do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Selasa, 05 Juli 2011

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Bermitra Bisnis

Bermitra bisnis diperlukan untuk mensinergikan berbagai potensi dan kemampuan yang dimiliki dari masing-masing yang terlibat. Kemitraan bisnis sangat sering dilakukan orang yang baru memulai bisnis dan tidak memiliki pengalaman dalam mengenola bisnis. Bermitra bisnis biisa saling melengkapi keahlian, patungan modal, berbagi biaya operasional, hingga sharing peralatan kantor. Bermitra bisnis bisa dilakukan dengan teman, saudara, kenalan dan lain sebagainya.
Secara teori, kemitraan memang bagus untuk memulai bisnis. Namun tidak selalu berarti cara terbaik. Sebab bermitra bisnis itu mirip seperti menikah, yang kalau di Amerika Serikat, lebih dari separuhnya kandas. Dalam bermitra, banyak masalah yang harus ditangani: stres, egoisme masing-masing pihak, perbedaan karakter, masalah keuangan, biaya overhead tiap bulan, pengeluaran sehari-hari, hingga masalah karyawan.
Agar kemitraan bisnis bisa sukses dan Anda terhindar dari bahaya tersembunyi yang biasa timbul, tak ada salahnya Anda memperhatikan 7 kesalahan yang sering dilakukan orang dalam bermitra bisnis:
1. Berbagi modal, bukan biaya.
Kapan pun Anda sharing dalam bentuk modal ke dalam bisnis, apakah itu uang, barang, atau informasi, itu sama artinya dengan memberikan milik Anda ke perusahaan patungan itu. Di dunia yang sempurna, mitra Anda itu pasti lurus, jujur, berintegritas penuh, dan sama sekali tidak tergoda untuk mengambil ‘hadiah’ itu dan menganggapnya sebagai milik sendiri.
Namun, dunia tidak sempurna. Jadi, daripada setor modal, lebih baik buatlah perjanjian untuk berbagi biaya-biaya, yang besarnya proporsional dengan porsi kepemilikan usaha. Ini akan lebih aman, terutama jika mitra atau Anda sendiri kemudian memutuskan untuk keluar dari kemitraan.
2. Menjadikannya mitra karena Anda tidak mampu menggajinya.
Ini kesalahan yang paling fatal, namun banyak terjadi. Contohnya: Anda punya ide bisnis, sementara teman Anda, Dewi, punya ketrampilan untuk menjalankannya. Karena tak mampu menggajinya, Anda dan Dewi bersepakat untuk berbagi tugas dan keuntungan. Yang terjadi kemudian, Anda dan Dewi berselisih akibat kinerjanya yang buruk, namun Anda tetap harus ikut bertanggung jawab, karena perjanjian kemitraan itu.
Jika Anda punya ide dan orng lain punya skill-nya, rekrut saja dia sebagai staf. Atau, buatlah perjanjian seperti kontrak antara pebisnis dengan pemasok. Jangan memberikan apa yang seharusnya tidak perlu diberikan.
3. Tidak adanya perjanjian legal dan tertulis.
Menjalin kemitraan selayaknya diwujudkan dalam perjanjian legal, hitam di atas putih. Setiap detail dan kewajiban didefinisikan secara jelas, ditulis, dan disetujui kedua belah pihak. Mintalah konsultan bisnis untuk membuatkan perjanjian itu.
4. Mempunyai porsi kemitraan 50:50.
Setiap bisnis, termasuk kemitraan, butuh seorang bos. Jika Anda memutuskan untuk menjalin kemitraan, buatlah di mana proporsinya 60:40, 70:30, 65:35. Lalu tempatkan orang kunci Anda untuk menjaga akuntabilitas dan kontrol operasi secara keseluruhan.
5. Tidak memilih kemitraan terbatas.
Salah satu kekurangan perjanjian kemitraan adalah asumsi bahwa kewajiban satu pihak juga ditanggung pihak lainnya. Padahal bisa saja meminta kemitraan terbatas, di mana Anda tidak ikut bertanggung jawab terhadap tindakan atau kewajiban mitra utama. Lagi-lagi, pastikan konsultan bisnis Anda bisa mengaturnya dalam perjanjian tertulis.
6. Tiadanya cara keluar dari kemitraan.
Pernikahan dimulai dengan perjanjian pra-nikah. Begitu juga sebaiknya dalam bisnis. Definiskan kondisi apa saja yang memungkinkan Anda atau mitra Anda bisa keluar dari kemitraan. Berikan juga pilihan apakah pihak yang keluar itu bisa menjual bagiannya ke mitranya, atau ke orang luar. Ini dapat dilakukan dengan jelas dan mudah, serta tidak akan mengganggu bisnis yang sedang berjalan.
7. Berharap persahabatan tetap langgeng setelah kemitraan berakhir.
Lagi, mengambil analogi dari pernikahan, berapa banyak mantan pasangan yang masih menjadi sahabat setelah mereka berpisah? Kemungkinan tidak banyak. Jadi jangan terlalu berharap menjalin kemitraan dengan seorang teman, dan tetap menjadi teman setelah kemitraan berakhir. Memang sangat bagus untuk tetap menjalin hubungan ataupun berbisnis dengan mantan mitra. Namun dalam dunia bisnis, yang menjadi prioritas utama adalah bisnis, teman nomor dua. Meski tak diharapkan, namun penting diingat, umumnya persahabatan juga berakhir ketika kemitraan berakhir.(Galeriukm).
Sumber:
http://wanitawirausaha.femina.co.id/WebForm/contentDetail.aspx?MC=001&SMC=005&AR=3

Poskan Komentar