do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Kamis, 31 Oktober 2013

Kapan Sebuah Usaha Tidak Bisa Lagi Disebut Startup?

Kapan sebuah usaha tidak lagi disebut sebagai startup? Terdapat dua cara untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pertama ialah dengan menjelaskan posisi bisnis mereka. Kedua ialah dengan memberikan deskripsi mengenai bagaimana bisnis perusahaan tertentu dijalankan.

Dari sudut pandang bisnis, kita bisa menganggap sebuah perusahaan masih pantas disebut sebagai startup jika ia belum mencapai kecepatan yang disebut escape velocity (kecepatan yang dicapai startup saat ia mampu membuat tingkat pertumbuhan yang demikian tinggi sehingga seolah-olah terlepas dari gravitasi) dan belum mencapai posisi yang bisa dipertahankan dalam jangka panjang dan berkelanjutan, baik dalam aspek pasar dan keuangan. Perusahan baru tersebut juga tidak harus mencapai titik impas atau menghasilkan keuntungan agar bisa disebut startup (meski biasanya sudah mencapai titik impas dan menghasilkan laba). Misalnya, meski Facebook memiliki kondisi keuangan yang tak dibuka untuk umum, mungkin perusahaan itu sudah mencapai escape velocity-nya yang menunjukkan bahwa perusahaan tersebut sudah mencetak laba dan memiliki posisi yang kokoh dan bisa dipertahankan.

Dalam kacamata pengelolaan, mentalitas startup lebih condong kepada pernyataan mengenai bagaimana perusahaan atau bagian perusahaan dijalankan. Tim yang mandiri dan ramping terdorong untuk melangkah cepat, mengambil risiko, bekerja keras, membuat kesalahan, merancang rencana, mendapatkan imbalan bersama, dan sebagainya.Sebuah perusahaan baru mungkin saja tidak memenuhi definisi startup tersebut karena mereka memiliki pondasi keuangan yang kokoh namun masih dikelola sendiri bak sebuah startup.

Perusahaan besar sering bertolak belakang dengan definisi ini karena mereka cenderung membenci risiko dan sering menghendaki semua hal berjalan menurut rencana perusahaan yang berarti akan ada banyak rapat, banyak orang yang bekerja, banyak proses untuk diikuti, banyak pengambil keputusan yang dilibatkan dalam pengambilan setiap keputusan, pencegahan risiko keseluruhan, dan sebagainya. Namun kadang bahkan di dalam sebuah perusahaan besar, sebuah tim yang menyerupai startup bisa memiliki tingkat otonomi layaknya sebuah startup. Satu contoh yang paling tepat ialah adanya sebuah tim dalam perusahaan setaraf Motorola yang menciptakan Motorola RAZR dengan mendobrak proses pengembangan produk Motorola yang biasanya, memulai dengan pemikiran mereka sendiri dan mencoba merancang semua sendiri. Produk tersebut menjadi produk laris sebelum Motorola membuktikan bahwa proses pengembangan konvensional mereka tidak bisa mengulang sukses yang sama dari produk-produk laris mereka terdahulu, dan Motorola melewatkan tahun-tahun pertama meledaknya smartphone. (John Friend/*AP)
Poskan Komentar