do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Senin, 28 Oktober 2013

Kapan Sebuah Usaha Baru Tak Lagi Startup?

Ada dua cara yang bisa kita gunakan untuk menentukan status "startup" pada sebuah usaha baru. Salah satunya ialah dengan mendasarkan pada aspek ukuran pada posisi bisnis mereka. Sementara yang lain ialah deskripsi tentang bagaimana usaha itu dijalankan.
Dari sudut pandang bisnis, kita dapat memandang sebuah perusahaan sebagai "startup' hingga ia mencapai kecepatan tertentu yang disebut dengan "escape velocity" dan telah mencapai posisi yang mapan dan berkesinambungan dalam jangka panjang, baik di pasar mapun secara finansial. Biasanya perusahaan itu tidak harus mencapai titik impas dulu atau meraup untung dahulu meskipun biasanya memang demikian. Misalnya, meskipun keuangan Facebook tidak terbuka untuk umum, mungkin ia sudah mencapai escape velocity di mana semua orang bisa melihat bahwa ia akan menghasilkan laba dan tumbuh besar serta mapan meskipun memang belum demikian.
Untuk sudut pandang pengelolaan, mentalitas startup lebih condong pada pernyataan mengenai bagaimana perusahaan atau bagian perusahaan dijalankan. Tim-tim yang ramping dan mandiri didorong untuk bekerja cepat, mengambil risiko, bekerja keras, membuat kesalahan, merancang langkah berikut, mendapatkan imbalana yang besar, dan sebagainya. Perusahaan-perusahaan baru mungkin lolos dalam definisi startup sebelumnya karena mereka mencapai pijakan keuangan yang kokoh tetapi masih terus menjalankan segalanya seperti sebuah startup.
Perusahaan-perusahaan mapan seringkali menjadi lawan dari semua ini karena mereka membenci risiko dan sering mengehndaki semuanya mengikuti "cara perusahaan" yang artinya mengharuskan adanya banyak rapat, campur tangan banyak pihak, banyak proses untuk diikuti, banyak pembuat keputusan yang dilibatkan dalam penentuan satu keputusan, cara menghindari risiko total, dan sebagainya. Namun, kadang bahkan di dalam perusahaan besar, sebuah tim startup bisa mendapatkan otonomi untuk bekerja seperti startup.
Sebuah kisah menarik pernah terjadi dalam Motorola. Sebuah tim dalam perusahaan yang dulu terkenal dengan produkMotorola RAZR dengan mendobrak proses pengembangan produk Motorola yang lazim. Mereka melakukan prosesnya sendiri dan berpikir besar dan berbeda. Produk tersebut akhirnya laris manis di pasaran selama beberapa tahun. Sayangnya, Motorola tak bisa mengulangi sukses itu lagi, dan makin tenggelam di era kompetisi smartphone.(*Akhlis)
Posting Komentar