do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Senin, 01 Februari 2016

MAKALA MUATAN LOKAL PELAKSANAAN UPACARA ADAT KARIYA



MAKALA MUATAN LOKAL
PELAKSANAAN UPACARA ADAT KARIYA










Oleh : Kelompok 3
1. Andi Muhamad Aryo
2. Gusman Hidayat
3. Irawati
4. La Maldin
5. Mirnawati
6. Veby Anatasya

SMA NEGERI 1 RAHA
2016

KATA PENGANTAR

          Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena  telah selesainya penyusunan Makalah Muatan Lokal ini. Tidak lupa menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada semua anggota dari kelompok ini sehingga dapat menyelesaikan makala PELAKSANAAN UPACARA ADAT KARIYA .
        Makalah ini hanya memuat satu materi yakni mengenain Upacara Adat Kariya  sarta tata caranya pelaksanaanya.
        Makala ini bertujuan untuk memperkenalkan tata cara Upacara Adat Kariya kepada Siswa Siswi sekalian.
        Sebagai penutup, Kami Kelompok 3 (tiga) berharap semoga makalah ini dapat memberi pengaruh baik kepada pembaca.



                                                        Raha, Januari 2016

                                                           Team Penyusun




DAFTAR ISI


Kata Pengantar .....................................................................
Daftar Isi ..............................................................................
Bab I . Proses Awal Pelaksanaan Upacara Kariya (Pingitan)
1.   Kaalano Oe Kaghombo (Pengambilen Air yang Dipingit)
2.   Kaalano Bansa (Pengambilan Mayang Pinang)
3.   Kaalano Kamba Wuna (Pengambilan Kembang Muna)
Bab II . Pelaksanaan Kegiatan Kariya
1.   Kafoluku
2.   Proses Kabansule
3.   Proses Kalempagi
4.   Kafosampu (Pemindahan pesreta Kariya dari rumah ke Panggung)
5.   Proses Katandano wite
6.   Linda(Tari)
7.   Kahapui (Membersihkan)
8.   Kaghorono Bansa atau Kafolantono Bhansa





BAB. I
PROSES AWAL PELAKSANAAN UPACARA KARIYA (PINGITAN)
Kariya (pingitan) adalah salah satu bentuk kebudayaan masyarakat Muna yang tetap dilestarikan sampai saat ini. Walaupun bentuk dan warna pelaksanaannya sudah sedikit melenceng dari nilai-nilai keasliannya. Hal ini terjadi sebagai konsekwensi karena budaya Kariya tidak ada panduan yang dapat dipedomani, kecuali hanya mengandalkan cerita, penglihatan, dan pendengaran-pendengaran. Kegiatan upacara adat Kariya adalah proses panjang yang harus dilewati setahap demi setahap, oleh karena itu kosentrasi pada proses awal dari pelaksanaan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut :
1.   Kaalano Oe Kaghombo (Pelaksanaan Air yang Dipingit)
Pengambilan air untuk mengawali proses pelaksanaan upacara Kariya adalah mengambil air yang akan di ghombo bersama peserta Kariya (pingitan). Air tidak diambil dalam rumah atau di bak mandi, tetapi ditempat khusus untuk pengambilannya. Dimasa lalu air yang maksud hanya boleh diambil di sebuah tempat yaitu Kali Laende, sebagai mana yang diamanahkan oleh Raja Muna, La Ode Maktubu Malino Wekaleleha (1903 - 1915) bahwa kali Laende dinobatkan sebagai air Alkausar. Tetapi dapat juga diambil ditempat atau dikali/sungai yang airnya mengalir.
Pengambilan air dilakukan oleh delagasi atau petugas khusus yang mengetahui seluk-beluk tempat itu yang dalam bahasa Muna dikenal dengan Kadasano (keturunan manusia yang mendiami daerah sekitar wilayah itu).
Cara pengambilan air tidak mengunakan sembarang alat misalnya : Kendi atau Jergen, tetapi menurut ketentuan adat di Muna bahwa alat yang digunakan untuk mengambil air adalah seruas bambu (tombula) dengan kapasitas/volume air yang diambil sesuai kebutuhan. Menurut keterangan dari Risiman Tawid bahwa hal itu dikembalikan dari peristiwa sejarah Bheteno Netombula atau Baizul Zaman yang hadir dinegri ini dengan dramatis spetakuler melalui rumpun bambu. Sedangkan analisa secara logika mengapa harus bambu yang digunakan untuk ambil air karena :
·       Ada filosofi bambu bahwa semakin tua semakin kokoh akarnya dan daunya semakin menunduk. Filosofi hidup bambu ini diharapkan dapat diteladani oleh manusia khususnya para peserta Kariya yang akan disyarati (dipingit).
·       Pada masa lalu ketika anak manusia lahir maka alat yang digunakan untuk memotong tali pusar adalah sembilu dari bambu (tombula).
2.   Kaalano Bansa (Pengambilan Mayang Pinang)
Dalam proses persiapan pelaksanaan Kaghombo atau Pingitan maka ada petugas yang telah diberi kepercayaan untuk mengambil mayang pinang (Bheteno Bae). Etika pengambilannya tidak boleh menoleh ke kiri dan ke kanan. (kosentrasi) sehingga walaupun ditanya tidak boleh menjawab. Oleh karena itu pengambilannya herus mimilih waktu yang hening.
3.   Kaalano kamba wuna (pengambilan kembang kamba wuna)
Pada hari selanjutnya dimana pengambilan kuncup bunga (kamba wuna) yang tempatnya tak jauh dari pengambilan air . pengambilan kuncup bunga ini diambil oleh petugas khusus yang disebut ‘kodasano’, tetapi sekarang boleh diambil oleh petugas yang diberi kepercayaan pada kaparapuuno .
Bunga ini diperoleh pertapaan dimulut gua kamba wuna oleh kodasano.. selanjutnya kuncup bunga ini pada saat acara karia. Dalam pelaksanaan upacara ini kamba wuna dapat diganti dengan bunga-bunga lain yang harum.


BAB. II
PELAKSANAAN KEGIATAN KARIA ( PINGITAN )
Pelaksanaan kegiatan inti dari upacara ini adalah proses penempaan para gadis untuk melewati empat alam sebagai proses kejadian manusia sampai dilahirkan kemuka bumi. Selogis proses pemindahan dari satu alam kealam lain hingga manusia dilahirkan bagaikan kertas putih polos dan suci, dapat digambarkan dalam pelaksanaan acara karia yang secara kronologis dan alfabet yaitu :
1.   Kafoloku
Kafoloku yaitu peserta dimasukan dalam tempat yang telah dikemas khusus tempat kariya yang disebut SUO khusus bagi putri-putri raja DA SONGI. Tahap ini merupakan analogis bahwa manusia berada di alam arwah tempat gelap gulita hanya tuhan yang dapat mengetahuinya.

2.   Proses Kabansule
Proses kabansule yaitu proses perubahan posisi yang dipingit.  Awalnya posisi kepala ada disebelah barat dengan berbaring menidis tangan kanan , selanjutnya posisi dibalik kepala kearah timur dan menindis tangan kiri. Filosofi ini adalah perpindahan dari alam arwah menuju kealam aj’san. Kondisi ini diibaratkan pada posisi bayi dalam kandungan yang senantiasa berpindah arah.

3.   Proses Kalempagi
Kalempagi diawali dengan Proses Debhalengka, yaitu membuka pintu Kaghombo (pingitan). Pada tahapan ini adalah proses perpindahan dari alam Aj’san kealam Isnani. Alam ini adalah isyarat seorang bayi yang baru lahir dari kandungan ibunya. Setelah di mandikan maka mereka dirapikan rambut dan keningnya (di bhindu) oleh keluarga yang di beri tugas. Semua bulu rambut dan kening di tada pada piring yang berisi beras dan telur. Kemudian peserta Kariya siap dirias oleh model pakaian Kariya yang disebut dengan Kalempahi.

4.   Kafosampu (Pemindahan peserta Kariya dari rumah ke panggung)
Pada hari keempat menjelang magrib para gadis pingitan siap dikeluarkan dari rumah atau ruang pingitan ke tempat tertentu yang disebut Bhawono Kuruma (Pangguang). Pada saat menuju ke panggung para peserta tidak di perbolehkan untuk menginjak tanah, biasanya menggunakan bentengan kain putih dari rumah hingga panggung.
Di depan Bhawono Kuruma ada para gadis yang telah menggu para peserta Kariya, dimana para gadis tersebut telah di percaya untuk duduk berjejer dalam keadaan bersimpuh. Gadis-gadis tersebut harus yang masih hidup orang tuanya. Gadis itu bertugas memegang Surutaru (semacam pohon terang yang terbuat dari kertas warna warni dan di puncaknya di pasang lilin yang menyala). Surutaru berlambang cahaya atau Nur Ilahi yang menjadi penentu dalam hidup para peserta Kariya.

5.   Proses Katandano wite
Pada saat peserta yang di kariya sudah sampai di panggung, di isyaratka proses perpindahan alam, dari alam Misal ke alam Insani. Katando wite merupakan langkah keempat dalam proses Kariya. Katandi wite yaitu sentuhan tanah pada ubun-ubun dan dahi kepada para peserta Kariya. Katando wite adalah simpul pertemuan antar tanah (Adam) dengan manusia atau perempuan yang di pingit (Hawa).

6.   Linda (Tari)
Setelah rangkaian acara selesai maka pomantoto (pemandu) melakukan tari Linda sebagai pendahuluan yang kemudian di susul oleh peserta Kariya secara berurutan yang di mulai dari putri tuan rumah dan disusul oleh peserta lain. Linda ini disebut dengan ‘ setangke kulubae ‘ yang artinya hanya memutar dan berptar di seputar tempatnya. Ketika membawakan tari Linda para undangan memberi hadiah dengan cara di lemparkan kepada peserta Kariya. Tetapi biasanya penari pertama dapat memberi samba (selendang sultra) kepada hadirin yang wajib mengembalikan selendang tersebut disertai hadiah, proses ini di sebut ‘Kagholuno Sumba’. Istilah dari Kagholuno Sumba adalah hadiah atau kenang-kenangan dari orang tua, keluarga, senak-saudara, teman, di mana sebagai tanda syukur dan gembira kerena anak dan saudara telah menempuh ujian yang berat.

7.   Kahapui (Membersihkan)
Esok harinya setelah acara kafosampu di adakan acara Kahapui, yaitu acara ritual pemotongan pisang yang telah di tanam atau disiapkan di muka rumah kaparapuuno (kapehano). Pada acara ini dilakukan pogala yang diiringi dengan bunyi gong. Para peserta pogala atau mongaro beraksi dengan berebut untuk memotong pisang tersebut. setelah pisangnya terpotong biasanya kaparapuuno langsung di angkat bersama kursinya didudukan di atas potongan pisang.

8.   Kaghorono Bhansa atau Kafolantono Bhansa
Sebagai penutup dari rangkaian upacara Kariya hadala kagorono bhansa atau kafolantono bhansa. Waktux tidak mengikat,boeleh dilakukan saheri sesudah acara kahapui dan boleh pula dari itu , karna tergantung kesepakatan seluruh peserta karia dan keluarga . tempat untuk melakukan acara ini yaitu pada sungai yang airnya mengalir . dengan mengunakan pakean kalmpage diiringi pamontoto kedua orang tua, sodara , handa tolan , pemuda dan pemudi yang bersipati dengan iringan gong dan gedang hingga tiba di tempat tujuan.

Posting Komentar