do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Senin, 18 Januari 2016

CERPEN PENYESALANKU TERHADAP SAHABATKU YANG TELAH PERGI

CERPEN PENYESALANKU TERHADAP SAHABATKU YANG TELAH PERGI

Aku sekarang duduk di kelas SDN SENGON 01 Batang Pekalaungan. Aku cukup terkenal di sekolah ini. Dan yang buat aku senang di sini aku mempunyai 3 orang sahabat. Kita berempat selalu bersama, mau jajan, mau ke kamar mandi dan kelompok upacara pun kita berempatan juga. Oh ya nama 3 orang sahabatku dia Ayu, Safira dan yang paling deket sama aku yaitu Dwi. Bahkan kita pun bisa dianggap “GENG” di kelas.
Suatu hari waktu itu kami mau menyeberang jalan raya. Saat itu lalu lintas sedang macet. Namun kali ini kami tidak berempat kami berlima. Dia yang kelima namanya Rani, anak kelas 6. Aku gak manggil dia Mbak atau Kakak. Soalnya dia itu orangnya sok-sok baik ke aku. Emang sih dia itu lumayan baik, tapi gak tahu kenapa aku risih sama dia, menurut aku dia itu terlalu lebay. Aku tipe orang yang gak suka orang lebay. Bahkan aku kadang manggil dia Mrs. Lebay. Tapi gak tahu kenapa dia tetep baik sama aku.
Saat mau nyeberang aku nyuruh Rani duluan, soalnya kalau macet aku gak berani nyeberang. Rani udah nyampe trotoar, tinggal aku masih di tengah. Tiba-tiba! ada truk dari arah kanan kenceng banget aku gak sadar. Rani teriak, “Awas ada truk dari kanan!”
Menyadari itu aku langsung Teriak. “Kyaaaaaa!!!” Tiga temanku yang di belakang juga shock banget.
Tapi kok aku gak ngerasa ketabrak ya. Cuma pusing aja. Perasaan tadi ada yang dorong. Ternyata! Rani terkapar lemas di tengah jalan. Darah mengucur deras dari kepalanya. Dan banyak orang mengelilinginya termasuk 3 sahabatku, mereka menangis. Aku pun menghampirinya, aku juga menangis.
“Ran, aku minta maaf, gara-gara aku kamu jadi begini, yang kuat ran. Aku janji kalau kamu udah sadar aku akan manggil kamu Mbak Rani.”
Lalu ramai-ramai orang pun membawa Rani ke rumah sakit QIM. Kita pun mengabari kedua orangtua Rani, Ibunya Rani menangis tak henti-henti.
Setelah menunggu beberapa jam, Dokter pun menghampiri kami, Dokter mengatakan bahwa Rani ingin menemuiku, aku langsung masuk ke ruang ICU ditemani Ibu Rani.
“Yasmin, untunglah kamu selamat, aku cuma mau bilang, tolong dong nyanyiin aku lagu nina bobo. Aku cape, aku pengen tidur.” Kata Rani.
“Iya Mbak.” aku pun menyanyikan lagu nina bobo.
Setelah selesai menyanyikan lagu nina bobo, Rani pun tertidur sambil tangannya ku pegang. Namun aku tidak merasakan denyut nadinya, aku memberitahu Ibunya. Kita yang panik langsung memanggil dokter. Ibu Rani langsung menangis tak henti-henti setelah dokter mengatakan bahwa Rani telah tiada. Aku yang shock langsung keluar ruangan dan memberitahu teman yang lain. Mereka pun juga ikut menangis.
Aku menyesali perbuatanku yang terdahulu ke dia. Selamat tinggal Rani. Maafkan aku atas aku yang dulu dan terima kasih atas kebaikanmu.

Poskan Komentar