do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Sabtu, 16 Januari 2016

Kesenian India



Kesenian India


Kebudayaan purba India berkembang sekitar 3000 SM di lembah sungai Indus – Pakistan. Dari beberapa hasil temuan ternyata sudah menunjukan suatu bentuk kebudayaan yang bermutu tinggi. Tetapi masih belum memberikan gambaran secara lengkap tentang peninggalannya, Karena masih belum banyak ditemukan.

Peninggalan – peninggalanya antara lain:

      Arsitektur India
Karya arsitektur India sama halnya dengan seni lainnya, ia pun dipengaruhi oleh unsur keagamaan. Beberapa arsitektur India seperti stupa, candi, dan kuil berkaitan dengan agama Budha, Hindu, dan Jaina. Artinya bangunan-bangunan itu selain berfungsi untuk tempat pemujaan juga tempat tinggal bikhsu. Misalnya komplek stupa selain sebagai monumen juga berfungsi tempat pemujaan, di situ ada chaitya dan wihara sebagai tempat pertemuan, tempat pemujaan dan sekaligus tempat tinggal bikhsu.
Bangunan-bagunan ini sebagai bukti sejarah kemajuan budaya India. Selain berarsitektur bagus bagunan-bagunan itu terbuat dari bahan batu. Bagunan yang terbuat dari bahan batu ini sangat tahan. Beberapa karya arsitektur India senantiasa menjadi bahan kajian dan bahasan karena di antara karya-karya seni India maka seni bagunan ini lah yang masih tersisa sebagai bukti  peninggalan sejarah.
Stupa merupakan salah satu bagunan suci berfungsi sebagai monumen peringatan Budha. Bangunan ini mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan budaya masyarakatnya. Pada awalnya bentuk stupa sangat sederhana, bagai onggokan tanah setengah lingkaran, kemudian berkembang dengan penambahan bentuk kiri, kanan, depan belakang, dan bagian atas. Bahannya pun berubah dari tanah menjadi batu. Walaupun bahan stupa dari tanah atau batu namun bila melihat arsitekturnya sangatlah bagus karena selain ada patung ada ornamen-ornamen.
Stupa yang merupakan tempat suci bagi penganut Budha sekaligus sebagai tempat pemujaan. Di dalam stupa tersimpat benda-benda suci. Perkembangan arsitektur stupa lebih banyak di luar India sebagaimana perkembangan agama Budha itu sendiri.
Arsitektur India lainnya adalah chaitya dan wihara, dua  bangunan ini tidak begitu sering dibahas. Bagunan ini berupa gua atau bukit yang dikerok. Umumnya bangunan ini sebagai tempat pertemuan, tempat tinggal bikhsu (bertapa atau menyendiri) dalam upaya menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi.
Chaitya dapat berupa stupa, altar, dan bahkan pohon karena maksudnya adalah tempat pemujaan. Chaitya yang dibuat di bukit bentuknya empat persegi panjang dengan ujung bagian dalam berupa setengah lingkaran tempat meletakkan patung budha. Kiri kanan menuju ceruk (setengah lingkaran) disangga oleh tiang, bagian atas melengkung, bagian depan atau pintu masuk dihiasi dengan berbagai relief.
Chaitya yang paling tua dibuat sekitar 150 SM yaitu chaitya Bahaja. Perkembangan arsitektur chaitya selanjutnya dalam bentuk penambahan interior dan eksteriornya, ukuran, dan bahan-bahan yang digunakan. Chaitya yang terkenal terdapat di Karli dan dibuat pada masa dinasti Andhra abad ke 1 dan ke 2 M.
Kemampuan dalam menggali bukit, menyangga, dan membuat ornamen menunjukkan telah majunya budaya India pada abad ke 1 M. Pada pintu masuk chaitya tampak kesan keanggunan dan sekaligus juga kesan ritual. Pemilihan lokasi juga sangat menentukan perpaduan antara ritualitas dan seni bangunan.
Wihara atau juga ada yang menamakan bihara adalah tempat tinggal bikhsu untuk melaksanakan kebaktian. Sebelum datangnya agama budha ke India maka orang-orang India sudah terbiasa hidup menyepi dalam menghindari diri dari keramainan. Kebiasaan ini menjadi subur ketika agama Budha berkembang di India, sehingga banyak pula dijumpai wihara peninggalan arsitektur India.
  Sama halnya dengan chaitya maka wihara juga bukit yang dikerok. Bedanya denah wihara bujur sangkar sebagai tempat utama pertemuan kemudian di sekelilingnya terdapat ruang-ruang kecil tempat bikhsu. Awalnya wihara hanya tempat tinggal bikhsu kemudian dilengkapi dengan patung budha sehingga fungsinya juga berkembanag sebagai tempat pemujaan.  Wihara yang terkenal terdapat di Ajanta yang dibangun pada abad ke 2 sampai abad ke 7 M.

      Seni Lukis India
a. Sejarah dan perkembangan seni lukis India tidak semaju perkembangan seni patung dan arsitekturnya. Data tentang seni lukis India amat terbatas terutama data-data seni lukis masa-masa dinasti yang berkuasa di India. Namun seni lukis India tentulah tetap ada sebagaimana ditemukannya lukisan yang terdapat di gua Ayanta.
        Seni lukis zaman Ayanta ini merupakan seni lukis yang dianggap menemukan tingkat kemajuan yang tinggi waktu itu. Ada dua tahap perkembangan seni lukis masa ini yakni pertama abad 2 AD dan tahap kedua pada abad ke 5 AD di bawah naungan Vakatakas yang memerintah di Deccan.



b. Karya-karya lukis dibuat dari filosofi yang dalam, yang anggun dan agung. Bila dilihat dari teknik seni lukis moderen maka lukisan sudah sangat maju. Hal ini dapat dilihat sudah adanya pemahaman perspektif yang dapat dilihat pada bagian tiang-tiang.Objek gambaran adalah adegan dari kehidupan Budha dan Jatakas, cerita orang melahiran. Lukisan ini membawa kita ke keindahan besar dengan sangat halus terhadap makna hidup dan berbagai tahapan realita. Pencari kebenaran yang dilukis pada dinding goa Ayanta, merupakan penggambaran kehidupan roh yang meliputi seluruh dunia
        Gambar : Mumtaz Mahal
                                           


3. Seni Patung dan Relief India
    
Wujud Ganesa didapati dalam kesenian Hindu di Jawa, Bali, dan Kalimantan yang menunjukkan pengaruh regional yang spesifik. Penyebaran budaya Hindu secara perlahan-lahan ke Asia Tenggara telah membuat wujud Ganesa dimodifikasi di Burma, Kamboja, dan Thailand. Di Vietnam agama Hindu dan Buddha dijalankan dengan berdampingan, dan pengaruh timbal balik bisa dilihat dalam penggambaran Ganesa di wilayah itu. Di Thailand, Kamboja dan di Vietnam, Gane saterutama dianggap sebagai penyingkir segala rintangan. Bahkan kini oleh umat Buddhadi Thailand, Ganesa dihormati sebagai penyingkir segala rintangan, atau dewa keberhasilan.Sebelum kedatangan Islam, Afghanistan memiliki ikatan budaya yang erat denganIndia, dan pemujaan terhadap dewa-dewi Hindu maupun Buddha sama-sama dijalankan. Beberapa contoh arca dari abad ke-5 sampai abad ke-7 telah bertahan,mencerminkan bahwa pemujaan Ganesa adalah hal yang populer di wilayah itu.Ganesa muncul dalam agama Buddha Mahayana, tidak hanya dalam wujud dewa Vinayaka dalam agama Buddha, namun juga sebagai wujud raksasa dengan nama yang sama. Citranya muncul dalam arca-arca agama Buddha selama akhir masa kerajaan Gupta.

Meskipun ia dikenal memiliki banyak atribut, kepalanya yang berbentuk gajah membuatnya mudah untuk dikenali. Ganesa Mahsyur sebagai "Pengusir Segala Rintangan" dan lebih umum dikenal sebagai "Dewa saat memulai pekerjaan" dan "Dewa Segala rintangan" (Wignesa, Wigneswara), "Pelindung seni dan ilmu pengetahuan", dan"Dewa kecerdasan dan kebijaksanaan". Ia dihormati saat memulai suatu upacara dan dipanggil sebagai pelindung atau pemantau tulisan saat keperluan menulis dalam upacara Beberapa kitab mengandung anekdot mistis yang dihubungkan dengan kelahirannya dan menjelaskan ciri-cirinya yang tertentu. Ganesa diidentikkan dengan mantra Aum dalam agama Hindu.











Daftar Pustaka


















KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga atas rahmat dan hidayahnya kami dapat menyusun sebuah makalah yang bertemakan tentang  “Seni Rupa India” meskipun bentuknya sangat jauh dari kesempurnaan, selanjutnya salawat dan salam kami kirimkan kepada Nabi BesarMuhammad SAW yang sebagaimana telah mengangkat derajat manusia dari alam kegelapan menuju alam yang terang benderang. Dalam penulisan makalah, kami memberikan sejumlah materi yang terkait dengan materi yang disusun secara langkah demi langkah, agar mudah dan cepat dipahami oleh pembaca. Kami juga tidak lupa berterima kasih kepada Guru Pembimbing. Sebagai manusia biasa tentu kami tidak dapat langsung menyempurnakan makalah ini dengan baik, oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari Guru Pembimbing maupun pembaca.
 





Raha, 11 Januari 2016



KELOMPOK  III
Posting Komentar