do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Senin, 01 Februari 2016

MAKALAH BUDIDAYA IKAN VANAME



BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang Masalah
Budidaya secara harfiah berarti pemeliharaan. Dalam konteks perikanan, berarti kegiatan pemeliharaan segala jenis sumber daya perikanan yang dilakukan oleh manusia dalam lingkungan terkontrol untuk tujuan kesejahteraan manusia.
Usaha budidaya perikanan baik itu budidaya tawar, payau maupun laut tidak dapat dilakukan semaunya atau disembarang tempat. Beberapa hal harus diperhatikan jika menginginkan keberhasilan usaha budidaya. Salah satunya yaitu harus mengetahui evaluasi kelayakan lahan untuk budidaya perairan.
Sebagai langkah awal budidaya adalah pemilihan lokasi budidaya yang tepat. Pemilihan dan penentuan lokasi budidaya harus didasarkan pertimbangan aspek – aspek meliputi aspek tanah aspek ekologis, aspek biologis, dan asprk social ekonomi , sehingga hatus disesuaikan dengan keadaan dan kebiasaan biota yang akan dibudidaya.

1.2  Pembatasan Masalah
Mengingat begitu luasnya pokok permasalahan yang akan diteliti serta dibahas dalam makalah ini, maka penulis perlu melakukan pembatasan masalah. Adapun pembatasan masalah tersebut adalah “Bagaimana evaluasi kelayakan lahan untuk usaha budidaya perairan dalam aspek tanah, aspek ekologis, aspek biologis, dan aspek sosial ekonomi”.

1.3  Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada latar belakang, maka
permasalahan yang dirumuskan antara lain :
1.      Bagaimana evaluasi kelayakan tambak untuk budidaya Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) ?
2.      Bagaimana kriteria dalam penentuan lokasi usaha budidaya udang vannamei (Litopenaeus vannamei) yang mencakup aspek tanah, aspek ekologis, aspek biologis dan aspek social ekonomi ?
1.4 Tujuan Penulisan
            Tujuan dari penulisan ini adalah :
1.      Dengan adanya penulisan makah ini, mahasiswa mengetahui evaluasi kelayakan tambak untuk budidaya Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) ?
2.      Sebagai saran peningkatan wawasan dan juga ilmu bagi penulis sendiri khususnya tentang evaluasi kelayakan lahan budidaya perairan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA



2.1 Evaluasi Kelayakan Lahan
Evaluasi kesesuaian perairan adalah suatu proses pendugaan potensi perairan yang telah dipertimbangkan menurut kegunaannya dan membandingkan serta menginterpretasikan serangkaian data. Pemilihan lokasi sangat menentukan keberhasilan usaha  budidaya komoditas perikanan, untuk itu perlu dipertimbangkan factor yang sangat terkait misanya factor teknis, biologis dan social ekonomi termasuk tata ruang.

2.2 Budidaya Tambak
Usaha budidaya tambak tersebar hampir diseluruh daerah pesisir dengan tingkat pemanfaatan yang berbeda. Menurut Departemen Kelautan dan Perikanan (2005), tingkat pemanfaatan lahan di Jawa Barat untuk budidaya air payau mencapai taraf 91,11%. Menurut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (2009) hingga tahun 2009 tingkat pemanfaatan lahan untuk tambak di Indonesia mencapai 606.680 ha atau 57,91% dari seluruh lahan budidaya.
Budidaya tambak merupakan kegiatan pemeliharaan untuk memperbanyak (reproduksi), menumbuhkan serta meningkatkan mutu biota akuatik di dalam suatu kolam, dan agar dapat diperoleh suatu hasil yang optimal maka perlu disiapkan suatu kondisi tertentu yang sesuai bagi komoditas yang akan dipelihara (Effendi 2009). Dahuri et al. (1997) menyatakan bahwa agar budidaya perairan dapat berkelanjutan dan optimal, maka pemilihan lokasi harus dilakukan secara benar dan menurut pada kaidah- kaidah ekologis dan ekonomi.
Budidaya tambak memiliki komponen keruangan serta perbedaan
                                                     
karakteristik biofisik dan sosial ekonomi dari setiap lokasi. Banyak usaha budidaya tambak intensif belum memanfaatkan kelebihan sistem informasi geografis dalam melakukan pemilihan lokasi dan pengelolaan budidaya, dimana hal tersebut penting dilakukan untuk menghindari kegagalan usaha.

2.3 Pemilihan Lokasi
Pemilihan lokasi usaha budidaya udang dimaksudkan untuk menjamin keselarasan lingkungan antara lokasi pengembangan usaha budidaya dengan pembangunan wilayah di daerah dan keadaan sosial di lingkungan sekitarnya.  Pemilihan lokasi dilakukan dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kelayakan suatu lahan untukkonstruksi tambak dan operasionalnya, mengidentifikasi kemungkinan dampak negatif dari pengembangan lokasi dan akibat sosial yang ditimbulkannya, memperkirakan kemudahan teknis dengan finansial yang layak dan menimalkan timbulnya resiko-resiko yang lain.
Pemilihan lokasi yang tepat untuk usaha budidaya udang vaname akan menentukan tingkat keberhasilan produksi. Elevasi atau tingkat kemiringan lokasi dan karakter pasang surut air laut perlu dipertimbangkan Hal ini berkaitan dengan Pengairan, pergantian air dan pengeringan tambak. Begitu juga dengan jarak area pertambakan dengan daerah pantai, karena areal tambak yang jauh dari pantai akan kesulitan dalam penyediaan air laut bahkan membutuhkan dana yang besar untuk operasional.






























BAB III
PEMBAHASAN


3.1     Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)
Udang vannamei termasuk pada famili Penaidae yaitu udang laut. Udang vannamei berasal dari Perairan Amerika Tengah. Negara di Amerika Tengah dan Selatan seperti Ekuador, Venezuela, Panama, Brasil, dan Meksiko sudah lama membudidayakan jenis udang yang juga dikenal dengan nama pacific white shrimp.
Vannamei banyak diminati, karena memiliki banyak keunggulan antara lain, relatif tahan penyakit, pertumbuhan cepat (masa pemeliharaan 100 - 110 hari), padat tebar tinggi, sintasan pemeliharaan tinggi dan Feed Convertion Ratio rendah (Hendrajat et al. 2007). Tingkat kelulushidupan vannamei dapat mencapai 80 - 100% (Duraippah et al. 2000), dan menurut Boyd dan Clay (2002), tingkat kelulushidupannya mencapai 91%. Berat udang ini dapat bertambah lebih dari 3 gram tiap minggu dalam kultur dengan densitas tinggi (100 udang/m2). Ukuran tubuh maksimum mencapai 23 cm. Berat udang dewasa dapat mencapai 20 gram dan diatas berat tersebut, L.vannamei tumbuh dengan lambat yaitu 7 sekitar 1 gram/ minggu. Udang betina tumbuh lebih cepat daripada udang jantan (Wyban et al. 1995).
Udang vannamei termasuk hewan omnivora yang mampu memanfaatkan pakan alami yang terdapat dalam tambak seperti plankton dan detritus yang ada pada kolom air sehingga dapat mengurangi input pakan berupa pelet. Kandungan protein pada pakan untuk udang vannamei relatif lebih rendah dibandingkan udang windu. Menurut Briggs et al. (2004), udang vannamei membutuhkan pakan dengan kadar protein 20-35%.
Budidaya udang vannamei sangat dipengaruhi oleh faktor internal atau eksternal lingkungan tambak. Kualitas benih, persiapan tambak, manajemen kualitas air, manajemen pakan, maupun cuaca sangat menentukan
                                                                                                                                                          
keberhasilan budidaya udang. Manipulasi manajemen budidaya sangat diperlukan untuk meningkatkan produksi udang putih, salah satunya adalah dengan manipulasi kepadatan tebar (Wardiyanto 2008).

3.2     Klasifikasi Udang Vannamei
Klasifikasi udang menurut Boone (1931) adalah :
Kingdom: Animalia
Phylum: Arthropoda
Subphylum: Crustacea


Class: Malacostraca
Order: Decapoda
Suborder: Dendrobranchiata
Family: Penaeidae
Genus: Litopenaeus
Species: L. vannamei
3.3     Kriteria aspek dalam penentuan atau pemilahan lokasi Usaha Budidaya Udang Vannamei
3.3.1        Aspek Tanah
Persyaratan tanah memegang peranan penting dalam menentukan baik tidaknya tanah untuk usaha budidaya.  . Kualitas tanah tambak berperan penting dalam usaha budidaya tambak, bukan hanya karena pengaruhnya terhadap produktivitas maupun kualitas air yang berada diatasnya, namun juga karena faktor kesesuaiannya untuk konstruksi pematang dan selokan disekitar tambak.
Sifat fisik tanah harus diketahui sebelum pembangunan areal tambak agar tambak yang dibangun tidak bocor dan kuat. Sifat fisik tanah dapat diketahui dari teksturnya yaitu perbandingan kandungan butir-butir pasir, debu dan tanah liat dalam tambak tersebut. Jenis tanah untuk tambak vaname sebaiknya liat berpasir (untuk menghindari kebocoran). Dimana liat (60-70%) dan pasir ( 30-40%).
Usaha budidaya tambak vanname sebaiknya memilih lokasi

yang datar dan tidak lebih tinggi dari pasang tertinggi atau lebih rendah dari surut terendah. Hal tersebut berkaitan dengan kemudahan dalam penggalian dan perataan tanah, pergantian air tambak dan pengeringan serta menghindari kesulitan dalam pengelolaan air. Pada tanah bergelombang dimungkinkan terjadinya penggalian tanah yang banyak dan menyebabkan lapisan tanah yang subur terbuang. Tanah yang datar umumnya memiliki tingkat kelerengan sekitar 0 – 3%.
Dalam pemilihan lokasi pertambakan vanname pH tanah juga penting untuk di cek dan diketahui karena pH tanah mempengaruhi pH air. pH yang baik untuk lokasi pertambakan vanname adalah 6.00 – 8.00. karena pada pH tersebut tanah kaya akan unsure hara.
3.3.2        Aspek Ekologi
Daerah yang ideal untuk dijadikan lahan tambak vanname adalah daerah dengan curah hujan 2000 mm/ tahun dengan bulan kering 2 -3 bulan. Apabila curah hujan melebihi 2000 mm/ tahun dan tidak terdapat bulan kering atau hujan sepanjang tahun, maka akan menimbulkan masalah besar. Kondisi seperti ini sangat penting untuk diperhatikan, agar tambak dapat berproduksi lebih baik dan stabil, untuk memperbaiki sifat fisik tanah, meningkatkan mineralisasi bahan organik, dan menghilangkan bahan toksik seperti H2S, serta untuk menumbuhkan pakan alami dalam tambak, maka perlu dilakukan pengeringan dasar tambak secara rutin menjelang penebaran benur, yang mana semua hal tersebut memerlukan bulan kering.
Salah satu faktor yang menunjang kelangsungan usaha tambak udang adalah sumber air laut. Laut adalah sumber utama pemasok air bagi pertambakan air payau. Pasokan air tawar untuk tambak dapat diperoleh dari aliran sungai, saluran irigasi untuk sawah, dan sumur air tanah. Tambak dibangun dipinggir pantai untuk kemudahan pengairan, yakni pengisian dengan air laut atau air payau. Tambak udang biasanya dikembangkan di kawasan intertidal, pada area terlindung dekat

sungai, muara sungai, dan area mangrove. Selain sebagai sumber pasokan air, kedekatan tambak dengan pantai bertujuan untuk mencapai kesempurnaan pengeluaran air limbah. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap proses pengeringan dasar tambak yang lebih baik, dengan catatan bahwa lokasi disepanjang pantai tidak berlumpur karena proses siltasi.
Dua hal yang berkenaan dengan pasang surut adalah proses pemasukkan dan pembuangan air dalam proses produksi tambak. Kisaran fluktuasi pasang surut air laut yang dianggap memenuhi persyaratan untuk tambak adalah 1,7 – 2 meter. Jika suatu daerah memiliki fluktuasi pasang surut lebih dari dua meter, maka daerah tersebut membutuhkan pematang ekstra kuat untuk menahan air pasang. Daerah dengan tunggang pasut lebih rendah dari 1,7 meter menyebabkan kurangnya suplai air untuk memenuhi kebutuhan tambak, namun masih dapat dijadikan sebagai tambak, dengan memanfaatkan pompa untuk membantu mengalirkan air dari dan ke dalam tambak.

3.3.3   Aspek Biologis
Udang vaname mempunyai karakteristik budidaya yang sangat bagus.  Udang tumbuh dengan cepat sampai ukuran 20 gram, dengan laju pertumbuhan 3 gram per minggu dalam kepadatan 100 ekor /m.  Setelah 20 gram, udang tumbuh lambat yaitu 1 gram per minggu dan betina tumbuh lebih cepat dari pada jantan. Udang mempunyai toleransi salinitas yang cukup lebar yaitu 2 – 40 ppt, tetapi akan tumbuh lebih cepat pada salinitas rendah, ketika terjadi isoosmotic antara lingkungan dan darah.  Pada salinitas 33 ppt larva udang vaname tumbuh sangat bagus. Temperatur juga sangat mempengaruhi pertumbuhan.   Udang akan mati jika berada pada suhu dibawah 15°C atau diatas 33°C dalam waktu 24 jam atau lebih.  Sub letal stres terjadi

pada 15-22°C dan 30-33°C. Temperatur optimum untuk udang vaname adalah antara 23 - 30°C.   Efek  temperatur terhadap pertumbuhan adalah perkembangan stadia dan ukuran.  Sebagai contoh, udang kecil (1 gram) tumbuh cepat dalam air hangat (30°C), udang medium (12 gram) dan udang besar (18 gram) pertumbuhan tercepat terjadi pada temperatur 27°C dari pada pada 30°C.
 Benur vanname yang digunakan adalah PL 10 - PL 12 berat wal 0,001g/ekor diperoleh dari hatchery yang telah mendapatkan rekomendasi bebas patogen, Spesific Pathogen Free (SPF). Kreteri benur vannamei yang baik adalah mencapai ukuran PL - 10 atau organ insangnya telah sempurna, seragam atau rata, tubuh benih dan usus terlihat jelas, berenang melawan arus.
Sebelum benuh di tebar terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi terhadap suhu dengan cara mengapungkan kantong yang berisi benuh ditambak dan menyiram dengan perlahan-lahan. Sedangkan aklimatisasi terhadap salinitas dilakukan dengan membuka kantong dan diberi sedikit demi sedikit air tambak selama 15-20 menit. Selanjutnya kantong benur dimiringkan dan perlahan-lahan benur vannamei akan keluar dengan sendirinya. Penebaran benur vannamei dilakukan pada saat siang hari. Padat penebaran untuk pola tradisional tanpa pakan tambahan dan hanya mengandalkan pupuk susulan 10% dari pupuk awal adalah 1-7 ekor/m². Sedangkan apabila menggunakan pakan tambahan pada bulan ke dua pemeliharaan, maka disarankan dengan padat tebar 8-10 ekor/m².

3.3.4        Aspek Sosial Ekonomi
Lokasi budidaya tambak di pesisir harus memperhatikan keberadaan dan kelestarian mangrove, karena kawasan mangrove memiliki peranan yang sangat penting, maka diperlukan pengelolaan yang pada dasarnya memberikan legitimasi agar dapat tetap lestari.  

Penetapan jalur hijau mangrove sebagai pelindung daerah pesisir dituangkan dalam Surat Keputusan Bersama Menteri Pertanian dan Menteri Kehutanan Nomor KB.550/264/Kpts/4/1984 dan Nomor 082/Kpts-II/1984, yang menyebutkan bahwa lebar sabuk hijau mangrove adalah 200 m. Surat Keputusan tersebut kemudian dijabarkan melalui Surat Edaran Nomor 507/IV-BPHH/1990 tentang penentuan lebar sabuk hijau hutan mangrove, yaitu sebesar 200 meter di sepanjang pantai dan 50 m disepanjang tepi sungai. Keputusan tersebut diperkuat dengan Keputusan Presiden No.32 tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung, yakni lebar jalur hijau (m) adalah 130 x rata- rata tunggang air pasang purnama (tidal range).
Persyaratan non teknis  pemilihan lokasi untuk tambak udang vaname :
a.       Dekat dengan daerah pantai dengan fluktuasi pasang surut 2 –3m
b.      Sumber air tawar harus cukup
c.       Lokasi tambak harus memiliki green-belt (hutan mangrove) agar terhindar dari besarnya gelombang yang dapat mengakibatkan abrasi.
d.      Dekat dengan jalan raya untuk transportasi penyediaan sarana produksi maupun panen
e.       Dekat dengan sumber tenaga kerja
f.       Dekat dengan daerah pemasaran termasuk cold storage
g.      Jauh dari pabrik maupun daerah pemukiman penduduk yang   padat
h.      Terdapat sumber listrik dan sarana komunikasi
i.        Dekat dengan sumber benih vaname


BAB IV
PENUTUP




4.1 Kesimpulan dan Saran
Usaha budidaya perikanan baik itu budidaya tawar, payau maupun laut tidak dapat dilakukan semaunya atau disembarang tempat. Beberapa hal harus diperhatikan jika menginginkan keberhasilan usaha budidaya. Salah satunya yaitu harus mengetahui evaluasi kelayakan lahan untuk budidaya perairan. Budidaya Udang Vannamei banyak diminati, karena memiliki banyak keunggulan antara lain, relatif tahan penyakit, pertumbuhan cepat (masa pemeliharaan 100 - 110 hari), padat tebar tinggi, sintasan pemeliharaan tinggi dan Feed Convertion Ratio rendah. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan sebagai criteria dalam penentuan atau pemihan lokasi budidaya antara lain Aspek tanah, aspek ekologis, aspek biologis dan aspek sosial ekonomi.
          
                      







                       













DAFTAR PUSTAKA




Ø  Cencer, Irul. 2011. Budidaya Perairan (Aquakultur). http://laodekhairummastufpik.blogspot.com/2011/06/budidaya-perairan-aquakultur.html. Diakses pada tanggal 25 April 2013. Pukul 20.00 WIB
Ø  Idha Wijaya, Nirmalasari.2007.Analisis Kesesuaian Lahan dan Pengembangan Kawasan Perikanan Budidaya di wilayah Pesisir Kabupaten Kutai Timur. Institut Pertanian Bogor.
Ø  Margoensir, Mad.2012. Budidaya Udang Vanname. http://vanamei.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 25 April 2013. Pukul 20.05 WIB
Ø  Mukhlis. 2011. Mukhlis_Perikanan_Umpar. http://mukhlis-budidaya-ikan.blogspot.com/2011/11/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html. Diakses pada tanggal 25 April 2013. Pukul 20.15 WIB
Ø  Suryanto Suwoyo,Hidayat.2009. Tingkat Konsumsi Oksigen Sedimen pada Dasar Tambak Intensif Udang Vanname (Litopenaeus vanname). Institut Pertanian Bogor
Ø  Ulis. 2010. Kesesuaian Lahan untuk Budidaya Tambak Udang di Daerah Pesisir Kabupaten Muna Bagian Barat Sulawesi Tenggara. http://afatarulis81.blogspot.com/p/proposal-thesis.html. Diakses pada Tanggal 25 April 2013. Pudul 19.00 WIB
Ø  Wisaksanti Rudiastuti, Aninda. 2011. Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Pengembangan Sistem Informasi Budidaya Tambak Udang PT. Indonusa Yudha. Institut Pertanian Bogor.















KOMENTAR





Posting Komentar