badan lebih dari 10%  yang  disebabkan oleh mual, muntah, lemah dan letih yang berlebih, diarekronis, albumin serum dibawah normal,  keseimbangan nitrogen negatif, terdapat kesulitan mengunyah dan menelan, terdapat plak-plak putih di mulut.
HASIL PASIEN (kolaboratif): mendemonstrasikan status nutrisiadekuat.
KRITERIAEVALUASI: Tidak ada penurunan berat badan lebih lanjut, hasil laboratorium keseimbangan nitrogen positifdan albumin serum sampai kebatas normal, lemah dan letih berkurang, secara verbal dinyatakan sehat.

INTERVENSI
  1. Pantau :
  • Berat badan, setaip hari
  • Masukan dan haluaran setiap 8 jam
  • Albumin serum dan BUN
  • Persentase makanan yang dimakan setiap makan
  1. Jika cairan diare berlebih :
  • Pertahankanpuasadanpengobatan, terutamainfus NPT
  • Berikanobat-oabt anti diaredanevaluasikeefektifannya.
  • Berangsur-angsur mulai lagi pemberian makan per oral biladiare terkontrol. Anjurkan untuk menggunakan bebas laktose, rendah lemak, tinggi serat, ini akan menurunkan volume diare. Konsul kedokter jika diare tetap berlangsung atau tambah memburuk.
  1. Rujuk keahli diet untuk membantu memilih dan merencanakan makanan untuk kebutuhan nutrisi.

DIAGNOSA KEPERAWATAN : risiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah berhubungan dengan faktor : kurang pengetahuan tentang kondisi serta langkah-langkah untuk mengontrol penyebaran infeksi , kurangnya biaya, tidak ada pendukung yang cukup, untuk memberikan bantuan yang diberikan .
BATASAN KARAKTERISTRIK :  menyatakan kurang mengerti tentang keadaan dan langkah-langkah untuk mengontrol infeksi di rumah , dilaporkan butuh bantuan untuk beberapa aktivitaas sehari-hari tapi kurang cukup bantuan di rumah , menatakan membutuhkan bantuan keuangan
HASIL PASIEN (kolaboratif ) : menyatakan  kepuasan dengan rencana keperawatan dirumah , mengenal sumber-sumber yang ada dimasyarakat yang dapat memberikan bantuan perawatan di rumah, menyatakan rencana-rencana untuk jaminan bantuan keungan  dengan perawatan  medis yang dibutuhkan , pulang dengan lama perawatan untuk KDB.
INTERVENSI
  1. Evaluasi pasien dan keluarganya tentang pengertianya mengenai definisi HIV/AIDS,  prognosa,  cara-cara penularan HIV, cara pencegahan penyebaran HIV, pentingnya memberitahukan semua kontak seksual sebelumnya. Perbaiki kesalahan persepsi. Pelihara rahasia pasien tentang diagnosa HIV/AIDS.
  2. Evaluasi kesadaran sumber-sumber di masyarakat. Rujuk kepelayanan social atau bagian yang merencanakan pasien pulang untuk sumber-sumber di masyarakat terfokus merawat individu HIV/AIDS dan untuk menolong kebutuhan keuangan untuk pengobatan jika keuangannya susah.
  3. Tinjau ulang cara-cara mengontrol infeksi di rumah:
  • Gunakan kondom dari lateks yang mengandung spermisida pada waktu hubungan seks. Hindari pemakaian alat-alat perawatan diri yang mungkin dapat menularkan melalui darah, seperti sikat gigi, alat-alat pencukur,
  • Cuci alat-alat makan dengan air sabun panas. Tidak perlu memisahkan mencuci alat-alat makan atau sprei, kecuali bila terkena oleh darah segar. Tambahkan pemutih bila alat-alatnya terkena darah atau cairant ubuh.
  1. Ajarkan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan kesehatan
  • Makan – makanan sehat seimbang .mengandung banyak protein , kaya gizi untuk fungsi imun. Berunding dengan ahli diet untuk membantu perencanaan makanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang sesuai dengan status kesehatan sekarang dan keadaaan ekonomi kurangi diet lemak dan penggunaaaan yang berlebihan suplemen vitamin/mineral. Jelaskan penggunaan pengguna antambahanzat – zat nutrisi seharusnya di bawah pengarahan langsung oleh ahli diet dan dokter sesuai dengan analisa nutrisi
  • Berikan imunisasi langsung untuk mencegah infeksi :
    • Tetanus booster setiap 10 tahun.
    • Periksa kadar antibody hepatitis B . jelaskan tentang vaksin hepatitis B (recombivax HB, Heptavax-B , Engerix – B ) diperlukan jika belum ada antibody. Beritahu pasien tentang vaksin hepatitis B diberikan dalam 3 kali injeksi
    • Anjurkan ibu-ibu untuk memerikasakan pelvis dan pap smear setiap 6 bulan. jelaskan bahwa infeksi pada vagina sering terjadi dan diperlukan pengobatan yang intensif padawanitadengan HIV/AIDS.
    • Kurangi sumber stres . tidur cukup , latihan terratur, berhenti merokok, minum alkohol dan gunakan obat golongan ke empat. Jika ini merupakan kebiasaan , rujuk ke tokoh masyarakat untuk membantu memecahkan ketergantungan ini .
    • Hindari tempat yang  ramai, keadaaan yang dapat membuat kongestiv pada bulan-bulan musim dingin ketika insiden influenza dan filek meningkat.

PENDIDIKAN KESEHATAN
FORMAT SATPEL PENKES
Topik                        :   Penyakit HIV/AIDS
Tujuan Umum          :  Setelah diberikan pendidikan kesehatan selama 1 x 30 menit diharapkan pasien dan keluarga memahami tentang HIV/AIDS.
Tujuan Khusus         :   Setelah mengikuti pendidikan kesehatan + 30 menit, pasien dan keluarga   dapat menyebutkan :
  1. Penyebab HIV/AIDS
  2. Penularan HIV/AIDS
  3. Tanda dan gejala klinis penderita HIV/AIDS
  4. Pencegahan HIV/AIDS
  5. Penatalaksanaan HIV/AIDS

Materi     : 1. Penyebab HIV/AIDS
2. Penularan HIV/AIDS
3. Tanda dan gejala klinis penderita HIV/AIDS
4. Pencegahan HIV/AIDS
5. Penatalaksanaan HIV/AIDS
Metode  pembelajaran :
  1. Ceramah
  2. Tanya Jawab
Media     : Lembar balik



BAB IV
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
–     AIDS adalah singkatan dari Acquired imune deficiency syndrome yaitu menurunnya daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit karena adanya infeksi virus HIV (human Immunodeficiency virus). Antibodi HIV positif tidak diidentik dengan AIDS, karena AIDS harus menunjukan adanya satu atau lebih gejala penyakit skibat defisiensi sistem imun selular.
–     HIV dan AIDS dapat menyerang siapa saja. Namun pada kelompok rawan mempunyai risiko besar tertular HIV penyebab AIDS,   yaitu :
1.  Orang yang berperilaku seksual dengan berganti-ganti pasangan
2.  Pengguna narkoba suntik
3.  Pasangan seksual pengguna narkoba suntik
4.  Bayi yang ibunya positif HIV
–     Penularan HIV/AIDS
Hubungan  seksual (anal, oral, vaginal) yang tidak terlindungi (tanpa kondom) dengan orang yang telah terinfeksi HIV.
1.    Jarum suntik/tindik/tato yang tidak steril dan dipakai bergantian
2.    Mendapatkan transfusi darah yang mengandung virus HIV
3.    Ibu penderita HIV Positif kepada bayinya ketika dalam kandungan, saat melahirkan atau melalui air susu ibu (ASI)
HIV tidak ditularkan melalui hubungan sosial yang biasa seperti jabatan tangan, bersentuhan, berciuman biasa, berpelukan, penggunaan peralatan makan dan minum, gigitan nyamuk, kolam renang, penggunaan kamar mandi atau WC/Jamban yang sama atau tinggal serumah bersama Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).
–     Tanda dan gejala klinis penderita HIV/AIDS
  1. Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan
  2. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
  3. Demam berkepanjangan lebih dari1 bulan
  4. Penurunan kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis
  5. Dimensia/HIV ensefalopati
  6. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita
  1. bersam-sama
–          Penatalaksanaan HIV/AIDS
Penatalaksanaan HIV/AIDS terdiri dari pengobatan, perawatan / rehabilitasi dan edukasi.
 B.     SARAN
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis berharap kritik dan saran yang membangun untuk pembuatan makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA


o    Brunner & Suddarths. 2000. Texboox Of Medical Nursing. 4 Th D Philadelphia Lippincot
o    Saputra. L .1998. Internasional Diagnosis Review. Hongkon:. Medical News Tribune
o    Soeparman.1996. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Jakarta: FKUI.Jakarta
































KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada Penderita AIDS” dengan sebaik-baiknya.
Adapun maksud dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas ilmu keperawatan.
Dalam penyusunan makalah ini,penulis telah mengalami berbagai hal baik suka maupun duka. Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini  tidak akan selesai dengan lancar dan tepat waktu tanpa adanya bantuan, dorongan, serta bimbingan dari berbagai pihak. Sebagai rasa syukur atas terselesainya makalah ini, maka dengan tulus penulis sampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan baik pada teknik penulisan maupun materi. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan dapat diterapkan dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang berhubungan dengan judul makalah ini.

Raha,   Agustus  2015



Penyusun












i
 
 
TUGAS

 ASKEP HIV


stikes logo.jpg


DI SUSUN OLEH :

RISNAWATI
JURUSAN : S1 KEPERAWATAN











SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AMANAH MAKASAR KELAS RAHA
2015
Posting Komentar