do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Senin, 10 November 2014

Jejak Seni Manusia Gua



Jejak Seni Manusia Gua
Reporter : Windu Tiastuti Juru Kamera : Joni Suryadi indosiar.com, Sulsel - Lukisan yang terdapat di dinding gua peninggalan manusia pra-sejarah ribuan tahun lalu, menjadi salah satu bahan bagi perkembangan manusia dari zaman ke zaman. Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan dan juga Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, menyimpan berbagai karya seni manusia pra-sejarah, yang telah berusia ribuan tahun tersebut. Belum ada jawaban yang pasti, mengenai kapan tepatnya manusia mulai mengenal seni lukis. Para ahli menemukan, karya seni lukis manusia paling tua, terdapat pada dinding-dinding gua alam. Dibuat oleh manusia yang diperkirakan hidup pada zaman Batu Tengahan. Zaman yang berlangsung beribu-ribu tahun lalu. Lukisan dinding gua paling primitif ditemukan diberbagai belahan dunia. Bukti bahwa seni bersifat amat Universal. Lukisan ini bisa ditemui disejumlah wilayah Kepulauan Indonesia Bagian Timur. Seperti di Gua Leyang-leyang, Sulawesi Selatan, dan Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Gua Leyang-leyang di Kabupaten Maros, menjadi sangat berarti bagi penelitian sejarah Indonesia. Karena lukisan karya manusia pra-sejarah dibeberapa bagian dindingnya masih bertahan hingga sekarang. Lukisan berwarna dasar merah tua, terdiri dari beberapa motif. Yakni lukisan babi rusa yang merupakan binatang buruan dan gambar cap tangan. Dari hari penelitian beberapa ahli, terungkap bahwa cap tangan manusia sebatas lengan dengan kelima jari masih lengkap. Merupakan tanda penolak bala dalam kepercayaan di masa itu. Sedangkan cap tangan, yang salah satu jarinya terpotong atau mengalami mutilasi, merupakan tanda berkabung. Manusia Purba juga mengambarkan babi rusa yang tertancap tombak, dengan pengharapan agar hasil buruan membawa hasil memuaskan. Selain Gua Leyang-leyang, lukisan dingin gua juga bisa ditemui di Sulawesi Tenggara, terutama di Kabupaten Muna. Gua Liang Kabori dan Gua Metanduno. Ribuan tahun lalu juga telah dimanfaatkan sebagai hunian sementara oleh Manusia Purba yang hidupnya masih nomaden. Kedua gua ini berada di Desa Bolo, Kecamatan Katobo,dan karna terjadi pemekaran desa maka gua tersebut sekarang ini berada di desa liangkabori (pemekaran dari desa bolo) kecamaran lohia, sekitar 12 kilometer dari Raha, kota Kabupaten Muna. Di dinding gua-gua inilah, mereka melukiskan aktifitas sehari-hari, termasuk lukisan berbagai jenis binatang. Di dalam Gua Metanduno yang artinya Bertanduk, terdapat 330 lukisan. Sedang di Gua Liangkabori atau Liang Bergambar, terdapat 130 lukisan. Lukisan yang mengambarkan manusia sedang berburu menjadi tema yang dominan. Dan digambarkan sangat atraktif dengan tombak yang siap dihujap, dan sejumlah pemburu menunggang kuda. Di samping lukisan berbagai binatang seperti rusa, babi dan kambing. Berburu adalah kegiatan yang mendominasi kehidupan Manusia Purba, untuk memenuhi kebutuhan logitik mereka. Aktifitas ini menjadi bagian yang harus dikerjakan kaum pria. Sedangkan warna merah yang menjadi satu-satunya warna lukisan dinding gua dibuat dari unsur-unsur alam. Seperti tumbukan jenis batuan tertentu. Sari akar atau kulit tumbuhan dan air, sehingga menghasilkan warna yang hingga kini masih bertahan. Warna merah, konon dipercaya sebagai simbul kekuatan. Gua Layang-layang, Gua Metanduno dan Liangkabori, memiliki karateristik Giologis yang sama. Yakni berada diantara perbukitan, terbentuk dari lapisan kapur dan endapan laut. Berjuta-juta tahun lalu, lokasi gua-gua ini merupakan dasar laut. Sebelum mengalami masa surut yang hebat dan akhirnya menjadi daratan sampai saat ini. Sisa-sisa habibat laut seperti terumbu karang dan kerang-kerangan atau moluskas yang sudah menfosil, masih banyak ditemukan menyatu dengan batuan kapur. Sayangnya, belum banyak wisatawan nusantara yang tertarik dengan jenis wisata sejarah. Terutama obyek pra-sejarah yang miskin ornamen dan berada ditempat-tempat yang umumnya sulit dijangkau, sehingga membutuhkan usaha. (Sup) ------------------------------------------------------------------------- SUMBER http://www.indosiar.com/ragam/jejak-seni-manusia-gua_39287.html

Tidak ada komentar: