do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Senin, 01 Februari 2016

UPACARA ADAT KARIYA DITINJAU DARI FILOSOFI ADAT DAN AGAMA



TUGAS MAKALA :
UPACARA ADAT KARIYA DITINJAU DARI            FILOSOFI ADAT DAN AGAMA
OLEH:









NAMA         : REVALDY HUBAYA
KELAS          :X-5
KELOMPOK :2
SMA NEGERI 1 RAHA
KATA PENGANTAR
     Tiada kata yang patut kita ungkapkan kecuali syukur ALHAMDULILLAH kepada ALLAH SWT. Yang melimpahkan rahmat dan taufik-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.
     Dalam rangka penyusunan makalah ini ,penyusun banyak menemui kesulitan-kesulitan.Akan tetapi, berkat bantuan teman-teman dari kelompok 2,kesulitan yang saya (penyusun) hadapi menjai lebih mudah, dan akhirnya dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya, meskipun masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan.
     Dalam kesempatan kai ini tak lupa penulis menyampaikan terimah kasi pada guru pembimbing serta teman-teman yang membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat menjadi pedoman/pembimbing untuk pelajaran MULOK.

                                                                                                                           PENYUSUN
                                                                        
                                                                                                                      REVALDY HUBAYA
                                                                                                                      RAHA,29-01-2016











                            DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................................................
DAFTAR ISI.......................................................................................................................
BAB 1: PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG.......................................................................................
B.     TUJUAN............................................................................................................
C.     RUMUSAN MASALAH...................................................................................

BAB 2 : Upacara Adat kariya Ditinjau Dari Filosofi Adat Dan Agama..................
A.     Pengertian kariya .................................................................................................
B.     Kariya sebagai tuturan........................................................................................
C.     Kariya Sebagai Media Pendidikan..................................................................
BAB 3 : Penutup
A.     Kesimpulan...............................................................................................................
B.     Saran............................................................................................................................
DAFTAR PUSTSKA......................................................................................................................










BAB 1
PENDAHULUAN
A.  LATER BELAKANG
    Deskripsi tentang upacara adat karyia dalam suatu tulisan terinspirasi dari fenomena kondisi zaman yang semakin berkembang yaitu adanya kecenderungan generasi muda yang tidak memahami dan mengilhami kandungan filosofi dari kegiatan adat.
    Fenomena ini melahirkan kekawatiran bagi generasi kedepan bahwa dalam perjalanannya nilai-nilai budaya yang kita  miliki hanya dapat tampi sebagai suatu kisah sejarah yang dapat di baca sebagai kisah sejarah  kejayaan islam di spanyol 10 abad yang lalu , kisah tembok berlin di jerman dan kisah nyuri tirai besih di Rusia. Fenomena ini haqnya dapat di jawab dan diantisipasi dengan usaha pelestarian nilai-nilai budaya , tetapi bukan hanya sekedar konsep teoritis kecuali integrasi konsep teoritis dengan aplikasinya. Oleh karena itu monumen monumen peristiwa pelaksanaan upacara adat KARIYA putri keluarga BUPATI RIDWAN BAE,menjadi saksi sejarah mengawali rekontruksi nilai-nilai budaya di Muna khususnya “UPACARA ADAT KARYA”.

B.TUJUAN
       Untuk memahami pandangan islam dan budaya muna tentang ritual kariya sebagai pembina pembentukan karakter kepribadian remaja perempuan.

C.RUMUSAN MASALAH
     1. Apa yang dimaksud dengan kariya ?
     2. Menjelaskan tentang pelaksanaan kariya !
     3. Menjelaskan peran kariya sebagai tuturan !
  4.  Menjelaskan peran kariya sebagai media pendidikan !
BAB 2
UPACARA ADAT KARIYA DITINJAU DARI FILOSOFI ADAT DAN AGAMA
A. PENGERTIAN KARIYA
           Karya adalah upacara adat bagi masyarakat muna yang pertama di adakan pada masa pemerintahan Raja La Ode Husein yang bergelar Omputo sangai terhadap puterinya yang bernama Wa Ode Kamomono-Kamba. Menurut Kaidah bahasa Muna Kariya berasal dari kata “kari” yang artinya : (1) sikat/pembersih, (2) penuh/sesak misalnya mengisi sebuah keranjang dengan suatu benda atau barang sampai penuh sehingga dalam bahasa muna di sebut nokari (sesak); La Ode Sirat Imbo, 28,juni 2007. Sedangkan makna secara kongrit bahwa kata kariya (muna) berarti ribut atau keributan dan arti lain kariya adalah ramai atau keramaian.
    Pendekatan secara filosofi jika di tinjau dari aspek filologo bahwa kariya berarti ribut ,ramai dan keramaian benar adanya karena dalam pelaksanaan upacara ini kariya tidak hanya berdiri sendiri sebagai suatu acara tutura, akan tetapi secara lengkap dan paripurna jika diikuti dengan tradisi-tradisi lainnya sehingga pelaksanaan acara itu menjadi sakral dan lengkap prosesnya. Misalnya menjadi acara Kariya dimana sang gadi (kalambe) selama 4 hari 4 malam di tempa dalam sebuah tempat tertutup (songi) yang di kemas khusus. Untuk menghilangkan rasa stres para gadis (kalambe) dalam tempat tersebut mereka diseilingi dengan acara-acara lain yaitu : rambi padangga (lambi yang di lakoni orang-orang bajo), mangaro acar sandiwara perkelahian. Selama para gadis (kalambe) dalam songi ,acara rambi padangga dan mangaro senantiasa di demonstrasikan oleh orang-orang/golongan yang telah di pilih dan ditetapkan secara adat. Harfiah dari kariya benar menjadi realitas dari pandangan mata an begitu ciri khas rambi (pukul gong) padangga,dan aspek pendengaran menjadi jelas bagi setiap orang yang mendengarnya.
    Karia dalam pengertian ‘kari’ yang artinya sikat/alat pembersih mengandung pengertian secara filosofi yaitu merupakan proses pembersihan diri seorang perempuan menjelang dewasa /peralihan remaja ke dewasa.
    Proses ini dilakukan dengan harapan bahwa seorang wanita ketika telah di syarati dengan ritual kariya maka dianggap lengkaplah proses pembersihan diri secara hakikah. Kepercayaan masyarakat muna bahwa melaksanakan ritual kariya aalah merupakan tanggung jawab orang tua, dalam pengertian jika dikaruniai anak perempuan maka kewajiban yang harus di laksanakan orang tua dalam kaitan dengan perempuan dan pembersih diri melalui proses kariya,kanghombo (pingitan).
     Secara teoritis bahwa pembersihan diri hanya di lakukan dengan air, sedanggkan di tinjau dari KONSEPSI adat dan agama pembersihan diri dapat dilakukan dengan benda-benda lain walaupun hanya dengan niyat . Dan korelasi ritual upacara adat kariya dengan proses pembersihan diri segala kaki telah mentradisi dari masyarakat muna sejak dahulu kala bahkan telah menjadi suatu keyakinan bagi masyarakat sehingga di wajibkan adanya.
      Pelaksanaan upacara ritual kariya tidak lahir secara spontanitas dari masyarakat,tetapi memiliki dasar filosofi yang kuat dan berlandaskan pada pemahaman keagamaan secara islami yang mendalam. Jika di amati dalam proses pelaksanaannya upacara ini dapat di tafsirkan sebagai kegiatan bi’da yang tidak rasional ,oleh karena itu untuk menimbukan penafsiran yang keliru maka mengilhami proses itu tdk hanya secara abstrak tetapi harus secara kongkrit berdasarkan pemaknaan simbol yang di lakukan dan di lakoni oleh peserta upacara secara kronologis dan alfaber.
      Ritual Kariya sebgai proses pembersihan diri dengan harapan bahwa anak perempuan yang menjeang  dewasa telah disiapkan diri sejak dini sebagai tempat suci persemaiam rahasia (benih-benih keturunan) dari laki-laki agar mendapat kan keturunan yang shaleh dan shaleha. Inilah filosopi pendidikan seumur hidup. Sedangkan menurut pemahaman orang tua muna bahwa hendaknya mendidik anak 20 thn sebelum anak itu lahir. Intinya proses kariya di samping sebagai proses pembersihan diri juga merupakan bagian dari pendidikan kaum perempuan dalam menghadapi bahtera kehidupan berkeluarga.



   Pelaksanaan Kariya yang di tempah pada satu tempat khusus (songi) yaitu tempat gelap untuk meakukan proses penempatan tidak hanya mengajarkan kewajiban-kewajiban secara adat ,tetapi di dalamnya ada peasan-pesan khusus yang disampaikan oleh orang tua yang ada kaitannya dengan persiapan-persiapan menjalani kehiupan rumah tangga baik secara lahir maupun secara batiniah. Oleh karena itu Kriya dapat di katakan pengisian atau penyampaian pesan moral ,sehingga ketika upacara Kariya  selesai maka perempuan di anggap telah matang proses keewasaan berpikir maupun bertingkah laku.
    Dalam kaitannya dengan konsep keagamaan bahwa Kariya merupakan proses yang berkepanjanga yang diawali dengan kangkilo (sunat),katoba (pengislaman), hingga sampai pada pelaksanaan upacara Kariya.
    Upacara Kariya adalah merupakan evaluasi dari seluruh pakaian rohani bagi seorang perempuan karena seteah upacara Kariya maka wanita dianggap mapan. Oleh karena itu setelah proses Kariya itu setelah proses kariya selesai perempuan lahir bagaikan kertas putih  dan memahami seluk beluk kehidupan berumah tangga dalam menuju pada pembentukan keluarga sakinah,mawwaddah,dan warrahma.

B.KARIYA SEBAGAI TUTURA
          Kata tuturan dalam bahasa muna adalah definisi morfem ‘tura’ yang artinya awal ,cerah .tetapi telah mendapat prefiks  itu artinya pengawalan pencerahan (La Ode Sirad Imbo).Menurut Immanuel khan bahwa di eropa pada awal abad pertengahan lahir zaman Aufklarung atau pencerahan dan mampu membuat dirinya menggunakan pemahaman sendiri tanpa pengarahan dari luar. Dari pengertian itu terjadi perbedaan di mana eropa yang menggunakan istilah aufklarung sedangkan di muna menggunakan istilah tutura. Keduanya bertujuan sama yaitu proses pembebasan diri ari kungkungan wibawa, purbasangka dan tradisi untuk mencapai kemandirian dan kenyamanan pribadi. Maka tutura adalah rangkaian upacara ritual agar manusia mencapai insanu kamil, yang di simbolkan menjadi proses kejadian manusia dari insani hingga menjadi manusia sempurna dengan melaluitujuh tahapan.


Sedangkan tuturan pada awalnya di hasilkan selama 40 hari. Dalam kegiatan kejadian manusia 9 bulan 10 hari. Tetapi kemudian pelaksanaan tuturan Kariya hanya di laksanakan 4 hari adalah sebagai kias dari 40 hari sedangkan 7 hari adalah tahapan –tahapan pelaksanaan Kariya dari awal hingga selesai
       Upacara Kariya sebagai pengasah fitrah karena harapan dari proses pelaksanaan Kariya adalah untuk mencapai kesucian kembali sebgaimana awalnya di lahirkan di muka bumi. Oleh karena itu mengawali acara kariya peserta terlebih dahulu di mandikan dan setelah selesai juga di mandikan yang bertujuan untuk mencapai kesucian sehingga peranggai di asah agar senan tiasa cerah dan fitranya tetap terjaga.

C.KARIYA SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN
           Berdasarkan teori pendidikan ada dua metode yang dia anggap efektif yaiti :(1) cahracter building (2) titilasi,melalui character building manusia di glembeng watak dan mentalnya sehingga muncul rasa percaya diri yang kokoh,sedangkan melalui titilasi adalah pembinaan minat agar bangkit gairah untuk mengetahui dirinya sendiri. Dalam kaitannya dengan Kariya adalah proses pendidikan pada kaum perempuan untuk di binah watak,karakter, serta pemahaman akan dirinya . Dalam acara kariya /pingitan ,makan,minum dan jam tidur di takar adalah merupakan pembinaan hidup dalam kesederhanaan . Sedangkan iringan tarian,nyanyian , pantun, dan gong adalah isyarat pembinaan gairah untuk melahirkan kepercayaan diri .








Bab 3
PENUTUP
A.KESIMPULAN
       Jadi kariya merupakan upacara adat bagi masyarakat muna yang pertama di adakan pada masa pemerintahan raj La Ode Husein yang bergelar omputo sangai terhadap puterinya yang bernama Wa Ode kamomono kamba.menurut kaidah bahasa muna bahwa kariya berasal dari kata ‘kari’ yang artinya : (1) sikat/pembersih dan (2) penuh/sesak LaOde Sirat imbo, 28 juni 2007,sedangkan makna secara kongrit bahwa kata kariya (muna) berarti ribut atau keributan dan arti lainnya ramai atau keramaian

B.SARAN
      Sebaiknya kita melestarikan budaya/adat daerah muna termasuk kariya dan yang lainnya,karena dengan melestarikannya kita dapat di kenal sebagai masyarakat berbudaya. Selain itu juga agar tidak tergeser oleh budaya asing yang masuk di daerah muna.











Posting Komentar