do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Jumat, 06 November 2009

Kapan Anda Menjadi Kreatif

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-style-parent:""; line-heigh t:115%; font-size:11.0pt; font-family:" Calibri","sans-serif"; mso-fareast-font-family:"TimesNew Roman";} Kapan anda menjadi kreatif. Kreatif perlu untuk mempercepat pengambilan keputusan, semakin benar, semakin menemukan sebuah prototype, termasuk ide-ide baru untuk lebih cepat, produktif, dan menguntungkan. Namun, proses kreatif lahir ketika kita terbiasa pada pemecahan persoalan, melalui identifikasi, melalui kebiasaan metoda pemecahan secara obyektif, menemukan akar masalah yang dilihat, dan kemudian melakukan alternative yang cepat dalam pemecahannya. Oleh karenanya menyehatkan akal dilakukan melalui ilmu. Proses menuntut ilmu adalah mencapai kesehatan akal dan otak. Pada tahap ini proses memperolehnya belajar, membaca, dan menulis. sesuatu yang tidak terlalu sulit untuk dikerjakan. Namun membutuhkan keuletan dan ketabahan menjalankannya. Bagaimanakah proses memperoleh ilmu yang baik?. Melalui pendidikan formal dan melalui jalur non pendidikan. Ketika melalui jalur pendidikan, dapat mengikutinya dari desain kurikulum yang disampaikan oleh pendidik. Dengan berbagai cara, maka ilmu akan diperoleh dan kemudian semakin mendalam dan semakin tinggi. Sampai seberapa jauh kita menuntut ilmu, dan sampai seberapa pula keterkaitannya ilmu itu dapat menuntun kita dalam hidup. Para filosof bahkan mengatakan menuntun ilmu itu merupakan proses membuat seseorang untuk mudah mengenal nilai-nilai universal. Dengan ilmu akan semakin mudah pula seseorang untuk bersikap objektif dalam memahami sebuah persoalan. Dengan demikian ilmu membuat objektivitas semakin tinggi. Orang berilmu kemudian akan memiliki keterampian akal, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Suatu ketika semakin tinggi ilmu seseorang akan berkorelasi dengan semakin tinggi pula derajat persoalan yang dapat dipecahkan. Kompleksitas keduniawian yang tinggi dapat disistematiskan melalui ilmu. Yang ruwet menjadi mudah. Begitulah yang diharapkan dari suatu ilmu. Oleh karenanya, orang yang berilmu tinggi tidak selalu berkaitan langsung dengan pekerjaannya. Kecuali pada bidang-bidang yang lebih terspesialisasi. Ilmu jadinya menjadi mempermudah orang mengambil keputusan dibidangnya. Misalnya, seorang tenaga akunting akan semakin jelas dalam melakukan fungsinya karena ilmunya spesifik. Sarjana perawat mempelajari ilmu yang terkait dengan Keperawatan. Sarjana hukum yang menjadi hakim akan mempermudah dia dalam merancang proses peradilan. Seorang yang berilmu tentang mesin akan mampu menjelaskan seluk beluk berfungsinya sebuah mesin. Tetapi sering pula, kalau ranah ilmunya tinggi, orang yang memahami ilmu mesin belum tentu menjadi montir mesin yang baik. Seseorang yang ahli manajemen belum tentu mampu menjadi manajerial yang juga baik. Sering anomaly seperti itu dilihat dalam kehidupan nyata sehari-hari. Semakin jauh antara yang dikerjakan seseorang dengan ilmu yang diperolehnya, biasanya semakin tidak tepat pekerjaan seseorang itu. Dan begitu sebaliknya. Sumber: http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2258802-kapan-anda-menjadi-kreatif/#ixzz1wEQKdgB2
Poskan Komentar