do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Selasa, 08 Maret 2016

Pemindahan Peserta Kariya Dari Rumah Ke Panggung



Makalah Muatan Lokal

“ Kafosampu ( Pemindahan Peserta Kariya Dari Rumah Ke Panggung ) ”



Disusun Oleh:
Nama                   :
Kelas                    : X-7
Guru Pembimbing :


Tahun Pelajaran 2016 / 2017
Kata Pengantar

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Makalah ini dengan Judul “Kafosampu ( Pemindahan Peserta Kariya dari Rumah ke Panggung )”.
Saya menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, oleh karena itu saya terbuka untuk semua kritik dan saran.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat kepada para pembaca, walau pun masih terdapat kekeliruan baik isi maupun struktur, tetapi sebagai pembaca yang baik tentu mau menerima kesalahan dan kekeliruan orang lain untuk diperbaiki dan juga mau menerima kebenaran orang lain sebagai bahan masukan.

Raha,  Januari 2016

Penulis









Daftar Isi

Halaman Judul . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . i
Kata Pengantar. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ii
Daftar Isi. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . iii
BAB 1 PENDAHULUAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .1
1.1.         Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
1.2.         Rumusan Masalah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
1.3.         Tujuan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  2
1.4.         Manfaat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  2
BAB 2 PEMBAHASAN. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .3
2.1. Pengertian Kafosampu. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  32.2. Prosesi Upacara Adat Kafosampu. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  3
BAB 3 PENUTUP. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5

3.1. Kesimpulan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .5

3.2. Saran. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 5
Daftar Pustaka. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .6









BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.        Latar Belakang
Deskripsi tentang Upacara Adat Kariya dalam tulisan terinspirasi oleh fenomena dan kondisi zaman yang semakin berkembang yaitu adanya kecenderungan generasi muda yang tidak memahami dan mengilhami kandungan filosofi dari kegiatan upacara adat.
          Fenomena ini melahirkan kekhawatiran bagi generasi muda kedepan bahwa dalam perjalanannya nilai-nilai budaya yang kita miliki hanya dapat tampil sebagai suatu kisah sejarah yang dapat dibaca. Kiranya menjadi acuan generasi mendatang sehingga nilai-nilai budaya yang kita miliki tidak luntur akan panas, tidak lapuh akan hujan dan tidak bergeser karena kemajuan.
          Terpaan transformasi dan globalisasi telah mengubah watak dan gaya hidup manusia sehingga niali-nilai budaya secara berlahan-lahan mulai ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya.  Proses ini bukan hanya pada aspek ketidakpahaman terhadap nilai-nilai budaya, tetapi yang paling mendasar muncul suatu anggapan dari sebahagian besar generasi muda bahwa upacara adat dan nilai-nilai tradisional dianggap bi’da, ketinggalan zaman, kampungan, dan tidak penting bagi mereka.  Fenomena ini cepat atau lambat akan memengaruhi kelestarian nilai-nilai budaya daerah yang menjadi kebanggaan dan kebesaran bangsa.
          Rekontruksi kebudayaan masa lampau adalah merupakan tanggung jawab semua pihak. Lahirnya pemikiran untuk mendokumenkan upacara adat Kariya dalam sebuah tulisan adalah suatu gagasan yang harus dikembangkan dan dipertahankan untuk menjaga kelestarian nilai-nilai budaya.

1.2.        Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang ditulis tadi, maka dapat ditarik rumusan masalah, diantaranya :

1.     Apa pengertian dari Kafosampu?
2.     Bagaimana Prosesi Upacara Adat Kariya Kafosampu ( Pemindahan Peserta Kariya dari Rumah ke Panggung )?

1.3.        Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1.     Mengetahui pengertian dari Kafosampu.
2.     Mengetahui prosesi upacara adat kariya Kafosampu ( Pemindahan peserta kariya dari rumah ke panggung )

1.4.        Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah :
1.      Agar generasi muda dapat mengetahui prosesi upacara adat kariya kafosampu
2.     Agar generasi muda mampu mempertahankan kelestarian nilai-nilai budaya upacara adat kariya.









BAB 2
PEMBAHASAN

2.1.        Pengertian Kafosampu
Kafosampu adalah pemindahan peserta Kariya dari rumah ke panggung setelah proses kalempagi dilaksanakan. Setelah para gadis duduk dan liln-lilin  “Sultaru” menyala, muncul ritual “Kafotanda”. Ritual ini dilakukan oleh orang tua (modhi) yang disebut “Fokantandano”, sebagai tanda selamat telah selesai atau melewati acara pingitan kepada para gadis yang dipingit.
Acara puncak pada malam “Kafosampu” adalah para gadis yang dipingit menari diatas panggung. Tarian ini didahului dengan menarinya “sumareno” (yang membuka acara tari). Diiringi dengan tabuhan gendang oleh “Karia kogandano”. Para gadis menari dengan osamba (selendang putih). Selanjutnya pada saat menari, para gadis mendapatkan hadiah dari para pengunjung atau para penonton, baik keluarga, teman, atau kerabat dekat. Proses pemberian hadiah adalah dengan melemparkan hadiah yang akan diberikan kepada gadis yang dipingit saat ia menari. Seperti itulah, para gadis menari satu persatudari matansala (pimpinan) sampai selesai.

2.2.        Prosesi Upacara Adat Kariya Kafosampu
Pada hari keempat menjelang magrib pada gadis pingitan siap dikeluarkan dari rumah dan atau ruang pingitan ke tempat tertentu yang disebut Bhawono Koruma (Panggung). Pada waktu mereka diantar ke panggung tidak boleh injak atau sentuh tanah. Biasanya menggunakan bentangan kain putih dari rumah hingga sampai di panggung, tetapi dapat juga di soda dan atau di papa oleh dua orang laki-laki yang berasal dari lingkaran keluarga dan masih hidup kedua orang tuanya.
Pada waktu diantar di bhawono koruma (panggung) para peserta karya (pingit) tidak boleh membuka mata sebagai isyarat kekhusyukan menuju tempat bertandang dipanggung (Bhawono Koruma).
Di depan Bhawono Koruma telah menunggu gadis-gadis lain yang telah dipilih dan diberi tanggung jawab duduk berjejer dalam keadaan bersimpuh. Jumlahnya tergantung jumlah peserta yang dipingit.
Peserta karya duduk bersimpuh diatas panggung (Bhawono Koruma) dengan khusyuk. Mereka tidak boleh membuka mata sampai pada pembacaan doa. Proses ini merupakan isyarat bahwa peserta karya dianalogikan bayi yang baru lahir dari kandungan ibunya. Peserta kariya dapat membuka mata setelah pembacaan doa dengan harapan bahwa mereka telah siap untuk menghadapi dan menjalani kehidupan dunia yang penuh dengan tantangan. Doa tersebut merupakan bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar para peserta kariya dapat diberikan keimanan yang kuat dalam menjalani kehidupannya.
Gadis-gadis yang mendampingi peserta karya harus yang masih hidup kedua orang tuanya Mereka bertugas memegang sulutaru (semacam pohon terang yang terbuat dari kertas warna-warni dan dipuncaknya dipasangkan lilin yang menyala).
Makna sulutaru adalah berlambang cahaya atau Nur Illahi yang akan menjadi penentu dalam hidup para peserta yang di karya (pinggit) dari sejak lahir sampai menuju akhirat nanti (Sido Thamrin, Juni 2007).
Pengertian lain dari sulutaru adalah merupakan isyarat, harapan dari peserta karya agar kedepan memperoleh jalan hidup yang lebih cerah. Oleh karena itu, nyala lilin di pucuk Sulutaru menjadi simbol masa depannya.









BAB 3
PENUTUP

3.1.          KESIMPULAN


1.      Kafosampu adalah pemindahan peserta Kariya dari rumah ke panggung setelah proses kalempagi dilaksanakan.
2.     Sulutaru adalah merupakan isyarat, harapan dari peserta karya agar kedepan memperoleh jalan hidup yang lebih cerah. Oleh karena itu, nyala lilin di pucuk Sulutaru menjadi simbol masa depannya.
3.      Makna sulutaru adalah berlambang cahaya atau Nur Illahi yang akan menjadi penentu dalam hidup para peserta yang di karya (pinggit) dari sejak lahir sampai menuju akhirat nanti.


3.2.          SARAN


Sebaiknya generasi muda dapat mengetahui prosesi upacara adat kariya kafosampu dan mampu mempertahankan kelestarian nilai-nilai budaya upacara adat kariya.








Daftar Pustaka

Kimi Batoa, La. 1991. Sejarah Kerajaan Daerah Muna. Astri. Raha.
Burhanuddin. B dan Haeba Syamsuddin. 1997/1978. Sejarah Daerah Sulawesi Tenggara. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah.
Anwar, L. E, 1980. Sejarah Muna, Tabir Rahasia Kakak dan Beradik. Ujung Pandang.
Poskan Komentar