do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Jumat, 12 Februari 2016

ASKEP ASFIKSIA



BAB II
PEMBAHASAN

KONSEP MEDIS
  1. Defenisi

Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan factor yang timbul dalam kehamilan, persalinan atau segera lahir (Prawirohardjo, Sarwono, 1997).
Asfiksia akan bertambah buruk jika penangan bayi tidak dilakukan dengan sempurna. Oleh sebab itu tindakan keperawatan dilaksanakan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan mengatasi gejala lanjut yang mungkin timbul.

B. Etiologi dan Faktor Predisposisi Asfiksia
a)     Faktor Ibu
Hipoksia ibu akan menimbulkan hipoksia janin dengan segala akibatnya. Hipoksia ibu dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian analgetika atau anesthesia dalam gangguan kontraksi uterus, hipotensi mendadak karena pendarahan, hipertensi karena eklamsia, penyakit jantung dan lain-lain.
b)    Faktor Plasenta
Meliputi solution plasenta, pendarahan pada plasenta privea, plasenta tipis, plasenta kecil, plasenta tak menempel pada tempatnya.
c)    Faktor Janin dan Neonatus
Meliputi tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher, komprgesi tali pusat antara janin dan jalan lahir, gemelli, IUGR, kelainan kongenental dan lain – lain.
d)    Faktor Persalinan
Meliputi partus lama , partus tindakan dan lain – lain (Ilyas Jumiarni, 1995)

  1. Patofiologi
Selama kehidupan dalam rahim, paru janin tidak berperan dalam pertukaran gas oleh karena plasenta menyediakan oksigen dan mengangkat CO2 keluar dari tubuh janin. Pada keadaan ini paru janin tidak berisi udara, sedangkan alveoli janin berisi cairan yang diproduksi didalam paru sehingga paru janin tidak berfungsi untuk respirasi. Sirkulasi darah dalam paru sangat rendah dibandingkan dengan setelah lahir, hal ini disebabkan konstriksi dan arteriol dalam paru janin. Sebagian besar sirkulasi darah melewati duktus Arteriosus tidak banyak yang masuk kedalam arteriol paru.
Bayi menarik nafas pertama kali / menangis saat itu paru janin mulai berfungsi untuk respirasi. Alveoli akan mengembang udara akan masuk dan cairan yang ada dalam alveoli akan meninggalkan alveoli secara bertahap. Arteriol paru mengembang dan aliran darah kedalam paru meningkat secara memadai. Duktus arteriosus mulai menutup bersamaan dengan meningkatnya tekanan oksigen dalam aliran darah. Darah dari jantung kanan melewati DA masuk kedalam Aorta akan mulai memberi aliran darah yang cukup kedalam arteriole paru yang mulai mengembang DA tetap tertutup sehingga bentuk sirkulasi extraukterin akan dipertahankan.
Saat lahir alveoli berisi cairan paru, suatu tekanan ringan diperlukan untuk membantu mengeluarkan cairan tersebut dan alveoli mengembang untuk pertama kali. Beberapa tarika nafas diperlukan untuk mengawali dan menamin keberhasilan pernafasan bayi. Proses persalinan normal berperan penting dalam mempercepat keluarnya cairan yang ada dalam alveoli melalui ruang perivaskuler dan absorbsi kedalam aliran darah atau limfe. Gangguan pernafasan pada keadaan ini apabila paru tidak mengembang dengan sempurna pada saat tarikan nafas pertama. Disebabkan oleh alveoli tidak mampu mengembang atau masih berisi cairan dengan gerakan pernafasan yang lemah dan dangkal tidak efektif untuk memenuhi kebutuhan O2 tubuh. Terjadi pada bayi kurang bulan, asfeksia intrauterine, pengaruh obat yang dikonsumsi ibu saat hamil, pengaruh obat anestesi pada operasi sesar.
Sirkulasi dalam paru yang berperan dalam pertukaran gas. Gangguan vasokonstriksi pembuluh darah paru yang berakibat menurunya perfusi paru., sehingga oksigen akan menurun dan terjadi asidosis. Pada keadaan ini arteiol akan tetap tertutup dan duktus arteriosus akan tetap terbuka dan pertukaran gas paru tidak terjadi.
Selama penurunan perfusi paru masih ada, oksigen ke jaringan tubuh tidak mungkin terjadi. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan tergantung dari berat dan amanya asfeksia, fungsi tadi dapat reversible atau menetap sehingga menyebabkan timbulnya komplikasi, gejala sisa atau kematian penderita.
Pada tingkat permulaan gangguan ambilan oksigen dan pengeluaran CO2 tubuh ini hanya menimbulkan asidosis respiratorik. Jika berlangsung terus menerus akan terjadi metabolisme anaerobic berupa asidosis metaboik. Keadaan ini akan mengganggu fungsi organ tubuh sehingga mungkin terjadi perubahan sirkulasi kardiovaskuler yang ditandai oleh penurunan tekanan darah dan frekuensi denyut jantung. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa penderita asfeksia akan terlihat tahapan proses kejadian yaitu menurunnya kadar PaO2 tubuh, menurunnya pH darah, dipakainya sumber glikogen tubuh dan gangguan sirkulasi darah. Perubahan inilah yang biasanya menimbulkan masalah dan menyebabkan terjadinya gangguaan pada bayi saat lahir atau mungkin berakibat lanjut pada masa neonatus dan masa pasca neonatus.
Hipoksia janin atau bayi baru lahir sebagai akibat dari vasokonstriksi dan penurunan perfusi paru yang berlanjut dengan asfeksia, awalnya akan terjadi konstriksi arteriol pada usus, ginjal, otot dan kulit sehingga persdiaan oksigen untuk irgan fital akan meningkat. Apabila terjadi asfeksia berlanjut maka terjadi gangguan pada fungsi miokard dan cardiac output. Sehingga terjadi penurunan penyediaan oksigen pada organ vital dan mulai terjadi suatu “Hypoxic Ischemic Enchephalopathy (HIE) yang akan memberikan gangguan menetap pada bayi sampai dengan kematian bayi baru lahir. HIE pada bayi baru lahir akan terjadi secara cepat dalam waktu 1-2 jam, bila tidak diatasi scara cepat dan tepat (Aliyah Anna, 1997).

D. Gejala Klinik
Gejala Klini Asfeksia Neonatorum, meliputi :
  1. Pernafasan Terganggu
  2. Detik jantung berkurang
  3. Refleks / Respon Bayi Melemah
  4. Tonus otot menurun
  5. Warna kulit biru / pucat
Pengolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi terdiri dari:
1. Faktor Ibu
a. Hipoksia ibu
Terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetika atau anestesia dalam. Hal ini akan menimbulkan hipoksia janin.
b. Gangguan aliran darah uterus
Mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya pengaliran oksigen ke plasenta dan kejanin. Hal ini sering ditemukan pada :
-Ganguan kontraksi uterus, misalnya hipertoni, hipotoni atau tetani uterus akibat penyakit atau obat.
- Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan.
- Hipertensi pada penyakit akiomsia dan lain-lain.
2. Faktor plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta. .Asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya solusio plasenta, perdarahan plasenta dan lain-lain.
3. Faktor fetus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pcmbuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan : tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher kompresi tali pusat antar janin dan jalan lahir dan lain-lain.
4. Faktor Neonatus
Depresi pusat pernapasan pada bayi baun lahir dapat terjadi karena :
1. Pemakaian obat anestesia/analgetika yang berlebihan pada ibu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernafasan janin.
2. Trauma yang terjadi pada persalinan, misalnya perdarah intrakranial. Kelainan konginental pada bayi, misalnya hernia diafrakmatika atresia/stenosis saluran pernafasan, hipoplasia paru dan lain-lain.
E.Derajat berat ringannya Asfiksia
a.    Normal bila nilai APGAR 7 – 10
b.    Asfiksia sedang bila nilai APGAR score 4 – 6
c.   
Asfiksia berat bila nilai APGAR score 0 – 3

F. Faktor predisposisi
-    Ibu :
1.   
Gangguan his misalnya hipertoni dan tetani
2.    Hipotensi mendadak pada ibu karena pendarahan misalnya plasenta previa
3.    Hipertensi pada eklamsi
4.    Gangguan mendadak pada plasenta seperti salutio plasenta
-    Janin :
1.    gangguan aliran darah dalam tali pusat karena tekanan tali pusat
2.    Depresi pernafasan karena obat-obat anastesi/analgesik yang diberikan kepada ibu, pendarahan intrakranial dan kelainan bawaan
3.    Ketuban keruh/meconium

G.  Penatalaksanaan klinis
a. Tindakan Umum
- Bersihkan jalan nafas : kepala bayi dileakkan lebih rendah agar lendir mudah mengalir, bila perlu digunakan larinyoskop untuk membantu penghisapan lendir dari saluran nafas ayang lebih dalam.
- Rangsang reflek pernafasan : dilakukan setelah 20 detik bayi tidak memperlihatkan bernafas dengan cara memukul kedua telapak kaki menekan tanda achiles.
- Mempertahankan suhu tubuh.
b. Tindakan khusus
- Asfiksia berat
Berikan O2 dengan tekanan positif dan intermiten melalui pipa endotrakeal. dapat dilakukan dengan tiupan udara yang telah diperkaya dengan O2. Tekanan O2 yang diberikan tidak 30 cm H 20. Bila pernafasan spontan tidak timbul lakukan message jantung dengan ibu jari yang menekan pertengahan sternum 80 –100 x/menit.
- Asfiksia sedang/ringan
Pasang relkiek pernafasan (hisap lendir, rangsang nyeri) selama 30-60 detik. Bila gagal lakukan pernafasan kodok (Frog breathing) 1-2 menit yaitu : kepala bayi ektensi maksimal beri Oz 1-2 1/mnt melalui kateter dalam hidung, buka tutup mulut dan hidung serta gerakkan dagu ke atas-bawah secara teratur 20x/menit
- Penghisapan cairan lambung untuk mencegah regurgitasi

H. Pemeriksaan Diagnostik
- Pemeriksaan darah Kadar As. Laktat. kadar bilirubin, kadar PaO2, PH
- Pemeriksaan fungsi paru
- Pemeriksaan fungsi kardiovaskuler
- Gambaran patologi

G. Komplikasi
a. Sembab otak
b. Pendarahan Otak
c.  Anuria atau Oliguria
d.  Hyperbilirubinemia
e.  Obstruksi usus funsional
f.  Kejang sampai koma
g.  Komplikasi akibat resusitasinya sendiri : pnemonthhorax
H.  Prognosa
1. Asfiksia ringan / normal : baik
2. Asfiksia sedang tergantung kecepatan penatalaksanaan , jika cepat prognosa baik.
3.  Asfiksia berat badan dapat menimbulkan kematian pada hari-hari pertama, kelainan saraf permanent. Asfiksia dengan pH 6,9 dapat menyebabkan kejang sampai koma dan kelainan neorologis yang permanent , misalnya cerebal, mental rectadation (Wiryoatmodjo, 1994 : 68























KONSEP KEPERAWATAN

PENGKAJIAN
Pengkajian adalah konsepsi pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang pasien agar dapat menidentifikasi , mengenali masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan pasien , baik (Effendi Nasrul, 1995 : 3).

Pengumpulan Data

  1.  Data Subyektif

Data subyektif adalah presepsi dan sensasi klien tentang masalah kesehatan ( Allen Carol, 1993 : 28)
.
a. Biodata
Bayi : Nama bayi, tempat tanggal lahir bayi, jenis kelamin bayi.
Orang tua : Nama ayah/ibu, umur, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan dan alamat
.
b. Riwayat Kesehatan
Yang perlu dikaji adalah : Riwayat antenatal pada kasus asfiksia berat yaitu :
(1) Keadaan ibu selama hamil dengan anemia, hipertensi, gizi buruk, merokok, ketergantungan obat-obatan , diabetes mellitus, kardiovaskuler dan paru.
(2) Kehamilan dengan resiko praterm misalnya kelahiran multiple, inkopensia serviks, hidramion, kelainan congenital, riwayat persalinan preterm.
(3) Pemeriksaan kehamilan yang tidak teratur atau periksa kepada yang bukan petugas kesehatan.
(4) Gerakan janin selama kehamilan, aktif atau tidak.
(5) Hari pertama dengan hari terakhir tidak sesuai dengan usia kehamilan (kehamilan postdate atau preterm).
c. Riwayat natal komplikasi persalinan juga ada kaitannya dengan masalah bayi baru lahir, yang perlu dikaji adalah :
(1) Kala I : ketuban keruh, bau, mekoneal, antepartum baik sulusio plasenta maupun plasenta privea.
(2) Kala II : Persalinan lama, partus kasep, fetal distress, ibu kelelahan, persalinan dengan tindakan (vakum ekstraksi, forcep ekstraksi).
(3) Adanya trauma lahir yang dapat mengganggu system pernafasan.

d. Riwayat Post Natal
Yang perlu dikaji adalah :
(1) Agar score bayi lahir 1 menit pertama dan 5 menit kedua AS (0-3) asfiksia berat, AS (4-6) asfiksia sedang, AS (7-10) asfiksia ringan.
(2) BB : kurang atau lebih dari normal (2500-4000 gram)
(3) Preterm / BBLR <>2500 gram lingkar kepala kurang atau lebih dari normal (34-36 cm).

e. Pola Nutrisi
Yang perlu dikaji adalah :
Kebutuhan Parenatal
(1) Bayi BBLR <> 1500 gram menggunakan D10 %.
Kebutuhan nutrisi internal
(1) BB < gram =" 24" gram =" 12"> 2000 gram = 8 kali per 24 jam.
Kebutuhan minum pada neonatus
(1) Hari ke 1 = 50-60 cc/kg BB per hari
(2) Hari ke 2 = 90 cc/kg BB per hari
(3) Hari ke 3 = 120 cc/kg BB per hari
(4) Hari ke 4 = 150 cc/kg BB per hari
f. Pola Eliminasi
Yang dikaji adalah :
BAB : frekuensi, jumlah, konsistensi.
BAK : Frekuensi, jumlah.
f. Latar Belakang Sosbud.
(1) Ibu merokok
(2) Ketergantungan obat terutama psikotropika.
(3) Minum alcohol
(4) Diet ketat atau pantang makanan tertentu
g. Hubungan Psikologis
Sebaiknya setelah bayi lahir dilakukan rawat gabung dengan ibu. Dimana bayi akan mendapatkan kasih sayang ibunya.

  1.  Data obyektif

Data obyektif adalah data yang diperoleh melalui suatu pengukuran dan pemeriksaan dengan menggunakan standart yang diakui atau berlaku (Effendi Nasrul, 1995).
a.     Keadaan Umum
Pada neonatus post asfiksia berat, keadaannya lemah dan hanya merintih. Keadaan akan membaik jika menunjukkan gerakan aktif dan menangis keras. Kesadaran neonatus dapat dilihat dari respon terhadap rangsangan. Adanya BB stabil, panjang badan sesuai usia , tidak ada pembesaran lingkar kepala , dapat menunjukkan kondisi neonatus yang baik.
Neonatus post asfiksia berat akan baik kondisinya jika penanganannya benar, tepat dan cepat. Bayi preterm beresiko terjadi hipothermi bila suhu tubuh < 36 0 C dan hipertermi jika suhu tubuh < 370 C, norma : 36,5-37,50 C . Nadi norma : 120-140 kali per menit, respirasi norma : 40-60 kali per menit, bayi post asfiksia berat pernafasan belum teratur ( Potter Patricia A, 1996 : 87).
              b.   Pemeriksaan Fisik
(1) Kulit
Warna kulit tubuh : merah, ekstremitas berwarna : biru, pada bayi preterm terdapat lanogo dan verniks.
(2) Kepala
Kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal haematom, ubun-ubun besar cekung atau cembung kemungkinan adanya peningkatan tekanan intracranial.
(3) Mata
Warna konjunctiva anemis atau tidak anemis, tidak ada bleeding conjunctiva, warna slera tidak kuning, pupil menunjukkan refleksi terhadap cahaya.
(4) Hidung
Terdapat pernafasan cuping hidung dan penumpukan lender.
(5) Mulut
Bibir warna pucat atau merah, ada lender atau tidak.
(6) Telingga
Perhatikan kebersihan dan adanya kelainan.
(7) thorax
Bentuk semetris, ada tarikan intercostals, perhatikan suara wheezing dan ronchi, frekuensi bunyi jantung lebih dari 1000 kali per menit.
(8) Abdomen
Bentuk silindris, hepar bayi terletak 1 – 2 cm dibawah arcus costae pada garis papilla mammae. Lien tidak teraba, perut buncit berarti adanya asites atau tumor, perut cekung adanya hernia diafragma, bising usus timbul 1 sampai 2 jam setelah masa kelahiran bayi, sering terdapat retensi karena GI Tract belum sempurna.
(9) Umbikulus
Tali pusat layu, perhatikan ada pendarahan atau tidak, adanya tanda-tanda infeksi pada tali pusat.
(10) Genetalia
Pada neonatus aterm testis harus turun, lihat ada kelainan letak muara uretra pada neonatus laki-laki, neonatus perempuan lihat labia mayor dan labia minor, adanya sekresi mucus keputihan, kadang pendarahan.
(11) Anus
Perhatikan adanya adarah dalam tinja, frekuensi buang air besar, warna dari feces.
(12) Ekstremitas
Warna biru, gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya patah tulang atau kelumpuhan saraf atau keadaan jari-jari tangan serta jumlahnya.
(13) Refleks
Pada neonatus preterm post asfiksia berat refleks moro dan sucking lemah. Reflek moro dapat memberi keterangan mengenai keadaan susunan saraf pusat (Iskandar Wahidiyat, 1991 : 155 dan Potter Patricia A, 1996 : 109-356).
                3.  Data penunjang
Data penunjang pemeriksaan laboratorium penting artinya dalam menegakkan diagnosa atau kausal yang tepat sehingga kita dapat memberikan obat yang tepat pula.
Pemeriksaan yang diperlukan adalah :
a. Darah
Nlilai Darah lengkap pada bayi asfiksia terdiri dari :
(1) Hb (normal 15-19 gr %) biasanya pada bayi dengan asfiksia Hb cenderungturun karena O2 dalam darah sedikit.
(2) Leukositnya lebih dari 10,3 x gr/ct (normal 4,3-10,3 – 10,3 x 10 gr/ct) karena bayi preterm imunitas masih rendah sehingga resikonya tinggi.
(3) Trombosit (normal 350 X 10 gr/ct) , distrosfiks pada bayi preterm dengan post asfiksia cenderung turun karena sering terjadi hipoglikemi.

b. Nilai analisa gas darah pada bayi post asfiksia terdiri dari :
(1) pH (Normal 7,36 – 7,44) , kadar pH censerung turun karena terjadi asidosis metaboik.
(2) PCO2 (normal : 35-45 mm Hg), kadar PCO2 pada bayi post asfiksia cenderung naik, dan sering terjadi hiperapnea.
(3) PO2 (normal : 75-100 mmHg) , Kadar PO2 pada bayi post asfiksia cenderung turun karena terjadi hipoksia progresif.
(4) HCO3 (normal : 24-28 mEq/L)
(5) Urine



Nilai serum elektrolit pada bayi post asfiksia terdiri dari :
o Natrium (normal : 134 - 150 mEq/L)
o Kalium (normal : 3,6 - 5,8 mEq/L)
o Kalsium (normal : 8,1 – 10,4 mEq/L)
(6) Photo torax
Pulmonal tidak tampak gambaran, jantung ukuran normal.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
 
Diagnosa Keperawatan adalah penilaian klinik tentang respon individu, keluarga atau komunitas terhadap masalah-masalah kesehatan atau proses kehidupan yang actual atau potensial (Allen Carol Vestal, 1998 : 67).
Gangguan yang sering timbul dalam pasien post asfiksia berat , yaitu :
Gangguan pemenuhan kebutuhan O2 sehubungan dengan asfiksia berat.

1.    Gangguan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi cairan duktus nasal pada bayi
2.     pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kelemahan otot pernafasan/ penurunan ekspani paru   
3.    Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahann imunologi, factor lingkungan
4.    Resiko  tinggi nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan imaturitas, kurangnuya pengetahuan orang tua
5.    resiko tinggi perubahan suhu tubuh berhubungan dengan kontrol suhu yang imatur , perubahan suhu lin



\


INTERVENSI

DX. jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi cairan duktus nasal bayi  
Tujuan : mempertahankan jalan nafas paten, ventilasi/ oksigenasi adekuat
Kriteria hasil : jalan nafas paten, pernafasan teratur dan tidak sulit,  frekuensi nafas dalam batas normal
Intervensi :
1.    hisap mulut dan nasofaring untuk membebaskan jalan nafas
2.    posisikan bayi miring kekanan
3.    ukur tanda vital
4.    observasi adanya tanda-tanda distress penafasan dan lapokan segera bila terdapat , pernafasan cuping hidung, sianosis atau pucat
5.    bersihkan lubang hidung
6.    periksa kepatenan lubang hidung


DX. pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kelemahan otot pernafasan /penurunan ekspansi paru
Tujuan           : fungsi pernafasan adekuat
Kriteria hasil  : menunjukkan pola nafas efektif dengan frekuensi dan kedalaman dalam rentang normal dan paru jelas atau bersih  
Intervensi :
1.    kaji frekuensi kedalaman pernafasan dan ekspansi dada
2.    tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi bayi
3.    jumlahkan pernafasan bayi selama satu menit penuh dan bandingkan untuk menyusun frekuensi yang di inginkan / Ventilator, bila oksigenasi di butuhkan
4.    ukur tanda-tanda vital


DX. Resiko tingg infeksi berhubungan dengan kurangnya pertahanan imunologis, fakctor lingkungan
Tujuan : pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
Kriteria Hasil : bayi tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi atau inflamsi

Intervensi :
1.    Cuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi
2.    pakai sarung tangan ketika kontak dengan sekresi tubuh
3.    jaga bayi dari sumber potensial infeksi
4.    pertahankan potonga  imbilikus bersih dan kering
5.    kaji warna, bau dan drainase pada pusra tiap hari




Dx. Resiko tinggi perubahan suhu tubuh berhubungan dengan kontrol suhu yang imatur, perubahan suhu lingkungan,
Tujuan           :  memertahankan suhu tubuh bayi
Kriteria hasil   : suhu bayi tetap pada tingkat yang optimal
Intervensi :
1.    tempat tidur harus slalu kering
2.    letakkan bayi baru lahir pada ruang hangat atau incubator
3.    gunakan pembungkus bayi yang adekuat untuk mengurangi kehilangan panas akibat Evaporasi dan konveksi
4.    ukur suhu bayi pada saat tiba di tempat perawatan atau kamar  ibu
5.    pertahankan suhu lingkungan sesuai kebutuhan bayi






DX. perubahan nutrisi kurang dari kebutuha berhubungan dengan kurangnya pengetahuan orang tua
Tujuan        : pasien mandapat nutrisi yang optimal
Kriteria Hasil : Asupan nutrisi yang Adekuat 
Intervensi : 
1.    Berikan ASI
2.    Timbang berat badan Bayi
3.    Ukur tanda-tanda Vital





















BAB I
PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG
Asfiksia neonatus akan terjadi apabila saat lahir mengalami gangguan pertukaran gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan O2 dan kesulitan pengeluaran CO2 . pada keadaan ini biasanya bayi tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, sampai sekarang asfiksia masih merupakan salah satu penyebab penting mortalitas dan mortalitas perinatal. Banyak kelainan pada masa neonatus mempunyai kaitan dengan faktor asfiksia ini
Pada penderita asfiksia di dapatkan bahwa sindrom gangguan nafas asfirasi melonium, infeksi dan kejang merupakan penyakit yang sering terjadi pasca asfiksia. Pada penderita asfiksia dapat pula ditemukan penyakit lain yaitu ganggan fungsi jantung, renjatan neonatus, gangguan fungsi gijal atau kelainan gastrointestinal, kamjuan ilmu dan tekhnologi kedokteran telah banyak berperan dalam menurunkan angka kematian dan kesakitan neonatus  

B.  TUJUAN
Tujuan umum
Agar mahasiswa dapat memberiakn asuhan keperawatan pada anak dengan gangguan sistem pernafasan asfiksia
Tujuan khusus
a.    Agar mahasiswa dapat memahami pengertian tentang Asfiksia
b.    Agar mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan pada penderita Asfiksia
c.    Agar mahasiswa dapat memahami tanda dan gejala asfiksia
d.    Agar mahasiswa dapat memahami proses terjadinya asfiksia pada neonatus


C.  RUMUSAN MASALAH

Yang menjadi permasalahan tentang penyakit Asfiksia  dapat dirumuskan sebagai berikut:
1)    Bagaimana mengetahi tentang pengertian penyakit Asfiksia, patofisiologi,etiologi, manifestasi klinik,dan komplikasinya
2)    Bagaimana penanganan penyakit Asfiksia mulai dari pengkajian,diagnosa, intervensi dan evaluasinya.






















Tugas kelompok           :MATERNITAS I
Dosen pembimbing       :NIRWANA BURHAN  S.Kep,Ns

Asuhan Keperawatan Asfiksia
                                                                                     
O L E H :
Kelompok III
          NURHIFMAWATI ARIEF             YUSNIAR
SRI NURADMI MULIADI             MARIA TS.MANTOUW
IKSAN MAPO                                 WAODE JUNIANTI
RUPIANA                                        FARIDA LATIF
NAOMI PAGORAI                         ASRULLAH


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MANDALA WALUYA
KENDARI
2008

                              KATA PENGANTAR           


            Alhamdulillah  segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa,karena berkat rahmat ,taufik dan hidayahnya sehingga  dapat menyelesaikan tugas ini dengan tepat waktu,  walaupun dalam bentuk sangat sederhana dengan judul “Asuha keperawatan pada asfiksia
            Kami  menyadari begitu banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini dan masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena  itu kami harapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun kepada para pembaca, teman – teman, dan dosen pembimbing  untuk kesempurnaan tugas-tugas selanjutnya khususnya dalam menambah ilmu pengetahuan kami.






Kendari, Januari, 2009


        Penulis








DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Asfiksia Pada Bayi. http://www.google.com/.
Hidayat, Aziz Alimul. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Edisi 1. Jakarta : Salemba Medika
.
Doenges, Marlyn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan .Edisi III. EGC : Jakarta

Poskan Komentar