do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Minggu, 12 Oktober 2014

MAKALAH LESBI



BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
            Seiring dengan berkembangnya ilmu teknolgi yang menjadikan sarana untuk mendapatkan informasi tentang perkembangan sosial, sehingga dapat membuka wawasan kita tentang budaya luar yang masuk ke dalam budaya kita.Seperti yang kita ketahui bahwasannya budaya kita syarat akan adat istiadat atau norma-norma dalam kemasyarakatan dimana menjunjung tinggi nilai ketimuran.
Dalam kesempatan kali ini kita membahas penyimpangan seksual pada perempuan yang biasa kita kenal dengan sebutan LESBI. Hubungan seksual sejenis yang terjadi pada perempuan ini belum bisa diterima di Negara ketimuran,termasuk Negara kita.





B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan indikator adanya permasalahan yang dijabarkan dalam latar belakang tersebut di atas, maka dalam makalah ini masalah yang akan dijabarkan adalah sebagai berikut :
1.      Apakah yang dimaksud dengan lesbi?
2.      Mengapa terjadi penyimpangan seksual (Lesbi) ?
3.      Bagaimana Ciri-ciri kaum lesbian, dan upaya mengatasinya?

C.     Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah :
1.     Makalah ini dibuat untuk membahas tentang penyimpangan seksual (lesbi) yang terjadi di sekitar kita
2.     Mengetahui penyebab terjadinya penyimpangan seksual (lesbi)
3.     Mempelajari lebih dekat ciri-ciri kaum lesbian dan mencari tahu upaya untuk   menanggulanginya karena merupakan suatu bentuk penyimpangan seksual.



D.     Manfaat
Manfaat pembuatan makalah ini adalah :
1.     Dengan mempelajari penyimpangan seksual (lesbi) kita bisa mengenal lebih jauh tentang penyimpangan tersebut mulai dari asal mula tentang lesbi sampai upaya menanggulanginya.
2.     Menambah pengetahuan kita tentang penyimpangan seksual (lesbi)
3.     Memberikan informasi tentang penyimpangan seksual kepada para pembaca.











BAB II
PEMBAHASAN

A.   PENGERTIAN LESBI
Lesbi adalah sebuah hubungan emosional yang melibatkan rasa, cinta, dan kasih sayang dua manusia yang memiliki jenis kelamin sama. Pemahaman ini sama dengan pemaknaan kata homoseksual. Hanya, pada homoseksual belum mengacu kepada jenis kelamin tertentu dan masih bersifat luas.
Sedangkan lesbi lebih dimaknai bahwa pelaku aktifitas sejenis tersebut berasal dari kaum wanita. Lesbianisme tergolong dalam abnormalitas seksual yang disebabkan adanya partner-seks yang abnormal. Lesbianisme berasal sari kata Lesbos. Lesbos sendiri adalah sebutan bagi sebuah pulau ditengah Lautan Egeis, yang pada zaman kuno dihuni oleh para wanita (dalam Kartono, 1985). Homoseksualitas dikalangan wanita disebut dengan cinta yang lesbis atau lesbianisme. Memang, pada usia pubertas, dalam diri individu muncul predisposisi (pembawaan, kecenderungan) biseksuil, yaitu mencintai seorang teman puteri, sekaligus mencintai teman seorang pria.
Pada proses perkembangan remaja yang normal, biseksualitas bisa berkembang menjadi heteroseksual (menyukai lawan jenis). Sebaliknya jika prosesnya abnormal, misalnya disebabkan oleh faktor endogin atau eksogin tertentu, maka biseksualitas bisa berkembang menjadi lesbian, dan obyek-erotisnya adalah benar-benar seorang wanita. Pada umumnya, cinta seorang lesbianisme itu sangat mendalam dan lebih hebat dari pada cinta heteroseksual. Meskipun pada relasi lesbian, tidak didapatkan kepuasan seksual yang wajar. Cinta lesbian juga biasanya lebih hebat daripada cinta homoseksual diantar kaum pria.
Lesbianisme banyak distimulir oleh hormon eksogin dan faktor lingkungan. Lantas apakah Lesbianisme merupakan sebuah gaya hidup ataukah abnormalitas seksual? kami menyerahkan sepenuhnya kepada pembaca, dan yang mesti di ingat sebelum menyimpulkan adalah pada faktanya kaum lesbi menjadi sebuah gaya hidup para wanita ketika issue gender semakin menguat. Menuduh mereka abnormalitas seksual juga terlalu naif, karena lesbian Indonesia belum ada yang diteliti hormon penyebabnya. Bisa jadi semakin banyaknya lesbian Indonesia karena ‘ketidakmampuan’ laki-laki menempatkan perempuan dalam tempat yang seharusnya.
Di kota – kota besar, kehidupoan kaum lesbi lebih mulai terbuka. Jika sebelumnya para lesbi hanya berani sembunyi – sembunyi dalam melakukan aktifitasnya, kini mereka sudah berani menunjukkan eksistensinya. Salah satunya dengan membentuk organisasi yang mewadahi kaum lesbi tersebut.
Hal ini salahb satunya dipengaruhi oleh longgarnya penerapan norma susila dimasyarakat. Selain juga karena makin tingginya rasa individualisme di kota – kota besar. Apalagi pelaku seks bebas dikalangan mudah turut mempengaruhi meningkatnya pertumbuhan kaum lesbi ini.
Di Indonesia, lesbianisme rupanya berkembang cukup pesat dalam wilayah sosial kemasyarakatan. Kalau dulu, sebisa mungkin menyembunyikan jati dirinya, tapi saat ini mereka berhimpun dalam wadah atau organisasi yang semua orang bisa mengetahuinya. Lihat saja group-group lesbian yang bertebaran di facebook maupun situs-situs dewasa lainnya.
Lesbianisme tergolong dalam abnormalisme seksual yang disebabkan adanya partner seks yang abnormal. Lesbian berasal dari kata Lesbos. Lesbos sendiri adalah sebutan bagi sebuah pulau ditengah Lautan Egeis, yang pada jaman kuno dihuni oleh para wanita. Homoseksualitas (hubungan sejenis) di kalangan wanita disebut dengan cinta yang lesbis atau lesbianisme. Memang pada usia pubertas, dalam diri individu muncul predisposisi (pembawaan kecenderungan) biseksual yaitu mencintai seorang teman putri, sekaligus mencintai teman seorang pria.
Pada umumnya cinta seorang lesbi sangat mendalam dan lebih hebat dari pada cinta heteroseksual. Meskipun pada relasi lesbian tidak didapatkan kepuasan seksual yang wajar, cinta lesbian juga biasanya lebih hebat dari cinta homoseksual diantara kaum pria (gay/homo)

B.          PENYEBAB LESBIAN
Budaya seks bebas dikalangan remaja, menjadikan kaum perempuan sebagai korban, seperti :
1.     Tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari laki-laki
2.     Perempuan yang ditinggalkan pasangannya, setelah perempuan tersebut direnggut keperawanannya.
3.     Bisa juga perempuan yang ditinggal pacarnya yang tidak mau bertanggung jawab setelah si perempuan hamil.
4.     Trauma masa lalu, banyak pelaku lesbi yang merasa dendam pada lelaki, setelah pada masa kecil sering melihat ayahnya menyiksa sang ibu. Sehingga ketika dewasa, dendam yang dibalut rasa trauma menjadikan perempuan tidak percaya, enggan, benci yang mendalam, dan ati pati terhadap setiap lelaki.
5.     Lingkungan sekitar yang memicu untuk menjadi lesbi (berada di tengah-tengah para lesbian, lingkungan sekolah/asrama yang mayoritas atau bahkan seluruh siswanya adalah perempuan)
6.     Perkembangan teknologi yang membuat setiap orang dengan mudah  mengakses situs-situs dewasa, mulai dari hanya artikel lesbi, video seks lesbi dll melalui internet
Perbedaan perliaku juga menjadi satu faktor penyebab lesbi. Perempuan yang pada dasarnya menyukai kebersihan, kerapian, dan keindahan, seringkali tidak bisa menerima kebiasaan lelaki. Lelaki pada umumnya memiliki pola hidup yang tidak teratur, jorok, dan kurang perhatian pada pasangannya.
Dengan menjadi lesbi, para perempuan itu seperti mendapat kedamaian. Semua yang menjadi pola hidupnya bisa didapat dari pasangan lesbianya. Sebab, bagaimanapun seorang lesbi tetaplah perempuan, meski dalam hubungannya ada yang memposisikan diri sebagai lelaki.

C.     CIRI-CIRI LESBI
Orang yang menjadi lesbian tidak selalu mempunyai ciri yang kuat yang membedakan dengan yang tidak lesbian. Ciri yang sering muncul misalnya:
Memposisikan diri sebagai maskulin atau biasa dikenal sebagai “ Buchi” (peran pria pada pasangan lesbi) penampilannya sangat maskulin, punya hobi maskulin, posesif, menunjukkan ketertarikan pada wanita
1.     Sebaliknya ciri lesbi yang berperan sebagai feminim (Femmie), biasanya penampilannya dingin, ketergantungan tinggi pada pasangannya, tidak mandiri, sering cemas, jaga jarak dengan wanita lain yang bukan pasangannya, sentimentil, dan adem ayem saja dengan laki-laki.

D.   UPAYA PENCEGAHAN LESBI
Untuk mencegah budaya lesbi ini, ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan. Salah satunya melalui pendekatan agama. Agama manapun tentu tidak ada perintah untuk memilih pasangan hidup yang sejenis. Pendekatan ini bisa diperkuat dengan pendekatan kedua, yakni kesehatan yang mengacu pada proses reproduksi.
Di mana pada hakikatnya manusia yang menjalin hubungan adalah bertujuan untuk melanjutkan keturunan. Dan proses ini hanya bisa dicapai melalui adanya hubungan yang heteroseksual. Meski banyak pasangan yang berkilah bahwa untuk keturunan mereka bisa mengadopsi dari orang lain.
Tentu hal ini bukan pembenar. Dengan mengadopsi tersebut pada dasanya adalah sebuah pengakuan bahwa pilihan sebagai lesbi adalah salah. Sebab, naluri dasar manusia untuk menjadi orang tua, tidak bisa dipungkiri. Hanya rasa gengsi dan malu saja yang menutupi kemauan untuk sebuah pengakuan salah tersebut.
Sehingga dengan kondisi ini, sudah jelas bahwa lesbi adalah sebuah aktivitas yang memiliki banyak kelemahan. Baik dari sudut pandang agama, sosial maupun dari kesehatan. Dan pilihan untuk menjadi lesbi tersebut, pada dasarnya hanyalah sebuah pilihan emosional dan bukan sebuah pilihan rasional.


BAB III
PENUTUP

A.     KESIMPULAN
Lesbi adalah sebuah hubungan emosional yang melibatkan rasa, cinta, dan kasih sayang dua manusia yang memiliki jenis kelamin sama. Pemahaman ini sama dengan pemaknaan kata homoseksual. Hanya, pada homoseksual belum mengacu kepada jenis kelamin tertentu dan masih bersifat luas.
Sedangkan lesbi lebih dimaknai bahwa pelaku aktifitas sejenis tersebut berasal dari kaum wanita. Lesbianisme tergolong dalam abnormalitas seksual yang disebabkan adanya partner-seks yang abnormal. Lesbianisme berasal sari kata Lesbos. Lesbos sendiri adalah sebutan bagi sebuah pulau ditengah Lautan Egeis, yang pada zaman kuno dihuni oleh para wanita (dalam Kartono, 1985). Homoseksualitas dikalangan wanita disebut dengan cinta yang lesbis atau lesbianisme. Memang, pada usia pubertas, dalam diri individu muncul predisposisi (pembawaan, kecenderungan) biseksuil, yaitu mencintai seorang teman puteri, sekaligus mencintai teman seorang pria.
B.     SARAN
Makalah  ini masih memiliki berbagai jenis kekurangan olehnya itu kritik yang sifatnya membangun sangat kami harapkan.




















DAFTAR PUSTAKA

Moelyanto. KUHP (kitab undang- undang hukum pidana). Bina Aksara: Jakarta.
Ali Akbar. H. Dr. 1982. Seksualitas ditinjau dari Hukum Islam. Ghalia Indonesia: Jakarta.
Sayid Sabiq, Fiqh al- sunnah, vol. II, Libanon, Darul Fikar, 1981
Ann Landers. 1983.  Problema dan Romantika Remaja (Terjemahan). Bina Pustaka: Jakarta.
Moertihko. Transeksual dan Waria. Surya Murti publishing. Solo.
Ahmad Ramali, Dr. Memelihara Kesehatan dalam Hukum Islam. Balai Pustaka. Jakarta.
Hasan Ali. Masail Fiqhiyah al- haditsah pada Masalah-masalah Kontemporer Hukum Islam. PT. RajaGrafindo Persada: Jakarta.
Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhdi. Masail Fiqhiyah, Kapita Selekta Hukum Islam. CV. Haji Masagung. Jakarta.
Digilib.Uin.suka.ac.id/3939/BAB%201,V,%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf. ( di Download pada hari jum’at tanggal 22 Maret 2013 jam 20.00 wib)
Mulia, Siti Musdah dalam http://icrp-online.cb.net,akses 07 agustus 2008. ( di Download pada sabtu tanggal 23 Maret 2013 jam 16.00 wib)








DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR................................................................................   i
DAFTAR ISI…...........................................................................................   ii
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………….    1
A.     Latar Belakang…………………………………………… 1
B.     Rumusan Masalah………………………………………..  1
C.     Tujuan…………………………………………………….. 2
D.     Manfaat…………………………………………………..   2

BAB II PEMBAHASAN
A.          Pengertian lesbi……………………………….…………..         4
B.          Penyebab lesbian…………………………...……………..         7
C.          Ciri-ciri lesbi……………………………………….…….. 9
D.          Upaya pencegahan lesbi………………………………..   9

BAB IV PENUTUP
A.    Kesimpulan............................................................................................ 11
B.     Saran...................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………..  13







PENYIMPANGAN SEKSUAL (LESBI)
MAKALAH PSIKOLOGI


 











NAMA-NAMA KELOMPOK III
1.      SAPUTRI INDRAMAYU                                                              
2.      SITI ASRIWATI
3.      SITI SHOLIHATIN
4.       SITTI SULFANA DJ          
5.      SITI HAMBRIATI
6.      WA ODE ASYIRA
7.      WA ODE FRIATI
8.      WA ODE LISMAYANI
9.      WA ODE SYARIAH

AKPER PEMKAB MUNA
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas limpahan Rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan penyusunan tugas mata kuliah pengantar psikologi.Pada dasarnya, penyusunan makalah “Penyimpangan Seksual (LESBI)” ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar psikologi, selain itu dapat juga untuk memperluas pengetahuan kami tentang fenomenal penyimpangan seksual  (lesbi) yang belum kita ketahui.Demikianlah sekitar kata pengantar dari kami, mudah – mudahan isi yang ada dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. Namun demikian saya menyadari kekurang sempurnaan dalam makalah ini, oleh sebab itu saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat diharapkan. Terima kasih.
                                                              Raha,     September 2014 


                                                                            Penyusun

Poskan Komentar