do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Jumat, 22 Juni 2012

Peluang Bisnis Anyaman Blarak Kelapa untuk Pendapatan anda





Berani memulai. Itulah prinsip hidup yang dipegang oleh pemuda lajang bernama Dwi Hartanto (38). Warga dusun Cawan Argodadi Sedayu Bantul ini dulu bekerja di perusahaan traktor terkenal di Yogya.

Sebagai karyawan swasta, dia tidak jenak. Beban kerja dan aktivitas kesehariannya dianggap monoton. Sehingga merasa tidak ada tantangan hidup. Lantas dia memutuskan keluar kerja. Lalu mencoba mengadu nasib. Merantau ke Jakarta.

Ternyata, jak bukak iket blangkon, sama juga sami mawon. Begitu pepatang bilang. Jakarta yagn semula diharapkan bisa menjadi tumpuan masa depan, ternyata hanya sebuah ilusi. Bahkan hampir menenggelamkan dirinya dalam ketidakjelasan arah hidup.

Meskipun sudah bekerja pada salah satu perushaaan jasa konstruksi ternama, tapi Hartanto merasa belum menemukan keinginannya. Pekerjaan itu tidak sesuai dengan panggilan hati. Apalagi biaya hidup di Jakarta sangat tinggi. Gaji hanya cukup untuk kontrak kamar, transpor dan makan.

Jakarta bukan habitatnya untuk hidup merdeka. Maka dia harus ambil keputusan lagi, keluar dan pulang kampung. “Saya ini orangnya jelehan, mas. Jadi bekerja yang tidak ada tantangannya apalagi monoton, sepertinya tidak sreg,” uangkapnya.

Selanjutnya mau kerja apa?

Itu pertanyaan besar yang semula menjadi hantu dalam pikirannya. Kalau kerja menjadi karyawan atan buruh, pasti akan mengulang kejemuan yang sama. Lagi pula dengan ijasah SLTA, mau kerja apa selain buruh atau tenaga kasar alias gedibal. Tanpa sengaja dia baca peluang usaha di hardian Kedaulatan Rakyat. Ada pengusaha yang siap membeli produk kerajinan apapun jenis dan bentuknya dari masyarkat.

Ada ide, tapi belum pernah bikin. Nah inilah awal, bernai memulai. Di sekitar tempat tinggalnya banyak sekali blarak (daun kelapa) tua yang hanya digunakan sebagai kayu bakar.

Pikirnya apa tidak mungkin membuat kerajinan dari bahan dasar blarak tua. Perocobaan pun dilakukan. Awalnya menganyam blarak tua itu apa adanya. Hasilnya tidak bagus.

Lantas percobaan terus dilakukan dengan berbagai metode dan inovasi baru. Hartanto yakin, pasti ada nilai yang lebih dari blarak tua. Sampai akhirnya ditemukan rahasianya. Ternyata dibalik warnanya yang kusam dan tidak menarik itu, tersimpan keindangan tekstur dan kekuatan (wulet), jika melalui proses pengovenan. Maka dilakukan proses pengovenan dengan cara distrika. Pun tidak sembarang strika, harus dengan strika arang.

“Saya memulai dengan menganyam blarak tua yang sudah distrika. Ternyata warnanya sangat bagus dan natural. Tanpa bahan pengawet, ternyata blarak memiliki minyak yang mampu menolak jamur,” ungkap Hartanto yang mengaku secara kebetulan saja menemukan metode itu dari proses panjangnya.

Menurut Hartanto, untuk mendapatkan kualitas blarak yang benar-benar bagus, memang sulit. Karena sebagian besar blarak itu pasti memiliki cacat. Sehingga proses kualiti kontrol dilakukan sejak membeli blarak dari petani sampai proses pengovenan terus dilakukan.

Hanya blarak utuh yang bisa digunakan untuk produk kerajinan. Untuk mendapatkan blarak yang bagus, sengaja di ambil dari Kulonprogo. Menurutnya blarak dari sana memiliki rentang daun yagn lebar dan wulet.

Berkat inovasinya itu, kini blarak tua menjadi bernilai ekonomis. Harganya pun cukup lumayan. Satu ikat ukuran besar, biasa dibeli Rp. 5 ribu.

Tentunya blarak itu harus memenuhi syarat pokok, yaitu kering di pohon. Bukan itu saja. Dari usaha ini juga membuka kesempatan kerja baru bagi sebagian ibu-ibu di kampungnya. Mereka bekerja sebagai penganyam blarak.

Berkat keuletan dan ketekunannya, kini Hartanto terbebas dari rutinitas yang menjemukan. Dia selalu membuat rancangan produk baru berbahan anyaman blarak yan geksotis. Sampai saat ini sudah puluhan varian produk yang dihasilkannya. Mulai dari pigura, kotak tempat tissue, vas bunga, sampai barang fungsional lainnya seperti nampan dan tatakan gelas.

Untuk mpemasaran, selama ini tidak ada kendala. Produk bikinan Hartanto, 90 persen memenuhi permintaan ekspor ke Jepang dan Eropa. Ada beberapa trading yang secara kontinyu selalu memberi order. Sehingga untuk menggarap pasar lokal, baru di beberapa kota yang bisa dipenuhi. Di antaranya Jakarta dan Bali.

“Saya terbentur modal, mas. Sebenarnya prospek pasar sangat bagus,” paparnya sembari memberikan gambaran perolehan omzet perbulannya yang mencapai angka puluhan juta rupiah.

Sejak tahun 2000 usaha ini berjalan. Tapi, kadang ada ganjalan. Beberapa kali dia kena kemplang (tak dibayar). Tapi itu tidak membuatnya jera. Sekarang, dengan keterbatasan modal, dia lebih selektif dalam melayani permintaan. Hanya mereka yang sudah dikenal dan mau memberikan bayar kontan yang bisa dilayani. Jika ada mdoal yang cukup besar, kemungkinan untuk lebih berkembang dan tentunya akan lebih banyak menyerap tenaga kerja local. Begitu harapannya.

Poskan Komentar