do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Jumat, 12 Februari 2016

ASKEP CHOLELITHIASIS



ASKEP CHOLELITHIASIS

A.
     Pengertian
v  Batu Empedu adalah timbunan kristal di dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu.
v  Batu yang ditemukan di dalam kandung empedu disebut kolelitiasis, sedangkan batu di dalam saluran empedu disebut koledokolitiasis.
v  Cholelithiasis adalah adanya batu di saluran kandung empedu atau empedu:''kole-''berarti "empedu",''Lithia''berarti "batu", dan-sis''''berarti "proses".
v  Sebuah ukuran batu empedu bisa bervariasi dan dapat sekecil butiran pasir atau sebagai besar sebagai bola golf.

B.     Etiologi
·         Kecenderungan keturunan dalam keluarga ( kebiasaan mengkonsumsi kolesterol yang berlebihan)
·         Kegemukan ( mungkin disebabkan kelainan metabolisme lemak)
·         Kehamilan (obat estrogn), pil KB (perubahan hormone dan pelambatan kontraksi otot kandung empedu. Menyebabkan penurunan kecepatan pengososngan kandung empedu) angka kejadian meningkat pada wanita yang hamil berulang.
Batu di dalam kandung empedu. Sebagian besar batu tersusun dari pigmen-pigmenempedu dan kolesterol, selain itu juga tersusun oleh bilirubin, kalsium dan protein.
Macam-macam batu yang terbentuk antara lain:
a.       Batu empedu kolesterol, terjadi karena : kenaikan sekresi kolesterol dan penurunan produksi empedu.
Faktor lain yang berperan dalam pembentukan batu:
·         Infeksi kandung empedu
·         Usia yang bertambah
·         Obesitas
·         Wanita
·         Kurang makan sayur
b.      Batu pigmen empedu , ada dua macam;
·         Batu pigmen hitam : terbentuk di dalam kandung empedu dan disertai hemolisis kronik/sirosis hati tanpa infeksi
·         Batu pigmen coklat : bentuk lebih besar , berlapis-lapis, ditemukan disepanjang saluran empedu, disertai bendungan dan infeksi

C.     Patofisiologi
Batu empedu terdapat di dalam kandung empedu atau dapat bergerak kearea lain dari system empedu. Pada saat pengosongan kandung empedu atau pengisian kandung empedu batu dapat pindah dan terjebak dalam leher kandung empedu. Selain leher cysticduct (saluran cyste), atau saluran empedu menyebabkan bebuntuan. Ketika empedu tidak bisa mengalir dari kandung empedu. Terjadi bendungan dan iritasi lokal dari batu empedu menyebabkan radang batu empedu (cholecystitis)
    Faktor yang mendukung :
1  Kadar kolesterol yang tinggi pada empedu
2.   Pengeluaran empedu yang berkurang
3.   Kecepatan pengosongan kandung empedu yang menurun
4.    Perubahan pada konsentrasi empedu atau bendungan empedu pada kandung empedu
 
PENYIMPANGAN KDM KOLELITIASIS

Endapansatu/lebih            Terbentuk batuempedu             Obstruksi saluranempedu di duktus          Alir balik cairan empedu kehepar (bilirubin, garam           Proses peradangandisekitar hepatobiliar      Merangsangkeluarnya SGOT &
 


Bersifat iritatif disaluran cerna           Merangsang N            .Menekan rangsangansystem saraf Peristaltic
Makanan tertahandilambung, sehingga rasa nyeri di perut
 

Merangsang medullaoblongata sehingga timbulnya mual dan Muntah
KEKURANGAN VOLUME

Dari terbentuk batu empedu
 

 Tidakbisa     Rencanapembedahan      hospitalis     Pembedahan          Perlukaan
                       
                                                                                                                       
KERUSAKANINTEGRITAS                                                



Responfisiologi
 

ANSIET
Pascapembedahan         Tidakmerawat diri,takut luka
    Kurang
 
DEFISITPENGETAHU
Dari obstruksi sal.empedu
 

Getah empedu       tidak mengalir ke        Diseraholeh darah         Ikteru           GANGGUAN CITRA
 

Duktusmenyempit       Iritasi &terjadiperlukaan      Inflamasi dinding pada sal.cerna      Merangsang mediator kimia       merangsang thalamus       Persepsikan sebagai        N Y E R I
 

Vitamin A, D,E, K tidak      diDefisiensi vitamin A, D,
                                                           
KETIDAKSEIMBANGAN NUTRISI KURANG D

D.    Manifestasi Klinis
1.            Epigastrium kanan terasa nyeri dan spasme, menjalar ke pundak kanan atau punggung.
2.            Kandung empedu membesar dan nyeri
3.            Ikterus = Perubahan warna Kulit
4.            Kadang terdapat nyeri di kwadran kanan atas
5.            Mual dan muntah
6.            Kembung
7.            Febris (38,5°C)
8.            Beraknya warna pucat, kencing warna gelap.
9.            Blumberg Signs ( kekakuan dan nyeri lenting)
10.        Berkurangnya absorbsi lemak dan vitamin yang larut di usus

E.     Penatalaksanaan
1.   Diet
*      Rendah lemak dalam usaha mencegah nyeri lebih lanjut.
*      Bila batu menyebabkan pembuntuan dari aliran empedu dilakukan penggantian vitamin yang larut lemak (ADEK) dan pemberian garam empedu untuk membantu pencernaan dan absorbsi vitamin.
*      Infus cairan dan makanan bila ada masalah mual-mual dan muntah .
2.      Terapi Obat
·        Analgesik/narkotik (meperidine hydrochloric/Demerol)
·        Antispasme dan anti Colinergik (prophantheline bromide / probanthine) untuk relaksasi otot polos dan menurunkan tonus dan spasme saluran empedu.
·        Antimuntah untuk mengontrol mual dan muntah.
·        Terapi asam empedu untuk melarutkan batu empedu yang kecil (chenodiol)
·        Cholesteramine untuk menurunkan gatal yang sangat karena penumpukan berlebihan empedu pada kulit.
3.      ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotherapy)
4.      Colecystectomy: Bedah pengambilan batu empedu





ASKEP PADA PENYAKIT CHOLELITHIASIS

A.     Pengkajian
1.      Anamnesa
2.      Identitas Pasien
3.      Sejarah/Riwayat
ü  Menentukan berat, ras, jenis kelamin, umur. Riwayat kehamilan, pil KB, esterogen, atau  hormone suplemen.
ü  Kecenderungan makan (kesenangan makan) menentukan apakah dietnya berlebihan lemak dan kolesterol.
ü  Riwayat keluarga : Batu empedu, pengobatan medis, dan operasi
4.      Pemeriksaan Umum
a.       Aktivitas dan istirahat:
·        Subyektif : kelemahan
·        Obyektif : kelelahan
b.      Sirkulasi :
·        Obyektif : Takikardia, Diaphoresis
c.       Eliminasi :
·        Subyektif : Perubahan pada warna urine dan feces
·        Obyektif : Distensi abdomen, teraba massa di abdomen atas/quadran kanan atas,
      urine pekat .
d.      Makan / minum (cairan)
Ø  Subyektif : Anoreksia, Nausea/vomit.
·        Tidak ada toleransi makanan lunak dan mengandung gas.
·        Regurgitasi ulang, eruption, flatunasi.
·        Rasa seperti terbakar pada epigastrik (heart burn).
·        Ada peristaltik, kembung dan dyspepsia.
Ø  Obyektif :
·        Kegemukan.
·        Kehilangan berat badan (kurus).
e.       Nyeri/ Kenyamanan :
Subyektif :
·        Nyeri abdomen menjalar ke punggung sampai ke bahu. Dirasakan tiba-tiba
·        Nyeri epigastrium setelah makan.
f.        Respirasi :
      Obyektif : Pernafasan panjang, pernafasan pendek, nafas dangkal, rasa tak nyaman.
g.       Keamanan :
       Obyektif : demam menggigil, Jundice, kulit kering dan pruritus , cenderung perdarahan (  
       defisiensi Vit K ).


5.      Pemeriksaan Penunjang
·        SGOT, LDL (Low Density Lipoprotein) meningkat
·        Bilurubin direk dan indirek meningkat bila terjadi obstruksi (pembuntuan)
·        Lekosit meningkat sebagai tanda radang.
·        Bila ada keterlibatan pancreas, emylase darah dan amylase urin meningkat.
·        Amylase adalah : suatu enzim pencernaan yang diproduksi oleh pankreas.
·        Rontgen
·        Oral cholecystogram
·        MRI
·        CT Scan
·        USG : adalah yang paling sensitive atau spesifik dan invasive dan tidak mahal. Untuk mendetksi batu empedu.
·        ERCP membutuhkan pemeriksaan pada saluran empedu dalam prosedur ini sebuah alat endoscopy dimasukkan melalui duodenum dan papilla vater, cairan kontras radiopague dimassukkan pada saluran empedu memunculkan bayangan kontras pada X-Ray. Batu pada empedu meuncul sebagai Filling defects (batunya) pada saluran yang putih (opak) sekarang ERCP biasanya digunakan bersama-sama dengan ERS (endoscopic retrograde sphincteromy) dan pengeluaran batu empedu.





















ANALISA DATA
DATA
MASALAH
ETIOLOGI
Ds : klien mengatakan nyeri pada abdomen atas dapat menyebar kepunggung atau bahu kanan
Do :
ü  Klien tampak gelisah.
ü  Klien tampak memegangi perut bagian atas.
Gangguan rasa nyaman nyeri.
Obstruksi dan proses pembedahan.
Ds : klien mengatakan  
        sering mual dan  
        muntah serta   
        berkeringat.
Do :
-          Muntah > 4x
-          Mukosa kering
-          Turgor kulit tidak elastis.
Defisit volume cairan didalam tubuh.
Kehilangan cairan yang berlebihan (mual,muntah,berkeringat).



Ds : klien mengatakan   
       tidak nafsu makan.
Do :
-          Berat badan 
              menurun.
-          Klien tampak lemah.
Ketidakseimbangan nutrisi di dalam tubuh.
Tidak adekuatnya dalam mengingesti dan mengarbsorpsi makanan.



B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Nyeri akut berhubungan dengan obstruksi / spasmeduktus, proses inflamasi, iskemia jaringan / nekrisis
2.      Kekurangan volume cairan (resiko tinggi terhadap) berhubungan dengan muntah, distensi dan hipermotilitas gaster, gangguan proses pembekuan
3.      Resiko tinggi perubahan nutrisi (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan gangguan pencernaan, mual muntah, dispepsia, nyeri
C.     Intervensi Keperawatan
1.      Nyeri akut berhubungan dengan obstruksi / spasmeduktus, proses inflamasi, iskemia jaringan / nekrisis
Tujuan : Nyeri terkontrol, teradaptasi
Kriteria hasil :
·        Penurunan respon terhadap nyeri (ekspresi)
·        Laporan nyeri terkontrol
Rencana intervensi :
a.       Observasi catat lokasi, tingkat dan karakter nyeri
R/ membantu mengidentifikasi nyeri dan memberi informasi tentang terjadinya perkembangannya
b.      Catat respon terhadap obat nyeri
R/ nyeri berat yang tidak hilang dengan tindakan rutin dapat menunjukkan terjadinya komplikasi
c.       Tingkatkan tirah baring (fowler) / posisi yang nyaman
R/ posisi fowler menurunkan tekanan-tekanan intra abdominal
d.      Ajarkan teknik relaksasi (nafas dalam)
R/ meningkatkan istirahat dan koping
e.       Ciptakan lingkungan yang nyaman (turunkan suhu ruangan)
R/ mendukung mental psikologik dalam persepsi tentang nyeri
f.        Kompres hangat
R/ dilatasi dingin empedu spasme menurun
g.       Kolaborasi
·        Antibiotik
·        Analgetik
·        Sedatif
·        Relaksasi otot halus
2.      Kekurangan volume cairan (resiko tinggi terhadap) berhubungan dengan muntah, distensi dan hipermotilitas gaster, gangguan proses pembekuan
Tujuan : Menunjukkan keseimbangan cairan yang adekuat
Kriteria hasil :
·        Turgor kulit yang baik
·        Membran mukosa lembab
·        Pengisian kapiler baik
·        Urine cukup
·        TTV stabil
·        Tidak ada muntah
Rencana intervensi :
a.       Pertahankan intakke dan output cairan
R/ mempertahankan volume sirkulasi
b.      Awasi tanda rangsangan muntah
R/ muntah berkepanjangan, aspirasi gaster dan pembatasan pemasukan oral menimbulkan degfisit natrium, kalium dan klorida
c.       Anjurkan cukup minum (1 botol aqua 1500 ml/hr)
R/ mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh
d.      Kolaborasi :
·        Pemberian antiemetik
·        Pemberian cairan IV
·        Pemasangan NGT
3.      Resiko tinggi perubahan nutrisi (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan gangguan pencernaan , mual muntah, dispepsia, nyeri
Tujuan : Menunjukkan kestabilan BB
Kriteria hasil : BB stabil, laporan tidak mual muntah
Rencana intervensi :
a.       Kaji perkiraan kebutuhan kalori tubuh
R/ mengidentifikasi jumlah intake kalori yang diperlukan tiap hari
b.      Timbang BB sesuai indikasi
R/ mengawali keseimbangan diet
b.      Diskusi menu yang disukai dan ditoleransi
R/ meningkatkan toleransi intake makanan
c.       Anjurkan gosok gigi sebelum atau sesudah makan
R/ menjaga kebersihan mulut agar tidak bau dan meningkatkan nafsu makan
d.      Konsultasi pada ahli gizi untuk menetapkan diit yang tepat
R/ berguna dalam membuat kebutuhan nutrisi individual melalui rute yang paling tepat
e.       Anjurkan mengurangi makanan  berlemak dan menghasilkan gas
R/ pembatasan lemak menurunkan rangsangan pada kandung empedu dan nyeri
f.        Berikan diit rendah lemak
R/ mencegah mual dan spasme
g.       Kaji distensi abdomen, berhati-hati, menolak gerak
R/ menunjukkan ketidaknyamanan berhubungan dengan gangguan pencernaan, nyeri gas
h.       Ambulasi dan tingkatkan aktivitas sesuai toleransi
R/ membantu dalam mengeluarkan flatus, penurunan distensi abdomen
i.         Kolaborasi :
·        Nutrisi total
·        Garam empedu



5. Diet yang salah
Diet sering diartikan sebagai sesuatu yang salah. Diet tidak hanya menurunkan berat badan hingga mencapai berat badan ideal, tetapi diet yang sebenarnya bertujuan mengatur pola asuhan makan agar lebih sehat dan seimbang, mengontrol porsi makan, mengurangi kebiasaan mengemil makanan yang banyak mengandung bahan pengawet.
Melakukan diet yang terlalu ketat dan metode yang salah akan berakibat fatal pada kesehatan tubuh. Sehingga membuat tubuh mengalami penurunan berat badan yang cepat dan drastis, kemudian membuat liver/hati mengeluarkan ekstra kolesterol ke dalam cairan empedu yang dapat berakibat pada terjadinya batu empedu.
6. Faktor Usia
Batu empedu umumnya ditemukan pada mereka yang berusia diatas 60 tahun atau lansia yang memiliki resiko lebih besar terserang batu empedu, disaat usia memasuki masa menopause atau andropause (masa menopause pada pria) tubuh cenderung mengeluarkan lebih banyak kolesterol ke dalam cairan empedu.
7. Penggunaan obat antikolesterol
Efek samping dari pemakaian obat antikolesterol dalam jangka waktu yang cukup lama dapat meningkatkan kadar kolesterol yang kemudian dilepaskan ke dalam cairan empedu dan kemudian memberi kesempatan terbentuknya batu empedu.



Tidak ada komentar: