do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Senin, 10 November 2014

DAFTAR KEBUDAYAAN DI KABUPATEN MUNA



DAFTAR KEBUDAYAAN DI KABUPATEN MUNA

1.    TARI NTIARASINO
http://1.bp.blogspot.com/_YGJBNHPT1Sc/TUDaJDI-y4I/AAAAAAAAAS8/Na6BrwugpCY/s400/P2233648.JPG

Menurut bahasa sastra Muna, Ntiarasino artinya yang di puja. Ntiarasino merupakan ungkapan bahasa sastra Muna kepada orang yang menjadi patriot sebagai pejuang pembela tanah air dan juga ungkapan rasa haru mereka yang sangat mendalam. Karena gembiranya para gadis-gadis menyambut dengan mempersembahkan tari yang dibawakan oleh 6 orang putra putri dengan menggukan perisai dan tombak.

2.    TARI LINDA
Menurut Etimologi penamaan Linda berasal dari bahasa Daerah Muna yang berarti menari berkeliling, laksana burung yang terbang, berkeliling dengan sayap yang terkembang indah. Tarian ini adalah salah satu tarian rakyat di daerah muna yang telah lama berkembang di tengah-tengah masyarakat seiring dengan pertumbuhan tradisi adat di daerah itu. Tarian Linda lahir di tengah-tengah masyarakat muna di sekitar abad ke-16,yakni di masa pemerintahan Laposasu (kobang kuduno).

tarian ini di ciptakan sebagai suatu perwujudan tradisi masyarakat di daerah muna dalam hal pemingitan anak-anak mereka di kala memasuki alam ke dewasaan. Pertumbuhan tarian tersebut kemudian meluas sampai kedaearah buton,sehingga sekarang ini telah menjadi tarian tradisional yang sangat popular di kea daerah tersebut. Pelakunya terdiri dari wanita yang jumlahnya terbatas sampai enam atau delapan orang saja.pakaian mereka terdiri dari baju kombo yang bahannya terdiri dari kain polos.leher dan pinggir bawah dibis dengan warnah merah.seluruh pakain ini di hiasi dengan manik-manik yang tebuat dari perunggu.sarungnya di buat empat lapis.dimana lapisan yang paling dalam berwarna merah,kemudian menyusul warna hijau,putih,dan paling luar berwarna hitam. Kepala mereka dihiasi dengan beberapa hiasan seperti tiga buah panto(gelang kepala)di pasang pada bagian atas dari pada konde penari yang telah di lingkar dengan bandol konde dari kain berwarna merah yang di hiasi pula dengan picing dan manik-manik pada bagian belakang kepala di pasang kabunsale yang berwarna merah.mereka juga memakai kalung leher dan beberapa gelang di kedua tangan mereka
Pakaian ini khusus di gunakan pada saat seorang gadis keluar dari pingitan (kagombo) untuk melaksanakan tari Linda. cara memakainya yaitu penari-penari keluar dari dua penjuru dengan gaya lego (berlengang)setelah menghadapi penonton,mulailah gerakan pertama.kedua tangan mengambil selendang yang melilit di leher dan di bawa ke sebelah kiri,laksana orang yang sedang memetik sesuatu bersamaan dengan gerak kaki yang di gesekan ke kiri sambil mengayunkan kaki kanan ke arah kanan dengan perhitungan tiga dan di balas dengan kaki kiri dengan perhitungan empat.selanjutnya kedua tangan di bawa ke sebelah kanan seperti orang yang sedang memetik sesuatu secara bersamaan dengan gerak kaki kiri ke samping kiri dengan perhitungan satu di balas dengan kaki kanan pada perhitungan tiga dan di balas lagi dengan kaki kanan dalam perhitungan empat.

Beberapa fariasi terjadi pada saat pertukaran tempat,mempermainkan selendang dan sebagainya.keseluruhan gerakan dalam tari ini terdiri dari empat belas macam gerakan.pada gerakan penutup,kedua tangan di bawa ke sebelah kiri,seperti orang yang sedang memetik buah.kaki kiri di gerakan ke kiri,kaki kanan di ayunkan ke kanan,dengan perhitungan satu di balas dengan kiri pada perhitungan dua,kemudian di ganti dengan kaki kanan dalam hitungan tiga dan seterusnya sampai mencapai perhitungan empat. Akhirnya kedua tangan melepaskan lilitan selendang dan di sandang ke bahu sebelah kanan.tangan kiri memengang sarung (bini-bini) tangan kanan berlengang ( lego-lego ) pengiring dari tarian ini adalah alat musik gendang,gong,dan dengu-dengu.dengan cara di tabu di pukul.

Dahulunya sebelum alat-alat musik tersebut di kenal oleh masyarakat,orang-orang sering menggunakan mata tou,dengan nama musik mata tou. Tarian Linda berfungsi sebagai tarian adat dari daerah kabupaten muna yang selalu di laksanakan dalam upacara karia,oleh gadis-gadis remaja yang di upacarakan.pemain tari Linda berjumlah 6 orang putri,sedang di lagukan laggu kadandio syair lagu berbunyi :

YO LAKADANDIO
DANDIO LAKADANDIO
LADADIMAKA
RIMANA LAKADANDIO
KAMBOI NGKUKU
NERURU RONDANO UE
SILONO MATA
NEFOPATI LOSUA

3.    KANTOLA
http://1.bp.blogspot.com/_YGJBNHPT1Sc/S-AhrJ3ScqI/AAAAAAAAAFU/jaBWx8s_oA4/s400/DSC_5813.JPG
Berasal dari 2 kata yaitu KAN yang artinya perintah dan TOLA yang berarti panggil, jadi jika diartikan secara utuh berarti perintah untuk memanggil. Kantola merupakan lagu jenis seriosa fersi Muna berisi pantun yang dibawakan secara beregu yang biasanya dibawakan grup laki-laki dan perempuan dengan berbahasa Muna namun saling berbalasan. Kantola lahir pada zaman belanda kurang lebih 300 tahun silam pada masa kerajaan Muna yang dipimpin oleh La Ode Husain yang digelar Omputo Sangia, kesenian ini biasa di lantunkan sebagai ajang mencari jodoh pada perayaan pesta panen dengan menggunakan pakaian adat Muna.


4.    HULE ( GASING )

http://3.bp.blogspot.com/_YGJBNHPT1Sc/S-Af3AYgEbI/AAAAAAAAAFM/Sj1PGalwZo4/s400/DSC_5857.JPG
Hule atau gasing lahir ditengah-tengah masyarakat Muna dan merupakan sebuah kesenian tradisional dalam menuntun tanaman yang sudah menjadi bakal buah hingga masa panen. Permainan Hule atau Gasing bagi orang Muna memiliki ciri khas tersendiri berbeda dengan daerah lain baik dari segi bentuk, cara bermain dan sebagainya. Permainan Hule atau gasing dimainkan oleh 4 orang masing-masing memiliki makna yang berhubungan dengan cara hidup masyarakat Muna sebagai masyarakat Agraris, permainan ini bermaksud menandakan umbian ( Ghofa ) Nofehulemu atau sudah berbentuk buah.
Hule atau Gasing mempunyai keterkaitan dengan beberapa kesenian tradisional lainnya seperti: Dopodadara sejenis permainan kelereng ( gundu ) dan Kaghati ( layangan ) dengan diikutinya Tradisi tersebut masyarakat dapat memastikan perkembangan umbian tersebut hingga masa panen datang

5.        KALEGO

Kalego

Kalego adalah salah satu permainan rakyat yang dikenal di Kabupaten Muna. Kalego adalah permainan yang bahan/alat yang dipakai adalah belahan tempurung kelapa yang dimainkan dengan cara diegos dengan kaki untuk mengenai tempurung lawan main. Kalego adalah salah satu permainan rakyat Muna yang dimainkan pada malam bulan purnama dan pada umumnya yang memainkan kalego adalah para muda mudi sekaligus permainan ini juga menjadi jembatan silaturahmi agar keakraban antar muda mudi kampung setempat lebih erat



6.        KESENIAN TRADISIONAL KAGHATI (LAYANGAN)

http://1.bp.blogspot.com/_YGJBNHPT1Sc/TGP3rvWZjZI/AAAAAAAAAMU/ObVuq2ulxYQ/s400/1050217p.JPG


Kota Raha, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, tidaklah sepopuler Bali atau Yogyakarta. Padahal, ada segudang potensi wisata di tempat itu. Demi mempromosikan dirinya kepada dunia luar, pemerintah daerah setempat mengenalkan diri melalui layangan. Banyak penggemar layangan dari mancanegara memburu festival ini dan rela pergi jauh demi bisa main layangan di Muna.

Untuk ketiga kalinya festival layang-layang internasional digelar di Kota Raha. Acara yang berlangsung pada 11-14 Agustus ini diikuti 22 peserta dari delapan negara yaitu Jepang, Prancis, Taiwan, Malaysia, Jerman, India, Cina, dan Swedia. Acara ini juga dikuti 13 provinsi di Tanah Air dengan peserta sebanyak 26 orang.

Wakil Gubernur Sultra, H.M. Saleh Lasatta ketika membuka acara Festival di Kota Raha, Selasa (11/8), mengharapkan pelaksanaan festival ini selain dapat memberikan nilai tambah bagi ekonomi masyarakat Kabupaten Muna, juga dapat menjadi momen yang tepat untuk mempromosikan berbagai obyek wisata. Muna memiliki sejumlah obyek wisata menarik seperti obyek wisata Liang Kabori, permandian Danau Napabale dan kegiatan perkelahian kuda.

Berdasarkan hasil penelitian, kata Lasatta, Sultra memiliki situs sejarah terbesar kedua di Tanah Air, setelah Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni salah satunya Benteng Keraton Buton yang merupakan benteng terpanjang di dunia.

Tradisi

Lantas, kenapa layang-layang menjadi sarana promosi Muna? Lasatta yang juga mantan Bupati Muna, menceritakan sejarah layang-layang tradisional di Kabupaten Muna. Layang-layang tidak hanya sekadar permainan rakyat di zaman dahulu kala, akan tetapi juga memiliki nilai historis dan ritual tersendiri bagi rakyat Muna. "Biasanya permainan layang-layang tradisional di Muna dilakukan pada saat musim panen, dan masyarakat menaikan layang-layang selama tujuh hari tujuh malam," kisahnya.

"Pada saat diturunkan layangan itu dilakukan melalui upacara ritual dengan menggantungkan berbagai jenis makanan di tali layang-layang kemudian talinya diputuskan, sehingga layangan itu terbang bersama makanan yang digantung. Itu dilakukan sebagai tanda tolak bala atau membuang hal-hal yang buruk," kisahnya lagi.

Sementara itu, Dirjen Promosi dan Pemasaran Kementerian Kebudayaan Seni dan Pariwisata, Syamsul Lalussa mengatakan, Festival Layang-Layang Internasional ini telah menjadi kalender pariwisata sekaligus dapat menjadi media komunikasi antarnegara maupun antardaerah di Tanah Air.

"Apalagi, fesival layanngan ini sudah terangkat ke dunia internasional karena adanya layang-layang dari Kabupaten Muna yang terbuat dari daun ’kolope’ (sejenis ubi hutan-red). Dari sinilah dunia internasional mulai tertarik dengan festival layangan," ujar Syamsul.

Hal senada juga dikemukakan Ketua Asosiasi Layang-layang Internasional (Legong), Sari Madjid. Ia mengatakan, dirinya selama ini terus berusaha memperkenalkan layang-layang hingga ke dunia internasional, oleh karena itu, salah satu jenis layangan dari Kabupaten Muna yang terbuat dari daun ’kolope’ yang dinamakan "Kaghati" (bahasa lokal Muna) sudah pernah tampil di Prancis dan Italia. "Negara-negara Eropa.

7.        Silat Ewa Wuna

http://1.bp.blogspot.com/_YGJBNHPT1Sc/S9wO9FBeBUI/AAAAAAAAADM/P2xCg7eiMco/s320/silat+3.jpg

Ewa Wuna dalam bahasa Muna berarti Silat. Ewa Wuna dipentaskan sebagai tari penyambutan dimainkan oleh 6 orang terdiri dari 2 orang pemain badik atau kris dan 3 orang penari bermain parang, tombak dan bendera. Permainan ini diiringi oleh musik Rambi Wuna juga dimainkan 5 orang pengiring musik. Seluruh pemain berusaha menyerang akan tetapi terhalang oleh seorang pemain Petombi (pemegang bendera) sehingga seluruh pemain terhindar dari bahaya. Hal ini berarti rasa kemanusiaan lebih berarti dari pada ketajaman senjata demi kedamaian dan persatuan.

8.       Musik Tradisional Muna

http://1.bp.blogspot.com/_YGJBNHPT1Sc/S9r3HPZghkI/AAAAAAAAAAY/wlqTc6c3P50/s320/musik.JPG

Misik tradisional Muna adalah perpaduan beberapa alat musik yang terdiri dari Mata Tou, Gambus, Kusapi (kecapi), Dodoraba ( Biola), Kaganda-ganda mbite, Suli anabati (suling), Paka-paka (belahan bamboo yang dipukul), Bhoka-bhoka (sopotong bambu yang dipotong), Ganda ( gendang) dan Mbololo ( Gong).
Musik tradisonal ini pertama dimainkan pada saat masyarakat muna sedang bercocok tanam, sebagai hiburan mereka memainkan alat musik tersebut. Pada abad ke 16 musik ini juga dipakai untuk penyebaran agama islam dan pada abad ke 17 masa pemerintahan Raja Omputo Sangia,, raja yang senang akan musik ini mengadakan barter dengan pedagang rempah-rempah dari jawa dan menukarnya dengan gong kemudian dipakai pada saat pingitan anak raja Wa Ode Komomono Kamba yang kemudian alat musik ini dikenal dengan nama Rambi Wuna.

9.        ATRAKSI KUDA

http://3.bp.blogspot.com/_YGJBNHPT1Sc/S9vqq65C-GI/AAAAAAAAAC8/4KTXcbDdHPo/s320/kuda+3.jpg
Atraksi perkelahian kuda yang hanya terdapat di Kecamatan Lawa, 15 Km dari pusat Kota Raha, Ibukota Kab, Muna. Pertunjukan dimulai pada saat kedua kuda jantan dibuat marah dengan cara menarik kuda betina didepan kuda jantan lainya. Pertunjukan ini biasanya dipertontonkan pada acara Ulang Tahun Kabupaten Muna, pesta panen, penyambutan tamu atau acara-acara lainnya

10.    GAMBUS MUNA

1) Kabhanti kantola; yaitu kabhanti yang digunakan pada waktu bermain kantola. Kantola adalah sejenis permainan tradisional, dimana para pemain berdiri berhadapan antara pemain pria dan wanita. Mereka berbalas pantun dengan irama lagu ruuruunte atau ruuruuntete. Irama ruuruunte ini menggunakan paling tinggi lima nada. Acara kantola biasanya dilaksanakan pada malam hari di musim kemarau setelah selesai panen ubi kayu dan ubi jalar. Adapun bentuk syair kabhanti seperti ini, sepintas lalu dapat kita katakan prosa liris yakni prosa yang mementingkan irama. Akan tetapi bila kita teliti benar sebagian dapat digolongkan bentuk pantun yang disebut talibun yakni pantun yang lebih dari empat baris tetapi genap jumlahnya.
(2) Kabhanti watulea; adalah kabhanti yang menggunakan irama watulea. Kabhanti macam ini biasanya dinyanyikan pada waktu menebas hutan atau berkebun. Sambil bekerja mereka menyanyi bersama-sama atau sendirian. Kadang-kadang dinyanyikan agar tidak kesepian di tempat kesunyian. Syair kabhanti watulea sebenarnya hanya dua baris dan masing-masing baris terdiri dari tiga kata atau dua kata bila kata itu agak panjang. Karena pada waktu mengulangi menyanyikannya diantarai dengan kalimat Eingka kotughu daano, sehingga seolah olah pantun itu terdiri dari tiga baris.

TUGAS
BUDAYA MUNA 






 












DISUSUN OLEH :
NAMA    : NUR AMAYA
KELAS   : X4



SMA NEGERI 1 KONTUNAGA
2014


Posting Komentar