do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Kamis, 17 Maret 2016

PROPOSAL AKBID




BAB I
PENDAHULUAN
            A.        Latar Belakang
                                         Diare hingga kini masih merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada bayi dan anak-anak. saat ini morbiditas (angka kesakitan) diare di Indonesia mencapai 195 per 1000 penduduk dan angka ini  merupakan yang  tertinggi di antara negara –negara di ASEAN (kalbe.co.id).Diare juga masih merupakan masalah kesehatan yang penting di indonesia .walaupun angka mortalitasnya telah menurun tajam ,tetapi angka morbiditas masih cukup tinggi penanganan diare yang di lakukan secara baik selama ini membuat angka kematian  akibat diare dalam 20 tahun terakhir menurun tajam. Walaupun angka kematian sudah menurun tetapi angka kesakitan masih cukup tinggi .lama diare serta frekuensi diare pada penderita akut belum dapat di turunkan ( Lisa Ira,2002).
                                        Diare merupakan keadaan di mana seseorang menderita mencret-mencret, tinjanya encer,dapat bercampur darah dan lendir kadang di sertai muntah-muntah. Sehingga diare dapat menyebabkan cairan tubuh terkuras keluar melalui tinja.bila penderita diare banyak sekali kehilangan cairan tubuh maka hal ini dapat menyebabkan kematian terutama pada bayi dan anak-anak usia di bawah lima tahun (Ummualiya,2008).
                                        Dampak negatif penyakit diare pada bayi dan anak-anak antara lain adalah menghambat proses tumbuh kembang anak yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas hidup anak.penyakit diare di masyrakat indonesia lebih di kenal dengan istilah “Muntaber”. Penyakit ini mempunyai Konotasi yang mengerikan serta menimbulkan Kecemasan dan kepanikan warga masyarakat karena bila tidak segera di obati,dalam waktu singkat (± 48 jam )penderita akan meningal ( Triatmodjo ,2008).
                                        Secara klinis penyebab diare dapat di kelompokan dalam golongan 6 besar yaitu karena infeksi,malobsorsi ,alergi,keracunan,immuno defisiensi, dan penyebab lain, tetapi yang sering di temukan di lapangan ataupun klinis adalah diare yang di sebabkan infeksi dan keracunan.(Depkes RI,2002).Adapun Penebab-penyebab tersebut sangat di pengaruhi oleh berbagai faktor misalnya keadaan gizi,kebisaan atau perilaku,sanitasi lingkungan,dan sebagainya.pada tahun 2004,Diare merupakan penyakit dengan frekuensi KLB kelima terbanak setelah DBD,Campak,Tetanus Neonatorium dan keracunan makanan.
                                        Secara Khusu di Rumah Sakit umum anutapura palu pada bulan Januari –Desember tahun 2008 jumlah penyakit diare pada balita adalah 228 orang yang dirawat di ruangan Nuri, sesual dengan latar belakang yang telah di uraikan di atas maka peneliti tertarik mengangkat “ dalam .
                        B. Rumusan Masalah
                                        Berdasarakan uraian di atas, dapat di rumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah :”Bagaimana pengetahuan ibu tentang penyakit diare pada Balita (1-5 Tahun) di ruang Nuri RSU Anutapura tahun 2009 ?”
                        C. Tujuan Penelitian
                               1.  Tujuan Umum
                                        Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang penyakit              diare pada Balita (1-5 Tahun )di RSU Anutapura Pada tahun                                  2009.
                               2. Tujuan Khusus.
                                    a.  Untuk mengetahui Pengetahuan ibu tentang diare di tinjau dari                                                   umur ibu
                                    b. Untuk mengetahui Pengetahuan ibu tentang diare di tinjau dari                                                    Pendidikan ibu.
                                    c.  Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang diare di tinjau dari                                                   pekerjaan ibu.
                        D. Manfaat penelitian
                                 1. Sebagai bahan informasi bagi instansi Akademi perawatan                                      Kabupaten       Donggala.
                                 2.  Sebagai bahan Sumbangan Ilmiah yang di harapkan Dapat                                                 bermanfaat bagi pembaca dan peneliti lain.
                                 3. Bagi peneliti sendiri merupakan pengalaman berharga dalam                                               memperluas wawasan dan pengetahuan tentang                                                                       penyakit Diare.




















BAB II
TINJAUAN PUSAKA

A.    Konsep Dasar Teori Penyakit Diare
1.  Pengertian
a.       Diare adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme termasuk bakteri, virus dan parasit lainnya seperti jamur, cacing, dan protozoa (Cary and Bhatnager, 2000 mengacu pada Doonenberg, 2001).
b.      Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambah frekuensi berak lebih dari biasanya (3 atau lebih per hari) yang disertai perubahan bentuk dan konsistensi tinja dari penderita (Depkes RI, 2002).
c.       Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja yang lbih banyak dari biasanya (normal 100 – 200 ml perjam tinja) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (stengah padat), dapat pula disertai frekuensi defekasi yang meningkat (Mansur dkk).
d.      Diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari (WHO, 1980)

2.  Penyebab diare
a.       Infeksi bakteri beberapa jenis bakteri dapat termakan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dan menyebabkan diare contohnya Campy lobaker, Salmonella, Shigella dan Secherichia.
b.      Infeksi virus beberapa virus yang menyebabkan diare yaitu rota virus, Norwalt virus, Cytomegalovirus virus herpes simplex dan virus hepatitis.
c.       Intolenransi makanan contohnya pada orang yang tidak dapat mencerna komponen makanan seperti laktosa (gula dalam susu).
d.      Parasit-parasit yang masuk ke dalam tubuh memlalui makanan atau minuman dan menetap dalam sistem pencernaan. Contohnya Giardialambia, Emtamoeba histolytica dan Ceryptospordium.
e.       Reaksi obat contoh anti biotik, obat-obat tekanan darah dan antisida yang mengandung magnesium

3.  Gejala penyakit diare
Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi 4 kali atau lebih sehari, yang kadang disertai :
a.       Muntah
b.      Badan lesu atau lemah
c.       Panas
d.      Tidak nafsu makan
e.       Darah dan lendir dalam kotoran rasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan olah infeksi virus, infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja berdarah, demam penurunan nafsu makan atau kelesuan, selain itu dapat pula mengalami sakit perut dan kejang perut, serta gejala-gejala lain seperti flu misalnya agak demam nyeri otot atau kejang, dan sakit kelapa. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi. (Depkes, 2007).

4.  Jenis-jenis diare
a.       Diare akut merupakan diare yang disebabkan oleh virus yang disebut rotavirus yang ditandai dengan buang air besar lembek/cair bahkan dapat berupa air saja yang frekuensi biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari) yang berlangsung kurang dari 14 hari. Diare rotavirus ini merupakan virus usus patogen yang menduduki urutan pertama sebagai penyebab diare akut pada anak.
b.      Diare bermasalah merupakan diare yang disebabkan oleh infeksi virus, bakteeri, parasit, intoleransi laktosa, alergi, protein susu sapi, penularan secara fecal-oral, kontak dari orang ke orang atau kontak orang dengan alat rumah tangga. Diare ini umumnya diawali oleh diare cair kemudian pada hari kedua atau ketiga baru muncul darah, dengan cairan kemudian pada hari yang kedua dan ketiga baru muncul darah, dengan maupun tanpa lendir, sakit perut diikuti munculnya tenismus panas disertai hilangnya nafsu makan dan badan terasa lemah.
c.       Diare persisten merupakan diare akut yang menetap, dimana titik sentral patogenesis diare persisten adalah kerusakan mukosa usus. Penyebab diare persisten sama dengan diare akut. (Depkes RI, 2007).


5.  Patofisiologi
Proses terjadinya diare dipengaruhi dua hal pokok, yaitu konsistensi feses dan motilitas usus, umumnya terjadi akibat pengaruh keduanya gangguan proses mekanik dan enzimatik disertai gangguan mukosa, akan mempengaruhi pertukaran air dan elektonik, sehingga mempengaruhi konsistensi air dan elektronik, sehingga mempengaruhi konsistensi feses yang berbentuk peristaltik saluran cerna yang teratur akan mengakibatkan proses cerna enzimatik berjalan baik. Sedangkan peningkatan motilitas berakibat terganggunya proses cerna secara enzimatik, yang akan mempengaruhi pola defekasi.

6.  Penatalaksaan medik
Menurut Ngastiyah (1997), penatalaksaan medik penderita diare, yaiu:
a.       Pemberian cairan: jenis cairan, jumlah pemberiannya. Pemberian cairan pada pasien diare, harus memperhatikan derajat dehidrasinya dan keadaan umum.
1.      Jenis cairan
Pada diare akut yang ringan, dapat diberikan oralit. Diberikan cairan RL bila tidak tersedia dapat diberikan cairan NaCl isotonik ditambah satu ampul natrium bikarbonat 7,5%.
2.      Jumlah cairan
Jumlah cairan yang diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang dikeluarkan
b.      Pengobatan diabetik
Untuk anak di bawah umur satu tahun, dan di atas satu tahun, dan berat badan kurang dari 7 kg, jenis makanan yang diberikan yaitu:
1.      Susu (ASI atau formula yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak tidak jenuh, misalnya LLM, amiron atau jenis lainnya).
2.      Makanan setengah padat (bubur) atau makanan padat (nasi tim), bila anak tidak mau minum susu karena dirumah tidak bisa diberikan susu.
3.      Susu khusus yang disesuaikan dengtan kelainan ditemukan, misalnya susu tidak mengandung laktosa atau asam lemak yang berantai sedang atau tidak jenuh.
c.       Obat-obatan
Prinsip pengobata diare adalah menggantikan cairan yang hilang melalui tinja dengan atau tanpa muntah dengan cairan yang mengandung elektronik dan glukosa atau karbohidrat lain (gula, tepung, tepung beras dan sebagainya).
1.      Obat anti sekresi
Asetasol 25 mg/hari dengan dosis minimum 30 mg, klorpromasin dosis 0,5 – 1 mg/kg BB/hari.
2.      Obat spasmolitik dan lain-lain
Umumnya obat spasmolitik seperti papaverin, ekstrabeladona, opium loperamid tidak digunakan untuk mengatasi diare akut lagi. Obat pengeras tinja seperti kaolin, chracoal, tidak ada manfaatnya untuk mengatasi diare, sehingga tidak diberikan lagi.
3.      Antibiotik
Umumnya antibiotik tidak dapat diberikan, tidak diketahui penyebab yang jelas. Bila penyebabnya kolera, diberikan tetraksilin 25 – 50 mg/kgBB/hari. Antibiotik juga diberikan bila terdapat penyakit otitis media akut, faringitis, bronchitis atau bronchopneumonia.
4.      Pemberian tablet zink pada pasien diare dalam http://ordinaryubay.wordpress.com
·                    Untuk bayi usia 2 – 5 bulan, berikan setelah tablet zink (10 mg) sekali sehari selama 10 hari berturut-turut.
·                    Untuk anak usia 6 bulan – 12 bulan, berikan 1 tablet zink (20 mg) sekali sehari selama 10 hari beturut-turut.
·                    Larutkan tablet tersebut dengan sedikit (beberapa tetes) air matang atau ASI dalam sendok teh.
·                    Jangan mencampur tablet zink dengan oralit/LGGG.
·                    Tablet harus diberikan selama 10 hari penuh (walaupun diare telah berhenti sebelum 10 hari).
·                    Apabila anak muntah sekitar setengah jam setelah pemberian tablet zink, berikan lagi tablet zink dengan cara memberikan potongan lebih kecil dan berikan beberapa kali hingga satu dosis penuh.
·                    Bila anak menderita dehidrasi berat dan memerlukan cairan infus, tetap berikan tablet zink segera setelah anak dapat minum atau makan.



Menurut Ngastiyah, (1997) bagian-bagian penting dalam perawatan diare adalah:
A.  Mencegah terjadinya dehidrasi
                           Dehidrasi biasanya dapat dicegah dirumah, bila anak minum cairan-cairan ekstra segera setelah diare timbul. Seorang anak sebaiknya diberikan satu dari cairan-cairan yang dianjurkan olah pengobatan diarea di rumah. Cairan-cairan ini meliputi larutan oralit, cairan-cairan rumah tangga (seperti sop, air beras dan minuman-minuman yogurt) dan air putih. Larutan oralit dapat digunakan untuk mencegah maupun mengobati dehidrasi. Bila anak berumur kurang dari 6 bulan dan belum menggunakan makanan padat, maka sebaiknya diberikan larutan oralit atau ar daripada cairan tumah tangga.
B.   Mengobati dehidrasi
                           Bila terjadi dehidrasi maka anak sebaiknya dibawa ke petugas kesehatan atau pusat kesehatan masyarakat untuk mendapatkan pengobatan. Pengobatan terbaik untuk dehidrasi adalah terapi oral dengan suatu larutan yang dibuat dengan oralit. Larutan oralit saja dapat digunakan untuk merehidrasi 95% atau lebih pasien dengan dehidrasi. Pasien dengan dehidrasi berat pada awalnya membuthuhkan. Rehidrasi dengan cairan-cairan intravena, tetapi sebaiknya diberikan larutan oralit sebagai tambahan terhadap cairan-cairan intravena segera setelah mereka dapat minum. Sebaiknya hanya digunakan larutan oralit saja bila tanda-tanda dehidrasi berat telah hilang.
C.   Pemberian makanan
                           Pemberian makana selama diae harus dapat menyediakan zat-zat gizi yang diperlukan olah anak-anak untuk pertumbuhan dan menjadi kuat dan mencegah kehilangan berat badan. Cairan-cairan yang diberikan untuk mencegah atau mengobati dehidrasi, seperti larutan oralit atau cairan rumah tangga yang dianjurkn, tidak menyediakan zat-zat gizi yang dibutuhkan, pemberian makanan ang sering dengan jumlah makanan bergizi dan ade kuat adalah sangat penting
                           Anak-anak yang masih menyusui pada ibunya, sebaiknya diberikan ASI dnegan sering. Anak-nak lain harus diberikan susu yang biasa mereka gunakan. Anak-nak yang berumur 6 bulan atau lebih tua (atau bayi-bayi yang telah menggunakan makanan padat) harus sering diberikan makanan dengan jumlah bahan bergizi yang sedikit dan mudah dicernakan. Setelah diare berhenti, makanan ekstra sebaiknya diberikan setiap hari selama 2 minggu untuk membantu anak-anak mendapatkan kembali berat badannya yang hilang selama sakit.

7. Perawatan
Menurut Ngastiyah, (1997), penyakit diare walaupun tidak semua menular (misalnya diare karena faktor malabsorbsi), tetapi perlu perawatan di kamar yang terpisah dengan perlengkapan cuci tangan untuk untuk mencegah infeksi (selalu tersedia desinfektan dan air bersih) serta tempat pakaian kototr tersendiri.
Masalah pasien diare yang perlu diperhatikan ialah resiko terjadi gangguan sirkulasi darah, kebutuhan nutrisi, resiko terjadi komplikasi gangguan rasa aman dan nyaman, kurangnya pengetahuan orang mengenai penyakit diare.

8. Komplikasi
            Menurut Ngastiyah, (1997), akibat diare kahilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapa terjadi berbagai komplikasi sebagai berikut:
a.       Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik, hipertonik).
b.      Renjatan hipovolemik
c.       Hipokalemia.
d.      Hipogligkemia
e.       Intolenransi skunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim laktosa
f.       Kejang terjadi pada dehidrasi hipertonik
g.      Mall nutrisi protein.
B.     Konsep Dasar yang berhubungan dengan Variabel
1. Pengetahuan
Pengetahuan menurut Notoadmodjo, (2003) adalah suatu hasil setelah seseorang melakukan pengideraan terhadap suatu objek terntentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakti penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melaui mata dan telinga. Pengetahuan atau kongnitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over bhaviour). Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan labih baik dari pada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.
a.       Tahu (know)
                Tahu di artikan sebagai meningkat materi yang telah di pelajari sebelumnya,termasuk pengetahuan dalam tingkat ini adalah mengingat kembali (Recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan yang di pelajari atau rangsangan yang telah di terima,oleh sebab itu ini adalah merupakan tingkat yang paling rendah.kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang di pelajari antara lain menyebutkan menguraikan,mengidentifikasi dan sebagainya.
b.      Memahami (Comprehension)
                Memahami diartiakan sebagai kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyek yang di ketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.orang yang telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya tentang obyek yang di pelajari.
c.       Aplikasi (Aplication)
                Aplikasi dapat di artikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah di pelajari pada situasi dan kondisi sebenarnya.Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi penggunaan hukum-hukum ,rumus,metode,prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
d.      Analisis (Analysis)
                Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau obyek kedalam komponen-komponen,tetapi masih di dalam satu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitanya satu sama lain.
e.       Sintesis (Synthesis)
                Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk menyusun,merencanakan,meringkaskan ,menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan.
f.       Evaluasi (Evaluation)
                Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian suatu obyek.penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria-kriteria yang ada.

2. Umur
                        Umur adalah usia seseorang sebagaimana yang di tunjukan dengan hari kelahiranya atau lamanya dia hidup sejak tanggal lahirnya. Dengan bertambahnya usia maka perkembangan seseorang berlangsung terus hingga kematangan –kematangan tertentu. Bertambahnya usia seseorang juga menumbuhkan kapasitas intelektual (Soemanto, 1998).
                        Purwanto (1999) menyimpulkan bahwa makin bertambah umur makin banyak nampak jelas dalam kematangan proses berpikir, struktur intelejensi mengalami sesuatu transformasi kontinyu sebagai hasil interaksi antara kematangan dan pengaruh luar berbentuk pengalaman.
                        Menurut Muchsin (1996) perkembangan usia di pandang sebagai suatu keadaan yang menjadi dasar kematangan dan perkembangan seseorang .kematangan individu dapat dilihat secara subyektif dengan periode umur sehingga bebagai proses pengalaman ,pengetahuan ,ketrampilan ,kemandirian terkait sejalan dengan bertambahnya umur individu.
                        Menurut Long (1996), berpendapat semakin tua umur seseorang semakin Konstruktif dalam menggunakan koping terhadap masalah yang di hadapai.semakin mudah umur seseorang dalam menghadapi masalah maka akan sangat mempengaruhi konsep dirinya .Adapun krteria umur menurut Gouldadalah masa dewasa dini (18-40 Tahun),Dewasa madya (41-60 Tahun),dewasa lanjut ( > 60 Tahun).
3. Pendidikan
                        Pendidikan adalah suatu proses ilmiah yang terjadi pada manusia.pendidikan merupakan suatu “Conditio Sine Quanum” dan telah ada sejak peradaban umat manusia secara umum pendidikan dapat di artikan sebagai  usaha manusia untuk memebina kepribadiannya sesuai dengan nilaidalam msyarakat dan kebudayaan.menurut “dictionary of education” pendidikan dapat di artikan pendidikan mempakan suatu prosez di mna seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk tingkah laku lainya dan kebudayaan (Handoyo (1997).
                        Pendapat Hastodo (2001)bahwa makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin muda orang tersebut menerima informasi sehingga masi banyak pula pengetahua yang di milikinya.
                        Demikian pula sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru di perkenalkan. Notoatmodjo (1996) yang mengatakan bahwa semakin tinggi pendidikan, semakin tinggi pula tingkat pengetahuanya.


4. Pekerjaan
                        Pekerjaan adalah merupakan kegiatan utama atau sumber penghasil an utama dalam kehidupan manusia  (Narkoba , 2002 ) Notoatmodjo 2000 memasukan kesibukan pekerjaan dalam komponen predisposing yang mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan,sistem nilai di anut masyarakat tinggi pendidikan dan tingkat sosial ekonomi.yang mempengaruhi perilaku.seseorang atau kelompok untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan .dalam penelitian Notoatmodjo menyebutkan bahwa pekerjaan sehari-hari membuat seseorang sibuk sehingga tidak sempat memanfaatkan pelayanan kesehatan.



















BAB III
METODE PENELITIAN
           
A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini bersifat deskriptif. Variabel penelitian ini adalah (umur, pendidikan, pekerjaan ) dan pengetahuan ibu tentang penyakit diare yang mencakup : pengertian, penyebap, gejala, tindakan, pengobatan/ perawatan.

B.     Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSU Anutapura palu yaitu di ruangan Nuri, penelitian ini di lakukan pada bulan Juli 2012 selama dua minggu.

C.     Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam peneltian ini adalah semua ibu yang membawa anak balitanya yang di rawat di ruang Nuri RSU Anutapura palu tahun 2012.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah semua ibu, dari anak penderita diare yang di rawat di ruang Nuri RSU Anutapura palu pada bulan Juli tahun 2012. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik Accidental Sampling.
Besar sampel dalam penelitian ini adalah 57 orang, di peroleh dari hasil perhitungan dengan menggunakan rumus Slovin.

 

                                        
Keterangan :
N= Jumlah populasi
d= Derajat ketepatan (0,1)
n= Besar sampel



                                  n =       130     
                                        1 + 130  (0,12)

                                 n =       130    
                                        1 + 130 (0,01)

                                 n =        130
                                            1+ 1,3

                                 n = 130
                                        2,3

                                 n = 57
                                 Jadi, jumlah sampel secara keseluruhan adalah 57 responden.

D.    Variabel dan Defenisi Operasional
1. Variabel Dependen
Pengetahuan Ibu
a.Defenisi               : Pemahaman responden tentang penyakit diare yang mencakup : Pengertian, Penyebap, Gejala, Tindakan perawatan / pengobatan
b.Cara ukur                 : Pengisian Quesioner
c.Alat ukur                  : Quesioner
d.Skala ukur                : Ordinal
e.Hasil ikur                  : 0 = Kurang Baik ( Jika score < 7 ) 1 = Baik ( Jika score > 7)
2. Variabel Independen

Umur
a.Defenisi                   : Kurun waktu yang telah di lalui oleh seseorang sejak ia di lahirkan sampai terakhir saat penelitian ini dilakukan
b.Cara ukur                 : Pengisian Quesioner
c.Alat ukur                  : Quesioner
d.Skala ukur                : Ordinal
e. Hasil ukur             : 1 = 18-40 tahun ( dewasa Dini ) 2 = 41-60 tshun ( Dewasa Madya ) 3 = > 60 tahun ( Dewasa Lanjut )

Menurut Gould

Pendidikan
a.Defenisi                    : Pendidikan formal yang di dapat melalui bangku sekolah berdasarkan kepemilikan  ijazah terakhir.
b.Alat ukur                   : Pengisian Quesioner
c.Cara ukur                   : Quesioner
d.Skala ukur                 : Ordinal
e. Hasil ukur                 : Rendah ( < SMP ) Tinggi ( > SMA )

Pekerjaan
a.Defenisi                    : Pendapatan merupakan kegiatan dan mempunyai penghasilan utama dalam kehidupan responden.
b.Cara ukur                  : Pengisian Quesioner

c.Alat ukur                  : Quesiener
d.Skala ukur                : Nominal
e.Hasil ukur                 : 0 = Bekerja (Pegawai, Wiraswasta, Petani, Buruh, Penjahit) 1 = Tidak bekerja ( URT )
D. Pengumpulan Data
    1. Data Primer adalah data yang di kumpulkan langsung dengan wawancara dan menggunakan kuesioner sebagai acuan pertanyaan yang di ajukan pada responden
    2. Data skunder adalah data yang di peroleh dari pihak RSU Anutapura Palu
F. Pengolahan dan Analisa Data
    1. Pengolaan Data
        a. Editing Data, Yaitu : memeriksa adanya kesalahan atau kekurangan data yang di peroleh dari lapangan.
        b. Coding, Yaitu pemberian nomor kode atau bobot pada jawaban yang bersifat kategori
        c. Tabulating data, yaitu menghitung dan mentabulasi data secara manual.
        d. Cleaning Data, yaitu melakukan pengecekan kembali bila ada kesalahan yang di hitung.
        e. DescribingData, yaitu menggambarkan atau menjelaskan data yang sudah di kumpulkan.
     2. Analisa Data
          Analisa data di lakukan secara deskriptif dengan menggunakan rumus (Sujana, 1991)   
   f
n
      P =                 N       x 100%
  Keterangan : P : Proporsi
                       F : Frekuensi
                       N : Sampel
G. Penyajian Data
     Data di sajikan dalam bentuk tabel dan nasari.









BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Penelitian
          Untuk mengetahui gambaran distribusoi  masing-masing variabel tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Analisis univariat
a.   Pengetahuan Ibu
           pengetahuan ibu tentang penyakit diare pada balita. Pengethuan dikategorikan berdasarkan nilai 0 kurang baik (jika score  67%) dan 1 = baik (jika scor  67%). Hasil anila dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 1
Diatribusi Responden Menurut Pengetahuan Ibu
di Ruang Nuri RSU Anutapura Palu
Tahun 2012

NO
Pengetahuan
Frekuensi
(f)
Persentase (%)
1
2
Baik
Kurang Baik
38
19
66, 67
33, 33

Jumlah
57
100%
Sumber : Data Primer 2012
           Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa pengetahuan responden tentang penyakit diare yang memiliki pengetahuan baik adalah sebanyak 66, 67%, dan yang memiliki pengetahuan kurang baik adalah sebanyak 33,33%.





b. Umur Ib u
Tabel 2
Diatribusi Responden Menurut Umur Ibu
di Ruang Nuri RSU Anutapura Palu
Tahun 2012

NO
Umur
Frekuensi
(f)
Persentase (%)
1
2
3
Dewasa Dini
Dewasa Madya
Dewasa Lanjut
30
17
10
52, 64
29,82
17,54

Jumlah
57
100%
Sumber : Data Primer 2012

           Berdasarkan pada tabel 2, dapat dilihat responden paling banyak ditemukan pada dewasa dini, yaitu berjumlah 30 orang (52,64%), dan responden yang paling sedikit ditemukan pada dewasa lanjut yaitu berjumlah 10 orang (17,54)

c.  Pendidikan Ibu
Tabel 3
Diatribusi Responden Menurut Pendidikan
di Ruang Nuri RSU Anutapura Palu
Tahun 2012
NO
Pendidikan
Frekuensi
(f)
Persentase (%)
1
2
 SMP
 SMA
26
31
45,61
54,39

Jumlah
57
100%
Sumber : Data Primer 2012
     Berdasarkan pada tabel 3dapat dilihat bahwa pendidikan responden yang paling banyak adalah  SMA sebanyak 31 orang (54,39%) dan pengetahuan paling sedikit adalah yaitu  SMP sebanyak 26 orang (45,61%)
d.      Pekerjaan Ibu
Tabel 4
Diatribusi Responden Menurut Pekerjaan
di Ruang Nuri RSU Anutapura Palu
Tahun 2012
NO
Pekerjaan
Frekuensi
(f)
Persentase (%)
1
2
Bekerja
Tidak Bekerja
27
30
47,37
52,63

Jumlah
57
100%
Sumber : Data Primer 2012
           Berdasarkan pada tabel 4, dapat dilihat bahwa responden yang bekerja sebanyak 27 orang (47,37%) sedangkan yang tidak bekerja sebanyak 30 orang (52,63%).

2.      Analisa Bivariat
a. Pengetahuan Berdasarkan Umur
           Untuk distribusi responden menurut umur dan pengetahuan responden dapat dilihat tabel berikut

Tabel 5
Diatribusi Responden Menurut Pengetahuan Ibu Tentang Penyakit Diare
Pada Balita (1-5 tahun) Berdasarkan Umur di Ruang Nuri
RSU Anutapura Palu Tahun 2012
NO
Umur
Pengetahuan Ibu Tentang Penyakit Diare Pada Balita
Total
Baik
Kurang Baik
F
%
F
%
N
%
1
2
3
Dewasa Dini
Dewasa Madya
Dewasa Lanjut
27
7
4
90
41,18
40
3
10
6
10
58,82
60
30
15
12
100
100
100
Sumber : Data Primer 2012

           Berdasarkan tabel 5 diatas terlihat bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik paling banyak pada dewasa dini sebanyak 27 orang (90%) sedangkan responden yang memiliki pengatuan kurang baik terdapat pada Dewasa dini sejumlah 3 orang (10%).

b.   Pengetahuan berdasarkan pendlidikan

Tabel 6
Diatribusi Responden Menurut Pengetahuan Ibu Tentang Penyakit Diare
Pada Balita (1-5 tahun) Berdasarkan Pendlidikan di Ruang Nuri
RSU Anutapura Palu Tahun 2012

NO
Pendidikan
Pengetahuan Ibu Tentang Penyakit Diare Pada Balita
Total
Baik
Kurang Baik
F
%
F
%
N
%
1
2
Dewasa Dini
Dewasa Madya
11
27
42,30
87,10

15
4

57,70
12,90
26
31
100
100
Sumber : Data Primer 2012
          
           Berdasarkan tabel 6 di atas terlihat bahwa responden yang memiliki tingkat pengetahauan baik paling banyak yaitu pendidikan SMA berjumlah 27 orang (87,10), sedangkan responden yang memiliki tingkat pengetahuan kurang baik paling banyak berpendidikan  SMP yaitu berjumlah 11 orang (42,30).






c.       Pengetahuan Berdasarkan Pekerjaan


Tabel 7
Diatribusi Responden Menurut Pengetahuan Ibu Tentang Penyakit Diare
Pada Balita (1-5 tahun) Berdasarkan pekerjaan di Ruang Nuri
RSU Anutapura Palu Tahun 2012
NO
Pekerjaan
Pengetahuan Ibu Tentang Penyakit Diare Pada Balita
Total
Baik
Kurang Baik
F
%
F
%
N
%
1
2
Bekerja
Tidak bekerja
20
21
74,18
70

7
9

25,92
30
27
30
100
100
Sumber : Data Primer 2012
                           Berdasarkan tabel 7 di atas terlihat bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik paling banyak terdapat  pada responden yang tidak bekerja yaitu  berjumlah 21 orang ( 70%), sedangkan responden yang memiliki pengetahuan kurang baik terdapat pada responden yang berjumlah 7 orang (25,92%).
B.     Pembahasan
1. Pengetahuan berdasarkan Umur
       Hasil penelitian berdasarkan umur memperlihatkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik paling banyak yaitu umur 18-40 tahun sebanyak 27 orang (90%), sedangkan responden yang memiliki pengetahuan kurang baik banyak pada umur 41-60 tahun sejumlah 10 orang (58,82%).
       Menurut pendapat peneliti, didapatkannya ibu yang memiliki pengetahuan baik paling banyak 18-40 tahun karena pada umur tersebut pada ibu sudah matang dalam proses berpikir serta struktur intelegensinya sudah banyak mengalami perubahan dan dengan adanya pengaruh dari luar yang berbentuk suatu pengalaman bagi responden tersebut. Dan didapatkannya ibu yang memiliki pengetahuan kurang baik pada umur 41-60 tahun. Hal ini disebabkan karena kurangnya wawasan dan kurangnya rasa keingintahuan responden tentang kesehatan terutama penyakit diare.
       Menurut Muchsin (1996) perkembangan usia dipandang sebagai suatu keadaan yang menjadi dasar kematangan dan perkembangan seseorang.
Kematangan individu dapat dilihat secara subjektif dengan periode umur sehingga berbagai proses pengalaman, pengetahuan, keterampilan, kemandirian terkait sejalan dengan bertambahnya umur individu.
2. Pengetahuan Berdasarkan Pendidikan
       Berdasarkan dari hasil analisis bivariat didapatkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik paling banyak yaitu berpendidikan   SMA berjumlah 27 orang (87,10%) sedangkan responden yang memiliki pengetahuan kurang baik paling banyak berpendidikan  SMP yaitu berjumlah 15 orang (57,70%). Menurut pendapat peneliti hal ini disebabkan makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki.
       Pernyataan tersebut diatas sesuai teori yang dikemukakan oleh Hastono (2001) yang mengatakan bahwa makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki.
3. Pengetahuan Berdasarkan Pekerjaan
       Bedasarkan dari hasil analisis bivariat didapatkan data bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik terdapat pada responden yang tidak bekerja 21 orang (70%) dan responden yang memiliki pengetahuan kurang baik terdapat pada responden yang bekerja yaitu 7 orang (25,92%). Menurut pendapat peneliti responden yang tidak bekerja memiliki pengetahuan yang baik dikarenakan kurangnya kesibukan mereka sehari-hari sehingga mereka bisa menyempatkan diri serta rajin mencari (mendengarkan) informasi tentang kesehatan baik dari media massa maupun penyuluhan yang dilakukan tenaga kesehatan yang berhubungan dengan penyakit diare. Begitupun sebaliknya responden yang bekerja memiliki pengetahuan kurang baik disebabkab karena kesibukan mereka sehari-hari, sehingga mereka kurang mendapatkan informasi tentang masalah kesehatan yang berhubungan dengan penyakit diare.
       Notoatmodjo 2000 memasukkan kesibukan pekerjaan dalam komponen predisposing yang mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai dianut masyarakat tinggi pendidikan dan tingkat sosial ekonomi. Yang mempengaruhi perilaku seseorang atau kelompok untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan.

























                        BAB V
                             KESIMPULAN DAN SARAN
                       
A.  Kesimpulan
        Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka penulis mencoba mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1.    Berdasarkan penelitian dan penilaian memperlihatkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik adalah sebanyak  66,67%           dan memiliki pengetahuan kurang baik sebanyak 33,33%.
2.   a.      Berdasarkan penelitian dan penilaian memperlihatkan bahwa                                                         responden yang memilik pengetahuan baik paling banyak terdapat pada umur 18-40 tahun sebanyak 27 orang (90%)sedangkan responden memiliki pengetahuan kurang baik terdapat pada umur 41-60 tahun sejumlah 10 orang  (58,82%)..
b. Berdasarkan penelitian dan penilaian memperlihatkan bahwa                          responden yang memiliki pengetahuan baik paling banyak yaitu                              berpendidikan ≥ SMA berjumlah 27 orang (87,10%), sedangkan                                     responden yang memiliki pengetahuan kurang baik paling banyak        berpendidikan ≤ SMP yaitu berjumlah 15 orang (57,70%).
c.      Berdasarkan penelitian dan penilaian memperlihatkan bahwa                                                         responden yang memiliki pengetahuan baik paling banyak terdapat pada responden yang tidak bekerja yaitu berjumlah 21 orang (70%),sedangkan responden yang memiliki pengetahuan kurang baik terdapat pada responden yang bekerja yaitu 7 orang                     (25,92%).
B.     Saran
       
        Dari kesimpulan di atas maka penulis memberikan saran-saran sebagai berikut :

1. Bagi rumah sakit di harapkan dapat meningkatkan  penyuluhan kepada  pasien  dan  orang  tua  maupun  keluarga  klien  yang berkunjung ke ruang nuri sehingga dapat mengatasi dan mencegah terjadinya diare yang lebih parah serta  dapat  meningkatkan   perilaku  hidup  sehat.
2. Bagi institusi Akademi di harpakan agar dapat membekali peserta didiknya  dengan   kemampuan   melakukan  penyuluhan  tenteng diare.
3. Bagi peneliti selanjutnya di harapkan dapat mengembangkan penelitian ini dengan menggunakan variabel yang lebih luas seperti penyebab, gejala, tindakan, pengobatan/perawatan.


Posting Komentar