do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Sabtu, 12 Oktober 2013

Membangun Karisma dalam Kepemimpinan Bisnis Anda

Para pemimpin yang menginspirasi pada umumnya memiliki aura yang penuh karisma saat tampil di tengah publik. Orang-orang ingin mendengarkan apa yang akan mereka katakan dan melakukan apa yang mereka sarankan. Tetapi apakah kita sebagai entrepreneur baru atau calon entrepreneur bisa mempelajari dari mereka bagaimana menjadi seorang pemimpin yang karismatik sehingga dipandang oleh orang-orang yang Anda pimpin sebagai teladan yang patut ditiru? Tentu bisa.
Berikut adalah 3 poin yang kita semua dapat lakukan untuk mulai membangun karisma itu dalam diri kita seperti disarikan dari pendapat Scott Edinger .
Fokus pada orang lain
Jangan berkonsentrasi pada apa yang Anda butuhkan atau Anda hendaki. Pahami apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh orang lain. Makin mampu Anda menyelaraskan diri dalam tataran hubungan antarmanusia, makin besar peluang Anda untuk memunculkan karisma itu.
Jangan ragu untuk tampil
Tampillah di berbagai kesempatan dan bersosialisasilah dengan entrepreneur lain, investor, wartawan, dan siapapun yang ingin menjalin hubungan timbal balik yang positif dengan Anda. Interaksi yang tercipta dari pertemuan dengan berbagai pihak itu perlu Anda manfaatkan sebagai sebuah peluang untuk menunjukkan potensi Anda dan bisnis Anda. Tunjukkan semangat, talenta, dan visi Anda. Buat mereka merasakan getaran semangat yang menggebu itu sehingga mereka tak sanggup menolak gagasan Anda.
Komunikasikan kepedulian Anda
Menjadi pemimpin yang karismatik tidak harus membuat Anda menjadi orang yang lebih cerewet tanpa menghiraukan kondisi. Anda perlu lebih ekspresif secara verbal namun jaga agar tepat sasaran. Ceritakan kisah yang menyenangkan, memberikan ilham bagi orang lain untuk lebih baik daripada kondisi mereka sekarang. Gunakan contoh-contoh nyata. Bicarakan perasaan Anda dengan lebih terbuka tanpa harus membuat orang merasa risih atau segan. Semua hal ini akan memunculkan perasan senasib dengan mereka yang Anda ajak bicara, entah itu dalam percakapan dua mata, atau dalam sebuah pidato di hadapan ratusan orang. (*Akhlis)
Posting Komentar