do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Jumat, 03 Oktober 2014

GAMBAR KAIN TRADISIONAL BESERTA MAKNA SIMBOLISNYA




TUGAS PRAKARYA DAN KEWIRAUSAHAAN

GAMBAR KAIN TRADISIONAL BESERTA MAKNA SIMBOLISNYA
Buku Batik_01.jpg














NAMA KELOMPOK :        1.. SUSANTI
2. FENI YUNIAR
3. RIA ASRI B
4. HESTI
KELAS : X. ADM. PERKANTORA. A
1     KAIN TENUN BUTON
http://indonesia.travel/public/media/images/upload/poi/312249_2069156493117_640.jpg







Keunikan Tenun Buton tidak hanya terletak pada corak dan warnanya saja namun dalam fungsinya sebagai media pelekat hubungan sosial bagi masyarakat Buton. Selain itu, kain tenun buton juga menjadi identitas diri dan sosial, ritual agama, juga sebagai media untuk memahami lingkungan alam tempat mereka tinggal.
Masyarakat buton melekat pada karya indah kain tenunannya. Salah satunya dapat Anda lihat dalam motif betano walona koncuapa yang terinspirasi dari warna abu halus yang melayang-layang hasil pembakaran semak saat membuka ladang. Ada juga yang fungsinya sebagai penunjuk strata sosial dalam masyarakat Buton seperti pada motif kasopa yang biasa dipakai oleh perempuan kebanyakan. Sementara itu, motif kumbaea yang didominasi warna perak dan biasanya dipakai oleh perempuan dari golongan bangsawan dengan gelar Wa Ode. Kain Tenun Buton digunakan dalam setiap upacara adat dan ritual keagamaan. Menurut mereka jika kain tenun tersebut tidak disertakan dalam setiap upacara adat dan ritual maka hakikat dan nilai dari upacara dan ritual tersebut dinilai kurang sakral.
 Karena pentingnya peranan kain tenun dalam kehidupan masyarakat Buton sekaligus juga untuk melestarikannya maka sedari kecil (usia 10 tahun) para wanita Buton sudah diajari untuk menenun. Tidak hanya masyarakat biasa saja yang trampil menenun, bahkan anak dan istri Sultan Buton juga mahir mengerakkan tangan mereka untuk menenun.
 Dahulu Kain Tenun Buton dipakai sebagai pelengkap aktivitas budaya dan ritual adat serta agama. Akan tetapi, kini kain tenun khas Buton sudah dapat dijumpai dalam berbagai bentuk dan kegunaan misalnya pada tas, sarung, selendang, tirai, taplak meja, sarung bantal, dan sebagai hiasan dinding. Kain Tenun Buton dapat juga ditemukan dengan mudah di Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara yang menjadi pusat kerajinan di provinsi ini. Anda juga bisa menemukan buah tangan terampil ini di pulau lain di Sulawesi Tenggara.




2      KAIN SONGKET PALEMBANG
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTzqBZNq1DAn0HDVK6YA-cCR6gwD4V0aTWD16Zj4-pMugOu8S80





                                                                                                                
  
     Motif kain yang sering nampak dalam kain songket adalah motif bunga, ini menandakan kedekatan dengan wanita.            Seperti yang dikemukakan oleh R.H.M Akib seperti dikutip oleh Suwarti Kartiwa (1996:34), bahwa kain songket erat hubungannya dengan wanita dan didalamnya mencerminkan wanita. Hal ini tampak dari dengan banyaknya motif bunga yang diterapkan dalam desain kain songket dan kalau kemudian dalam adat terdapat pakaian yang dipakai oleh laki-laki, maka itu adalah perkembangannya yang kemudian karena pada zaman dahulu kain songket ditenun oleh para gadis sambil menunggu datangnya lamaran dari pihak laki­-laki.
  Masyarakat Palembang memiliki keharusan untuk memakai kain songket dalam setiap upacara yang dilakukan (pakaian adat). Kain songket digunakan pada setiap upacara keagamaan, perkawinan ataupun upacara adat lainnya dan tidak untuk dipakai sehari-hari (Himpunan Wastraprema, 1976). Ini semua menandakan kalau kain songket tidak bisa dipakai sembarangan, karena di dalamnya mengandung makna-makna tertentu. Makna ini merupakan perlambang dari sipemakai.
     Sebagai contoh, pemakaian kain songket untuk upacara perkawinan berbeda dengan yang digunakan untuk upacara keagamaan dan upacara adat lainnya. Perbedaan itu dapat dilihat pada warna merah cabe yang biasa dipakai oleh pengantin sedangkan untuk upacara adat lainnya bebas memilih motif dan warna. 
    Dahulu pemakaian kain songket dibedakan antara untuk keluarga kerajaan, pegawai kerajaan, golongan bangsawan dan rakyat biasa. Perbedaan pemakaian kain songket penting karena dalam kain songket mempunyai motif-motif tersendiri yang menggambarkan kebesaran dan keagungan seseorang (pemakai).




3      KAIN BATIK CIREBON
http://4.bp.blogspot.com/-ZRkAlPIT48A/UmfZJF7a4TI/AAAAAAAALfg/00HH7fG5tRI/s400/motif+batik+cirebon+01.jpg


                                                                                                               










Sejarah batik Cirebon pada jaman dulu merupakan percampuran antara budaya dalam masyarakat dengan tradisi religius, yaitu pada jaman Sunan Gunung Jati pada abad 16 ketika menyebarkan ajaran Islam di Cirebon.

Menurut sejarahnya, awal mulanya berkembang nya batik cirebon yaitu dulunya berawal dari Pelabuhan Muara Jati (kini disebut Cirebon) dijadikan tempat persinggahan oleh para pedagang asing seperti dari, Arab, Tiongkok, India dan  Persia. Para pedagang tersebut ini akhirnya menciptakan percampuran beragam budaya dan menghasilkan banyak tradisi baru diantaranya adalah batik Cirebon.

Batik Trusmi misalnya adalah merupakan karya dari seorang pemuka agama Islam, yaitu bernama Ki Buyut Trusmi. Dulu pada mulanya Ki Buyut Trusmi bersama dengan Sunan Gunung Jati, menyebarkan Agama Islam khususnya di kawasan desa Trusmi. Mereka selain mengajarkan agama Islam, mereka juga mengajari ketrampilan membatik kepada penduduk setempat, hingga akhirnya kini kawasan Desa Trusmi ini dikenal dengan Kampung Batik.

Salah satu motif batik Cirebon adalah motif batik mega mendung, yaitu motif batik cirebon yang banyak dipengaruhi kebudayaan china. Motif batik cirebon mega mendung ini memiliki ciri khas yaitu bentuk garis-garis awan yang berbentuk lonjong, lancip dan segitiga yang berbeda dengan garis awan motif China yang umumnya berbentuk bulatan. 

Yang kedua adalah motif batik Naga Silam, motif ini hampir sama dengan motif batik mega mendung, karena motif batik naga silam juga dipengaruhi oleh kebudayaan dari China. Perbedaannya adalah motif batik naga silam juga dipengaruhi oleh kebudayaan dari India. Corak motif naga silam mempunyai makna yaitu peperangan antara kebaikan melawan kejahatan untuk mencapai suatu kemakmuran.


4      KAIN CUAL BANGKA BELITUNG
https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSFoBzg71uUsY-t9yuCFIyx38dB0f6J4QzqfUocdBr0uWOD8A2f







                                                                                                                   
Tenun cual merupakan perpaduan antara tekhnik songket dan tenun ikat, namun yang menjadi ciri khasnya adalah susunan motif menggunakan tekhnik tenun ikat. Jenis motif tenun cual antara lain susunan motif bercorak penuh (Pengantek Bekecak), dan motif ruang kosong Jande Bekecak). Cual Bangka dahulu dikenal dengan nama Limar Muntok. Sekilas motif kain tenun cual nampak seperti songket palembang. Yang membedakan  adalah jika pada Songket palembang motif diambil dari bentuk-bentuk bunga seperti cempaka atau bunga cengkeh, maka cual mengambil motif bentuk-bentuk alam dari tumbuh-tumbuhan dan hewan, seperti motif kucing atau bebek, bunga mawar, dan lain-lain yang jika dilihat dari jauh akan timbul motifnya.
Fungsi sosial dari tenun cual adalah sebagai pakaian kebesaran lingkungan Muntok, pakaian pengantin dan pakaian pada hari-hari kebesaran Islam dan adat lainnya, sebagai hantaran pengantin ataupun mahar yang langsung menggambarkan status sosial (pangkat dan kedudukan) seseorang pada masa itu. Dahulu, kehalusan tenunan, tingkat kerumitan motif dan warna pada tenun cual mengandung filosofi hidup sebagai hasil perjalanan religius penenunnya.
Tenun cual sangat terkenal karena tekstur kainnyaa/yang begitu halus, warna celupan benangnya tidak berubah, dan ragam motif seakan timbul, jika dipandang dari kejauhan. Peminat tenun cual pun hingga ke luar Bangka, sehingga diperjualkan pula ke Palembang, Belitung, Pontianak, Singapura dan Tanah Melayu lainnya. Hal ini menyebabkan pengguna tenun cual tidak lagi hanya pada keturunan Bangsawan Mentok.
Tahun 1914 hingga 1918, terjadi perang besar melanda Eropa yang menyebabkan terputusnya bahan baku tenun cual. Masuknya tekstil dari Cina menjadi pelengkap orang-orang Muntok meninggalkan kerajinan tenun cual. Tahun 1990, Perindustrian Kota Madya pangkalpinang menggalakan kembali keraj inan cual di Bangka. Kelompok usaha kerajinan cual yang terdiri dari anggota, keluarga tersebut diketuai oleh Masliana.Tahun 2003 Maslina membentuk Koperasi Tenun Kain Cual Khas Bangka. Kini ada 40 perajin cual yang tersebar di kota maupun kabupaten di Bangka Belitung.
SELESAI
Poskan Komentar