do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Kamis, 27 November 2014

ASUHAN KEPERAWATAN KEJANG DEMAM PADA ANAK



MAKALAH   KMB  I
DOSEN  :  Ns. MUSRIANI, S.Kep. M.Kes

ASUHAN KEPERAWATAN KEJANG DEMAM PADA ANAK
 





OLEH
KELOMPOK 8
1.    LA GOLO
2.    ELIAS
3.    HASRAT
4.    SAIFUDIN



AKADEMI KEPERAWATAN (AKPER)
PEMKAB. MUNA
2012

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.
            Marilah kita panjatkan puji syukur kehadiraj Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nyalah kita diberikan nikmat kesehatan hingga sampai sekarang ini. Dan tak lupa pula shalawat serta salam kita haturkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW. Serta para sahabat-sahabat-Nya, pengikut-pegikutnya hingga akhir zaman. Dimana yang telah mengajarkan iman dan islam kepada kita, sehingga kita dapat menikmati indahnya keimanan dan Islam.
            Dengan penuh rasa syukur kami ucapkan karena dapat menyelesaikan tugas KMB I ini, yang diberikan oleh dosen Ns.Musriani,S.Kep.M.Kes, kepada kami sebagai tugas dalam mengikuti proses pembelajaran mata kuliah KMB I. Dalam penulisan dan penyusuan kata-kata pada tugas ini masih banyak kesalahan penulisan, untuk itu kami selaku penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pambaca demi kesempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.
Akhir kata semoga Makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin.
            Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Raha,18 November  2012
Penulis,









DAFTAR  ISI

                                                                                                               Halaman
HALAMAN  JUDUL................................................................................          i
KATA  PENGANTAR..............................................................................          ii
DAFTAR  ISI.............................................................................................          iii
BAB  I      PENDAHULUAN
                  A.  Latar Belakang....................................................................          1
                  B.  Tujuan.................................................................................          1
                  C.  Batasan Masalah ................................................................          1
BAB  II     TINJAUAN  TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN
                  KEJANG DEMAM
                  A.  Konsep Dasar......................................................................          2
                        1.   Pengertian.....................................................................          2
                        2.   Etiologi.........................................................................          2
                        3.   Klasifikasi.....................................................................          3
4.   Patofisiologi..................................................................          5
                        5.                                                                                           Manifestasi Klinik                    6
            6.   Komplikasi....................................................................          7   
7.   Pemeriksaan Penunjang.................................................          8
                        8.                                                                                           Penatalaksanaan Medik                        8                 
                  B.  Tinjauan Teoritis Tentang Asuhan Keperawatan................          11
                        1.   Pengkajian.....................................................................          11
                        2.   Diagnosa  Keperawatan................................................          12
                        3.   Intervensi Keperawatan................................................          13
                        4.   Evaluasi.........................................................................          15
BAB  IV   KESIMPULAN
                  A.  Kesimpulan.........................................................................          16
                  B.  Saran...................................................................................          16
DAFTAR  PUSTAKA
























BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kejang demam merupakan kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat. Kejang demam biasanya terjadi pada awal demam. Anak akan terlihat aneh untuk beberapa saat, kemudian kaku, kelojotan dan memutar matanya. Anak tidak responsif untuk beberapa waktu, napas akan terganggu, dan kulit akan tampak lebih gelap dari biasanya. Setelah kejang, anak akan segera normal kembali. Kejang biasanya berakhir kurang dari 1 menit, tetapi walaupun jarang dapat terjadi selama lebih dari 15 menit.
Berdasarkan hal tersebut kelompok tertarik untuk membahas tentang penyakit kejang demam dan dapat mengaplikasikan dalam memberikan asuhan keperawatan khususnya kepada anak.
B. Tujuan
            Tujuan penuliksan makalah ini adalah agar kami dapat menjelaskan :
1.      definisi penyakit kejang demam pada anak.
2.      etiologi penyakit kejang demam pada anak.
3.      manifestasi klinik penyakit kejang demam pada anak .
4.      patofisiologi penyakit kejang demam pada anak.
5.      komplikasi penyakit kejang demam pada anak.
6.      pemeriksaan diagnostik penyakit kejang demam pada anak .
7.      penatalaksanaan penyakit kejang demam pada anak.
8.      asuhan keperawatan yang harus diberikan pada klien dengan kejang demam.
C. Batasan Masalah
Batasan masalah yang dapat kami ajukan, yaitu kami hanya menjelaskan mengenai Asuhan Keperawatan Kejang Demam Pada Anak.



BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep dasar Kejang Demam
     1. Pengertian Kejang Demam
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal lebih dari 380 C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. (Arif Mansjoer. 2000)
Kejang demam (febrile convulsion) ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. (Taslim. 1989)
Kejang Demam (KD) adalah kejang yang terjadi pada suhu badan yang tinggi. Suhu badan yang tinggi ini disebabkan oleh kelainan ekstrakranial. (Livingston, 1954)
Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat sementara (Hudak and Gallo,1996).
Kejang demam adalah serangan pada anak yang terjadi dari kumpulan gejala dengan demam (Walley and Wong’s edisi III,1996).
Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38° c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam sering juga disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 1995).
Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat (1,2). Hal ini dapat terjadi pada 2-5 % populasi anak. Umumnya kejang demam ini terjadi pada usia 6 bulan – 5 tahun dan jarang sekali terjadi untuk pertama kalinya pada usia <> 3 tahun. (Nurul Itqiyah, 2008)
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena peningkatan suhu tubuh yang sering di jumpai pada usia anak dibawah lima tahun.
Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering dijumpai pada anak. Bangkitan kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38oC) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Penyebab demam terbanyak adalah infeksi saluran pernapasan bagian atas disusul infeksi saluran pencernaan. (Ngastiyah, 1997; 229).
     2. Etiologi
Penyebab kejang demam menurut Buku Kapita Selekta Kedokteran belum diketahui dengan pasti, namun disebutkan penyebab utama kejang demam ialah demam yang tinggi. Demam yang terjadi sering disebabkan oleh :
1.      Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA)
2.      Gangguan metabolic
3.      Penyakit infeksi diluar susunan saraf misalnya tonsilitis, otitis media, bronchitis.
4.      Keracunan obat
5.      Faktor herediter
6.      Idiopatik.
     3. Patofisiologi
Peningkatan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi difusi ion kalium dan natrium melalui membran tersebut dengan akibat teerjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmiter dan terjadi kejang. Kejang demam yang terjadi singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa. Tetapi kejang yang berlangsung lama ( lebih dari 15 menit ) biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat yang disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkat yang disebabkan oleh makin meningkatnya aktivitas otot, dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang mngakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi matang dikemudian hari sehingga terjadi serangan epilepsi spontan, karena itu kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis diotak hingga terjadi epilepsi.
     4. Klasifikasi Kejang Demam
Menurut Livingston ( 1954) Kejang demam di bagi atas:
Kejang demam sederhana : Kejang demam yang berlangsung singkat. Yang digolongkan kejang demam sederhana adalah
a.       kejang umum
b.      waktunya singkat
c.       umur serangan kurang dari 6 tahun
d.      frekuensi serangan 1-4 kali per tahun
e.       EEG normal
Sedangkan menurut subbagian saraf anak FKUI, memodifikasi criteria Livingston untuk membuat diagnosis kejang demam sederhana yaitu :
a.       Umur anak ketika kejang antara 6 bulan sampai 4 tahun
b.      Kejang berlangsung sebentar, tidak melebihi 15 menit.
c.       Kejang bersifat umum.
d.      Kejang timbul dalam 16 jam pertama
e.       Pemeriksaan neurologist sebelum dan sesudah kejang normal
f.       Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu setelah suhu normal tidak menunjukkan kelainan.
g.      Frekuensi bangkitan kejang dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali.
     5. Manifestasi klinis
Gejala berupa
1.      Suhu anak tinggi.
2.      Anak pucat / diam saja
3.      Mata terbelalak ke atas disertai kekakuan dan kelemahan.
4.      Umumnya kejang demam berlangsung singkat.
5.      Gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekauan atau hanya sentakan atau kekakuan fokal.
6.      Serangan tonik klonik ( dapat berhenti sendiri )
7.      Kejang dapat diikuti sementara berlangsung beberapa menit
8.      Seringkali kejang berhenti sendiri.
     6. Komplikasi
Menurut Taslim S. Soetomenggolo dapat mengakibatkan :
1.      Kerusakan sel otak
2.      Penurunan IQ pada kejang demam yang berlangsung lama lebih dari 15 menit dan bersifat unilateral
3.      Kelumpuhan
     7. Pemeriksaan Penunjang
1.      EEG
Untuk membuktikan jenis kejang fokal / gangguan difusi otak akibat lesi organik, melalui pengukuran EEG ini dilakukan 1 minggu atau kurang setelah kejang.
2.      CT SCAN
Untuk mengidentifikasi lesi serebral, mis: infark, hematoma, edema serebral, dan Abses.
3.      Pungsi Lumbal
Pungsi lumbal adalah pemeriksaan cairan serebrospinal (cairan yang ada di otak dan kanal tulang belakang) untuk meneliti kecurigaan meningitis
4.      Laboratorium
Darah tepi, lengkap ( Hb, Ht, Leukosit, Trombosit ) mengetahui sejak dini apabila ada komplikasi dan penyakit kejang demam.
     8. Penatalaksanaan Medis
Pada penatalaksanaan kejang demam ada 3 hal yang perlu dikerjakan yaitu :
1.      Pengobatan Fase Akut
Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu kejang pasien dimiringkan untuk mencegah aspirasi ludah atau muntahan. Jalan napas harus bebas agar oksigennisasi terjami. Perhatikan keadaan vital seperti kesadaran, tekanan darah, suhu, pernapasan dan fungsi jantung. Suhu tubuh tinggi diturunkan dengan kompres air dan pemberian antipiretik.
Obat yang paling cepat menghentikan kejangadalah diazepam yang diberikan intravena atau intrarektal. Dosis diazepam intravena 0,3-0,5 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1-2 mg/menit dengan dosis maksimal 20 mg. bila kejang berhenti sebelum diazepam habis, hentikan penyuntikan, tunggu sebentar, dan bila tidak timbul kejang lagi jarum dicabut. Bila diazepam intravena tidak tersedia atau pemberiannya sulit gunakan diazepam intrarektal 5 mg (BB<10>10kg). bila kejang tidak berhenti dapat diulang selang 5 menit kemudian. Bila tidak berhenti juga, berikan fenitoin dengan dosis awal 10-20 mg/kgBB secara intravena perlahan-lahan 1 mg/kgBb/menit. Setelah pemberian fenitoin, harus dilakukan pembilasan dengan Nacl fisiologis karena fenitoin bersifat basa dan menyebabkan iritasi vena.
Bila kejang berhenti dengan diazepam, lanjutkan dengan fenobarbital diberikan langsung setelah kejang berhenti. Dosis awal untuk bayi 1 bulan -1 tahun 50 mg dan umur 1 tahun ke atas 75 mg secara intramuscular. Empat jama kemudian diberikan fenobarbital dosis rumat. Untuk 2 hari pertama dengan dosis 8-10 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis, untuk hari-hari berikutnya dengan dosis 4-5 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis. Selama keadaan belum membaik, obat diberikan secara suntikan dan setelah membaik per oral. Perhatikan bahwa dosis total tidak melebihi 200mg/hari. Efek sampingnya adalah hipotensi,penurunan kesadaran dan depresi pernapasan. Bila kejang berhenti dengan fenitoin,lanjutkna fenitoin dengan dosis 4-8mg/KgBB/hari, 12-24 jam setelah dosis awal.
2.      Mencari dan mengobati penyebab
Pemeriksaan cairan serebrospinalis dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama. Walaupun demikian kebanyakan dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada kasus yang dicurigai sebagai meningitiss, misalnya bila ada gejala meningitis atau kejang demam berlangsung lama.
3.      Pengobatan profilaksis
Ada 2 cara profilaksis, yaitu (1) profilaksis intermiten saat demam atau (2) profilaksis terus menerus dengan antikonvulsan setiap hari. Untuk profilaksis intermiten diberian diazepam secara oral dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/hari dibagi menjadi 3 dosis saat pasien demam. Diazepam dapat diberikan pula secara intrarektal tiap 8 jam sebanyak 5mg (BB<10kg)>10kg) setiap pasien menunjukkan suhu lebih dari 38,5 0 C. efek samping diazepam adalah ataksia, mengantuk dan hipotonia.
Profilaksis terus menerus berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam berat yang dapat menyebabkan kerusakan otak tapi tidak dapat mencegah terjadinya epilepsy dikemudian hari. Profilaksis terus menerus setiap hari dengan fenobarbital 4-5mg.kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis. Obat lain yang dapat digunakan adalah asam valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari. Antikonvulsan profilaksis selama 1-2 tahun setelah kejang terakhir dan dihentikan bertahap selama 1-2 bulan.
Profilaksis terus menerus dapat dipertimbangkan bila ada 2 kriteria (termasuk poin 1 atau 2) yaitu :
1.      sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologist atau perkembangan (misalnya serebral palsi atau mikrosefal)
2.      Kejang demam lebih dari 15 menit, fokal, atau diikuti kelainan neurologist sementara dan menetap.
3.      Ada riwayat kejang tanpa demma pada orang tua atau saudara kandung.
4.      bila kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan atau terjadi kejang multiple dalam satu episode demam
Bila hanya mmenuhi satu criteria saja dan ingin memberikan obat jangka panjang maka berikan profilaksis intermiten yaitu pada waktu anak demam dengan diazepam oral atau rectal tuap 8 jam disamping antipiretik.














B. Konsep Asuhan Keperawatan
     1. Pengkajian
a.       Aktifitas / Istirahat
Gejala : Keletihan, kelemahan umum
Keterbatasan dalam beraktifitas / bekerja yang ditimbulkan oleh diri sendiri / orang terdekat / pemberi asuhan kesehatan atau orang lain.
Tanda : Perubahan tonus / kekuatan otot
Gerakan involunter / kontraksi otot ataupun sekelompok otot.
b. Sirkulasi
Gejala : Iktal : Hipertensi, peningkatan nadi sianosis
Posiktal : Tanda vital normal atau depresi dengan penurunan nadi dan pernafasan.
c. Eliminasi
Gejala : Inkontinensia episodik.
Tanda : Iktal : Peningkatan tekanan kandung kemih dan
tonus sfingter.
Posiktal : Otot relaksasi yang menyebabkan inkontenensia ( baik urine / fekal ).
d. Makanan dan cairan
Gejala : Sensitivitas terhadap makanan, mual / muntah yang
berhubungan dengan aktifitas kejang.
e. Neurosensori
Gejala : Riwayat sakit kepala, aktifitas kejang berulang, pingsan, pusing. Riwayat trauma kepala, anoksia dan infeksi cerebral.
f. Nyeri / kenyaman
Gejala : Sakit kepala, nyeri otot / punggung pada periode posiktal.
Tanda : Sikap / tingkah laku yang berhati –hati.
Perubahan pada tonus otot.
Tingkah laku distraksi / gelisah.


g. Pernafasan
Gejala : Fase iktal : gigi mengatup, sianosis, pernafasan menurun / cepat, peningkatan sekresi mukus.
Fase posiktal : apnea.
     2. Diagnosa Keperawatan
1.      Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah
2.      Tidak Efektinya Bersihan Jalan Nafas berhubungan dengan Peningkatan Sekresi Mukus
3.      Gangguan volume cairan kurang dari kebutuhann tubuh b.d peningkatan suhu tubuh
4.      Resiko tinggi kejang berulang berhubungan dengan riwayat kejang
5.      Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat.
     3. Intervensi Keperawatan
1. Dx 1 Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan cairan klien terpenuhi.
Kriteria hasil :
     TTV stabil
     Menunjukkan adanya keseimbangan cairan seperti output urin adekuat.
     Turgor kulit baik
     membrane mukosa mulut lembab
Intervensi :
1.      Ukur dan catat jumlah muntah yang dikleuarkan, warna, konsistensi.
R/ : menentukan kehilangan dan kebutuhan cairan tubuh
2.      Berikan makanan dan cairan
R/ : memnuhi kebutuhan makan dan minum
3.      Berikan support verbal dalam pemberian cairan
R/ : meningkatkan konsumsi cairan klien
4.      Kolaborasi berikan pengobatan seperti obat antimual.
R/ : menurunkan dan menghentikan muntah klien
5.      Pantau Hasil Pemeriksaan Laboratorium
R/ Untuk mengetahui status cairan klien.
2. Dx 2 Tidak Efektinya Bersihan Jalan Nafas b.d Peningkatan Sekresi Mukus
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan bersihan jalan nafas efektif
Kriteria hasil :
     sekresi mukus berkurang
     tak kejang
     gigi tak menggigit
Intervensi :
1.      Ukur Tanda-tanda vital klien.
R/ : untuk mengetahui status keadaan klien secara umum.
2.      Lakukan penghisapan lendir
R/ : menurunkan resiko aspirasi
3.      Letakan klien pada posisi miring dan permukaan datar
R/ : mencegah lidah jatuh kebelakang dan menyumbat jalan nafas
4.      Tanggalkan pakaian pada daerah leher atau dada dan abdomen
R/ : untuk memfasilitasi usaha bernafas
3. Dx. 3 Gangguan volume cairan kurang dari kebutuhann tubuh b.d peningkatan suhu tubuh
Tujuan : Keseimbangan cairan terpenuhi
1.      Observasi TTV (suhu tubuh) tiap 4 jam
R/ peningkatan suhu tubuh dari yang normal membutuhkan penambahan cairan.
2.      Hitung Intak & Output setiap pergantian shift.
R/ Untuk mengetahui keseibangan cairan klien.
3.      Anjurkan pemasukan/minum sesuai program.
R/ membantu mencagah kekurangan cairan.
4.      Kolaborasi pemeriksaan lab : Ht, Na, K.
R/ mencerminkan tingkat / derajat dehidrasi.

4. Dx. 4 Resiko tinggi kejang berulang b.d riwayat kejang
Tujuan : Agar tidak terjadi kejang berulang
1.      Observasi TTV (suhu tubuh) tiap 4 jam
R/ peningkatan suhu tubuh dapat mengakibatkan kejang berulang.
2.      Observasi tanda-tanda kejang.
R/ untuk dapat menentukan intervensi dengan segera.
3.      Kolaborasi pemberian obat anti kejang /konvulsi.
R/ menanggulangi kejang berulang.
5. Dx. 5 Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat.
Tujuan : Peningkatan status nutrisi
1.      Tingkatkan intake makanan dengan menjaga privasi klien, mengurangi gangguan seperti bising/berisik, menjaga kebersihan ruangan.
R/ cara khusus meningkatkan napsu makan.
2.      Bantu klien makan
R/ membantu klien makan.
3.      selingi makan dengan minum
R/ memudahkan makanan untuk masuk.
4.      Monitor hasil lab seperti HB, Ht
R/ : Monitor status nutrisi klien
5.      Atur posisi semifowler saat memberikan makanan.
R/ : Mengurangi regurtasi.
     4. Evaluasi
1.      Kekurangan volume cairan tidak terjadi
2.      Bersihan Jalan Nafas kembali efektif
3.      Keseimbangan kebutuhan cairan klien tercukupi.
4.      Resiko tinggi kejang berulang tidak terjadi
5.      kebutuhan Nutrisi klien dapat terpenuhi.



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.      Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal lebih dari 380 C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. (Arif Mansjoer. 2000)
2.      Kejang demam (febrile convulsion) ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. (Taslim. 1989)
3.      Kejang Demam (KD) adalah kejang yang terjadi pada suhu badan yang tinggi. Suhu badan yang tinggi ini disebabkan oleh kelainan ekstrakranial. (Livingston, 1954)
B. Saran
1.      saya mengharapkan kritik dan pesan yang membangun untuk perbaikan selanjutnya.













DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.com/askep kejang.diakses tanggal 16 november 2012.raha.
Poskan Komentar