do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Kamis, 18 Februari 2016

PERKEMBANGAN SENI KRIYA DI INDIA



Tugas makalah

“PERKEMBANGAN SENI KRIYA DI INDIA”

DISUSUN OLEH :
1.      WA ODE HENI
2.      MILDA APRIANTI
3.      SAHRIANI NURAINI
4.      LD. ALHAM SIRAS
5.       












BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal seni rupa. Seni rupa merupakan hasil interpretasi dan tanggapan pengalaman manusia dalam bentuk visual dan rabaan. Seni rupa terdiri atas seni rupa murni dan seni kriya.
Seni rupa murni mengacu pada ungkapan pikiran perasaan meliputi, seni lukis, seni patung, dan seni grafis. Sedangkan seni kriya menekankan pada keterampilan teknik pembuatan karya dengan hasil berupa karya kriya fungsional dan non funsional.
Selama berabad-abad seni India dan kerajinan telah dibedakan untuk nilai besar mereka estetika dan fungsional. Pada zaman kuno, shilpis dikonsep desain yang rumit dan pola, yang dibuat menyakitkan ke kuil dan benda-benda yang berhubungan dengan mereka. India memiliki berbagai terluas kerajinan di mana saja di dunia. Namun beragam dan rumit berbagai bentuk kerajinan yang dihasilkan oleh pengrajin India, akar dari proses kreatif selalu tradisi tukang. Ini menyajikan baik kanvas terluas kegiatan kreatif dan spektrum luas pembangunan.

A.      RUMUSAN MASALAH

1)      Bagaimana perkembangan seni kriya di INDIA ?
2)      Apa saja contoh/hasil peninggalan karya seni kriya INDIA?









BAB II
PEMBAHASAN
A. Sekilas Sejarah India
India berasal dari nama salah satu sungai yang ada di jazirah ini yaitu sungai Sindu. Untuk mengetahui penduduk pertama yang mendiami jazirah India sampai saat ini belum dapat diketahui secara pasti. Akan tetapi bila dirujuk lebih awal ke sejarah turunnya manusia ke bumi, maka manusia pertama sebagai nenek moyang manusia, Siti Hawa diturunkan Allah disekitar jazirah India. Begitu juga bila melihat secara geografi maka India dahulunya diyakini bertautan dengan Indonesia dan benua Australia. Hanya saja setelah itu dipisahkan karena pergeseran-pergeseran lempeng bumi dan naiknya air pada masa glacial.
Negeri ini telah memiliki taraf kemajuan kebudayaan semenjak 2.300 SM. Bukti kemajuan itu diketahui dari penyelidikan terhadap dua buah kota kuno yaitu Harappa dan Mohenjo-Daro. Dari hasil penyelidikan atas kemajuan kebudayaan India ini ditemukan seni bangunan, kemampuan menulis, gudang-gudang tempat menyimpan makanan, dan tepian tempat mandi. Kemajuan India dalam soal beragamapun juga telah lama sebelum nabi Isa a.s lahir. Dari jazirah ini pula lahir agama Brahmana dan Budha Gautama.
Perkembangan sejarah India yang begitu panjang tentu meliputi sejarah kesenian mereka. Khusus tentang sejarah seni rupa India yang diketahui sekarang dan dikaji dimulai pada masa bangsa Arya menyerbu daerah ini sekitar 2.000 – 1.200 SM. Bangsa  Arya ini mendesak penduduk yang telah mendiami India yakni bangsa Drawida.
Sejarah perkembangan India selanjutnya dipengaruhi dan diwarnai dengan munculnya kerajaan-kerajaan besar di jazirah ini. Hubungannya dengan luar negeri dan agama juga
memberi andil dalam mempengaruhi perkembangan budaya negeri ini. Agama yang dominan mempengaruhi sejarah India adalah Hindu, Budha dan Islam. India yang dimaksud dalam sejarah ini meliputi negara India, Pakistan, Banglades, dan Sri Langka. Tiga negara terahir (Pakistan, Banglades, dan Sri Langka) yang merupakan bahagian dari India sebelumnya kemudian berpisah menjadi negara merdeka.


B. Seni Rupa India

Ada berbagai karya seni rupa India yang menonjol dan memberi pengaruh terhadap perkembangan seni rupa Indonesia. Karya seni rupa India yang memberi pengaruh besar itu adalah arsitektur seperti candi dan bangunan lainnya, lukisan dan ukiran/ relief yang bersumber cerita mahabrata. Sejarah India kuno memiliki berbagai macam hasil kebudayaan, antara lain  seni lukis, seni patung, seni bangunan (arsitektur), seni kerajinan, seni busana dan lain sebagainya. Disetiap kebudayaan memiliki perbedaan masing-masing dan juga memiliki pengaruh ke Indonesia.
Karya-karya seni rupa India terutama lukisan sudah ditemui semenjak zaman prasejarah sekitar 5.500 SM. Perkembangan seni rupa India seiring dengan perkembangan budaya dan masuknya pengaruh agama. Sebagaimana diketahui karya seni di India tidak semata-mata bertujuan keindahan melainkan ditujukan untuk pemujuan dan  memperdalam kehidupan kerohanian. Pengaruh agama seperti Budha, Hindu, dan Islam banyak menjadi insipiarsi seniman dalam berkarya.
Dalam mengapresiasi seni rupa India harus dipahami latar belakang agama yang mendasarinya. Karya-karya seni rupa India bersifat simbolis tidak dibuat berdasarkan ekspresi tok. Ada aturan-aturan tertentu dalam membuat karya, aturan-aturan itu sangat baku seperti proporsinya, bentuk-bentuk, dan warna yang digunakan. Jika terjadi penyimpangan dari aturan maka karya itu dianggap tidak bermanfaat walau karya tersebut indah dan halus (eksperisif). Hal ini tidak lepas dari maksud seni dibuat tidak untuk memuaskan rasa estetis seniman melainkan untuk mempertinggi martabat dewa dan memperdalam rasa keagamaan.
Terjadinya berbagai variari dalam karya disebabkan pengaru lokal dan perkembangan zaman. Pengaruh agama juga menimbulkan style karya seperti awalnya Budha tidak dibuat dalam bentuk patung figuarif melainkan motif pohon bodhi, telapak kaki, ataupun motif hias roda. Bagian atas candi atau atap pada abad 9 sampai abad 13 dibuat dalam bentuk ujung peluru.

1.      Seni Lukis India

Sejarah dan perkembangan seni lukis India tidak sedahsat perkembangan seni patung dan arsitekturnya. Data tentang seni lukis India amat terbatas terutama data-data seni lukis masa-masa dinasti yang berkuasa di India. Namun seni lukis India tentulah tetap ada sebagaimana ditemukannya lukisan yang terdapat di gua Ayanta.
Seni lukis zaman Ayanta ini merupakan seni lukis yang dianggap menemukan tingkat kemajuan yang tinggi waktu itu. Ada dua tahap perkembangan seni lukis masa ini yakni pertama abad 2 AD dan tahap kedua pada abad ke 5 AD di bawah naungan Vakatakas yang memerintah di Deccan.
Karya-karya lukis dibuat dari filosofi yang dalam, yang anggun dan agung. Bila dilihat dari teknik seni lukis moderen maka lukisan sudah sangat maju. Hal ini dapat dilihat sudah adanya pemahaman perspektif yang dapat dilihat pada bagian tiang-tiang.

Objek gambaran adalah adegan dari kehidupan Budha dan Jatakas, cerita orang melahiran. Lukisan ini membawa kita ke keindahan besar dengan sangat halus terhadap makna hidup dan berbagai tahapan realita. Pencari kebenaran yang dilukis pada dinding goa Ayanta, merupakan penggambaran kehidupan roh yang meliputi seluruh dunia. Lukisan-lukisan di goa Ayanta menjadi sumber inspirasi lukisan-lukisan Budha di seluruh Asia.
Disamping itu ditemukan lukisan abad 6 pada hindu Badami dari gua-gua di Karnataka. Lukisan-lukisan terdapat pada semua dinding dan langit-langit goa yang ditutup dengan mural. Lukisan pada abad ke 7 juga dijumpai di Yang Pallava Raja sekarang Tamil Nadu. Tema-tema lukisan memberi ekspresi bergairah dan kemuliaan yang berkaitan dengan Siva. Dalam lukisan di candi Panamalai dan Kailashanatar di Kancheepuram abad ke 10 lukisan-lukisan dengan tema yang sama menjadi simbol kemegahan kaum bangsawan raja-raja Chola.


 Ada juga lukisan dari akhir abad ke 9 (Jaina) di gua-gua di Ellora. Para pelukis di sini melanjutkan tradisi lama, tetapi dengan kontribusi dari mereka sendiri. Selain naturalisme dan ide-ide dari warisan Ayanta, angka dan huruf dilukis dengan penggayaaan atau distilirisasi. Corak ini adalah perubahan signifikan yang kemudian tercermin dalam lukisan dan kaligrafi di Indonesia.
Di Kasmir masih kawasan India terdapat corak baru perkembangan lukisan waktu itu. Selain temanya yang tidak saja pengambaran para dewa melainkan juga dewi. Lukisan-lukisan itu sama di berbagai tempat lain yakni terdapat didinding goa. Berbagai tema lukisan jumpai pada masa ini, seperti tentang manusia, kesunyian, dan kebesaran.
Lukisan-lukisan yang terdapat didinding-dinding goa, dan bagian atasnya menjadi insipirasi bagi perkembanganan seni lukis mural di India sampai berabad-abad kemudian. Lukisan-lukisan itu dibuat di dinding dan atap atau bagian atas candi, kuil, dan stupa. Umumnya tema-tema lukisan mengenai pemujuaan terhadap dewa dan tentang kehidupan, sedang tujuan lukisan untuk peningkatan rasa keagamaan dan kemanusian.
Bagian utara India seni lukis pernah mengalami kejaan pada abad ke-16, yang waktu itu daerah ini di bawah masa pemerintahan maharaja Mughal Akbar. Pada masa ini pernah lahir sebuah miniatur yang tinggi mutunya yakni miniatur yang terdapat di pengadilan.
Kualitas lukisan dinding yang baik dari Rajasthan ditemukan di Amer Bhojanshala dekat Istana Jaipur. Ini adalah lukisan yang sangat indah abad 17 di India. Pada lukisan ini (gambar 5) pelukis memperlihatkan gambaran kedekatan dan persahabatan yang kuat. Lukisan diekspresikan di atas tembok dan dibuat dalam skala kecil untuk mural. Namun, pelukis mampu mengungkapkan dengan kepekaan dan kecermatannya menciptakan sebuah gambaran keintiman antara pengamat dan lukisan.
Lukisan Siva seperti gambar di atas terdapat pada candi Shivdwala, Chamba, Himachal Pradesh. Lukisan Siva ini mengungkapkan dunia keindahan dan kemurnian. Siva digambarkan dengan lemah lembut dan penuh kasih pada dataran sebelah timur India, yang merupakan negara kaya. Ini adalah sebuah contoh yang langka dari tradisi kuno mural India berbeda dengan miniatur yang dibuat pada dinding dengan tema-tema lukisan kisah Ramayana.
Seni lukis India terutama lukisan didinding yang terdapat di goa, candi, dan kuil juga dapat ditemui di daerah Punjab. Mural dari Punjab mungkin menjadi tahap akhir lukisan dinding di India. Pada lukisan-lukisan terdapat wajah khas dari Punjab. Tema-tema dan caranya yang sangat berakar pada budaya lokal. Ada rasa sepi yang bermartabat, yang terbaik yang muncul dalam lukisan ini.. Lukisan mural ditemukan tersembunyi jauh di candi di tengah-tengah pasar yang sibuk di Amritsar, di kuil di desa seperti Kishankot, Qila Mubarak, dan Qila Androon dalam benteng Patiala.  
Lukisan-lukisan India terutama yang bertemakan kisah Ramayana banyak mempengaruhi seni lukis Bali corak tradisi. Selain tema lukisan beberapa teknik dan pewarnaan juga banyak dipengaruhi lukisan India. Seni lukis dinding, seni relief Indonesia juga mendapat pengaruh dari mural India. Sebagaimana diketahui sampai saat ini di Bali masih banyak penganut agama Hindu dan juga beberapa tempat di Jawa. Dari fakta ini maka pantas kesenian India mempengaruhi berbagai kesenian di Indonesia terutama di daerah tersebut.





2. Arsitektur India

Karya arsitektur India sama halnya dengan seni lainnya, ia pun dipengaruhi oleh unsur keagamaan. Beberapa arsitektur India seperti stupa, candi, dan kuil berkaitan dengan agama Budha, Hindu, dan Jaina. Artinya bangunan-bangunan itu selain berfungsi untuk tempat pemujaan juga tempat tinggal bikhsu. Misalnya komplek stupa selain sebagai monumen juga berfungsi tempat pemujaan, di situ ada chaitya dan wihara sebagai tempat pertemuan, tempat pemujaan dan sekaligus tempat tinggal bikhsu.
Bangunan-bagunan ini sebagai bukti sejarah kemajuan budaya India. Selain berarsitektur bagus bagunan-bagunan itu terbuat dari bahan batu. Bagunan yang terbuat dari bahan batu ini sangat tahan. Beberapa karya arsitektur India senantiasa menjadi bahan kajian dan bahasan karena di antara karya-karya seni India maka seni bagunan ini lah yang masih tersisa sebagai bukti  peninggalan sejarah.
Stupa merupakan salah satu bagunan suci berfungsi sebagai monumen peringatan Budha. Bangunan ini mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan budaya masyarakatnya. Pada awalnya bentuk stupa sangat sederhana, bagai onggokan tanah setengah lingkaran, kemudian berkembang dengan penambahan bentuk kiri, kanan, depan belakang, dan bagian atas. Bahannya pun berubah dari tanah menjadi batu. Walaupun bahan stupa dari tanah atau batu namun bila melihat arsitekturnya sangatlah bagus karena selain ada patung ada ornamen-ornamen.
Stupa yang merupakan tempat suci bagi penganut Budha sekaligus sebagai tempat pemujaan. Di dalam stupa tersimpat benda-benda suci. Perkembangan arsitektur stupa lebih banyak di luar India sebagaimana perkembangan agama Budha itu sendiri. Di daerah Thailand tempat berkembangnya agama Budha maka stupa dapat dijumpai dalam berbagai bentuk dengan arsitektur yang indah, megah dan berkesan mewah.
Arsitektur India lainnya adalah chaitya dan wihara, dua  bangunan ini tidak begitu sering dibahas. Bagunan ini berupa gua atau bukit yang dikerok. Umumnya bangunan ini sebagai tempat pertemuan, tempat tinggal bikhsu (bertapa atau menyendiri) dalam upaya menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi.
Chaitya dapat berupa stupa, altar, dan bahkan pohon karena maksudnya adalah tempat pemujaan. Chaitya yang dibuat di bukit bentuknya empat persegi panjang dengan ujung bagian dalam berupa setengah lingkaran tempat meletakkan patung budha. Kiri kanan menuju ceruk (setengah lingkaran) disangga oleh tiang, bagian atas melengkung, bagian depan atau pintu masuk dihiasi dengan berbagai relief.
Chaitya yang paling tua dibuat sekitar 150 SM yaitu chaitya Bahaja. Perkembangan arsitektur chaitya selanjutnya dalam bentuk penambahan interior dan eksteriornya, ukuran, dan bahan-bahan yang digunakan. Chaitya yang terkenal terdapat di Karli dan dibuat pada masa dinasti Andhra abad ke 1 dan ke 2 M.
Kemampuan dalam menggali bukit, menyangga, dan membuat ornamen menunjukkan telah majunya budaya India pada abad ke 1 M. Pada pintu masuk chaitya tampak kesan keanggunan dan sekaligus juga kesan ritual. Pemilihan lokasi juga sangat menentukan perpaduan antara ritualitas dan seni bangunan.

Wihara atau juga ada yang menamakan bihara adalah tempat tinggal bikhsu untuk melaksanakan kebaktian. Sebelum datangnya agama budha ke India maka orang-orang India sudah terbiasa hidup menyepi dalam menghindari diri dari keramainan. Kebiasaan ini menjadi subur ketika agama Budha berkembang di India, sehingga banyak pula dijumpai wihara peninggalan arsitektur India.
  Sama halnya dengan chaitya maka wihara juga bukit yang dikerok. Bedanya denah wihara bujur sangkar sebagai tempat utama pertemuan kemudian di sekelilingnya terdapat ruang-ruang kecil tempat bikhsu. Awalnya wihara hanya tempat tinggal bikhsu kemudian dilengkapi dengan patung budha sehingga fungsinya juga berkembanag sebagai tempat pemujaan.  Wihara yang terkenal terdapat di Ajanta yang dibangun pada abad ke 2 sampai abad ke 7 M.
Arsitektur India yang sering dibicarakan adalah candi, mungkin karena bagunan ini yang memberi pengaruh besar di Indonesia. Candi Borobudur, candi Mendut, candi Prambanan dan candi-candi lainnya di Indonesia semuanya mendapat pengaruh dari India. Perkembangan candi itu sendiri searah dengan perkembangan agama budha dan hindu di India.
Bukti sejarah arsitektur candi yang masih dapat dilihat sekarang terdapat di Bodhgaya. Tempat suci untuk pemujaan telah didirikan oleh Ashoka sejak abad 3 SM. Sedangkan candi baru didirikan oleh dinasti Kushan (78 – 176 M) yang terkenal dengan candi mahabodhi. Arsitektur mahabodhi yang ada sekarang telah mengalami berkali-kali pemugaran. Candi mahabodhi berbentuk bujur sangkar dengan atap berbentuk bujur sangkar.
Setiap saat candi mahabodhi ini sering dikunjungi oleh peziarah baik dari dalam maupun dari luar India. Peziarah ini menjadi donasi bagi pemugaran candi sehingga sampai sekarang bangunan ini mengalami berkali-kali pemugaran. Jadi sekarang candi ini lebih banyak sebagai tempat ziarah dibanding sebagai tempat ritual. Sekarang tidak banyak penganut agama budha melakukan ritulitas keagamaan di candi ini, mungkin sama kasusnya dengan candi-candi di Indonesia yang lebih banyak sebagai artefak.
Telah banyak teori yang mencoba menjelaskan perihal bagaimana caranya pengaruh kebudayaan India (Hindu-Buddha) sampai ke kepulauan Indonesia. Hal yang sudah pasti adalah berkat adanya pengaruh tersebut penduduk kepulauan Indonesia kemudian memasuki periode sejarah sekitar abad ke-4 M. Menurut J.L.A Brandes (1887) penduduk Asia Tenggara termasuk yang mendiami kepulauan Indonesia telah mempunyai 10 kepandaian menjelang masuknya pengaruh kebudayaan India, yaitu:

a. mengenal pengecoran logam,
b.mampu membuat figur-figur manusia dan hewan dari   batu, kayu, atau lukisan di dinding goa,
c. mengenal instrumen musik,
d. mengenal bermacam ragam hias,
e. mengenal sistem ekonomi barter,
f. memahami astronomi,
g. mahir dalam navigasi,
h. mengenal tradisi lisan,
i. mengenal sistem irigasi untuk pertanian, dan
j. adanya penataan masyarakat yang teratur.

Setelah berinteraksi dengan para pendatang dari India, maka terjadi asimilasi. Aspek-aspek kebudayaan dari India yang diterima oleh nenek moyang bangsa Indonesia merupakan sesuatu yang baru, yaitu sesuatu yang tidak mereka kenal sebelumnya, seperti: aksara (pallawa), agama Hindu dan Buddha, serta penghitungan angka tahun (saka).
Melalui ketiga aspek kebudayaan dari India itulah kemudian peradaban nenek moyang bangsa Indonesia berkembang dengan pesatnya, sehingga menghasilkan bentuk-bentuk baru kebudayaan Indonesia kuno. Dari hasil asimilasi budaya ini akhirnya menemukan sesuatau bentuk baru dan pencapaian itu diakui sebagai hasil kreativitas penduduk kepulauan Indonesia sendiri.
Konsekwensi logis dengan diterimanya agama Hindu-Buddha oleh penduduk kepulauan Indonesia terutama Jawa, maka banyak aspek kebudayaan yang dihubungkan dengan kedua agama itu menjadi berkembang. Hal itu dapat diamati secara nyata dalam bidang seni arca dan seni bangun (arsitektur). Bentuk kesenian lain yang turut terpacu sehubungan dengan pesatnya kehidupan agama Hindu-Buddha dalam masyarakat adalah seni sastra. Banyak karya sastra dan susastra yang digubah dalam masa Hindu-Buddha selalu dilandasi dengan nafas keagamaan Hindu atau Buddha. Penguraian perihal ajaran agama disampaikan dengan cerita-cerita yang melibatkan para ksatrya.
Sebagaimana biasanya seni tradisonal maka karya arsitektur juga  tidak disebutkan dan tidak diketahui seniman pembuatnya. Karya-karya seni secara umum dibuat sebagai persembahan bagi kegiatan keagmaan. Dengan demikian seni lukis, patung dan arsitektur tradisional India tidak diketahui pembuatnya. Karya tersebut dianggap sebagai suatu karya komunal, suatu karya yang didedikasikan bagi kehidupan agama dalam masyarakat. Dari penyelidikan sejarah yang bisa diketahui adalah masa karya tersebut dibuat, tahun pembuatan dan di bawah masa pemerintahan atau dinastinya.
Begitu juga dengan karya arsitektur kuno di Indonesia amat sukar untuk diketahui seniman pembauatnya. Hasil penelitian hanya dapat mengungkapkan dan menyimpulkan relief cerita apa saja yang dipahatkan di Candi Borobudur, berapa kubik balok batu yang dipergunakan untuk membangun candi itu, berapa jumlah stupanya. Jadi tidaklah dapat diketahui siapa arsitek perancangnya. Jangankan arsiteknya, nama raja yang menganjurkan untuk mendirikan Candi Borobudur pun sampai sekarang masih belum dapat diketahui secara pasti.
Karya Arsitektur awal yang masih dapat bertahan hingga kini dari masa perkembangan agama Hindu-Buddha di Jawa hanya beberapa bangunan saja. Misalnya Candi Gunung Wukir di Magelang, beberapa candi di dataran tinggi Dieng, candi-candi Gedong Songo di Ambarawa (Jawa Tengah), dan Candi Badut di Malang (Jawa Timur). Di antara candi-candi tersebut yang dihubungkan dengan prasasti yang berkronologi adalah Candi Gunung Wukir dengan prasasti Canggal (tahun 732 M) dan Candi Badut dengan prasasti Dinoyo (tahun 760 M).
Awalnya bagunan sakral Indonesia terbuat dari bahan yang mudah rusak, seperti ijuk, jalinan rumput ilalang kering, kayu dan bambu. Bangunan yang terbuat dari bahan ini sudah tidak dapat dijumpai lagi. Pada sekitar awal abad ke-9 terjadi perombakan besar-besaran terhadap bangunan-bangunan suci demikian, dengan ditambahi dengan dinding, relung-relung, serta struktur atap yang terbuat dari bahan yang tahan lama seperti tanah dan batu. Pendapat itu didasarkan pada dijumpainya beberapa susunan perubahan dan tambahan pada beberapa candi di Jawa Tengah, misalnya pada candi Bima di Dieng, Candi Lumbung di daerah Prambanan, dan candi-candi Perwara di kelompok percandian Sewu.
Masuknya pengaruh budaya India melalui perdagangan ke masyarakat Jawa, maka bangunan-bangunan suci yang didirikan di Jawa pun dibuat sesuai dengan kaidah ajaran Hindu atau Buddha. Bentuk candi-candi di Jawa kemudian ada yang mirip dengan kuil-kuil pemujaan dewa yang ada di India.
Pengaruh itu tampak pada beberapa bangunan bangunan candi di Jawa bagian tengah di mana bentuk arsitekturnya diilhami oleh bangunan-bangunan suci di India. Beberapa bangunan di Mahabalipuram seperti Arjuna Ratha, Draupadi Ratha dan Dharmaraja Ratha dan beberapa bangunan lainnya yang merupakan peninggalan dinasti Pallava bentuknya sangat mirip dengan candi-candi di dataran tinggi Dieng.
Jika diamati arsitektur bangunan suci masa Gupta dan sesudahnya serta arsitektur masa dinasti Pala di timur laut India menjadi salah satu pengembangan bangunan-bangunan candi di Jawa bagian tengah. Begitupun bangunan Candi Bima di Dieng tampak pertalian bentuknya dengan bangunan suci Orissa di India.
Bentuk-bentuk monumen keagamaan Hindu-Buddha di Jawa pada masa silam banyak dipengaruhi oleh arsitektur India. Hal tidak lepas dari agama Hindu atau Buddha yang datang dari India dengan mudah diterima oleh masyarakat. Dengan sendirinya konsep-konsep dasar tentang pembuatan bangunan suci, arca, dan ornamen juga diterima masyarakat.
Selanjutnya arsitektur bangunan suci di Jawa tidak lagi mengadopsi bentuk-bentuk dari India. Bentuk arsitektur bangunan suci di wilayah Jawa Tengah sudah berkembang dengan bentuk tersendiri, kecuali pada seni arca dan ornamennya. Misalnya Candi Barong dan Candi Ijo di Jawa Tengah yang halamannya dibuat bertingkat-tingkat sebagaimana layaknya punden berundak dalam masa prasejarah.
Arsitektur bangunan di Jawa semakin berkembang ketika periode Klasik Muda. Di wilayah Jawa Timur (abad ke13—15 M) arsitektur bangunan suci Hindu-Buddha berkembang dengan gayanya tersendiri, seperti candi-candi bergaya Singhasari, gaya candi Jago, gaya candi Brahu, dan punden berundak.
Konsepsi pembangunan candi adalah perpaduan dewata tertinggi (Hindu dan Budha), misalnya kehadiran nafas Siva dan Buddha akan dirasakan pada arsitektur Candi Jawi (Pasuruan) dan Candi Jago (Malang). Di Candi Jawi, unsur Buddha terlihat pada puncaknya, sedangkan di relung-relung tubuh candinya dahulu berisikan arca-arca Hindu-Saiva khas Jawa. Begitupun di Candi Jago, cerita relief yang dipahatkan banyak yang bernafaskan Hindu-Saiva, adapun arca-arca pelengkap candi itu semuanya bernafaskan Buddha Mahayana.
Perbandingan arsitektur bangunan suci Hindu-Buddha di India dan Jawa dirasakan adalah adanya parallelism (kesejajaran)  setelah agama Hindu-Buddha dari India diterima oleh masyarakat Jawa Kuno. Awalnya pengaruh India banyak mengilhami arsitekrut bangunan keagamaan di Jawa (sekitar abad ke-8 M), ketika peradaban Hindu-Buddha baru mulai marak berkembang. Namun pada priode-periode selanjutnya karya arsitektur Jawa Kuno berkembang tersendiri.
Kesamaan arsitektru itu dapat diamati dalam hal konsepsi dasarnya, sedangkan dalam segi visualisasi atau dalam bentuk kebudayaan materi (bangunan, arca dan relief), terdapat perbedaan. Kalaupun ditelusuri lebih mendalam konsepsi keagamaan pun tetap ada perbedaan. Perlu diingat visualisasi kebudayaan materi adalah berangkat dari ide atau konsepsi. Jika ada pertanyaan mengapa candi-candi di Jawa berbeda dengan kuil-kuil pemujaan dewa di India, bisa jadi hal itu karena cerminan konsepsi masyarakat pendukungnya.
Walaupun agama datang dari India ke Jawa namun mendapat sentuhan pendeta-pemikir Jawa Kuno, lalu muncul gagasan yang memadukan hakekat Siwa-Buddha. Oleh karena ada perpaduan itu, maka peralatan ritusnya pun menjadi berbeda, tidak lagi sama dengan di tanah asalnya.


3. Seni Patung dan Relief India

Sebagaimana telah disinggung pada bagian awal bahwa kemajuan kebudayaan India terbukti dari tata kota dan arsitektur pada lembah sunggai Indus. Selain dari tata  kota dan aritektur yang telah maju pada dua pusat kebudayaan di lembah sungai Indus (Harappa dan Mohenjodaro) juga kemajuan patungnya. Karya-karya seni patung teracotta, batu kapur, dan logam telah dibuat dua kota itu. Patung yang dibuat figur manusia dan binatang.
Patung figur manusia yang dibuat melambangkan dewi kesuburan. Patung ini hampir sama dibanyak tempat dimana dewi kesuburan dibuat dengan pinggul besar dan buah dada yang menonjol dan pakai perhiasan kepala serta kalung. Patung teracotta berfungsi sebagai mainan dengan mengambil objek binatang seperti lembu, burung, gajah, dan badak.



B.      CONTOH HASIL KERJINAN SENI KRIYA ITALIA
BAB III
(Penutup)

Kesimpulan ;

PADA SAAT PERKEMBANGAN SENI KRIYA INDIA MEMILIKI BANYAK BERBAGAI JENIS SENI KRIYA SEPERTI SENI LUKIS, SENI ARSITEKTUR BANGUNAN, DAN SENI PATUNG DAN RELIEF
















DAFTAR PUSTAKA

Poskan Komentar