do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none;

Selasa, 29 Oktober 2013

Alasan Mengapa Harus Berinvestasi

Kata investasi, legkap dengan variasinya, dari inpestasi, inpes, inves, dan sebagainya, kini merupakan kata yang lazim diucapkan oleh masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan. Seolah-olah dengan kata ini seseorang bisa menunjukkan kelas di mana dia berada, atau setidaknya kelas di mana dia ingin berada.
Buktinya, banyak sekali kelas-kelas investasi yang diadakan oleh para perencana keuangan, dari investasi riil yang ditandai dengan sikap ogah jadi karyawan dan ingin jadi wirausahawan, sampai investasi keuangan lewat berbagai instrumen investasi seperti saham, reksadana, obligasi, dan sebagainya, tak pernah sepi dari peminat.
Hiruk pikuk keinginan untuk inpes juga yang menyebabkan banyak berita penipuan berkedok investasi yang dialami anggota masyarakat. Dari yang kelas ratusan juta rupiah, sampai triliunan juta rupiah. Rupanya, gairah untuk berinvestasi tidak dibarengi dengan pengetahuan tentang apa itu investasi.
Mendudukkan persoalan, tentu kita harus kembali ke pertanyaan, mengapa Anda perlu berinvestasi. Jawabannya tentu beragam, tapi pada dasarnya hanya ada terkait empat perkara di bawah ini:
Punya kebutuhan masa depan atau saat ini yang belum terpenuhi. Ingin memiliki mobil, atau rumah, merupakan salah satu alasan mengapa Anda perlu berinvestasi.
Ingin melindungi nilai aset yang dimiliki. Anda sudah memiliki kekayaan tertentu. Lalu, apakah sudah cukup begitu saja? Tentu tidak, karena tanpa berbuat apa-apa, nilai aset Anda bakalan menurun nilainya.
Ada keinginan menambah nilai aset yang sudah ada. Anda punya keinginan untuk memiliki rumah yang lebih besar dari yang dimiliki sekarang, namun masih tetap ingin mempertahankan aset rumah yang ada? Itu adalah alasan kuat mengapa Anda perlu berinvestasi.
Inflasi. Ini adalah momok yang paling menakutkan, yang seharusnya membuat semua orang berinvestasi. Karena pada kenyataannya tingkat inflasi yang tinggi bakalan menggerogoti kekayaan yang Anda punya. Contohnya, bila Anda menyimpan uang di bank dengan buka 3 persen pertahun, sementara inflasi mencapai 11 persen pertahun, artinya Anda tekor 8 persen dalam setahun. Di banyak negara, tingkat inflasi sedemikian parah, sehingga nilai uang nyaris nol alias banyak uang tidak bisa dibelikan apa-apa karena tidak punya nilai. Hanya investasi yang bisa mengejar ketertinggalan dari inflasi. (bn)
Posting Komentar