do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Kamis, 18 Februari 2016

LAPORAN PENDAHULUAN ABORTUS IMMINEN



LAPORAN PENDAHULUAN
ABORTUS IMMINEN

A.    PENGERTIAN
·           Abortus adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, di mana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks.  (Wiknjosastro, 2005:305)
·           Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat”tertentu”)pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan. (Saifuddin, .2007:145)
·           Abortus adalah berakhirnya ssuatu kehamilan, bisa terdapat gejala kehamilan dini. Kram ringan dengan perdarahan. Serviks panjang dan tertutup. Uterus sesuai dengan usia kehamilan, secara kasar 50% memburuk menjadi abortus insipiens. (Graber, 2006:368)
·           Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buih kehamilan belum mampu hidup di luar kandungan. (Kusmiyati, 2009:149)
·           Abortus adalah usaha mengakhiri kehamilan dengan mengeluarkan hasil pembuahan secara paksa sebelum janin mampu bertahan hidup , jika dilahirkan. (Varney. 2007:604)

B.     ETIOLOGI
Insiden, 15% sampai 25% dari kehamilan yang dikenali secara klinis, mungkin mendekati 50% dari semua konsepsi. (Graber, 2006:368)
Penyebab abortus merupakan gabungan dari beberapa faktor .Umumnya abortus didahului oleh kematian janin.
Faktor-faktor yang yang dapat menyebabkan terjadinya abortus adalah:
1.      Faktor Janin
Kelainan yang sering dijumpai pada abortus adalah kelainan perkembangan zigot , embrio, janin atau plasenta. Kelainan tersebut biasanya menyebabkan abortus pada trimester pertama, yakni:
a.       Kelainan telur,telur kosong (blighted ovum),kerusakan embrio,atau kerusakan kromosom(monosomi,trisomi,atau poliploidi)
b.      Embrio dengan kelainan lokal
c.       Abnormalitas pembentukan plasenta (hiplopasi trofoblas)
(Cunningham, 2005:952)
                        Produk konsepsi yang abnormal menjadi penyebab terbanyak dari abortus spontan. Paling sedikit 10% hasil konsepsi manusia mempunyai kelainan kromosom dan sebagian besar akan gugur. (Benson, 2008:297)
2.      Faktor Maternal
a.    Infeksi
Infeksi maternal dapat membawa dapat membawa resiko bagi janin yang sedang berkembang , terutama pada akhir trimester pertama atau awal trimester kedua. Tidak diketauhi penyebab kematian janin secara pasti, apakah janin yang menjadi terinfeksi ataukah toksin yang dihasilkan oleh mikroorganisme penyebabnya.Penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan abortus:
b.   Virus
Misalnya rubella, sitomegalo virus, virus herpes simpleks, varicella zoster, vaccinia, campak, hepatitis, polio,dan ensefalomeilitis.
c.    Bakteri- misalnya Salmonella typi.
d.   Parasit- misalnya Toxoplasma gondii, plasmodium.
e.    Penyakit vaskular-misalnya hipertensi vaskular
f.    Penyakit endrokin
Abortus spontan dapat terjadi bila produksi progesteron tidak mencukupi atau pada penyakit disfungsi tiroid:defisiensi insulin.
g.   Faktor Imunologis
Ketidakcocokan (Inkompatibilitas) sistem HLA (Human Leukocyte Antigen)
h.   Trauma
Kasusnya jarang terjadi, umumnya abortus terjadi segera setelah trauma tersebut, misalnya trauma akibat pembedahan:
·      Pengangkatan Ovarium yang mengandung korpus luteum gravidatum sebelum minggu ke-8
·      Pembedahan intraabdominal dan operasi pada uterus pada saat hamil.
i.     Kelainan Uterus
Hipoplasia uterus , mioma(terutama mioma submukosa),serviks inkompeten atau retroflexio uteri gravidi incarcerata.
j.     Faktor psikosomatik _pengaruh dari faktor ini masih dipertanyakan.
(Benson, 2008:298)
3.      Faktor Eksternal
a.     Radiasi
Dosis 1-10 rad bagi janin pada usia 9 minggu pertama dapat merusak janin dan dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan keguguran.
b.     Obat-obatan
Antagonis asam folat,antikoagulan,dan lain-lain.Sebaiknya tidak menggunakan obat-obatan sebelum kehamilan 16 minggu, kecuali telah di buktikan bahwa obat tersebut tidak membahyakan janin ,atau untuk pengobatan penyakit ibu yang parah.
c.    Bahan-bahan kimia lainnya, seperti bahan yang mengandung arsen dan benzen.
(Wiknjosastro, 2007:303)



C.    KLASIFIKASI
1.    Berdasarkan Terjadinya
a.    Abortus spontan
    Keluarnya hasil konsepsi tanpa intervensi medis maupun mekanis
b.    Abortus buatan
    Sengaja dilakukan sehingga kehamilan dapat di akhiri
     (Wiknjosastro, 2008)
2.    Berdasarkan pelaksanaanya:
a.    Abortus provokatus artificialis atau Abortus therapeuticus
    Indikasi abortus untuk kepentingan ibu, misalnya :penyakit jantung,hipertensi esensial, dan karsinoma serviks. Keputusan ini ditentukan oleh tim ahli yang terdiri dari dokter ahli kebidanan , penyakit dalam psikistri atau psikolog.
b.    Abortus buatan kriminal
    Pengguguran kehamilan tanpa alasan medis yang sah atau oleh orang yang tidak berwenang dan dilarang oleh hukum atau di lakukan oleh yang tidak berwenang.
c.    Unsafe Abortion
    Upaya untuk terminasi kehamilan muda dimana pelaksana tindakan tersebut tidak mempunyai cukup keahlian dan prosedur standar yang aman sehingga dapat membahayakan keselamatan jiwa pasien.
    (Wiknjosastro, 2008)
3.    Berdasarkan gambaran klinisnya:
a.    Abortus Imminens
    Terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, di mana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks.
b.    Abortus insipiens
     Abortus yang sedang berlangsung dengan ostium sudah terbuka dan ketuban yang teraba.
c.    Abortus completus
     Seluruh hasil konsepsi di keluarkan (desidua dan uterus), sehingga rongga rahim kosong.
d.   Abortus Incompletus
Hanya sebagian dari hasil konsepsi  yang di keluarkan , yang tertinggal adalah desidua atau plasenta.
e.    Abortus servikalis
Keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi oleh ostium eksternum yang tak terbuka sehingga semuanya berkumpul dalam kanalis servikalis.
f.     Abortus Habitualis
Abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut.
g.    Abortus Infeksiasus, abortus septik
Abortus infeksiasus adalah abortus yang disertai infeksi pada genetalia, sedangkan abortus septik adalah abortus infeksiasus berat disertai penyebaran kuman atau toksin ke dalam peredaran darah atau peritoneum.
h.    Missed Abortion
Kematian janin berusia sebelum 20 minggu , tetapi janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih.
   (Wiknjosastro, 2007:305-308)

D.    FAKTOR PRESDIPOSISI
Alasan utama terjadinya keguguran pada awal kehamilan ialah kelainan genetik,yang mencapai 75 hingga 90% total keguguran.Alasan lain terjadinya adalah kadar progesteron yang tidak normal, kelainan pada kelenjar tiroid , diabetes yang tidak terkontrol, kelainan pada rahim ,infeksi dan penyakit autonium.
 (Varney, 2007:604)

E.     TANDA   DAN GEJALA
1.      Abortus Imminens
a.       Kram perut bagian bawah
b.      Perdarahan sedikit dari jalan lahir
c.       Fleksus ada(sedikit)
d.      Ostium uteri tertutup
e.       Ukuran uterus sesuai dengan usia kehamilan
f.       Uterus Lunak
2.      Abortus Insipiens
a.       Disertai nyeri/kontraksi rahim
b.      Pendarahan dari jalan lahir
c.       Perdarahan sedang hingga banyak
d.      Ostium Uteri terbuka
e.       Ukuran uterus sesuai dengan usia kehamilan
f.       Buah kehamilan masih dalam rahim, belum terjadi ekspulsi hasil konsepsi
g.      Ketuban utuh(menonjol)
3.      Abortus Incomplitus
a.       Kram perut bagian bawah
b.      Pendarahan banyak dari jalan lahir
c.       Pendarahan sedang hingga banyak
d.      Ostium uteri terbuka
e.       Ukuran uterus sesuai dengan usia kehamilan
4.      Abortus Komplitus
a.       Nyeri perut bagian bawah sedikit atau tidak ada
b.      Perdarahan dari jalan lahir sedikit
c.       Perdarahan bercak sedikit hingga sedang
d.      Teraba sisa jaringan buah kehamilan
e.       Ostium uteri tertutup , bila ostium terbuka teraba rongga uterus kosong
f.       Ukuran uterus sesuai dengan usia kehamilan
5.      Missed Abortion
a.       Buah dada mengecil
b.      Tanpa nyeri
c.       Pendarahan bisa ada atau tidak
d.      Hilangnya tanda kehamilan
e.       Tidak ada bunyi jantung janin
f.       Berat badan menurun
g.      Fundus uteri lebih kecil dari umur kehamilan
(Kusmiyati, 2009:150-152)

F.     PATOFISIOLOGI
Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya (Wiknjosastro, 2007:303-305).
Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan (Wiknjosastro, 2007:303-305). Mekanisme diatas juga terjadi atau diawali dengan pecahnya selaput ketuban lebih dulu dan diikuti dengan pengeluaran janin yang cacat namun plasenta masih tertinggal dalam cavum uteri.
Plasenta mungkin sudah berada dalam kanalis servikalis atau masih melekat pada dinding cavum uteri. Jenis ini sering menyebabkan perdarahan pervaginam yang banyak. (Widjanarko, 2009).
Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum),janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus (Wiknjosastro, 2007:303-305). Janin biasanya sudah dikeluarkan dan diikuti dengan keluarnya plasenta beberapa saat kemudian. Kadang-kadang plasenta masih tertinggal dalam uterus sehingga menyebabkan gangguan kontraksi uterus dan terjadi perdarahan pervaginam yang banyak. Perdarahan umumnya tidak terlalu banyak namun rasa nyeri lebih menonjol (Widjanarko, 2009).

G.    PEMERIKSAAN PENUNJANG ABORTUS IMMINENS
·         Hasil USG Menunjukkan:
1.        Buah kehamilan masih utuh,ada tanda kehidupan janin.
2.        Meragukan
3.        Buah kehamilan tidak baik, janin mati.
        (Kusmiyati, 2009:150)
4.        Tes kehamilan positif jika janin masih hidup dan negatif bila janin sudah mati
5.        pemeriksaan Dopler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
6.        pemeriksaan fibrinogen dalam darah pada missed abortion
·            Data laboratorium:
1.    Tes urine
2.    hemoglobin dan hematokrit
3.    menghitung trombosit
4.    kultur darah dan urine
·         Pemeriksaan ginekologi :
1. Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi, tercium bau busuk dari vulva
2.  Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri, osteum uteri terbuka atau sudahtertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.
3. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri. (Ratihrochmat, 2009)

H.    PENATALAKSANAAN ABORTUS IMMINENS
·         Istirahat – baring. Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan, karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsangan mekanik.
·         Anjurkan Untuk tidak melakukan aktivitas fisik secara berlebihan atau melakukan hubungan seksual.
·         Bila perdarahan:
ü  Berhenti: Lakukan asuhan antenatal terjadual dan penilaian ulang bila terjadi perdarahan lagi.
ü  Terus Berlangsung: Nilai kondisi janin (uji kehamilan / USG).Lakukan konfirmasi kemungkinan adanya penyebab lain (hamil ektopik atau mola hidatitosa)
ü  Pada fasilitas kesehatan dengan sarana terbatas , pemantauan hanya dilakukan melalui gejala klinik dan hasil pemeriksaan ginekologik.
Jenis hormon
Dosis awal
Dosis pemeliharaan
Ditrogesteron
40mg per oral
10mg setiap 8 jam
Alilesterenol
20mg per oral
5mg setiap 8 jam
Hidroksiprogesteron kaproag
500 mg intramuskuler
250mg setiap 12 jam,bila
ada perbaikan, lanjutkan dengan 250mg perhari hingga 7 hari setelah perdarah berhenti.
 (Saifuddin, 2007:149)
·      Terapi defesiensi hormon pada abortus iminen
·      Asam mefenamat
Digunakan sebagai anti prostaklandin dan penghilang nyeri tetapi efektifitasnya dalam mengatasi ancaman abortus, belum dapat dikatakan memuaskan.
·      Penenang penobarbital 3x30 gram valium
·      Anti pendarahan: Adona ,Transami
·      Vit B Komplek
·      Hormon progesteron
·      Penguat plasenta: gestanom,dhopaston
·      Anti kontraksi Rahim:Duadilan,papaverin

I.       KOMPLIKASI
1.      Perdarahan
2.      Perforasi
3.      Infeksi
4.      Syok
a.       perdarahan yang banyak disebut syok nemoragik
b. infeksi berat atau sepsis disebut syok septic atau endoseptik
      (Wiknjosastro, 2007:311-312)

Poskan Komentar