do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Sabtu, 12 Oktober 2013

Buat Sesuatu Bernilai,Uang Datang Mengikuti???????

Walter Isaacson, penulis biografi Steve Jobs, dalam sebuah wawancara pernah mengatakan pendiri Apple itu menaruh hormat pada Mark Zuckerberg. 

Jobs, yang semasa hidup dikenal perfeksionis, kagum lantaran miliuner muda itu mampu menahan diri dan tak tergoda untuk menjual Facebook.

Bisnis rintisan berbasis Internet atau biasa disebut startup yang dibeli oleh perusahaan besar dengan nilai fantastis, bisa dibilang merupakan sebuah pencapaian tersendiri.

Artinya mereka bisa dipercaya dan menarik di mata perusahaan besar, ujar Danny Oei Wirianto, pendiri Mind Talk yang juga Chairman perusahaan inkubator Merah Putih kepadaTempo, Kamis 5 April 2012. 

Dengan proses akuisisi, usaha yang masih hijau ini biasanya dapat mengembangkan diri lebih luas lagi.

Sayangnya, menurut Danny, tak semua investor membeli startup untuk dikembangkan. Ada yang bertujuan menghancurkannya, ujarnya.

Gowalla contohnya. Layanan berbagi lokasi ini dibeli Facebook pada Desember lalu. Sebulan kemudian Facebook menutupnya dengan alasan membahayakan layanannya.

Penutupan ini tentu menyakitkan bagi startup idealis. Meskipun begitu, masih banyak startup yang bermimpi menjadi bagian dari perusahaan besar. 

Alasannya uang, ujar Romi Satria Wahono, pengamat teknologi sekaligus CEO PT Brainmatic. Pernyataan itu dibenarkan Danny. 

Inkubator Merah Putih yang dipimpin Danny kebanjiran permintaan kerja sama untuk mendirikan startup semata demi keuntungan. Dari 100 orang yang saya temui, 98 di antaranya ingin kaya, ujarnya.

Padahal, lanjut dia, dengan membuat sesuatu yang berguna dan dibutuhkan masyarakat, uang akan mengalir sendiri.

Jaka Pradipta, salah satu pendiri SpotDokter, layanan informasi dan aplikasi kesehatan, mengaku akan mempertimbangkan untuk menerima bila tawaran akuisisi datang.

Selain karena nilai tawaran dan kesamaan visi-misi, startup membutuhkan kepastian dalam pengelolaannya. 

Kami tak tahu sampai kapan bisa bertahan, ujarnya. Sebab, kata Jaka, awal pembentukan SpotDokter bukan untuk mencari keuntungan, melainkan kebutuhan.

Romi dan Danny sepakat secara umum saat ini startup Indonesia belum menarik untuk dibeli. Pengembang lokal kurang menguasai bahasa dan cara membangun software.

Danny berpendapat ke depannya startup di Tanah Air berpotensi menarik perusahaan. Hanya, banyak startup berisi orang kurang komitmen dan tak tepat sasaran.

Para pengembang layanan digital lokal juga diminta untuk menimbang prospek perusahaan di masa depan. Salah satu tolok ukurnya adalah jumlah pengguna.

Bila angkanya besar, Romi menyarankan pemilik startup untuk berpikir panjang sebelum menerima tawaran akuisisi. Alasannya, profit di masa depan bisa meningkat hingga berlipat.

Sebaliknya, apabila layanan yang dibuat biasa-biasa saja dan ditawar dengan harga tinggi, ya, dijual saja.(*tempo.co/AP)
Posting Komentar