do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Senin, 13 Oktober 2014

MAKALAH PERKEMBANGAN KELAMIN



2. KELAMIN

A.  ANATOMI DAN FISIOLOGI KELAMIN
1.      Anatomi Dan Fisiologi Laki - laki
Ø Anatomi Saluran Reproduksi Laki-laki

1)    Testis
Testis merupakan sepasang struktur berbentuk oval,agak gepeng dengan panjang sekitar 4 cm dan diameter sekitar2.5 cm. Testis berada didalam skrotum bersama epididimis yaitu kantung ekstraabdomen tepat dibawah penis. Dinding pada rongga yang memisahkan testis dengan epididimis disebut tunika vaginalis. Tunika vaginalis dibentuk dari peritoneum intraabdomen yang bermigrasi ke dalam skrotum primitive selama perkembangan genetalia interna pria, setelah migrasi ke dalam skrotum, saluran tempat turunnya testis (prosesus vaginalis) akan menutup.

2)    Epididimis
Merupakan suatu struktur berbentuk koma yang menahan batas posterolateral testis. Epididimis dibentuk oleh saluran yang berlekuk-lekuk secara tidak teratur yang disebut duktus epididimis. Panjang duktus epididimis sekitar 600 cm. Duktus ini berawal dari puncak testis (kepala epididimis) dan berjalan berliku-liku, kemudian berakhir pada ekor epididimis yang kemudian menjadi vas deferens. Epididimis merupakan tempat terjadinya maturasi akhir sperma.

3)      Scrotum
Skrotum pada dasarnya merupakan kantung kulit khusus yang melindungi testis dan epididimis dari cedera fisik dan merupakan pengatur suhu testis. Spermatozoa sangat sensitive terhadap suhu karena testis dan epididimis berada di luar rongga tubuh, suhu di dalam testis biasanya lebih rendah daripada suhu di dalam abdomen.

4)      Vas Deferens
Vas deferens merupakan lanjutan langsung dari epididimis. Panjangnya 45 cm yang berawal dari ujung bawah epididimis, naik disepanjang aspek posterior testis dalam bentuk gulungan-gulungan bebas, kemudian meninggalkan bagian belakang testis, duktus ini melewati korda spermatika menuju abdomen.

5)      Vesicula Seminalis
Merupakan sepasang struktur berongga dan berkantung-kantung pada dasar kandung kemih di depan rectum. Masing-masing vesicular memiliki panjang 5 cm dan menempel lebih erat pada kandung kemih daripada pada rectum. Pasokan darah ke vas deferens dan vesikula seminalis berasal dari arteri vesikulkaris inferior. Arteri ini berjalan bersama vas deferens menuju skrotum beranastomosis dengan arteri testikukar, sedangkan aliran limfatik berjalan menuju ke nodus iliaka interna dan eksterna. Vesikula seminalis memproduksi sekitar 50-60 % dari total volume cairan semen. Komponen penting pada semen yang berasal dari vesukula seminalis adalah fruktosa dan prostaglandin.
6)      Kelenjar Prostat
Kelenjar prostat merupakan organ  dengan sebagian strukturnya merupakan kelenjar dan sebagian lagi otot dengan ukuran sekitar 2,3 x 3,5 x 4,5 cm. Organ ini mengililingi uretra pria, yang terfiksasi kuat oleh lapisan jaringan ikat di belakang simpisis pubis. Lobus media prostat secara histologis sebagai zona transisional berbentuk baji, mengelilingi uretrra dan memisahkannya dengan duktus ejakulatorius. Saat terjadi hipertropi, lobus media dapat menyumbat aliran urin. Hipertropi lobus media banyak terjadi pada pria usia lanjut.

7)         Penis
Penis berada di antara kedua pangkal paha pria. Penis mulai dari arcus pubis menonjol ke depan berbentuk bulat panjang. Dari pangkal ke ujung berbentuk cendawan dengan kepala penis seperti kepala cendawan tetapi bagian ujungnya agak meruncing ke depan.
Penis terdiri jaringan kavernosa (erektil) dan dilalui uretra. Ada dua permukaan yaitu permukaan posterior penis teraba lunak (dekat uretra) dan permukaan dorsal. Jaringan erektil penis tersusun dalam tiga kolom longitudinal, yaitu sepasang korpus kavernosum dan sebuah korpus spongiousum di bagian tengah. Ujung penis disebut glans. Glands penis ini mengandung jaringan erektil dan berlanjut ke korpus spongiosum. Glans dilapisi lapisan kulit tipis berlipat, yang dapat ditarik ke proksimal disebut prepusium (kulit luar), prepusium ini dibuang saat dilkukan pembedahaan (sirkumsisi). Penis berfungsi sebagai penetrasi. Penetrasi pada wanita memungkinkan terjadinya deposisi semen dekat serviks uterus.

Ø Fisiologi Saluran Reproduksi Laki-laki
Fungsi paling penting dari penis selain untuk aktivitas seksual adalah sebagai alat untuk penghantaran sperma dari testis menuju saluran reproduksi wanita ketika ejakulasi terjadi.
Fungsi Penis adalah sebagai alat untuk menghantarkan spermatozoa melalui saluran yang ada di dalamnya, dan sebagai alat aktivitas seksual seorang pria.
Seluruh anatomi penis yang disebutkan tersebut, berkoordinasi dengan sistem saraf pusat (otak) dengan menggunakan hormon, dalam menjalankan fungsinya sebagai :
1.      Alat aktivitas seksual,
2.      Alat pengantar sperma dan spermatozoa di dalamnya ke alat reproduksi wanita, dan
3.      Alat berkemih (membuang sekret tubuh berupa urine).


2.      Anatomi & Fisiologi Saluran Reproduksi Wanita

·         Terdiri alat/organ eksternal dan internal, sebagian besar terletak dalam rongga panggul.
·         Eksternal (sampai vagina) : fungsi kopulasi
·         Internal : fungsi ovulasi, fertilisasi ovum, transportasi blastocyst, implantasi, pertumbuhan fetus, kelahiran.
·         Fungsi sistem reproduksi wanita dikendalikan/ dipengaruhi oleh hormon-hormon gondaotropin /steroid dari poros hormonal thalamus – hipothalamus – hipofisis – adrenal – ovarium.
·         Selain itu terdapat organ/sistem ekstragonad/ekstragenital yang juga dipengaruhi oleh siklus reproduksi : payudara, kulit daerah tertentu, pigmen, dsb.

*      Genitalia Eksterna
1.      Vulva : Tampak dari luar (mulai dari mons pubis sampai tepi perineum), terdiri dari mons pubis, labia mayora, labia minora, clitoris, hymen, vestibulum, orificium urethrae externum, kelenjar-kelenjar pada dinding vagina.
2.      Mons pubis / mons veneris
a.       Lapisan lemak di bagian anterior symphisis os pubis.
b.      Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi rambut pubis.
3.      Labia mayora
a.       Lapisan lemak lanjutan mons pubis ke arah bawah dan belakang, banyak mengandung pleksus vena.
b.      Homolog embriologik dengan skrotum pada pria.
4.      Labia minora
a.       Lipatan jaringan tipis di balik labia mayora, tidak mempunyai folikel rambut.
b.      Banyak terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung serabut saraf.
5.      Clitoris
a.       Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di bagian superior vulva, dan corpus clitoridis yang tertanam di dalam dinding anterior vagina.
b.      Homolog embriologik dengan penis pada pria.
c.       Terdapat juga reseptor androgen pada clitoris.
d.      Banyak pembuluh darah dan ujung serabut saraf, sangat
6.      Vestibulum
a.       Daerah dengan batas atas clitoris, batas bawah fourchet, batas lateral labia minora. Berasal dari sinus urogenital.
b.      Terdapat 6 lubang/orificium, yaitu orificium urethrae externum, introitus vaginae, ductus glandulae Bartholinii kanan-kiri dan duktus Skene kanan-kiri.
c.       Antara fourchet dan vagina terdapat fossa navicularis.
7.      Introitus / orificium vagina
a.       Terletak di bagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan tipis bermukosa yaitu selaput dara / hymen, utuh tanpa robekan.
b.      Hymen normal terdapat lubang kecil untuk aliran darah menstruasi, dapat berbentuk bulan sabit, bulat, oval, cribiformis, septum atau fimbriae.
c.       Akibat coitus atau trauma lain, hymen dapat robek dan bentuk lubang menjadi tidak beraturan dengan robekan (misalnya berbentuk fimbriae).
d.      Bentuk himen postpartum disebut parous.
e.       Corrunculae myrtiformis adalah sisa2 selaput dara yang robek yang tampak pada wanita pernah melahirkan / para.
8.      Vagina
a.       Rongga muskulomembranosa berbentuk tabung mulai dari tepi cervix uteri di bagian kranial dorsal sampai ke vulva di bagian kaudal ventral.
b.      Daerah di sekitar cervix disebut fornix, dibagi dalam 4 kuadran : fornix anterior, fornix posterior, dan fornix lateral kanan dan kiri.
c.       Vagina memiliki dinding ventral dan dinding dorsal yang elastis. Dilapisi epitel skuamosa berlapis, berubah mengikuti siklus haid.
§  Fungsi vagina : untuk mengeluarkan ekskresi uterus pada haid, untuk jalan lahir dan untuk kopulasi (persetubuhan).
§  Bagian atas vagina terbentuk dari duktus Mulleri, bawah dari sinus urogenitalis. Batas dalam secara klinis yaitu fornices anterior, posterior dan lateralis di sekitar cervix uteri.
§  Titik Grayenbergh (G-spot), merupakan titik daerah sensorik di sekitar 1/3 anterior dinding vagina,


9.      Perineum
a.       Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Batas otot-otot diafragma pelvis (m.levator ani, m.coccygeus) dan diafragma urogenitalis (m.perinealis transversus profunda, m.constrictor urethra).
b.      Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong (episiotomi) untuk memperbesar jalan lahir dan mencegah ruptur.

*      Genetalia Interna
1.      Uterus
v Suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir, dilapisi peritoneum (serosa).
v Selama kehamilan berfungsi sebagai tempat implatansi, retensi dan nutrisi konseptus.
v Pada saat persalinan dengan adanya kontraksi dinding uterus dan pembukaan serviks uterus, isi konsepsi dikeluarkan.
v Terdiri dari fundus, corpus, isthmus dan serviks uteri.
2.      Serviks uteri
v  Bagian terbawah uterus, terdiri dari pars vaginalis (berbatasan / menembus dinding dalam vagina) dan pars supravaginalis. Terdiri dari 3 komponen utama: otot polos, jalinan jaringan ikat (kolagen dan glikosamin) dan elastin.
v  Bagian luar di dalam rongga vagina yaitu portio cervicis uteri (dinding) dengan lubang ostium uteri externum (luar, arah vagina) dilapisi epitel skuamokolumnar mukosa serviks, dan ostium uteri internum (dalam, arah cavum).
v  Sebelum melahirkan (nullipara/primigravida) lubang ostium externum bulat kecil, setelah pernah/riwayat melahirkan (primipara/ multigravida) berbentuk garis melintang.
v  Kelenjar mukosa serviks menghasilkan lendir getah serviks yang mengandung glikoprotein kaya karbohidrat (musin) dan larutan berbagai garam, peptida dan air. Keteb
3.      Corpus uteri
v  Terdiri dari : paling luar lapisan serosa/peritoneum yang melekat pada ligamentum latum uteri di intraabdomen, tengah lapisan muskular/miometrium berupa otot polos tiga lapis (dari luar ke dalam arah serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular), serta dalam lapisan endometrium yang melapisi dinding cavum uteri, menebal dan runtuh sesuai siklus haid akibat pengaruh hormon-hormon ovarium.
v  Posisi corpus intraabdomen mendatar dengan fleksi ke anterior, fundus uteri berada di atas vesica urinaria.
v  Proporsi ukuran corpus terhadap isthmus dan serviks uterus bervariasi selama pertumbuhan dan perkembangan wanita.
4.      Ligamenta penyangga uterus
Ligamentum latum uteri, ligamentum rotundum uteri, ligamentum cardinale, ligamentum ovarii, ligamentum sacrouterina propium, ligamentum infundibulopelvicum, ligamentum vesicouterina, ligamentum rectouterina.
5.      Vaskularisasi uterus
Terutama dari arteri uterina cabang arteri hypogastrica/illiaca interna, serta arteri ovarica cabang aorta abdominalis.
6.      Salping / Tuba Falopii
v  Embriologik uterus dan tuba berasal dari ductus Mulleri.
v  Sepasang tuba kiri-kanan, panjang 8-14 cm, berfungsi sebagai jalan transportasi ovum dari ovarium sampai cavum uteri.
v  Dinding tuba terdiri tiga lapisan : serosa, muskular (longitudinal dan sirkular) serta mukosa dengan epitel bersilia.
v  Terdiri dari pars interstitialis, pars isthmica, pars ampularis, serta pars infundibulum dengan fimbria.
v  Pars isthmica (proksimal/isthmus)
Merupakan bagian dengan lumen tersempit, terdapat sfingter uterotuba pengendali transfer gamet.
v  Pars ampularis (medial/ampula)
Tempat yang sering terjadi fertilisasi adalah daerah ampula / infundibulum, dan pada hamil ektopik (patologik) sering juga terjadi implantasi di dinding tuba bagian ini.
v  Pars infundibulum (distal)
Dilengkapi dengan fimbriae serta ostium tubae abdominale pada ujungnya, melekat dengan permukaan ovarium.Fimbriae berfungsi “menangkap” ovum yang keluar saat ovulasi dari permukaan ovarium, dan membawanya ke dalam tuba.
7.      Ovarium
v  Organ endokrin berbentuk oval, terletak di dalam rongga peritoneum, sepasang kiri-kanan. Dilapisi mesovarium, sebagai jaringan ikat dan jalan pembuluh darah dan saraf.
v  Terdiri dari korteks dan medula.
v  Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel menjadi ovum (dari sel epitel germinal primordial di lapisan terluar epital ovarium di korteks), ovulasi (pengeluaran ovum), sintesis dan sekresi hormon-hormon steroid (estrogen oleh teka interna folikel, progesteron oleh korpus luteum pascaovulasi).
v  Berhubungan dengan pars infundibulum tuba Falopii melalui perlekatan fimbriae. Fimbriae “menangkap” ovum yang dilepaskan pada saat ovulasi.
v  Ovarium terfiksasi oleh ligamentum ovarii proprium, ligamentum infundibulopelvicum dan jaringan ikat mesovarium. Vaskularisasi dari cabang aorta abdominalis inferior terhadap arteri renalis.



B.   PENYAKIT – PENYAKIT PADA KELAMIN
1.      Sifilis
A.    Pengertian
Sifilis merupakan penyakit infeksi kronik sistemik vaskuler yang disebabkan oleh treponema pallidum/spiroketa, dikarakteristikkan dalam tingkat atau tahapan yang berbeda-beda.
B.     Etiologi
Bentuk dari treponema pallidum adalah spiral dengan panjang antara 6-15 um, lebar 0,15 um dan terdiri atas 8-24 lekukan, gerakannya berupa rotasi. Penularan penyakit ini dapat melalui :
a.       Berhubungan dengan orang yang terinfeksi dan hubungan seksual yang tidak aman.
b.      Transfusi darah
c.       Plasenta (ibu yang terinfeksi ke janin)
C.     Patofisiologi
a.       Fase Inkubasi
Pada fase ini treponema pallidum memasuki membran mukosa/menembus kulit, beberapa pathogen masuk menuju daerah limpa nodus dan memproduksi lesi yangakan timbul pada tahap primer.
b.      Fase Primer (10-90 hari, rata-rata 21 hari)
Pada stadium ini muncul lesi yang tidak nyeri keras dan tak bernanah yang disebut chancre. Chancre tumbuh pada vagina, serviks, skrotum dan rectum. Sebagai reaksi kompensasi maka terdapat limpa denopati pada seluruh tubuh. Jika pada titik ini tidak diobati maka chancre akan hilang tetapi T Pallidum akan berkembang dibawah kulit
c.       Fase Sekunder
Stadium ini akan muncul lesi merah kecoklatan yang menyeluruh pada tubuh (akan pecah 2-6 minggu). Karena tahap ini Treponema Pallidum sudah memasuki aliran darah maka penderita akan mengalami sakit kepala demam, nyeri sendi, kaku kuduk, kelainan kulit (berupa macula, papula, papulskuamosa, pustule).
d.      Fase Laten
Pada stadium ini tidak ditemukan tanda-tanda klinis dan hanya diketahui hasil serologi yang positif. Keadaan ini umumnya ditemukan pada pemeriksaan donor darah atau pemeriksaan kehamilan. Wanita hamil pada stadium ini dapat mengeluarkan penyakitnya pada janin sehingga diperlukan pemeriksaan pada ayah dan ibu bila ada riwayat kontak dengan penderita sifilis.
e.       Fase Tersier
Pada stadium ini tidak menular tetapi mengakibatkan kerusakan pada penderita dengan adanya kelainan khas berupa guma, lesi yang lunak, tuli, penyakit jantung, serangan koma, dan meninggal bila tidak diobati.
D.    Pemeriksaan Penunkang
Untuk menentukan diagnosis sifilis maka dilakukan pemeriksaan klinik, serologi atau pemeriksaan dengan mengunakan mikroskop lapangan gelap (darkfield microscope).Pada kasus tidak bergejala diagnosis didasarkan pada uji serologis treponema dan non protonema. Uji non protonema seperti Venereal Disease Research Laboratory ( VDRL ). Untuk mengetahui antibodi dalam tubuh terhadap masuknya Treponema pallidum.
Hasil uji kuantitatif uji VDRL cenderung berkorelasi dengan aktifitas penyakit sehingga amat membantu dalam skrining, titer naik bila penyakit aktif (gagal pengobatan atau reinfeksi) dan turun bila pengobatan cukup. Kelainan sifilis primer yaitu chancre harus dibedakan dari berbagai penyakit yang ditularkan melalui hubungan kelamin yaitu chancroid, granuloma inguinale, limfogranuloma  venerium, verrucae acuminata, skabies, dan keganasan ( kanker ).

2.      Gonorhoe
*      Pengertian
Gonorhea adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Neisseria Gonorhea yang pada umumnya ditularkan melalui hubungan kelamin, tetapi dapat juga secara langsung dengan eksudat yang infektif. (Dr.Soedarto, Penyakit-penyakit Infeksi di Indonesia,1990,Hal.74)
*      Etiologi
Penyebab pasti penyakit gonore adalah bakteri Neisseria gonorrhea yang bersifat patogen.Daerah yang paling mudah terinfeksi adalah daerah dengan mukosa epitel kuboid atau lapis gepeng yang belum berkembang pada wanita yang belum pubertas.
*      Patofisiologi
Neisseria gonorrhea

Kontak seksual
( Anus, orogenital, genital )

Infeksi mukosa                                 Faring                             Uretra,
Rectum (saluran anus)                                                             
(neonates)                                                                               konjungtifa          


Infeksi meivas
(prostat, vasdeferens, epididymis dan testis)
(kelenjar skena, bartholini, endometrium, tuba valopi, ovarium)

Gonorhoe
*      Pemeriksaan Penunjang
a.       Sediaan langsung
b.      Kultur (biakkan)
      Media transport (media stuart dan media transgraf)
      Media pertumbuhan (media Thayer – Martin)
c.       Tes definitive
      Tes oksidasi
      Tes fermentasi
d.      Tes beta – laktamse
e.       Tes Thomson
*      Pengobatan
v  Medikamentosa
§  Walaupun semua gonokokus sebelumnya sangansensitif terhadap penicilin, banyak ‘strain’ yang sekarang relatif resisten. Terapi penicillin, amoksisilin, dan tetrasiklin masih tetap merupakan pengobatan pilihan.
§  Untuk sebagian besar infeksi, penicillin G dalam aqua 4,8 unit ditambah 1 gr probonesid per- oral sebelum penyuntikan penicillin merupakan pengobatan yang memadai.
§  Spectinomycin berguna untuk penyakit gonokokus yang resisten dan penderita yang peka terhadap penicillin. Dosis: 2 gr IM untuk pria dan 4 gr untuk wanita.





3.      AIDS (Acquired Immune Deviciency Syndrome)
*      Pengertian
AIDS( Acquired Immune Deviciency Syndrome) adalah kumpulan gejalah penyakit menurunnya sistem kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Penyakit ini dicirikan dengan timbulnya berbagai penyakit infeksi,bakteri,jamur,parasit dan virus yang bersifat oportunistik/keganasan seperti sarkoma kaposi dan linfoma primer diotak(kapita selekta kedokteran, jilid 2;media Aesculopius)
Acquired Immune Deviciency Syndrome(AIDS) adalah suatau penyakit infeksi retrovirus yang ditandai oleh imunosupresi berat yang menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik,ngoplasma sekunder dan kelainan  neurologik.
*      Etiologi
HIV merupakan retrovirus  penyebab defisiensi imun. HIV ditemukan mantognier dkk pada tahun 1983.
AIDS disebabkan terutama oleh retrovirus RNA HIV – I tetapi HIV – 2 Juga dapat menyebabkan AIDS dan terutama dijumpai di afrika barat.
*      Patofisiologi
Cara penularan ada 3 yaitu :
1.      Hubungan seksusl, dengan resiko penularan 0,1 – 1  % tiap hubungan seksual melelui semen dan sektet vagina.
2.      Melalui darah yaitu :
-          Tranfusi yang mengandung HIV,resiko penularan  90- 98%
-          Tertusuk jarum yang mengandung HIN,resiko penularan 0,03 %
-          Terdapat mukosa yang mengandung HIV,resiko penularan 0,005 %
3.      Transmisi dari ke anak yaitu :
-          Selama kehamilan melalui plasenta
-          Saat persalinan , resiko penularan 50%
-          Melalui air susu ibu (ASI) 14%
Setelah masuk tubuh, virus menuju ke kelenjar limfe dan berada dalam sel denrik selama beberapa hari. Kemudian terjadi sindrom retreviral akut seperti flu(serupa infeksi mononucleosis)disertai viremia hebat dengan keterlibatan berbagai kelenjar limfe. Pada tubuh  timbul respon imun humoramaupun seluler. Sindrom ini akan hilang sendiri setelah 1-3 minggu. Kadar virus yang tinggi dalam darah diturunkan oleh system imun tubuh.
Proses ini berlangsung berminggu-minggu sampai  terjadi keseimbangan antara pembentukan vurus baru dan upaya eliminasi oleh respon imun. Titik keseimbangan yang disebut set point ini penting karena menuju AIDS akan berlangsung lebih cepat.
Serekonfersi (perubahan antibody menjadi positif) terjadi 1-3 bulan setelah infeksi,tetapi perna juga dilaporkan sampai 8 bulan. Kemudian pasien akan memasuki masa tanpa gejalah. Dalam masa itu terjjadi penurunan  terhadap jumlah CD4(jumlah normal 800-1000/mmᵌ)yang terjadi setelah replikasi persistem HIV dengan kadar RNA virus relative konstan.
CD4 adalah reseptor pada linfosit T4 yang target sel utama HIV. Pada awalnya penurunan jumlah CD4 sekitar 30- 60 /mmᵌ/tahun sehingga bila tanpa pengobatan rata-rata masa infeksi HIV sampai menjadi AIDS adalah 8-10 tahun. Dimana jumlah CD4 akan mencapai kurang dari 200/mmᵌ.
*      Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis laboratorium dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:
1.      Cara langsung yaitu isolasi virus dari sampel dengan mikrosop elekktron da deteksi antigen virus melalui polymerase chain reakction(PCR) untuk :
-          Tes HIV pada bayi karena zat anti pada dari ibu masih ada pada bayi sehingga menghambat serologis.
-          Menetapkan status infeksi pada individu seronegatif
-          Tes pada kelompok resiko tinggi sebelum terjadi serokonversi
-          Ter korvermasi untuk HIV-2 sebab sensitivitas ELISA untuk
2.      HIVCara tidak langsung yaitu melihat respon zat anti spesifik,tes misalnya:
-          Elisa,sensituvitsa tinggi(98,1 – 100%),biasanya memberikan hasil positif 2-3 bulan sesudah infeksi. Hasil positif harus dikomfirmasi dengan pemeriksaan wastren blot.
-          Wastern blot (spesifitsas tinggi 99,6- 100%),namun pemeriksaan ini cukup sulit,mahal dan membutuhkan waktu sekitar 24 jam. Mutlak diperlukan untuk komvirmasi hasil pemeriksaan ELISA positif.
-          Immunofloorescent assay (IFA)
-          Radio immunopraecipitation assay(RIPA)
*      Pengobatan
1.      Mediakomentosa
Dapat dicapai dengan diagnosis dini,pemberian zidovidin,pengobatan komplikasi,serta penggunaan antibiotik sebagai propilaksisecara luas. Khususnya untuk pneumonia karna P. corinii
a.       Infeksi dini
Zidovudin (zidu)              menghambat replikasi HIV dengan kerja enzim revorse transcriptase
Dosis zidovulin 500-600 mg/hari,pemberian 100 mg/4 jam sewaktu penderita terjaga
Efek samping antara lain anemia  dan neotropenia, gangguan gastroinstestinal dan penggunaan dapat terjadi miopat dan masuknya  virus dengan strain yanglah berkurang sensitvitasnya
Didonosis (DDI)             digunakan bila penderita  tidak toleren terhadap ZDU, dosis 2 x 100 mg/ 12 jam (BB < 60 kg) atau 2 x 125 mg/ 12 jam (BB >60kg)
b.      Propilaksis
Indikasi pemberian propilaksis untuk pneumocystis corinii pneumonia(PCP) ialah bila CD4 <200/mmᵌ, terdapat kandidosis oral yang berlangsung lebih dari 2 minggu  atau perna mengalami infeksi PCP dimasa lalu,sedangkan propilaksis pada reberclosis diberikan tes PPD 5 mm dengan idurasi.
c.       Stadium lanjud
Umumnya infeksi oportunistik yang mengancam jiwa,diperlukan penaganan multidispliner,diberikan ZDU dengan dosis awal 1000mg/hari dalam 4-5 kali pemberian (BB 70 kg)
d.      Pada fase terminal
Yakni penyakit sudah tidak teratasi,pengobatan yang diberikan hanya simtomatik dengan tujuan pasien merasa cukup enak, bebas dari rasa mual dan sesak mengatasi infeksi yang ada dan mengurangi rasa cemas.
2.      Non  Mediakomentosa
Karena belim ditemukan vaksin,maka upaya pencegahan dapat dilakukan menurunkan insiden penyakit ini adalah :
-          Pendidikan kepda kelompok yang berisiko terkena AIDS
-          Anjurkan bagi yang telah terinfeksi virus ini untuk tidak menyumbangkan darah,organ atau cairan semen dan mengubah kebiasaan seksualnya guna mencegah terjadinya penularan.
-          Skrining drah donor terhadap adanya antibody HIV.

4.      Benigna Prostat Hiperplasi ( BPH )
*      Pengertian
Hipertropi Prostat adalah hiperplasia dari kelenjar periurethral yang kemudian mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah.(Jong, Wim de, 1998).
Benigna Prostat Hiperplasi ( BPH ) adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika (Lab / UPF Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994 : 193).

*      Etiologi
Penyebab terjadinya Benigna Prostat Hipertropi belum diketahui secara pasti. Tetapi hanya 2 faktor yang mempengaruhi terjadinya Benigne Prostat Hypertropi yaitu testis dan usia lanjut.
*      Patofisiologi
Menurut Mansjoer Arif tahun 2000 pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan pada traktus urinarius.Pada tahap awal terjadi pembesaran prostat sehingga terjadi perubahan fisiologis yang mengakibatkan resistensi uretra daerah prostat, leher vesika kemudian detrusor mengatasi dengan kontraksi lebih kuat.
Sebagai akibatnya serat detrusor akan menjadi lebih tebal dan penonjolan serat detrusor ke dalam mukosa buli-buli akan terlihat sebagai balok-balok yang tampai (trabekulasi). Jika dilihat dari dalam vesika dengan sitoskopi, mukosa vesika dapat menerobos keluar di antara serat detrusor sehingga terbentuk tonjolan mukosa yang apabila kecil dinamakan sakula dan apabila besar disebut diverkel. Fase penebalan detrusor adalah fase kompensasi yang apabila berlanjut detrusor akan menjadi lelah dan akhirnya akan mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk kontraksi, sehingga terjadi retensi urin total yang berlanjut pada hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.
*      Pemeriksaan Penunjang
1.      Laboratorium
Meliputi ureum (BUN), kreatinin, elekrolit, tes sensitivitas dan biakan urin.
2.      Radiologis
Intravena pylografi, BNO, sistogram, retrograd, USG, Ct Scanning, cystoscopy, foto polos abdomen. Indikasi sistogram retrogras dilakukan apabila fungsi ginjal buruk, ultrasonografi dapat dilakukan secara trans abdominal atau trans rectal (TRUS = Trans Rectal Ultra Sonografi), selain untuk mengetahui pembesaran prostat ultra sonografi dapat pula menentukan volume buli-buli, mengukut sisa urine dan keadaan patologi lain seperti difertikel, tumor dan batu (Syamsuhidayat dan Wim De Jong, 1997).
3.      Prostatektomi Retro Pubis
Pembuatan insisi pada abdomen bawah, tetapi kandung kemih tidak dibuka, hanya ditarik dan jaringan adematous prostat diangkat melalui insisi pada anterior kapsula prostat.
4.      Prostatektomi Parineal
Yaitu pembedahan dengan kelenjar prostat dibuang melalui perineum.
*      Pengobatan
1.      Non Operatif
·         Pembesaran hormon estrogen & progesterone
·         Massase prostat, anjurkan sering masturbasi
·         Anjurkan tidak minum banyak pada waktu yang pendek
·         Cegah minum obat antikolinergik, antihistamin & dengostan
·         Pemasangan kateter.
2.      Operatif
Indikasi : terjadi pelebaran kandung kemih dan urine sisa 750 ml
Ø  TUR (Trans Uretral Resection)
Ø  STP (Suprobic Transersal Prostatectomy)
Ø  Retropubic Extravesical Prostatectomy)
Ø  Prostatectomy Perineal.

5.      Infeksi Saluran Kencing ( ISK )
*      Pengertian
Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Urinarius Tractus Infection (UTI) adalah suatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih.(Agus Tessy, 2001).
Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih.(Enggram, Barbara, 1998).
*      Etiologi
Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain:
a.    Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated (simple)
b.   Pseudomonas, Proteus, Klebsiella : penyebab ISK complicated
c.    Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci.
Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain:
a.       Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang kurang efektif
b.      Mobilitas menurun
c.       Nutrisi yang sering kurang baik
d.      Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral
e.       Adanya hambatan pada aliran urin
f.       Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat
*      Patofisiologi
Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui : kontak langsung dari tempat infeksi terdekat, hematogen, limfogen. Ada dua jalur utama terjadinya ISK, asending dan hematogen. Secara asending yaitu :
-          masuknya mikroorganisme dalm kandung kemih, antara lain: factor anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada laki-laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi, factor tekanan urine saat miksi, kontaminasi fekal, pemasangan alat ke dalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik, pemakaian kateter), adanya dekubitus yang terinfeksi.
-          Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal
Secara hematogen yaitu: sering terjadi pada pasien yang system imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu: adanya bendungan total urine yang mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal akibat jaringan parut, dan lain-lain.
*      Pemeriksaan Penunjang
1.      Urinalisis
-          Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih
-          Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis.
2.      Bakteriologis
-          Mikroskopis
-          Biakan bakteri
3.      Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik
4.      Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi.
5.      Metode tes
-          Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka psien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit.
-          Tes Penyakit Menular Seksual (PMS)
-          Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek).
-          Tes- tes tambahan:
Urogram intravena (IVU). Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau hiperplasie prostate. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten.

*      Pengobatan
Terapi Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut dapat dibedakan atas :
-          Terapi antibiotika dosis tunggal
-          Terapi antibiotika konvensional: 5-14 hari
-          Terapi antibiotika jangka lama: 4-6 minggu
-          Terapi dosis rendah untuk supresi
Pemakaian antimicrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan infeksi. Jika kekambuhan disebabkan oleh bakteri persisten di awal infeksi, factor kausatif (mis: batu, abses), jika muncul salah satu, harus segera ditangani. Setelah penanganan dan sterilisasi urin, terapi preventif dosis rendah.
Penggunaan medikasi yang umum mencakup: sulfisoxazole (gastrisin), trimethoprim/sulfamethoxazole (TMP/SMZ, bactrim, septra), kadang ampicillin atau amoksisilin digunakan, tetapi E. Coli telah resisten terhadap bakteri ini. Pyridium, suatu analgesic urinarius jug adapt digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat infeksi.
Pemakaian obat pada usia lanjut perlu dipikirkan kemungkina adanya:
·         Gangguan absorbsi dalam alat pencernaan
·         Interansi obat
·         Efek samping obat
·         Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui ginjal.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh, merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh, pada orang dewasa sekitar 2,7 – 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 – 1,9 meter persegi.
Kelamin dibagi menjadi dua yaitu : kelamin perempuan dan laki - laki
B.     Saran
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, olehh karena itu dibrutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun

Tidak ada komentar: