do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Sabtu, 13 Februari 2016

SISTEM URINARIA



Makalah         : Ilmu Penyakit Dalam
Dosen              : dr. Lelly Marlina Machmud


“ SISTEM URINARIA “

4KP3R LOGO.jpg

O  L E H :

K E L O M P O K 3

La Ode Muhamad Tahir
Nurdin Kowa
LM Acal Mansiri
La Ode Muh. Saleh
La Ode Muh. Anabati
Lili Asmin
Muh. Aswin
Mulya Hartama
Nurhidayah
Nuriatil Jannah
Nurni
Nurul Fitriani Ningsih


AKADEMI KEPERAWATAN
PEMKAB. MUNA
2012.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan hidayahNya serta taufikNya, akhirnya kami dapat menyelesaikan tugas Mata kuliah Ilmu Penyakit Dalam yang berjudul ”SISTEM URINARIA”.

Tugas ini dibuat guna memenuhi tugas yang merupakan salah satu standar atau kriteria penilaian dari Mata Kuliah Ilmu Penyakit Dalam yang diberikan secara berkelompok.

Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu dr. Lelly Marlina Machmud selaku dosen pembimbing mata kuliah Ilmu Penyakit Dalam di Akper Pemkab. Muna yang telah banyak mebimbing dan mengarahkan kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Tak lupa pula kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah banyak membantu kami dalam menyelasaikan tugas makalah ini.

Kami menyadari kekurangan kami sebagai manusia biasa dan oleh karena keterbatasan sumber referensi yang kami miliki sehingga kiranya dalam makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekeliruan baik itu dalam penyusunan maupun isinya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya saran dan kritik dari Ibu Dosen Pembimbing ataupun pihak-pihak lain dan sesama teman mahasiswa untuk dapat menambahkan sesuatu yang kiranya dianggap masih kurang atau memperbaiki sesuatu yang dianggap salah dalam tulisan ini.

Akhirnya kami mengucapkan banyak terima kasih. Dan semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua sebagai bahan tambahan pengetahuan untuk lebih memperluas wawasan kita.

Raha,  Maret  2012.



Penyusun.


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.     Tujuan
C.     Permasalahan
D.    Manfaat

BAB II PEMBAHASAN

BAB III PENUTUP
A.    Keimpulan
B.     Saran

DAFTAR PUSTAKA



















BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia, seperti makhluk hidup lainnya, berusaha untuk mempertahankan homeostasis, yang berarti keseimbangan. Otak dan organ tubuh lainnya bekerjasama untuk mengatur suhu tubuh, keasaman darah, ketersediaan oksigen danvariabel lainnya. Mengingat bahwa organisme hidup harus mengambil nutrisi dan air, satu fungsi homeostatis penting adalah eliminasi, atau kemampuan untuk mengeluarkan bahan kimia dan cairan, sehingga dapat menjaga keseimbangan internal. Sistem kemih atau urinaria memainkan peran ekskretoris dan homeostatik penting. Kelangsungan hidup dan berfungsinya sel secara normal bergantung pada pemeliharaan kosentrasi garam, asam, dan elektrolit lain di lingkungan cairan internal. Kelangsungan hidup sel juga bergantung pada pengeluaran secara terus menerus zat-zat sisa metabolisme toksik dan dihasilkan oleh sel pada saat melakukan berbagai reaksi semi kelangsungan hidupnya.Traktus urinarius merupakan system yang terdiri dari organ-organ dan struktur-struktur yang menyalurkan urin dari ginjal ke luar tubuh. Ginjal berperan penting mempertahankan homeostasis dengan mengatur konsentrasi banyak konstituen plasma, terutama elektrolit dan air dan dengan mengeliminasi semuazat sisa metabolisme.Sistem urin adalah bagian penting dari tubuh manusia yang terutama bertanggung jawab untuk menyeimbangkan air dan elektrolit tertentu sepertikalium dan natrium, membantu mengatur tekanan darah dan melepaskan produk limbah yang disebut urea dari darah.
Sistem kemih terdiri terutama pada ginjal, yang menyaring darah,sedangkan ureter, yang bergerak urin dari ginjal ke kandung kemih, kandungkemih, yang menyimpan urin, dan saluran kencing, urin keluar melalui tubuh.Peran dari sistem urin dengan yang biasa bagi kebanyakan orang adalah bahwa ekskresi; melalui air seni, manusia membebaskan diri dari air tambahandan bahan kimia dari aliran darah. . Aspek penting lain dari sistem urin adalahkemampuannya untuk membedakan antara senyawa dalam darah yang bermanfaatuntuk tubuh dan harus dijaga, seperti gula, dan senyawa dalam darah yang beracun dan harus dihilangkan.

B. Tujuan
            Tujuan penulisan makalah ini yaitu:
a.       Membahas pengertian dari sistem urinaria
b.      Membahas mengenai anatomi dan fisiologi sistem urinia
c.       Mebahas tentang keadaan  patologi dari sitem terkait

C. Permasalahan
            Berdasarkan tujuan di atas, maka yang menjadi permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu mengenai:
a.       Pengertian dari sitem urinaria
b.      Anatomi fisiologi sistem urinaria
c.       Panyakit-penyakit yang berkaitan dengan masalah pada sistem urinaria

D. Manfaat
            Manfaat penulisan makalah ini yaitu dapat dijadikan sebagai bahan untuk mengembangkan wawasan dan ilmu pengetahuan kita untuk lebih mendalami tentang anatomi dan fisiologi pada sistem urinaria yang terkait dalam struktur dan fungsinya serta penyakit-penyakit sehubungan dengan adanya permasalahan pada sistem tersebut untuk dijadikan sebagai salah satu bagian integral dari konsep dasar teori dalam memahami tentang Ilmu Penyakit Dalam.


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Sistem Urinaria
Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).

B. Susunan Sistem Perkemihan atau Sistem Urinaria
Sistem perkemihan terdiri dari: dua ginjal (ren) yang menghasilkan urin, dua ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung kemih), satu vesika urinaria (VU) sebagai tempat urin dikumpulkan, dan satu urethra sebagai urin dikeluarkan dari vesika urinaria.
http://biofarmasiumi.files.wordpress.com/2010/11/sistem-urinaria.jpg?w=477

1. GINJAL
Kedudukan ginjal terletak dibagian belakang dari kavum abdominalis di belakang peritonium pada kedua sisi vertebra lumbalis III, dan melekat langsung pada dinding abdomen.
Bentuknya seperti biji buah kacang merah (kara/ercis), jumlahnaya ada 2 buah kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari pada ginjal kanan.
Pada orang dewasa berat ginjal ± 200 gram. Dan pada umumnya ginjal laki – laki lebih panjang dari pada ginjal wanita.
atuan struktural dan fungsional ginjal yang terkecil di sebut nefron. Tiap – tiap nefron terdiri atas komponen vaskuler dan tubuler. Komponen vaskuler terdiri atas pembuluh – pembuluh darah yaitu glomerolus dan kapiler peritubuler yang mengitari tubuli. Dalam komponen tubuler terdapat kapsul Bowman, serta tubulus – tubulus, yaitu tubulus kontortus proksimal, tubulus kontortus distal, tubulus pengumpul dan lengkung Henle yang terdapat pada medula.
Kapsula Bowman terdiri atas lapisan parietal (luar) berbentuk gepeng dan lapis viseral (langsung membungkus kapiler golmerlus) yang bentuknya besar dengan banyak juluran mirip jari disebut podosit (sel berkaki) atau pedikel yang memeluk kapiler secara teratur sehingga celah – celah antara pedikel itu sangat teratur.
Kapsula bowman bersama glomerolus disebut korpuskel renal, bagian tubulus yang keluar dari korpuskel renal disabut dengan tubulus kontortus proksimal karena jalannya yang berbelok – belok, kemudian menjadi saluran yang lurus yang semula tebal kemudian menjadi tipis disebut ansa Henle atau loop of Henle, karena membuat lengkungan tajam berbalik kembali ke korpuskel renal asal, kemudian berlanjut sebagai tubulus kontortus distal.

a. Bagian – Bagian Ginjal
Bila sebuh ginjal kita iris memanjang, maka aka tampak bahwa ginjal terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kulit (korteks), sumsum ginjal (medula), dan bagian rongga ginjal (pelvis renalis).
1. Kulit Ginjal (Korteks)
Pada kulit ginjal terdapat bagian yang bertugas melaksanakan penyaringan darah yang disebut nefron. Pada tempat penyarinagn darah ini banyak mengandung kapiler – kapiler darah yang tersusun bergumpal – gumpal disebut glomerolus. Tiap glomerolus dikelilingi oleh simpai bownman, dan gabungan antara glomerolus dengan simpai bownman disebut badan malphigi
Penyaringan darah terjadi pada badan malphigi, yaitu diantara glomerolus dan simpai bownman. Zat – zat yang terlarut dalam darah akan masuk kedalam simpai bownman. Dari sini maka zat – zat tersebut akan menuju ke pembuluh yang merupakan lanjutan dari simpai bownman yang terdapat di dalam sumsum ginjal.

2. Sumsum Ginjal (Medula)
Sumsum ginjal terdiri beberapa badan berbentuk kerucut yang disebut piramid renal. Dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya disebut apeks atau papila renis, mengarah ke bagian dalam ginjal. Satu piramid dengan jaringan korteks di dalamnya disebut lobus ginjal. Piramid antara 8 hingga 18 buah tampak bergaris – garis karena terdiri atas berkas saluran paralel (tubuli dan duktus koligentes). Diantara pyramid terdapat jaringan korteks yang disebut dengan kolumna renal. Pada bagian ini berkumpul ribuan pembuluh halus yang merupakan lanjutan dari simpai bownman. Di dalam pembuluh halus ini terangkut urine yang merupakan hasil penyaringan darah dalam badan malphigi, setelah mengalami berbagai proses.

3. Rongga Ginjal (Pelvis Renalis)
Pelvis Renalis adalah ujung ureter yang berpangkal di ginjal, berbentuk corong lebar. Sabelum berbatasan dengan jaringan ginjal, pelvis renalis bercabang dua atau tiga disebut kaliks mayor, yang masing – masing bercabang membentuk beberapa kaliks minor yang langsung menutupi papila renis dari piramid. Kliks minor ini menampung urine yang terus kleuar dari papila. Dari Kaliks minor, urine masuk ke kaliks mayor, ke pelvis renis ke ureter, hingga di tampung dalam kandung kemih (vesikula urinaria).
http://3.bp.blogspot.com/-9PmKxRrvZcE/TVvx5NNLj1I/AAAAAAAAAAU/yYxvVdXzD8I/s1600/anatomi+nephron.bmp

b. Fungsi Ginjal:
1.    Mengekskresikan zat – zat sisa metabolisme akhir dari protein ureum, kreatinin dan amoniak
2.    Mengeluarkan zat-zat toksis atau racun,
3.    Pengendalian terbatas terhadap konsentrasi glukosa darah dan asam amino darah
4.    Mengatur keseimbangan air dan garam.
5.    Mengatur keseimbangan asam atau basa.
6.    Pengaturan konsentrasi ion-ion penting
7.    Pengaturan produksi sel darah merah

c. Tes Fungsi Ginjal Terdiri Dari :
1. Tes untuk protein albumin
Bila kerusakan pada glomerolus atau tubulus, maka protein dapat bocor masuk ke dalam urine.
2. Mengukur konsentrasi urenum darah
Bila ginjal tidak cukup mengeluarkan urenum maka urenum darah naik di atas kadar normal (20 – 40) mg%.
3. Tes konsentrasi
Dilarang makan atau minum selama 12 jam untuk melihat sampai seberapa tinggi berat jenisnya naik.

d. Peredaran Darah dan Persyarafan Ginjal
Peredaran Darah
Ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteria renalis, yang berpasangan kiri dan kanan dan bercabang menjadi arteria interlobaris kemudian menjadi arteri akuata, arteria interlobularis yang berada di tepi ginjal bercabang menjadi kapiler membentuk gumpalan yang disebut dengan glomerolus dan dikelilingi oleh alat yang disebut dengan simpai bowman, didalamnya terjadi penyadangan pertama dan kapiler darah yang meninggalkan sampai bowman kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena kava inferior.
http://4.bp.blogspot.com/-piu0jRRMUUM/TVvyuPtnuYI/AAAAAAAAAAY/0U5PNShv7Q0/s1600/anatomi+tubulus+ginjal.bmp
Persyarafan Ginjal
Ginjal mendapat persyarafan dari fleksus renalis (vasomotor) saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf inibarjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal. Anak ginjal (kelenjar suprarenal) terdapat di atas ginjal yang merupakan senuah kelenjar buntu yang menghasilkan 2(dua) macam hormon yaitu hormone adrenalin dan hormn kortison.

2. URETER
Terdiri dari 2 saluran pipa masing – masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya ± 25 – 30 cm dengan penampang ± 0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis.
Lapisan dinding ureter terdiri dari :
a. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
b. Lapisan tengah otot polos
c. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan – gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesika urinaria).
Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang dieskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis masuk ke dalam kandung kemih.
Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi oleh pedtodinium. Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis, pembuluh darah, saraf dan pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik.

3. VESIKULA URINARIA ( Kandung Kemih )
Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet, terletak di belakang simfisis pubis di dalam ronga panggul. Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan ligamentum vesika umbikalis medius.
Bagian vesika urinaria terdiri dari :
1.    Fundus, yaitu bagian yang mengahadap kearah belakang dan bawah, bagian ini terpisah dari rektum oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent, vesika seminalis dan prostate.
2.    Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.
3.    Verteks, bagian yang maju kearah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis.
Dinding kandung kemih terdiri dari beberapa lapisan yaitu, peritonium (lapisan sebelah luar), tunika muskularis, tunika submukosa, dan lapisan mukosa (lapisan bagian dalam).

4. URETRA
Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar.
Pada laki- laki uretra bewrjalan berkelok – kelok melalui tengah – tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis kebagia penis panjangnya ± 20 cm.
Uretra pada laki – laki terdiri dari :
1. Uretra Prostaria
2. Uretra membranosa
3. Uretra kavernosa/spongiosa
Lapisan uretra laki – laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling dalam), dan lapisan submukosa.
Uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis pubisberjalan miring sedikit kearah atas, panjangnya ± 3 – 4 cm. Lapisan uretra pada wanita terdiri dari Tunika muskularis (sebelah luar), lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena – vena, dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam).Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di sini hanya sebagai saluran ekskresi.
http://2.bp.blogspot.com/-6NBPPZVwduo/TWE7vp6tljI/AAAAAAAAACI/YcBFfCaFseo/s1600/uretra+buli+ureter.bmp

C. Proses Miksi (Rangsangan Berkemih).
Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan merangsang stres reseptor yang terdapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah ± 250 cc sudah cukup untuk merangsang berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding kandung kemih, dan pada saat yang sama terjadi relaksasi spinser internus, diikuti oleh relaksasi spinter eksternus, dan akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih.
Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter interus dihantarkan melalui serabut – serabut para simpatis. Kontraksi sfinger eksternus secara volunter bertujuan untuk mencegah atau menghentikan miksi. kontrol volunter ini hanya dapat terjadi bila saraf – saraf yang menangani kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh.
Bila terjadi kerusakan pada saraf – saraf tersebut maka akan terjadi inkontinensia urin (kencing keluar terus – menerus tanpa disadari) dan retensi urine (kencing tertahan).
Persarafan dan peredaran darah vesika urinaria, diatur oleh torako lumbar dan kranial dari sistem persarafan otonom. Torako lumbar berfungsi untuk relaksasi lapisan otot dan kontraksi spinter interna.
Peritonium melapis kandung kemih sampai kira – kira perbatasan ureter masuk kandung kemih. Peritoneum dapat digerakkan membentuk lapisan dan menjadi lurus apabila kandung kemih terisi penuh. Pembuluh darah Arteri vesikalis superior berpangkal dari umbilikalis bagian distal, vena membentuk anyaman dibawah kandung kemih. Pembuluh limfe berjalan menuju duktus limfatilis sepanjang arteri umbilikalis.

C. Urine (Air Kemih)
1. Sifat – sifat air kemih
o   Jumlah eksresi dalam 24 jam ± 1.500 cc tergantung dari masuknya (intake) cairan serta faktor lainnya.
o   Warna bening muda dan bila dibiarkan akan menjadi keruh.
o   Warna kuning terantung dari kepekatan, diet obat – obatan dan sebagainya.
o   Bau khas air kemih bila dibiarkan terlalu lama maka akan berbau amoniak.
o   Baerat jenis 1.015 – 1.020.
o   Reaksi asam bila terlalu lama akan menjadi alkalis, tergantung pada diet (sayur menyebabkan reaksi alkalis dan protein memberi reaksi asam).

2. Komposisi air kemih
ü  Air kemih terdiri dari kira – kira 95 % air
ü  Zat – zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein asam urea, amoniak dan kreatinin
ü  Elektrolit, natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fosfat dan sulfat
ü  Pigmen (bilirubin, urobilin)
ü  Toksin
ü  Hormon
3. Mekanisme Pembentukan Urine
Dari sekitar 1200ml darah yang melalui glomerolus setiap menit terbentuk 120 – 125ml filtrat (cairan yang telah melewati celah filtrasi). Setiap harinyadapat terbentuk 150 – 180L filtart. Namun dari jumlah ini hanya sekitar 1% (1,5 L) yang akhirnya keluar sebagai kemih, dan sebagian diserap kembali.

4. Tahap – tahap Pembentukan Urine
a. Proses filtrasi
Terjadi di glomerolus, proses ini terjadi karena permukaan aferent lebih besar dari permukaan aferent maka terjadi penyerapan darah, sedangkan sebagian yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein, cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowman yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke seluruh ginja.

b. Proses reabsorpsi
Terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium, klorida, fosfat dan beberapa ion karbonat. Prosesnya terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorpsi terjadi pada tubulus atas. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah terjadi kembali penyerapan dan sodium dan ion karbonat, bila diperlukan akan diserap kembali kedalam tubulus bagian bawah, penyerapannya terjadi secara aktif dikienal dengan reabsorpsi fakultatif dan sisanya dialirkan pada pupila renalis.

c. Augmentasi (Pengumpulan)
Proses ini terjadi dari sebagian tubulus kontortus distal sampai tubulus pengumpul. Pada tubulus pengumpul masih terjadi penyerapan ion Na+, Cl-, dan urea sehingga terbentuklah urine sesungguhnya.
Dari tubulus pengumpul, urine yang dibawa ke pelvis renalis lalu di bawa ke ureter. Dari ureter, urine dialirkan menuju vesika urinaria (kandung kemih) yang merupakan tempat penyimpanan urine sementara. Ketika kandung kemih sudah penuh, urine dikeluarkan dari tubuh melalui uretra.

d. Mikturisi
Peristiwa penggabungan urine yang mengalir melui ureter ke dalam kandung kemih., keinginan untuk buang air kecil disebabkan penanbahan tekanan di dalam kandung kemih dimana saebelumnmya telah ada 170 – 23 ml urine.
Miktruisi merupakan gerak reflek yang dapat dikendalikan dan dapat ditahan oleh pusat – pusat persyarafan yang lebih tinggi dari manusia, gerakannya oleh kontraksi otot abdominal yang menekan kandung kemih membantu mengosongkannya.

5. Ciri – ciri Urine Normal
Rata – rata dalam satu hari 1 – 2 liter, tapi berbeda – beda sesuai dengan jumlah cairan yang masuk. Warnanya bening oranye pucat tanpa endapan, baunya tajam, reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata – rata 6.

D. Kelainan- kelainan pada sistem perkemihan
Masalah-masalah dalam Eliminasi
Masalah-masalahnya adalah : retensi, inkontinensia urine, enuresis, perubahan pola urine (frekuensi, keinginan (urgensi), poliurine dan urine suppression).
Penyebab umum masalah ini adalah :
§  Obstruksi
§  Pertumbuhan jaringan abnormal
§  Batu
§  Infeksi
§  Masalah-masalah lain.

Retensi
a.    Adanya penumpukan urine didalam kandung kemih dan ketidak sanggupan kandung kemih untuk mengosongkan diri.
b.    Menyebabkan distensi kandung kemih
c.    Normal urine berada di kandung kemih 250 – 450 ml
d.   Urine ini merangsang refleks untuk berkemih.
e.    Dalam keadaan distensi, kandung kemih dapat menampung urine sebanyak 3000 – 4000 ml urine

Tanda-tanda klinis retensi
ü  Ketidaknyamanan daerah pubis.
ü  Distensi kandung kemih
ü  Ketidak sanggupan unutk berkemih.
ü  Sering berkeih dalam kandung kemih yang sedikit (25 – 50 ml)
ü  Ketidak seimbangan jumlah urine yang dikelurakan dengan intakenya.
ü  Meningkatnya keresahan dan keinginan berkemih.
2.      Inkontinensi urine
a.    Ketidaksanggupan sementara atau permanen otot sfingter eksterna untuk mengontrol keluarnya urine dari kandung kemih
b.    Jika kandung kemih dikosongkan secara total selama inkontinensia sampai inkontinensi komplit
c.    Jika kandung kemih tidak secara total dikosongkan selama inkontinensia sampai  inkontinensi sebagian

Penyebab Inkontinensi
o   Proses penuaan
o   Pembesaran kelenjar prostat
o   Spasme kandung kemih
o   Menurunnya kesadaran
o   Menggunakan obat narkotik sedative

Perubahan pola berkemih
Frekuensi
a.    Normal, meningkatnya frekuensi berkemih, karena meningkatnya cairan
b.    Frekuensi tinggi tanpa suatu tekanan intake cairan dapat diakibatkan karena cystitis
c.    Frekuensi tinggi pada orang stress dan orang hamil
d.   Canture / nokturia – meningkatnya frekuensi berkemih pada malam hari, tetapi ini tidak akibat meningkatnya intake cairan.

Urgency
a.    Adalah perasaan seseorang untuk berkemih
b.    Sering seseorang tergesa-gesa ke toilet takut mengalami inkontinensi jika tidak berkemih
c.    Pada umumnya anak kecil masih buruk kemampuan mengontrol sfingter eksternal.

Dysuria
a.    Adanya rasa sakit atau kesulitan dalam berkemih
b.    Dapat terjadi karena : striktura urethra, infeksi perkemihan, trauma pada kandung kemih dan urethra.

Polyuria
a.    Produksi urine abnormal dalam jumlah besar oleh ginjal, seperti 2.500 ml/hari, tanpa adanya peningkatan intake cairan
b.    Dapat terjadi karena : DM, defisiensi ADH, penyakit ginjal kronik
c.    Tanda-tanda lain adalah : polydipsi, dehidrasi dan hilangnya berat badan.

Urinari suppresi
a.    Adalah berhenti mendadak produksi urine
b.    Secara normnal urine diproduksi oleh ginjal secara terus menerus pada kecepatan 60 – 120 ml/jam (720 – 1440 ml/hari) dewasa
c.    Keadaan dimana ginjal tidak memproduksi urine kurang dari 100 ml/hari disanuria
d.   Produksi urine abnormal dalam jumlah sedikit oleh ginjal disebut oliguria misalnya 100 – 500 ml/hari
e.    Penyebab anuria dan oliguria : penyakit ginjal, kegagalan jantung, luka bakar dan shock.

Pemeriksaan penunjang
1.    Pemeriksaan Urine meliputi Volime, warna, Berat Jenis, Ph, Protein, Bikokarbonat, warna tambahan, dan osmolalitas.
2.    pemeriksaan darah meliputi : HB, SDM, kalium, Natrium, pencitraan radionuklida, dan Klorida, fosfat, dan magnesium meningkat.
3.    pemeriksaan ultrasound ginjal
4.    arteriogram ginjal
5.    EKG
6.    CT Scan
7.    Endourologi
8.    Urografi ekskretorius
9.    sistouretrogram berkemih

ISK
Pengertian
Infeksi saluran kemih adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, Ardaya, Suwanto, 2001).
Infeksi saluran kemih adalah  berkembang   biaknya mikroorganisme di dalam saluran kemih yang dalam keadaan normal tidak mengandung bakteri, virus atau mikroorganisme lain.
Infeksi saluran kemih pada bagian tertentu dari saluran perkemihan yang disebabkan oleh bakteri terutama Escherichia coli ; resiko dan beratnya meningkat dengan kondisi seperti refluks vesikouretral, obstruksi saluran perkemihan, statis perkemihan, pemakaian instrumen uretral baru, septikemia. (Susan Martin Tucker, dkk, 1998).

Etiologi
1.      Dapat berasal dari organisme pada faeces yang naik dari perineum uretra dan kandung kemih, serta menempel pada permukaan mucosa.
2.      Pengosongan kandung  kemih yang tidak lengkap .
3.      Gangguan status metabolis (diabetes).
4.      Refluks uretrovesikel ® refluks (aliran balik) urine dari uretra ke dalam kandung kemih.
5.      Refluks uretrovesikel ®dapat disebabkan o/ disfungsi leher kandung kemih uretra.
Uretrovesikel atau refluks uretrovesikel ® aliran balik urin dari kandung kemih ke dlm kedua ureter.
6.      Kontaminasi fekal.
7.      Hubungan seksual ® berperan masuknya organisme dari perineum ke dalam kandung kemih.
8.      Pemasangan alat ke dalam traktus urinarius
9.      Statis urine

Patofisiologi
Infeksi tractus urinarius terutama berasal dari mikroorganisme pada faeces yang naik dari perineum ke uretra dan kandung kemih serta menempel pada permukaan mukosa. Agar infeksi dapat terjadi, bakteri harus mencapai kandung kemih, melekat pada dan mengkolonisasi epitelium traktus urinarius untuk menghindari pembilasan melalui berkemih, mekanisme pertahan penjamu dan cetusan inflamasi.
Inflamasi, abrasi mukosa uretral, pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap, gangguan status metabolisme (diabetes, kehamilan, gout) dan imunosupresi meningkatkan resiko infeksi saluran kemih dengan cara mengganggu mekanisme normal. Infeksi saluran kemih dapat dibagi menjadi sistisis dan pielonefritis.
Pielonefritis akut biasanya terjadi akibat infeksi kandung kemih asendens. Pielonefritis akut juga dapat terjadi melalui infeksi hematogen. Infeksi dapat terjadi di satu atau di kedua ginjal. Pielonefritis kronik dapat terjadi akibat infeksi berulang, dan biasanya dijumpai pada individu yang mengidap batu, obstruksi lain, atau refluks vesikoureter.
Sistitis (inflamasi kandung kemih) yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya infeksi dari uretra. Hal ini dapat disebabkan oleh aliran balik urine dari uretra ke dalam kandung kemih (refluks urtrovesikal), kontaminasi fekal, pemakaian kateter atau sistoskop.
Uretritis suatu inflamasi biasanya adalah suatu infeksi yang menyebar naik yang digolongkan sebagai general atau mongonoreal. Uretritis gnoreal disebabkan oleh niesseria gonorhoeae dan ditularkan melalui kontak seksual. Uretritis nongonoreal ; uretritis yang tidak berhubungan dengan niesseria gonorhoeae biasanya disebabkan oleh klamidia frakomatik atau urea plasma urelytikum. Pielonefritis (infeksi traktus urinarius atas) merupakan infeksi bakteri piala ginjal, tobulus dan jaringan intertisial dari salah satu atau kedua ginjal. Bakteri mencapai kandung kmih melalui uretra dan naik ke ginjal meskipun ginjal 20 % sampai 25 % curah jantung; bakteri jarang mencapai ginjal melalui aliran darah ; kasus penyebaran secara hematogen kurang dari 3 %.

Macam-macam ISK :
1.      Uretritis (uretra)
2.      Sistisis (kandung kemih)
3.      Pielonefritis (ginjal)
Gambaran Klinis :
  • Uretritis biasanya memperlihatkan gejala :
  1. Mukosa memerah dan oedema
  2. Terdapat cairan eksudat yang purulent
  3. Ada ulserasi pada urethra
  4. Adanya rasa gatal yang menggelitik
  5. Good morning sign
  6. Adanya nanah awal miksi
  7. Nyeri pada saat miksi
  8. Kesulitan untuk memulai miksi
  9. Nyeri pada abdomen bagian bawah.
  • Sistitis biasanya memperlihatkan gejala :
  1. Disuria (nyeri waktu berkemih)
  2. Peningkatan frekuensi berkemih
  3. Perasaan ingin berkemih
  4. Adanya sel-sel darah putih dalam urin
  5. Nyeri punggung bawah atau suprapubic
  6. Demam yang disertai adanya darah dalam urine pada kasus yang parah.
  • Pielonefritis akut biasanya memperihatkan gejala :
  1. Demam
  2. Menggigil
  3. Nyeri pinggang
  4. Disuria
Pielonefritis kronik mungkin memperlihatkan gambaran mirip dengan pielonefritis akut, tetapi dapat juga menimbulkan hipertensi dan akhirnya dapat menyebabkan gagal ginjal.
Manifestasi Klinis
    1. Bakteriuria
    2. Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih (sistisis)
    3. Hematuria
    4. Nyeri punggung
    5. Demam
    6. Menggigil, nyeri ketika berkemih
    7. Terdesak kencing (urgency), disuria
Komplikasi :
  • Pembentukan Abses ginjal atau perirenal.
  • Gagal ginjal
Pemeriksaan diagnostik
Urinalisis
  • Leukosuria atau piuria terdapat > 5 /lpb sedimen air kemih.
  • § Hematuria 5 – 10 eritrosit/lpb sedimen air kemih.
Bakteroilogis
  • Mikroskopis ; satu bakteri lapangan pandang minyak emersi.
    102 – 103 organisme koliform/mL urin plus piuria.
  • Biakan bakteri
  • Tes kimiawi; tes reduksi griess nitrate berupa perubahan warna pada uji carik.

Pengobatan penyakit ISK
1.      Terapi antibiotik untuk membunuh bakteri gram positif maupun gram negatif. Amoxicillin 20-40 mg/kg/hari dalam 3 dosis.
2.      Co-trimoxazole atau trimethoprim 6-12 mg trimethoprim/kg/hari dalam 2 dosis.
3.      Cephalosporin seperti cefixime atau cephalexin.
4.      Co-amoxiclav digunakan pada ISK dengan bakteri yang resisten terhadap cotrimoxazole.
5.      Obat-obatan seperti asam nalidiksat atau nitrofurantoin tidak digunakan pada anak-anak  yang dikhawatirkan mengalami keterlibatan ginjal pada ISK.
6.      Apabila pielonefritis kroniknya disebabkan oleh obstruksi atau refluks, maka diperlukan penatalaksanaan spesifik untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.
7.      Dianjurkan untuk sering minum dan BAK sesuai kebutuhan untuk membilas microorganisme yang mungkin naik ke uretra, untuk wanita harus membilas dari depan ke belakang untuk menghindari kontaminasi lubang urethra oleh bakteri faeces.




BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).
Sistem perkemihan terdiri dari: dua ginjal (ren) yang menghasilkan urin, dua ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung kemih), satu vesika urinaria (VU) sebagai tempat urin dikumpulkan, dan satu urethra sebagai urin dikeluarkan dari vesika urinaria.

B. Saran
Semoga makalah ini dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan dan sasarannya. Kami selalu membuka diri untuk menerima saran dan kritik dari semua pihak yang sama-sama bertujuan membangun makalah ini demi perbaikan dan penyempurnaan dalam pembuatan makalah kami ke depannya.

















DAFTAR PUSTAKA
Guyton dan Hall. 2007. Buku Ajar FISIOLOGI KEDOKTERAN Edisi II. Jakarta: EGC
Pearce, Efelin C. 2006. Anatomi dan fisiologi untuk paramedic Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Snell, Richard S. 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Jakarta: EGC
http://totonrofiunsri.wordpress.com/2009/01/28/anatomi-dan-fisiologi-sistem-perkemihan/
Luvina, Evi Dwisang, (2003), Inti Sari Biologi Untuk SMA, Jakarta : Gramedia.

Prawirohartono Slamet, (1991), IPA Biologi SMP, Jakarta : Gramedia.

Syamsuri Istamar, (2004), Biologi Untuk SMA, Jakarta : Erlangga.

Syarifuddin, (1992), Anatomi dan Fisiologi Untuk Keperawatan, Jakarta : EGC.

Gambar ginjal, (2008), www.geoogle.com

Gambar proses pembentukan urine, (2008), www.geoogle.com
http://pisaudokter.blogspot.com/2011/02/anatomi-sistem-urinaria.html






Posting Komentar