do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Sabtu, 22 November 2014

MAKALAH KONSERVASI TANAH



BAB  1
PENDAHULUAN


1.1 latar Belakang
Konservasi adalah pelestarian atau perlindungan sedangkan menurut ilmu lingkungan yaitu upaya efisiensi dari penggunaan energy,produksi,atau distribusi yang berakibat pada  pengurangan konsumsi energy dilain pihak menyediakan jasa yang sama tingkatannya.
Konservasi tanah adalah penempatan tiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah dan memperlakukannya,sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah.kemampuan tanah dalam mendukung pertumbuhan tanaman akan berkurang apabila kerusakan tanah oleh satu atau lebih proses tersebut terjadi.
konservasi air yaitu penggunaan air hujan yang jatuh ketanah untuk pertanian seefisien mungkin dan mengatur waktu aliaran agar tidak terjadi banjir yang dapat merusak serta tersedianya air pada musim kemarau.

1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah:
1.      Bagaimana kondisi lahan dan system pertanian yang digunakan
2.      Bagaimana metode konservasi yang digunakan pada masyarakat Desa Labone


1.3  Tujuan Penulisan
1.    Untuk mengetahui kondisi lahan dan system pertanian yang digunakan
2.    Untuk mengetahui metode konservasi yang digunakan


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Konservasi Tanah
Metode konservasi tanah dapat dibagi dalam tiga golongan utama, yaitu
 (1) metode vegetatif,      
 (2) metode mekanik dan
 (3) metode kimia.

A.    Metode vegetative
             adalah penggunaan tanaman atau bagian-bagian tanaman atau sisa-sisanya untuk mengurangi daya tumbuk butir hujan yang jatuh, mengurangi jumlah dan kecepatan aliran permukaan yang pada akhirnya mengurangi erosi tanah (Arsyad, 2006).
Beberapa teknik konservasi tanah dan  air melalui cara vegetatif seperti pertanaman lorong (alley cropping), silvipastura, dan pemberian mulsa.

1.       Pertanaman lorong (alley cropping)
           adalah sistem bercocok tanam dan konservasi tanah dimana barisan tanaman perdu leguminosa ditanam rapat (jarak 10-25 cm) menurut garis kontur (nyabuk gunung) sebagai tanaman pagar dan tanaman semusim ditanam pada lorong di antara tanaman pagar. Menerapkan pertanaman lorong pada lahan miring biayanya jauh lebih murah dibandingkan membuat teras bangku, tapi efektif menahan erosi. Setelah 3-4 tahun sejak tanaman pagar tumbuh akan terbentuk teras. Terbentukannya teras secara alami dan berangsur sehingga sering disebut teras kredit.
2.    Sistem silvipastura
          sebenarnya bentuk lain dari tumpangsari, tetapi yang ditanam di sela-sela tanaman hutan bukan tanaman pangan melainkan tanaman pakan ternak, seperti rumput gajah, setaria, dll. Ada beberapa bentuk silvipastura yang dikenal di Indonesia antara lain (a) tanaman pakan di hutan tanaman industri, (b) tanaman pakan di hutan sekunder, (c) tanaman pohon-pohonan sebagai tanaman penghasil pakan dan (d) tanaman pakan sebagai pagar hidup.
3 .    Pemberian mulsa
        dimaksudkan untuk menutupi permukaan tanah agar terhindar dari pukulan butir hujan. Mulsa merupakan teknik pencegahan erosi yang cukup efektif. Jika bahan mulsa berasal dari bahan organik, maka mulsa juga berfungsi dalam pemeliharaan bahan organik tanah. Bahan organik yang dapat dijadikan mulsa dapat berasal dari sisa tanaman, hasil pangkasan tanaman pagar dari sistem pertanaman lorong, hasil pangkasan tanaman penutup tanah atau didatangkan dari luar lahan pertanian.

    B.     Metode mekanik
 adalah semua perlakuan fisik mekanik yang diberikan terhadap tanah dan pembuatan bangunan untuk mengurangi aliran permukaan dan erosi, dan meningkatkan kemampuan penggunaan tanah. Metode mekanik dalam konservasi tanah dan air adalah pengolahan tanah, guludan, teras,  penghambat (check dam), waduk, rorak, perbaikan drainase dan irigasi (Arsyad, 2006).
   C.  Metode Kimia
           atau cara kimia dalam usahan pencegahan erosi,yaitu dengan pemanfaatan soil conditiner atau bahan pamtap tanah dalam hal memperbaiki struktur tanah sehingga tanah akan tetap resisten terhadap erosi. Bahan kimia memiliki pengaruh yang besar terhadap stabilitas tanah karena senyawa tersebuttahan terhadap mikrobia tanah permeabilitas tanah dipertinggi dan erosi berkurang.
2.2 Konservasi Air
Metode pengendalian tata air yang umum digunakan yaitu irigasi dan drainase. Irigasi merupakan usaha untuk menambah air ke dalam wilayah, sedangka drainase sebaliknya. Drainase berarti keadaan dan cara air-lebih keluar dari tanah. Air-lebih adalah bagian dari air yang ada di dalam tanah yang tidak dapat dipegang atau ditahan oleh butir-butir tanah dan memenuhi ruang pori tanah sehingga tanah menjadi jenuh air (Pahan, 2008).
Drainase pada tanah gambut secara alami selalu berada dalam kondisi sangat terhambat hingga tergenang. Hal ini memerlukan penanganan yang tepat sehingga drainase dapat diperbaiki untuk mencapai muka air tanah yang optimum tanpa mengakibatkan drainase yang berlebihan (over drainage). Drainase yang berlebihan akan mengakibatkan kekeringan pada tanah gambut yang bersifat tidak dapat balik (irreversible) dan penurunan muka tanah yang serius. Keberadaan mineral pirit pada tanah gambut sehingga tetap tereduksi juga harus diperhatikan.
Untuk mencapai kondisi ini, diperlukan jaringan drainase dan pintu-pintu air yang cukup (PPKS, 2006). Pembangunan sistem drainase di perkebunan terutama ditujukan untuk mengendalikan kelembaban tanah sehingga kadar airnya stabil antara 20-25% dengan kedalaman arus air maksimum 60 cm. Pembangunan drainase juga diusahakan terhindar dari kejenuhan air secara terus-menerus selama maksimum 2 minggu (Pahan, 2008).
Irigasi bertujuan untuk memberikan tambahan air terhadap air hujan dan memberikan air kepada tanaman dalam jumlah yang cukup dan pada waktu yang diperlukan. Air irigasi mempunyai kegunaan lain, yaitu
 (1) mempermudah pengolahan tanah,
 (2) mengatur suhu tanah dan iklim mikro,
(3) mencuci tanah dari kadar garam atau asam yang terlalu tinggi,
 (4) menggenangi tanah untuk memberantas gulma serta hama penyakit. Pada perkebunan kelapa sawit, pemberian air irigasi biasanya dilakukan dengan cara pemberian air dalam selokan atau saluran (furrows irrigation) (PPKS, 2006).









BAB III
METODEOLOGI

3.1  Tempat dan Waktu
Kegiatan ini saya lakukan di Desa Labone Kecamatan La salepa pada  hari Rabu tanggal 12 november 2014 pukul 10.00-11.00 WITA.
3.2 Jenis data
Jenis data yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu:
1.      Data Primer
Data Primer yaitu data  yang hanya dapat diperoleh dari sumber asli atau pertama.
2.      Data Sekunder
Data Sekunder yaitu data yang sudah tersedia sehingga kita tinggal mencari dan mengumpulkan.
3.3 Cara Pengambilan Data
Adapun cara pengambilan data yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu:
1.   Primer yaitu data yang dilakukan berdasarkan observasi,wawancara dan dokumentasi
Data yang dilakukan berdasarkan Observasi yaitu  pengamatan yang bertujuan untuk mendapatkan data tentang suatu masalah.
Data yang dilakukan berdasarkan wawancara yaitu metode pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden.
Sedangkan data yang dilakukan berdasarkan dokumentasi yaitu mengumpulkan data dengan cara mengalir atau mengambil data-data dari catatan,dokumentasi administrasi yang sesuai  dengan masalah yang diteliti.     
2.  Sekunder yaitu data yang dilakukan berdasarkan sumber literature dan internet


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


            4.1  Kondisi lahan dan system pertanian yang di gunakan
 Kondisi lahan yang ada pada lahan pertanian di desa la bone ini yaitu dengan memiliki kemiringan atau lahan berlereng dimana para petani di tempat ini banyak menggunakan lahan berlereng sebagai tempat berocok tanam, metode yang di gunakan pada areal ini yaitu metode vegetatif pemberian mulsa.dimana metode ini bertujuan untuk mengurangi penguapan serta melindungi tanah dari derasnya air hujan yang jatuh dan akan mengurangi kepadatan tanah,  mulsa yang ada dapat berupa sisa tanaman, dan batu, mulsa, sisa tanaman terdiri dari bahan organik sisa tanaman (jerami padi,batang jagung) pangkasan dari tanaman pagar ,daun-daun dan ranting, tanaman.bahan tersebut disebarkan secara merata diatas permukaan tanah setebal 2 cm-5 cm sehingga pori-pori tanah akan tartutup.
4.2  Metode Konservasi yang digunakan pada lahan masyarakat
Pada lahan pertanian di areal ini yaitu menggunakan metode  konservasi dengan pemberian mulsa dan menanam berbagai jenis tanaman seperti tanaman penutup tanah, tanaman penguat teras, penanaman dalam strip. Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat :
1.      memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah,
2.      penutupan lahan oleh seresah dan tajuk mengurangi evaporasi,
3.      disamping itu dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah, sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi. Fungsi lain daripada vegetasi berupa tanaman kehutanan yang tak kalah pentingnya yaitu memiliki nilai ekonomi sehingga dapat menambah penghasilan petani.
          Dalam Pengelolaan lahan masyarakat, masyarakat dapat menggunakan beberapa metode diantaranya metode vegetative dengan system pemberian mulsa yang dapat menjaga kesuburan tanah pada lahan masyarakat serta dapat menghasilkan tanaman yang baik dan  memuaskan.
         Menggunakan metode ini pada areal berlereng sangatlah efektif di mana kesuburan tanah dan unsur hara yang ada di dalamnya tetap terjaga sebab di saat turun hujan jika tidak ada bahan mulsa maka unsur hara yang ada pada lahan masyrakat yang miring akan langsung terbawa aliran air hujan ke dasar lahan, sehingga lahan masyrakat akan berkurang kesuburannya dan jika bahan mulsa tetap terjaga secara tidak langsung kesuburan tanahpun akan terjaga sebab aliran air hujan yang turun tidak langsung membawa unsure hara ke dasar lahan.

.




                                           BAB V
                                        PENUTUP


A.       Kesimpulan
  Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan saya dapat menyimpulkan diantaranya
1.    Bahwa pada lahan pertanian yang dikelola masyarakat desa Labone kec.Lasalepa merupakan daerah yang memiliki lahan pertanian yang curam atau berlereng  
2.    Metode yang digunakan pada masyarakat masih bersifat tradisional dimana mereka dalam pengelolaannya mengikuti kebiasaan  yang turun temurun sehingga menghasilkan hasil kurang    

B.       Saran
1.      Yang perlu diterapkan pada kondisi lahan yang keadaannya curam atau berlereng sebaiknya menggunakan metode vegetative diantaranya pemberian mulsa.pembeian mulsa yang dimaksudkan untuk menutupi permukaan tanah,agar terhindar dari pukulan butir hujan.jika bahan mulsa berasal dari bahan organic maka mulsa juga berfungsi dalam pemeliharaan bahan organic tanah.bahan organic yang dapat dijadikan mulsa dapat berasal dari sisa tanaman,hasil pangkasan,tanaman pagar dari system pertanian lorong,hasil pangkasan tanaman penutup tanah atau didatangkan dari  luar lahan pertanian.
2.      Bila mana dalam penulisan makalah ini terdapat kekeliruan ataupun kesalahan penulis Smengharapkan,masukan,kritikan,demi kesempurnaan makalah penulis yang saya buat 
Posting Komentar