do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Kamis, 18 Februari 2016

MAKALAH PERTUMBUHAN TANAMAN PADA LAHAN MARGINAL



MAKALAH PERTUMBUHAN TANAMAN PADA LAHAN MARGINAL



 








DISUSUN OLEH :

NAMA        : AMAN
NIM            : 91403004
JURUSAN :  AGRIBISNIS





SEKOLAH TINGGI ILMU  PERTANIAN WUNA
( STIP WUNA )
2016






KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah kepada kita semua, sehingga berkat karunia-Nya kami dapat menyelesaikan  makalah MAKALAH PERTUMBUHAN TANAMAN PADA LAHAN MARGINAL
Dalam penyusunan makalah ini, kami tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih pada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini sehinggga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. 
Dalam penyusunan makalah ini kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun sendiri maupun kepada pembaca umumnya. Kami mohon maaf apabila ada kekurangan maupun kesalahan pada penulisan makalah ini untuk itu kami berterima kasih apabila pembaca memberi saran atau kritikan kepada kami.


                                                                     Raha,     Januari  2016


                                                                                                             Penyusun











DAFTAR ISI
Kata Pengantar.............................................................................................       
Daftar Isi......................................................................................................       
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................              
A.    Latar Belakang.......................................................................................       
B.     Tujuan ……….......................................................................................       
BAB II TINJUAN PUSTAKA...................................................................       
A.  Konservasi……………………………..…………………………..……
B.  Pengaturan………………………………………………………..……..
C.  Pemakaian Pupuk Organik Dari Limbah Pengolahan Sawit………..…..
BAB III PEMBAHASAN..........................................................................
A.  Klasifikasi Kemampuan Lahan...............................................................
B.  Kelas Kemampuan Lahan……………………………………………….
C.  Pengolahan Sawit Pada Lahan Rawa……………………………………
D.  Pengelolaan Sawit Pada Lahan Miring………………………………….
E.   Pengelolaan Sawit Pada Lahan Gambut…………………….…………
BAB IV…………………………………………………………………....
F.      Kesimpulan............................................................................................       
G.    Saran......................................................................................................       
Daftar Pustaka.............................................................................................       















BAB I
PENDAHULUAN


A.Latar Belakang
  Pengelolaan agroekosistem lahan merupakan usaha atau upaya dalam mengubah atau memodifikasi ekosistem sumberdaya alam  agar bisa diperoleh  manfaat yang maksimal dengan mengusahakan kontinuitas produksinya.  Komoditas yang diusahatan tentunya disesuaikan dengan kondisi setempat dan manfaat ekonomi termasuk pemasaran.
Menurut Soerianegara (1977) pengelolaan  agroekosistem lahan kering   merupakan bagian dari interaksi atau kerja sama masyarakat dengan agroekosistem sumberdaya alam. 
Dalam pembangunan pertanian berkelanjutan pengelolaan agroekosistem lahan kering dapat dipandang sebagai upaya memperbaiki dan memperbaharui sumberdaya alam yang bisa dipulihkan (renewable resourses) di daerahnya.  Dalam pemanfaatan sumberdaya lahan kering untuk pertanian berkelanjutan memerlukan pendekatan lingkungan dan mengikuti kaidah pelestarian lingkungan.
Pengelolaan  agrokosistem lahan dipandang sebagai bagian dari pengelolaan ekosistem sumberdaya alam yang menempati areal dimana mereka menetap.  Masyarakat petani menanami lahan pertanian dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dapat dikatakan sebagai bagian dari pengelolaan agroekosistem lahan kering di daerahnya

B.Tujuan
a. Untuk Mengetahui Bagaimana struktur perkebunan di PT MINAMAS didaerah maredan.
b. Untuk mengetahui Bagaiman kondisi Tanah diperkebunan sawit di PT MINAMAS.
c. Untuk Mengetahui pemberian Pupuk dan Pemangkasan tanaman sawit dengan baik.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.  Konservasi
 Salah satu upaya penanganan kerusakan lahan akibat ekplorasi adalah dengan menerapkan sistem budidaya lorong dalam pengembangan sistem usahatani. Dengan penerapan sistim budidaya lorong menunjukkan bahwa dengan adanya barisan tanaman penyangga erosi   rumput raja (King grass) yang ditanam sejajar dengan garis kontur secara efektif dapat mengurangi laju erosi.  Dengan terbentuknya teras secara bertahap sampai menjadi permanen, disamping menjaga kelestarian lahan  juga menyebabkan produktifitas lahan akan lebih baik.
karena sistem ini memberikan banyak keuntungan diantaranya dapat menekan terjadinya erosi, meningkatkan produktivitas tanah karena adanya penambahan bahan organik melalui hasil pangkasan tanaman pagar, dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman serta dapat menciptakan kondisi iklim mikro (suhu) diantara lorong tanaman (Sudharto et al., 1996).
Dengan terbentuknya teras maka pada lahan miring ini sudah terbentuk lahan usahatani  yang representatif untuk berbagai jenis tanaman baik tanaman pangan maupun tanaman perkebunan yang sesuai dengan kondisi setempat dan  menekan terjadinya  erosi diwaktu hujan.

2. Pengaturan pola tanam.
Pengaturan pola tanam berfunsi agar tumbuh nya suatu tanaman itu bisa tumbuh dengan baik dan teratur. Fungsi dari pertanaman lorong adalah untuk menciptakan iklim mikro di lahan dan tanaman  yang digunakan disesuaikan dengan tanaman .Dibidang ekonomi  mampu memberikan kesinambungan pendapatan selama satu tahun.
Dengan terbentuknya teras secara bertahap sampai menjadi permanen, disamping menjaga kelestarian lahan  juga menyebabkan produktifitas lahan akan lebih baik dan produktifitas lahan pun menjadi baik.

4. Pemakaian pupuk organik dari limbah pengolahan sawit
Pemanfaatan limbah pertanian yang selama ini belum menjadi perhatian sebagai bahan dasar pupuk organik diharapkan  dapat memperkecil ketergantungan terhadap pupuk an organik.  Dilain pihak pemanfaatan  limbah pertanian dapat menciptakan efisisnsi penggunaan lahan yang ketersediaannya semakin terbatas serta dapat menjaga kelestarian lingkungan. 

Limbah pertanian adalah bagian atau sisa produksi pertanian yang tidak dapat dimanfaatkan secara langsung.  Limbah ini  apabila telah mengalami proses dekomposisi banyak mengandung unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman.  Apabila tanaman mati, maka selanjutnya terjadi proses dekomposisi akibat aktifitas mikroorganisme dengan hasil akhir berupa humus (Sutanto, 2002).   Kandungan hara setiap sisa tanaman berbeda-beda.  Dari penelitian Puslitbangbun (2006) diperoleh hasil kandungan hara  beberapa ampas tanaman. Dengan demikian terdapat beberapa keuntungan dengan pemakaian pupuk organik yaitu efisiensi terhadap biaya karena harga pembuatan pupuk ini lebih murah, Produksi lebih tinggi dan menjaga kesuburan  dan kelestarian lahan.Teknik pemberian pupuk organik yang berasal dari limbah sawit yaitu :
a. Tongkos sawit yang kosong diberikan pada sekeliling batang sawit.
b. Pembuatan saluran-saluran untuk limbah cair yang dialirkan pada setiap areal tanaman sawit.

Pemakaian pupuk an organik yang tidak seimbang secara terus menerus  untuk proses produksi dapat merusak lahan dan dalam jangka panjang lahan menjadi tidak efektif lagi untuk usaha pertanian.  Salah satu alternatif untuk menyelamatkan keberlanjutan penggunaan lahan adalah dengan mengurangi input yang berasal dari bahan kimia dan beralih kepada pemakaian pupuk organik yang berasal dari bahan organik sisa tanaman atau limbah.



BAB III
PEMBAHASAN


A. KLASIFIKASI KEMAMPUAN LAHAN
Klasifikasi kemampuan lahan adalah klasifikasi lahan yang dilakukan dengan metode faktor penghambat. Dengan metode ini setiap kualitas lahan atau sifat-sifat lahan diurutkan dari yang terbaik sampai yang terburuk atau dari yang paling kecil hambatan atau ancamanya sampai yang terbesar. Kemudian disusun tabel kriteria untuk setiap kelas; penghambat yang terkecil untukkelas yang terbaik dan berurutan semakin besar hambatan semakin rendah kelasnya.
 Sistem klasifikasi kemampuan lahan yang banyak dipakai di Indonesia .Menurut sistem ini lahan dikelompokan dalam tiga kategori umum yaitu Kelas, Subkelas dan Satuan Kemampuan (capability units) atau Satuan pengelompokan (management unit). Pengelompokan di dalam kelas didasarkan atas intensitas faktor penghambat. Jadi kelas kemampuan adalah kelompok unit lahan yang memiliki tingkat pembatas atau penghambat (degree of limitation) yang sama jika digunakan untuk pertanian yang umum.
Tanah pada kelas I sampai IV dengan pengelolaan yang baik mampu menghasilkan dan sesuai untuk berbagai penggunaan seperti untuk penanaman tanaman pertanian umumnya (tanaman semusim dan setahun), rumput untuk pakan ternak, padang rumput atau hutan.
            Secara umum saat ini permasalahan yang dihadapi petani di Indonesia adalah kesulitan mendapatkan pupuk an organik yang kebutuhannya cendrung meningkat.  Kesulitan ini sebagian akibat ketersediaan yang tidak mencukupi maupun sistem pendistribusian yang kurang tepat dan faktor faktor lainnya.  Sebagai gambaran Produksi nasional tahun 2008 sekitar 6 juta ton sedangkan kebutuhan mencapai 9 juta ton.   Kendala ini berimbas kapada penurunan produktifitas lahan dan produksi berbagai komoditas pertanian secara nasional. 


B. KELAS KEMAMPUAN LAHAN
Kelas Kemampuan I
Lahan kelas kemampuan I mempunyai sedikit penghambat yang membatasi penggunaannya. Lahan kelas I sesuai untuk berbagai penggunaan pertanian, mulai dari tanaman semusim (dan tanaman pertanian pada umumnya), tanaman rumput, padang rumputm hutan produksi, dan cagar alam. Tanah-tanah dalam kelas kemampuan I mempunyai salah satu atau kombinasi sifat dan kualitas sebagai berikut:
(1) terletak pada topografi datar (kemiringan lereng < 3%),
(2) kepekaan erosi sangat rendah sampai rendah,
(3) tidak mengalami erosi,
(4) mempunyai kedalaman efektif yang dalam,
(5) umumnya berdrainase baik,
(6) mudah diolah,
(7) kapasitas menahan air baik,
(8) subur atau responsif terhadap pemupukan,
(9) tidak terancam banjir,
(10) di bawah iklim setempat yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman umumnya.

Kelas Kemampuan II
Lahan kelas II memerlukan pengelolaan yang hati-hati, termasuk di dalamnya tindakan-tindakan konservasi untuk mencegah kerusakan atau memperbaiki hubungan air dan udara jika tanah diusahakan untuk pertanian tanaman semusim. Hambatan pada lahan kelas II sedikit, dan tindakan yang diperlukan mudah diterapkan. Tanah-tanah ini sesuai untuk penggunaan tanaman semusim, tanaman rumput, padang penggembalaan, hutan produksi dan cagar alam. Hambatan atau ancaman kerusakan pada lahan kelas II adalah salah satu atau kombinasi dari faktor berikut:
(1) lereng yang landai atau berombak (>3 % – 8 %),
(2) kepekaan erosi atau tingkat erosi sedang,
(3) kedalaman efetif sedang
(4) struktur tanah dan daya olah kurang baik,
(5) salinitas sedikit sampai sedang atau terdapat garam Natrium yang mudah dihilangkan akan tetapi besar kemungkinabn timbul kembali,
(6) kadang-kadang terkena banjir yang merusak,
(7) kelebihan air dapat diperbaiki dengan drainase, akan tetapi tetap ada sebagai pembatas yang sedang tingkatannya, atau
(8) keadaan iklim agak kurang sesuai bagi tanaman atau pengelolannya

Kelas Kemampuan III
 Hambatan yang terdapat pada tanah dalam lahan kelas III membatasi lama penggunaannya bagi tanaman semusim, waktu pengolahan, pilihan tanaman atau kombinasi pembatas-pembatas tersebut. Hambatan atau ancaman kerusakan mungkin disebabkan oleh salah satu atau beberapa hal berikut:
(1) lereng yang agak miring atau bergelombang (>8 – 15%),
(2) kepekaan erosi agak tinggi sampai tinggi atau telah mengalami erosi sedang,
(3) selama satu bulan setiap tahun dilanda banjir selama waktu lebih dari 24 jam,
(4) lapisan bawah tanah yang permeabilitasnya agak cepat,
(5) kedalamannya dangkal terhadap batuan, lapisan padas keras (hardpan), lapisan padas rapuh (fragipan) atau lapisan liat padat (claypan) yang membatasi perakaran dan kapasitas simpanan air,
(6) terlalu basah atau masih terus jenuh air setelah didrainase,
(7) kapasitas menahan air rendah,
(8) salinitas atau kandungan natrium sedang,
(9) kerikil dan batuan di permukaan sedang, atau
(10) hambatan iklim yang agak besar

Kelas kemampuan IV
Tanah di dalam kelas IV dapat digunakan untuk tanaman semusim dan tanaman pertanian dan pada umumnya, tanaman rumput, hutan produksi, padang penggembalaan, hutan lindung dan cagar alam. Hambatan atau ancaman kerusakan tanah-tanah di dalam kelas IV disebabkan oleh salah satu atau kombinasi faktor-faktor berikut:
(1) lereng yang miring atau berbukit (> 15% – 30%),
(2) kepekaan erosi yang sangat tinggi,
(3) pengaruh bekas erosi yang agak berat yang telah terjadi,
(4) tanahnya dangkal,
(5) kapasitas menahan air yang rendah
 (6) selama 2 sampai 5 bulan dalam setahun dilanda banjir yang lamanya lebih dari 24 jam,
(7) kelebihan air bebas dan ancaman penjenuhan atau penggenangan terus terjadi setelah didrainase (drainase buruk)
(8) terdapat banyak kerikil atau batuan di permukaan tanah,
(9) salinitas atau kandungan Natrium yang tinggi (pengaruhnya hebat), dan/atau (1) keadaan iklim yang kurang menguntungkan.

Kelas Kemampuan V
Tanah-tanah di dalam kelas V mempunyai hambatan yang membatasi pilihan macam penggunaan dan tanaman, dan menghambat pengolahan tanah bagi tanaman semusim. Tanah-tanah ini terletak pada topografi datar tetapi tergenang air, selalu terlanda banjir, atau berbatu-batu (lebih dari 90 % permukaan tanah tertutup kerikil atau batuan) atau iklim yang kurang sesuai, atau mempunyai kombinasi hambatan tersebut. Contoh tanah kelas V adalah:
(1) tanah-tanah yang sering dilanda banjir sehingga sulit digunakan untuk penanaman tanaman semusim secara normal,
(2) tanah-tanah datar yang berada di bawah iklim yang tidak memungknlah produksi tanaman secara normal
(3) tanah datar atau hampir datar yang > 90% permukaannya tertutup batuan atau kerikil, dan atau
(4) tanah-tanah yang tergenang yang tidak layak didrainase untuk tanaman semusim, tetapi dapat ditumbuhi rumput atau pohon-pohonan.


 Kelas Kemampuan VI
Tanah-tanah dalam lahan kelas VI mempunyai pembatas atau ancaman kerusakan yang tidak dapat dihilangkan, berupa salah satu atau kombinasi faktor-faktor berikut:
(1) terletak pada lereng agak curam (>30% – 45%),
(2) telah tererosi berat,
(3) kedalaman tanah sangat dangkal,
(4) mengandung garam laut atau Natrium (berpengaruh hebat),
(5) daerah perakaran sangat dangkal, atau
(6) iklim yang tidak sesuai. Tanah-tanah kelas VI yang terletak pada lereng agak curam jika digunakan untuk penggembalaan dan hutan produksi harus dikelola dengan baik untuk menghindari erosi

Kelas Kemampuan VII
Tanah-tanah dalam lahan kelas VII yang dalam dan tidak peka erosi jika digunakan unuk tanaman pertaniah harus dibuat teras bangku yang ditunjang dengan cara-ceara vegetatif untuk konserbvasi tanah , disamping yindkan pemupukan. Tanah-tanah kelas VII mempunuaio bebetapa hambatan atyai ancaman kerusakan yang berat da tidak dapatdihiangkan seperti
(1) terletak pada lereng yang curam (>45 % – 65%), dan / atau
(2) telah tererosi sangat berat berupa erosi parit yang sulit diperbaiki.

Kelas kemampuan VIII
Lahan kelas VIII tidak sesuai untuk budidaya pertanian, tetapi lebih sesuai untuk dibiarkan dalam keadaan alami. Lahan kelas VIII bermanfaat sebagai hutan lindung, tempat rekreasi atau cagar alam. Pembatas atau ancaman kerusakan pada lahan kelas VIII dapat berupa:
(1) terletak pada lereng yuang sangat curam (>65%), atau
(2) berbatu atau kerikil (lebih dari 90% volume tanah terdiri dari batu atau kerikil atau lebih dari 90% permukaan lahan tertutup batuan), dan
(3) kapasitas menahan air sangat rendah. Contoh lahan kelas VIII adalah puncak gunung, tanah mati, batu terungkap, dan pantai pasir.

C.Pengelolaan sawit pada lahan Rawa
a. Melakukan pembumbuna pada lereng tanaman sewit.
b. Pengaturan air (drainase) agar tanaman tidak tergenang oleh air dengan cara pembuatan parit dengan jumlah 1 parit/ 2 pasar pikul.
c. Pembuatan pintu air dan melakukan pembendungan di kanal.



D. Pengelolaan sawit pada lahan miring
a.Melakukan penanaman tanaman sawit dangan cara tidak beraturan, hal ini bertujuan untuk meminimalisir terjadinya erosi.
b. Melakukan pemangkasan pelepah sawit yang kemudian diletakkan dengan posisis horizontal, yang bertujuan untuk menahan laju air yang jatuh dari lereng.
c. Melakukan penanaman rerumputan yang bias menghalang laju air sehingga tanah yang dalam kondisi miring ini tidak akan terkena longsor

E. Pengelolaan sawit pada lahan gambut
a. Pembersihan piringan pada sekeliling tanaman sawit
b. pada tanah gambut biasa nya tanah ini lama kelamaan bias turun sehingga dalam penanaman sawit ini diperlukan pembuatan lubang tanam yang agak dalam, di karenakan apabila tanah gambut ini turun akar dari tanaman sawit ini tidak menggantung.

Hasil pengkajian Basri  dkk, (2001) dengan penerapan sistim budidaya lorong di Kabupaten Rejang lebong menunjukkan bahwa dengan adanya barisan tanaman penyangga erosi   rumput raja (King grass) yang ditanam sejajar dengan garis kontur secara efektif dapat mengurangi laju erosi.  Selanjutnya dari hasil pangkasan king grass yang dilaksanakan setiap bulan dapat menghasilkan 0,5 ton bahan hijauan yang dapat diberikan untuk sapi selama 20 hari. Dari luasan plot seluas 1 ha akan dihasilkan 1 ton bahan hijauan yang dapat digunakan untuk pakan sapi. 
 Pada pengkajian tahun berikutnya (tahun kedua) teras sudah mulai terbentuk sebagai akibat  penanaman teras vegetatif dengan tanaman rumput raja.  Dengan terbentuknya teras maka pada lahan miring ini sudah terbentuk lahan usahatani  yang representatif untuk berbagai jenis tanaman baik tanaman pangan maupun tanaman perkebunan yang sesuai dengan kondisi setempat dan  menekan terjadinya  erosi diwaktu hujan.  Dengan terbentuknya teras secara bertahap sampai menjadi permanen, disamping menjaga kelestarian lahan  juga menyebabkan produktifitas lahan akan lebih baik.






BAB IV
PENUTUP


A.KESIMPULAN
Hambatan atau ancaman kerusakan tanah-tanah di dalam perkebunan tanaman sawit disebabkan oleh salah satu atau kombinasi faktor-faktor berikut:
(1) lereng yang miring atau berbukit (> 15% – 30%),
(2) kepekaan erosi yang sangat tinggi,
(3) pengaruh bekas erosi yang agak berat yang telah terjadi,
(4) tanahnya dangkal,
(5) kapasitas menahan air yang rendah
 (6) selama 2 sampai 5 bulan dalam setahun dilanda banjir yang lamanya lebih dari 24 jam,
(7) kelebihan air bebas dan ancaman penjenuhan atau penggenangan terus terjadi setelah didrainase (drainase buruk)
(8) terdapat banyak kerikil atau batuan di permukaan tanah,
(9) salinitas atau kandungan Natrium yang tinggi (pengaruhnya hebat), dan/atau (1) keadaan iklim yang kurang menguntungkan.
Adapun pemanfaatan topografi yang baik bagi tanaman perkebunan yaitu:
1.Pemanfaatan berbagai jenis topografi lahan pertanian memerlukan pengelolaan  terpadu antar sektor
2.Untuk menjaga kelestarian lingkungan diperlukan adanya pengelolaan yang tepat mengikuti  kaidah lingkungan.

B. SARAN
Dalam usaha peningkatan produksi sawit diperlukan Pengelolaan yang merupakan salah satu upaya untuk mengoptimalkan fungsi lahan dan menjaga kelestarian lahan dan lingkungan agar terciptanya perkebunan sawit yang baik.


DAFTAR PUSTAKA


a.       Basri., IH, A.Darmadi, Yanfirwan Yanuar, D.Aprizal, W.Mikasari. 2001. Pengkajian Teknologi Konservasi Metode Vegetatif pada Perkebunan.  
b.      Hidayat, A., Hikmatullah, dan D. Santoso. 2000. Poternsi dan Pengelolaan Lahan Dataran Rendah.  Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.
c.       www .gogle.com

Posting Komentar