do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Kamis, 27 November 2014

MAKALAH HIV AIDS




“ H I V/ A I D S “


KELOMPOK  : VII
ASDAR
SAMSIA HAJAR
WD. SRI RIZKY IRA HASTATI
SRI AYU TRISNAWATI
WAODE SUFIANI



AKADEMI KEPERAWATAN
PEM.KAB MUNA
2014

KATA PENGANTAR
                    
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada Penderita AIDS” dengan sebaik-baiknya.
Adapun maksud dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas ilmu keperawatan dasar III serta sebagai syarat menempuh ujian semester.
Dalam penyusunan makalah ini,penulis telah mengalami berbagai hal baik suka maupun duka. Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini  tidak akan selesai dengan lancar dan tepat waktu tanpa adanya bantuan, dorongan, serta bimbingan dari berbagai pihak. Sebagai rasa syukur atas terselesainya makalah ini, maka dengan tulus penulis sampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan baik pada teknik penulisan maupun materi. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan dapat diterapkan dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang berhubungan dengan judul makalah ini.

Raha,    April 2014

       
          Penyusun
                                                            

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN
1.      Latar belakang
2.      Tujuan penulisan
3.      Rumusan masalah
BAB II : PEMBAHASAN
1.      KONSEP DASAR PENYAKIT
a). Defenisi
b). Etiologi
c). Patofisiologi
d). Tanda dan gejala
e). Komplikasi
f). Pemeriksaan Diagnostik
2.      KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1)   Pengkajian
2)   Riwayat kesehatan
3)   Pola aktivitas sehari-hari
4)   Pemeriksaan Fisik
5)   Analisa data
6)   Diagnosa Keperawatan
BAB III : PENUTUP
a).Kesimpulan
b). Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi atau sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV. Virusnya Human Immunodeficiency Virus HIV yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan. HIV umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah,  dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Penyakit AIDS ini telah menyebar ke berbagai negara di dunia. Bahkan menurut UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta jiwa sejak pertama kali diakui tahun 1981, dan ini membuat AIDS sebagai salah satu epidemik paling menghancurkan pada sejarah. Meskipun baru saja, akses perawatan antiretrovirus bertambah baik di banyak region di dunia, epidemik AIDS diklaim bahwa diperkirakan 2,8 juta (antara 2,4 dan 3,3 juta) hidup pada tahun 2005 dan lebih dari setengah juta (570.000) merupakan anak-anak. Secara global, antara 33,4 dan 46 juta orang kini hidup dengan HIV.Pada tahun 2005, antara 3,4 dan 6,2 juta orang terinfeksi dan antara 2,4 dan 3,3 juta orang dengan AIDS meninggal dunia, peningkatan dari 2003 dan jumlah terbesar sejak tahun 1981.
Di Indonesia menurut laporan kasus kumulatif HIV/AIDS sampai dengan 31 Desember 2011 yang dikeluarkan oleh Ditjen PP & PL, Kemenkes RI tanggal 29 Februari 2012 menunjukkan jumlah kasus AIDS sudah menembus angka 100.000. Jumlah kasus yang sudah dilaporkan 106.758 yang terdiri atas 76.979 HIV dan 29.879 AIDS dengan 5.430 kamatian. Angka ini tidak mengherankan karena di awal tahun 2000-an kalangan ahli epidemiologi sudah membuat estimasi kasus HIV/AIDS di Indonesia yaitu berkisar antara 80.000 – 130.000. Dan sekarang Indonesia menjadi negara peringkat ketiga, setelah Cina dan India, yang percepatan kasus HIV/AIDS-nya tertinggi di Asia.
2.      Tujuan penulisan
1.      Untuk mengetahui definisi AIDS.
2.      Untuk mengetahui etiologi/penyebab AIDS
3.      Untuk mengetahui cara penularan AIDS
4.      Untuk mengetahui manifestasi klinis pada klien AIDS
5.      Untuk mengetahui patofisiologi AIDS
6.      Untuk mengetahui pathway AIDS
7.      Untuk mengetahui komplikasi klien dengan AIDS
8.      Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik pada klien AIDS
9.      Untuk mengetahui penatalaksanaan medis, keperawatan dan diet pada klien AIDS








BAB II
PEMBAHASAN

1.    KONSEP DASAR PENYAKIT
A.      DEFINISI
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi atau sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV. Pengertian AIDS menurut beberapa ahli antara lain:
1.    AIDS adalah infeksi oportunistik yang menyerang seseorang dimana mengalami penurunan sistem imun yang mendasar ( sel T berjumlah 200 atau kurang )dan memiliki antibodi positif terhadap HIV. (Doenges, 1999).
2.    AIDS adalah suatu kumpulan kondisi klinis tertentu yang merupakan hasil akhir dari infeksi oleh HIV. (Sylvia, 2005).
B.  ETIOLOGI
HIV yang dahulu disebut virus limfotrofik sel T manusia tipe III (HTLV-III) atau virus limfadenapati (LAV), adalah suatu retrovirus manusia sitopatik dari famili lentivirus. Retrovirus mengubah asam ribonukleatnya (RNA) menjadi asam deoksiribonukleat (DNA) setelah masuk ke dalam sel pejamu. HIV -1 dan HIV-2 adalah lentivirus sitopatik, dengan HIV-1 menjadi penyebab utama AIDS diseluruh dunia.
Genom HIV mengode sembilan protein yang esensial untuk setiap aspek siklus hidup virus. Dari segi struktur genomik, virus-virus memiliki perbedaan yaitu bahwa protein HIV-1, Vpu, yang membantu pelepasan virus, tampaknya diganti oleh protein Vpx pada HIV-2. Vpx meningkatkan infektivitas (daya tular) dan mungkin merupakan duplikasi dari protein lain, Vpr. Vpr diperkirakan meningkatkan transkripsi virus. HIV-2, yang pertama kali diketahui dalam serum dari para perempuan Afrika barat (warga senegal) pada tahun 1985, menyebabkan penyakit klinis tetapi tampaknya kurang patogenik dibandingkan dengan HIV-1 (Sylvia, 2005)
Ñ         Cara Penularan
Cara penularan AIDS ( Arif, 2000 )antara lain sebagai berikut :
a.    Hubungan seksual, dengan risiko  penularan 0,1-1 % tiap hubungan seksual
b.   Melalui darah, yaitu:
·         Transfusi darah yang mengandung HIV, risiko penularan 90-98%
·         Tertusuk jarum yang mengandung HIV, risiko penularan 0,03%
·         Terpapar mukosa yang mengandung HIV,risiko penularan 0,0051%
·         Transmisi dari ibu ke anak :
a.    Selama kehamilan
b.    Saat persalinan, risiko penularan 50%
c.    Melalui air susu ibu(ASI)14%.
C.  PATOFISIOLOGI
Penyakit AIDS disebabkan oleh Virus HIV. Masa inkubasi AIDS diperkirakan antara 10 minggu sampai 10 tahun. Diperkirakan sekitar 50% orang yang terinfeksi HIV akan menunjukan gejala AIDS dalam 5 tahun pertama, dan mencapai 70% dalam sepuluh tahun akan mendapat AIDS. Berbeda dengan virus lain yang menyerang sel target dalam waktu singkat, virus HIVmenyerang sel target dalam jangka waktu lama. Supaya terjadi infeksi, virus harus masuk ke dalam sel, dalam hal ini sel darah putih yang disebut limfosit. Materi genetik virus dimasukkan ke dalam DNA sel yang terinfeksi. Di dalam sel, virus berkembangbiak dan pada akhirnya menghancurkan sel serta melepaskan partikel virus yang baru. Partikel virus yang baru kemudian menginfeksi limfosit lainnya dan menghancurkannya.
Virus menempel pada limfosit yang memiliki suatu reseptor protein yang disebut CD4, yang terdapat di selaput bagian luar. CD4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit.Sel-sel yang memiliki reseptor CD4 biasanya disebut sel CD4+ atau limfosit T penolong. Limfosit T penolong berfungsi mengaktifkan dan mengatur sel-sel lainnya pada sistem kekebalan (misalnya limfosit B, makrofag dan limfosit T sitotoksik), yang kesemuanya membantu menghancurkan sel-sel ganas dan organisme asing. Infeksi HIV menyebabkan hancurnya limfosit T penolong, sehingga terjadi kelemahan sistem tubuh dalam melindungi dirinya terhadap infeksi dan kanker.














PENYIMPANGAN KDM HIV/AIDS
            Hubungan seks, transfusi darah, palsenta ibu
                            HIV masuk dalam  tubuh
                                   Peredaran darah
                        Menginfeksi sel sasaran; sel T
                        Perlekatan pada reseptor sel T
                                   oleh gp 120 HIV
                     Fusi HIV pd membran sel oleh gp41
                                Masuk pada bagiian
                          tengah sitoplasma limfosit
                  Transkripsi RNA virus menjadi cDNA
                  Terintegrasi ke dlm kromosom pejamu
                    Membentuk 2 untai DNA;provirus
                             Meninggalkan inti sel
                                     Sitoplasma
                           Pemotongan protein virus
                               oleh HIV protease                                                                    menyebar  ke seluruh sel tubuh
                       Segmen2 kecil mengelilingi                                                               sarkoma kaposi multi organ
                                     RNA virus                                       jaringan kulit           invasi ke saluran gastrointestinal
                              Membentuk partikel                        vesikel pd kulit, herpes          melekat dan merusak sel-sel
                                  virus menular                                  lesi-lesi kutaneus                     mukosa saluran GI
                      Menyerang sel-sel rentan lain                     turgor kulit jelek                    iritasi mukosa
                                di seluruh tubuh                   GANGGUAN INTEGRITAS  merangsang gerakan peristaltik
                      menyerang  jaringan limfoid                             KULIT                                   diare
                            Destruksi sistem imun                                                            pengeluaran cairan dan elektrolit
                                            AIDS                             gatal, bersisik                     KEKURANGAN VOLUME
                            Penurunan sistem imun              stimulasi serabut saraf nyeri                 CAIRAN
                                RESIKO INFEKSI           transmisi impuls saraf      kandidiasis oral, oral hairy leukoplakia
      Perubahan status kesehatan                               Ke medula spinalis             ketidaknyamanan intake makanan
              hospitalisasi       menarik diri dari sosial       Saraf pusat                                            anorexia
takut/khawatir tantang panyakit    perasaan malu       Respon nyeri                                nutrisi inadekuat                             
               stress psikologi       ISOLASI SOSIAL      NYERI     kelemahan     PERUBAHAN NUTRISI KURANG  
                                                                                                                                 DARI KEBUTUHAN TUBUH
               ANSIETAS                                                                 INTOLERANSI AKTIVITAS                                                    
D.  TANDA DAN GEJALA
Gejala penyakit AIDS sangat bervariasi. Berikut ini gejala yang ditemui pada penderita AIDS  :
Panas lebih dari  1 bulan, Batuk-batuk, Sariawan dan nyeri menelan, Badan menjadi kurus sekali, Diare ,Sesak napas, Pembesaran kelenjar getah bening, Kesadaran menurun, Penurunan ketajaman penglihatan, Bercak ungu kehitaman di kulit.
Dan disaat fase infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi AIDS (bevariasi 1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi AIDS) akan terdapat gejala infeksi opurtunistik, yang paling umum adalah Pneumocystic Carinii (PCC), Pneumonia interstisial yang disebabkan suatu protozoa, infeksi lain termasuk menibgitis, kandidiasis, cytomegalovirus, mikrobakterial, atipikal.
1.    Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)  Acut gejala tidak khas dan mirip tanda dan gejala penyakit biasa seperti demam berkeringat, lesu mengantuk, nyeri sendi, sakit kepala, diare, sakit leher, radang kelenjar getah bening, dan bercak merah ditubuh.
2.    Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tanpa gejala
Diketahui oleh pemeriksa kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah akan diperoleh hasil positif.
3.    Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap, dengan gejala pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan.
F.   KOMPLIKASI
Adapun komplikasi kien dengan HIV/AIDS (Arif Mansjoer, 2000 ) antara lain :
1.      Pneumonia pneumocystis (PCP)
2.      Tuberculosis (TBC)
3.      Esofagitis
4.      Diare
5.      Toksoplasmositis
6.      Leukoensefalopati multifocal prigesif
7.      Sarcoma Kaposi
8.      Kanker getah bening
9.      Kanker leher rahim (pada wanita yang terkena HIV).
G.   PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Tes Laboratorium
Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
a.    Serologis
Ø Tes antibody serum
Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif,   tapi bukan merupakan diagnosa
Ø Tes blot western
Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Ø Sel T limfosit
Penurunan jumlah total
Ø Sel T4 helper
Indikator system imun (jumlah <200>
Ø T8 ( sel supresor sitopatik )
Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( T8 ke T4 ) mengindikasikan supresi imun.
Ø P24 ( Protein pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV)
Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi
Ø Kadar Ig
Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal
Ø Reaksi rantai polimerase
Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler.
Ø Tes PHS
Pembungkus hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif
b.    Budaya
Histologis, pemeriksaan sitologis urine, darah, feces, cairan spina, luka, sputum, dan sekresi, untuk mengidentifikasi adanya infeksi : parasit, protozoa, jamur, bakteri, viral.
c.    Neurologis
EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf)
d.   Tes Lainnya
Ø Sinar X dada
Menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahap lanjut atau adanya komplikasi lain
Ø Tes Fungsi Pulmonal
Deteksi awal pneumonia interstisial
Ø Skan Gallium
Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP dan bentuk pneumonia lainnya.
Ø Biopsis
Diagnosa lain dari sarcoma Kaposi
Ø Brankoskopi / pencucian trakeobronkial
Dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru.


KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A.    Pengkajian
1.    Biodata
a.    Identitas klien
1).  Nama :
2). Umur :
3). Jenis kelamin
4). Status perkawinan
5). Agama
6). suku/bangsa
7). Pendidikan
8). Pekerjaan
9). Pendapatan
10). Alamat
11).  Tanggal masuk RS
12). Tanggal pengkajian
13). Diagnosa medis
14). No. Register
15). Ruangan
16). RS
b.    Identitas penanggung
1). Nama
2). Umur
3). Jenis kelamin
4). Status
5). Agama
6). Suku/bangsa
7). Pendidikan
8). Pendapatan
9). Hubungan dengan klien
10). Alamat
2.    Riwayat kesehatan
Ñ    Keluhan utama : Perasaan lemah, diare, rasa muntah, nyeri abdomen.
Ñ    Riwayat keluhan utama : Klien dibawah di rumah sakit setelah beberapa kali BAB yang disertai muntah serta merasakan nyeri, kualitas nyeri yaitu hilang timbul dengan skala 6 (0-10) yaitu skala sedang, nyeri tersebut dirasakan pada bagian abdomen, waktu nyeri tidak menentu.
Ñ     Riwayat kesehatan dahulu : Klien belum pernah masuk rumah sakit dengan penyakit yang sama ataupun berbeda, klientidak memiliki penyakit keturunan ataupun penyakit menular.
Ñ    Riwayat kesehatan keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang memiliki penyakit yang sama ataupun penyakit keturunan.

3.    Pola aktivitas sehari-hari :
a). Makan dan minum :
·      Sebelum sakit : Klien mengatakan makan 3kali sehari dengan porsi cukup, yaitu nasi, ikan dan sayur.  Sedangkan untuk kebutuhan minum klien yaitu dengan frekuensi 6-7 gelas/hari, yakni air putih.
·      Selama sakit : Klien mengatakan jarang makan sebab tidak ada nafsu makan, sedangkan untuk kebutuhan minum klien biasanya 3-4 gelas/hari.
b). Istrahat dan tidur :
·      Sebelum sakit : Klien mengatakan, waktu tidur malam yaitu jam 22.00-05.00, sedangkan untuk tidur siang yaitu jam 13.00-15.00.
·      Selama sakit : Klien mengatakan waktu tidur tidak menentu.
c). Aktivitas :
·      Sebelum sakit : Klien mengatakan dapat melakukan berbagai jenis aktivitas dengan baik dan aktif.
·      Selama sakit : Klien mengatakan tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasanya.

d). Eliminasi :
·      Sebelum sakit : Klien mengatakan BAB dalam konsistensi padat, berwarna kecoklatan, serta berbau khas amoniak dengan frekuensi 1-2kali/hari, sedangkan untuk BAK klien biasanya berwarna kuning dengan bau khas dan denganfrekuensi 3-4 kali/hari.
·      Selama sakit : Klien mengatakan BAB dalam konsistensi feses encer/cair, dengan frekuensi 5-6kali/hari. Sedangkan untuk BAK klien yaitu berwarna kuning, bau khas amoniak dengan frekuensi tetap yaitu 3-4kali/hari.
4.    Pemeriksaan fisik (Head to toe)
a). Keadaaan umum : Lemah
b). Kesadaran : Composmentis
c). Tanda-tanda vital :
·  Tekanan darah             : 130/80 mmHg
·  Nadi                            : 90 x/menit
·  Respirasi                      : 24 x/menit
·  Suhu                            : 39 0 C
d). Kepala
·  Inspeksi : Bentuk kepala normal, warna rambut hitam dan lurus, tidak terdapat  ketombe, tidak ada alopesia, tidak ada trauma dan pembengkakan pada kepala.
·  Palpasi : Tidak terdapat massa, tidak ada nyeri tekan.
e). Mata
·  Inspeksi : Mata simetris kiri dan kanan,tidak ada radang pada kelopak mata, tidak menggunakan alat bantu penglihatan.
·  Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tekanan intra okuler baik.
f). Hidung
·  Inspeksi : Bentuk simetris, tidak terdapat secret, tidak ada radang atau infeksi, terpasang oksigen 3liter/menit.
·  Palpasi :  Tidak terdapat massa, tidak ada nyeri tekan.
g). Telinga
·  Inspeksi : Bentuk simetris, auricula bersih, tidak ada tumpukan serumen.
·  Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak terdapat massa.
h). Mulut dan tenggorokan
·  Inspeksi : Tidak tampak cianosis pada bibir, bibir Nampak bersih, tidak ada caries, tidak ada peradangan, lidah Nampak bersih serta mukosa berwarna merah.
i). Leher
·  Inspeksi : Tidak ada pembesaran pada kelenjar thyroid, tidak tampak ada kekakuan.
·  Palpasi : Tidak terdapat massa, dan tidak ada nyeri tekan.
j). Sistem Respirasi
·  Inspeksi : Bentuk dada normal, simetris kiri dan kanan, frekuensi pernapasan 24kali/menit.
·  Palpasi : Tidak terdapat massa, tidak ada nyeri tekan.


k). Abdomen
·  Inspeksi : Permukaan perut datar,warna kulit sawo matang, tidak tampak adanya luka, tidak tampak adanya asites.
·  Palpasi : Bunyi peristaltic usus terdengar 6kali/menit
·  Perkusi : Bunyi thympani
·  Auskultasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan.
l).  Ekstremitas
1)   Ekstremitas atas
· Inspeksi : Tampak terpasang infuse, Tidak ada atrofi, tidak ada cianosis pada kuku.
· Palpasi : Tidak terdapat massa, tidak ada nyeri tekan, klien dapat merasakan sentuhan.
2)   Ekstremitas bawah
· Inspeksi : Klien dapat menggerakan kedua kakinya tetapi kekuatan ototnya berkurang, tidak tampak ada kekakuan sendi, tidak terdapat atrofi.
· Palpasi : Tidak terdapat massa atau benjolan, tidak ada nyeri tekan.




5.    Analisa Data
No
Data
Etiologi
Masalah keperawatan
1
DS :
-
DO :
Penurunan sistem imunitas tubuh
Hubungan seks, transfusi darah, plasenta
HIV masuk ke dalam tubuh
Peredaran darah
Menginfeksi sel sasaran; sel T
Perlekatan pada reseptor sel sasaran
Fusi HIV pada membran sel
Masuk pada sitoplasma
Transkripsi RNA virus
Integrasi ke dalam kromosom sel pejamu
Membentuk 2 untai DNA; provirus
Meninggalkan inti sel
Pemotongan protein virus oleh HIV protease
membentuk segmen kecil partikel virus menular
Menyerang sel-sel rentan lain ke seluruh tubuh
Menyerang jaringan limfoid
Destruksi sistem imun
Acquired imunodefisiensi syndrome (HIV)
Penurunan sistem imun
Resiko infeksi
2
DS :
-      Pernyataan mudah lelah
DO :
-      Diare
-      Turgor kulit jelek
-      Peristaltik usus meningkat
-      Mata cekung
-      Membran mukosa kering
-      Fese encer
Virus menular
Menyebar keseluruh tubuh
Sarkoma kaposi multi organ
invasi ke saluran gastrointestinal
Iritasi sel mukosa gastrointestinal
Merangsang gerakan peristaltik
Diare
Kekurangan volume cairan
3
DS :
-      Pernyataan mual
-      Anorexia/penurunan nafsu makan
DO :
-      Berat badan menurun
-      Muntah
-      Kandidiasi pada lidah
Penyebaran HIV ke seluruh tubuh
Sarkoma kaposi multi organ
Kandidiasis oral,  oral hairy leukoplakia
Ketidaknyamanan intake makanan
Anorexia
Nutrisi tidak adekuat

Nutrisi kurang dari kebutuhan
4
DS :
-      Mengeluh adanya rasa nyeri
DO :
-      Nampak meringis kesakitan
-      Skala nyeri dalam rentan 0-10
-      Penurunan rentan gerak
-      Nampak gelisah
Lesi-lesi kutaneus
Gatal, bersisik
Stimulasi serabut saraf nyeri
Transmisi impuls saraf ke medula spinalis
Saraf pusat
Respon nyeri
Nyeri

6.    Diagnosa Keperawatan
a).   Resiko infeksi berhubungan dengan imunodefisiensi.
b)    Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan sekresi gastrointestinal ditandai dengan diare berat, berkeringat,muntah ditandai dengan membran mukosa kering.
c).  Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nutrisi inadekuat ditandai dengan penurunan berat badan, hilangnya nafsu makan, mual muntah.
d). Nyeri berhubungan dengan infalamsi/kerusakan jaringan, lesi kutaneus ditandi dengan rasa gatal pada kulit, ketidaknyamanan, keluhan nyeri.
NO
DIAGNOSA
TUJUAN
INTERVENSI KEPERAWATAN
RASIONAL
1.
Resiko tinggi terhadap infeksi yang berhubungan dengan imunodefisiensi

·  Tidak adanya infeksi
·  Bebas dari tanda-tanda infeksi
Mandiri :
·      Lakukan pemeriksaan pada cairan tubuh untuk mengetahui adanya darah pada urine, feses,dan cairan muntah
·      Amati/laporkan epistaksis,hematoria, perdarahan vaginal non –menstruasi atau pengeluran darah melalui lesi/orisium tubuh/daerah penusukan terapi intravena

·      Pantau perubahan tanda-tanda vital  dan warna kulit, mis: tekanan darah, denyut nadi,pernapasan, pucat kulit/perubahan warna
·      Pantau perubahan tingkat kesadaran, dan gangguan penglihatan

·      Hindari injeksi IM, pengukuran rektal, suposituria,selang rektal

·      Mempertahankan lingkungan yang aman mis: menjaga  agar seluruh benda yang diperlukan dan bel pemanggil berada dalam jangkauan pasien dan menjaga tempat tidur pasien tetap rendah
·      Pertahankan istirahat ditempat tidur, kursi apabila trombosis di bawah 10.000 atau sesuai kebutuhan perseorangan  kaji aturan obat-obatan
Kolaborasi :
·      Tinjau ulang pemeriksaan laboratorium mis: PT, PTT, waktu pembekuan, trombosit, HB/HT
·      Berikan produk darah sesuai indikasi


·      Hindarkan penggunaan  produk asipirin

·      Mempercepat  deteksi adanya perdarahan /penantauan awal dari terapi mungkin dapat perdarahan kritis



·      Perdarahan spontan mengindikasikan trombositopenia imun









·      Timbulnya perdarahan/hemoragi dapat menunujukan adanya kegagalan sirkulasi atau syok






·      Perubahan dapat menunjukan adanya  peradarahan otak



·      Melindungi pasien dari prosedur  berkenaan dengan penyebab perdarahan  mis:  se3lang rektal dapat merobek  mukosa rectal


·      Mengurangi cedera yang tidak disengaja, yang dapat menyebabkan perdarahan.










·      Mengurangi kemungkinan cedera, meskipun aktivitas harus tetap dipertahankan.






·      Mendeteksi gangguan kemampuan pembekuan, mengidentivikasi kebutuhan terapi.


·      Transfusi diperlukan pada waktu terjadi perdarahan terus menurus/perdarahan spontan massif

·      Mengurangi agregasi trombosit,ketidakseimbangan/perpanjangan proses koagulasi
2.
Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan peningkatan sekresi gastrointestinal ditandai dengan diare berat, berkeringat,muntah ditandai dengan membran mukosa kering.

·      Mempertahankan hidrasi
·      Tanda-tanda vital stabil
·      Turgor kulit balik
Mandiri :
·    Pantau TTV  termasuk CVP bila terpasang . catat hipertensi, termasuk perubahan postural.
·    Cara peningkatan suhu dan durasi demam .berikan kompres hangat sesuai indikasi.petahankan tetap kering. Pertahankan kenyamanan suhu lingkungan.
·    Kajio turgor kulit5,membran mukosa,dan rasa haus.
·    Ukur  haluaran urine dan berat jenis urin. Ukur /kaji jumlah kehilangan diare. catat kehilangan takkasatmata.
·    Timbang berat badan sesuai indikasi.


·    Pantau pemasukan oral dan memasukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari.
·    Buat cairan mudah diberikan pada pasien, gunakan cairan yang mudah di toleransi oleh pasien dan yang menggantikaN elektrolit yang di butuhkan mis: gaturade, air daging. 

·      Indikator dari volume cairan sirkulasi.





·      Meningkatkan kebutuhan metaabolisme dan diaforesis yang berlebihan yang di hubungkan denga demam dlam meningkatkan kehilangan cairan takkasatmata.




·      Indi kator  tidak  langsung dari status cairan.


·      Peningkatan berat  jenis urine/penurunan haluaran urine menunjukkan perubahan perfusi ginjal/volume sirkulasi.



·      Meskipun kehilangan berat badan dan dapat menunjukkan penggunaan otot,fluktuasi tiba-tiba menunjukkan sstatus hidrasi.

·      Mempertahankan keseimbangan cairan ,mengurangi rasa  haus, dan melembabkan membran mukosa.

·      Meningkatkan pemasuklan.cairan tertentu mungkin telalu menimbulkan nyeri untuk dikonsumsi  mis: jeruk asamkarena lesi pada mulut
3.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh  yang berhubungan dengan nutrisi inadekuat ditandai dengan penurunan berat badan, hialngnya nafsu makan,mual muntah.

·  Mempertahankan berat badan.
·  Masukan oral adekuat.
·  Nafsu makan kembali normal.
Mandiri :
·      Kaji kemampuan untuk mengunyah, merasakan, dan menelan


·      Auskultasi bising usus









·      Timbang bera serangkaian  badan sesuai kebutuhan . evaluasi berat badan dalam adanya berat badan yang tidak sesuai.gunakan serangkaian berat badan dan atropometrik.
·      Hilangkan rangsang lingkungan yang berbahaya/kondisi yang memperburuk refleks gag.
·      Berikan perawatan mulut yang terus menurun,awasi tindaklan pencegahan sekresi.hindari obat kumur yang mengandung alkohol.

·      Raencanakan diet dengan pasien/oraang terdekat,jika memungkinkan ,sarankan”makanan dari rumah”.sedikan makanan/ kudapan yang sedikit tapi sering berupa makanan padat nutrisi, tidak bersifat asam  dan juga minuman dengan pilihan yang di sukaAI PASIEN. Mendorong konsumsi makanan berkalori tinggi , yang dapat merangsang nafsu makan.catat waktu,kapaan nafsu makan menjadi baik dan pada waktu itu usahakan untuk  menyajikan porsi makan yang lebih besar.

·      Lesi mulut,tenggorok dan esofagus dapat menyebabkan disfagia, penurunan kemampuan pasien untuk mengelola makanan dan mengurangi keinginan untuk makan.
·      hipermotilita, saluran intestinal umum terjadi dan di hubungkan dengan muntah dan diare, yang dapat mempengaruhi pilihan diet/ cara makan. CATATAN: tidak mampu mentoleransi laktosa dan malabsorpsi berhubungan dengan terjadinya diare dan mungkin membutuhkan perubahan pada diet/ formula tambahan MIS: sumber makanan.
·      Indikator kebutuhan nutrisi / pemasukan yang adekuat.CATATAN: karena adanya penekanan sistem imun , maka beberapa tes darah yang umumnya di gunakan untuk menguji  status nutrisi menjadi tidak berguna.




·      Mengurangurangi stimulus pusat muntah di medulla.





·      Mengurangi ketidaknyamanan yang berhubungan dengan mual muntah,lesi oral, mengeringkan mukosa,dan halitosis. Mulut yang bersih akan meningkatkan nafsu makan .




·      Melibatkan pasien dalam rencana memberikasn perasaan kontrol lingkungan  dan mungkin meningkatkan pemasukan. Memenuhi kebutuhan akan makanan non-institusional mungkin juga meningkatkan pemasukan.


4.
Nyeri yang berhubungan dengan infalamsi/kerusakan jaringan, lesi kutaneus ditandi dengan rasa gatal pada kulit, ketidaknyamanan, keluhan nyeri.

· Nyeri hilang/terkontrol
· Menunjukan ekspresi kenyamanan.
· Dapat melakukan istrahat dengan baik.
Mandiri :
·      Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi,intensitas, (skala1-10), ferkuensi, dan waktu.menandai gejala nonverbal mis: gelisah,takikardia, meringis.
·      Dorong pengungkapan perasaan.


·      Berikan aktivitas  hiburan,mis: membaca, berkujung, dn menonton telivisi

·      Lakukan tindakan paliatif, mis: pengubahan posisi, masase, rentang gerak pada sendi  yang sakit.
·      Berikan kompres hangat/lembab pada sisi injeksi pentamidin/IV selama 20 menit setelah pemberian
·      Instrusikan pasien/dorong untuk menggunakan visualisasi/bimbingan imajinasi, relaksasi  progesif, tehnik napas dalam
·      Berikan perawatan oral
Kolaborasi :
·      Berikan analgetik/antipiuretik, analgesik narkotik. Gunakan ADP ( analgesic yang dikontrol pasien) untuk memberikan analgesia 24 jam dngan dosis prn

·      Mengindikasikan kebutuhan untuk intervensi dan juga tanda-tanda perkembangan /refelusi komplikasi






·      Dapat mengurangi ansietas dan rasa takut, sehingga mengurangi presepsi akan ansietas rasa sakit.


·      Memfokuskan kembali perhatian; mungkin dapat meningkatkan kemampuan untuk menanggulangi.


·      Meningkatkan relaksasi/menurunkan ketegangan otot



·      Injeksi ini diketahui sebagai penyebab rasa sakit dan akses steril



·      Meningkatkan relaksasi dan perasaan sehat. Dapat menurunkan  kebutuhan narkotik analgesik ( depresan SSP) dimana telah terjadi proses degeneratif neuro motorik.



·      Ulserasi/lesi oral mungkin menyebabkan ketidak nyamanan,

·      Memberikan penurunan nyeri/tidak nyaman ; mengurangi demam. Obat yang dikontrol pasien berdasarkan waktu 24 jam mempertahankan kadar analgesia darah tetap stabil, mencegah kekurangan ataupun kelebihan obat-obatan.








BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
·      Berdasarkan data diatas dapat ditarik kesimpulan,bahwa penyakit HIV/AIDS adalah adalah sekumpulan gejala dan infeksi atau sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV.
·      Pengertian AIDS menurut beberapa ahli antara lain:
a).AIDS adalah infeksi oportunistik yang menyerang seseorang dimana mengalami penurunan sistem imun yang mendasar ( sel T berjumlah 200 atau kurang )dan memiliki antibodi positif terhadap HIV.
b).AIDS adalah suatu kumpulan kondisi klinis tertentu yang merupakan hasil akhir dari infeksi oleh HIV.
B.       Saran
o  Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
o  Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan demi tercapainya kesempurnaan dari makalah ini.







DAFTAR PUSTAKA

Heri.”Asuhan Keperawatan HIV/AIDS”,(Online),(http://mydocumentku.blogspot. com/2012/03/asuhan-keperawatan-hivaids.html, diakses 20 Oktober 2012)
Istiqomah, Endah.”Asuhan Keperawatan pada Klien dengan HIV/AIDS”,(Online) (http://ndandahndutz.blogspot.com/2009/07/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan.html, diakses 20 Oktober 2012)
Mansjoer, Arif . 2000 . Kapita Selekta Kedokteran . Jakarta : Media Sculapius
Marilyn , Doenges , dkk . 1999 . Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien . Jakarta : EGC
Price , Sylvia A dan Lorraine M.Wilson . 2005 . Patofissiologis Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit . Jakarta : EGC
UGI.2012.”Diet Penyakit HIV/AIDS”,(Online),(http://ugiuntukgiziindonesia. blogspot.com/2012/05/diet-penyakit-hivaids.html, diakses 20 Oktober 2012)

Posting Komentar