do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Jumat, 12 Februari 2016

ASKEP DM



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terjadi pula perubahan perilaku masyarakat di Indonesia, salah satu perubahan tersebut adalah perubahan pola makan masyarakat Indonesia menjadi pola makan cepat saji atau instant yang banyak mengandung kolesterol dan tinggi gula. Hal tersebut berdampak pada kesehatan masyarakat yang dapat menimbulkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pola makan seperti diabetes mellitus, gagal ginjal, gagal jantung dan sebagainya. Dari beberapa penyakit yang paling sering ditimbulkan dari perubahan pola makan tersebut salah satunya adalah diabetes mellitus.
Dari penelitian terakhir yang dilakukan Indonesia tahun 1993, dinyatakan bahwa pola pertambahan penduduk saat ini, diperkirakan pada tahun 2020 terdapat sejumlah 178 juta penduduk yang berusia diatas 20 tahun dan dari jumlah penduduk tersebut diperkirakan prevalensi yang menderita diabetes mellitus sebesar 4% yaitu 7 juta jiwa. (Kompas, edisi tanggal 24 Februari 2004)
Diabetes mellitus adalah sindroma yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara tuntutan dan suplai insulin yang ditandai oleh hiperglikemia dan berkaitan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Diabetes mellitus terdiri dari beberapa macam subklas diantaranya yaitu diabetes mellitus tipe I (IDDM), diabetes mellitus tipe II (NIDDM), diabetes mellitus sekunder, diabetes mellitus yang berhubungan dengan malnutrisi, diabetes mellitus yang disebabkan oleh kerusakan toleransi glukosa dan diabetes mellitus gestasional. Dari beberapa jenis penyakit diabetes mellitus diatas yang paling sering terjadi adalah diabetes mellitus tipe II (NIDDM). (Rumahorbo. H, 1999 : 100)
Klien dengan diabetes mellitus memerlukan perawatan sedini mungkin untuk mencegah timbulnya komplikasi baik akut maupun kronis seperti : neuropathy, retinopathy, nefrophaty, aterosklerosis, mikard infark, koma hipoglikemia ataupun koma hiperglikemia. Salah satu komplikasi menahun yang dapat ditimbulkan dari penyakit diabetes mellitus adalah terjadinya neurophaty perifer yang berisiko untuk mengalami cedera, dimana cedera tersebut dapat terjadi tanpa diketahui oleh pasien karena sudah hilangnya sensasi rasa pada daerah perifer. (Smeltzer, 2001 : 1276)
Sulitnya proses penyembuhan luka akibat cedera bisa menyebabkan terjadinya perluasan luka yang disebut ulkus. Ulkus yang disebabkan oleh penyakit diabetes mellitus bisa terjadi di berbagai bagian tubuh terutama pada daerah ekstrimitas bawah bagian distal.
Presentase pasien dengan ulkus diabetikum, neuropati dan nefropati di Ruang Dahlia Perjan RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Januari – Maret 2005 dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1.1
Distribusi Kasus Endokrin
Di Ruang Dahlia Perjan RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung
Periode Januari – Maret 2005
No
Jenis Kasus
Jumlah
Persentase (%)
1.
Ca Tyroid
1
6,6 %
2.
DM Tipe I komplikasi KAD
2
13,3 %
3.
DM Tipe II komplikasi Nefropaty
1
6,6 %
4.
DM Tipe I komplikai Ulkus Diabetik
1
6,6 %
5.
DM Tipe II komplikasi KAD
1
6,6 %
6.
DM Tipe II komplikasi Neuropati Diabetik
2
13,3 %
7.
DM Tipe II komplikasi KAD + Nefropaty Diabetik
1
6,6 %
8.
DM Tipe II komplikasi HONK
1
6,6 %
9.
DM Tipe II komplikasi HONK + Nefropati
1
6,6 %
10
DM Tipe II + Efusi Pleura
1
6,6 %
11
DM Tipe II komplikasi Neuropati + Nefropati
1
6,6 %
12
DM Tipe II komplikasi Ulkus Diabetik + Neuropati + Nefropati
2
13,3 %
Jumlah
15
100 %
Sumber : Rekam Medik Ruang Dahlia
Tabel 1.1 memperlihatkan komplikasi kompleks dari DM Tipe II yaitu ulkus diabetikum, neuropati dan nefropati yang diakibatkan oleh diabetes mellitus tipe II menunjukkan angka  13,3 %.
Kompleksnya komplikasi yang diakibatkan oleh DM Tipe II ini melatarbelakangi penyusun untuk membuat Asuhan Keperawatan Pada Tn. S Dengan Gangguan Sistem Endokrin : Diabetes Melitus Tipe II (NIDDM) dengan Komplikasi Ulkus Diabetikum a/r pears sinistra, Neurophaty, Nefrophaty + Hipertensi Stage II Di Ruang Dahlia Perjan RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung

B.     Tujuan Penulisan
  1. Tujuan Umum
Penulis mampu melaksanakan asuhan keperawatan secara komprehensif pada Tn. S dengan Diabetes Melitus Tipe II dengan Komplikasi ulkus diabetikum a/r pears  sinistra, neuropaty, nefropaty + Hipertensi stage II melalui studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan
  1. Tujuan Khusus
a.       Penulis dapat melakukan pengkajian secara komprehensif pada Tn. S dengan Diabetes Melitus Tipe II dengan Komplikasi ulkus diabetikum a/r pears  sinistra, neuropati dan nefropati + Hipertensi stage II
b.      Penulis dapat menyusun rencana asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa keperawatan
c.       Penulis dapat melaksankan tindakan keperawatan sesuai dengan perencanaan
d.      Penulis dapat melaksanakan evaluasi terhadap asuhan keperawatan yang telah diberikan
e.       Penulis dapat mendokumentasikan asuhan keperawatan yang dilakukan perawat

C.    Metoda Penulisan
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif yang berbentuk studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan

D.    Teknik Pengumpulan Data
1.      Observasi yaitu dengan mengamati perilaku keadaan klien yang meliputi aspek bio-psiko-sosial-spiritual
2.      Wawancara yaitu pengumpulan data melaui tanya jawab langsung dengan klien, keluarga dan tim kesehatan
3.      Pemeriksaan fisik yang meliputi inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi untuk mengetahui tanda-tanda terjadinya gangguan pada sistem tubuh
4.      Studi dokumentasi yaitu pengumpulan data dan mempelajari data-data pada status klien dan catatan yang berhubungan dengan asuhan keperawatan
5.      Studi kepustakaan yaitu melalui berbagai literatur yang akurat dan dapat dipercaya untuk mendapatkan teori-teori relevan yang berhubungan dengan kasus klien


E.     Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, teknik pengumpulan data dan sistematika penulisan
BAB II TINJAUAN TEORITIS
Bab ini meliputi konsep dasar penyakit yang terdiri dari pengertian, anatomi dan fisiologi pancreas, etiologi, tanda dan gejala, patofisiologi, komplikasi diabetes mellitus tipe II, dampak diabetes mellitus tipe II terhadap system tubuh, prosedur diagnostik dan penatalaksanaan serta konsep dasar asuhan keperawatan yang terdiri dari pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi
BAB III TINJAUAN KASUS
Bab ini berisi asuhan keperawatan pada Tn. S yang meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi tentang simpulan dan saran

















BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.    Konsep Dasar Penyakit
1.      Pengertian
Diabetes Melitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat. (Sylvia A. Price, 1995 : 1111)
Diabetes Melitus adalah sindrom yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara tuntutan suplai insulin yang ditandai oleh hiperglikemia dan berkaitan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. (Hotma Rumahorbo, 1999 : 100)
Diabetes Melitus merupakan kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Suzanne C. Smeltzer, 2002 : 1220)
Diabetes Melitus adalah suatu penyakit kronik yang kompleks yang meliputi kelainan metabolisme karbohidrat, lemak dan protei serta menimbulkan komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologis. (Barbara C. Long, 1996 : 4)
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang secara generatif dan klinis ditandai oleh hiperglikemia yang meliputi kelainan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein sebagai akibat ketidakseimbangan insulin yang dapat menimbulkan komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologis.
Ulkus diabetikum adalah luka terbuka yang disebabkan oleh neuropati akibat penyakit diabetes mellitus (De Jong, W, dan Hidajat, S.R, 1997 : 420).
Hipertensi adalah tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg. (Smeltzer, S.C, dan Bare, B.G, alih bahasa Hartono A, dkk, 2001 : 896)

2.      Anatomi dan Fisiologi
Menurut Syaifuddin, (1997 : 84) dan Rumahorbo, H, (1999 : 14) pancreas erupakan organ yang panjang dan ramping. Letaknya retroperitoneal pada abdomen bagian kuadran kiri atas, dan terbentang secara horizontal dari cincin duodenum sampai ke limpa pada vertebra lumbalis I dan II dibelakang lambung. Strukturnya mirip dengan kelenjar ludah yang panjangnya kira-kira 10-20 cm, lebar 2,5-5 cm, dengan berat rata-rata 60-90 gram, dan dibagi dalam 3 segmen utama yaitu kaput, korpus dan kauda.
a.       Kaput / kepala pankreas, merupakan bagian yang lebar dari pancreas, terletak disebelah kanan rongga abdomen dan didalam lekukan duodenum yang melingkarinya.
b.      Korpus / badan pankreas, merupakan bagian utama dari organ ini yang letaknya dibelakang lambung dan didepan vertebra lumbalis pertama.
c.       Kauda / ekor pankreas, merupakan bagian yang runcing terletak disebelah kiri yang sebenarnya menyentuh limpa.










Gambar 2.1 Anatomi Pankreas
(Sumber : Dalley A. F. : 1995)

Menurut Price, S. A., Alih bahasa Peter, A, (1994 : 431) dan Francis, S.G dan John, D.B, Alih bahasa Wijaya,C, dkk., (2000 : 742) pancreas dibentuk dari 2 sel dasar dengan fungsi yang sangat berbeda yaitu :
a.       Sel-sel eksokrin yang berkelompok disebut sel acini yang menghasilkan unsure-unsur getah pancreas yang berisi enzim dan elektrolit.
b.      Sel-sel endokrin atau pulau langerhans terdiri dari 0,7 – 1 juta kelenjar endokrin kecil yang tersebar diantara massa glandular pankrea seksokrin. Volume pulau-pulau langerhans kira-kira 1-1,5 % dari massa total pancreas dan beratnya sekitar 1-2 gram pada orang dewasa. Sedikitnya ada empat tipe sel yang telah dikenali pada pulau-pulaulangerhans ini. Tipe-tipe ini tersebar tidak seragam pada pancreas, yang terdiri dari:
      Tabel 2.1
             Tipe-Tipe Sel Pada Pulau-Pulau Langerhans Pankreas
Tipe sel
Persentase volume pulau lengerhans
Produk yang dihasilkan
Berasal dari dorsal (kaput anterior, korpus, kauda)
Berasak dari ventral (bagian posterior kaput)
Sel alfa
10 %
<0,5 %
Glukgon, proglukagon, peptide mirip glukagon (GLP-1, GLP-2)
Sel beta
70-80 %
15-20 %
Insulin, peptide C, proinsullin, amillin, asam tetra amino butirat (GABA)
Sel delta
3-5 %
<1 %
Somatostatin
Sel F(PP)
<2 %
80-85 %
Pollipeptida pankreas
Sumber: Francis, S.G. dan John, D.B. alih bahasa Wijaya, C, dkk, 2000 : 743

Secara keseluruhan, pankreas menyerupai setangkai anggur yang cabang-cabangnya merupakan saluran yang bermuara pada duktus pankreatikus utama (duktus wirsungi). Saluran-saluran kecil dari setiap asinus mengosongkan isinya ke saluran utama. Saluran utama berjalan di sepanjang kelenjar, jaringan bersatu dengan duktus koledokus pada ampula vateri sebelum masuk ke duodenum. Pankreas mendapat darah dari arteri pankreatika dan mengalirkan darahnya ke vena kava inferior melalui vena pankreatika. Selain itu juga pankreas mendapatkan darah dari arteri lienalis, arteri hepar, arteri mesenterika superior dan arteri seliaka yang selanjutnya bermuara ke vena kava inverior. Pankreas dipersarafi oleh nervus vagus yang berperan dalam sekresi getah pankreas setelah makanan masuk ke lambung dan duodenum dan system saraf simpatis yang berperan menghambat sekresi insulin melalui pelepasan norepinefrin. Pankreas mempunyai dua fungsi penting, yaitu fungsi eksotrin untuk mensekresikan enzim-enzim pencernaan pada ketiga jenis makanan utama yaitu karbohidrat, lemak, dan protein melalui saluran ke duodenum dan fungsi endokrin untuk mengatur system endokrin melalui mekanisme pengaturan gula darah (Price,  S.  A.,  Alih  bahasa  Peter,  A,  1994,  Syaifudin, 1997).











Gambar 2.2 Anatomi Pulau Langerhans Dalam Kelenjar Pankreas
(Sumber : Guyton, 1996 : 1221)










Gambar 2.3 Komponen Struktural Sel b Pankreas yang Terlibat Dalam Biosentesis dan Pelepasan Insulin di Induksi Glukosa
(Sumber : Francis, S.G dan Joh, D.B. alih bahasa Wijaya C, dkk, 2000 : 744)

Hormon-hormon sekresi pankreas yang berpengaruh pada pengaturan kadar gula darah :.
a.       Glukagon
1)      Prinsip Kerja Glukagon
Glukagon merupakan protein kecil dengan berat molekul 3485 dan terdiri dari rantai asam amino dan terdiri dari rantai yang tersusun atas 29- asam amino. Waktu paruh dari glukagon plasma adalah sekitar 5-10 menit. Fungsi utama glukagon adalah meningkatkan kadar gula darah dengan mempengaruhi system enzim didalah hepar, lemak, dan sel-sel otot yang kemudian memungkinkan glukosa plasma untuk memasuki dan digunakan oleh sel-sel tubuh dengan menstimulasi sekresi insulin. Dengan fungsi ini, glukagon mencegah hipoglikemia diantara waktu makan, selama olahraga, beberapa hari pertama puasa, dan setelah makan makanan yang tinggi protein yang dapat menstimulasi peningkatan insulin plasma sehingga menyebabkan ambilan selular dengan cepat dari diet karbohidrat yang diserap.
Glukagon dapat menstimulasi sel-sel hati dalam menjalankan fungsinya dengan cara melakukan pemecahan glikogen cadangan di hati (glikogenolisis), mempertahankan produksi glukosa hati dari precursor asam amino (glukoneogenetik), pemecahan lemak (lipolitik) dan memproduksi badan-badan keton dari asam lemak (ketogenetik) di hati. Hal ini dapat meningkatkan konsentrasi glukosa didalam sel-sel hati, karena sel-sel hati dapat mendisforforilasi glukosa di intraseluler, maka glukosa ini dapat dilepaskan dari hati ke dalam sirkulasi darah. Asam lemak dan asam amino yang dibutuhkan untuk proses glukoneogenesis disupplai oleh pemecahan lemak yang distimulasi oleh glukagon dalam sel-sel adipose dan dilepaskan ke dalam plasma. Apabila supplai asam lemak tidak mencukupi, maka glukagon akan manstimulasi pemecahan protein menjadi asam amino dan menstransfernya ke dalam plasma darah.
Asam lemak dan asam amino ini kemudian diambil oleh hepatosit dan digunakan sebagai bahan-bahan mentah dalam proses glukoneogenesis. Selain itu juga glukagon meningkatkan kadar keton plasma dengan meningkatkan pembentukan keton hepatic dan meningkatkan sekresi somatostatin serta growth hormon. Meskipun fungsi glukagon berlawanan dengan fungsi insulin dalam proses pengaturan kadar gula darah, namun glukagon juga dapat menstimulasi insulin. Hal ini dapat memungkinkan glukosa plasma umtuk memasuki berbagai jaringan dan digunakan oleh jaringan itu sendiri untuk proses metabolisme, aksi langsung glukagon dalam menstimulasi sel-sel beta ini berlangsung dengan cepat.
Pada tingkat seluler, glukagon bekerja pada system enzim sel siklik AMP intraseluler, dimana bahan kimiawi ini berperan sebagai pembawa pesan kedua untuk mengubah aktivitas enzim sel yang menyebabkan sejumlah besar glukagon eksogenus bekerja meningkatkan kapasitas inotropik jaringan miokardium yang disebabkan karena rendahnya glukagon endogenus.
2)      Pengaturan Sekresi Glukagon
Sel-sel alfa pankreas distimulasi oleh agonis beta adrenergik, teofilin, yang meningkatkan kadar plasma asam amino (terutama yang digunakan dalam proses glukoneogenesis), dan stimulasi vagal (kolinergik). Sekresi glukagon juga dipercepat oleh glukokortikoid, olah raga, stress fisik, dan infeksi. Efek olahraga pada sekresi glukagon di mediasi oleh beta adrenergik, sedangkan stress dan infeksi bekerja meningkatkan kadar glukokortikoid plasma. Kenaikan glukosa plasma dioperasikan oleh umpan balik negatif loop untuk memperlambat atau menghambat haluaran glukagon. Konsentrasi glukosa darah merupakan factor utama pengatur sekresi glukagon, namun pengaruh konsentrasi glukosa darah terhadap sekresi glukagon jelas bertentangan dengan efek glukosa terhadap sekresi insulin.
Penurunan konsentrasi glukosa darah dari normalnya sewaktu puasa kira-kira sebesar 90 mg/dl darah hingga kadar hipoglikemik dapat meningkatkan konsentrasi glukagon plasma beberapa kali lipat, sebaliknya meningkatnya kadar glukosa darah himgga mencapai hiperglikemik akan mengurangi kadar glukagon dalam plasma. Jadi, pada keadaan hipoglikema glukagon yang disekresikan oleh sel alfa pankreas akan meningkat dalam plasma yang dapat menyebabkan peningkatan pengeluaran glukosa dari hati dan akibat yang lebih lanjut akan membantu memperbaiki keadaan hipoglikemia 
b.      Insulin
1)      Prinsip Kerja Insulin
Insulin merupakan protein kecil yang mempunyai berat molekul sebesar 5808 dan terdiri atas dua rantai asam amino yang satu sama lainnya dihubungkan oleh ikatan disulfida. Bila kedua rantai asam amino dipisahkan, maka aktifitas fungsional dari insuli akan hilang. Ikatan insulin pada resepror insulin mengawali aksi fisiologi insulin pada sel. Setelah molekul insulin berikatan pada reseptor, kompleks reseptor nsulin diambil kedalam sitoplasama sel melalui endositosis dan dihancurkan dalam waktu 14-15 jam oleh enzim lisosom. Insulin plasma mempunyai waktyu paruh sekitar 15 menit. Sekitar 80 %dari semua insulin yang bersikulasi dikatabolisme oleh sel-sel hati dan ginjal. Insulin mempuynyai mekanisme kerja tunggal yang mendasari segala macam efeknya pada metabolisme. Berikut ini prinsip kerja insulin :
a)      Jaringan adipose
(1)   Meningkatkan jaringan adipose
(2)   Meningkatkan ambilan kalium
(3)   Meningkatkan pemasukan dan sintesis lemak
(4)   Meningkatkan penyimpanan lemak
(5)   Meningkatkan pengubahan glukosa menjadi lemak
(6)   Menghambat lipolisis
(7)   Aktivasi lipoprotein lipase
b)      Jaringan otot
(1)   Meningkatkan pemasukan glukosa
(2)   Meningkatkan ambilan kalium
(3)   Meningkatkan sintesis glikogen
(4)   Meningkatkan pemasukan asam amino
(5)   Meningkatkan sintesis protein
(6)   Meningkatkan katabolisme protein
(7)   Meningkatkan pemasukan keton kedalam se-sel
c)      Hati
(1)   Meningkatkan sintesis protein
(2)   Meningkatkan sintesis lemak
(3)   Menurunkan ketogenesis
(4)   Menurunkan pengeluaran karena penurunan glukoneogenesis dan meningkatkan sintesis glukagon
Selain itu insulin diketahui dapat memudahkan ambilan glukosa oleh jaringan ikat, leukosit, kelenjar mammary, lensa mata, aorta, pituitary, dan sel-sel alpha.
2)      Pengaturan Sekresi Insulin
Sekresi insulin diatur oleh :
a)      Mekanisme umpan balik kadar glukosa darah, kenaikan kadar glukosa darah meningkatkan sekresi insulin, selanjutnya insulin menyebabkan transport glukosa ke dalam sel sehingga mengurangi konsentrasi gula darah kembali normal.
b)      Asam amino,  dalam hal ini adalah asam amino yang paling kuat yaitu arginin dan leusin, dimana kerjanya mempengaruhi peningkatan insulinberbanding lurus dengan peningakatan konsentrasi gula darah. Dan sebaliknya insulin sendiri meningkatkan pengangkutan asam amino kedalam sel-sel jaringan serta meningkjkan pembentukan protein intraseluler.
c)      AMP siklik intra sel, rangsangan yang meningkatkan AMP siklik dalam sel B meningkatkan sekresi insulin dengan meningkatkan kalssssium intra sel. Pada pelepasan epinefrin terjadi penurunan sekresi insulin disebabkan karena epinefrin menghambat AMP siklik intrasel.
d)     Saraf otonom, cabang nervus vagus dextra mempersarafi pulasu langerhans dan merangsang nervus vagus menyebabkan peningkatan sekresi insulin. Rangsangan saraf simpatis ke pankreas menghambat sekresi insulin melalui pelepasan norepinefrin.
3)      Aktifitas Insulin Pada Target Sel
Insulin yang telah disekresikan pankreas akan menuju target sel  dengan cara berikatan dan mengaktifkan suatu protein spesifik pada membran sel. Reseptor protein merupakan senyawa glikoprotein yang mempunyai berat molekul kira-kira 300.000
Reseptor insulin merupakan suatu kombinasi dari empat sub unit yang saling berikatan bersama oleh ikatan disulfida, dua sub unit alfa yang terletak seluruhnya diluar membran sel dan dua sub unit beta yang menembus membran, menonjol kedaklam sitoplasma sel. Insulin berikatan denan sub unit alfa dibagian luar sel, tetapi karena ikatan dengan sub unit beta, bagian dari sub unit beta yang menonjol kedalam sel mngalami autofosforilasi. Hal ini akan membuat ikatan tersebut menjadi suatu enzim yang aktif, suatu protein kinase setempat, yang selanjutynya menyebabkan fosforilasi dari banyak enzim intra seluler lainnya. Hasil akhir adalah mengaktifkan beberapa enzim ini sementara menghentikan enzim yang lain. Jadi, secara keseluruhan insulin memimpin proses metabolisme intra seluler untuk menghasilkan efek yang diinginkan. Efek akhir dari perangsangan insulin (Hudak, C.M, dan Gallo, B.M, alih bahasa Monica, E.D, dkk., 1996 dan Guyton, A.C, alih bahasa Setiawan, I, 1996) sebagai berikut :
a)      Dalam beberapa detik setelah insulin diberikan dengan membran reseptornya, membran yang mencakup kira-kira 80 % dari sel tubuh ini menjadi sangat permeable terhadap glukosa. Hal ini terutama terjadi pada sel-sel otot dan sel lemak tetapi tidak terjadi pada sebagian besar sel neuron diotak. Didalam sel glukosa dengan cepat di fosforilasi dan menjadi suatu zat yang diperlukan untuk semua fungsi metabolisme karbohidrat yang umum.
b)      Sebagai tambahan untuk meningkatkan permeabilitas membran terhadap glukosa, membran sel menjadi permeable terhadap banyak asam amino, ion kallllium, dan ion posfor.
c)      Efek yang lebih lambat terjadi dalam 10-15 menit berikutnya, untuk mengubah tingkat aktifitas dari banyak enzim metabolic seluler yang lain. Efek-efek ini dihasilkan terutama dari perubahan keadaan fosforilasi enzim.
d)     Efek yang jauh lebih lambat terjadsi selama berjam-jam dan bahkan beberapa hari.
e)      Efek ini dihasilkan kecepatan translasi RNA messenger pada ribosom untuk membentuk protein yang baru dan efek yang lebih lambat lagiterjadi dari perubahan kecepatan trankripsi DNBA didalam inti sel. Dengan cara ini insulin membentuk kembali sebagian besar proses enzimatik seluler untuk mencapai tujuan metabolic.

3.      Etiologi
a.       Etiologi Diabetes Melitus tipe II (NIDDM)
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes mellitus tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Selain itu terdapat pula faktor-faktor risiko tertentu yang berhubungan dengan proses terjadinya diabetes mellitus tipe II. Faktor-faktor ini adalah :
s  Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia diatas 65 tahun)
s  Obesitas
s  Riwayat keluarga
s  Kelompok etnik (di Amerika Serikat, golongan Hispanik serta penduduk asli Amerika tertentu memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya diabetes tipe II dibandingkan dengan golongan Afro-Amerika)
a.       Etiologi Ulkus Diabetikum
s  Kombinasi antara gangguan arteri dengan neuropati perifer
s  Trauma/ cedera yang berulang tanpa diketahui oleh pasien

4.      Tanda dan Gejala
a.       Tanda dan Gejala Diabetes Melitus Tipe II (NIDDM)
s  Polifagia
s  Poliuria
s  Polidipsia
s  Lemas
s  Berat badan turun
s  Mengantuk (somnolen) yang terjadi selama beberapa hari atau beberapa minggu
s  Kesemutan
s  Gatal
s  Mata kabur
s  Impotensi pada laki-laki
s  Pruritus vulva pada perempuan
a.       Tanda dan Gejala Ulkus Diabetikum
s  Penurunan terhadap sensasi nyeri
s  Perubahan pada retina
s  Adanya luka yang telah terinfeksi
s  Denyut nadi berkurang atau bahkan tidak ada pada daerah yang terdapat ulkus

5.      Patofisiologi
Menurut Smeltzer, S.C, dan Bare, B.G, alih bahasa Hartono A, dkk, 2001 : 1220 diabetes mellitus terbagi kedalam beberapa klasifikasi atau tipe-tipe tertentu diantaranya :
a.       Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin atau IDDM (Insulin Independent Diabetes Melitus)
b.      Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin atau NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Melitus)
c.       Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan sindrom tertentu, seperti:
1)      Penyakit pancreas
2)      Kelainan hormonal
3)      Obat/ bahan kimia
4)      Kelainan reseptor dan kelainan genital
d.      Diabetes mellitus gestasional atau GDM (Gestasional Diabetes Melitus)
e.       Diabetes karena kerusakan toleransi glukosa
Tipe-tipe diabetes mellitus yang paling sering terjadi adalah diabetes mellitus tipe I (IDDM) dan diabetes mellitus tipe II (NIDDM). Sesuai dengan kasus yang terjadi pada Tn. S maka untuk lebih jelasnya akan dijelaskan tentang mekanisme penyakit diabetes mellitus tipe II sebagai berikut.
Pada diabetes tipe II (Diabetes Melitus Tidak Tergantung Insulin – NIDDM) terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin, yaitu : resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa didalam sel. Resistensi insulin pada diabetes mellitus tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan.
Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukagon dalam darah harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan. Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun demikian, jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi diabetes mellitus tipe II.
Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas diabetes mellitus tipe II, namun masih terdapat insulin dengan jumlah yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi badan keton yang menyertainya. Karena itu, ketoasidosis diabetic tidak terjadi pada diabetes mellitus tipe II. Meskipun demikian, diabetes mellitus tipe II yang tidak terkontrol dapat menimbulkan masalah akut lainnya yang dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketotik (HHNK).
Diabetes mellitus tipe II paling sering terjadi pada penderita diabetes yang berusia lebih dari 30 tahun dan obesitas. Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat (selama bertahun-tahun) dan progresif, maka awitan diabetes mellitus tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi. Jika gejalanya dialami pasien, gejala tersebut sering bersifat ringan dan dapat mencakup kelelahan, iritabilitas, poliuria, polidipsia, luka pada kulit yang lama sembuh-sembuh, infeksi vagina atau pandangan kabur (jika kadar glukosanya sangat tinggi).
Untuk sebagian besar pasien (± 75%), penyakit diabetes mellitus tipe II yang dideritanya ditemukan secara tidak sengaja (misalnya pada saat pasien menjalani pemeriksaan laboratorium yang rutin). Salah satu konsekuensi tidak terdeteksinya penyakit diabetes selama bertahun-tahun adalah bahwa komplikasi diabetes jangka panjang (misalnya kelainan mata, neuropati perifer, kelainan vaskuler perifer) mungkin sudah terjadi sebelum diagnosis ditegakkan.
Penanganan primer diabetes tipe II adalah dengan menurunkan berat badan, karena resistensi insulin berkaitan dengan obesitas. Latihan merupakan unsur yang penting pula untuk meningkatkan efektivitas insulin. Obat hipoglikemia oral dapat ditambahkan jika diet dan latihan tidak berhasil mengendalikan kadar glukosa darah. Jika penggunaan obat oral dengan dosis maksimal tidak berhasil menurunkan kadar glukosa hingga tingkat yang memuaskan maka insulin dapat digunakan. Sebagian pasien memerlukan insulin untuk sementara waktu selama periode stress fisiologis yang akut, seperti selama sakit atau pembedahan.













6.      Komplikasi Diabetes Melitus Tipe II
a.       Komplikasi akut
1)      Hipoglikemia
Hipoglikemia (kadar gula darah yang abnormal rendah) terjadi apabila kadar glukosa darah turun dibawah 50 mg/ dl. Keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian insulin atau preparat oral yang berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu sedikit atau karena aktivitas fisik yang berat. Hipoglikemia dapat terjadi setiap saat pada siang atau malam hari. Kejadian ini dapat terjadi sebeum makan, khususnya jika makan yang tertunda atau bila pasien lupa makan camilan.
Gejala hipoglikemia dapat dikelompokkan menjadi dua kategori : gejala adrenergik dan gejala sistem saraf pusat.
a)      Hipoglikemia ringan
Ketika kadar glukosa darah menurun, sistem saraf simpatis akan terangsang. Pelimpahan adrenalin kedalam darah menyebabkan gejala seperti perspirasi, tremor, takhikardia, palpitasi, kegelisahan dan rasa lapar.
b)      Hipoglikemia Sedang
Penurunan kadar glukosa darah menyebabkan sel-sel otak tidak mendapatkan cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik. Tanda-tanda gangguan fungsi pada sistem saraf pusat mencakup ketidakmampuan berkonsentrasi, sakit kepala, vertigo, confuse, penurunan daya ingat, mati rasa didaerah bibir serta lidah, bicara rero, gerakan tidak terkoordinasi, perubahan emosional, perilaku yang tidak rasional, pengllihatan ganda, dan perasaan ingin pingsan
c)      Hipoglikemia Berat
Fungsi sitem saraf pusat menagalami gangguan yang sangat berat sehingga pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk mengatasi Hipoglikemia yang dideritanya. Gejala dapat mencakup perilaku yang mengalami disorientasi, serangan kejang, sulit dibangunkan, atau bahkan kehilangan kesadaran.
2)      Diabetes Ketoasidosis
Diabetes ketoasidosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukup jumlah insulin yang nyata. Keadaan ini mengakibatkan gangguan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Ada tiga gambaran klinik yang penting pada diabetes ketoasidosis :
(1)   Dehidrasi
(2)   Kehilangan elektrolit
(3)   Asidosis
Apabila jumlah insulin berkurang, maka jumlah glukosa yang memasuki sel akan berkurang pula. Selain itu prroduksi glukosa oleh hati menjadi tidak terkendali, kedua faktor tersebut akan mengakibatkan hiperglikemia. Dalam upaya untuk menghilangkan glukosa dalam tubuh, ginjal akan mensekresikan glukosa bersama-sama air dan elektrolit (natriun dan kalium). Diuresis osmotik yang ditandai oleh urinasi yang berlebihan (poliuria) ini akan menyebabkan dehidrasi dan kehilangan elektrolit.
3)      Syndrom Hiperglikemia Hiperosmolar Non Ketotik (SHHNK)
Merupakan keadaan yang didominasi oleh hiperosmolaritas dan hipergklikemia yang disertai perubahan tingkat kesadaran (Sense of Awareness). Keadaan hiperglikemia persisten menyebabkan diuresis osmotik sehingga terjadi kehilangan cairan dan elektrolit. Untuk mempertahankan keseimbangan osmotik, cairan akan berpindah dari intrasel keruang ekstrasel. Dengan adanya glukosuria dan dehidrasi, maka akan dijumpai keadaan hipernatremia dan peningkatan osmolaritas.
b.      Komplikasi Kronik
Komplikasi kronik dari diabetes mellitus dapat menyerang semua sistem organ tubuh. Kategori komplikasi kronik diabetes yang lajim  digunakan adalah penyakit makrovaskuler, mikrovaskuler, dan neurologis.
1)      Komplikasi Makrovaskuler
Perubahan aterosklerotik dalam pembuluh darah besar sering terjadi pada diabetes. Perubahan aterosklerotik ini serupa degan pasien-pasien non diabetik, kecuali dalam hal bahwa perubahan tersebut cenderung terjadi pada usia yang lebih muda dengan frekuensi yang lebih besar pada pasien-pasien diabetes. Berbagai tipe penyakit makrovaskuler dapat terjadi tergantung pada lokasi lesi ateerosklerotik.
Aterosklerotik yang terjadi pada pembuluh darah arteri koroner, maka akan menyebabkan penyakit jantung koroner. Sedangkan aterosklerotik yang terjadi pada pembuluh darah serebral, akan menyebabkan stroke infark dengan jenis TIA (Transiennt Ischemic Attack). Selain itu ateerosklerotik yang terjadi pada pembuluh darah besar ekstremitas bawah, akan menyebabkan penyakit okluisif arteri perifer atau penyakit vaskuler perifer.
2)      Komplikasi Mikrovaskeler
a)      Retinopati Diabetik
Disebabkan oleh perubahan dalam pembuluh-pembuluh darah kecil pada retina mata, bagian ini mengandung banyak sekali pembuluh darah dari berbagai jenis pembuluh darah arteri serta vena yang kecil, arteriol, venula dan kapiler.
b)      Nefropati Diabetik
Bila kadar gluoksa darah meninggi maka mekanisme filtrasi ginjal ajkan mengalami stress yang mengakibatkan kebocoran protein darah ke dalam urin. Sebagai akibatnya tekanan dalam pembuluh darah ginjal meningkat. Kenaikan tekanan tersebut diperkirakan berperan sebagai stimulus untuk terjadinya nefropati
c)      Neuropati Diabetikum
Dua tipe neuropati diabetik yang paling sering dijumpai adalah :
(1)   Polineuropati Sensorik
Polineuropati sensorik disebut juga neuropati perifer. Neuropati perifer sering mengenai bagian distal serabut saraf, khususnya saraf extremitas bagian bawah. Kelainan ini mengenai kedua sisi tubuh dengan distribusi yang simetris dan secara progresif dapat meluas ke arah proksimal. Gejala permulaanya adalah parastesia (rasa tertusuk-tusuk, kesemutan dan peningkatan kepekaan) dan rasa terbakar (khususnya pada malam hari). Dengan bertambah lanjutnya neuropati ini kaki akan terasa baal.
Penurunan sensibilitas terhadap sentuhan ringan dan penurunan sensibilitas nyeri dan suhu membuat penderita neuropati beresiko untuk mengalami cedera dan infeksi pada kaki tanpa diketahui.
(2)   Neuropati Otonom (Mononeuropati)
Neuropati pada system saraf otonom mengakibatkan berbagai fungsi yang mengenai hampir seluruh system organ tubuh. Ada lima akibat utama dari neuropati otonom (Smeltzer, B, alih bahasa Kuncara, H.Y, dkk., 2001 : 1256-1275) antara lain :
(a)    Kardiovaskuler
Tiga manifestasi neuropati pada sistem kardiovaskuler adalah frekuensi denyut jantung yang meningkat tetapi menetap, hipotensi ortostatik, dan infark miokard tanpa nyeri atau “silent infark”.
(b)   Pencernaan
Kelambatan pengosongan lambung dapat terjadi dengan gejala khas, seperti perasaan cepat kenyang, kembung, mual dan muntah. Konstipasi atau diare diabetik (khususnya diare nokturia) juga menyrtai neuropati otonom gastrointestinal.
(c)    Perkemihan
Retensi urine penurunan kemampuan untuk merasakan kandung kemih yamg penuh dan gejala neurologik bladder memiliki predisposisi untuk mengalami infeksi saluran kemih. Hal ini terjadi pada pasien dengan diabetes yang tidak terkontrol, mengingat keadaan hiperglikemia akan mengganggu resistensi terhadap infeksi.
(d)   Kelenjar Adrenal (“Hypoglikemik Unawarenass”)
Neuropati otonom pada medulla adrenal menyebabkan tidak adanya atau kurangnya gejala hipoglikemia. Ketidakmampua klien untu mendeteksi tanda-tanda peringatan hipoglikemia akan membawa mereka kepada resiko untuk mengalami hipogllikemi yang berbahaya.
(e)    Disfungsi Seksual
Disfungsi Seksual khususnya impotensi pada laki-laki merupakan salah satu komplikasi diabetes yang paling ditakuti. Efek neuropati otonom pada fungsi seksual wanita tidak pernah tercatat dengan jelas.

7.      Dampak Diabetes Melitus tipe II Terhadap Sistem Tubuh Lain
a.       Sistem Pernapasan
Defisiensi insulin menimbulkan peningkatan glikolisis dijaringan lemak serta ketogenesis dihati. Glikolisis terjadi karena defisiensi insulin merangsang kegiatan lipase di jaringan lemak akibat bertambahnya pasokan asam lemak dihati. Dalam mitokondria hati, enzim kartinil asil transferase I terangsang untuk merubah asam lemak bebas menjadi benda-benda keton. Proses ini menghasilkan asam beta hidroksi butirat dan asam asetoasetat yang mengakibatkan asidosis metabolik.
Efek kedua yang biasanya lebih penting dalam menyebabkan asidosis metabolik dari peningkatan langsung asam-asam keton mempunyai ambang eksresi ginjal yang rendah yaitu 100 – 200 gram. Asam-asam keton dapat disekresikan berikatan dengan natrium yang berasal dari CES, sebagai akibatnya konsentrasi Na+ dalam CES biasanya berkurang dengan Na+ diganti oleh peningkatan jumlah ion H+, sehingga meningkatkan asidosis. Hal ini dapat dilihat dari pola pernapasan yang cepat dan dalam (kussmaull).
b.      Sistem kardiovaskuler
Defisiensi insulin menyebabkan metabolisme lemak diantaranya pembentukan kolesterol tubuh yang berpengaruh pada proses terjadinya ateroskerosis da mempercepat timbulnya infark pada jantung dan akhirnya pembuluh darah besar menjadi kolaps (komplikasi makrovaskuler) sehingga menjadi pencetus munculnya penyakit jantung koroner seperti AMI (Acute Miokard Infark) dan angina pectoris. Bila gangguan jantung dirasakan oleh penderita diabetes mellitus dengan neuropati maka akan mengancam timbulnya kematian karena penderita tidak merasakan gejala gangguan jantung secara dini.
Bila aterosklerosis timbul pada daerah perifer maka akan timbul kelainan pada pembuluh darah kaki berupa ulkus atau gangren diabetic dan pada perabaan arteri dengan denyut yang berkurang sampai menghilang.
Komplikasi mikrovaskulerpun dapat terjadi, akibat defisiensi insulin maka glukosa tidak mampu masuk ke jaringan sehingga glukosa lebih banyak terakumulasi diekstrasel bersama glukosa yang telah diubah dalam bentuk lain dengan bantuan enzim adolase reduktase (sorbitol dan fruktosa). Hal ini menyebabkan meningkatnya kekentalan membran sel diantara jaringan dan pada dinding pembuluh darah sehingga menyebabkan penurunan sirkulasi tubuh ke perifer lainnya dan jaringan perifer kekurangan suplai oksigen dan nutrisi. Hal ini cenderung untuk mempertahankan produksi racun akibat metabolisme yang lama yang memungkinkan terjadinya kerusakan sel dan terjadi peningkatan kadar oksigen pada pembuluh darah diluar jaringan, maka jaringan akan menjadi hipoksia akibatnya ditandai dengan neuropati, nefropati dan retinopati.
c.       Sistem Pencernaan
Defisiensi insulin menyebabkan kegagalan dalam pemasukan glukosa ke jaringan sehingga sel-sel kekurangan glukosa intrasel dan menimbulkan dampak :
1)      Peningkatan penggunaan protein dan glikogen oleh jaringan sehingga menyebabkan penurunan massa sel yang berdampak pada penurunan berat badan.
2)      Pembakaran lemak dan cadangan protein untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Proses ini mengahsilkan benda-benda keton yang diakibatkan karena hati tidak mampu menetralisir lemak. Penumpukan asam lemak akan mengiritasi membrane mukosa lambung sehingga menimbulkan perasaan mual dan muntah. Selain itu juga iritasi membrane mukosa lambung dapat merangsang zat-zat proteolitik untuk mengeksresi serotonin, bradikinin dan histamine sehingga timbul nyeri lambung.
3)      Penurunan transport glukosa kedalam sel menyebabkan sel kekurangan glukosa untuk proses metabolisme (starvasi sel). Penurunan penggunaan dan aktivitas glukosa dalam sel akan merangsang pusat makan bagian lateral dari hypothalamus sehingga timbul peningktan rasa lapar (polifagia).
4)      Peningkatan kadar glukosa darah menyebabkan penumpukan sorbitol yang dapat merusak fungsi saraf. Bila kerusakan ini mengenai saraf otonom, maka akan menimbulkan diare atau konstipasi dan gangguan persepsi terhadap lapar.
d.      Sistem Perkemihan
Kekurangan pemasukan glukosa kedalam sel menyebabkan peningkatan volume ekstrasel sehingga terjadi peningkatanosmolaritas sel yang akan merangsang pusat haus di hypothalamus bagian lateral. Pada fase ini klien dapat merasakan polidiopsia dan penurunan produksi urin. Peningkatan sekresi ADH akan menahan pengeluaran urin sehingga volume cairan intraseluler menurun dan merangsang reseptor di hypothalamus untuk menekan sekresi ADH sehingga terjadi osmosis akibat peningkatan kadar glukosa darah yang melebihi ambang batas ginjal.
Diuresis osmotic akan mempercepat pengisian vesika urinaria, sehingga merangsang keinginan untuk berkemih (poliuria) dan kondisi ini bertambah pada malam hari karena terjadi vasokonstriksi akibat penurunan suhu sehingga merangsang keinginan untuk berkemih pada malam hari (nokturia). Selain itu juga gangguan system perkemihan dapat pula terjadi akibat adanya kerusakan ginjal (nefropati), karena adanya penurunan perfusi ke daerah ginjal.
e.       Sistem Reproduksi
Defisiensi insulin dapat menyebabkan terjadinya impotensi dan untuk wanita terjadi penurunan libido. Hal ini disebabkan oleh adanya hambatan penurunan ekstradiol pada gugus protein akibat kegagalan metabolisme protein. Pada wanita sering pula terdapat keluhan keputihan yang disebabkan oleh infeksi kandida dengan mekanisme seperti pada system integumen.
f.       Sistem Muskuloskeletal
Defisiensi insulin menghambat transfer glukosa ke sel dalam jaringan tubuh yang menyebabkan sel kelaparan dan terjadi peningkatan glukosa dalam darah. Hal ini menimbulkan hambatan dalam perfusi ke jaringan otot yang akan mengakibatkan jaringan otot kurang mendapatkan suplai oksigen dan nutrisi yang menyebabkan sel kekurangan bahan untuk metabolisme, sehingga energi yang dihasilkan berkurang yang berdampak pada timbulnya kelemahan dan bila dibiarkan lebih lanjut dapat mengakibatkan atrofi otot. Defisiensi insulin juga menyebabkan penurunan jumlah sintesa glikogen dalam otot serta peningkatan katabolisme protein.
g.      Sistem Integumen
Defisiensi insulin dapat berdampak pada integritas jaringan kulit yang bisa disebabkan oleh neuropati diabetes dan angiopati diabetes. Neuropati perifer akan menyebabkan penurunan sensasi perifer sehingga pengontrolan terhadap trauma mekanis, termis dan kimia menurun yang akan memudahkan terjadinya luka sehingga mengancam keutuhan jaringan kulit.
Teori lain yang mendasari kerusakan jaringan kulit adalah penumpukan endapan lipoprotein sehingga menyebabkan kebocoran protein dan butir-butir darah. Hal ini dapat menimbulkan :
1)      Pertahankan jaringan setempat menurun cepat pada kulit dan jika ada luka mudah infeksi dan pada tahap yang lebih lanjut dapat menyebabkan terjadinya syok septicemia.
2)      Bila keadaan ini terjadi di kapiler tungkai bawah dapat menimbulkan edema yang hilang timbul pada tungkai karena kebocoran albumin sehingga jaringan mudah terinfeksi, luka sukar sembuh, mudah selulitis dan akhirnya terjadi ulkus atau gangrene diabetikum.
h.      Sistem Persarafan
Defisiensi insulin menimbulkan hambatan glukosa ke dalam sel-sel saraf sehingga mengganggu proses-proses metabolisme sel saraf sehingga akan menimbulkan perubahan biokimiawi jaringan saraf yang mengakibatkan gangguan dalam proses metabolic sel-sel schwann hambata dan kehilangan impuls pada akson. Akibatnya akson tidak dapat menghantarkan impuls dengan sempurna.
Dampak lainnya adalah hambatan dalam konduksi saraf yang mengakibatkan gangguan dalam polarisasi membrane akibat dari penurunan pembentukan ATP. Perubahan-perubahan diatas menyebabkan gangguan terhadap fungsi dan konduksi saraf (neuropati) sebagai akibat dari penumpukan sorbitol, fruktosa dan penurunan mioinositol. Bila menyerang saraf otonom dapat menimbulkan konstipasi atau diare, retinopati. Selain itu juga dapat mengakibatkan polineuropati perifer yang pertama kali ditandai oleh hilangnya sensasi pada ujung-ujung ekstrimitas bawah dan adanya rasa kesemutan, nyeri, berkurangnya terhadap sensasi getar, propioseptik, baal-baal dan pada tahap lanjut dapat menimbulkan gangguan motorik yang disertai dengan hilangnya refleks-refleks tendon dalam.
i.        Sistem Penginderaan
Hiperglikemia yang diakibatkan oleh defisiensi insulin menyebabkan gangguan jalur poliol (glukosa – sorbitol – fruktosa) yang menyebabkan terjadinya penumpukan kadar glukosa pada sel dan jaringan mata. Glukosa yang berlebihan ini tidak akan termetabolisme habil melalui glikolisis, tetapi sebagian dengan perantara enzim adolase reduktase akan diubah menjadi sorbitol. Sorbitol ini akan tertumpuk didalam lensa mata sehingga menyebabkan kerusakan dan perubahan fungsi pada lensa mata yang pada tahap lanjut menimbulkan katarak.
Hiperglikemia menyebabkan terjadinya pelebaran sakular dari arteriola retina yang pada tahap lanjut dapat menimbulkan retinopati dan kebutaan.


8.      Prosedur Diagnostik
s  Tes toleransi glukosa (TTG) memanjang (lebih besar dari 200 mg/ dL). Biasanya tes ini dianjurkan untuk pasien yang menunjukkan kadar glukosa darah meningkat dibawah kondisi stress.
s  Gula darah puasa (FBS) normal atau diatas normal
s  Essei hemoglobin glikolisat diatas rentang normal. Tes ini mengukur presentase glukosa yang melekat pada hemoglobin. Glukosa tetap melekat pada hemoglobin selama hidup sel darah merah. Rentang normal adalah 5 – 6%
s  Urinalisis positif terhadap glukosa dan keton. Pada respons terhadap defisiensi intraseluler, protein dan lemak diubah menjadi glukosa (glukoneogenesis) untuk energi. Selama proses pengubahan ini, asam lemak bebas dipecah menjadi badan keton oleh hepar. Ketosis terjadi ditunjukkan oleh ketonuria. Glukosuria menunjukkan bahwa ambang ginjal terhadap reabsorpsi glukosa dicapai. Ketonuria menandakan ketoasidosis
s  Kolesterol dan kadar trigliserida serum dapat meningkat menandakan ketidakadekuatan kontrol glikemik dan peningkatan propensitas pada terjadinya ateroskelosis.
Diagnosis DM dibuat bila gula darah puasa diatas 140 mg/ dL selama dua atau lebih kejadian dan pasien menunjukkan gejala-gejala DM (poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat badan, ketonuria dan kelelahan). Juga, diagnosis dapat dibuat bila contoh TTG selama periode 2 jam dan periode lain (30 menit, 60 menit atau 90 menit) melebihi 200 mg/ dL.

9.      Penatalaksanaan
a.       Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe II
Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropatik. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes mellitus adalah mencapai kadar glukosa darah normal (euglikemia) tanpa terjadinya hipoglikemia dan gangguan serius pada pola aktivitas pasien.
Ada lima komponen dalam penatalaksanaan diabetes mellitus :
1)      Diet
Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari penatalaksanaan diabetes. Penatalaksanaan nutrisi pada penderita diabetes diarahkan untuk mencapai tujuan berikut :
(a)      Memberikan semua unsur makanan esensial (misalnya vitamin dan mineral)
(b)     Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai
(c)      Memenuhi kebutuhan energi
(d)     Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-cara yang aman dan praktis
(e)      Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat
Perencanaan makan pada penderita diabetes mellitus terdiri dari :
1)      Perencanaan makan unsur karbohidrat
Tujuan diet ini adalah meningkatkan konsumsi karbohidrat kompleks khususnya yang berserat tinggi seperti : roti gandung utuh, nasi beras tumbuk, sereal dan pasta/ mie yang berasal dari gandum. Disamping itu, penggunaan sukrosa dengan jumlah yang sedang kini lebih banyak diterima sepanjang pasien masih dapat mempertahankan kadar glukosa serta lemak (mencakup kolesterol dan trigliserida) yang adekuat dan mampu mengendalikan berat badannya.
2)      Perencanaan makan unsur protein
Rencana makan dapat mencakup penggunaan beberapa makanan sumber protein nabati untuk membantu mengurangi asupan kolesterol serta lemak jenuh.
3)      Perencanaan makan unsur lemak
Perencanaan makan yang mempunyai kandungan lemak dalam diet diabetes mencakup penurunan persentase total kalorinya yang berasal dari sumber lemak hingga kurang 30 % total kalori dan pembatasan jumlah lemak jenuh hingga 10 % total kalori. Selain itu juga pembatasan asupan kolesterol hingga kurang dari 300 mg/ hari sangat dianjurkan.
4)      Perencanaan makan unsur serat
Tipe diet ini berperan dalam penurunan kadar total kolesterol dan LDL (Low Density Lipoprotein) kolesterol dalam darah. Peningkatan kandungan serat dalam diet dapat pula memperbaiki kadar glukosa darah sehingga kebutuhan insulin dari luar dapat dikurangi
2)      Latihan
Latihan sangat penting dalam penatalaksanaan diabetes karena efeknya dapat menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi faktor risiko kardiovaskuler. Latihan akan menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian insulin. Sirkulasi darah dan tonus otot juga diperbaiki dengan berolahraga. Latihan dengan cara melawan tahanan (resistance training) dapat meningkatkan lean body mass dan dengan demikian menambah laju metabolisme istirahat (resting metabolic rate). Semua efek ini sangat bermanfaat pada diabetes karena dapat menurunkan berat badan, mengurangi rasa stress dan mempertahankan kesegaran tubuh. Latihan juga akan mengubah kadar lemak darah yaitu meningkatkan kadar HDL kolesterol dan menurunkan kadar kolesterol total serta trigliserida. Semua manfaat ini sangat penting bagi penyandang diabetes mengingat adanya peningkatan risiko untuk terkena penyakit kardiovaskuler pada diabetes.
Meskipun demikian, penderita diabetes dengan kadar glukosadarah lebih dari 250 mg/ dl (14 mmol/ L) dan menunjukkan adanya keton dalam urin tidak boleh melakukan latihan sebelum pemeriksaan keton urin menjadi negative dan kadar glukosa darah telah mendekati normal. Latihan dengan kadar glukosa darah yang tinggi akan meningkatkan sekresi glukagon, growth hormone dan katekolamin. Peningkatan hormone ini membuat hati melepas lebih banyak glukosa sehingga terjadi kenaikan kadar glukosa darah.
Pedoman umum latihan pada diabetes :
ÿ  Gunakan alas kaki yang tepat, dan bila perlu alat pelindung kaki lainnya
ÿ  Hindari latihan dalam udara yang sangat panas atau dingin
ÿ  Periksa kaki setiap hari sesudah melakukan latihan
ÿ  Hindari latihan pada saat pengendalian metabolik buruk
3)      Pemantauan Kadar Glukosa Darah
Dengan melakukan pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri (SMBG; Self-monitoring of blood glucose), penderita diabetes kini dapat mengatur terapinya untuk mengendalikan kadar glukosa darah secara optimal. Cara ini memungkinkan deteksi dan pencegahan hipoglikemia serta hiperglikemiadan berperan dalam menentukan kadar glukosa darah normal yang kemungkinan aka mengurangi komplikasi diabetes jangka panjang.
4)      Terapi
Ä  Obat hipoglikemik oral (OHO) seperti sulfonylurea, biguanid, inhibitor alfa glukosidase dan insulin sensitizing agen
Ä  Pada diabetes tipe II, insulin mungkin diperlukan sebagai terapi jangka panjang untuk mengendalikan kadar glukosa darah jika diet dan obat hipoglikemia oral tidak berhasil mengontrolnya. Disamping itu, sebagian pasien diabetes tipe II yang biasanya mengendalikan kadar glukosa darah dengan diet atau dengan obat oral kadang membutuhkan insulin secara temporer selama mengalami sakit, infeksi, kehamilan, pembedahan atau beberapa kejadian stress lainnya. Penyuntikan insulin sering dilakukan dua kali per hari (atau bahkan lebih sering lagi) untuk mengendalikan kenaikan kadar glukosa darah sesudah makan dan pada malam hari. Karena dosis insulin yang diperlukan masing-masing pasien ditentukan oleh kadar glukosa darah yang akurat sangat penting.
5)      Pendidikan Kesehatan
Diabetes mellitus merupakan sakit kronis yang memerlukan perilaku penanganan mandiri yang khusus seumur hidup. Pasien bukan hanya belajar keterampilan untuk merawat diri sendiri guna menghindari penurunan atau kenaikan kadar glukosa darah yang mendadak, tetapi juga harus memiliki perilaku preventif dalam gaya hidup untuk menghindari komplikasi jangka panjang yang dapat ditimbulkan dari penyakit diabetes mellitus.
b.      Penatalaksanaan Ulkus Diabetikum
1)      Debridemen
Debridemen merupakan eksisi pada kulit yang terdapat luka dengan jaringan yang telah rusak. Hal tersebut dikerjakan dengan tujuan untuk mempercepat proses penyembuhan luka dan mempercepat pembentukan jaringan baru pada luka. Pembedahan debridemen diindikasikan untuk klien dengan ulkus yang sangat luas dan dalam yang disertai dengan adanya jaringan mati pada luka, serta pada klien yang mempunyai risiko terjadinya syock septicemia. Pembedahan debridemen dilakukan tergantung dari luas dan kedalaman ulkus serta dengan mempertimbangkan kemungkinan banyaknya kehilangan darah saat pembedahan. Dokter bedah dapat melakukan debridemen diruang tindakan ataupun diruang operasi. Pembedahan debridemen terdiri dari :
a)      Mechanical Debridement
Mechanical debridement dapat dilakukan secara berulang untuk mengangkat dan membersihkan jaringan luka yang telah mati. Pada mechanical debridement proses perawatan luka merupakan hal yang efektif dan dapat dilakukan dengan penggantian balutan dari balutan lembab ke balutan kering atau juga dari balutan kering ke balutan lembab pula.
b)      Enzymatic Debridement
Enzymatic debridement meliputi penyediaan enzim proteolitik dan fibrinolitik sintesis. Produk ini khusus digunakan untuk jaringan nekrotik saluran pencernaan dan memfasilitasi pembersihan jaringan luka yang telah mati. Enzim proteolitik dan fibrinolitik menyediakan lingkungan yang lembab untuk keefektifan proses penyembuhan luka dan pembentukan jaringan baru serta digunakan secara langsung pada luka. Nyeri dan perdarahan merupakan masalah utama dari penatalaksaan ini dan harus dilakukan secara terus-menerus. Enzymatic debridement merupakan kontraindikasi untuk luka yang sangat luas dan dalam pada tubuh terutama luka yang membentuk suatu lubang atau rongga, pembedahan jaringan saraf dan ulkus akibat neoplasma.
c)      Surgical Debridement
Surgical debridement meliputi eksisi jaringan mati. Terdapat dua teknik yang biasa digunakan untuk surgical debridement pada saat sekarang yaitu eksisi tangensial dan eksisi fasial. Eksisi tangensial dilakukan dengan mengangkat banyak lapisan yang tipis sampai jaringan pada luka tumbuh kembali. Eksisi fasial dilakukan dengan pembersihan inti jaringan lemak sampai ke fasia. Teknik ini sering digunakan untuk luka yang sangat dalam.
2)      Grafting
Grafting merupakan pencakokan atau penanaman jaringan kulit kepada jaringan kulit lain dengan tujuan untuk menumbuhkan jaringan kulit yang baru sehingga luka dapat menutup secara signifikan. Indikasi untuk dilakukannya autografting adalah sebagai berikut :
a)      Ulkus yang sangat luas dan dalam serta tidak dapat ditutp dengan grafting karena keluasan dari luka atau hal lain yang menghambat terhadap proses grafting pada luka ulkus.
b)      Penyembuhan alami yang menyebabkan kehilangan fungsi dari system musculoskeletal seperti adanya deformitas pada persendian, tulang ataupun yang lainnya.
Keberhasilan proses pencangkokan atau penanaman kulit dipengaruhi oleh keadaan daerah sekitar luka yang mendukung terjadinya proses granulasi jaringan. Pencangkokan atau penanaman jaringan kulit dapat diperoleh dari donor, kemudian dipindahkan pada luka ulkus yang selanjutnya dijahit pada daerah luka ulkus tersebut. Pengcangkokan keseluruhan jaringan kulit dan penutupan myocutaneus digunakan untuk penutupan luka yang dalam, luka yang luas atau pada organ yang vital.
3)      Terapi Pengobatan
Agen antibakterial topikal sering diindikasikan untuk mengontrol pertumbuhan bakteri pada luka dengan nekrosis yang sangat luka atau pada keadaan daya immunitas jaringan luka yang terganggu. Untuk menghindari infeksi pada jaringan luka, penggunaan antibiotic profilaksis biasanya dihindari karena bahaya dari perkembangan strain bacterial yang resisten.

B.     Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Menurut Wolf dan Weitzel bahwa proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan, merencanakan dan melaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan berurutan, terus-menerus, saling berkaitan dan dinamis (Nursalam, 2001:2)
Proses keperawatan harus saling berkeseninambungan dan berkaitan satu sama lainnya dari pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi.
  1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam, 2001:17)
a.      Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan proses yang berisikan status kesehatan klien, kemampuan klien untuk mengelola kesehatan dan perawatannya juga hasil konsultasi dari medis atau profesi kesehatan lainnya (Nursalam, 2001:17)
1)      Identitas
a)      Identitas Klien
Fokus berisi mengenai jenis kelamin, usia, suku/ bangsa,
b)      Identitas Penanggungjawab
2)      Riwayat Kesehatan
a)      Keluhan Utama
Klien diabetes mellitus datang dengan keluhan luka yang tidak kunjung sembuh, mual, muntah, penurunan kesadaran, disamping keluhan lain yang menyertai seperti mudah lelah, sering kencing, sering lapar, sering haus, adanya kesemutan atau baal-baal pada daerah ekstrimitas atau juga karena telah terjadi komplikasi diabetic baik akut maupun kronik.
b)      Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien diabetes mellitus dengan ulkus diabetikum cenderung mengeluh nyeri pada daerah lukanya dengan kualitas nyeri yang tajam dan kuantitas nyeri yang hilang timbul. Nyeri yang dirasakan klien diabetes mellitus dengan ulkus diabetikum bertambah bila klien bergerak untuk merubah posisinya dan berkurang jika beristirahat. Nyeri yang dirasakan klien diabetes mellitus dengan ulkus diabetikum cenderung berada pada nyeri sedang sampai dengan berat dan berada pada skala nyeri 5 – 10 (skala 1 – 10 menurut Smeltzer). Selain itu juga nyeri yang dirasakan cenderung tidak menyebar ke daerah lain (terlokalisasi pada daerah luka) dan dirasakan bertambah pada waktu malam hari. Selain itu juga dapat ditemukan adanya kelemahan dan cepat lelah, mual, muntah, sakit kepala (pusing) dan penurunan visus (ketajaman penglihatan).
c)      Riwayat Kesehatan Dahulu
Kaji adanya riwayat obesitas, riwayat pankreatitis kronis, riwayat melahirkan anak lebih dari 4 kg untuk wanita, riwayat glukosuria selama stress (kehamilan, pembedahan, trauma, infeksi, penyakit) atau terapi obat (glukokortikosteroid, diuretic tiazid, kontrasepsi oral).
Kaji pula terhadap
d)     Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung disebabkan oleh adanya riwayat penyakit yang sama pada anggota keluarganya. Selain itu juga cenderung disebabkan oleh factor lingkungan rumah yang kurang sehat serta riwayat gizi keluarga yang buruk sehingga berdampak pada kesehatan anggota keluarga.

3)      Pemeriksaan Fisik
a)      Sistem Endikrin
Klein dengan diabetes mellitus II biasanya ditemukan adanya peningkatan kadar gula darah sebagai akibat dari terganggunya fungsi pankreas sebagai penghasil hormone yang mengatur kadar gula darah dalam plasma.
b)      Sistem Pernapasan
Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung ditemukan adanya pola napas klien yang cepat dan dalam (kussmaul) sebagai upaya tubuh untuk mengurangi asidosis gun amelawan efek dari pembentukan badan-badan keton dalam tubuh dan napas bau aseton (bila sudah terjadi ketoasidosis diabetikum) sebagai akibat dari meningkatnya kadar badan keton dan kadar ion H+ dalam tubuh dan penurunan pelepasan oksigen pada membrane alveolar yang ditandai dengan adanya sianosis central ataupun perifer.
Tahap lanjut dapat ditemukan adanya pernapasan cupung hidung dan pengguanaan otot-otot Bantu pernapasan disertai dengan adanya retraksi interkostalis dan retraksi epigastrium sebagai akibat dari beratnya asidosis yang ditimbulkan dari penyakit tersebut.
c)      Sistem Kardiovaskuler
Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung mengalami penyakit jantung koroner atau akut miokard infark (AMI), angina pectoris yang dimanifestasikan dengan perubahan pola gambaran EKG (Elektrokardiografi), perubahan irama, bunyi dan frekuensi denyut jantung. Selain itu juga ditemukan adanya penurunan kekuatan denyut nadi perifer, perubahan tekanan darah, kelainan dalam faktor pembekuan darah yang disebabkan oleh mudahnya trombosit mengalami perlengketan (adhesi) dan umur trombosit yang pendek yang dimanifestasikan oleh penurunan trombosit darah, penurunan fleksibilitas sel darah merah yang dimanifestasikan oleh penurunan kadar hemoglobin darah sebagai akibat dari kerusakan system endothelial tubuh dan gangguan vaskularisasi perifer yang dimanifestasikan dengan peningkatan waktu pengisian kapiler (Capilary Refil Time) > 3 detik yang pada tahap lanjut dapat menimbulkan peningkatan JVP (Jugular Venous Pressure) sebagai dampak dari peningkatan osmolaritas plasma akibat hiperglikemia.
d)     Sistem Pencernaan
Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung ditemukan adanya mual, muntah sebagai akibat dari menumpuknya asam lemak dan benda keton dalam tubuh dan menurunnya supplai oksigen ke saluran cerna sehingga merangsang refleks vasovagal dengan meningkatkan sekresi asam lambung (HCL). Selain itu juga ditemukan adanya konstipasi dan penurunan frekuensi bising usus yang disebabkan oleh penurunan motilitas usus yang dimanifestyasikan dengan adanya distensi abdomen.
e)      Sistem Panca Indera (Pengihatan)
Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung mengalami penurunan fungsi ketajaman penglihatan (penurunan visus), penglihatan ganda (diplopia), perubahan diameter pupil dimana pupil cenderung mengalami dilatasi, peningkatan tekanan intraokuler, kekeruhan lensa (katarak) dan pada tahap lanjut menyebabkan lapang pandang berkurang.
f)       Sistem Perkemihan
Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung ditemukan adanya perubahan yang berkaitan dengan status cairan dan elektrolit berupa mukosa mulut kering, turgor kulit > 2 detik, kadar elektrolit cenderung menurun dan pada tahap lanjut dapat menyebabkan perubahan fungsi ginjal (Nefropati) sebagai dampak dari hiperglikemia yang dimanifestasikan dengan meningkatnya ureum, kreatinin plama dan urine.
g)      Sistem Muskuloskeletal
Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung ditemukan adanya kelemahan, kram otot, penurunan tonisitas, kekuatan dan massa otot. Selain itu juga ditemukan adanya penurunan ROM (Range of Motion) dan pada tahap lanjut dapat menyebabkan deformitas sendi dan tulang yang disebabkan oleh adanya ulkus atau gangrene diabetikum yang terjadi pada susunan sistem muskuloskeletal.
h)      Sistem Integumen
Klien dengan diabetes mellitus tipe II yang disertai dengan adanya ulkus diabetikum cenderung ditemukan adanya erosi pada kulit, warna kulit pada daerah luka cenderung kehitaman, perubahan system thermoregulasi tubuh yang dimanifestasikan dengan perubahan suhu tubuh secara signifikan, akral cenderung teraba dingin.
Dampak yang dapat ditemukan oleh penyakit diabetes mellitus itu sendiri diantaranya warna kulit cenderung mengkilat, pruritis vulvular dan pada tahap lanjut dapat menyebabkan adanya ulkus atau gangrene diabetikum.
i)        Sistem Persarafan
Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung ditemukan adanya keluhan pusing, vertigo, baal-baal atau kesemutan pada ekstrimitas atau bahkan mengalami penurunan tingkat kesadaran yang disebabkan oleh koma hiperglikemik. Selain itu juga pada tahap yang lebih lanjut dapat menyebabkan terjadinya penyakit serebrovaskular berupa penyakit stroke dengan jenis TIA (Transient Ischemic Attact), perubahan fungsi saraf cranial, perubahan fungsi sensori-motor dan perubahan refleks neurologis.
4)      Pola Aktivitas Sehari-hari
a)      Nutrisi
Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung ditemukan adanya kebiasaan sering makan dan minum yang tinggi gula, meliputi jumlah, jenis dan frekuensi, riwayat cepat lapar (polifagia) dan frekuensi makan yang sering. Selain itu juga didapatkan adanya riwayat sering makan-makanan yang berkolesteror tinggi.


b)      Eliminasi
Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung mempunyai kebiasaan sering kencing (poliuria) dan sering minum (polidipsia).
c)      Istirahat tidur
Klien dengn diabetes mellitus tipe II yang disertai dengan adanya ulkus diabetikum sering kali menimbulkan gangguan dan perubahan pola istirahat tidur, hal ini disebabkan karena adanya rasa nyeri pada luka, seringnya buang air kecil dan adanya stressor internal tentang proses kesembuhan luka dan penyakitnya.
d)     Personal Hygiene
Klien dengan diabetes mellitus tipe II yang disertai dengan adanya ulkus diabetikum sering kali pemenuhan kebutuhan personal hygienenya dibantu oleh orang lain karena adanya keterbatasan aktivitas yang ditimbulkan oleh adanya nyeri pada luka ulkus ataupun kelemahan yang disebabkan oleh penyakit diabetes mellitus itu sendiri.
e)      Aktivitas
Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung mempunyai kebiasaan kurang aktivitas atau olehraga pada saat sebelum sakit.
5)      Data Psikologis
Klien dengan diabetes mellitus tipe II cenderung mengalami stress akibat dari prosedur pembedahan, penyembuhan luka dan penyakit yang lama. Hal tersebut dapat berdampak pada perubahan konsep diri (gambaran diri, peran, identitas diri, ideal diri dan harga diri) dan perubahan status mental klien.
6)      Data Sosial
Klien dengan diabetes mellitus tipe II yang disertai dengan adanya gangren diabetikum atau yang telah menjalani amputasi cenderung tidak mau bersosialisasi dengan orang lain yang disebabkan olwh rasa malu terhadap keadaannya.
7)      Data Spiritual
Klien dengan diabetes mellitus tipe II yang disertai dengan adanya gangren diabetikum atau yang telah menjalani amputasi cenderung menolak terhadap keadaannya dan hal ini akan berdampak pada kondisi spiritualnya dimana klien cenderung akan menyalahkan Tuhan atas penyakit yang dideritanya.
8)      Data Penunjang
a)      Data Laboratorium
Klien dengan diabetes mellitus pada pemeriksaan laboratorium cenderung terjadi peningkatan kadar gula darah, tes urine reduksi positif, proteinuria, ketonuria, penurunan protein total, penurunan albumin serum, penurunan atau peningkatan elektrolit, peningkatan lipid dan kolesterol, penurunan hemoglobin, hematokrit dan trombosit serta peningkatan leukosit akibat proses infeksi pada luka.
b)      Terapi
Prosedur terapi yang biasa dijalani oleh klien dengan diabetes mellitus biasanya mendapatkan terapi agen anti diabetic seperti : insulin, sulfonylurea (dymelor, diabinase, glucotrol, micronase, diabeta, tolinase dan orinase), biguanid (metformin) selain itu juga terapi tambahan untuk penderita diabetes mellitus yang disertai dengan adanya ulkus atau gangrene diabetikum biasanya diberikan obat antibiotic seperti metronidazol, cravat dan jenis antibiotic lainnya.

b.      Analisa Data
Analisa data adalah kemampuan mengaitkan data dan menghubungkan data tersebut dengan konsep, teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dan menentukan masalah kesehatan dan keperawatan klien (Nursalam,2001:24)

c.       Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan mengenai masalah klien baik aktual maupun potensial yang didapat dari status kesehatan klien (Erb, Olivieri, Kozier,1991:169)
Diagnosa yang mungkin muncul pada klien dengan Diabetes Melitus menurut Doenges dan Carpenito adalah :
(1)         Gangguan pemenuhna kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, defisiensi insulin dan status hipermetabolisme.
(2)         Defisit cairan berhubungan dengan diuresis osmotic, dan kurang asupan cairan.
(3)         Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit.
(4)         Gangguan integritas jaringan kulit berhubungan dengan gangguan sensasi, dan kurangnya pengetahuan tentang perawatan kulit.
(5)         Kelemahan berhubungan dengan penurunan produksi energi, gangguan kimia tubuh, defisiensi insulin, peningkatan kebutuhan tubuh, dan status hiperglikemia atau hipermetabolisme.
(6)         Resiko infeksi berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa, penurunan fungsi leukosit, infeksi saluran pernapasan atau infeksi saluran kemih.
(7)         Resiko terhadap cedera/injuri berhubungan dengan penurunan sensasi taktil, penurunan ketajaman penglihatan, dan episode hipoglikemia.
(8)         Disfungsi seksual berhubugnan dengan perubahan fungsi tubuh.
(9)         Resiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan aturan terapeutik di rumah berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kondisi penatalaksanaan terapeutik, dan system pendukung yang adekuat.

  1. Perencanaan
Perencanaan (intervensi) merupakan suatu rangkaian tahapan dimana perawat dank lien menetapkan prioritas, menetapkan tujuan yang ingin dicapai dan merencanakan serangkaian rencana keperawatan guna menyelesaikan atau mengurangi masalah-masalah kesehatan klie serta mempersiapkan kerjasama dengan tim kesehatan lainnya. (Erb, Olivieri, Kozier, 1991:169)
Adapun perencanaan yang dibuat untuk klien dengan Diabetes Melitus menurut Doenges adalah :
a.       Gangguan pemenuhna kebutuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
1)      Intake yang tidak adekuat
2)      Defisiensi insulin
3)      Status hipermetabolisme.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
Kriteria evaluasil :
1) Pemasukan kalori atau nutrisi adekuat
2) Berat badan mengarah kenormal sesuai dengan tinggi badan
3) nilai laboratorium kadar gula darah dalam batas normal dan stabil
Intervensi
Rasional
1.    Timbang berat badan setiap hari atau    setiap indikasi.
2.    Identifikasi makanan yang disukai atau dikehendaki.

3.    Observasi tanda-tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat  kesadaran, kulit lembab dan dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala, pusing, dan sempoyongan.
4.    Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen, perut kembung, mual, dan muntah.
5.    Berilah makanan cair yang mengandungzat makanan dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah mendapatkan toleransinya melalui pemberian cairan oral dan selajutnya upayakan pemberian makanan padat sesuai dengan yang dapat ditoleransi oleh klien.
6.    Libatkan keluarga pada perencanaan makan sesuai dengan indikasi.


7.    Pantau pemeriksaan lasoratorium seperti ; glukosa darah, Ph, HCO3-.





8.    Berikan pengobatan insulin secar teratur.


9.    Lakukan konsultasi dengan ahli gizi.
1.    Mengkaji pemasukan yang adekuat.
2.    Jika makanan yang disukai kilen dapat dimasukan dalam perencanaan makan, kerjasama ini dapat diupayakan setelah pulang.
3.    Metabolisme karbohidrat mulai terjadi (gula darah akan berkurang) dan sementara insulin tetap diberikan maka hipoglikemi dapat terjadi.

4.    Hiperglikemia dan gangguan keseimbangan cairan elektrolit dapat menurunkan motilitas usus.
5.    Pemberian makanan per oral lebih baikjika pasien sadar dan fungsi gastrointestinal baik.





6.    Meningkatkan rasa keterlibatan dan memberikan informasi kep[ada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi klien.
7.    Gula darah akan menurun perlahan dengan pergantian cairan dan terpai insulin terkontrol sehingga glukosa dapat masuk ke dalam sel dan digunakan untuk sumnber kalori, kadar aseton dapat menurun dan asidosis dapat dikoreksi.
8.   Insulin regular memiliki awitan cepat karenanya dengan cepat pula dapat membantu memindahkan glukosa ke dalam sel.
9.    Bermanfaat dalam perhitungan dan penyesuaian diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi klien.

b.      Defisit cairan berhubungan dengan :
1)      Diuresis osmotik
2)      Kehilangan cairan
3)      Kurang asupan / intake cairan.
Tujuan : Hidrasi adekuat
Kriteria evaluasi :
1) Tanda-tanda vital stabil
2) Nadi perifer dapat diraba
3) Turgor kulit dan pengisian kapiler baik
4) Intake dan output seimbang
5) Kadar elektrolit dalam batas normal
Intervensi
Rasional
1.    Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan tekanan darah orthostatik
2.    Kaji nadi perifer pengisian kapiler, turgor kulit, dan membaran mukosa
3.    Pantau intake dan output, catat berat jenis urine


4.    Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung. Jika pemasukan cairan sudah dapat diberikan
5.    Tingkatkan lingkungan yang dapat memberikan rasa nyaman dengan menyelimuti klien dengan selimut tipis
6.    Kolaborasi pemberian terapi cairan sesuai dengan indikasi


7.    Kolaborasi pemasangan kateter urine dan pertahankan kateter tetap terpasang
8.    Kolaborasi pemeriksaan laboratorium seperti Ht, BUN, kreatinin, osmolalitas darah, natrium, dan kalium
1.    Hipovolemi dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan tachikardi
2.    Merupakan indicator dari tingkat dehidrasi atau volume sirkulasi yang adekuat
3.    Memberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti, fungsi ginjal, dan keefektifan dari terapi yang diberiakan
4.    Mempertahankan hidrasi atau volume sirkulasi



5.    Menghindari pemanasan yang berlebihan terhadap klien lebih lanjut dapat menimbulkan kehilangan cairan
6.    Tipe dan jumlah dari cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan dan respon klien secara individual
7.    Memberikan pengukuran yang tepat atau akurat terhadap urine output terutama jika kandung kemih (retensio urine atau inkontinensia)
8.    Mengkaji tingkat hidrasi dan sering meningkat akibat hemokonsentrasi yang terjadi setelah diuresis osmotik

c.       Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit.
Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi dan tidak terjadi rasa nyeri
Kriteria evaluasi :
1) Klien tidak mengeluh nyeri
2) Klien menunjukan ekspresi wajah yang tenang atau rileks
3) Klien menunjukan keterampilan relaksasi dan aktivitas sesuai indikasi
Intervensi
Rasional
1.    Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, karakter, da intensitas nyeri

2.    Tinggikan dan sokong area luka dengan mengguankan bantalan

3.    Berikan tindakan kenyamanan dasar, contoh pijatan punggung, dan perubahan posisi
4.    Dorong penggunaan teknik manajemen stress, contoh relaksasi progresif, nafas dalam, bimbingan imajinasi, dan visualisasi

5.    Libatkan klien dan keluarga dalam penentuan jadwal aktivitas, dan pemberian obat
6.    Berikan aktivitas teutapeutik yang tepat sesuai dengan usia dan kondisi

7.    Berikan analgetik sesuai dengan indikasi 
1.    Perubahan lokasi, kateter, dan intensitas nyeri dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi
2.    Meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema, dan menurunkan rangsangan nyeri
3.    Meningkatkan relaksasi, menurunkan letegangan otot, dan kelelahan umum

4.    Memfokuskan  kembali perhatian, meningkatkan relaksasi, dan meningkatkan rasa kontrol yang dapat menurunkan ketergantungan farmakologis
5.    Meningkatkan rasa control klien dan kekuatan mekanisme koping

6.    Membantu mengurangi konsentrasi nyeri yang dialami dan memfokuskan kembali perhatian
7.    Analgetik bekerja untuk memblok rangsangan nyeri

d.      Gangguan integritas jaringan kulit berhubungan dengan
1)      Gangguan sensasi
2)      Kurangnya pengetahuan tentang perawatan kulit.
Tujuan : Integritas kulit dapat dipertahankan
Kriteria evaluasi :
1) Keadaan kulit tetap utuh pada daerah yang mengalami gangguan seperti yang ditunjukan oleh hal-hal berikut:
a)  Kulit yang mengalami lesi kelihatan bersih dan memperhatikan tanda-                    tanda penyembuhan
b)  Klien atau orang terdekat memperlihatkan perawtan kulit yang tepat
2) Dapat mempertahankan kesehatan jaringan kulit seperti yang ditunjukan oleh hal-hal berikut :
a) Tidak mengalami kerusakan kulit
b) Tidak terdapat daerah kemerahan
c) Mempertahankan sirkulasi yang adekuat
Intervensi
Rasional
1.    Jaga kulit tetap bersih dan kering


2.    Lakukan perawatan luka dengan larutan    dan debridement sesuai dengan order
3.    Berikan obat-obatan luka


4.    Awasi dengan cepat terhadap tanda-tanda dan gejala infeksi
5.    Berikan tindakn untuk memaksimalkan sirkulais darah
6.    Awasi hasil pemeriksaan laboratorium seperti albumin.
1.Kulit kotor dan basah merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kuman
2.Memberikan luka mempercepat pertumbuhan jaringan

3.Membunuh mikroorganisme dan mempercepat pertumbuhan jaringan
4.Deteksi dini sebagai preventif dan menentukan tindkan selanjutnya
5.Sirkulasi adekuat penting untuk aktivitas sel
6.    Sebagai indicator pertukaran nutrisi

e.       Kelemahan berhubungan dengan penurunan produksi energi, gangguan kimia tubuh, defisiensi insulin, peningkatan kebutuhan tubuh, dan status hiperglikemia atau hipermetabolisme.
Tujuan : Kelemahan berkurang
Kriteria evaluasi :
1)   Mengungkapkan peningkatan energi
2) Menunjukan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang   diinginkan
Intervensi
Rasional
1.      Diskusikan dengna klien kebutuhan akan aktivitas, buat jadwal perencanaan dengna klien dan identifikasi aktivitas yang menimbulkan kelelahan
2.      Berikan aktivitas alternative dengna periode istirahat yang cukup/tanpa diganggu
3.      Pantau nadi, frekuensi pernapasan dan tekanan darah sebelum dan sesudah melakukan aktivitas
4.      Tingkatkan partisipasi klien dalam melakuakan aktivitas sehari-hari sesuai denagan yang dapat ditoleransi 
1.      Pendidikan dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan tingkat aktivitas meskipun klien mungkin sangat lemah

2.      Mencegah kelelahan yang berlebihan

3.      Mengindikasikan tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi secara fisiologis
4.      Meningkatkan kepercayaan diri atau harga diri yang positif sesuai tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi klien

f.       Resiko infeksi berhubungan dengan peningkatan kadar glukosa, penurunan fungsi leukosit, infeksi saluran pernapasan atau infeksi saluran kemih.
Tujuan : Infeksi tidak terjadi
Kriteria evaluasi :
1)  Mengidentifikasi tindakan untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi
2)Mempraktekan teknik-teknik perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya infeksi
Intervensi
Rasional
1.      Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan seperti demam, kemerahan, adanya pus pada luka, sputum purulen, dan urine berwarna keruh
2.      Pertahankan treknik aseptic pada prosedur infasif (pemasangan infuse, poli kateter dan pemberian obat iv)
3.      Pasang kateter atau lakukan perawatan perineal dengan baik. Ajarkan klien wanita untuk membersihkan daerah perinealnya dari depan ke belakang setelah eliminasi
4.      Berikan perawatan dengna teratur dan sungguh-sungguh, massage daerah yang tertekan, jaga kulit tetap kering dan kencang
5.      Posisikan klien pada posisi semi fowler

6.      Lakukan perubahan posisi dan anjurkan klien untuk batuk efektif / nafas dalam
7.      Berikan obat antibiotik yang sesuai 
1.      Klien mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya telah mencetuskan keadaan asidosis atau mengalami infeksi nasokomial

2.      Keadaan glukosa yang tinggi dalam darah akan menjadi tempat yang baik bagi pertumbuhan kuman

3.      Mengurangi resiko terjadinya infeksi saluran kemih




4.      Sirkulasi perifer bias terganggu dan meningkatkan resiko terjadinya kerusakan pada kulit/iritasi kulit dan infeksi
5.      Memberikan kemudahan bagi paru untuk berkembang dan menurunkan resiko terjadinya aspirasi
6.      Membantu dan memfasilitasi semua daerah paru dan memobilisasi secret

7.      Penanganan awal dapat membantu mencegah terjadinya sepsis serta agen anti biotic dapat membunuh mikroorganisme patogen

g.      Resiko terhadap cedera/injuri berhubungan dengan penurunan sensasi taktil, penurunan ketajaman penglihatan, dan episode hipoglikemia.
Tujuan : Injuri tidak terjadi
Kriteria evaluasi :
1) Mencapai atau mempertahankan status mental
2) Mengenali dan mengkompensasi adanya kerusakan sensorik
Intervensi
Rasional
1.      Anjurkan klien untuk saling memantau kadar glukosa darah


2.      Pantau tanda-tanda vital dari status mental


3.      Jadwalkan intervensi keperawatan agar tidak mengganggu waktu istirahat klien
4.      Pelihara aktivitas rutin klien  sekonsisten mungkin, dorong untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari sesuai dengan kemampuannya
5.      Kaji adanya keluhan parastesia, nyeri atau kehilangan sensori pada paha atau kaki, adanya ulkus, daerah kemerahan, tempat-tempat tertekan dan kehilangan denyut nadi perifer

6.      Berikan tempat tidur yang hangat, pelihara kehangatan kaki atau tangan, hindari terpajan air panas atau dingin
7.      Bantu klien dalam ambulasi atau perubahan posisi 
1.      Pemantauan gula darah dengan cermat dapat mendeteksi gula darah rendah sebelum menyebabkan cedera serius
2.      Sebagai dasar untuk membandingkan temuan abnormal seperti suhu yang meningkat dapat mempengaruhi status mental
3.      Meningkatkan tidur, menurunkan rasa letih, dan memperbaiki daya pikir
4.      Membantu memelihara tetap berhubungan dengan realitas dan mempertahankan orientasi pada lingkungannya
5.      Neuropati perifer dapat menyebabkan rasa tidak nyaman yang berat, kehilangan sensasi sentuhan yang mempunyai resiko tinggi terhadap kerusakan kulit dan gangguan keseimbangan
6.      Meningkatkan rasa nyaman dan menurunkan kemungkinan kerusakan kulit karena panas

7.      Meningkatkan keamanan klien terutama rasa keseimbangan dipengaruhi

h.      Disfungsi seksual berhubugnan dengan perubahan fungsi tubuh.
Tujuan : Klien dapat beradaptasi terhadap perubahan seksualnya
Kriteria evaluasi :
1) Menyebutkan penyebab penurunan fungsi seksual
2) Mengungkapkan pemahaman tentang perubahan seksualnya
Intervensi
Rasional
1.      Ajak klien dan pasangannya utnuk mendiskusikan tentang hubunga seksual


2.       Hargai perasaan cemas klien tentang seksual
3.      Tawarkan klien beberapa saran tentang alternative yang mengungkapkan seksual







4.    Eksplorasi tentang kurangnya pengetahuan klien tentang seksualitas, bagaimana klien belajar tentang seksualitas dan apa yang klien pahami tentang fungsi seksual yang normal
1.      Faktor-faktor yang memberikan kenyamanan, memperlihatkan rasa hormat kepada klien dan meningkatkan pengekspresian perasaan
2.      Menegakan dan menciptakan keadaan percaya internal bagi klien
3.      Tersedianya bukti-bukti bila klien membutuhkan hal ini akan membentuk rasa percaya. Orientasi memudahkan untuk membuat keputusan dan mengurangi kecemasan prustasi/perasaan distress lainnya yang menyembunyikan realitas oleh karenanya membantu klien berfokus dalam pengertian yang lebih dalam
4.      Klien membutuhkan kesempatan untuk mengungkapkan cerita yang tidak benar dan harus dipersiapkan dengan informasi yang akurat tentang fungsi seksual

i.        Resiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan aturan terapeutik di rumah berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang kondisi penatalaksanaan terapeutik, dan system pendukung yang adekuat.
Tujuan : Klien memperlihatkan keinginan untuk mematuhi rencana pemeliharaan dirumah sesuai dengna ketentuan
Kriteria evaluasi :
1) Pengertian tentang keadaan klien dan rencana perawatannya yang disampaikan dengan lisan
Intervensi
Rasional
1.Ajarkan klien tentang diabetes mellitus, pengobatan dan perawtan sesuai dengan panduan penyuluhan klien
2.Rujuk klien pada perawatan diri diabetes bila diberikan fasilitas, agensi/organisasi komunitas







3.Rujuk klien pada ahli diet untuk instruksi pada perencanaan makan terutama diet yang dianjurkan. Tekanan perlunya pembatasan makanan terutama alkohol karena dapat menghambat pelepasan insulin dari pankreas
1.      Lebih banyak klien mengetahui tentang keadaannya semakin mungkin mereka mematuhi perawtan dan pengobatan
2.      Karena diabetes mellitus adalah gangguan kronis sepanjang hidup, dukungan continue penting dalam membantu seseorang utnuk beradaptasi pada perubahan gaya hidup yang disebabkan oleh rencana teurapeutik untuk pemeliharaan diri meliputi pemantauan gula darah dan prosedur pemberian insulin
3.      Ahli diet khusus adalah sosialisasi nutrisi yang dapat membantu lien dalam merencanakan makandengan menggunakan daftar penukar makanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisieningkatkan rasa keterlibatan dan memberikan informasi kepada keluarga untuk memahami kebutuhan nutrisi

  1. Implementasi
Implementasi adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap implementasi dimulai setelah rencana tindakan disusun untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan dari implementasi adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah titetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan pemulihan kesehatan. (Erb, Olivieri, Kozier, 1991 : 169)

  1. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Meskipun tahap evaluasi diletakkan pada akhir proses keperawatan, evaluasi merupakan bagian integral pada setiap tahap proses keperawatan. Pengumpulan data perlu direvisi untuk menentukan apakah informasi yang telah dikumpulkan sudah mencukupi dan apakah perilaku yang diobservasi sudah sesuai. Diagnosa juga perlu dievaluasi dalam hal keakuratan dan kelengkapannya. Tujuan dan intervensi dievaluasi untuk menentukan apakah tujuan tersebut dapat dicapai secara efektif atau tidak. (Erb, Olivieri, Kozier, 1991 : 169)

BAB III
TINJAUAN KASUS

A.          PENGKAJIAN
1.      Pengumpulan Data
a.       Identitas
1)      Identitas Klien
Nama                                    : Tn. S
Tanggal Lahir/ Umur            : 7 Maret 1937 / 68 tahun
Jenis Kelamin                       : Laki-laki
Pendidikan                           : Akademi Kepolisian
Pekerjaan                              : Pensiunan Polisi
Agama                                  : Islam
Suku Bangsa                        : Sunda
Status Marital                       : Menikah
Tanggal Masuk RS               : 24 Maret 2005
Tanggal Pengkajian              : 28 Maret 2005
No. Medrec                          : 05 01 1738
Diagnosa Medis                   : Diabetes Melitus Tipe II dengan
                                               Komplikasi ulkus diabetikum a/r pears
                                               Sinistra, neuropaty, nefropati + Hipertensi
                                               Stage II
Alamat                                 : Jl. Raya Kadungora No. 137 RT 02/ 04,
                                               Kadungora, Garut

2)      Identitas Penanggungjawab
Nama                                    : Ny. I
Umur                                    : 36 tahun
Jenis Kelamin                       : Perempuan
Pekerjaan                              : Ibu rumah tangga
Hubungan dengan klien       : Anak kandung
Alamat                                 : Jl. Raya Kadungora No. 137 RT 02/ 04,
                                               Kadungora, Garut

b.      Riwayat Kesehatan
1)      Keluhan Utama
Klien mengeluh nyeri pada luka yang terdapat di kakinya

2)      Riwayat Kesehatan Sekarang
± 3 bulan sebelum masuk rumah sakit, klien mengeluh adanya luka pada jari telunjuk kaki kiri dan plantar yang mula-mula hanya luka lecet tetapi makin lama luka tersebut makin meluas dan bengkak disertai keluarnya nanah berwarna kuning dan berair. Akibat luka tersebut, jari kaki telunjuk dan daerah plantar klien menjadi berwarna kehitaman. Keluhan tersebut disertai rasa nyeri.
Pada tahun 1986, klien didiagnosa menderita kencing manis. Klien berobat jalan ke puskesmas secara rutin dan diberi obat (klien lupa nama obatnya). 1 bulan terakhir klien tidak minum obat. Klien juga mempunyai penyakit hipertensi sejak 1 tahun yang lalu dengan riwayat tekanan darah tertinggi yaitu 200 / 110 mmHg pada saat akan dirawat di R. Dahlia, RS Hasan Sadikin.
Pada saat dilakukan pengkajian tanggal 28 Maret 2005 pukul 14.10 WIB, klien mengeluh nyeri pada luka yang terdapat pada jari telunjuk kaki kiri dan daerah plantar kaki kiri. Nyeri bertambah ketika klien bergerak dan pada saat dilakukan ganti balutan dan nyeri berkurang jika klien beristirahat di tempat tidur. Nyeri dirasakan berdenyut-denyut dan ekspresi muka klien meringis pada saat nyeri dirasakan. Nyeri bersifat hilang timbul dan tidak menyebar pada daerah ynag lain. Skala nyeri 5 (1 – 10 menurut Smeltzer).

3)      Riwayat Kesehatan Dahulu
Menurut pengakuan klien dan keluarga, sebelumnya klien pernah dirawat dengan penyakit yang sama (diabetes melittus) di RS. Hasan Sadikin Bandung. Klien sudah didiagnosa mempunyai penyakit diabetes mellitus pada tahun 1986. Klien berobat jalan ke puskesmas secara rutin dan diberi obat (klien lupa nama obatnya). Klien juga mempunyai penyakit hipertensi sejak 1 tahun yang lalu
Menurut klien sebelum didiagnosa mempunyai penyakit diabetes mellitus, klien mempunyai kebiasaan makan dan minum yang manis-manis seperti kopi dengan gula ± 3 – 4 sendok makan dengan frekuensi 2 – 3 x/ hari, makan kue-kue manis. Selain itu klien juga mempunyai kebiasaan makan yang tidak teratur.
Klien mempunyai riwayat sering kencing, sering haus dan sering lapar. Klien mengaku tidak pernah mengalami penyakit menular seperti TBC.

4)      Riwayat Kesehatan Keluarga
Menurut klien, almarhum ibu klien mempunyai penyakit tekanan darah tinggi. Menurut keluarga bahwa didalam keluarganya tidak ada yang mempunyai penyakit menular.
                          
c.       Pemeriksaan Fisik
1)      Sistem Endokrin
Tidak terdapat eksofthalmus, tidak tampak adanya hipo/ hiperpigmentasi kulit, tidak tampak adanya keringat yang berlebihan (diaporesis), tidak teraba adanya massa, nyeri tekan dan pembesaran saat palpasi kelenjar tiroid dan paratiroid, klien tampak sering minum dan kencing.
2)      Sistem Pernapasan
Bentuk hidung simetris, tidak terdapat deviasi septum nasi, tidak terdapat sianosis pada bibir, tidak terdapat pernapasan cuping hidung, mukosa hidung lembab, tidak terdapat secret, tidak terdapat pembengkakan konka, tidak terdapat polip, tidak terdapat penggunaan otot-otot bantu pernapasan, bentuk dada simetris, tidak terdapat adanya retraksi dada ataupun retraksi epigastrium, tidak terdapat adanya nyeri tekan pada dada, ekspansi paru simetris, pengembangan paru simestris, getaran vocal fremitus terasa lebih jelas pada apeks paru, suara paru terdengan resonan, pada auskultasi terdengar suara vesikuler, frekuensi napas 21 x/ menit pada saat posisi tidur sedangkan pada saat duduk 24 x/ menit.
3)      Sistem Kardiovaskuler
Konjungtiva merah muda, JVP (Jugular Venous Pressure) tidak meningkat, clubbing finger (-), CRT (Capilarry Refilling Time) < 3 detik, akral teraba hangat, iktus kordis teraba pada ICS V garis midklavikula kiri. Suara perkusi jantung terdengat dullness, S1 dan S2 terdengar murni regular. Pulsasi denyut nadi teraba kuat, irama denyut nadi teratur, denyut nadi pada posisi tidur 84 x/ menit dan pada saat posisi duduk 86 x/ menit, tekanan darah pada saat posisi tidur dan duduk 160 / 90 mmHg.
Klien mengatakan kepalanya nyeri dan bertambah saat merubah posisi.
4)      Sistem Pencernaan
Warna bibir merah muda, mukosa bibir kering, gigi bersih, tidak ada keluhan nyeri mengunyah dan menelan, tidak ada pembesaran tonsil, sclera tampak bening, lidah berwarna merah muda dan tampak bersih. Abdomen datar dengan kontur lembut, bising usus 12 x/ menit, tidak terdapat adanya nyeri tekan dan lepas pada daerah abdomen, suara perkusi abdomen terdengar timpani kecuali pada perkusi hati dan limpa terdengar dullness, tidak ada pembesaran hepar dan limpa.
5)      Sistem Penglihatan
Bentuk dan ukuran mata klien simetris, pupil isokor, mata klien tampak sayu, terdapat lingkaran hitam pada daerah periorbital.
6)      Sistem Perkemihan
Tidak terdapat edema periorbital, tidak terdapat distensi kandung kemih,  tidak terdapat nyeri tekan ataupun nyeri lepas saat palpasi ginjal, palpasi ginjal tidak teraba,. Berat badan klien 60 kg (menurut klien). IWL = 800 cc/ hari [(10 cc x 60) + (200 - <37 - 36>)], balance cairan – 800 cc/ hari.
7)      Sistem Muskuloskeletal
a)      Ekstimitas atas
Bentuk dan ukuran ekstrimitas atas simetris, pergerakan (ROM) kedua ekstrimitas bebas kesegala arah kecuali tangan kanan klien yang terpasang infus Martos 10 % dengan 10 gtt/ menit, kuku klien panjang dan kotor, tidak tampak adanya nyeri pada daerah persendian dan tulang, tidak tampak adanya deformitas tulang ataupun sendi, tidak terdapat kontraktur sendi, tidak tampak adanya atrofi otot. Kekuatan otot 5 / 5, refleks biceps ++ / ++, triceps ++ / ++, brachioradialis ++ / ++.

b)      Ekstrimitas bawah
Bentuk dan ukuran ekstrimitas atas simetris, pergerakan (ROM) kaki kanan maksimal sedangkan ROM kaki kiri terbatas dan tidak ada nyeri tekan pada persendian dan tulang, tidak ada deformitas tulang maupun sendi, tidak ada atrofi otot, kuku klien tampak kotor dan panjang. Kekuatan otot 5 / 5, refleks patella ++ / ++, archiles ++ / ++, babinsky -- / --.
8)      Sistem Integumen
Kulit kepala dan rambut klien bersih, kulit tubuh tampak bersih, turgor kulit kembali dalam waktu 4 detik, terdapat luka ulkus diabetikum pada kaki kiri daerah plantar dan jari kaki, pembengkakan luka (+) dan terdapat nyeri tekan pada daerah sekitar luka, keadaan luka masih basah, terdapat jaringan nekrotik pada daerah luka, pus (-), luka tampak berwarna kemerahan, luka tercium bau amis, kulit teraba hangat, suhu tubuh 36 0C.
Klien mengatakan luka dikakinya terjadi karena sering terendam air (sesekeleun), klien dan keluarga mengatakan ingin tahu dan belajar merawat luka dikakinya.
9)      Sistem Persarafan
a)      Tes Fungsi Serebral
(1)   Status Mental
(a)    Orientasi
Klien mengebutkan bahwa sekarang ia berada di rumah sakit ditunggui oleh anaknya dan berada pada waktu sore.
(b)   Daya ingat
ÿ Jangka panjang
Klien dapat mengingat bahwa dirinya lahir pada tahun 1937
ÿ Jangka pendek
Klien dapat menyebutkan tiga benda yang ditunjukkan pada klien dan klien dapat mengulangnya dengan tepat yaitu gelas, sendok dan pulpen.



(c)    Perhatian dan perhitungan
Klien dapat menghitung dengan penjumlahan serial lima yaitu, 5 + 5 = 10, 10 + 5 = 15, 15 + 5 = 20, 20 +5 = 25, 25 + 5 = 30, 30 + 5 = 35
(d)   Fungsi bahasa
Klien dapat menyebutkan nama benda yang ditunjukkan oleh perawat seperti gelas, sendok dan pulpen. Klien dapat
mengulangi kata-kata “akan tetapi” atau “jika tidak” dan klien mengerti perintah saat klien diminta untuk menyebutkan benda yang berada didekatnya yaitu bantal, sendok dan gelas
(2)   Tingkat Kesadaran
ÿ Kualitas              : komposmentis
ÿ Kuantitas            : nilai GCS 15 (E4 V5 M6)
(3)   Pengkajian Bicara
Psoses bicara klien lancar walaupun pelan
b)      Tes Fungsi Kranial
(1)         Nervus I (Olfaktorius)
Klien dapat membedakan bau kopi, kayu putih dan alkohol
(2)         Nervus II (Optikus)
Fungsi ketajaman penglihatan klien mengalami penurunan, klien mengatakan pandangannya kabur. Klien tidak bisa membaca papan nama perawat pada jarak 30 cm
(3)         Vervus III (Okulomotoris), IV (Troclearis) dan VI (Abdusen)
Klien mampu menggerakan bola matanya kesegala arah yaitu kearah bawah, atas dan samping. Pupil konstriksi saat diberi cahaya, bentuk pupil isokor, klien dapat membuka dan menutup matanya, lapang pandang tidak mengalami penyempitan.
(4)         Nervus V (Trigeminus)
Fungsi mengunyah klien baik, pergerakan otot masetter dan temporalis saat mengunyah simetris. Klien dapat merasakan sentuhan pilinan kapas yang diusapkan pada daerah maksilaris dan mandibula dengan kedua mata tertutup, klien mengedip secara spontan saat diberi rangsangan dengan pilinan kapas pada kedua kelopak mata tanpa diketahui oleh klien. Klien dapat menggerakkan rahangnya kearah belakang, depan, samping kanan dan kiri.
(5)         Nervus VII (Fasialis)
Klien dapat mengerutkan dahi dan tersenyum dengan kedua bibir simetris. Klien dapat membedakan rasa manis dan asin pada 2/3 anterior lidah.
(6)         Nervus VIII (Auditorius)
Klien dapat mengulang bisikan suara yang diberikan perawat pada jarak 30 cm.
(7)         Nervus IX (Glosofaringeus)
Klien dapat merasakan rasa pahit pada 1/3 posterior lidah, refleks muntah (+)
(8)         Nervus X (Vagus)
Refleks menelan (+) baik, uvula terletak ditengah antara palatum mole dengan arkus faring dan bergetak saat klien bilang “ah”
(9)         Nervus XI (Asesorius)
Klien dapat mengangkat bahu kanan dan kiri serta melawannya ketika diberikan tahanan pada kedua bahu
(10)     Nervus XII (Hipoglosus)
Klien dapat menggerakkan lidah dan menjulurkannya kearah samping kiri, kanan, belakang dan depan.
c)      Tes Fungsi Sensoris
(1)         Rasa Sakit
Klien merasakan sakit saat ditusuk didaerah bahu, lengan dan kaki dengan menggunakan ujung pulpen.
(2)         Sentuhan
Klien dapat merasakan sentuhan kapas pada lengannya dengan kedua mata tertutup
(3)         Diskriminasi
(a)    Stereognosis
Klien dapat menebak pulpen yang digenggamkan pada telapak tangannya dengan kedua mata tertutup

(b)   Graphestesis
Klien dapat menebak huruf S yang dituliskan ditelapak tangannya dengan kedua mata klien tertutup
(c)    Two Point Stimulation
Klien dapat menebak 2 buah titik yang dibuat ditelapak tangannya dengan kedua mata tertutup.

d.      Pola Aktivitas Sehari-hari
No
Jenis Aktivitas
Di Rumah
Di Rumah Sakit
1.
Nutrisi
a.    Makan





b.   Minum

Nasi, daging, tahu, tempe, sayuran dan kadang buah-buahan. Klien suka makan camilan dan daging. Klien biasa makan 3 – 4 x/ hari, habis 1 porsi dan tidak ada keluhan.
Klien sering minumkarena sering merasa haus, klien minum ± 10 – 11 gelas / hari (2000 – 2200 cc/ hari) dengan jenis air putih dan teh

Nasi, tahu, tempe, daging, sayur dan buah-buahan. Klien memperoleh diet DM 1700 kkal rendah garam. Porsi makan habis 1 porsi. Menurut klien berat badannya sekarang 60 kg
Klien sering minum karena sering haus, klien mengatakan sehari dirinya minum ± 8 – 9 gelas (1600 – 1800 cc/ hari)
2.
Eliminasi
a.    BAB



b.    BAK

Klien biasa BAB 2 x / hari dengan konsistensi lembek dan berwarna kuning serta tidak ada keluhan
Klien mengatakan sering BAK (7 – 8 x / hari) dengan warna kuning jernih dan tidak ada keluhan

Klien BAB 1 x / hari dengan konsistensi lembek dan berwarna kuning serta tidak ada keluhan
Pada saat dikaji, klien tidak terpasang kateter, klien mengatakan sering BAK ± 7 – 8 x / hari dengan jumlah sekitar ± 1600 – 1800 cc/ 24 jam (tgl 28 Maret pkl 14.00 sampai tgl 29 Maret pkl 14.00)
3.
Istirahat tidur
Klien biasa tidur malam pukul 22.00 – 05.00 WIB dan tidak ada keluhan. Klien tidak pernah tidur siang
Klien mengatakan tidurnya tidak nyenyak dan sering terbangun karena nyeri yang dirasakan pada daerah lukanya. Klien mengatakan tidur malamnya pkl. 24.00 – 05.00 WIB, sedangkan tidur siangnya tidak tentu dan hanya ± 1 jam dan sering terbangun karena diruangannya banyak orang berlalu-lalang
4.
Personal hygiene
Klien biasa mandi dengan cara diguyur 2 – 3 x/ hari dengan menggunakan sabun, gosok gigi setiap mandi dengan menggunakan pasta gigi, keramas 2 x/ minggu dengan menggunakan shampoo dan gunting kuku kalau kuku sudah panjang. Klien melakukan personal hygiene mandiri
Klien mandi diseka dengan air hangat dan sabun 1 x/ hari, klien mengatakan belum bisa ke kamar mandi karena nyeri pada luka di kakinya dan klien mengatakan badannya terasa cepat lelah dan lemas, gosok gigi 1 x/ hari dan keramas 1 x selama dirawat dengan dilap sabun. Kuku klien tampak panjang dan kotor. Personal hygiene di bantu keluarga
5.
Aktivitas
Klien berolahraga hanya kadang-kadang saja
Klien hanya terbaring di rumah sakit saja, dan klien tampak lemah


e.       Aspek Psikologis
1)      Status Emosi
Emosi klien relatif stabil dan klien tampak lemah dan tenang ketika berbicara dengan keluarga maupun dengan perawat. Klien tampak selalu memegang kepalanya dan selalu mengerutkan kening.
2)      Pola Koping
Klien mengatakan jika dirinya mempunyai masalah, klien selalu menceritakan kepada anaknya dan berusaha mencari pemecahan mengenai masalah tersebut karena menurut klien dengan menceritakan kepada keluarganya, hati klien menjadi tenang daripada memendam masalah sendirian.

3)      Konsep Diri
a)      Gambaran Diri
Klien mengatakan menyukai seluruh anggota tubuhnya walaupun terdapat luka pada kakinya. Klien mengatakan bahwa semua anggota tubuhnya merupakan pemberian dari Allah SWT. yang patut disyukuri.
b)      Identitas Diri
Klien adalah seorang laki-laki dan merasa puas dengan jenis kelaminnya karena dapat memberikan keturunan dan dapat menjadi kepala rumah tangga untuk mendidik anak serta istrinya dengan baik.
c)      Peran
Klien adalah seorang bapak bagi anak-anaknya dan suami bagi istrinya. Klien adalah seorang pensiunan polisi dan menerima gaji pensiunan sebulan sekali.
d)     Ideal Diri
Klien berharap untuk cepat sembuh dan berkumpul bersama keluarganya kembali.
e)      Harga Diri
Klien tidak merasa malu ataupun menjadi rendah diri terhadap penyakit yang dideritanya sekarang. Klien menerima keadaan dirinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

f.       Aspek Sosial
Hubungan klien dengan keluarga baik, terbukti klien selalu ditunggui oleh anak dan cucunya secara bergantian. Klien sangat kooperatif dalam proses perawatan dan pengobatan penyakitnya. Hubungan klien dengan klien lain baik, klien sering berinteraksi dengan klien lain di ruang perawatan begitu pula dengan perawat dan petugas kesehatan lainnya. Menurut klien, hubungannya dengan anggota masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya juga baik, terbukti klien pernah dijenguk oleh tetangganya dan mantan rekan seprofesinya dulu.




g.      Aspek Spiritual
1)      Falsafah hidup
Klien percaya terhadap adanya sakit dan sehat karena hal tersebut merupakan ketentuan yang telah diatur oleh Allah SWT.
2)      Sense of Tracendence
Klien merasa optimis bahwa penyakit yang dideritanya sekarang akan sembuh dengan perawatan dan pengobatan serta dibarengi dengan berdo`a kepada Allah SWT. untuk kesembuhan penyakitnya.
3)      Konsep ketuhanan
Klien percaya adanya Allah SWT. dan segala sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh dirinya. Selama klien dirawat, klien suka menjalankan ibadahnya dalam melaksanakan salat lima waktu dan membaca al-qur`an sambil duduk ditempat tidur.

h.      Aspek Seksual
Klien mengatakan sudah lama tidak berhubungan suami istri dan menurut klien hal tersebut bukan merupakan suatu beban karena klien merasa sudah tua dan cukup mempunyai anak dan cucu.

i.        Data Penunjang
1)      Laboratorium
Tanggal 24 Maret 2005 Pukul 11.50 WIB
Jenis Pemeriksaan
Hasil
Nilai Rujukan
Satuan
KIMIA KLINIK



Glukosa 2 jam pp
511
< 140
mg/ dl
HBAIC
6,6
4,8 – 6.0
%


Tanggal 24 Maret 2005 Pukul 14.28 WIB
Jenis Pemeriksaan
Hasil
Nilai Rujukan
Satuan
KIMIA KLINIK



Glukosa 2 jam pp
254
< 140
mg / dl



Tanggal 26 Maret 2005 Pukul 12.18 WIB
Jenis Pemeriksaan
Hasil
Nilai Rujukan
Satuan
KIMIA KLINIK



Albumin
2,3
3,5 – 5,0
gr/ dl
Protein Total
5,5
6,3 – 8,2
gr/ dl

Tanggal 28 Maret 2005 Pukul 10.16 WIB
Jenis Pemeriksaan
Hasil
Nilai Rujukan
Satuan
HEMATOLOGI



Hemoglobin
12,3
13 – 18
gr/ dl
Leukosit
8000
3800 - 10600
Mm3
Hematokrit
37
40 – 52
%
Trombosit
268.000
150.000 – 440.000
Mm3
KIMIA KLINIK



Ureum
33,8
19 – 43
mg/ dl
Kreatinin
1,1
0,8 – 1,5
mg/ dl

Tanggal 28 Maret 2005 Pukul 15.10 WIB
Jenis Pemeriksaan
Hasil
Nilai Rujukan
Satuan
KIMIA KLINIK



Glukosa 2 jam pp
146
< 140
mg / dl
URINE



BJ
1,010
1,002 – 1,03

pH
7
4,8 – 7,5

Protein
+
Negatif
mg / dl
Reduksi
+++
Negatif
mg / dl
Bilirubin
Negatif
Negatif

Urobilinogen
< 1
< 1
ml/ dl
Nitrit
negatif


Keton
negatif
negatif
mg / dl
ERI
1 – 2 
< 1
/ lpb
LEKO
negatif
< 6
Lpb
EPITEL
2 – 3

/ lpk
Jamur
positif


Tanggal 28 Maret 2005 Pukul 20.26
Jenis Pemeriksaan
Hasil
Nilai Rujukan
Satuan
KIMIA KLINIK



Glukosa 2 jam pp
131
< 140
mg/ dl

2)      Terapi
s  Diet DM 1700 kalori Rendah Garam
s  Actrapid  16 – 16 – 14 unit pagi-siang-sore       SC
s  Aspilet                            1 x 81 mg                    per oral
s  Ciproflaxocin                 2 x 400 mg                  IV
s  Ceamoxidan                   3 x 600 mg                  per oral
s  Captopril                        3 x 25 mg                    per oral
s  Metronidazole                2 x 500 mg                  drip
s  Rawat luka                     2 x per hari kompres gentamycin 80 mg + gula
s  Infus Martos 10 %         10 gtt/ menit



















2.      Analisa Data
No
Data
Kemungkinan Penyebab dan Dampak
Masalah
1.
DS :
s Klien mengeluh nyeri pada luka yang terdapat di kakinya
s Nyeri bertambah ketika klien bergerak dan pada saat dilakukan ganti balutan
s nyeri berkurang jika klien beristirahat di tempat tidur
s Nyeri dirasakan berdenyut-denyut
s Nyeri mengatakan nyerinya bersifat hilang timbul
s Klien mengatakan nyerinya tidak menyebar pada daerah yang lain.
DO :
s Ekspresi muka klien meringis pada saat nyeri dirasakan
s Terdapat luka ulkus diabetikum pada pears sinistra
s Pembengkakan luka (+)
s Terdapat nyeri tekan pada daerah luka
s Skala nyeri 5 (1 – 10 menurut Smeltzer).


Ulkus diabetikum a/r pears sinistra
¯
terputusnya kontinuitas jaringan kulit
¯
merangsang pelepasan histamine, bradikinin, serotonin, prostaglandin dan substansia P
¯
merangsang noci reseptor sebagai reseptor nyeri
¯
dihantarkan oleh serabut saraf delta A dan C
¯
dialirkan dalam bentuk elektrokimia, impuls ganglia radiks menuju dorsal horn di medulla spinalis bagian posterior
¯
di transfer melalui traktus spinotalamikus kontralateralis
¯
thalamus sebagai stasiun relay
¯
cortex cerebri lobus parietalis
¯
nyeri

Gangguan rasa nyaman : nyeri
2.
DS :
s Klien mengatakan nyeri kepala
DO :
s Tekanan darah 160 / 90 mmHg
s Klien selalu memegang kepalanya
s Klien tampak selalu mengerutkan kening


Hipertensi
¯
peningkatan resistensi perifer di otak
¯
peningkatan tekanan darah di otak
¯
merangsang pelepasan amin biogenic seperti serotonin, epinefrin dan norepinefrin
¯
pusing


Gangguan rasa nyaman : pusing
3.
DS :
s Klien mengatakan dirinya sering minum karena sering haus
s Klien mengatakan sehari dirinya minum ± 8 – 9 gelas (1600 – 1800 cc/ hari)
s Klien mengatakan sering buang air kecil ± 7 – 8 x/ hari dengan jumlah sekitar ± 1600 – 1800 cc/ 24 jam (tgl. 28 Maret pkl 14.00 sampai tgl. 29 Maret pkl. 14.00)
s Menurut klien berat badannya sekarang adalah 60 kg
DO :
s Mukosa bibir kering
s Turgor kulit kembali dalam waktu 4 detik
s Klien tampka sering minum dan sering buang air kecil
s Suhu tubuh 36 0C
s IWL = 800 cc/ hari
[(10 cc x 60) + (200 - <37 – 36>)]
s Balance = jumlah total intake – (jumlah total output + IWL)
= 1600 cc – (1600cc + 800cc) = - 800 cc/ hari
s Tanda-tanda vital :
-     Tidur
TD : 160/90 mmHg
P    : 84 x/ menit
R   : 21 x/ menit
S   : 36,5 0C
-     Duduk
TD : 160/90 mmHg
P    : 86 x/ menit
R   : 24 x/ menit
S   : 36,5 0C
s Data lab. tgl 28/3/2005 Hematokrit 37 % (40 – 52 %)


Defisiensi insulin
¯
Hiperglikemia
¯
tidak dapat mempertahankan kadar glukosa yang normal dalam darah
¯
kadar glukosa melebihi ambang batas ginjal
¯
glukosuria
¯
diuresis osmotik
¯
poliuria


 


kehilangan cairan/ dehidrasi
kehilangan elektrolit

Defisit cairan
4.
DS :
s klien mengatakan luka di kakinya terjadi karena sering terendam air (sesekeleun)
s klien dan keluarga mengatakan tidak tahu tentang perawatan luka dikakinya
s klien dan keluarga mengatakan ingin belajar perawatan luka untuk kaki klien
DO :
s Terdapat luka ulkus diabetikum pada daerah jari kaki bagian telunjuk kiri dan daerah plantar kiri
s Keadaan luka masih basah
s Terdapat jaringan nekrotik pada daerah luka
s Pus (-)
s Pembengkakan (+)
s Luka tampak berwarna kemerahan
s Terdapat adanya nyeri tekan pada daerah sekitar luka
s Luka tercium bau amis
s Klien mendapat terapi insulin sebanyak 16 – 16 – 14 unit/ hari


Defisiensi insulin


 


Hiperglikemia
¯
peningkatan viskositas darah
¯
penurunan vaskularisasi ke jaringan perifer
¯
jaringan perifer kekurangan supply O2 dan nutrisi

Endapan glikoprotein
¯
kerusakan membran basalis
¯
kebocoran protein
¯
pertahanan jaringan setempat menurun
¯
mudah infeksi




Penyembuhan luka terganggu
¯
integritas kulit terganggu

Gangguan integritas jaringan kulit
5.
DS :
s Klien mengatakan tidurnya tidak nyenyak dan sering terbangun karena nyeri yang dirasakan pada daerah lukanya
s Klien mengatakan tidur malamnya pkl. 24.00 – 05.00 WIB, sedangkan tidur siangnya tidak tentu dan hanya ± 1 jam dan sering terbangun
s Klien mengatakan di ruangannya banyak orang berlalu-lalang
DO :
s Klien tampak lemah
s Mata klien tampak sayu
s Terdapat lingkaran hitam pada daerah periorbital


Luka ulkus diabetikum
¯
terputusnya kontinuitas jaringan
¯
merangsang aktivasi RAS (Reticulo Activity System) sebagai pusat jaga di formation retikularis
¯
REM menurun
¯
klien sering terjaga

Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur
6.
DS :
s Klien mengatakan belum bisa pergi ke kamar mandi karena nyeri pada luka di kakinya
s Klien mengatakan badannya terasa cepat lelah dan lemas
s Klien mengeluh nyeri kepala
DO :
s Klien tampak lemah
s Kuku klien kotor dan panjang
s Kulit klien tampak bersih
s Kulit kepala dan rambut klien bersih
s Kekuatan otot

           5       5


 
           5       5


Ulkus diabetikum a/r pears sinistra
¯
terputusnya kontinuitas jaringan
¯
nyeri
¯
keterbatasan aktivitas
¯
pemenuhan ADL terganggua


Gangguan pemenuhan ADL : Personal Hygiene
7.
DS :
s Klien mengatakan penglihatannya kabur
s Klien mengeluh pusing saat merubah posisi dari tidur ke duduk
s Klien mengeluh nyeri pada kaki kirinya
s Klien mengeluh cepat lelah
DO :
s Klien tampak lemah
s Klien tidak bisa membaca papan nama perawat pada jarak 30 cm
s Terdapat ulkus diabetikum pada kaki kiri klien
s Kekuatan otot :
           5       5


 
           5       5
s Tanda-tanda Vital :
-      Tidur
TD : 160/90 mmHg
P    : 84 x/ menit
R   : 21 x/ menit
S   : 36,5 0C
-      Duduk
TD : 160/90 mmHg
P    : 86 x/ menit
R   : 24 x/ menit
S   : 36,5 0C


Defisiensi insulin
¯
hiperglikemia


 
Viskositas darah meningkat
¯
vaskularisasi perifer menurun
¯
mono dan poli neurophaty
¯
hilangnya sensasi pada ujung-ujung saraf ekstrimitas bawah
Glukosa tidak masuk dan tidak dapat ditransfer ke sel dan jaringan
¯
otak kekurangan supply O2 dan nutrisi
¯
pusing
Penumpukan sorbitol oleh enzim adolase reduktase
¯
gangguan sirkulasi dan pengendapan lipoprotein pada lensa mata
¯
ketajaman penglihatan berkurang



injuri

Risiko injuri

3.      Daftar Diagnosa Keperawatan
NO
Diagnosa Keperawatan
Ditemukan
Terpecahkan
Tanggal
Paraf
Tanggal
Paraf
1.
Gangguan rasa nyaman : nyeri b.d. repons tubuh terhadap terputusnya kontinuitas jaringan kulit
28/03/05



2.
Defisit cairan b.d. diuresis osmotik
28/03/05



3.
Gangguan rasa nyaman : nyeri kepala b.d. peningkatan tekanan vascular serebral
28/03/05

30/03/05

4.
Gangguan integritas kulit b.d. adanya luka (ulkus diabetikum) sekunder defisiensi insulin
28/03/05



5.
Gangguan pemenuhan istirahat tidur b.d. teraktivasinya RAS di formation retikularis
28/03/05

30/03/05

6.
Gangguan pemenuhan ADL : personal hygiene b.d. keterbatasan aktivitas
28/03/05

28/03/05

7.
Risiko injuri b.d. penurunan fungsi persepsi sensorik
28/03/05















B.     IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
No
Tanggal/ Jam
DP
Tindakan Keperawatan
Paraf
1.
































































28 Maret 05
Pkl. 14.10
2, 3
2

1
1

1, 3


3
s  Mengobservasi tanda-tanda vital
s  Mengobservasi turgor dan membran mukosa bibir
s  Mengkaji skala nyeri klien
s  Mengajarkan dan membimbing klien teknik relaksasi napas dalam
s  Mengajak klien ngobrol dan menganjurkan keluarga untuk ngobrol dengan klien saat keluhan nyeri dirasakan klien
s  Menganjurkan dan membantu klien untuk tidur dengan posisi 3 bantal
Evaluasi :
s  Tanda-tanda vital :
-       Tidur
TD : 160/90 mmHg
P    : 84 x/ menit
R   : 21 x/ menit
S   : 36,5 0C
-       Duduk
TD : 160/90 mmHg
P    : 86 x/ menit
R   : 24 x/ menit
S   : 36,5 0C
s  Turgor kulit kembali dalam 4 detik dan membran mukosa bibir kering
s  Skala nyeri 5 (1 – 10)
s  Klien melakukan teknik napas dalam
s  Perawat ngobrol dengan klien dan keluarga
s  Klien istirahat dengan posisi semifowler

Pkl 15.00
2
s  Mengambil darah untuk pemeriksaan glukosa dua jam pp
Evaluasi :
s  Darah diambil secara intra vena 2 cc

Pkl 16.00
4

4

1
4
4

4

4

4

4
s  Mencuci tangan sebelum melakukan tindakan perawatan luka
s  Mengganti balutan menggunakan teknik aseptik dan antiseptik
s  Melakukan ganti balutan secara hati-hati
s  Mengobservasi tanda-tanda infeksi
s  Membersihkan luka dengan menggunakan NaCl 0,9 % dan mengeringkannya
s  Mengompres luka dengan gentamycin 80 mg dan gula putih
s  Menutup luka dengan menggunakan kassa kering
s  Memberikan informasi mengenai cara-cara perawatan luka
s  Mencuci tangan sesudah melakukan perawatan luka
Evaluasi :
s  Tangan perawat bersih sebelum dan sesudah melakukan ganti balutan bersih
s  Balutan luka klien diganti, dibersihkan, dikompres gentamycin 80 mg + gula dan ditutup kassa kering
s  Luka pada daerah plantar tampak kemerahan, granulasi (+) sedangkan luka pada daerah jari granulasi (-)

Pkl 17.30
4

4, 7

4
s  Memberikan terapi suntik actrapid 14 unit secara sub cutan
s  Membantu latihan ROM pada ekstimitas klien
s  Melakukan massage pada daerah sekitar luka secara perlahan

Evaluasi :
s  Actrapid diberikan 14 unit secara sub cutan
s  Klien berlatih ROM aktif dan pasif
s  Klien mengatakan merasa nyaman

Pkl 18.30
2

6


6
s  Menganjurkan klien untuk banyak minum minimal 1800 cc/ hari
s  Memberikan informasi pada klien mengenai pentingnya perawatan diri untuk orang yang sedang sakit
s  Memfasilitasi dan menggunting kuku klien
Evaluasi :
s  Klien mengatakan selalu minum banyak
s  Klien mengatakan ingin menggunting kukunya yang panjang dan kotor
s  Kuku klien pendek dan bersih

Pkl 20.00
2

5

5

5
s  Mengambil darah untuk pemeriksaan glukosa dua jam pp
s  Menjelaskan pada klien mengenai pentingnya tidur
s  Membantu memberikan posisi yang nyaman bagi klien untuk klien
s  Menganjurkan klien untuk berdoa jika akan tidur
Evaluasi :
s  Darah diambil secara intra vena 2 cc
s  Klien mengatakan jika tidak tidur dirinya menjadi lemas dan lelah
s  Klien istirahat dengan 2 bantal
s  Klien mengatakan selalu berdoa sebelum tidur


Pkl 14.00
2, 3
2
s  Mengobservasi tanda-tanda vital
s  Mengobservasi intake – output per 24 jam
Evaluasi :
s  Tanda-tanda vital :
TD : 150/90 mmHg
P    : 84 x/ menit
R   : 18 x/ menit
S   : 36,8 0C
s  Intake – output per 24 jam (28 Maret 05 pkl 14.00 – 29 Maret 05 pkl 14.00) adalah :
Intake (Oral – parenteral) 2500 cc
Output 3000 cc (menurut keluarga)

Pkl 16.00
4

4

1
1

4
4

4

4

4

4
s  Mencuci tangan sebelum melakukan tindakan perawatan luka
s  Mengganti balutan menggunakan teknik aseptik dan antiseptik
s  Melakukan ganti balutan secara hati-hati
s  Menganjurkan klien menarik napas dalam saat diganti balutan
s  Mengobservasi tanda-tanda infeksi
s  Membersihkan luka dengan menggunakan NaCl 0,9 % dan mengeringkannya
s  Mengompres luka dengan gentamycin 80 mg dan gula putih
s  Menutup luka dengan menggunakan kassa kering
s  Menjelaskan informasi mengenai cara-cara perawatan luka
s  Mencuci tangan sesudah melakukan perawatan luka
Evaluasi :
s  Tangan perawat bersih sebelum dan sesudah melakukan ganti balutan bersih
s  Klien melakukan teknik napas dalam
s  Balutan luka klien diganti, dibersihkan, dikompres gentamycin 80 mg + gula dan ditutup kassa kering
s  Luka pada daerah plantar tampak kemerahan, granulasi (+) sedangkan luka pada daerah jari granulasi (-)
s  Klien dan keluarga tampak memperhatikan penjelasan perawat

Pkl 17.30
4

4, 7
s  Memberikan terapi actrapid 16 unit secara subcutan
s  Membantu latihan ROM pada ekstimitas klien
Evaluasi :
s  Actrapid diberikan 16 unit secara subcutan
s  Klien berlatih ROM aktif dan pasif


Pkl 19.00
1
2

1, 3
7

7


7



s  Mengkaji skala nyeri
s  Mengobservasi turgor kulit dan membrane mukosa bibir
s  Mengatur posisi yang nyaman untuk klien
s  Menjelaskan pada keluarga mengenai faktor-faktor yang dapat menyebabkan injuri
s  Menganjurkan klien untuk minta bantuan keluarga atau perawat jika akan melakukan aktivitas
s  Menganjurkan klien untuk merubah posisi secara perlahan dengan bantuan keluarga atau perawat
Evaluasi
s  Skala nyeri 4 (1 – 10)
s  Turgor kulit kembali dalam waktu 4 detik, membran mukosa bibir kering
s  Klien tidur dengan posisi supine menggunakan 1 bantal
s  Keluarga mengatakan akan berhati-hati terhadap benda disekeliling yang dapat menyebabkan klien cedera
s  Klien mengatakan jika ingin sesuatu selalu minta tolong keluarga
s  Klien mengatakan akan mengubah posisi istirahatnya secara hati-hati





















C.    CATATAN PERKEMBANGAN
No
Tanggal/ Jam
DP
Catatan Perkembangan
Paraf
1.
30 Maret 05
1
S :
s  Klien mengatakan nyerinya berkurang tapi masih sakit kalau diganti balutan
s  Klien mengatakan dapat merubah posisi istirahat tanpa nyeri berlebihan
O :
s  Ekspresi muka klien tidak meringis
s  Skala nyeri 3 (1 – 10)
s  Terdapat nyeri tekan pada sekitar luka
A :
Masalah teratasi sebagian
P :
Lanjutkan intervensi
I :
s  Mengobservasi tingkat nyeri klien
s  Menganjurkan teknik relaksasi : napas dalam saat keluhan nyeri dirasakan klien
s  Mengajak klien dan keluarga ngobrol
s  Mengatur posisi klien senyaman mungkin
s  Melakukan ganti balutan dengan hati-hati
s  Melibatkan klien dan keluarga dalam penentuan jadwal aktivitas dan pemberian obat
E :
s  Skala nyeri 3 (1 – 10)
s  Klien melakukan teknik napas dalam
s  Perawat, klien dan keluarga sharing perception mengenai teknik perawatan luka ulkus
s  Klien istirahat dengan posisi 1 bantal
s  Keluarga terlibat dalam pemberian terapi klien

2.
30 Maret 05
2
S :
s  Klien mengatakan dirinya masih merasa sering haus
s  Klien mengatakan sering bunag air kecil
O :
s  Mukosa bibir lembab
s  Turgor kulit kembali dalam 4 detik
s  Tanda-tanda vital :
TD : 140/90 mmHg
P    : 82 x/ menit
R   : 20 x/ menit
S   : 36, 6 0C
A :
Masalah teratasi sebagian
P :
Lanjutkan intervensi
I :
s  Mengobservasi tanda-tanda vital setiap pergantian shif
s  Mengobservasi turgor kulit dan membran mukosa
s  Memonitor intake – output setiap 24 jam
s  Mempertahankan pemberian cairan minimal 1800 cc/ hari dengan terapi rehidrasi peroral
s  Menciptakan lingkungan yang dapat mencegah hilangnya cairan secara berlebihan dengan menyelimuti klien dengan menggunakan selimut tipis
E :
s  Tanda-tanda vital
TD : 140/90 mmHg
P    : 80 x/ menit
R   : 20 x/ menit
S   : 36, 8 0C
s  Intake dari pkl 20.00 – 06.00 adalah 5 gelas (1000 cc), Output dari pkl 20.00 – 06.00 adalah 700 cc (menurut keluarga)
s  Turgor kulit kembali dalam 4 detik dan membran mukosa lembab
s  Menurut klien minum dirinya minum 7 – 8 gelas per hari (1400 – 1600 cc)
s  Klien memakai selimut dari kain sarung

3.
30 Maret 05
3
S :
s  Klien mengatakan kepalanya sudah tidak nyeri lagi
s  Klien mengatakan nyeri kepalanya berkurang karena istirahat cukup dan posisi istirahat yang enak
O :
s  Tekanan darah 140 / 90 mmHg
s  Klien tampak lebih tenang
s  Klien tampak lebih sering beraktivitas
s  Klien istirahat dengan posisi 3 bantal (semifowler)
A :
Masalah teratasi

4.
30 Maret 05
4
S :
s  Klien mengatakan luka dikakinya masih basah
O :
s  Terdapat luka ulkus diabetikum pada daerah jari kaki bagian telunjuk kiri dan daerah plantar kiri
s  Keadaan luka masih basah
s  Terdapat jaringan nekrotik pada daerah luka
s  Pus (-)
s  Pembengkakan (+)
s  Luka tampak berwarna kemerahan
s  Terdapat adanya nyeri tekan pada daerah sekitar luka
s  Luka tercium bau amis
s  Klien mendapat terapi insulin sebanyak 16 – 16 – 14 unit/ hari
A :
Masalah teratasi sebagian
P :
Lanjutkan intervensi
I :
s  Memberikan obat metronidazole 500 mg drip
s  Mengobservasi tanda-tanda infeksi
s  Menjaga kebersihan daerah sekitar luka
E :
s  Luka pada daerah plantar tampak kemerahan, granulasi (+), pus (-) sedangkan luka pada daerah jari granulasi (-) dan pus (-)
s  Obat metronidazole diberikan secara drip 500 mg
s  Daerah sekitar luka tampka bersih

5.
30 Maret 05
5
S :
s  Klien mengatakan tidurnya nyenyak
s  Klien mengatakan nyeri berkurang
s  Klien mengatakan semalam tidur pkl 20.30 – 05.00 dan bangun hanya karena ingin kencing saja
O :
s  Skala nyeri 3 (1 – 10)
s  Klien tampak lebih sering beraktivitas
s  Wajah klien tampak segar
s  Tidak terdapat lingkaran hitam pada daerah periorbital
s  Klien tidur ± 7 – 8 jam
A :
Masalah teratasi

6.
30 Maret 05
7
S :
s  Klien mengatakan penglihatannya kabur
s  Klien mengeluh kakinya masih terasa nyeri walaupun sudah berkurang
O :
s  Klien tidak bisa membaca papan nama perawatan dalam jarak 30 cm
s  Terdapat ulkus diabetikum pada daerah kaki sebelah kiri
s  Tanda-tanda vital :
TD : 140/ 90 mmHg
P    : 82 x/ menit
R   : 20 x/ menit
S   : 36, 6 0C
s  Kekuatan otot :
      5       5


 
      5       5
A :
Masalah teratasi sebagian
P :
Lanjutkan intervensi
I :
s  Mendekatkan alat-alat yang diperlukan oleh klien
s  Menganjurkan klien untuk meminta bantuan kepada keluarga jika akan melakukan aktivitas
s  Melakukan latihan pergerakan pada kedua kaki klien baik secara aktif maupun pasif.
E :
s  Alat-alat yang dibutuhkan klien berada di meja samping tempat tidur
s  Klien mengatakan selalu meminta bantuan keluarga jika akan melakukan sesuatu
s  Klien berlatih ROM aktif dan pasif

7.
31 Maret 05
1
S :
s  Klien mengatakan nyerinya berkurang tapi masih sedikit sakit kalau diganti balutan
s  Klien mengatakan dapat merubah posisi istirahat tanpa nyeri berlebihan
O :
s  Ekspresi muka klien tidak meringis
s  Skala nyeri 3 (1 – 10)
s  Terdapat nyeri tekan pada sekitar luka
A :
Masalah teratasi sebagian
P :
Lanjutkan intervensi
I :
s  Mengobservasi tingkat nyeri klien
s  Menganjurkan teknik relaksasi : napas dalam saat keluhan nyeri dirasakan klien
s  Mengajak klien dan keluarga ngobrol
s  Mengatur posisi klien senyaman mungkin
s  Melakukan ganti balutan dengan efektif
E :
s  Skala nyeri 3 (1 – 10)
s  Klien melakukan teknik napas dalam
s  Perawat, klien dan keluarga sharing perception mengenai teknik perawatan luka ulkus
s  Klien istirahat dengan posisi 1 bantal

8.
31 Maret 05
2
S :
s  Klien mengatakan dirinya masih merasa sering haus
s  Klien mengatakan sering buang air kecil bisa sampai 7 – 8 x / hari
O :
s  Mukosa bibir lembab
s  Turgor kulit kembali dalam 4 detik
s  Tanda-tanda vital :
TD : 130/90 mmHg
P    : 86 x/ menit
R   : 22 x/ menit
S   : 36, 9 0C
A :
Masalah teratasi sebagian
P :
Lanjutkan intervensi
I :
s  Mengobservasi tanda-tanda vital
s  Mengobservasi turgor kulit dan membran mukosa
s  Memonitor intake – output setiap 24 jam
s  Mempertahankan pemberian cairan minimal 1600 cc/ hari dengan terapi rehidrasi peroral
s  Menciptakan lingkungan yang dapat mencegah hilangnya cairan secara berlebihan dengan menyelimuti klien dengan menggunakan selimut tipis
E :
s  Tanda-tanda vital
TD : 130/90 mmHg
P    : 84 x/ menit
R   : 20 x/ menit
S   : 36, 8 0C
s  Intake dari pkl 07.00 – 14.00 adalah 9 gelas (1800 cc), Output dari pkl 07.00 – 14.00 adalah 700 cc (menurut keluarga)
s  Turgor kulit kembali dalam 4 detik dan membran mukosa lembab
s  Menurut klien minum dirinya minum 7 – 8 gelas per hari (1400 – 1600 cc)
s  Klien tidak memakai selimut

9.
31 Maret 05
4
S : -
O :
s  Terdapat luka ulkus diabetikum pada daerah jari kaki bagian telunjuk kiri dan daerah plantar kiri
s  Keadaan luka masih basah
s  Terdapat jaringan nekrotik pada daerah luka
s  Pus (-)
s  Pembengkakan (+)
s  Luka tampak berwarna kemerahan
s  Terdapat adanya nyeri tekan pada daerah sekitar luka
s  Luka tercium bau amis
s  Klien mendapat terapi insulin sebanyak 16 – 16 – 14 unit/ hari
A :
Masalah teratasi sebagian
P :
Lanjutkan intervensi
I :
s  Mengobservasi tanda-tanda infeksi
s  Menjaga kebersihan daerah sekitar luka
s  Memberikan obat metronidazole 500 mg drip
E :
s  Luka pada daerah plantar tampak kemerahan, granulasi (+), pus (-) sedangkan luka pada daerah jari granulasi (-) dan pus (-)
s  Daerah sekitar luka bersih
s  Obat metronidazole diberikan secara drip 500 mg



11.
31 Maret 05
7
S :
s  Klien mengatakan penglihatannya kabur
O :
s  Klien tidak bisa membaca papan nama perawata dalam jarak 30 cm
s  Terdapat ulkus diabetikum pada daerah kaki sebelah kiri
s  Tanda-tanda vital :
TD : 140/90 mmHg
P    : 82 x/ menit
R   : 20 x/ menit
S   : 36, 6 0C
s  Kekuatan otot :
      5       5


 
      5       5
A :
Masalah teratasi sebagian
P :
Lanjutkan intervensi
I :
s  Mendekatkan alat-alat yang diperlukan oleh klien
s  Menganjurkan klien untuk meminta bantuan kepada keluarga jika akan melakukan aktivitas
s  Melakukan latihan pergerakan pada kedua kaki klien baik secara aktif maupun pasif.
E :
s  Alat-alat yang dibutuhkan klien berada di meja samping tempat tidur
s  Klien mengatakan selalu meminta bantuan keluarga jika akan melakukan sesuatu
s  Klien berlatih ROM aktif dan pasif






BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Asuhan keperawatan yang komprehensif merupakan hal penting dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada Tn. S dengan gangguan sistem endokrin : diabetes melitus tipe II (NIDDM) dengan komplikasi ulkus diabetikum a/r pears sinistra, neurophaty, nefrophaty + hipertensi stage II di Ruang Dahlia Perjan RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung. Setelah melakukan asuhan keperawatan pada Tn. S maka penyusun dapat menyimpulkan sebagi berikut :
1.      Pengkajian
Saat pengkajian ditemukan persamaan dan perbedaan antara teori dengan kasus yaitu mengenai data fisik dan psikologis. Sedangkan pada diagnosa keperawatan ditemukan diagnosa yang secara teori tidak muncul namun pada kasus muncul yaitu diagnosa gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur. Selain itu juga ada diagnosa keperawatan yang secara teori muncul, namun pada kasus tidak muncul yaitu gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, disfungsi seksual dan risiko terhadap ketidakefektifan penatalaksanaan aturan terapeutik di rumah.
2.      Perencanaan
Tahap perencanaan, penyusun menetapkan diagnosa sesuai dengan kondisi klien itu sendiri. Perencanaan yang dibuat ditujukan untuk mengatasi nyeri, merawat luka, memenuhi kebutuhan ADL, menyeimbangkan kembali deficit cairan, memenuhi kebutuhan istirahat tidur, mengatasi nyeri kepala dan meningkatkan control terhadap kemungkinan terjadinya cedera.
3.      Implementasi
Implementasi dapat dilaksanakan hampir secara keseluruhan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dengan melibatkan peran serta klien dan keluarga selama melakukan tindakan. Selain itu juga didukung oleh adanya kerja sama antara dokter, perawat ruangan dan penyusun sendiri selama melaksanakan asuhan keperawatan.
4.      Evaluasi
Tiga dari tujuh diagnosa keperawatan dapat diatasi sesuai dengan criteria waktu yang telah ditetapkan dan empat diagnosa belum teratasi secara keseluruhan, yaitu gangguan rasa nyaman : nyeri, deficit cairan, gangguan integritas kulit dan risiko injuri.

B.     Saran
Selama melakukan asuhan keperawatan pada Tn. S penyusun mencoba menguraikan saran untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan, antara lain, klien dengan ulkus diabetikum pada daerah ekstrimitas memerlukan perawatan luka ynag baik dengan memperhatikan teknik aseptik dan antiseptik untuk mempercepat proses penyembuhan luka yang pada tahap lanjut jaringan kulit akan menutup secara bertahap. Selain itu juga untuk mencegah kemungkinan terjadinya komplikasi yang lebih berat berupa keadaan septikmeia, dimana pada tahap lanjut akan menyebabkan syock septicemia dan berisiko terhadap kematian. Hal tersebut dapat dicegah dengan meminimalisasi infeksi nosokomial melalui perawatan luka yang benar dimana setiap pasien memiliki satu set balutan. Hal tersebut sekaligus mencegah kemungkinan terjadinya infeksi pada luka.

















DAFTAR PUSTAKA

Carpenito. L.J., 1999, Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan, Alih Bahasa Ester. M., Jakarta : EGC
Doengoes. M.E., Et All,.1999, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Alih Bahasa Kurniasa. I.M. Dan Sumarwati. N.M., Jakarta : EGC
Engram. B., 1999, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, Volume 3, Alih bahasa Samba. S., Jakarta : EGC
Erb, Olivieri, Kozier. 1999. Fundamental of Nursing. Kanada : by Addison-Wesley Publishing Company
Fakultas Kedokteran UI, 1999, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 1, Editor Mansjoer, dkk, Jakarta : Media Aesculapius
Ganong. William F., 1999, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 17, Editor Edisi Bahasa Indonesia Widjajakusumah. D, Jakarta : EGC
Long. B.C., 1996, Perawatan Medikal Bedah Suatu Pendekatan Proses Keperawatan, Jilid 3, Alih bahasa Yayasan Ikatan alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran, Bandung
Noer S, dkk, 1996, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I Edisi Ketiga, Jakarta : balai Penerbit FKUI
Nursalam, 2001, Proses dan Dokumentasi Keperawatan Konsep dan Praktek, Jakarta : Salemba Medika
Pearce. C.Evelyn, 1999, Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis, Jakarta : PT. Gramedia
Price. S.A., dkk, 1995, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 4, Buku 2, Alih Bahasa Peter A, Jakarta : EGC
Priharjo. R., 1996, Pengkajian Fisik Keperawatan, Jakarta : EGC
Ramali. A. dan Pamoentjak, 1994, Kamus Kedokteran : Arti dan Keterangan Istilah, Edisi Revisi, Jakarta : Djambatan
Rumahorbo. H, 1997, Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Endokrin, Jakarta : EGC
Smeltzer. S.C. dan Bare. B.G., Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Volume 2, Alih Bahasa Kuncara. H.Y., dkk, Jakarta : EGC
Syaifuddin, 1997, Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat, Edisi 2, Jakarta : EGC

Poskan Komentar