do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Kamis, 27 November 2014

Makalah Trauma capitis



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Trauma capitis adalah suatu gangguaan traumatik dari fungsi otak disertai perdarahan interstitial dalam substansi otak tanpa terputusnya kontinuitas dari otak (Purnama Junadi dkk, 1992). Cedera kepala adalah trauma yang mengenai otak disebabkan oleh kekuatan eksternal yang menimbulkan perubahan tingkat kesadaran dan perubahan kemampuan kognitif, fungsi fisik, fungsi tingkah laku dan emosional (Widagdo, Wahyu, 2008).
Trauma capitis atau cedera kepala diakibatkan karena benturan pada kepala, kecelakaan lalu lintas, berupa tabrakan kendaraan bermotor, terjatuh dari ketinggian (misalnya pohon, gedung, dan rumah), tertimpa benda (misalnya: alat-alat berat, batang pohon, kayu, dan sebagainya), olahraga, trauma kelahiran, dan korban kekerasan (misalnya senjata api, golok, parang, balik, palu dan sebagainya).
Insiden trauma kapitis karena kecelakaan di Indonesia adalah 30% meninggal dalam satu minggu perawatan, 40% meninggal dalam satu hari perawatan dan 50% meninggal sebelum tiba di rumah sakit (Sidharta, 2003).
Menurut data Medical Record Rumah Sakit Stella Maris Makassar pasien yang dirawat dengan trauma kapitis sepanjang tahun 2009 berjumlah 31 orang ( 0,36%) dari 8574 pasien di Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Kasus terbanyak pada usia dewasa muda-tua sebanyak 16 orang (0,19%) disusul kemudian pada kelompok usia remaja 12 orang (0,14%) dan kassus terendah pada kelompok usia lanjut yaitu 3 orang (0,03%). Berdasarkan jenis kelamin, ditentukan kasus trauma kapitis lebih banyak di alami oleh Laki-laki yaitu 19 jiwa (0,22%) sedangkan perempuan sebanyak 12 jiwa (0,14%). Tercatat pula angka kematian pad kasus ini sebanyak 1 pasien (0,01%).
Penyebab kematian pada pasien trauma kapitis yaitu adanya penekanan pada otak menyebabkan pembuluh darah pecah sehingga menyebabkan hematoma. Efek utama sering lambat sampai hematoma tersebut cukup besar dan akan menimbulkan edema otak. Edema otak ini dapat menyebabkan peningkatan intracranial yang dapat menyebabkan herniasi dan penekanan batang otak. Herniasi ini dapat menibulkan iskemik, infark, kerusakan otak irreversible dan kematian (Selekta Kapita, 2007).
Kasus cedera kepala mempunyai beberapa aspek khusus penyembuhan, antara lain kemampuan regenerasi sel otak yang sangat terbatas, kemungkinan komplikasi yang mengancam jiwa atau menyebabkan kecacatan, juga karena terutama mengenai pria dalam usia produktif yang biasanya merupakan kepala keluarga. Adanya tingkat kesulitan dalam pengobatan dan penanganan menyebabkan tingginya angka kematian sehingga pragnosa pasien cedera kepala akan lebih baik bila penatalaksanaan dilakukan secara tepat dan cepat.

B.       Tujuan Penulisan
1.    Tujuan umum
Untuk memperoleh pengalaman nyata tentang pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan system neurology. Di ruangan ICU-ICCU Rumah Sakit Stella Maris Makassar pada tanggal 19-21 Maret 2010.
2.    Tujuan Khusus
1)   Memperoleh pengalaman nyata dalam melaksanakan proses pengkajian dan analisis data pada pasien dengan Trauma Capitis.
2)   Merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan Trauma Capitis.
3)   Menetapkan perencanaan terhadap pasien Trauma Capitis.
4)   Memperoleh pengalaman nyata dalam melaksanakan rencana asuhan keperawatan pada pasien dengan Trauma Capitis.
5)   Menyusun dokumentasi keperawatan terhadap pasien dengan Trauma Capitis.
6)   Memperoleh pengalaman nyata dalam penilaian terhadap pasien dengan Trauma Capitis
























BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.      Definisi
Trauma capitis adalah bentuk trauma yang dapat mengubah kemampuan otak dalam menghasilkan keseimbangan aktivitas fisik, intelektual, emosi, sosial atau sebagai gangguan traumatik yang dapat menimbulkan perubahan pada fungsi otak. (Black, 1997)
Cedera kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala. (Suriadi, 2003
B.       Etiologi
1.    Kecelakaan, jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor atau sepeda, dan mobil.
2.    Kecelakaan pada saat olah raga, anak dengan ketergantungan.
3.    Cedera akibat kekerasan
C.      Patofisiologi :
Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan Oksigen dan Glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan didalam sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg %, karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala – gejala permulaan disfungsi cerebral.
Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolik anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob. Hal ini akan menyebabkan asidosis metabolik.Dalam keadaan normal cerebal blood flow (CBF) adalah 50–60 ml/menit/100gr jaringan otak, yang merupakan 15 % dari cardiac output.
Trauma kepala menyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup aktivitas atypical-myocardial, perubahan tekanan vaskuler dan udem paru. Perubahan otonom pada fungsi ventrikel adalah perubahan gelombang T dan P dan disritmia, fibrilasi atrium dan ventrikel, takikardia.
Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana penurunan tekanan vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi. Pengaruh persarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteriol otak tidak begitu besar (Sjamsuhidajat, R. dan Wim de Jong. 1998)

D.      Manifestasi Klinis
1.    Cedera Kepala Ringan
1)   cedera kepala sekunder yang ditandai dengan nyeri kepala, tadak pingsan, tidak muntah, tidak ada tanda-tanda neurology.
2)   Komusio serebri ditandai denga tidak sadar kurang dari 10 menit, muntah, nyeri kepala, tidak ada tanda-tanda neurology.
2.    Cedera Kepala Sedang
Ditandai dengan pingsan lebih dari 10 menit, muntah, amnesia, dan tanda-tanda neurology.
3.    Cedera Kepala Berat
1)   laserasi serebri ditandai dengan pingsan berhari-hari atau berbulan-bulan, kelumpuhan anggota gerak, biasanya disertai fraktur basis kranii.
2)   Perdarahan epidural ditandai dengan pingsan sebentar-sebentar kemudian sadar lagi namun beberapa saat pingsan lagi, mata sembab, pupil anisokor, bradikardi, tekanan darah dan suhu meningkat.
3)   Perdarahan subdural ditandai dengan perubahan subdural, nyeri kepala, TIK meningkat, lumpuh

E.       Pemeriksaan Penunjang
1.    CT –Scan : mengidentifikasi adanya sol, hemoragi menentukan ukuran ventrikel pergeseran cairan otak.
2.    MRI : sama dengan CT –Scan dengan atau tanpa kontraks.
3.    Angiografi Serebral : menunjukkan kelainan sirkulasi serebral seperti pergeseran jaringan otak akibat edema, perdarahan dan trauma.EEG : memperlihatkan keberadaan/ perkembangan gelombang.
4.    Sinar X : mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (faktur pergeseran struktur dan garis tengah (karena perdarahan edema dan adanya frakmen tulang).
5.    BAER (Brain Eauditory Evoked) : menentukan fungsi dari kortek dan batang otak..
6.    PET (Pesikon Emission Tomografi) : menunjukkan aktivitas metabolisme pada otak.
7.    Pungsi Lumbal CSS : dapat menduga adanya perdarahan subaractinoid.
8.    Kimia/elektrolit darah : mengetahui ketidakseimbangan yang berpengaruh dalam peningkatan TIK.
9.    GDA (Gas Darah Arteri) : mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenasi yang akan dapat meningkatkan TIK.
10.     Pemeriksaan toksitologi : mendeteksi obat yang mungkin bertanggung jawab terhadap penurunan kesadaran.
11.     Kadar antikonvulsan darah : dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat terapi yang cukup efektif untuk mengatasi kejang.

F.       Penatalaksanaan
1.    Penaganan terhadap 5B yaitu :
1)   Breathing : Bebaskan obstruksi, suction, intubasi, trakeostomi
2)   Blood : Monitor TD, pemeriksaan Hb, leukosit
3)   Brain : Ukur GCS
4)   Bladder : Kosongkan bladder karena urine yang penuh dan merangsang mengedan.
5)   Bower : Kosongkan dengan alasan dapat meningkatkan TIK

2.    Penatalaksanaan Medik
1)   Konservatif
a)    Istirahat baring di tempat tidur.
b)   Analgetik untuk mengurangi rasa sakit.
c)    Pemberian obat penenang
d)   Pemberian obat gol osmotic diuretic ( manitol). Untuk mengatasi edema serebral.
e)    Setelah keluhan-keluhan hilang, maka mobilisasi dapat dilakukan secara bertahap, dimulai dengan duduk di tempat tidur, berdiri lalu berjalan.
2)   Operatif
Operasi hanya dapat dilakukan pada kasus tertentu seperti pada perdarahan epidural dan perdarahan subdural dengan maksud menghentikan perdarahan dan memperbaiki fraktur terbuka jaringan otak yang menonjol keluar, atau pada fraktur dimana fragmen-fragmen tulang masuk ke jaringan otak
G.      Komplikasi
1.    Kebocoran cairan serebrospinal akibat fraktur pada fossa anterior dekat sinus frontal atau dari fraktur tengkorak bagian petrous dari tulang temporal.
2.    Kejang. Kejang pasca trauma dapat terjadi segera (dalam 24 jam pertama dini, minggu pertama) atau lanjut (setelah satu minggu).
3.    Diabetes Insipidus, disebabkan oleh kerusakan traumatic pada rangkai hipofisis meyulitkan penghentian sekresi hormone antidiupetik










BAB III
KONSEP DASAR KEPERAWATAN


A.      Pengkajian:
1.    Aktivitas/ Istirahat
Gejala  :   Merasa lemah, lelah, kaku, hilang keseimbangan.
Tanda    : Perubahan kesehatan, letargi, Hemiparase, quadrepelgia, Ataksia cara berjalan tak tegap, Masalah dalam keseimbangan, Cedera (trauma) ortopedi, Kehilangan tonus otot, otot spastic.
2.    Sirkulasi
Gejala    :   Perubahan darah atau normal (hipertensi), Perubahan frekuensi jantung (bradikardia, takikardia yang diselingi bradikardia disritmia).
3.    Integritas Ego
Gejala    :   Perubahan tingkah laku atau kepribadian (tenang atau dramatis)
Tanda    :   Cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung depresi dan impulsif.
4.    Eliminasi
Gejala    :   Inkontenensia kandung kemih/ usus atau mengalami gngguan fungsi.
5.    Makanan/ cairan
Gejala    :   Mual, muntah dan mengalami perubahan selera.
Tanda    :   Muntah (mungkin proyektil), Gangguan menelan (batuk, air liur keluar, disfagia).
6.    Neurosensoris
Gejala    :   Kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar kejadian, vertigo, sinkope, tinitus kehilangan pendengaran, fingking, baal pada ekstremitas.
Tanda    :   Perubahan kesadaran bisa sampai koma, Perubahan status mental, Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetri, Wajah tidak simetris, Genggaman lemah, tidak seimbang, Refleks tendon dalam tidak ada atau lemah, Apraksia, hemiparese, Quadreplegia
7.    Nyeri/ Kenyamanan
Gejala  :   Sakit kepala dengan intensitas dan lokasi yang berbeda biasanya koma.
Tanda   :   Wajah menyeringai, respon menarik pada rangangan nyeri yang hebat, gelisah tidak bisa beristirahat, merintih.
8.    Keamanan
Gejala    :   Trauma baru/ trauma karena kecelakaan
Tanda    :   Fraktur/ dislokasi, Gangguan penglihatan, Gangguan kognitif, Gangguan rentang gerak, tonus otot hilang, kekutan secara umum mengalami paralisis, Demam, gangguan dalam regulasi suhu tubuh


B.       Diagnosa Keperawatan
1.    Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penghentian aliran darah
2.    Resiko pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler (cedera pada pusat pernafasan otak).
3.    Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan transmisi/ interpasi trauma atau defisit neurologis.
4.    Perubahan Proses Pikir Berhubungan Dengan Perubahan Fisiologis

C.      Intervensi dan Rasional
DX I :
Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penghentian aliran darah
Tujuan :
Mempertahankan tingkat kesadaran biasa/ perbaikan, kognisi dan fungsi motorik/ sensori.
Intervensi :
1)   Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan keadaan tertentu atau yang menyebabkan koma/ penurunan perfusi jaringan otak.
Rasional: Menentukan pilihan intervensi. Penurunan tanda dan gejala neurologis atau kegagalan dalam pemulihannya setelah serangan awal mungkin menunjukkan bahwa pasien itu perlu dipindahkan ke perawatan intensif.
2)   Pantau/ catat status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai standar
Rasional: Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran dan perkembangan kerusakan sistem saraf pusat.
3)   Evaluasi kemampuan membuka mata.
Rasional: Menentukan tingkat kesadaran.
4)   Kaji respon verbal: catat apakah pasien sadar, orientasi terhadap orang, tempat dan waktu baik/ malah bingung, menggunakan kata-kata yang tidak sesuai.
Rasional: Mengukur kesesuaian dalam berbicara dan menunjukkan tingkat kesadaran.
5)   Kaji respon motorik terhadap perintah yang sederhana, catat gerakan anggota tubuh dan catat sisi kiri dan kanan suara terpisah.
Rasional: Mengukur kesadaran secara keseluruhan dan kemampuan untuk berespon terhadap rangsangan eksternal dan merupakan petunjuk keadaan kesadaran terbaik pada pasien yang matanya tertutup sebagai akibat dari trauma atau pasien afasia.
DX II :
Resiko pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler (cedera pada pusat pernafasan otak).
Tujuan :
Pasien dapat mempertahankan pola pernapasan normal/ efektif,

Intervensi :
1)   Pantau frekuensi, irama kedalaman perbafasan. Catat ketidak teraturan pernafasan.
Rasional: Perubahan dapat menandakan awitan komplikasi pulmonal umumnya mengikuti cedera otak.
2)   Catat kompetensi refleks menelan dan kemampuan pasien untuk melindungi jalan nafas sendiri. Pasang jalan nafas sesuai indikasi.
Rasional: Kemampuan mobilisasi atau membersihkan sekresi penting untuk memelihara jalan nafas. Kehilangan refleks menelan atau batuk menandakan perlunya jalan nafas buatan atau intubasi.
3)   Angkat kepala tempat tidur sesuai aturannya, posisi miring sesuai indikasi.
Rasional: Untuk memudahkan ekspansi paru/ ventilasi paru dan menurunkan adanya kemungkinan lidah batu yang menyumbat jalan nafas.
4)   Anjurkan pasien untuk melakukan nafas dalam yang efektif jika pasien sadar.
Rasional: Mencegah atau menurunkan atelektasis.
5)   Auskultasi suara nafas, perhatikan daerah hipoventilasi dan adanya suara-suara tambahan yang tidak normal (seperti ronchi, mengi).
Rasional: Untuk mengidentifikasi adanya masalah paru seperti atelektasis, kongesti atau obstruksi jalan nafas yang membahayakan oksigenasi serebral dan menandakan terjadinya infeksi paru (umumnya merupakan komplikasi dari cedera kepala).
DX III :
Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan transmisi/ interpasi trauma atau defisit neurologis.
Tujuan :
Pasien melakukan kembali/ mempertahankan tingkat kesadaran dan fungsi persepsi.
Intervensi :
1)   Evaluasi/ pantau secara teratur perubahan orientasi kemampuan berbicara. Dalam perasaan efektif sensorik dan proses pikir.
Rasional: Fungsi serebral bagian atas biasanya terpengaruh lebih dulu oleh adanya gangguan sirkulasi, oksigenasi kerusakan dapat terjadi saat trauma awal akibat dari pembengkakan atau pendarahan.
2)   Kaji kesadaran sensorik seperti respon sentuhan panas, dingin, benda tajam/ tumpul terhadap gerakan dan letak tubuh. Perhatikan adanya masalah penglihatan atau sensasi yang lain.
Rasional: Informasi penting untuk keamanan pasien. Semua sistem sensorik dapat terpengaruh dengan adanya perubahan yang melibatkan peningkatan atau penurunan sensivitas atau kehilangan sensasi/ kemampuan untuk menerima dan merespons sesuai pada simulasi.

3)   Hilangkan suara bising/ stimulus yang berlebihan sesuai kebutuhan.
Rasional: Menurunkan asientasi, respon emosi yang berlebihan/ bingung yang berhubungan dengan sensorik yang berlebihan.
4)   Bicara dengan suara lembut dan pelan. Gunakan kalimat yang pendek dan sederhana. Perhatikan kontak mata.
Rasional: Pasien mungkin mengalami keterbataasan perhatian pemahaman selama fase akut dan penyembuhan dan tindakan ini dapat membantu pasien untuk memunculkan komunikasi.
5)   Berikan simulasi yang bermanfaat verbal (berbincang-bincang dengan pasien), dan pendengaran (dengan tape, televisi, radio, pengunjung dan sebagainya).
Rasional: Pilihan masukan sensorik secara cermat bermanfaat untuk menstimulasi pasien koma dengan baik selama melatih kembali fungsi kognitifnya.
DX IV :
Perubahan Proses Pikir Berhubungan Dengan Perubahan Fisiologis
Tujuan :
Dapat mempertahankan /melakukan kembali orientasi mental dan realitas biasanya, berpartisipasi dalam aturan terpeutik.
Intervensi:
1)   Kaji rentang perhatian, kebingunan, dan catat tingkat ansientas pasien.
Rasional: rentang perhatian/ kemampuan untuk berkonsentrasi mungkin memendek secara tajam yang menyebabkan dan mempengaruhi proses pikir pasien.
2)   Pastikan dengan orang terdekat untuk membandingkan kepribadian/ tingkah laku pasien sebelum mengalami trauma dengan respons pasien sekarang.
Rasional: Masa pemulihan cedera kepala meliputi fase agitasi respons marah, dan berbicara proses pikir yang kacau. Munculnya halusinasi dan perubahan pada interpretasi simulus dapat berkembang tergantung dari keadaan trauma atau tergantung dari berkembangnya bagian tertentu dari otak yang mengalami trauma tersebut.
3)   Usahakan untuk menghadirkan realitas secara konsisten dan jelas, hindari pikiran-pikiran yang tidak masuk akal.
Rasional: Pasien mungkin tidak menyadari adanya trauma secara total (ammnesia) atau dari perluasaan trauma dan karena itu pasien perlu dihadapkan pada kenyataan terhadap terjadinya cidera pada dirinya.
4)   Berikan penjelasan mengenai prosedur-prosedur dan tekankan kembali penjelasan yang diberikan itu oleh sejawat lain. Berikan informasi tentang proses penyakit yang ada hubungannya dengan gejala yang muncul.
Rasional: Kehilangan struktur internal (perubahan dalam memori alasan dan kemampuan untuk membuat konseptual) menimbulkan ketakutan baik terhadap pengaruh proses yang tidak diketahui manapun retensi terhadap informasi, ansietas yang kompleks, kebingunan, dan disorientasi.
BAB IV
KESIMPULAN


Trauma kepala terdiri dari trauma kulit kepala, tulang kranial dan otak. Klasifikasi cedera kepala meliputi trauma kepala tertutup dan trauma kepala terbuka yang diakibatkan oleh mekanisme cedera yaitu cedera percepatan (aselerasi) dan cedera perlambatan (deselerasi).
Cedera kepala primer pada trauma kepala menyebabkan edema serebral, laserasi atau hemorragi. Sedangkan cedera kepala sekunder pada trauma kepala menyebabkan berkurangnya kemampuan autoregulasi pang pada akhirnya menyebabkan terjadinya hiperemia (peningkatan volume darah dan PTIK). Selain itu juga dapat menyebabkan terjadinya cedera fokal serta cedera otak menyebar yang berkaitan dengan kerusakan otak menyeluruh.
Komplikasi dari trauma kepala adalah hemorragi, infeksi, odema dan herniasi. Penatalaksanaan pada pasien dengan trauma kepala adalah dilakukan observasi dalam 24 jam, tirah baring, jika pasien muntah harus dipuasakan terlebih dahulu dan kolaborasi untuk pemberian program terapi serta tindakan pembedahan.
Pengkajian :
1.    Aktivitas/ Istirahat
2.    Sirkulasi
3.    Integritas Ego dan Eliminasi
4.    Makanan/ cairan
5.    Neurosensoris
6.    Nyeri/ Kenyamanan
7.    Keamanan
Diagnosa Keperawatan
1.    Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penghentian aliran darah
2.    Resiko pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler (cedera pada pusat pernafasan otak).
3.    Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan transmisi/ interpasi trauma atau defisit neurologis.
4.    Perubahan Proses Pikir Berhubungan Dengan Perubahan Fisiologis







DAFTAR PUSTAKA


Brunner & Suddarth (2001). Keperawatan medical bedah edisi 8. vol 2. EGC Jakarta.
Boughman Diane. E (2001). Buku saku keperawatan medical bedah. EGC : Jakarta.
Evelyn C. Peace (1998). Anatomo fisiologi untuk paramedic. PT Gramedia: Jakarta.
Marlyn Doenges (1993). Rencana asuhan keperawatan, pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien. EGC :Jakarta.
Syaifudin (1997). Anatomi fisiologi. EGC : Jakarta.
Guyton& hall (1997). Buku ajar fisiologi kedoteran . EGC : Jakarta.



























TUGAS : ILMU PENYAKIT DALAM

MAKALAH
TRAUMA KAPITIS
(NEUROLOGI)

BY
NAMA         : NURLENA
NIM                : 12.12.1028
KELAS        : II’B




 AKPER PEMKAB MUNA
2014


Poskan Komentar