do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Senin, 10 November 2014

MENGINTIP SEJARAH, TRADISI & KEINDAHAN PULAU "BATU BERBUNGA"



MENGINTIP SEJARAH, TRADISI & KEINDAHAN PULAU "BATU BERBUNGA"
LUKISAN PURBA DI DINDING GUA Di pulau yang terbentuk sejak 1,8 juta tahun silam ini lukisan-lukisan prasejarah masih dapat dilihat di liang-liang hunian manusia purba pada saat lampau. Metanduno disebut gua bagi kaum laki-laki karena di dalamnya terdapat lukisan objek-objek bertanduk. Adapun Kabori disebut gua perempuan karena di dalamnya terdapat lukisan perempuan. PERJALANAN di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang saya lakukan beberapa waktu lalu itu memang menyimpan `harta terpendam' yang tak pernah lepas dari ingatan. Salah satunya ialah bukti kehidupan manusia prasejarah yang masih jelas terlihat di sana, yaitu dalam bentuk lukisanlukisan yang tergurat di dinding gua-gua batu. Gua-gua prasejarah itu berada di Desa Liangkabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Desa itu dapat ditempuh lewat perjalanan darat selama sekitar 50 menit dari Kota Raha, ibu kota Kabupaten Muna. Dari Raha, perjalanan dilakukan dengan melintasi jalan poros Raha-Watoputeh sepanjang 17 kilometer hingga tiba di Desa Mabodo. Dari Desa Mabodo, Desa Liangkabori berjarak sekitar 5 kilometer. Setelah pengunjung memasuki gerbang desa, dengan spontan masyarakat setempat mengarahkan wisatawan menuju rumah La Hada, 70. Dia merupakan pemandu sekaligus penjaga gua. Di rumahnya yang sederhana, La Hada menyambut sembari mempersilakan saya dan rombongan duduk di teras. Dia lalu menyodorkan buku lusuh berisi ratusan nama pengunjung yang pernah bertandang. Beberapa nama berkebangsaan asing tertulis di sana. Dengan mengenakan kemeja putih bergarisgaris hitam, topi cokelat, dan tas selempang berwarna-warni, La Hada menuntun kami meneruskan perjalanan. Masih ada 3 kilometer lagi yang harus kami lintasi untuk tiba di lokasi gua-gua peninggalan prasejarah, di jalan berbatu sempit yang hanya cukup dilewati satu mobil. Pemandangan bukit karst terhampar sepanjang perjalanan hingga di pintu masuk kompleks gua. Rumah-rumah penduduk setempat yang kami lewati berpagarkan batubatu kapur yang ditumpuk. Menurut La Hada, hanya sebagian dari puluhan gua di Desa Liangkabori yang masih dia ingat. Ia cuma mengingat 10 gua dan ceruk yang di dalamnya tertoreh lukisan, juga 23 gua lain yang tanpa lukisan. “Gua-gua tersebut adalah tempat tinggal mereka,“ ujar La Hada. Dia lalu menyebut 10 gua yang terdapat lukisan. Ke-10 gua itu ialah Metanduno yang berisi 310 lukisan, Liangkabori (130), Lakolambu (60), Toko (58), Wabose (48), La Tanggara (7), Pamisa (300), Lasaba (35), Pinda (50), serta Sugi Patani (7). Sementara itu, gua-gua tanpa lukisan yang masih diingat La Hada di antaranya liang Kantinale, Kawe, Kantaweri, Palola, dan Watotoru. Gua induk Berdasarkan penelitian, gambar-gambar yang dilukis di dalam dinding-dinding gua di sana dibuat pada abad ke-12. Bahannya, terang La Hada, campuran tanah liat dan getah pohon. Letak antargua di sana saling berdekatan, kecuali Sugi Patani. Nama-nama gua pun diciptakan berdasarkan lukisan yang ditemui di dalamnya dan bentuk gua. Metanduno, misalnya, disebut gua bagi kaum laki-laki karena di dalamnya terdapat lukisan objek-objek bertanduk. Adapun Kabori disebut gua perempuan karena di dalamnya terdapat lukisan perempuan. Metanduno dan Kabori, ungkap La Hada, merupakan liang atau gua induk karena ukuran mereka paling luas. Gua yang pertama dijumpai saat pelancong memasuki kompleks gua ialah Metanduno. Langit-langit di dalamnya mencapai 5 meter dengan lebar mencapai 10 meter. Di dinding dan langit-langit gua itu tertera lukisan-lukisan hewan dan manusia. Lukisan itu salah satunya menggambarkan sekawanan manusia yang sedang berburu di kaki gunung. Di atasnya terlukis tiga matahari. Selintas, saya pun tersentil. Apa benar mitos yang menyatakan bahwa dulu matahari lebih dari satu? Usil Sementara itu, salah satu sudut langit-langit dekat mulut gua terlihat berwarna hitam legam, yang berbeda dari warna dinding gua. Itu, La Hada menjelaskan, diperkirakan merupakan perapian yang dinyalakan para penghuni gua untuk membunuh dingin yang menyergap pada malam hari. Di dalam gua pun terdapat mata air. Aliran airnya ditampung pada cekungan batu. Hingga saat saya melihatnya, air masih terus mengalir memenuhi batu yang berfungsi sebagai bak penampungan. Dengan jarak sekitar 20 meter dari Metanduno, Liang (gua) Kabori menganga. Di dalamnya tak beda jauh dari suasana Metanduno. Sayang seribu sayang, lukisan-lukisan prasejarah di dalam gua itu terusik oleh tangantangan usil pengunjung lain. Goresan-goresan yang kebanyakan berupa huruf-huruf Latin tertera di beberapa bagian dinding gua. Para pelaku mungkin tidak paham sama sekali tentang keberadaan lukisan prasejarah di gua, sampai-sampai enggan kalah dan ikut-ikut menorehkan gambar dan tulisan di sana. Layang-layang Berjarak sekitar 2 kilometer dari Metanduno, juga menganga Gua Sugi Patani. Ia terletak lebih tinggi daripada gua-gua lain. Di dalamnya dapat ditemukan lukisan manusia bermain layanglayang. La Hada berkisah, Pulau Muna tempat dia bermukim itu diyakini sebagai tempat lahirnya permainan layang-layang. Layang-layang konon dibuat oleh salah satu penguasa Muna yang bernama Sugi Patani sebelum Kerajaan Muna dibentuk sekitar 4.000 tahun silam. La Hada rupanya punya pangkal dari ceritanya itu. Ia lalu menunjukkan sebuah buku berjudul Muna, Island of the First Kiteman. Dalam buku itu, si penulis yang berkebangsaan asing mematahkan perkiraan sebelumnya yang menyatakan bahwa permainan layang-layang lahir pertama kali di China 2.400 tahun yang lalu. ----------------------------- MENGINTIP SEJARAH PULAU "BATU BERBUNGA" PULAU Muna merupakan sebuah pulau kecil di sebelah tenggara Sulawesi. Ia termasuk Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara. Awalnya Pulau Muna dikenal dengan nama ‘wuna’, yang dalam bahasa setempat berarti ‘bunga’. Nama itu diambil dari gugusan batu karang yang sewaktu-waktu mengeluarkan tunas-tunas baru yang tumbuh seperti bunga karang. Itu yang kemudian membuat warga Muna menyebutnya ‘kontu kowuna’, artinya ‘batu berbunga’. Gugusan batu berbunga tersebut terletak di dekat masjid tua bernama Bahutara (bahtera). Menurut legenda masyarakat, di tempat itulah kapal Sawerigading Putra Raja Luwu dari Sulawesi Selatan terdampar. Dalam hasil penelitian yang tercatat di Museum Karst Indonesia di Wonogiri, Jawa Tengah, disebut hampir seluruh kawasan Pulau Muna tersusun dari batu gamping masa pleistosen--antara 1,8 juta dan 11.500 tahun yang lalu. Batu gamping itu merupakan terumbu karang yang terangkat dari dasar laut akibat desakan dari bawah dan membentuk tebingtebing batu gamping alias karst yang sa ngat luas. Untuk mencapai Pulau Muna, ada dua alternatif perjalanan. Pertama, menggunakan kapal laut, dan kedua, menggunakan pesawat perintis. Apabila melalui laut, perjalanan dimulai dari Pelabuhan Nusantara, Kendari, menuju Pelabuhan Raha di Kota Raha, ibu kota Kabupaten Muna, dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Jika menggunakan pesawat perintis, perjalanan dimulai dari Bandara Wolter Monginsidi, Kendari, menuju Bandara Sugimanuru yang terletak sekitar 25 km dari Raha. ---------------- ADU KUDA, UNJUK KEJANTANAN DEMI PUJAAN HATI MATAHARI hampir mencapai ubun-ubun di alun-alun Kota Raha, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, beberapa waktu lalu. Gulu dan Kaboga, dua kuda jantan, tengah bertarung sengit. Keduanya saling menggigit dan menendang. Ringkikan menyelingi saat hantaman lawan mendarat di wajah. Pertarungan dua kuda jantan itu bukan berlangsung di atas ring, melainkan di lapangan terbuka yang luas. Puluhan penonton tampak tegang menyaksikan laga sambil sesekali merekam pertarungan menggunakan telepon seluler. Beberapa penonton berlarian saat kuda yang tengah berkelahi beranjak ke dekat mereka. Tidak sedikit pula penonton yang memilih menyaksikan pertandingan dari atas pohon agar mendapat pemandangan yang bagus sekaligus terhindar dari amukan kuda yang salah sasaran. Sebenarnya Gulu dan Kaboga bukanlah kuda laga. Mereka juga bukan kuda balap yang berpostur tinggi tegap dan berotot. Mereka ialah kuda-kuda yang biasa digunakan dalam keseharian masyarakat Raha. Gulu dan Kaboga sebetulnya bapak dan anak. Pada awal pertarungan, keduanya disandingkan berdekatan dengan dua kuda betina. Ringkikan mulai beradu. Sesaat kemudian, adu jotos pun terjadi. “Ya, enggak binatang, enggak manusia, kalau sudah masalah perempuan pasti berkelahi,“ seru Ode Halili, pemilik salah satu kuda, sambil tertawa. Agar meriah Adu kuda merupakan tradisi yang sudah lama digelar di Raha. Dahulu kala, adu kuda, yang dalam bahasa Raha disebut pogiraha adara, dihelat hanya saat pesta perayaan panen. Namun kini, adu kuda diselenggarakan untuk penyambutan tamu dan acara-acara tertentu. Sejak lama kuda sangat akrab dalam kehidupan masyarakat Raha. Salah satunya berfungsi sebagai alat transportasi sebelum hadirnya kendaraan bermotor. Setiap hari kuda-kuda Raha dengan setia mengantar para petani dari rumah ke sawah atau kebun. Saat tiba masa panen, kuda jualah yang mengangkut hasil-hasil panen tersebut ke lumbung. Nyatanya kuda menyumbang jasa besar dalam kehidupan masyarakat setempat. Namun lewat adu kuda, hewan-hewan itu seperti disodorkan untuk terluka. “Bukannya kami tidak tahu terima kasih dan tidak sayang kepada kuda-kuda yang telah membantu pekerjaan kami. Kami terpaksa mengesampingkan rasa sayang kami untuk sesaat agar pesta panen yang hanya dilaksanakan setahun sekali dapat berlangsung meriah,“ ujar Tiworo, pemilik kuda lain. Seusai pertandingan, kuda yang terluka diobati dengan racikan khusus yang terbuat dari campuran arang baterai dan minyak tanah. Setelah racikan turun-temurun tersebut dioleskan pada bagian kuda yang cedera, dalam hitungan menit saja, luka-luka tersebut pun mulai mengering. ------------------------- MEMANJAKAN MATA DI NAPABALE HARI sudah gelap saat saya tiba di tepian Danau Napabale, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Tenda-tenda digelar di sana dan saya bersama beberapa rekan pun bermalam. Sinar mentari pagi pada keesokan hari menyeruak ke dalam tenda diiringi suara ketinting--perahu bermesin--yang bersahutan menyambut har baru. Mereka meninggalkan dermaga lalu menembus permukaan laut. Cantik betul pemandangan pagi di Napabale. Dalam bahasa setempat, Napabale berarti `pantai janur'. Danau Napabale di Sulawesi Tenggara menyuguhkan pesona wisata danau berair asin. Sebentang terowongan alam menghubungkannya dengan Teluk Muna. i Sumber air mengalir langsung dari Teluk Muna yang dihubungkan melalui terowongan alam sepanjang 30 meter dan lebar 9 meter. Saat laut pasang, terowongan tertutup air. Air di Danau Napabale asin. Pasalnya, sumber air mengalir langsung dari Teluk Muna yang dihubungkan melalui terowongan alam sepanjang 30 meter dan lebar 9 meter. Saat laut surut, terowongan itu dapat dilalui perahu. Namun, ketika laut pasang, terowongan tertutup air. Pagi itu air danau diselimuti warna hijau lembut. Gugusan batu karang yang ditumbuhi pepohonan terlihat bak pulau-pulau kecil yang tersebar di tengah danau. Airnya jernih sehingga dasar danau pun terlihat jelas dari permukaan. Napabale menyuguhkan dua pesona wisata alam sekaligus, yakni danau dan pantai. Pelancong bisa berenang atau menyusuri keindahan danau dengan menggunakan perahu yang disewakan para nelayan. Satu yang perlu dicoba ialah melintasi terowongan dan berlabuh di pantai yang bersebelahan dengan danau. Di sana, pelancong bisa bermain ombak atau sekadar bersantai di tepi pantai. Menurut cerita rakyat setempat, pernah ditemukan seorang gadis cantik terdampar di dalam terowongan pada abad ke-15. Warga melaporkan kejadian itu kepada raja di Kerajaan Muna. Raja pun jatuh hati pada sang gadis dan meminangnya menjadi permaisuri. Danau Napabale bisa dicapai dengan menggunakan taksi atau ojek motor selama sekitar 20 menit dari Kota Raha, ibu kota Kabupaten Muna, yang jaraknya hanya sekitar 15 kilometer. Alternatif lain, Alternatif lain, pelancong bisa menggunakan ketinting dari Pelabuhan Raha dan tiba di Danau Napabale dalam 15 menit. Di kawasan itu belum ada fasilitas penginapan. Jadi, pelancong yang ingin bermalam harus membawa perlengkapan berkemah dan alat-alat memasak. Apabila enggan bermalam ala petualang di dalam tenda, pelancong bisa menginap di beberapa penginapan di Kota Raha dengan harga terjangkau. dar http://etalasefotoberita.blogspot.com/2013/03/mengintip-sejarah-tradisi-keindahan.html

Poskan Komentar