do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Sabtu, 05 Oktober 2013

Bagaimana Brand Harus Menyikapi Isu-isu Sosial Politik yang Peka

Di Indonesia, bukan hal yang baru lagi bagi kita untuk menyaksikan perang pernyataan dan opini yang bersifat tajam dan menusuk. Biasanya semua itu memiliki kaitan dengan isu-isu sosial politik yang pada akhirnya berpotensi menyulut konflik dan perdebatan makin tidak terkendali. Ada pihak yang dengan berani menyatakan pendapatnya tanpa rasa takut dan segan. Sebagian lainnya memilih untuk mengutarakan pendapat dengan lebih moderat, dan sementara lainnya memilih untuk diam.
Walaupun kita hidup di negara demokrasi yang sepenuhnya menjunjung kebebasan berpendapat, para entrepreneur dan pemilik usaha harus mempertimbangkan banyak faktor sebelum mengeluarkan opini terkait masalah sosial politik di sekitarnya karena sedikit banyak itu akan mempengaruhi citra brand dan bisnis secara keseluruhan.
Jika Anda ingin brand Anda menyatakan keberpihakan pada sebuah isu yang memang dianggap penting dan harus didukung, jangan ragu untuk melakukannya melalui brand Anda tetapi jangan lupakan juga pentingnya strategi manajemen krisis dan kesiapan dalam memberikan tanggapan jika muncul opini kontra.
Tetapi bila brand Anda memilih untuk diam dan bermain aman, ada juga konsekuensi yang harus diantisipasi, yaitu dianggap kurang menunjukkan kepedulian. Lalu apa yang harus dilakukan jika memang brand Anda harus mengambil sikap? Hal apa saja yang harus diperhatikan? Berikut paparan beberapa entrepreneur sebagaimana dilansir dari laman ysfentrepreneur.com.

Waspada mengenai konsekuensi yang berlawanan
Menurut entrepreneur Liz Theresa, saat sebuah brand memihak dalam perdebatan sebuah isu, misalnya kenaikan harga BBM, ia mungkin akan menghadapi 2 hal: pertama, konsumen yang menjadi antipati karena berseberangan pendapat dan kedua, konsumen yang sependapat akan makin setia pada brand Anda. Namun, sekali lagi itu semua tak berlaku mutlak.

Waspada dengan pengucilan
Kata James Agate yang mendirikan startup Skyrocket, entrepreneur dan pemilik bisnis perlu waspada dalam bersikap agar tidak mengucilkan pangsa pasar potensial mereka hanya demi pandangan prbadi terhadap masalah tertentu yang peka. Namun, di sisi lain dengan berpihak brand akan lebih manusiawi dan personal serta mencerminkan pemikiran mereka yang ada di belakangnya. Kita sudah terlalu banyak menemukan brand yang hanya fokus untuk menjual produk dan jasa tetapi tidak mau berbuat lebih dari itu setelah mengecap untung banyak. Sebagian konsumen memiliki kekaguman terhadap brand yang bersedia mengemukakan pandangan dan dukungan terhadap satu isu penting di masyarakat. Jadi menghadirkan kepribadian, membuat brand lebih hidup sekaligus membuatnya lebih dalam.

Pastikan keberpihakan itu relevan dengan bisnis Anda
Kita bisa ambil contoh bagaimana Sarah Gross, pendiri dan pemilik Rescue Chocolate, mengimbau pada pemerintah untuk kembali menerapkan UU khusus yang bertujuan melindungi populasi banteng liar. Keberpihakan Gross pada isu lingkungan hidup ini selaras dengan identitas brandnya. Gross lewat Rescue Chocolate-nya mendonasikan semua keuntungan untuk berbagai organisasi penyelematan hewan.

Lupakan niat tersembunyi
Terdapat sejumlah masalah mengenai brand yang mengambil sikap dalam perdebatan isu yang peka, ujar Joshua Weiss dari TeliApp Corporation. Menurutnya, sebagian isu memang jelas-jelas tidak bisa dibantah urgensinya, seperti pemberantasan kemiskinan, pemberantasan perdagangan manusia, peningkatan kesehatan, dan sebagainya. Namun, ada juga isu lain yang lebih kabur dan bisa jadi bumerang bagi brand itu sendiri jika kurang cerdas memilih. Contohnya isu tentang agama, suku, politik, seksualitas, dan lain-lain. (*Akhlis)
Posting Komentar