do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Jumat, 27 September 2013

Plus Minus Ecommerce

Transaksi online (E-commerce) secara garis besar bermula dari fitur-fitur dan kemudahan berkomunikasi yang ditawarkan oleh Multiply, Facebook, dan forum Kaskus yang dikenal sebagai e-commerce consumer to consumer.
Salah satu fitur menguntungkan dari penjualan via online memudahkan interaksi antara penjual dan pembeli. Fitur yang dihadirkan situs-situs ini berbentuk katalog.
Ada pula yang sifatnya business to business (B2B) yang dikenal dengan reseller. Lalu, kini ada pula yang namanya online retailer. Online retailer menawarkan penjual margin lebih besar dan bisa mengatur pemasaran.
Dalam perkembangannya, transaksi online juga mengenal apa yang disebut marketplace. Dalam bahasa sederhana, market place layaknya sebuah pusat perbelanjaan atau mal. Di situ ada banyak tenant dan pembeli. Contohnya, Plasa.com, Rakuten, Blibli.com, eBay Indonesia, dan lainnya.
Secara garis besar, penjualan via online ada beberapa tipe, yakni ada yang menjual sendiri langsung dengan metode consumer to consumer, ada pula yang menjual lewat sistem menitip ke pihak lain.
Salah satu desainer muda yang mulai memperbesar area penjualannya di bidang digital dengan menjual via online retailer, Mel Ahyar, menuturkan, ada banyak keuntungan dengan menjual produknya di toko online.
Menjual barang via online tidak seribet menjual di toko nyata. Melalui toko online, penjual bisa terhubung dengan pelangan dari luar kota, atau bahkan luar negeri lebih cepat.
Bagi yang menggelutinya, penjualan toko online bisa membantu tetap fokus pada produksi dan pengembangan desain. Pasalnya, pihak kedua akan mengurus segala sesuatunya hingga sampai ke pelanggan.
Penjualan via online bergantung pada kepercayaan. Untuk itu, penting bagi pelaku bisnis di bidang ini untuk menjaga kepercayaan. Penjual harus mendengar feedback pelanggan lalu dibicarakan di toko nyata. Membangun trust pelanggan tidak bisa dengan berkoar-koar sepihak. Penjual juga harus menjaga kualitas produk dan pengiriman yang sesuai janji.
Rasa percaya itu bukan hal mudah untuk dipertahankan. Mengingat persaingan di penjualan produk di internet saat ini kian ketat, pelanggan bisa dengan mudahnya "jatuh ke lain hati".
Susahnya lagi kalau dikira penipu. Penting untuk membangun trust dari pelanggan. Karenanya, testimonial dari pelanggan itu harus dipasang. Salah satu cara saya adalah dengan selalu memasang foto barang hasil jepretan sendiri, tidak pernah ambil dari situs lain. Supaya pelanggan bisa melihat bentukan aslinya, editannya pun seadanya saja. Ukuran juga harus detail dicantumkan.
Salah seorang pelaku bisnis toko online, Mel mengaku untung melakoni bisnisnya. Selama ini ia menjual koleksi busananya di toko nyata yang terletak di Grand Indonesia, Jakarta serta di department store. Menurut Mel, menjual produk via pihak kedua itu lebih menguntungkan.
"Menjual via online retailer selama ini menggunakan metode konsinyasi. Biasanya mereka mengambil sekitar 25-40 persen. Sementara kalau di department store, jumlah persentasenya lebih besar, antara 30-50 persen. Jadi, lumayan jauh bedanya. Dengan toko online pun tidak harus memikirkan biaya penjaga toko, tidak perlu mengkhawatirkan stok, dan sebagainya," kata Mel.
Terlebih lagi, bagi Mel yang masih memproduksi barang-barangnya sendiri, barang hasil desainnya cenderung terbatas dan eksklusif. Penjualan lewat online lebih baik untuk mewadahi hal ini, karena penjualan lebih cepat dan mendorongnya berproduksi lebih cepat lagi.
Direktur perusahaan pengembangan ecommerce Ideosource, Andi S Boediman, penjualan toko online akan terus berkembang. Kondisi ini merupakan waktu paling tepat untuk memulai bisnis penjualan via online.
Nilai belanja e-commerce di Indonesia terus bertumbuh dari 3 persen di tahun 2009, sekarang telah mencapai 6 persen dari 50 juta pengguna. Nilai belanjanya mencapai USD290 juta atau sekitar Rp2,69 triliun. (Dim)
Posting Komentar