do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Jumat, 12 Februari 2016

LAPORAN PENDAHULUAN BRONKHITIS



LAPORAN PENDAHULUAN
BRONKHITIS

I.                   KONSEP DASAR MEDIS
  1. Pengertian
Bronkhitis merupakan bagian dari penyakitsaluran napas lain namun ia juga dapat merupakan penyakit tersendiri.
Bronkhitis secara harfiah adalah suatu penyakit yang ditandai adanyainflamasi bronkhus ( Ngastiyah ,1997 ).
Bronkhitis dapat diklasifikasikan sebagai Bronkhitis akut atau Bronkhitis kronis.
-                                                                       Bronkhitis akut merupakan akibat dari beberapa keadaan lain seluruh pernapasan atas dan bawah tracea biasanya terlihat, selain itu merupakan penyakit infeksi saluran napas akut ( ISNA ) bawah yang sering dijumpai.
-                                                                      Bronkhitis kronis : belum ada penyesuaian pendapat mengenai Bronkhitis kronis yang ada ialah batuk kronik dan/ berulang (BKB) yang disebabkan oleh berbagai penyebab dengan gejala batuk yang berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu berturur-turut dan/ berulang paling sedikit 3x dalam 3 bulan dengan/ tanpa disertai gejala respiratorik / non respiratorik dan yang telah disingkirkan. Penyebab BKB misalnya  asma, infeksi kronis saluran napas.
  1. Etiologi
1.      Bronkhitis aku      
Penyebab utamanya adalah virus tang paling sering, seperti : rinovirus, respiratory sineytial virus ( RSV ), virus influenza, parainfluenza dan coxcaki virus.

Faktor predisposisi terjadinya bramkhitis akut adalah :
·   Alergi
·   Perubahan cuaca
·   Polusi udara
·   Infeksi saluran atas kronik
2.      Bronkhitis kronis
Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tetapi ada faktor yang mempengaruhi sebagai berikut :
·   Rokok
·   Infeksi
·   Polusi
·   Kelainan imunologis
  1. Patofisiologi
Terlampir
  1. Manifestasi Klinik
1.Bronchitis akut
Þ    Anak batuk yang sering kering, pendek, tidak produktif
Þ    Nyeri terbakar dada depan sering ada dan dapat diperjelek oleh batuk
Þ    Pada anak dahak yang mukoid (kental) susah ditemukan mungkin dahak berwarna kuning kental
Þ    Pada beberapa hari pertama tidak terdapat kelainan pada pemeriksaan dada tetapi kemudian dapat timbul ronki basah kasar dan suara nafas kasar
Þ    Terjadi nyeri dada, nafas pendek
Þ    Rasa mencekik pada saat sekresi kadang disertai muntah
Þ    Dalam beberapa hari, batuk menjadi produktif dan sputum berubah menjadi jernih ke porulen, biasanya dari 5-10 hari mucus encer, batuk menghilang secara bertahap
Þ    Terjadi malaise
Þ     Tanda-tanda fisik bervariasi berdasarkan umur dan stadium penyakit

2.Bronchitis kronis
Þ    Gejala utamanya adalah batuk dengan/ tanpa riak.
Þ    Anak biasanya mengeluh nyeri dada dan secara khas dan gejala menjelek pada malam hari.
Þ     Dapat juga menonjol, tanda-tanda fisik Bronchitis akut.
  1. Penatalaksaan Medik
1.      Bronchitis akut
·   Karena penyebab umum pada Bronchitis adalah virus, maka belum ada obat kausal, antibiotik tidak berguna, obat yang diberikan biasanya penurun demam.
·   Pada bagian drainase paru dipermudah dengan cara sering malakukan pergeseran posisi.
·   Walaupun penekanan baruk dapat menambah kemungkinan supurasi, penggunaan batuk yang bijaksana ( termasuk kodein )mungkin memadai pengurang gejala.
·   Penggunaan antihistamin, ekspektoran dan antibiotik tidak dibolehkan tetapi bila Bronchitis disebabkan oleh infeksi bakteri sekunder perlu diberi antibiotik.
2.      Bronchitis kronis
·   pencegahan misalnya : tidak merokok, menghindari lingkungan polusi.
·   Terapi farmakologi :
a.       Pemberian bronchodilator, seperti : golongan teofisin.
b.      Pemberian obat akan mengurangi sekresi mucus.
·   Fisioterapi dan rehabilitasi
·   Pemberian O2
  1. Prognosa
1.      Bronchitis akut : baik
2.      Bronchitis kronis :sering kambuh
  1. Komplikasi
1.      OMA
2.      Efusi pleura
3.      Empiema
4.      Meringitis
5.      Abses otak
6.      Endokarditis
7.      Osteomilitis
II.                KONSEP DASAR b ddKEPERAWATAN
  1. Riwayat Keperawatan
·   Aktivitas / istirahat
-          Keletihan, kelelahan, malise, kelemahan umum.
-          Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas seperti bermain, karena sulit bernafas.
-          Dispnea pada saat istirahat / respon terhadap latihan / aktivitas.
·   Sirkulasi
-          Pembekakan pada ekstermitas bawah ( Bronchitis kronik ).
-          Peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi jantung, disritmia, takikardi.
-          Disatensi vena leher.
-          Warna kulit / membran mukosa normal / sianosis.
·   Integritas ego
-          Perubahan pola hidup.
-          Ketakutan, peka rangsang.
·   Makanan / cairan
-          Mual / muntah nafsu makan menurun.
-          Ketidakmapuan untuk makan karena distres pernafasan.
-          Peningkatan berat badan menunjukan adanya edema ( Bronchitis kronis ).
-          Turgor kulit buruk.
-          Penurunan barat badan.
·   Hygiene
-          Peningkatan kebutuhan bantuan sehari-hari.
-          Kebersihan diri buruk.

·   Pernafasan
-          Batuk mantap dengan produksi sputum setiap hari, selama minimum 3 bulan berturut-turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun, produksi sputum ( hijau, putih / kuning ) Bronchitis kronik.
-          Episode batuk hilang timbul biasanya tidak produktif pada tahap  dini meskipun akan menjadi produktif.
-          Pernafasan : biasanya cepat, daapt lambat : fase ekspirasi memanjang dengan mendengkur.
-          Penggunaan otot bantu pernafasan misalnya : mengankat bahu.
-          Dada : terjadi peninggian diameter Ap, diafragma minimal.
·   Keamanan
-          Riwayat reaksi : alergi terhadap zat/ faktor lingkungan.
-          Adanya / berulangnya infeksi.
  1. Pemeriksaan Diagnostik
·   Sinar X                     : peningkatan tanda bronkovaskuler.
·   Tes fungsi paru         : untuk menentukan penyebab dispnea, dan untuk mengevaluasi efek terapi. untuk mengevaluasi fungsi paru, menetapkan luas dan beratnya penyakit.
·   GDA : memperkirakan progresi proses penyakit kronis, misalnya : penggunaan O2, penggunaan CO2 normal / meningkat
·   Sputum : kultur untuk menetukan adanya infeksi, keganasan, / alergi.
·   EKG : disritmia arterial, peninggian gelombang penyakit pada lead II, III, AVF.
 
III. MASALAH / DIAGNOSA KEPERAWATAN
  1. Bersihan jalan nafas inefektif b/d akumulasi secret.
  2. Perubahan suhu tubuh / hipertermi b/d proses infeksi.
  3. Pola nafas inefektif b/d obstruksi jalan nafas, G3 ventilasi.
  4. Nutrisi kurangdari kebutuhan b/d intake menurun, anureksia.
  5. Intoleransi aktivitas b/d  kelemahan fisik.
  6. Resiko tinggi defisit volume cairan b/d mual, muntah, peningkatan evaporasi.

IV. INVENSI KEPERAWATAN
1.      Bersihan jalan nafas inefektif b/d akumulasi secret.
1.      Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan
R/: Takipnea, pernapasan dangkal sering terjadi karena adanya ketidaknyamanan pada dinding dada
2.      Auskultasi area paru, catat adanya bunyi nafas ronkhi
R/:Bunyi bronkhi terdengar pada inspirasi/ ekspirasi pada respon terhadap pengumpulan cairan,secret kental, dan spasme jalan nafas.
3.      Lakukan section sesuai indikasi
R/:Merangsang batuk / pembersihan jalan nafas seacra mekanik pada pasien yang tidak mampu melakukan karena batuk tidak efektif.
4.      Berikan posisi nyaman (semi fowler/ failer)
R/:Membantu membersihkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernafasan.
5.      Berikan caiarn yang hangat
R/: Untuk mengencerkan secret dan mobilisasi pengeluaran secret.
6.      Kolaborasi untuk pemberian obat mukoliti, expectorant
R/: Memudahkan pengenceran secret dan mobilisasi secret.
2.      Perubahan suhu tubuh / hipertermi b/d proses infeksi.
1.      Kaji adanya keluhan / tanda-tanda peningkatan suhu tubuh.
R/: Peningkatan suhu tubuh akan menunjukkan berbagai gejala seperti mata merah, dll
2.      Observasi suhu tubuh
R/: Untuk mengetahui perubahan suhu tubuh
3.      Beri kompres air hangat pada dahi
R/: Merangasang hipotalamus ke pusat pengatur suhu
4.      Anjurkan minum banyak
R/: Meningkatkan ekskresi sehingga panas dapat keluar melaui urine
5.      Kolaborasi pemberian obat antibiotik dan antipiretik
R/: Menghambat aktivitas kuman dan merangsang termoreseptor sehuingga tidak terjadi pembengkakan suhu badan.
3.      Pola nafas inefektif b/d obstruksi jalan nafas, G3 ventilasi.
1.      Pantau frekuensi, kedalaman pernafasan
R/:Untuk mencegah pernafasan dangkal sering terjadi karena adanya ketidaknyamanan pada diding dada.
2.      Angkat kepla tempat tidur sesuai aturanya, posisi miring sesuai indikasi.
R/:Untuk memudahkan ekspansi paru / ventilasi paru dan menurunkan adanya lidah jatuh yang menyumbat jalan nafas.
3.      Anjurkan pasien utnuk melakukan nafas dalam yang efektif.
R/: Mencegah / menurunkan atelektasis
4.      Pantau pasien dari penggunaan obat-obat depresan, pernafasan seperti sedatif.
R/: Dapat meningkatkan gangguan / komplikasi pernafasan
5.      Kolaborasi dengan memberikan oksigen.
R/: Memaksimalkan oksigen pada darah arteri dan membantu dalam pencegahan hipoksia.
4.      Nutrisi kurangdari kebutuhan b/d intake menurun, anureksia.
1.      Identifikasi faktor menimbulkankan ketidakseleraan.
R/:Pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah.
2.      Timbang berat badan setiap hari.
R/:Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan intervensi
3.      Tingkatkan kenyamanan lingkungan saat makan
R/:Perbaikan lingkungan dan sosialisasi waktu makan dapat meningkatkan pemasukkan
4.      Berikan makanan dalam jumlah kecil.
R/:Meningkatkan proses pencernaan dan frekuensi terhadap nutrisi yang diberikan.
5.      Kolaborasi untuk penberian obat / vitamin.
R/:Meningkatkan selera makan.
5.      Intoleransi aktivitas b/d  kelemahan fisik.
1.      Kaji keadaan umum klien
R/:Mengetahui perkembangan klien
2.      Tekankan pentingnya mengikuti terapi evaluasi medik
R/:Periode penyembuhan lama memerlukan pengawasan ketat untuk mencegah kekambuahan.
3.      Tingkatkan tirah baring
R/:Agar energi tidak banyak dihabiskan dan menambah kelemahan fisik.
4.      Bantu penuhi kebutuhan anak
R/:Mengurangi terjadinya aktivitas yang berlebihan yang dapat meningkatakan metabolisme tubuh.
5.      Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi
R/:Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan.
6.      Resiko tinggi defisit volume cairan b/d mual, muntah, peningkatan evaporasi
1.      Evaluasi tingkat kecemasan orang tua
R/: Kecemasan orang tua dapat mempengaruhi keadaan anak secara psikologis.
2.      Berikan info tentang proses penyakit dan antisipasi tindakannya.
R/: Mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan kecemasan.
3.      Dorong orang tua anak menyatakan perasaan
R/: Membuat hubungan terapeutik, membantu mengidentifikasi masalah yang dapat menyebabkan stress
4.      Bantu orang tua belajar mekanisme koping baru
R/:Belajar cara untuk mengatasi masalah dapat membanatu dalam menurunkan stress.










PATOFISIOLOGI
]
     Virus                                                                  Kelainan imunologis     Rokok        Infeksi             Polusi


Bronkhitis akut                                                                                           Bronchitis kronik

Pengeluaran zat pirogen                   Peradangan bronkus

Merangsang hipotamus                    Hiprsekresi
Anterior

Set point berubah                            Aktivitas kelenjar mensekresi lender

Respon menggigil                           Produksi sekret meningkat

Reaksi peningkatan suhu                Akumulasi sekret pada saluran nafas                         Obstruksi jalan nafas
Tubuh                                                     

  Hipertermi                                    Bersihan jalan nafas inefektif                                          G3 ventilasi
                                                               

Perubahan status                           Jalur aferen saraf simpatis                                          Pola nafas tidak efektif
Kesehatan

Info tidak adekuat                          Rangsang medulla oblongata                             Tranpor O2 ke jaringan terganggu
                                                                                                               

Pola koping inefektif                                  batuk                                                                Suplai O2 menurun

Kecemasan  orang tua                   Peningkatan tekanan Intraabdumen                          Energi metabolisme menurun
                                                               
                                                                Penekanan pada gaster                                            Kelemahan fisik

                                                                Rangsang pada saraf                                           Intoleransi aktifitas
                                                                Aferens ss                                                   
Kompensasi paru
      Diteruskan bilateral Medulla                                             Untuk peningkatan
Masukan O2

                                                                                                                                     Peningkatan frekuensi  nafas
                               
    Ditransmisikan saraf  Cranial V, VII, X, XII     

       Timbul rangsangan Mual / muntah

                                                                                                Kesulitan menelan

               
                                                                                Anoresia

                                                                               
                                                                                Intake menurun/                      Nutrisi kurang dari kebutuhan
                                                                                Kurang                                    tubuh
























Tidak ada komentar: