do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Sabtu, 13 Februari 2016

MAKALAH AIDS



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah suatu penyakit yang ditimbulkan sebagai dampak berkembang biaknya virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) didalam tubuh manusia, yang mana virus ini menyerang sel darah putih (sel CD4) sehingga mengakibatkan rusaknya sistem kekebalan tubuh. Hilangnya atau berkurangnya daya tahan tubuh membuat si penderita mudah sekali terjangkit berbagai macam penyakit termasuk penyakit ringan sekalipun.
Virus HIV menyerang sel putih dan menjadikannya tempat berkembang biaknya Virus. Sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika tubuh kita diserang penyakit, Tubuh kita lemah dan tidak mampu melawan penyakit yang datang dan akibatnya kita dapat meninggal dunia meski terkena influenza atau pilek biasa.


B.   Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan HIV?
2.      Apa tanda dan gejala orang yang terinfeksi HIV?
3.      Sebutkan penyebab orang dapat terinfeksi HIV!
4.      Sebutkan pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari terinfeksi HIV!
5.      Sebutkan penanganan yang dapat dilakukan untuk orang yang terkena infeksi HIV!
6.      Sebutkan hubungan HIV dengan kehamilan, melahirkan, dan menyusui!

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian HIV.
2.      Untuk mengetahui tanda dan gejala orang yang terinfeksi HIV.
3.      Untuk mengetahui penyebab orang dapat terinfeksi HIV.
4.      Untuk mengetahui pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari terinfeksi HIV.
5.      Untuk mengetahui penanganan yang dapat dilakukan untuk orang yang terkena infeksi HIV.
6.      Untuk mengetahui hubungan HIV dengan kehamilan, melahirkan, dan menyusui.
BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian HIV
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh. Virus ini melemahkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi dan penyakit.
HIV yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
Tanda pertama penderita HIV biasanya akan mengalami demam selama 3 sampai 6 minggu tergantung daya tahan tubuh. Setelah kondisi membaik orang yang terinfeksi HIV akan tetap sehat dalam beberapa tahun dan secara perlahan kekebalan tubuhnya akan menurun karena serangan demam yang berulang.
Pada tahun 1990, World Health Organization (WHO) mengelompokkan berbagai infeksi dan kondisi AIDS dengan memperkenalkan sistem tahapan untuk pasien yang terinfeksi dengan HIV-1. Sistem ini diperbarui pada bulan Septembertahun 2005. Kebanyakan kondisi ini adalah infeksi oportunistik yang dengan mudah ditangani pada orang sehat.
1.      Stadium I: infeksi HIV asimtomatik dan tidak dikategorikan sebagai AIDS.
2.      Stadium II: termasuk manifestasi membran mukosa kecil dan radang saluran pernapasan atas yang berulang.
3.      Stadium III: termasuk diare kronik yang tidak dapat dijelaskan selama lebih dari sebulan, infeksi bakteri  parah, dan tuberkulosis.
4.      Stadium IV: termasuk toksoplasmosis otak, kandidiasis esofagus, trakea, bronkus atau paru-paru, dan sarkoma kaposi. Semua penyakit ini adalah indicator AIDS.

B.   Tanda & Gejala

1.      Tanda Orang Yang Terinfeksi HIV
Pada tahap awal infeksi HIV, gejala yang paling umum pun tidak ada.
Karena gejala awalnya tidak ada, orang-orang yang berisiko tersebut kadang tidak tahu tubuhnya sudah dimasuki virus HIV. Dalam 1 atau 2 bulan virus HIV memasuki tubuh. Sebesar 40 hingga 90 persen dari orang mengalami gejala seperti flu dapat dikenal sebagai sindrom retroviral akut (ARS). Tetapi kadang-kadang gejala HIV tidak muncul selama beberapa tahun bahkan beberapa dekade setelah infeksi.
Berikut adalah beberapa tanda-tanda bahwa mungkin seseorang positif terkena HIV, antara lain:
a.       Demam: Demam merupakan gejala awal terkena virus HIV, suhu tubuhnya mencapai 38 derajat celcius. Pada gejala ini merupakan tahap virus masuk kedalam aliran darah dan bereplikasi dalam jumlah besar. sehingga terjadinya reaksi inflasi yang ada didalam tubuh. 
b.      Kelelahan: Kelelahan yang berlebihan adalah tanda efek dari sistem kekebalan tubuh yang aktif.
c.       Otot pegal, nyeri sendi, dan pembengkakan kelenjar getah bening: Pada tanda ini merupakan tanda yang biasa terjadi jika seorang terjangkit virus. sedangkan pembengkakan kelenjar getah bening adalah tanda bahwa sitem kekebalan tubuh sedang aktif
d.      Nyeri tenggorokan dan sakit kepala: Nyeri tenggorokan dan sakit kepala merupakan tanda bahwa antibodi tidak melawan virus HIV/AIDS .
e.       Ruam-ruam kulit: Ruam-ruam pada kulit yang seperti bisul-bisul kecil dan berwarna merah muda yang terasa gatal. Gejala ini memakan waktu yang panjang dan tak kunjung sembuh. bila ini terjadi segera hubungi dokter. .
f.       Diare, mual dan muntah kepanjangan: Pada gejala ini merupakan tanda bahwa bakteri dan kuman dapat masuk ke tubuh kita dengan mudah karna sistem imun kita sudah menurun. 
g.      Turunnya berat badan: Jika berat badan anda menurun hingga 10% dan terjadi diare dan demam yang panjang biasanya dalam waktu 30 hari. 
h.      Batuk kering: Batuk kering bila ini terjadi dalam waktu yang lama kira-kira satu minggu dan tak kunjung sembuh atau berkurang setelah meminum obat.
i.        Pnuemonia dan toksoplasmosis: Pnuemonia merupakan penyakit infeksi paru-paru, ini disebabkan oleh jamur dan biasanya terdapat pada seseorang yang sistem imunnya menurun, sedangkan Toksoplasmosis adalah sejenis parasit yang menyerang otak, ini diakibatkan oleh sistem imun yang menurun.
j.        Berkeringat pada malam hari:  Berkeringat pada malam hari merupakan tanda dari 50% orang yang pernah menderita penyakit AIDS, ini bukan karna suhu atau aktifitas berlebihan.
k.      Perubahan pada kuku: Kuku melengkung dan menebal serta terjadi perubahan warna seperti kehitaman dan kebiru-biruan. Penyebab dari tanda ini adalah terinfeksi jamur.
l.        Bingung dan sulit berkonsentrasi: Pada tahap ini merupakan tahap akhir yang disebabkan karna fungsi motorik tidak mampu berkordinasi dengan baik sehingga penderita tak mampu mengerakkan tangannya dan pada tahap ini tandanya adalah mudah lupa, marah, dan tersinggung.
m.    Herpes dimulut dan alat kelamin: Gejala ini merupakan infeksi pada stadium akhir.
n.      Menstruasi tidak teratur: Lama datang bulan, ini terjadi karna jumlah darah yang semakin berkurang.
o.      Infeksi jaringan kulit rambut 

2.      Gejala Orang Yang Terinfeksi HIV
Gejala infeksi HIV muncul dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah serokonversi. Tahap kedua adalah masa ketika tidak ada gejala yang muncul. Dan tahap yang ketiga adalah infeksi HIV berubah menjadi AIDS.
a.       Tahap pertama
Orang yang terinfeksi virus HIV akan menderita sakit mirip seperti flu. Setelah ini, HIV tidak menyebabkan gejala apa pun selama beberapa tahun. Gejala seperti flu ini akan muncul beberapa minggu setelah terinfeksi. Ini sering disebut sebagai serokonversi. Diperkirakan sekitar 8 dari 10 orang yang terinfeksi HIV mengalami ini. Gejala yang paling umum terjadi adalah:
1)      Tenggorokan sakit
2)      Demam
3)      Muncul ruam ditubuh, biasanya tidak gatal
4)      Pembengkakan noda limfa
5)      Penurunan berat badan
6)      Diare
7)      Kelelahan
8)      Nyeri persendian
9)      Nyeri otot
Gejala-gejala di atas bisa bertahan hingga satu bulan. Ini adalah pertanda sistem kekebalan tubuh sedang melawan virus. Tapi gejala tersebut bisa disebabkan oleh penyakit selain HIV. Kondisi ini tidak semata-mata karena terinfeksi HIV.
Lakukan tes HIV jika Anda merasa berisiko terinfeksi atau ketika muncul gejala yang disebutkan di atas. Tapi perlu diingat, tidak semua orang mengalami gejala sama seperti yang disebutkan di atas. Jika merasa telah melakukan sesuatu yang membuat Anda berisiko terinfeksi, kunjungi klinik atau rumah sakit terdekat untuk menjalani tes HIV.

b.      Tahap kedua
Setelah gejala awal menghilang, biasanya HIV tidak menimbulkan gejala lebih lanjut selama bertahun-tahun (masa jendela). Ini adalah tahapan ketika infeksi HIV berlangsung tanpa munculnya gejala. Virus yang ada terus menyebar dan merusak sistem kekebalan tubuh. Pada tahapan ini, Anda akan merasa sehat dan tidak ada masalah. Kita mungkin tidak menyadari sudah mengidap HIV, tapi kita bisa menularkan infeksi ini pada orang lain. Lama tahapan ini bisa berjalan sekitar 10 tahun atau bahkan bisa lebih.

c.       Tahap terakhir infeksi HIV
Jika tidak ditangani, HIV akan melemahkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi. Dengan kondisi ini, Anda akan lebih mudah terserang penyakit serius. Tahap akhir ini lebih dikenal sebagai AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Berikut ini adalah gejala yang muncul pada infeksi HIV tahap terakhir:
1)      Noda limfa atau kelenjar getah bening membengkak pada bagian leher dan pangkal paha.
2)      Demam yang berlangsung lebih dari 10 hari.
3)      Merasa kelelahan hampir pada tiap saat.
4)      Berkeringat di malam hari.
5)      Berat badan turun tanpa diketahui penyebabnya.
6)      Bintik-bintik ungu yang tidak hilang pada kulit.
7)      Sesak napas.
8)      Diare yang parah dan berkelanjutan.
9)      Infeksi jamur pada mulut, tenggorokan atau vagina.
10)  Mudah memar atau berdarah tanpa sebab.
Risiko terkena penyakit yang mematikan akan meningkat pada tahap ini. Misalnya kanker, TB, dan pneumonia. Tapi meski ini penyakit mematikan, pengobatan HIV tetap bisa dilakukan. Penanganan lebih dini bisa membantu meningkatkan kesehatan.


C.   Penyebab
Di Indonesia penyebaran virus HIV/AIDS terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu melalui hubungan seks yang tidak aman dan bergantian jarum suntik untuk penggunaan narkotika.
Entah terjadi gejala atau tidak, seseorang yang terinfeksi HIV bisa menularkan virus kepada orang lain. Orang yang positif mengidap HIV lebih mudah menularkan virus beberapa minggu setelah mereka tertular. Pengobatan terhadap HIV akan menurunkan risiko penyebaran kepada orang lain.
HIV tidak menular semudah itu ke orang lain. Virus ini tidak menyebar melalui udara seperti virus batuk dan flu. HIV hidup di dalam darah dan beberapa cairan tubuh. Tapi cairan seperti air liur, keringat, atau urin tidak bisa menularkan virus ke orang lain. Ini dikarenakan kandungan virus di cairan tersebut tidak cukup banyak.
Cairan yang bisa menularkan HIV kedalam tubuh orang lain adalah:
1.      Darah
2.      Dinding anus
3.      Air Susu Ibu
4.      Sperma
5.      Cairan vagina, termasuk darah menstruasi
HIV tidak tertular dari ciuman, air ludah, gigitan, bersin, berbagi perlengkapan mandi, handuk atau peralatan makan, memakai toilet atau kolam renang yang sama, digigit binatang atau serangga seperti nyamuk.
Cara yang utama agar virus bisa memasuki ke dalam aliran darah adalah:
1.      Melalui luka terbuka dikulit.
2.      Melalui dinding tipis pada mulut dan mata.
3.      Melalui dinding tipis didalam anus atau alat kelamin.
4.      Melalui suntikan langsung ke pembuluh darah dengan memakai jarum atau suntikan yang terinfeksi.
5.      Berganti-ganti pasangan seksual, atau berhubungan seksual dengan orang yang positif terinfeksi virus HIV
6.      Menerima transfusi darah yang tercemar HIV. 
7.      Ibu hamil yang terinfeksi virus HIV akan menularkannya kepada bayi dalam kandungannya.
8.      Penularan HIV juga terjadi pada ASI.
D.   Pencegahan
            Mencegah penyakit HIV/AIDS relatif lebih mudah dibandingkan dengan mengobatinya. Mencegah penyakit HIV/AIDS akan semakin penting artinya berhubung penyakit ini belum ditemukan obatnya. Berikut ini beberapa cara pencegahan penyakit HIV/AIDS:
1.      Jika ingin melakukan hubungan seks, ketahuilah kondisi kesehatan pasangan.
2.      Setialah dengan suami atau istri anda. Lakukan hubungan seksual hanya dengan pasangan hidup anda (safe sex).
3.      Menghindari seks bebas (free sex). Jangan melakukan hubungan badan dengan pekerja seksual (PSK) atau berganti-ganti pasangan.
4.      Gunakan kondom secara benar dalam berhubungan seksual, kecuali untuk pasangan-pasangan yang menginginkan bayi. Kondom bisa menurunkan resiko infeksi tetapi tidak dapat mencegahnya secara total. Kondom yang terbuat dari selaput (membrane) binatang terlalu tipis untuk dapat melindungi.
5.      Hindari penyalah-gunaan obat terlarang, narkoba dan penggunaan jarum suntik bersama-sama.
6.      Bila ingin akupunctur, tattoo, atau tindik telinga pastikan bahwa alat-alat yang dipakai telah disterilkan.
7.      Bila perlu operasi, sebaiknya minta transfuse darah autologous, yaitu donor darah untuk nantinya dipakai sendiri.
8.      Membutuhkan transfusi darah, Lihat dan mintalah kepastian darah  tersebut bebas dari HIV.
9.      Periksa tes imun untuk mengetahui tingkat sistem imun.
10.  Lakukan pengecekan pada sperma, pasangan yang ingin mempunyai anak.


E.    Penanganan
Tidak ada obat untuk menyembuhkan infeksi HIV, tapi ada pengobatan yang bisa memperlambat perkembangan penyakit. Perawatan ini bisa membuat orang yang terinfeksi untuk hidup lebih lama dan bisa menjalani pola hidup sehat. Ada berbagai macam jenis obat yang dikombinasikan untuk mengendalikan virus HIV.
1.      Obat-Obatan Darurat Awal HIV
Jika merasa atau mencurigai baru saja terkena virus dalam rentan waktu 3×24 jam, obat anti HIV bisa mencegah terjadinya infeksi. Obat ini bernama post-exposure prophylaxis (PEP) atau di Indonesia dikenal sebagai profilaksis pasca pajanan. Profilaksis adalah prosedur kesehatan yang bertujuan mencegah daripada mengobati.
Pengobatan ini harus dimulai maksimal tiga hari setelah terjadi pajanan (terpapar) terhadap virus. Idealnya, obat ini bisa diminum langsung setelah pajanan terjadi. Makin cepat pengobatan, maka lebih baik.
Pengobatan memakai PEP ini berlangsung selama sebulan. Efek samping obat ini serius dan tidak ada jaminan bahwa pengobatan ini akan berhasil. PEP melibatkan obat-obatan yang sama seperti pada orang yang sudah dites positif HIV. Obat ini bisa Anda dapatkan di dokter spesialis penyakit infeksi menular seksual (IMS) atau di rumah sakit.

2.      Hasil Tes Positif HIV
Hasil tes positif atau reaktif berarti kita terinfeksi HIV. Hasil tes ini seharusnya disampaikan oleh penyuluh (konselor) atau pun dokter. Mereka akan memberi tahu dampaknya pada kehidupan sehari-hari dan bagaimana menghadapi situasi yang terjadi saat itu.
Tes darah akan dilakukan secara teratur untuk mengawasi perkembangan virus sebelum memulai pengobatan. Pengobatan dilakukan setelah virus mulai melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia. Ini bisa ditentukan dengan mengukur tingkat sel CD4 dalam darah. Sel CD4 adalah sel yang bertugas untuk melawan infeksi.
Pengobatan biasanya disarankan setelah CD4 dibawah 350, entah terjadi gejala atau tidak. Jika CD4 sudah mendekati 350, disarankan untuk melakukan pengobatan secepatnya. Tujuan pengobatan adalah untuk menurunkan tingkat virus HIV dalam darah. Ini juga untuk mencegah atau menunda penyakit yang terkait dengan HIV. Kemungkinan untuk menyebarkannya juga menjadi lebih kecil.

3.      Keterlibatan Penyakit Lain
Bagi penderita hepatitis B dan hepatitis C yang juga terinfeksi HIV, pengobatan disarankan ketika angka CD4 di bawah 500. Jika penderita HIV sedang menjalani radioterapi atau kemoterapi yang akan menekan sistem kekebalan tubuh, pengobatan dilakukan dengan angka CD4 berapa pun. Atau ketika Anda juga menderita penyakit lain seperti TB, penyakit ginjal, dan  penyakit otak.
4.      Obat-Obatan Antiretroviral
Antiretroviral (ARV) adalah beberapa obat yang digunakan untuk mengobati infeksi HIV. Obat-obatan ini tidak membunuh virus, tapi memperlambat pertumbuhan virus. HIV bisa mudah beradaptasi dan kebal terhadap satu golongan ARV. Oleh karena itu kombinasi golongan ARV akan diberikan.
Pengobatan kombinasi ini lebih dikenal dengan nama terapi antiretroviral (ART). Biasanya pasien akan diberikan tiga golongan obat ARV. Kombinasi obat ARV yang diberikan berbeda-beda pada tiap-tiap orang, jadi jenis pengobatan ini bersifat pribadi atau khusus.
Beberapa obat ARV sudah digabungkan menjadi satu pil. Begitu pengobatan HIV dimulai, mungkin obat ini harus dikonsumsi seumur hidup. Jika satu kombinasi ARV tidak berhasil, mungkin perlu beralih ke kombinasi ARV lainnya.
Jika menggabungkan beberapa tipe pengobatan untuk mengatasi infeksi HIV, hal ini bisa menimbulkan reaksi dan efek samping yang tidak terduga. Selalu konsultasikan kepada dokter sebelum mengonsumsi obat yang lain.
5.      Pengobatan HIV Pada Wanita Hamil
Bagi wanita hamil yang positif terinfeksi HIV, ada obat ARV khusus untuk wanita hamil. Obat ini untuk mencegah penularan HIV dari ibu kepada bayinya. Tanpa pengobatan, terdapat perbandingan 25 dari 100 bayi akan terinfeksi HIV. Risiko bisa diturunkan kurang dari satu banding 100 jika diberi pengobatan sejak awal.
Dengan pengobatan lebih dini, risiko menularkan virus melalui kelahiran normal tidak meningkat. Tapi bagi beberapa wanita, tetap disarankan untuk melahirkan dengan operasi caesar.
Bagi wanita yang terinfeksi HIV, disarankan untuk tidak memberi ASI kepada bayinya. Virus bisa menular melalui proses menyusui. Jika Anda adalah pasangan yang menderita HIV, bicarakan kepada dokter sebagaimana ada pilihan untuk tetap hamil tanpa berisiko tertular HIV.
6.      Obat-Obatan Lainnya
Obat-obatan HIV/AIDS lainnya, yaitu:
a.       NRTI (nucleoside atau nucleotide reverse transcriptase inhibitor).
b.      NNRTI (non-nicleoside reverse transcriptase inhibitor).
c.       PI (protease inhibitor) Fusion Inhibitor.
F.    Hubungan HIV Dengan Kehamilan, Melahirkan, & Menyusui
Penularan HIV dari ibu ke anak terjadi karena wanita yang menderita HIV/AIDS sebagian besar masih berusia subur, sehingga terdapat resiko penularan infeksi yang terjadi pada saat kehamilan.
Selain itu juga karena terinfeksi dari suami atau pasangan yang sudah terinfeksi HIV/AIDS karena sering berganti-ganti pasangan dan gaya hidup. Penularan ini dapat terjadi dalam 3 periode, yaitu periode kehamilan, persalinan, dan post partum.
1.      Periode Kehamilan
Selama kehamilan, kemungkinan bayi tertular HIV sangat kecil. Hal ini disebabkan karena terdapatnya plasenta yang tidak dapat ditembus oleh virus itu sendiri. Oksigen, makanan, antibodi dan obat-obatan memang dapat menembus plasenta, tetapi tidak oleh HIV. Plasenta justru melindungi janin dari infeksi HIV.
Perlindungan menjadi tidak efektif apabila ibu:
a.       Mengalami infeksi viral, bakterial, dan parasit (terutama malaria) pada plasenta selama kehamilan.
b.      Terinfeksi HIV selama kehamilan, membuat meningkatnya muatan virus pada saat itu.
c.       Mempunyai daya tahan tubuh yang menurun.
d.      Mengalami malnutrisi selama kehamilan yang secara tidak langsung berkontribusi untuk terjadinya penularan dari ibu ke anak.

2.      Periode Persalinan
Pada periode ini, resiko terjadinya penularan HIV lebih besar jika dibandingkan periode kehamilan. Penularan terjadi melalui transfusi fetomaternal atau kontak antara kulit atau membrane mukosa bayi dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan. Semakin lama proses persalinan, maka semakin besar pula resiko penularan terjadi. Oleh karena itu, lamanya persalinan dapat dipersingkat dengan section caesaria.
Faktor yang mempengaruhi tingginya risiko penularan dari ibu ke anak selama proses persalinan adalah:
a.       Lama robeknya membran.
b.      Chorioamnionitis akut (disebabkan tidak diterapinya IMS atau infeksi lainnya).
c.       Teknik invasif saat melahirkan yang meningkatkan kontak bayi dengan darah ibu misalnya, episiotomi.
d.      Anak pertama dalam kelahiran kembar.

3.      Periode Post Partum
Cara penularan yang dimaksud disini yaitu penularan melalui ASI. Berdasarkan data penelitian De Cock (2000), diketahui bahwa ibu yang menyusui bayinya mempunyai resiko menularkan HIV sebesar 10-15% dibandingkan ibu yang tidak menyusui bayinya. Risiko penularan melalui ASI tergantung dari:
a.       Pola pemberian ASI, bayi yang mendapatkan ASI secara eksklusif akan kurang berisiko dibanding dengan pemberian campuran.
b.      Patologi payudara: mastitis, robekan puting susu, perdarahan putting susu dan infeksi payudara lainnya.
c.       Lamanya pemberian ASI, makin lama makin besar kemungkinan infeksi.
d.      Status gizi ibu yang buruk.

BAB III
PENUTUP

B.   Kesimpulan
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh. Virus ini melemahkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi dan penyakit.
HIV yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

C.   Saran
Bagi mahasiswa diharapkan untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan HIV/AIDS, sehingga dapat dilakukan upaya-upaya yang bermanfaat untuk mencegah dan menanganinya secara efektif dan efisien.


DAFTAR PUSTAKA

http://www.artikelsiana.com/2014/12/pengertian-penularan-pencegahan-HIV-AIDS.html
http://info-kesehatan.net/penyebab-gejala-dan-cara-pencegahan-penyakit-hiv-aids/
http://www.kuminhat.com/2013/12/pengertian-gejala-dan-cara-pencegahan.html


PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEBIDANAN ANTENATAL FISIOLOGIS PADA NY. “H” GIP0A0 UMUR KEHAMILAN 31 MINGGU DI POLI KIA RSUD KABUPATEN MUNA
TANGGAL 28 OKTOBER 2015
(SOAP)


                     No. Register                 : 024190
Tanggal Masuk            : 28 Oktober 2015, Jam           : 09.10 WITA
Tanggal Pengkajian     : 28 Oktober 2015, Jam           : 09.40 WITA

IDENTITAS ISTRI/SUAMI
            Nama                        : Ny.H” / Tn.K       
            Umur                        : 19 Thn / 21 Thn          
            Suku                         : Muna / Muna
            Agama                      : Islam / Islam
            Pendidikan               : SMA / SMA               
            Pekerjaan                  : IRT / Wiraswasta
Pernikahan ke-         : I / I
Lama menikah          : ± 1Thn
Alamat                     : Desa Lohia                                      


DATA SUBJEKTIF (S)
1.      Ibu mengatakan ini kehamilan pertama.
2.      Ibu mengatakan HPHT 25-03-2015.
3.      Ibu mengatakan Pergerakan janin yang pertama pada umur kehamilan 20 minggu, pergerakan janin dalam 24 jam terakhir  10 kali.
4.      Ibu mengatakan sering menggigil, nafsu makan berkurang dan demam.
5.      Ibu mengatakan tidak ada riwayat keturunan kembar.
6.      Ibu mengatakan belum mengetahui tanda bahaya pada kehamilan, dan keadaannya sekarang.
7.      Ibu mengatakan menerima kehamilan ini dengan rasa bahagia.
8.      Ibu mengatakan suami dan keluarga menerima kehamilan dengan bahagia
9.      Ibu selalu shalat lima waktu.

DATA OBJEKTIF (O)
1.      Pemeriksaan umum dan TTV
a.       Keadaan umum                       : Baik  
b.      Kesadaran                               : Composmeritis
c.       Tanda-tanda vital                   
          Tekanan darah                   : 100/ 80 mmHg
          Nadi                                  : 72 x/menit
          Pernafasan                         : 20 x/menit
          Suhu                                  : 36,50c
d.      TB                                           : 150 cm
e.       BB                                           : 50 kg
f.       LILA                                       : 26 cm
2.      Pemeriksaan fisik (Inspeksi, Palpasi, Auskultasi, Perkusi)
a.       Kepala                                     : Rambut hitam, tidak rontok, dan tidak ada benjolan.
b.      Wajah                                      : Tidak oedema dan terdapat cloasma gravidarum.
c.       Mata                                        : Konjungtiva merah muda dan sklera tidak icleus.
d.      Mulut                                      : Bibir tidak pecah-pecah, ada sariawan, dan terdapat karies gigi.
e.       Leher                                       : Tidak ada pembengkakan kelenjar tyroid, tidak ada pembesaran pembuluh limfe, dan tidak ada pelebaran vena jugularis.
f.       Payudara                                 : Simetris kiri dan kanan, tampak hyperpigmentasi pada aerola mamae, putting susu menonjol, dan belum ada pengeluaran colostrums.
g.      Abdomen                                : Pembesaran abdomen sesuai dengan umur kehamilan, tidak ada bekas luka, tampak strie gravidarum, dan tiak ada nyeri tekan.
          TFU                                   : 24 cm
          LP                                     : 98 cm
          Leopold I                          : Teraba bokong
          Leopold II                         : Teraba punggung kiri
          Leopold III                       : Letak kepala
          Leopold IV                       : Kepala sudah masuk PAP
          TBJ                                    : 2352 gr
          DJJ                                    : (+) / 132x/menit
h.      Ekstremitas atas dan bawah    : Kuku bersih dan pendek, tdan eodema, tidak ad avarices, dan reflex patella (+).
i.        Genetalia luar                          : Ada tanda chadwich dan tidak ada bekas luka.
j.        Kelenjar bartholini                  : Tidak ada pembengkakan kelenjar bartholini dan tidak ada pengeluaran kelenjar bartholini.
k.      Anus                                        : Tidak ada haemoroid.
3.      Pemeriksaan panggul luar
a.       Distensia spinarum                  : 24 cm
b.      Distensia kristarum                 : 28 cm
c.       Boudelogue                             : 18 cm
d.      Lingkar panggul                      : 85 cm
1.      Pemeriksaan penunjang
a.       Pemeriksaan darah                  : + HIV
b.      Pemeriksaan HB                     : 11 gr%

ASSESSMENT (A)
GIPoA0 dengan umur kehamilan 31 minggu, kehamilan intra uterin janin hidup, tungal, PUKA, presentasi kepala bagian bawah (PAP), dengan keadaan ibu kurang baik karena ibu tertular virus HIV.

PLANNING (P)
Tanggal           : 28 Oktober 2015, Jam           : 10.00 WITA

1.      Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan seperti
Hasil          : Keadaan umum ibu dan janin baik.
a.       TD       : 100/80mmHg
b.      N         : 72 x / menit
c.       P          : 20 x / menit
d.      Suhu    : 36,5 ˚C
2.      Melakukan informed consent dan informed choice pada ibu.
Hasil          : Ibu bersedia diperiksa oleh Bidan.
3.      Meganjurkan ibu untuk tidak melakukan pekerjaan berat.
Hasil          : Ibu mengerti dan mau mengikuti anjuran Bidan.
4.      Memberitahu ibu pendidikan kesehatan tentang personal hygine, pola istirahat, dan pola nutrisi.
Hasil          : Ibu mengerti dan mau mengikuti anjuran Bidan.
5.      Memberi ibu dukungan atau support mental.
Hasil          : Ibu merasa senang.
6.      Memberitahu keluarga untuk tatap memberi semangat pada ibu.
Hasil          : Keluarga pasien mengerti dan mau mengikuti anjuran Bidan.
7.      Menjelaskan pada ibu tentang tanda bahaya pada kehamilan seperti perdarahan pervaginam, sakit kepala yang hebat, pengelihatan kabur, bengka pada muka dan tangan, serta nyeri perut hebat.
Hasil          : Ibu mengerti dengan penjelasan Bidan.
8.      Menganjurkan pada ibu untuk memakai pakaian yang longgar dan berbahan katun agar ibu tetap merasa nyaman.
Hasil          : Ibu mengerti dan mau mengikuti anjuran Bidan.
9.      Menganjurkan ibu untuk merawat payudaranya sejak usia kehamilan >37 minggu.
Hasil          : Ibu mengerti dengan penjelasan bidan dan mau mengikuti ajaran Bidan.
10.  Mendiskusikan kepada ibu tentang persiapan persalinannya terutama, biaya, tempat, pendamping saat persalinan serta transportasi yang akan digunakan.
Hasil          : Ibu segera mengerti dan bersedia menghadapi persalinannya.























Tugas makalah kelompok 3
Nama Dosen : Wa Ode Siti Asma, SST., M. Kes
HIV
(Human Immunodeficiency Virus)
Oleh:
1.      AMELIA
2.      MERLIN
3.      PUJI LESTARI
4.      RABIATUL ADDAWIYAH
5.      UGUSTINA
6.      WA ODE SUPRIATI

YAYASAN PENDIDIKAN SOWITE
AKADEMI KEBIDANAN PARAMATA RAHA
KABUPATEN MUNA
2015/2016
KATA PENGANTAR

 


Assalamuallaikum. Wr. Wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah selesai tepat pada waktunya yang berjudul “HIV (Human Immunodeficiency Virus)”.
Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi dan pembelajaran kepada kita semua. Kesempurnaan hanyalah milik Allah swt., kami menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan Makalah ini.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan Makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.
Wassalamuallaikum. Wr. Wb.


Raha, Oktober 2015
    
                              
  Penulis          
i

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………….………………. i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………… ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ……………………………………………………... 1
B.     Rumusan Masalah ………………………………………………...... 2
C.     Tujuan …………………………………………………………….... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian HIV ……………..………….…….…………………..... 3
B.     Tanda & Gejala …………………………………………………….4
C.     Penyebab …………………………………………………………...8
D.    Pencegahan ………………………………………………………..10
E.     Penanganan …………………………………………………….….11
F.      Hubungan HIV Dengan Kehamilan, Melahirkan, & Menyusui …..14
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ………………………………………………………… 16
B.     Saran ………………………………………………………………...16
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………….. 17
ii

 
Poskan Komentar