do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Senin, 01 Februari 2016

KESENIAN KERAMIK DI JEPANG



Kesenian keramik di Jepang, diperkirakan berawal pada periode Jomon, periode yang tertua dan merupakan Jaman Prasejarah pada sejarah Jepang. Waktu periode Jomon sekitar 10.000 SM – 200 SM. Pada masa ini, kehidupan masyarakatnya masih berburu dan meramu untuk kebutuhan makannya. Bercocok tanam masih belum dikenal pada masa ini, walaupun mereka sudah hidup menetap dan berkelompok, yang disebut (mura). Mereka tinggal di sebuah bangunan yang disebut (tateanashikijuukyo).

Meski belum mengenal budaya bercocok tanam, tetapi masyarakatnya sudah bisa membuat barang-barang tembikar. Dari situlah yang menjadi cikal bakal dari kesenian keramik di Jepang. Barang-barang tembikar pada masa ini bervariasi. Dapat diklasifikasikan menurut periode waktunya, yaitu; permulaan, pertengahan, pra akhir dan akhir periode Jomon. Barang-barang tembikar pada masa permulaan periode Jomon mempunyai dekorasi bentuk yang langsing.
Mulai dari masa pertengahan ornamennya bebas dan tegas, hanya saja lebih kasar daripada barang-barang tembikar jaman kuno lainnya. Ornamen tersebut dibuat dari tali dengan cara digulungkan disekeliling barang tembikar tersebut. Area-area penemuan barang-barang tembikar pada masa ini hanya terbatas di daerah pegunungan sekitar Honshu tengah, tepatnya di perfekturan Nagano dan Yamaguchi.

Setelah periode Jamon usai, Jepang memasuki periode Yayoi. Waktu periode Yayoi sekitar 200 SM – 250 M. kehidupan masyarakat di periode ini sudah mulai bercocok tanam. Kebudayaannya berkembang dari pulai Kyushu sampai sebelah timur pulau Honshu. Pada masa ini berbagai gerabah tanpa glasir sudah mulai bermunculan. Penggunaan roda tembikar dan pembakaran yang mampu mencapai suhu bebatuan pun sudah mulai dikenal. Tidak seperti barang tembikar pada periode Jamon, barang tembikar pada Yayoi mengandalkan bentuknya daripada dekorasinya. Barang kesenian oada masa ini, khususnya barang tembikarnya merupakan permujudan pertama dalam kesenian Jepang yang sekarang ini sudah kita kenal.

Kemudian Jepang memasuki periode Nara. Periode ini kesenian keramik Jepang sangat terpengaruh oleh kebudayaan Cina dan juga agama Budha yang dibawa masuk oleh China pada periode Asuka. Pada periode ini merupakan masa emas kesenian Budha yang ada di Jepang. Dengan adanya reformasi Taika, sistema pemerintahan di Jepang meniru sistema pemerintahan yang ada di Cina. Para pengrajin Jepang pergi ke Cina mempelajari teknik-teknik pembuatan keramik. Mereka mempelajari penggunaan glasir dan pembakaran suhu rendah. Selama berabad-abad mereka menerapkan teknik yang mereka pelajari dari Cina dan Korea.

Selanjutnya adalah era Momoyama atau periode Muromachi pada tahun 1334 – 1573, mulai masuk ajaran agama Budha Zen dan masuknya ajaran ini beriringan dengan kebudayaan Cina, diantaranya perjamuan minum teh atau yang kemudian dikenal dengan Cha no yu. Tembikar Karatsu, juga berasal dari sekolompok orang keturunan Korea, kebanyakan produksinya untuk keperluan sehari-hari dan untuk keperluan upacara minum teh (tea ceremony). Daerah ini memperoduksi beberapa jenis tembikar dengan corak hias berupa dari glasir besi, dekorasi kuas-bulir, berbintik dan lain lain. Kebudayaan Cha no yu atau “upacara minum teh” membawa dampak besar pada pengaruh kesenian keramik. Para ahli atau guru pada upacara minum teh ingin peralatan makan dan minum mereka juga mengekspresikan semangat Zen khususnya nilai estetika yang mencari keindahan yang mendalam, alami, dan sederhana. Dari pandangan sejarah keramik Jepang, aspek terpenting yang membawa pembangunan kembali kebudayaan pun dari upacara minum teh.

Keramik Hagi, kebanyakan produksi keramiknya berupa mangkok untuk tea ceremony. Keramiknya minim dengan ekspresi pribadi dan pengglasirannya sedikit buram. Keramik tampil di depan sebagai keramik utama dalam tea ceremony. Saat ini popularitas keramik ini mulai bangkit kembali setelah sempat tidak diminati beberapa kurun waktu lampau. Keramik Bizen tanah litany kaya dengan besi, dibuat tanpa glasir untuk menampilkan keindahan tanah liatnya, apalagi tekstur “benang api” dan “biji wijen” yang muncul secara alamiah akibat pembakaran. Kyoto yang terkenal sebagai pusat budaya dan politik dan lebih maju secara cultural juga menjadi pusat kesenian dan kerajinan. Sehingga tidak mengherankan sebagai puast seni diikuti juga perkembangan keramiknya. Tidak hanya tembikar tradisonal akan tetapi tembikar avant-garde pun berkembang di sana. 

Di daerah Tamba umumnya digunakan untuk peralatan rumah tangga dan disukai oleh para penggiat tea ceremony. Tembikar Arita dipercaya sudah ada sejak abad 16 [priode Momoyama], ketika seorang pembuat keramik Ri Sampei, seorang keturunan Korea, menemukan tanah liat di Arita, Kyushu dan memproduksi porselen. Inilah awal dari pembuatan porselen di Jepang. Bahkan sampai priode Meiji [1868-1911] wilayah Arita merupakan pusat porselen di Jepang dengan gaya Sometsuke yaitu dekorasi kebiruan dengan lapisan grasir bawah dan gaya. Disamping itu juga dikembangkan porselen bergaya Aka-e yang menggunakan glasir enamel dari polychrome.





Proses Pembuatan Tembikar Jepang

Seni Keramik Jepang penawaran dengan semua elemen seperti api, udara, bumi dan air sebagai bentuk seni yang luar biasa dan teknik, lengan dan kepala sehingga memiliki air, udara dan api.
Dalam seni membuat keramik dimodelkan, pra dibakar dan masih diemail, dicat dan enfornadas akan di kayu terbakar oven Noborigama dipanggil, yang satu ini memiliki jenis struktur benar-benar refraktori terdiri dari tungku dan juga empat ruang yang saling berhubungan dan mencapai suhu yang lebih tinggi dari 1400 derajat.

Ada banyak lokakarya yang menunjukkan lingkungan kerja itu sendiri di kaki oven dan melakukan kunjungan di seluruh sistem kultur yang digunakan, sehingga dimungkinkan untuk mengetahui integrasi penuh alam dengan tanah liat, serta air, kayu dan api, semua melayani lebih untuk memotivasi karya seni dari berbagai seniman.


Bahan yang Digunakan
Bahan yang paling umum digunakan adalah tanah liat diekstrak di wilayah yang sudah berusia dan diperlakukan menciptakan tekstur yang baik dan plastisitas serta model lanjut patung, mosaik, obyek, pengaturan untuk kontainer, pot, vas, antara lain. Apalagi salah satu dapat menemukan piring-piring tahan api dan keramik untuk semakin menghargai masakan dan keahlian memasak dalam budaya Timur.
Makna dari desain atau motif keramik Jepang
Desain atau motif pada keramik Jepang selain bertujuan untuk memperindah dan mempercantik, ternyata memiliki makna tersembunya dari penciptaan keramik tersebut. Berikut adalah contoh-contoh desain beserta maknanya:



1)      Corak binatang
a.      Luak atau musang, merupakan bukti pengaruh takhayul dalam kesenian keramik Jepang. Luwak yang dalam bahasa Jepang disebut (tanuki) ini sebenarnya adalah khayalan, dari berbagai jenis binatang yang digunakan di corak keramik Jepang, binatang inilah yang paling sering muncul. Banyak sekali legenda tentang tanuki Jepang, tanuki digambarkan sebagai binatang yang cerdik. Untuk corak keramik biasanya tanuki lebih populer digambarkan dengan membawa ceret yang dikenal sebagai “bumbuku cha gama“ atau “ceret teh pembawa keberuntungan“. Mungkin adanya corak tanuki ini dimaksudkan sebagai pembawa keberuntungan bagi masyarakat Jepang.

b.      Kelelawar atau Komori dalam bahasa Jepang, corak ini berasal dari Cina. Jepang tidak menggunakannya tapi terkecuali apabila mengkopo dari Cina.  Biasanya digambarkan mirip yang asli. Kelelawar merupakan simbol dari pertanda yang bagus karena cara baca Hanzhe (huruf kanji Cina) kelelawar sama dengan cara baca Hanzhe yang artinya kebahagiaan.

c.      Ayam Jantan atau Ondori dalam bahasa Jepang, biasa digambarkan bersama dengan ayam betina. Menurut legenda lama Cina, ayam jantan adalah seekor burung yang menggambarkan lima kebajikan. Mahkota dikepalanya menandakan jiwa atau semangat sastra; taji di kedua kakinya menandakan keberanian untuk melawan musuhnya; dia selalu mengalah untuk ayam betina ketia menggaruk biji padi melambangkan kebaikan; dan terakhir dia tidak pernah terlambat waktu untuk berkokok menandakan esetiaan.

d.      Naga atau Ryu dalam bahasa Jepang, merupakan motif yang sangat favorit baik di Jepang maupun di Cina. Menyimbolkan aspirasi dari penjiwaan. Bola mutiara yang digambarkan bersamanya menjadi penanda jiwa atau esensi dari ketuhanan.

e.      Kura-kura atau Kame dalam bahasa Jepang,  biasanya digambarkan panjang dengan ekor yang lebar, adalah simbol Jepang tentang umur panjang. Biasanya kura-kura ditampilkan dengan burung bangau, dan kombinasi ini biasanya digabungkan dengan pohon pinus, yang menggambarkan ucapan selamat.

2)      Corak ikan dan kerang
a.      Tiram atau Awabi dalam bahasa Jepang, sebagai penghasil mutiara perhiasan wanita, kerang biasanya juga digunakan sebagai barang penting saat orang Jepang diet.

b.      Gurame atau Koi dalam bahasa Jepang, merupakan simbol ketekunan dan hidup sukses. Sangat populer dikalangan seniman Jepang karena pesolek, cantik dan gerakannya yang lemah gemulai.


c.      Udang atau Ebi dalam bahasa Jepang, melambangkan hidup yang lama dan harapan untuk dapat hidup sangat lama digambarkan dari punggungnya yang bengkok. Apabila berwarna merah memiliki makna kekuatan di umur yang tua.

3)      Corak bunga
a.      Sakura, merupakan bunga yang melambangkan negara Jepang, biasanya berwarna pink, putih atau kuning.

b.      Bambu atau Take dalam bahasa Jepang, menyimbolkan cadangan kekuatan karena walaupun merunduk ke bawah permukaan bumi karena berat salju, ketika salju mencair pohon ini kembali berdiri tegak seperti semula. Ia juga melambangkan kejujuran, integritas dan kesetiaan.

c.      Anggrek atau Ran dalam bahasa Jepang, motif yang sangat biasa dalam keramik Jepang. Biasanya digambarkan dengan desain yang elegan. Karena anggrek menyimbolkan pendirian terhadap kerendahan hati dan kecantikan yang tersembunya.

d.      Teratai atau Hasu dalam bahasa Jepang, bunga ini selalu berhubungan dengan agama Budha. Di dalam keramik Jepang memang tidak banyak digunakan, tetapi kalau digunakan pun biasanya merupakan pengkopian dari keramik budaya Cina. Teratai menyimbolkan kemurnian.

4)      Corak buah
a.      Limau Jari atau Busshukan, merupakan simbol kekayaan. Buah ini biasa digunakan untuk dekorasi Tahun Baru dikarenakan wanginya yang harum dan menyenangkan hati. Biasanya dalam dekorasi keramik Jepang sering digambarkan bersam abuah persik dan delima, menandakan promosi, tahun dan anak laki-laki.

b.      Persik atau Momo dalam bahasa Jepang, sangat sering muncul dalam keramik Jepang, baik itu mangkuk, kotak cangkir, dan piring yang mengikuti bentuk buahnya. Buah ini melambangkan pertanda yang baik, simbol dari kehidupan dan pernikahan.


c.      Jamur atau Kinoko dalam Bahasa Jepang, merupakah hidup yang panjang bagi orang Jepang. Biasanya keramik yang bercorak ini sangat tinggi nilai adatnya. Selain yang sudah disebutkan itu masih banyak juga motif-motif yang lainnya.

Poskan Komentar